Anda di halaman 1dari 12

PENGARUH RISIKO AUDIT DAN PENTINGNYA

INFORMASI PADA MEMORI AUDITOR : SUATU EKSPERIMEN SEMU


RINA BR. BUKIT
Fakultas Ekonomi
Program Studi Akuntansi
Universitas Sumatera Utara
BAB I. PENDAHULUAN
Standard Auditing menugaskan bahwa pekerjaan yang dilaksanakan oleh
asisten agar disupervisi secara memadai (AICPA 1997, AU 311.11). Supervisi ini
mencakup mereview kertas kerja (AICPA 1997, AU 339.03). Tujuan utama mereview
kertas kerja adalah untuk mengevaluasi pekerjaan asisten dan konsistensi antara
hasil audit dan kesimpulan yang tersaji dalam laporan audit.
Dua puluh tahun yang lalu, beberapa faktor seperti peningkatan ligitasi,
regulasi dan pengendalian kualitas yang lebih besar, pergeseran dari penggunaan
prosedur ganda untuk rnencapai tujuan audit yang sama untuk mengendalikan
biaya, dan penugasan tanggung jawab yang lebih besar, sampai pada auditor yang
kurang berpengalaman, telah meningkatkan keyakinan pada proses review. Proses
review yang efisien dan efektif merupakan komponen keberhasilan suatu audit.
Ada beberapa alasan mengapa proses memori adalah aspek penting dari
pengakuan (regconition) reviewer berkaitan dengan review kertas kerja. Pertama,
auditor tidak mungkin mencurahkan perhatian yang sama ke semua informasi dalam
kertas kerja, dan beberapa informasi kemungkinan lebih tersimpan dalam memori
dibandingkan dengan informasi lainnya. Kedua, baik selama maupun setelah review
kertas kerja, auditor harus bergantung pada bukti yang sebelumnya ditemukan
selama proses review (Tahun 1995). Selama audit (misalnya diskusi mengenai isu,
review area audit lainnya, laporan kerja, dan mengisi cek list pengungkapan
keuangan), seorang auditor harus memahami apakah informasi tertentu adalah
konsisten atau tidak konsisten dengan bukti audit yang diternukan sebelumnya.
Bahkan ketika dokumen sumber dan kertas kerja terinci tersedia, seorang auditor
harus bergantung pada memori untuk menilai implikasi bukti audit berjalan (Moeckel
dan Plumlee, 1989).
Beberapa penelitian sebelumnya telah memfokuskan pada memori auditor.
Moeckel (1990) meneliti pengaruh pengalaman audit pada kesalahan pengakuan
(regconition) dan auditor pada semua tingkatan pengalaman ditemukan melakukan
kesalahan pengakuan.
Sprinkle dan Tubbs (1998) mengembangkan riset Moeckel dan Plumlee
(1989) dengan menguji bagaimana memori auditor selama review kertas kerja
dipengaruhi oleh dua bentuk lingkungan audit yang tidak diuji sebelumnya yaitu
tingkat area fisiko audit dan tingkat pentingnya informasi. Mereka menemukan
bahwa akurasi memori auditor berhubungan secara positif dengan tingkat area risiko
audit dan tingkat pentingnya suatu item informasi dalam area tersebut. Keinginan
auditor untuk bergantung pada memori berhubungan negatif dengan tingkat
pentingnya informasi tapi tidak berhubungan dengan tingkat fisiko audit area
tersebut.
Risiko audit dan pentingnya informasi memainkan peran moderating dalam
memori auditor dengan dua alasan. Pertama, memori auditor akan lebih akurat
untuk informasi pada area beresiko tinggi dan informasi yang penting karena
perhatian dicurahkan pada kedua informasi ini. Kedua, resiko audit dan pentingnya

