Anda di halaman 1dari 18

Step 1

1. Metode pendekatan non pharmacology behavior


Pendektan yang tidak menggunakan obat2an
2. Easy child temperament = Anak yang mudah beradaptasi degn
lingkungan sekitar, Anak yg mudah menrima pengalaman baru jika
frustasi tidak rewel
3. Dental team = Dokter umum atau dokter gigi, asisten atau perawatnya
Step 2
Pendekatan psikologi
Penerapan psikologi pasien anak pada kunjungan pertama ke dokter gigi
1. Bagaiman macam2 tingkah laku pola temperament anak dan cara
penanganan
2. Faktor2 yg mempengaruhi tempramen anak
3. Faktor apa saja yg menyebabkan anak takut terhadap drg
4. Bagimana cara seorang drg menangani anak dlm kunjungan pertama
5. Bagaimana keadaan psikis anak umur 4 th
6. Definisi non pharmacology behavior
7. Apa yg dimaksut dengan pendekatan psikologi
8. Macam2 pendekatan psikologi
9. Sebutkan macam2 metode penerapan non pharmacology behaviour
10. Bagiamana peran orang tua dalam kunjungan pertama anak ke drg
11. Mengapa pendekatan psikologi perlu dilakukan seorang drg
12. Bagaimana stategi drg menghadapi anak yg takut
13. Faktor yg mempengaruhi psikologi anak
14. Bagiaman pendekatan yg baik terhadap anak berdasarkan usianya
15. Batasan usia pedodontist
16. Bagaiman metode pendekatan tingkah laku anak selama perawatan gigi
anak
17. Bagaiman jika seorang anak yg sudah diberikan pendekatan psikologi tp
tetap tidak kooperatif
18. Bagaiman penanganan anak yg terlalu kritis
19. Anak keterbelakangan mental
STEP 3
1. Bagaiman macam2 tingkah laku pola temperament anak dan cara
penanganan
Klasifikasi tingkah laku anak menurut frankl
a. Sangat negative anak menolak perawatan, meronta2 , menangis keras
dan amat ketakutan
b. Sedikit negative : anak enggan menerima perawatna gigi, gugup, atau
menangis, tidak kooperatif
c. Sedikit positive : berhati2 dlm menerima perawatan , sedikit segan
bertanya, dan cukup bersedia kooperatif
d. Sangat positif: anak gembira menerima perawatan , bersikap baik dg drg,
tertarik trhdp perawatan drg, membuat kontak verbal yg baik
Thomas and chess
a. Easy child : tidak mudah rewel, mudah beradaptasi terhadap lingkungan
yg baru. Pola

b. Difficult child: sulit ditenangkan, mudah terganggu. Pola harian tidak


teratur
c. Slow to warm up child: bereaksi secara perlahan2, dan membutuhkan
waktu untuk hariannya teratur beradaptasi . tidak aktif dlm rutinitas
harian
2. Faktor2 yg mempengaruhi tempramen anak
a. Internal : dari diri sendiri , atau sifat2 anak
b. Eksternal: hubungan anak dengan lingkungan , dengan orang tua dll
3. Faktor apa saja yg menyebabkan anak takut terhadap drg
a. Pengalaman pertama ke drg
b. Imajinasi anak , yg meras tersakiti
c. 3 rasa takut , subjektif(anka memiliki perasaan yg menyebabkan rasa
takut), objektif(ada pengalaman yg tidak menyenangkan , seperti trauma),
sugesti ( rasa takut yg didapat dr orang disekitarnya)
d. Anak mudah gelisah dan sensitive
4. Bagimana cara seorang drg menangani anak dlm kunjungan pertama
a. Sebaiknya memperkenalkan pada anak bagaiman pemeriksaan gigi
b. Pemeriksaan secar perlahan2
c. Untuk anak gelisah drg dpt mengganti baju dokter dengan baju biasa,
jangan memakai masker atau sarung tangan dalam menyambut anak
d. Memberikan mainan sebagai hadiah
e. Pembentukan tingkah laku
f. Tell show do, menceritakan, menunjukkan, melakukan
g. Modeling : mengamati dengan permainan
h. Penguatan : setelah dilakukan Tanya jawab, bila kooperati diberi hadiah
i. Desensitisasi : kunjungan awal, hanya ditunujkkan tp tidak dilakukan
perawatan
j. Distraksi : pengalihan , seperti pemberian permainan
k. Hand over mouth : anak yg kurang kooperatif
5. Bagaimana keadaan psikis anak umur 4 th
Perkembangan emosional nak dimulai dr umur 3 tahun , jd umur 4 th timbul
ketakutan akan orang asing dipisahkan dg ortu dan pengalaman baru.
Perkembangan kognitif terdapat peningktan kemampuan berbahasa dan berpikir
shg komunikasi berupa penjelasan sederhana sudah dpt dilakukan.
Menurut eric erison
- Anak banyak Tanya
- Pengembangan inisiatif atau ide dan imajinasi
6. Definisi non pharmacology behavior
a. Pendektan yang tidak menggunakan obat2an
b. Pendektan behavior : pendekatan yg menekankan berbagai respon
perilaku yg dpt diamati, Pendektan ini dilakukan saat kunjungan pertama
dimana drg tdk menggunakan alat
7. Pendektan pharmacology ?
8. Apa yg dimaksut dengan pendekatan psikologi

Pendekatan bertahap terhadap anak yg dpt dilakukan oleh drg agar anak
dapat merespon drg dan dapat menyesuaikan terhadap drg agar anak tsb
lebih mudah diarahkan.
Membentuk tingkah laku pasien dalam perawatan, dilakukan untuk
menjalin hubungan dg pasien

Tujuan pendekatan psikologi : agar anak dpt bersikap kooperatif, anak


tidak merasa asing dg perawatan gigi, dpt mengendalikan tingkah laku
anak
9. Macam2 pendekatan psikologi
Pendekatan biologi : mengarah pada tubuh, seperti merekam pengalaman
yg baik atau buruk
10. Sebutkan macam2 metode penerapan non pharmacology behavior
Tell show do
11.Bagiamana peran orang tua dalam kunjungan pertama anak ke drg
Orang tua sbg motivator( orang tua member dorongan pd anak),
educator( member pengetahuan), fasilitator(sebagai panutan ) bg anak
12.Bagaimana strategi drg menghadapi anak yg takut
Kasih hadiah
Membujuk anak,
13.Bagiaman pendekatan yg baik terhadap anak berdasarkan usianya
Berdasarkan usia 2-6 th : komunikasi yg sederhana
3-4 th : senang dipuji
7-10 th : menanyakan kegiatan positif
Anak desa lebih kooperatif sedangkan anak kota lebih tidak kooperatif
14.Batasan usia pedodontist (LI)
15.Bagaiman jika seorang anak yg sudah diberikan pendekatan psikologi tp
tetap tidak kooperatif
Dipaksa
Kesalahan melakukan pendekatan psikologi pd anak
Langkah2 : pembentukan tingkah laku, tell show do,
16.Bagaiman penanganan anak yg terlalu kritis
Harus dijawab dengan sabar
17. Anak keterbelakangan mental
Perlu dukungan orang ketiga seperti orang tua
Video

STEP 4
1. Bagaiman macam2 tingkah laku pola temperament anak dan cara
penanganan
Klasifikasi tingkah laku anak menurut frankl
a. Sangat negative anak menolak perawatan, meronta2 , menangis keras
dan amat ketakutan. Cara penangananya dengan pemberian sedasi
general anestesi
b. Sedikit negative : anak enggan menerima perawatna gigi, gugup, atau
menangis, tidak kooperatif
c. Sedikit positive : berhati2 dlm menerima perawatan , sedikit segan
bertanya, dan cukup bersedia kooperatif
d. Sangat positif: anak gembira menerima perawatan , bersikap baik dg drg,
tertarik trhdp perawatan drg, membuat kontak verbal yg baik

Thomas and chess


a. Easy child : tidak mudah rewel, mudah beradaptasi terhadap lingkungan
yg baru. Pola
b. Difficult child: sulit ditenangkan, mudah terganggu. Pola harian tidak
teratur
c. Slow to warm up child: bereaksi secara perlahan2, dan membutuhkan
waktu untuk

Menurut wright

a. kooperatif , saat dia dating anak sudah santai rileks dan antusias
b. kurang kooperatif, biasa pada anak yg dibawah 3 th dengan pengetahuan
anak yg hariannya teratur beradaptasi . tidak aktif dlm rutinitas harian
kurang ataupun yg mengalami cacat mental atau fisik

kurang kooperatif dibagi 3 :

a. anak tidak mampu menjadi kooperatif, biasanya pada nak tuna netra
b. anak belum mampu menjadi kooperatif, terlalu muda usianya
c. anak mempunyai potensi menjadi kooperatif, mula2 tidak kooperatif
dengan pendektan menjadi kooperatif
d. berdasarkan social ekonomi, anak dengan ekonomi bagus akan lebih
kooperatif sedangkan anak dengan social ekonimi rendah kurang
kooperatif
2. Faktor2 yg mempengaruhi tempramen anak
a. Internal : dari diri sendiri , atau sifat2 anak
b. Eksternal: hubungan anak dengan lingkungan , dengan orang tua dll,
metode pengasuhan di rumah. Pola asuh dirumah dari sifat orang tuanya.
Misalnya orang tua yg mudah marah anak cenderung tidak kooperatif.
c. Faktor social ekonomi , status social ekonomi rendah anak lebih takut dari
pada anak dengan sosek tinggi
d. Faktor pendidikan , anak yg kurang mendapatkan pendidikan tentang
perawatan gigi akan lebih takut dalam merawat giginya
e. Dipengaruhi perkembangan psikologis anak berdasarkan umur. Umur 6-12
th
3. Faktor apa saja yg menyebabkan anak takut terhadap drg
a. Pengalaman pertama ke drg
b. Imajinasi anak , yg meras tersakiti
c. 3 rasa takut , subjektif(anka memiliki perasaan yg menyebabkan rasa
takut, melihat pengalaman orang lain), objektif(ada pengalaman yg tidak
menyenangkan , seperti trauma, timbul karena rangsangan fisik indra ex
melihat baju putih ), sugesti ( rasa takut yg didapat dr orang disekitarnya,
meniru orang lain missal ibunya takut anak menjadi takut)
d. Anak mudah gelisah dan sensitive
e. Orang tua, pola asuh orang tua, orang tua jangan mengancam anak
dengan pergi ke dokter gigi, jangan sampai membohongi anak
f. Dokter : lama berkunjung, komunikasi drg dengan anak, jangan
mengejutkan anak
g. Keadaan lingkungan ruangan gigi, bikin senyaman mungkin

h. Dentalfobia kurangnya pengetahuan anak tentang alat2 KG


Tipe rasa
4. Bagimana cara seorang drg menangani anak dlm kunjungan pertama
a. Untuk anak gelisah drg dpt mengganti baju dokter dengan baju biasa,
jangan memakai masker atau sarung tangan dalam menyambut anak
b. Pembentukan tingkah laku , dengan komunikasi
c. Tell show do, menceritakan, menunjukkan, melakukan, Sebaiknya
memperkenalkan pada anak bagaiman pemeriksaan gigi. Pemeriksaan
secar perlahan2
d. Modeling : mengamati dengan permainan , atau dari model
e. Penguatan : setelah dilakukan Tanya jawab, bila kooperati diberi hadiah ,
penghargaan bisa dilakukan dengan pujian
f. Desensitisasi : kunjungan awal, hanya ditunujkkan tp tidak dilakukan
tindakan hanya relaksasi dari psikologi untuk menghilangkan rasa takut
g. Reinforcement : tindakan untuk menghargai prestasi yg telah dilakukan .
Memberikan mainan sebagai hadiah
h. Distraksi : pengalihan , seperti pemberian permainan
i. Hand over mouth : anak yg kurang kooperatif , ada dua tipe 1. Hand over
mouth exercise menahan dengan tangan pada mulut ,. 2. Pengendalian
fisik , bantuan dari perawat atau orang tua
5. Bagaimana keadaan psikis anak umur 4 th
Perkembangan emosional dan social anak dimulai dr umur 3 tahun , jd umur 4 th
timbul ketakutan akan orang asing dipisahkan dg ortu dan pengalaman baru .
Perkembangan kognitif terdapat peningktan kemampuan berbahasa dan berpikir
shg komunikasi berupa penjelasan sederhana sudah dpt dilakukan
Menurut eric erison ;
Anak banyak Tanya
Pengembangan inisiatif atau ide dan imajinasi
Anak usian 4 th disebut anak mengaapa dan bagaimana jadi anak banyak Tanya
bisa menyampaikan rasa takutnya sendiri dan mulai ada perlawanan
6. Definisi non pharmacology behavior
Pendektan yang tidak menggunakan obat2an
Pendektan behavior : pendekatan yg menekankan berbagai respon
perilaku yg dpt diamati
Pendektan ini dilakukan saat kunjungan pertama dimana drg tdk
menggunakan alat
Dengan melakukan komunikasi pada anak
Psychology of learning , stimulus respond, motivation, reinforcement,
generalization , discrimination, extrinction , behavior modification ,
Management perilaku seperti tell show do
7. Pendektan pharmacology ?

Pendekatan dengan menggunakan obat2an , ex: anestesi local


(keberhasilan komunikasi dengan anak), relative analgetia , oral (sering
tidak bisa diberikan karena berhubungan dengan lambung anak) atau

sedasi rectal , sedasi intravena(kelebihannya dapat dikontrol, jarang


digunakan karena jarum suntik dapat membuat anak cemas), general
anstesi( pilihan terakhir)
Biasanya diberikan pada anak dengan medical compromised

8. Apa yg dimaksut dengan pendekatan psikologi

Pendekatan bertahap terhadap anak yg dpt dilakukan oleh drg agar anak
dapat merespon drg dan dapat menyesuaikan terhadap drg agar anak tsb
lebih mudah diarahkan.
Membentuk tingkah laku pasien dalam perawatan, dilakukan untuk
menjalin hubungan dg pasien
Tujuan pendekatan psikologi : agar anak dpt bersikap kooperatif, anak
tidak merasa asing dg perawatan gigi, dpt mengendalikan tingkah laku
anak
Suatu pendekatan pada pasien dengan cara memahami diri atu psikologi
pasien

9. Macam2 pendekatan psikologi

Pendekatan biologi : mengarah pada tubuh, seperti merekam pengalaman


yg baik atau buruk
Pendekatan humanistic : menekankan kapasitas seseorang untuk
pertumbuhan positive , dan kebebasan untuk memilih takdir apapun serta
kualitas positive
Pendekatan psikodinamika : menekankan pikiran ketidaksadaran, yaitu
konflik antara naluri biologis dan tuntutan masyarakat.
Pendekatan behavioristik
Pendektan kognitif:
Pendektan evolusioner : menekankan pada adaptasi, mampu
menyelaraskan diri dengan lingkungan hidup
Pendekatan social budaya :