2004 Digitized by USU digital library

informasi merupakan faktor yang mungkin untuk memodifikasi pilihan auditor


bergantung pada memori.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk tertarik permasalahan
sebagaimana dirumuskan berikut ini:
1. Apakah seorang auditor akan memiliki memori yang lebih akurat untuk
informasi yang terkandung dalam area fisiko audit yang lebih besar
dibandingkan dengan area fisiko audit yang lebih kecil?
2. Apakah seorang auditor akan memiliki memori yang lebih akurat untuk
informasi yang lebih penting dibandingkan dengan infomasi yang kurang
penting?
3. Apakah seorang auditor akan kurang bergantung pada memori untuk
informasi yang terkandung dalam area fisiko audit yang lebih besar
dibandingkan dengan area fisiko audit yang lebih kecil?
4. Apakah seorang auditor akan kurang bergantung pada memori untuk
informasi yang lebih penting dibandingkan dengan informasi yang kurang
penting?
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada hal-hal sebagai berikut:
1. Batasan waktu: penelitian ini dilakukan pada tahun 2002
2. Batasan daerah: penelitian ini dibatasi untuk Perguruan Tinggi khususnya
jurusan akuntansi pada daerah Medan dan sekitarnya. Pengambilan sampel
untuk daerah ini dianggap cukup mewakili Perguruan Tinggi pada umurnnya.
3. Batasan aspek: aspek penelitian ini di bidang auditing
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
1. Teori Pendeteksian Sinyal
Seseorang dihadapkan pada sebuah rangsangan yang termasuk pada satu
dari dua kategori, dan dia harus memilih antara satu dari dua respon berdasarkan
rangsangan tersebut. Berdasarkan teori ini, rangsangan diklasifikasikan sebagai
"sinyal" dan "gangguan". Sesorang harus merespon "ya", jika rangsangan adalah
"sinyal" dan "tidak" jika rangsangan adalah "gangguan".
Teori pendeteksian sinyal digambarkan sebagai berikut:

Rangsangan disebut sinyal jika sesuai dengan bukti audit yang sebelumnya
ditemukan selama review kertas kerja. Rangsangan disebut gangguan jika tidak
sesuai dengan bukti audit yang sebelumnya ditemukan selama review kertas kerja.

2004 Digitized by USU digital library

Teori pendeteksian sinyal memisahkan kinerja pengakuan (recognition)


menjadi 2 komponen, yaitu: akurasi (kemampuan reviewer dalam memisahkan
antara rangsangan) dan kriteria keputusan (keinginan reviewer untuk melaporkan ya
dan tidak). Manfaat utama teori ini adalah akurasi dan kriteria keputusan merupakan
konstruk yang independen (Swets, 1992). Risiko audit dan pentingnya Infomasi akan
mempengaruhi akurasi pengakuan auditor dan keinginan auditor untuk bergantung
pada memori.
2. Akurasi
Dalam litertur auditing seperti (Ernst dan Young, 1993; Price, Waterhouse,
1993) menyebutkan bahwa selama review kertas kerja, auditor seharusnya
mengalokasikan perhatian antar bidang audit sesuai dengan tingkat risikonya
masing-masing. Bamber & Bylinski (1987) dan Bamber at al. (1988) menemukan
bahwa auditor menggunakan waktu yang lebih banyak dalam review kertas kerja
pada area yang beresiko tinggi.
Anderson (1982) dan Britton at al (1986) menemukan bahwa perhatian
ekstra diberikan pada infomasi sesuai dengan proporsi pentingnya. Seorang reviewer
kertas, kerja mungkin akan menandai tingkatan pentingnya dari informasi yang
berbeda dalam kertas kerja. Memori lebih dapat mengingat informasi yang benarbenar diperhatikan (Reynolds dan Anderson, 1982). Dengan mencurahkan perhatian
pada area beresiko tinggi dan item yang lebih penting selama review kertas kerja,
auditor akan lebih muda mendapatkan kembali informasi ini. Selanjutnya akan
meningkatkan akurasi auditor pada informasi beresiko tinggi dan informasi yang
lebih penting
3. Keinginan untuk Bergantung Pada Memori
Tidak semua bukti baik yang telah ditemukan ataupun belum, akan
diverifikasi melalui pengujian kembali kertas kerja audit ataupun dokumen sumber
(Libby dan Trotman., 1993). Auditor harus mempertimbangkan manfaat (kualitas
audit yang lebih tinggi dikurangi dengan fisiko kesalahan laporan keuangan) dan
biayanya (waktu untuk pekerjaan ekstra). Kriteria keputusan (menurut teori
pendeteksian sinyal) merupakan fungsi nilai dan biaya. Risiko audit yang lebih tinggi
dan tingkatan pentingnya informasi yang lebih tinggi kemungkinan akan
menurunkan keinginan auditor untuk bergantung pada memori.
4. Hipotesis
Dari uraian yang dipaparkan pada tinjauan pustaka di atas, maka hipotesis
alternatif yang akan diuji dalam penelitian ini adalah:
1. Seorang auditor akan memiliki memori yang lebih akurat untuk infomasi yang
terkandung dalam area fisiko audit yang lebih besar dibandingkan dengan
area risiko audit yang lebih kecil
2. Seorang auditor akan memiliki memori yang lebih akurat untuk informasi
yang lebih penting dibandingkan dengan informasi yang kurang penting.
3. Seorang auditor kurang bergantung pada memori untuk informasi yang
terkandung dalam area fisiko audit yang lebih besar dibandingkan dengan
area risiko audit yang lebih kecil
4. Seorang auditor akan kurang bergantung pada memori untuk informasi yang
lebih penting dibandingkan dengan informasi yang kurang penting.