10. Bagiamana peran orang tua dalam kunjungan pertama anak ke drg

Orang tua sbg motivator( orang tua member dorongan pd anak),


educator( member pengetahuan), fasilitator(sebagai panutan ) bg anak

11. Bagaimana strategi drg menghadapi anak yg takut


Membujuk anak,
a. Menyampaikan salam ramah pd anak, memperbolehkan anak untuk
mencoba kursi
b. Menggunakan komunikasi yg bersahabat seperti mengelus rambut
c. Kasih hadiah, pada bidang kedokteran seperti stetoskop mainan
d. Berikan buku seri bercerita pada anak tentang kesehatan gigi
Tahap primer : membentuk lingkungan yg aman pd anak
Tahap sekunder : menghilangkan rasa takut demgan membentuk pola
komunikasi yg baik dengan pasien
12. Bagiaman pendekatan yg baik terhadap anak berdasarkan usianya

Pendekatan berdasarkan komunikasi ;


Berdasarkan usia 2-6 th : komunikasi yg sederhana
3-4 th : senang dipuji
7-10 th : menanyakan kegiatan positif
Batasan usia pasien pedodontist
Bisa juga dari dalam kandungan
- Dari 0 th 14 th
14. Bagaiman jika seorang anak yg sudah diberikan pendekatan psikologi tp
tetap tidak kooperatif
- Dipaksa
- Kesalahan melakukan pendekatan psikologi pd anak
- Langkah2 : pembentukan tingkah laku, tell show do, HOME,
15. Bagaiman penanganan anak yg terlalu kritis
Harus dijawab dengan sabar
Dokter tetap menjaga kejujuran
Menggunakan bahasa yg mudah dipahami
Bersikap ramah
Bisa persepsi , missal sakitnya seperti digigit semut
16. Anak keterbelakangan mental
Perlu dukungan orang ketiga seperti orang tua
Video
Dengan pendekatan

1. Bagaimana cara seorang dokter gigi dalam menangani anak tersebut pada kunjungan pertama?

Pada kunjungan pertama ini sebaiknya hanya untuk memperkenalkan pada anak bagaimana rasanya
memeriksakan gigi dan memperlihatkan bahwa ini adalah pengalaman yang menyenangkan.
Pemeriksaan terhadap anak hendaknya dilakukan perlahan-lahan, jangan tergesa-gesa dan alat yang
digunakan hendaknya dibatasi untuk menghindari rasa takut.
Biarkan anak bertanya tentang alat yang digunakan juga bila anak akan memegangnya asalkan tidak
berbahaya. Jawablah pertanyaan tersebut dengan jawaban yang mudah dimengerti dan berikan contoh
yang mudah dipahami anak
Untuk anak yang sangat gelisah dokter gigi dapat mengganti baju dokternya dengan baju biasa. Hal ini
akan membuat dokter gigi mempunyai penampilan seperti seorang bapak atau ibu
Anak sering dibawa pertama kali ke dokter gigi dalam keadaan sakit, sehingga prosedur pendahuluan
yaitu memperkenalkan anak ke dokter gigi tidak mungkin dilakukan. Prosedur yang ideal pada
kunjungan ini dapat diubah misalnya pada anak yang datang berobat dalam keadaan sangat sakit,
sehingga untuk keadaan demikian harus segera dilakukan perawatan. Beberapa kasus perlu dilakukan
segera perawatan (misalnya gigi sangat goyang) sedangkan bila ada rasa sakit lebih baik memberikan
analgetik dulu, agar anak dapat yakin bahwa ke dokter gigi justru untuk menyembuhkan,bukan untuk
menambah rasa sakit.
Pada anak kecil prosedur penyikatan gigi dibatasi beberapa gigi seri dan dalam waktu hanya satu atau
dua menit. Tujuan utamanya adalah untuk memperkenalkan anak agar senang ke dokter gigi, apakah
plak akan hilang atau tidak adalah tidak penting
Jangan menyambut anak dengan memakai masker dan sarung tangan

Tujuan yang mendasar dari kunjungan ini tidak boleh diabaikan. Bagi orang dewasa bila ia merasa kurang
senang pada satu dokter gigi ia akan pergi ke dokter gigi lain, tetapi tidak demikian halnya dengan pasien anak,
sekali ia mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan akan sulit baginya untuk membangun kepercayaan
terhadap dokter gigi.

2. Bagaimana macam-macam tingkah laku ( pola temperamen )dari anak dan penanganannya?
a.
Anak yang mudah (easy child). Secara umum, anak itu terlihat bahagia, fungsi
biologisnya mempunyai ritme yang jelas, mudah menerima pengalaman baru. JIka frustasi
tidak mudah rewel, cepat beradaptasi terhadapa rutinitas baru atau aturan permainan yang
baru.

b.

Anak yang sulit (difficult child). Mudah terganggu dan sulit ditenangkan, ritme
biologisnya tidak beraturan, sering mengekspresikan emosinya.

c.

Anak yang bereaksi perlahan (slow to worm up child). cenderung untuk bereaksi
perlahan-lahan dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan orang lain dan situasi
baru. (A. Thomas & Chess, 1977).
Frankl membagi derajat tingkah laku anak dalam 4 kategori yaitu jelas negatif, negatif, positif dan jelas positif :
Anak dalam kategori jelas negatif akan menolak perawatan, menangis keras, ketakutan, menunjukkan sikap
negatif, menarik diri dari perawatan, tidak terkendali dan tidak kooperatif. Anak enggan menerima perawatan
gigi, tidak kooperatif, berwajah muram, enggan mendengar dan merespon kepada dokter gigi dalam kategori
negatif sedangkan dalam kategori positif, anak menerima perawatan gigi, tidak menolak petunjuk dokter gigi,
bekerjasama dengan dokter gigi dengan mengikuti dan mematuhi arahan dokter gigi. Kategori jelas positif
menunjukkan anak dengan gembira menerima perawatan, tertarik dengan tindakan yang dilakukan oleh dokter
gigi, banyak bertanya, hubungan yang ramah dengan dokter gigi dan sangat kooperatif.
Wright membagi beberapa kategori berdasarkan kooperatif anak sebagai berikut yaitu anak tidak mampu
menjadi kooperatif, anak belum mampu menjadi kooperatif dan anak mempunyai potensi menjadi kooperatif :
Anak yang tidak mampu menjadi kooperatif adalah anak tuna mental, kemampuannya terbatas sedangkan anak
usia terlalu muda termasuk dalam kategori belum mampu menjadi kooperatif. Awal pertama anak tidak
kooperatif, dengan pendekatan yang baik, tingkah lakunya berubah termasuk dalam kategori berpotensi
menjadi kooperatif
Bagaimana strategi dokter gigi untuk mengatasi rasa takut anak?
Strategi Tahap Primer dalam Mengatasi Rasa Takut
Pendekatan tahap primer bertujuan untuk membentuk lingkungan yang aman dan membiarkan anak
merasakan kontrol merupakan kunci dalam bekerja dengan anak yang akan memberikan hasil baik.
Hal ini disebabkan karena mereka dibantu untuk memahami pikiran dan penatalaksanaan perawatan
yang dilakukan dokter gigi (Karolina, 2008).
Pendekatan Tell-Show-Do (TSD) sebagai metode persiapan dapat diterapkan pada anak yang
pertama kali berkunjung ke dokter gigi. Penatalaksanaan rasa takut pada tahap ini hanya sebatas
pendekatanTell dan Show saja. Teknik ini digunakan secara rutin dalam memperkenalkan anak pada
perawatan profilaksis, yang selau dipilih sebagai prosedur operatif pertama. Anak diceritakan bahwa
gigi-giginya disikat, tujukkan sikat khusus tersebut dan bagimana sikat berputar dalam handpiece,
kemudian gigi-giginya disikat. Penjelasan tidak perlu panjang lebar, karena hal ini akan cenderung
membingungkan anak dan mungkin membangkitkan kecemasan. Pada tahap ini diperlukan pujian
karena tingkah laku yang baik selama perawatan awal harus segera diberi penguatan dan selama
perawatan selanjutnya (Andlaw & Rock, 1992).
Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang dokter gigi pada tahap ini adalah.

Memberikan pertanyaan sebelum, selama dan setelah perawatan. Hal ini dapat
membangkitkan rasa percaya dan memberikan kesempatan kepada anak untuk bekerja
sama.

Saat anak memutuskan pilihan, dokter gigi harus selalu melaksanakan, oleh karena itu
jangan menanyakan anak mau atau tidak giginya dirawat.

Memberikan anak kesempatan memegang alat dan menjelaskan fungsi masing-masing alat.
Hal tersebut akan diharapkan rasa takut menjadi hilang dan meningkatkan perhatian serta
memberikan kesan bahwa mereka penting sehingga dapat bekerja sama sukarela tanpa
dipaksakan.

Memperkenalkan anak dengan ruang perawatan gigi dan perawatan akan dilakukan
sebaiknya tanpa membuat rasa takut, sehingga kepercayaan diri anak dapat diperoleh dan
rasa takut berubah menjadi keingintahuan dan kooperatif.

Tingkah laku dan umur yang berbeda pada anak menyebabkan dokter gigi harus mampu untuk
bersikap berbeda dalam mengatasinya. Pada anak yang berusia 2 tahun, sebaiknya dokter gigi
memberikan alat bermain pada anak pada saat wawancara atau pemeriksaan agar anak menjadi
senang, segala sesuatu yang terkait dengan kesehatan anak lebih banyak ditanyakan kepada orang
tuanya. Demikian juga dengan konseling lebih banyak ditujukan kepada orang tua (Blisa, 2010).
Strategi tersebut akan berhasil apabila ada kerjasama yang baik antara pasien (anak), orang tua dan
dokter gigi serta lingkungan fisik yang mendukung perawatan. Untuk mendapatkan keberhasilan
perawatan pada pasien yang memiliki rasa takut adalah dengan menciptakan lingkungan yang aman
untuk anak. Hal-hal yang menarik, lingkungan fisik yang berorientasi pada anak dengan peralatan
permainan dan berkomunikasi dengan anak adalah sesuatu yang baik (Gambar 1). Hal ini
dikarenakan lingkungan psikologis yang aman dapat mempengaruhi tindakan atau perasaan anak
(Finn, 1973).
Gambar 1. Komunikasi dan lingkungan fisik yang berorientasi pada anak dengan alat permainan
Sumber : http://dental.pacific.edu/
Pasien yang menunggu perawatan pada umumnya cemas, dan kecemasan dapat ditingkatkan oleh
persepsi pasien tentang ruang praktik sebagai lingkungan yang mengancam, tentang perawat,
cahaya, bunyi, dan bahasa teknis yang asing bagi pasien (Prasetyo, 2005). Membuat ruang
penerimaan yang nyaman dan hangat sehingga anak merasa tidak asing ketika memasukinya, Oleh
karena itu dekorasi ruangan sangat memegang peranan penting dan erat kaitannya dengan kondisi
psikologis mereka (Pertiwi et al., 2005).
Pada saat anak memasuki ruang perawatan gigi dengan sejumlah perasaan takut, hal yang pertama
harus dilakukan oleh dokter gigi adalah menempatkan anak senyaman mungkin dan
mengarahkannya bahwa pengalamannya ini bukanlah hal yang tidak biasa. Jika tempat praktik tidak
terbatas hanya untuk pasien anak-anak, salah satu metode yang efektif di antaranya adalah dengan
pembuatan ruang tunggu yang dibuat sedemikian rupa sehingga anak merasa berada di lingkungan
rumahnya sendiri (Gambar 2) (Pertiwi et al., 2005).
Musik yang lembut dapat memberikan efek baik pada orang tua maupun anak dalam memecahkan
keheningan di ruang tunggu. Bahan-bahan bacaan yang disediakan di ruang tunggu tidak saja buat
anak-anak, tetapi juga buat orang tuanya. Sediakan pula kursi dan meja kecil bagi anak untuk duduk
dan membaca. Buku-buku disediakan untuk semua usia anak. Selain buku bacaan, dapat disediakan
juga buku aktivitas, seperti buku mewarnai (Pertiwi et al., 2005; Prasetyo, 2005).

III. Strategi Tahap Sekunder dalam Mengatasi Rasa Takut


Pendekatan tahap sekunder bertujuan untuk menghilangkan rasa takut dengan membentuk pola
komunikasi yang baik dengan pasien. Tanda keberhasilan dokter gigi mengelola pasien anak adalah
kesanggupannya berkomunikasi dan memperoleh rasa percaya diri dari anak sehingga anak dapat
bersikap kooperatif. Komunikasi dengan pasien berperan penting dalam mengurangi rasa takut
pasien (Hmud & Walsh, 2009).
3.1. Komunikasi Verbal dan Non Verbal
Memberikan dukungan verbal dan meyakinkan pasien merupakan strategi yang sering dilakukan.
Pendekatan ini harus diadopsi oleh seluruh tim pada saat berinteraksi dengan pasien (Hmud &
Walsh, 2009). Banyak cara untuk memulai komunikasi secara verbal, misalnya untuk anak kecil dapat
ditanyakan tentang pakaian baru, kakak adik, benda atau binatang kesayangannya, sedangkan untuk
anak besar dapat ditanyakan tentang sekolah, aktifitas, olah raga atau teman sebaya ((Finn, 1973).
Untuk menciptakan kepercayaan pada anak yang berusia 2-6 tahun, dokter gigi sebaiknya melibatkan
anak dalam dialog dan semua diskusi dengan menggunakan kata-kata sederhana. Banyak anak yang
merasa senang dengan dokter karena mereka dapat berkomunikasi dengannya. Pada saat
berkunjung ke dokter gigi mereka tidak takut, tetapi malah senang. Demikian pula dengan tindakan
medis, anak harus diberi penjelasan terlebih dahulu dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh
anak. Berbicara pada anak harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman sehingga diperlukan
second language (Budiyanti & Heriandi, 2001; Blisa, 2010).
Beberapa second language yang dapat membantu dokter gigi dalam melakukan perawatan gigi
pada anak antara lain.

Melakukan anastesi sebelum pencabutan gigi dapat digunakan istilah menidurkan gigi.
Melakukan pembersihan dengan brush dan pumice dapat digunakan istilah memandikan dan
mengkeramasi gigi, kemudian mengeringkan dengan tampon dapat digunakan istilah
menghanduki gigi.

Mengebor untuk menghilangkan jaringan karies gigi dapat digunakan istilah membersihkan
rumah kuman dan lain-lain.

Untuk menciptakan kepercayaan anak pada usia 7-10 tahun, dokter gigi sebaiknya menanyakan
kegiatannya dan beri komentar yang positif, tanyakan pada anak tentang hal-hal yang sederhana dan
konkret, beri tanggungjawab pada anak terhadap tugas yang kita berikan, dan jangan lupa untuk
menjelaskan tentang pemeriksaan yang dijalani sesuai dengan daya piker anak. Sedangkan untuk
anak yang berusia 11-17 tahun, dokter gigi harus menghargai pendapat, kebutuhan dan keterbatasan
anak sebelum merekomendasikan sesuatu (Tabel 1) (Blisa, 2010).
Tabel 1. Tingkah laku anak di praktik dokter gigi berdasarkan umur
Komunikasi non verbal dapat dilakukan misalnya dengan menjabat tangan anak, tersenyum dengan
penuh kehangatan, menggandeng anak sebelum mendudukkannya ke kursi gigi dan lain-lain
(Budiyanti & Heriandi, 2001).
3.2 Bimbingan Kerjasama
Model komunikasi bimbingan kerjasama antara dokter gigi dan pasien merupakan strategi yang
terbaik. Pada perawatan ini diharapkan pasien dapat mematuhi dokter gigi dan anak dapat besikap

kooperatif selama perawatan. Perubahan nada dan volume suara dapat digunakan untuk mengubah
perilaku dan mengkomunikasikan perasaan kepada anak (Karolina, 2008).
Contoh komunikasi dengan bimbingan kerjasama yang dapat dilakukann oleh dokter gigi antara lain:
1)

buka sedikit lebih lebar mulutnya, anak manis

2)

apakah engkau siap untuk dimulai sekarang, maukah manis?