2004 Digitized by USU digital library

BAB III. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN


Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Sprinkle dan Tubbs (1998).
Sesuai dengan permasalahan di atas maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apakah seorang auditor akan memiliki memori yang lebih
akurat untuk informasi yang terkandung dalam area fisiko audit yang lebih
besar dibandingkan dengan area fisiko audit yang lebih kecil.
2. Untuk mengetahui apakah seorang auditor akan memiliki memori yang lebih
akurat untuk informasi yang lebih penting dibandingkan dengan informasi
yang kurang penting.
3. Untuk mengetahui apakah seorang auditor kurang bergantung pada memori
untuk informasi yang terkandung dalam area fisiko audit yang lebih besar
dibandingkan dengan area fisiko audit yang lebih kecil
4. Untuk mengetahui apakah seorang auditor akan kurang bergantung pada
memori untuk informasi yang lebih penting dibandingkan dengan informasi
yang kurang penting.
Penelitian ini memberikan manfaat besar bagi seorang auditor (akuntan)
dalam melakukan audit terutama pada saat review kertas kerja. Hasil laporan audit
yang andal dan terpercaya akan menguntungkan banyak pihak, seperti perusahaan,
bank, perpajakan, pemerintah, dan masyarakat.
Bila sebelum review, auditor menentukan area audit yang beresiko tinggi dan
mencurahkan perhatian yang lebih tinggi maka auditor akan memiliki memori yang
lebih akurat pada area tersebut sehingga diperoleh efisiensi biaya. Keputusan auditor
untuk melihat kembali ke kertas kerja untuk informasi penting pada area audit yang
beresiko tinggi akan menghasilkan laporan audit yang andal dan terpercaya.
Penelitian ini diharapkan memberikan bukti bahwa seorang auditor akan
memiliki memori yang lebih akurat untuk informasi yang terkandung dalam area
risiko audit yang lebih besar dan untuk informasi yang lebih penting selama review
kertas kerja. Selain itu penelitian ini juga memberikan bukti bahwa seorang auditor
akan kurang bergantung pada memori untuk informasi yang terkandung dalam area
risiko audit yang lebih besar dan untuk informasi yang lebih penting.
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
1. Tipologi Penelitian
Ada beberapa dimensi dalam penelitian ini. Sifat penelitian ini adalah
eksperimen. Penelitian ini dirancang dalam bentuk eksperimen semu.
2. Subjek/Partisipan Eksperimen
Eksperimen ini menggunakan 50 orang sampel mahasiswa jurusan akuntansi
Perguruan Tinggi di Medan dan sekitarnya, menjadi partisipan yang diproksikan
sebagai auditor. Mahasiswa yang menjadi sampel harus jurusan akuntansi dan telah
lulus mata kuliah auditing satu, dua, dan lanjutan. Partisipan ini (mahasiswa jurusan
akuntansi) dipilih karena memiliki kemampuan, pengalaman, dan perilaku yang
dapat disamakan dengan auditor perusahaan. Penelitian ini menggunakan sampel
sebanyak 50 sampel yang dianggap cukup mewakili.