3)

sayang, saya suka caramu membuat mulutmu tetap terbuka lebar

3.3 Strategi Perilaku Efektif


Selain strategi komunikasi di atas, komunikasi efektif yang dapat dilakukan oleh dokter gigi adalah
dengan strategi perilaku. Strategi ini dapat digunakan dengan cepat dan mengurangi rasa takut.
Strategi perilaku efektif tersebut antara lain sebagai berikut (Finn, 1973; Karolina, 2008).
1. Waktu dan lamanya perawatan
Dokter gigi harus mengetahui waktu perawatan yang dibutuhkan karena pada beberapa anak
lamanya perawatan akan mempengaruhi tingkah lakunya. Terdapat hubungan yang terbalik antara
kooperatif dengan lamanya waktu perawatan. Menepati janji untuk datang maupun lamanya
perawatan adalah sangat penting (Finn, 1973).
Seorang resepsionis yang mencatat pasien dengan rasa takut dapat menjadwalkan waktu yang
cukup, sehingga memungkinkan dokter gigi memiliki waktu lebih dalam menjelaskan prosedur secara
hati-hati, dan kemudian melanjutkan perlahan pengobatannya. Waktu yang paling baik dalam
merawat anak adalah di pagi hari saat anak tidak lelah. Anak sebaiknya tidak dibawa ke dokter gigi
setelah mengalami trauma emosi, misalnya ia baru saja kehilangan boneka kesayangannya, karena
penjanjian dengan dokter gigi akan membuat anak menjadi tidak kooperatif (Finn, 1973; Hmud &
Walsh, 2009).
2. Mengalihkan perhatian
Mengalihkan perhatian adalah suatu metode yang berguna untuk mengurangi rasa takut, tidak
nyaman, stress dan menghilangkan rasa bosan selama periode perawatan. Semakin bnayak
mengetahui tentang anak, lebih besar taktik yang dapat dilakukan untuk mengalihkan anak, untuk
memberikan kesempatan melakukan prosedur perawatan yang diperlukan. Bahan pengalih yang
terbukti membantu mengurangi rasa takut anak misalnya radio, program anak di televisi dan lain-lain.
3. Hipnotis
Hipnotis dilakukan dengan mempengaruhu pikiran orang lain sehingga anjuran-anjuran yang
diberikan akan diterima dengan baik. Teknik ini hanya dapat dilakukan pada pasien yang dapat
bekerja sama. Hipnotis sering digunakan dalam kedokteran gigi sebagai suatu metode untuk
membantu pasien yang cemas agar rileks dan meningkatkan kooperatif pasien.
4. Modifikasi tingkah laku (penguatan)
Penguatan dapat diartikan sebagai pengukuhan pola tingkah laku yang akan meningkatkan
kemungkinan tingkah laku tersebut terjadi lagi dikemudian hari. Penguatan (reinforcement) terbukti
mengurangi tingkah laku tidak kooperatif pada anak dalam menjalani perawatan gigi (Finn, 1973;
Andlaw & Rock, 1992).
Hampir semua benda menjadi penguat dokter gigi sehingga dapat meningkatkan hubungan sosial
dengan cara memberikan perhatian, doa, senyum dan pelukan. Benda penguat yang dapat diberikan
misalnya stiker, pensil dan lain-lain. Bentuk penghargaan lain adalah hadiah dan ini dapat diberikan

pada tahap akhir perawatan sebagai penghargaan atas tingkah laku yang baik (Andlaw & Rock,
1992). Namun, upaya yang terpenting dalam memperkuat tingkah laku adalah kasih sayang dan
perhatian.
5. Kehadiran orang tua di dalam ruangan
Kehadiran orang tua di ruang praktik memepunyai pengaruh positif dalam meningkatkan keamanan
pada anak yang kurang berani. Sedangkan pendapat agar orang tua sebaiknya berada di luar karena
kehadiran orang tua dapat mengganggu prosedur perawatan dan rasa takut yang dimiliki orang tua
akan mempengaruhi anak. Sebaiknya orang tua tidak ikut ke ruang praktik tanpa diminta oleh dokter
gigi (Finn, 1973).
IV. Strategi Tahap Tertier dalam Mengatasi Rasa Takut
Pendekatan tahap tertier ditujukan kepada anak dengan rasa takut yang berat dengan maksud
menghilangkan rasa tkut dan menyelesaikan perawatan gigi. Teknik yang menjadi pilihan utama
adalah desensitisasi sistemik dan modeling ataupun kombinasi.
4.1 Desensitisasi
Desentisasi adalah suatu cara untuk mengurangi rasa takut atau cemas seorang anak dengan jalan
memberikan rangsangan yang membuatnya takut atau cemas sedikit demi sedikit rangsangan
tersebut diberikan terus, sampai anak tidak takut atau cemas lagi. Prosedur ini dilandasi oleh prinsip
belajarcounterconditioning, yaitu respon yang tidak diinginkan digantikan dengan tingkah laku yang
diinginkan sebagai hasil latihan yang berulang-ulang. Teknis desentisisasi ini sangat efektif untuk
menghilangkan rasa takut atau fobia (Tampubolon, 2010).
Prinsip macam terapi ini adalah memasukan suatu respon yang bertentangan dengan kecemasan
yaitu relaksasi. Pertama-tama subyek dilatih untuk relaksasi dalam, salah satu caranya misalnya
secara progresif merelaksasi berbagai otot, mulai dari otot kaki, pergelangan kaki, kemudian
keseluruhan tubuh, leher dan wajah. Pada tahap selanjutnya ahli terapi membentuk hirarki situasi
yang menimbulkan kecemasan pada subyek dari situasi yang menghasilkan kecemasan paling kecil
sampai situasi yang paling menakutkan. Setelah itu subyek diminta relaks sambil mengalami atau
membayangkan tiap situasi dalam hirarki yang dimulai dari situasi yang paling kecil menimbulkan
kecemasan (Andlaw & Rock, 1992; Tampubolon, 2010). Pada tahap desensitisasi ini, pasien dapat
diberikan paparan stimulus berupa injeksi anestesi gigi, aplikasi rubber dam, dan suara serta melihat
bor gigi dengan menjelaskan hasilnya (Melamed et al., 1975).
4.2 Modeling
Metode modeling adalah cara pendekatan yang sangat praktis, mudah dilakukan, serta efektif
memepersingkat waktu dalam perubahan perilaku pasien anak sehingga waktu perawatan gigi
menjadi lebih optimal (Soemartono, 2003). Teori social learning memprediksi bahwa pola respon
rasa takut pada anak-anak dapat dihilangkan dengan mengamati model yang mendapatkan stimulus
tanpa mengalami konsekuensi yang negatif (Melamed et al., 1975).
Prinsip psikologis metode modeling yaitu belajar dari pengamatan model. Anak diajak mengamati
anak lain yang ketika dirawat giginya berperilaku kooperatif, baik secara langsung pada kursi gigi atau
melalui film. Setelah metode modeling dikerjakan maka diharapkan anak berperilaku kooperatif
seperti model yang diamati. Pendekatan tersebut efektif karena memberikan informasi yang jelas
pada pasien tentang jenis peralatan dan prosedur yang akan dihadapi (Masitahapsari et al., 2009).

Metode modeling ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu melalui model di film/ anak sebaya
(filmed/ in vivo modeling) dan melalui model yang ikut berpartisispasi dalam perawatan secara
langsung (participant modeling) dalam memperkenalkan perawatan gigi (Gambar 3). Metode ini
efektif pada anak dengan umur 4-9 tahun dan hanya beberapa efektif pada anak yang lebih muda
dari umur 4 tahun (Catherine, 2004).
1. Filmed modeling

2. Participant

modeling
Modeling adalah modifikasi perilaku untuk pasien anak yang masih usia muda, anak dapat belajar
tentang pengalaman ke dokter gigi dengan melihat anak-anak lain menerima perawatan. Strategi ini
tidak hanya mengajarkan anak yang belum pernah menerima perawatan tentang apa yang
diharapkan darinya, tetapi lebih penting adalah mendemonstrasikan apa yang diharapkan dari anak
(Narwaty, 2008). Strategi ini efektif dalam mengatasi rasa takut selama kunjungan pertama perawatan
gigi pada pasien anak. Metode ini dapat diterapkan dengan mudah dalam ruang praktik (Melamed et
al., 1975).
4.3 Kombinasi Perawatan Perilaku
Kombinasi perawatan perilaku menunjukkan hasil yang jauh lebih baik. Penggunaan metode dengan
menggabungkan beberapa metode pada suatu paket perawatan. Pasien yang takut diajarkan rileks
dan kemudian menunjukkan film model disaat rileks. Modeling dan desensitisasi dapat diterapkan
sekaligus, dengan pengkombinasian dua cara ini akan diperoleh hasil yang memuaskan. Modeling
dan desensitisasi juga dapat mengurangi rasa cemas orang pada perawatan gigi anaknya. Merubah
perilaku dengan cara modeling dan desensitisasi dapat diterapkan baik di klinik gigi maupun praktik
pribadi (Narwaty, 2008).

Apa yang dimaksud dengan pendekatan non pharmacology behavior?

Bidang kedokteran gigi anak sebagai cabang dari kedokteran gigi mempunyai filosofi dasar : rawat pasiennya
bukan giginya
Pendekatan non pharmacological adalah dengan melakukan penanganan terhadap penyakit tanpa menggunakan
obat-obatan, tujuan dari pendekatan ini adalah untuk mengatur atau memenej tingkah laku dan gejala kognitif
pasien. Tujuan sekunder dari pendekatan ini adalah untuk mengurangi beban pengasuh/perawat. Penanganan
dengan melakukan pendekatan non pharmacological sangat bermanfaat ketika pengobatan tidak dapat dilakukan
karena pasien tidak mampu mentoleransi efek samping pengobatan atau tidak menyetujui instruksi pengobatan,
atau membantah pengobatan. Pendekatan non pharmacological dilakukan dengan menggunakan terapi
seperti behavioral management techniques, the pleasant event schedule, music therapy,modifikasi
lingkungan, animal assisted therapy, morning bright light therapy, ECT. Melalui pendekatan
nonpharmacological ini, penderita menjadi lebih mengenal, dan lebih siap menghadapi penyakitnya, serta lebih
dapat memenej dirinya sendiri (Litchenberg, dkk., 2003).
Bagaimana peranan orang tua terhadap kunjungan pertama anak ke dokter gigi?
Orangtua berperan dalam memberikan informasi pada dokter gigi serta memberi dorongan pada anak
agar dapat berkomunikasi dan bekerjasama dengan dokter gigi. Sehingga karena itu, komunikasi dan
kerjasama berjalan dengan lancar.
Peranan seorang ibu dalam kesehatan gigi anak-anaknya adalah sebagai motivator, edukator dan fasilitator.
Motivator adalah orang yang memberikan motivasi atau mendorong seseorang untuk bertindak. Secara klinis,
motivasi diperlukan untuk mendapatkan kekuatan pada pasien yang mendapat perawatan. Motivasi didasari atas
suatu kebutuhan, tujuan dan tingkah laku yang khas. Sebagai edukator, seorang ibu wajib memberikan
pendidikan kesehatan kepada keluarganya dalam menanamkan perilaku sehat, sehingga terjadi perubahan
perilaku seperti yang diharapkan dalam mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Sebagai fasilitator, seorang

ibu dapat dijadikan panutan bagi anak-anaknya dalam memecahkan berbagai permasalahan dalam bidang
kesehatan yang dihadapi sehari-hari.
Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan saat menangani anak yang mempunyai sifat
temperamen?
Menurut Kate Anderson Ph.D dalam buku 'Family Connections
1. Menerima. Terima watak dan perilaku anak anda apa adanya. Jangan anggap anda ketiban sial. Sebaliknya,
anggap diri anda dipercaya Tuhan untuk mengasuh anak sulit. Sikap seperti ini akan membantu anda untuk
mengumpulkan energi baru untuk membantu si kecil.
2. Lihat sisi positif. Setiap kepribadian selalu punya manfaat. Anda hanya perlu mengurangi kadar keras kepala
atau agresivitas si kecil agar bisa digunakan anak pada situasi yang tepat. Kelak semua itu bisa mendatangkan
manfaat bagi dirinya.
3. Bedakan temperamen dan perilaku negatif. Contoh temperamen negatif adalah sulit menyesuaikan diri
dengan situasi baru, sementara contoh perilaku negatif adalah membuang makanan sambil marah-marah.
Kemampuan untuk membedakan keduanya akan mempermudah Anda untuk memberi tanggapan yang tepat.
Biasanya perilaku begatif lebih mudah diubah ketimbang temperamen negatif.
4. Tentukan harapan dan tujuan yang jelas tentang anak dan pegang teguh keduanya.
5. Hindari jebakan 'adu kuat' (power struggle) dengan anak.
6. Tetap tenang dan jaga emosi.
7. Perbanyak pengetahuan dan wawasan yang terkait dengan 'anak sulit' .
8. Buat tindakan antisipatif sebelum anak menampakkan perilaku negatifnya. Anda pasti hafal masalah perilaku
yang sering ditampilkan anak.
9. Bantu anak mengenali emosinya. Misalnya menanyakan "kamu marah ya?" , "kamu kecewa ya?"
10. Sisihkan waktu khusus untuk bicara empat mata dengan anak dan fokuskan ganya pada hal positif.
11. Ciptakan rutinitas keluarga. Misalnya memasak bersama, membaca ceritam bersepeda sore. Atau masukkan
anak anda ke klub seperti klub olahraga, tari atau drama.
12. Terapkan sistem 'reward' / pujian dan konsekuensi, untuk meluruskan temperamen anak. Konsekuensi
misalnya, bila anak tidak mau makan anda tidak perlu memaksanya. Biarkan ia merasa lapar agar mengerti
konsekuensi dari tidak makan.
13. Praktikkan selalu sikap memaafkan dan sabar.
14. Cari dukungan orang lain. Bila perlu minta bantuan psikolog.
15. Jangan lupa mengurus diri sendiri.
16. Berdoa, berdoa dan berdoa.
Para pakar temperamen sepakat, cara paling efektif untuk mengubah temperamen anak suli adalah dengan
memberinya pujian. Tepatnya anda harus memujinya dengan tulus saat anak mampu mengendalikan diri
(berperilaku baik) maupun saat anak temperamental (emosional).
Bagaimana metode pendekatan dalam pembentukan tingkah laku anak selama perawatan gigi?

4.1. Komunikasi
Tanda keberhasilan dokter gigi mengelola pasien anak adalah kesanggupannya berkomunikasi dan memperoleh
rasa percaya dari anak, sehingga bersikap koperatif. Komunikasi dibagi atas komunikasi verbal dan non verbal,
sebaiknya pembicaraan dilakukan secara wajar. Banyak cara untuk memulai komunikasi verbal, misalnya untuk
anak kecil dapat ditanyakan tentang pakaian baru, kakak adik, benda atau binatang kesayangan. Anak yang lebih
besar dapat ditanyakan tentang sekolah, aktifitas, olah raga atau teman.
Perubahan nada dan volume suara dapat digunakan untuk mengubah perilaku dan mengkomunikasikan perasaan
kepada anak. Perintah yang tiba-tiba dan tegas dapat mengejutkan dan menarik perhatian anak sehingga anak
dapat menghentikan apa yang sedang dilakukannya
4.2. Mengalihkan perhatian
Mengalihkan perhatian adalah suatu metode yang berguna untuk mengurangi rasa takut, tidak nyaman, stress
dan menghilangkan rasa bosan selama periode perawatan.

Semakin banyak mengetahui tentang anak, lebih besar taktik yang dapat dilakukan untuk mengalihkan anak,
untuk memberikan kesempatan melakukan prosedur perawatan yang diperlukan. Bahan pengalih perhatian yang
terbukti untuk membantu mengurangi rasa takut pada anak misalnya radio, program anak di tv dan lain-lain.
4.3. Teknik Tell-Show-Do
TSD merupakan suatu rangkaian pendekatan secara berurutan, sebagai metode persiapan, dipopulerkan pertama
kali oleh Addelston (1959) dan dapat diterapkan pada anak dengan sikap dan umur yang berbeda, terutama pada
anak yang pertama kali berkunjung ke dokter gigi.13 Sebelum melakukan perawatan, dokter gigi selangkah
demi selangkah menjelaskan terlebih dahulu kepada anak apa yang akan dilakukan dengan bahasa yang dapat
dimengerti anak dan menunjukkan berbagai instrumen yang akan digunakan. Kemudian kepada anak dijelaskan
bagaimana prosedur yang akan dilakukan, setelah itu dokter gigi mendemonstrasikannya.11 Proses ini
memerlukan waktu yang cukup lama pada anak dengan ketakutan yang berlebihan.
TELL : Anak diberitahu apa yang akan dilakukan terhadap dirinya, bahasa sesederhana mungkin agar mudah
dipahami. Istilah-istilah kedokteran gigi dapat diganti dengan bahasa sehari-hari. Misalnya ; karies diganti
dengan gigi berlobang, disuntik diganti dengan ditidurkan dan bor diganti dengan giginya akan dibersihkan
supaya bahan tambalan dapat dimasukkan.12,13
SHOW : Memperlihatkan cara kerja dokter gigi menggunakan alat bantu peraga, misalnya pantom yang terbuat
dari gips ataupun melalui gambar, slide dan film yang pendek. Pekerjaan dilakukan dengan hati-hati sehingga
tidak menimbulkan rasa takut dan terkejut pada anak.
DO : Dokter gigi akan melakukan apa yang telah diterangkan dan diperlihatkan. Anak tidak boleh dibohongi,
karena bila terjadi penyimpangan dari apa yang telah diterangkan dan diperlihatkan tadi, besar kemungkinan si
anak tidak mau lagi dirawat giginya.12,13
Berikan pujian dan hadiah apabila anak telah menunjukkan kerja sama yang baik dalam menerima perawatan.
4.4. Modeling
Anak mempunyai sifat ingin tahu, menirukan hal-hal yang baru dan yang menarik perhatiannya serta sifat
bersaing. Sifat-sifat ini dapat dimanfaatkan dalam merawat gigi anak.12 Menurut Bandura (1969) modeling
adalah suatu proses sosialisasi yang terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung dalam interaksinya
dengan lingkungan sosial. Gordon (1974) mengatakan bahwa modeling adalah proses belajar dengan
memperhatikan model. Sedangkan Eichenbaum (1977) berpendapat bahwa modeling merupakan suatu teknik
yang memakai kemampuan anak untuk meniru model yang sudah berpengalaman.
Cara modeling dilakukan dalam mengatasi dan merubah tingkah laku anak yang tidak koperatif.
Seorang dokter gigi juga dapat bertindak sebagai model yang akan ditiru oleh anak dengan syarat harus bersikap
tenang, santai dan mantap. Jika dokter gigi tidak tenang, cemas dan ragu-ragu, akan menambah rasa takut dan
cemas seorang anak
4.5. Desensitisasi
Cara lain yang dipakai untuk merubah tingkah laku anak adalah desensitisasi, yaitu suatu cara untuk mengurangi
rasa takut dan cemas seorang anak dengan jalan memberi rangsangan sehingga rasa takut/cemas sedikit demi
sedikit akan berkurang. Rangsangan tersebut diberikan terus, sampai anak tidak merasa takut lagi.
Cara ini terdiri atas tiga tahap, yaitu :
Pertama: latih pasien agar merasa santai/relaks
Kedua: susun secara berurutan hal-hal yang membuat pasien cemas/ takut yaitu dari hal yang paling
menakutkan sampai ke hal-hal yang tidak begitu menakutkan.
Ketiga: memberi rangsangan dari hal yang tidak begitu menakutkan sampai anak tidak merasa takut lagi dan
rangsangan ini ditingkatkan menurut urutan yang telah disusun tersebut di atas
4.6. Hand Over Mouth Exercise (HOME)
Teknik hand-over-mouth biasanya dianggap sebagai cara yang ekstrem dalam menangani anak yang tidak
koperatif, misalnya anak yang menangis histeris.21 Anak seperti ini biasanya tidak takut, tetapi mereka tidak
mau bekerja sama dan mencari jalan untuk menghindar. Tingkah laku biasanya segera terlihat pada kunjungan
pertama dan dipertegas oleh cara penolakan terhadap pemeriksaan.12
Teknik ini dilakukan dengan cara menahan anak yang melawan dengan pelan tetapi kuat pada kursi perawatan
gigi, meletakkan tangan di atas mulutnya untuk menahan perlawanannya dan berbicara dengan perlahan tetapi
jelas ke dalam telinganya. Selanjutnya pada anak dikatakan bahwa tangan akan diangkat bila ia berhenti
menangis. Bila ia menanggapi dengan baik, tangan segera diangkat dari mulutnya dan ia diberi pujian atas sikap

baiknya. Teknik ini bukan untuk menakuti anak, tetapi untuk mendiamkannya dan mendapatkan perhatiannya,
agar ia dapat mendengar apa yang dikatakan dokter gigi dan menerima perawatan gigi yang diperlukannya.21
Teknik HOME digunakan sampai anak menyadari bahwa dokter gigi tidak terpengaruh oleh tingkah laku dan
perlawanannya. Metode ini memperlihatkan pada anak bahwa usahanya untuk menghindari keadaan tidak perlu
dan tidak berguna.
4.7. Hipnotis
Hipnotis diartikan oleh Hartland (1971) sebagai suatu teknik yang dapat mempengaruhi pikiran orang lain
sehingga anjuran-anjuran yang diberikan akan diterima pasien dengan baik.19
Hipnotis paling sering digunakan dalam kedokteran gigi sebagai suatu metode untuk membantu pasien yang
takut dan cemas supaya relaks, sehingga akan dapat menerima prosedur perawatan yang sebelumnya ditolak.
Indikasi lain untuk hipnotis membantu pasien yang mual sewaktu sesuatu benda masuk ke dalam rongga
mulutnya, mendorong anak untuk memakai peralatan ortodonti dan memperkenalkan anak pada sedasi inhalasi
atau anestesia umum. Sebelum melakukan hipnotis, dokter gigi harus mempersiapkan pasien dengan
menjelaskan apa yang akan dilakukan. Pada anak hanya memerlukan persiapan minimal, kata-kata hipnotis
tidak perlu digunakan pada anak. Anak kecil dapat diberitahu bahwa mereka akan merasa seperti tidur, dengan
mata tertutup walaupun ada sedikit perbedaan, mereka masih dapat mendengar segala sesuatu yang dikatakan
oleh dokter gigi dan mampu berbicara. Anak yang lebih besar hanya perlu diberitahu bahwa tujuannya adalah
membantu mereka untuk relaks sehingga kekhawatiran mereka terhadap perawatan gigi dapat diatasi.
Bagaimana menangani anak yang kritis?
Strategi 1: Menjaga Kejujuran
Ketika ditanya anak tentang suatu hal, orang tua harus bersikap jujur. Maksudnya, orang tua harus
menjawab pertanyaan itu secara objektif terukur. Orang tua tidak boleh menolak pertanyaan anak.
Mereka itu memerlukan jawaban segera. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh menyesatkan pikiran
anak dengan jawaban yang mbulet alias bertele-tele alias berbelit-belit. Jawablah pertanyaan anak itu
dengan jujur.
Strategi 2: Menggunakan Bahasa Analogi
Pikiran anak belum mampu memahami penalaran tingkat tinggi. Oleh karena itu, pikiran anak perlu
dirangsang dengan penalaran analogi. Penalaran analogi adalah pola berpikir yang menggunakan
objek lain sebagai pembanding untuk memudahkan pengembangan gagasan. Pernyataan awal
tulisan ini dapat digunakan sebagai contohnya, yaitu penggunaan istilah kaset untuk menggantikan
istilah otak atau pikiran anak
Strategi 3: Bersikap Ramah
Anak sering bertanya tanpa mempertimbangkan kesopanan atau etika. Mereka hanya berdasarkan
insting atau naluri keingintahuan. Jadi, mereka tidak pernah berpikir bahwa pertanyaan itu kurang etis
ditanyakan. Namun, rasa ingin tahu membangkitkan keberaniannya untuk bertanya. Maka, orang tua
tidak boleh menanggapi pertanyaan itu secara emosional. Orang tua harus bersikap ramah agar anak
merasa dilayani.
4. Jangan Menunjukkan Respons Negatif
Dalam hal ini, kemampuan orang tua untuk mengontrol dirinya sendiri memang diuji.
Amat bijaksana bila orang tua tidak menunjukkan respons negatif atas sikap kritis anak,
seperti marah atau kesal de-ngan membentak atau malah menyuruh anak diam. Tanggapilah sikap kritis anak dengan positif. Tersenyumlah dan dengarkan pertanyaannya.
Jika orang tua belum bisa menjawab pertanyaan tersebut saat itu juga, jangan sungkan
untuk meminta anak menunggu Anda siap menjawabnya. Jangan lupa juga untuk
menjelaskan kenapa pertanyaan tersebut belum bisa dijawab. Contohnya, "Wah...
pertanyaanmu bagus banget. Mama senang sekali menjawabnya. Tapi sekarang Mama
lagi sibuk masak. Gimana kalau Mama jawabnya nanti saja setelah masakannya matang.
Soalnya kalau Mama enggak konsentrasi, nanti masakannya bisa gosong dan rasanya
jadi tidak enak. Setuju?"

Bisa juga orang tua menjawab 1-2 pertanyaan anak. Jika ia masih bertanya terus, jelaskan kondisi orang tua yang sedang tidak memungkinkan untuk melayaninya. Tentukan
kapan waktu yang dirasa pas untuk melanjutkan "diskusi" tersebut.
5. Dengarkan Baik-baik
Sebelum menjawab, dengarkan baik-baik dan pahami benar apa yang ditanyakan anak.
Bahkan kalau perlu ajukan pertanyaan balik agar jawaban benar-benar memenuhi
kebutuhan anak, selain untuk menghindari salah paham. Soalnya, pengertian/istilah
tertentu bisa saja diartikan berbeda oleh anak. Misal, "pacaran" bagi anak adalah jalan
bareng sambil berpegangan tangan yang tentu saja berbeda dengan pemahaman orang
dewasa.
6. Arahkan pada Penemuan Jawaban
Untuk lebih melatih ketajaman berpikir anak, orang tua sebaiknya membimbing anaknya
untuk menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Caranya? Dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada penemuan jawaban.
BILA SIKAP KRITIS DITANGGAPI POSITIF
Bila orang tua selalu mengakomodasi keingintahuan anak, menurut Vera ada beberapa
dampak positif yang bakal didapatnya:
1. Rasa ingin tahunya terus berkembang dan ini akan menguatkan motivasinya untuk
terus mempelajari hal-hal baru. Termasuk pelajaran di sekolah, hingga ia terlihat penuh
semangat.
2. Tumbuh menjadi pribadi yang penuh percaya diri karena merasa diterima oleh orang
tua/lingkungan terdekatnya.
3. Ketajaman berpikirnya semakin terasah.
4. Memperoleh kesempatan untuk menambah kosakata baru yang didapatnya dari
pertanyaan yang diajukan sekaligus memperluas wawasannya.
BILA DITANGGAPI NEGATIF
Tanggapan yang tidak bijaksana terhadap sikap kritis anak hanya akan melahirkan
beberapa dampak merugikan. Berikut uraian Vera:
1. Mematikan kreativitas dan rasa ingin tahu anak. Dengan begitu, ia tidak lagi
terdorong untuk menggali hal-hal baru yang ditemuinya. Semua diterima secara pasif
sebagaimana adanya.
2. Anak jadi kurang percaya diri karena merasa selalu disalahkan dan dianggap sebagai
pengganggu.
3. Anak akan tumbuh jadi orang yang cenderung memilih diam. Baginya diam berarti
"aman" dan membuatnya terhindar dari berbagai kesulitan.
4. Anak jadi frustrasi karena kebutuhannya tidak terpenuhi.
5. Anak terdorong untuk mencari sumber lain yang belum tentu benar guna memenuhi
kebutuhannya yang tidak terpenuhi dari orang tua.
6. Merenggangkan hubungan anak dengan orang tua. Anak enggan terbuka pada orang
tua karena menganggap orang tuanya kurang kompeten, minimal enggak asyik diajak
"ngobrol".

Perbedaan pendekatan pharmacology dan non pharmacology dilakukan? LI

- Non pharmacology = dilakukan pada saat dokter bertemu pasien pertama kali dan dalam keadaan tidak sakit /
first dental check up
- Pharmacology = dilakukan saat pasien datang dengan keluhan rasa sakit / urgent
Perawatan yang dapat dilakukan pada anak pada saat kunjungan pertama? LI
Idealnya perawatan operatif yang meliputi injeksi atau preparasi tidak dimulai pada kunjungan pertama,
walaupun anak pernah mempunyai pengalaman dengan dokter gigi lain, karena pada tahap ini anak berada pada
situasi yang baru. Anak sering dibawa pertama kali ke dokter gigi dalam keadaan sakit, sehingga prosedur
pendahuluan yaitu memperkenalkan anak ke dokter gigi tidak mungkin dilakukan. Prosedur yang ideal pada
kunjungan ini dapat diubah misalnya pada anak yang datang berobat dalam keadaan sangat sakit, sehingga
untuk keadaan demikian harus segera dilakukan perawatan. Beberapa kasus perlu dilakukan segera perawatan
(misalnya gigi sangat goyang) sedangkan bila ada rasa sakit lebih baik memberikan analgetik dulu, agar anak
dapat yakin bahwa ke dokter gigi justru untuk menyembuhkan,bukan untuk menambah rasa sakit.
Pada anak kecil prosedur penyikatan gigi dibatasi beberapa gigi seri dan dalam waktu hanya satu atau dua menit.
Tujuan utamanya adalah untuk memperkenalkan anak agar senang ke dokter gigi, apakah plak akan hilang atau
tidak adalah tidak penting