2004 Digitized by USU digital library

3. Manipulasi dan Skenario Eksperimen


Manipulasi dalam ekperimen dilakukan dengan memberikan kondisi yang
menekan sehingga para partisipan merasakan suatu dilema yang membuat mereka
benar-benar serius untuk mengikuti eksperimen ini. Pada partisipan ini dijelaskan
bahwa hasil kerja mereka akan berpengaruhi pada nilai mata kuliah teori akuntansi
yang sedang mereka ikuti.
Untuk mengetahui akurasi dan keinginan auditor untuk bergantung pada
memori, eksperimen ini akan dibagi dalam dua tahap yaitu:
Tahap Review
Pada hari pertama eksperimen, partisipan diminta untuk mereview dua area
kertas kerja perusahaan manufaktur (ukuran menengah) yaitu persediaan dan
piutang dengan tingkat risiko yang berbeda selama waktu yang ditentukan yaitu 2
jam. Sebelum review, masing-masing partisipan diberikan instruksi mengenai latar
belakang perusahaan dan informasi mengenai risiko masing-masing area audit.
Informasi dimanipulasi sehingga tingkat risiko audit sebelum review akan lebih tinggi
untuk satu area dan lebih rendah untuk area lainnya. Partisipan diminta untuk
mengalokasikan waktunya (hanya 2 jam) untuk mereview masing-masing area
seperti audit sebenarnya dan memberikan komentar. Partisipan kemudian menilai
persepsi mereka tentang risiko piutang dan persediaan pada 10 skala titik yaitu 1
disebut risiko rendah sampai 10 disebut risiko tinggi. Setelah review selesai,
partisipan diminta untuk menyerahkan lembar waktu, lembar peringkat penilaian
risiko, catatan review, kertas kerja dan instruksi untuk eksperimenter.
Tahap pengakuan dan penyerahan
Duapuluh empat jam kemudian (hari kedua), partisipan diingatkan bahwa
dalam situasi tertentu selama audit, mereka diberikan selembar informasi yang
harus diklasifikasikan sebagai akurat dan tidak akurat. Pada situasi tersebut
partisipan kemungkinan memutuskan apakah informasi tersebut konsisten dengan
informasi yang terdapat pada kertas kerja yang telah direview. Kemudian partisipan
kemungkinan memutuskan apakah melihat kembali ke kertas kerja.
Partisipan diberikan 80 item informasi (dengan tingkat penting yang
,berbeda-beda) mengenai kertas kerja yang mereka review sehari sebelumnya.
Mereka diinstruksikan bahwa kira-kira 50% dari item menyajikan informasi yang
benar-benar terdapat dalam kertas kerja dan 50% lainnya tidak terdapat atau
terdapat informasi yang bertentangan dalam kertas kerja. Partisipan diberikan 40
lembar informasi yang berkaitan dengan area yang diikuti dengan 40 lembar
infomasi yang berkaitan dengan area lainnya.
Untuk masing-masing item, partisipan diminta untuk menjawab dua
pertanyaan untuk menentukan banyaknya infomasi yang mereka ingat dan
bagaimana keinginan mereka untuk bergantung pada memori. Partisipan diminta
untuk menilai keyakinan dan kepercayaan mereka apakah suatu item benar atau
salah dengan menggunakan skala 5 titik.
Dari 40 item untuk masing-masing area. 20 diantaranya terdiri dari infomasi
yang terdapat dalam kertas kerja (terdiri dari 10 item informasi yang lebih penting
dan 10 item infomarsi yang kurang renting). Duapuluh item lainnya tidak terdapat
dalam kertas kerja (terdiri dari 10 item informasi yang lebih renting dan 10 item
informasi yang kurang penting).
4. Desain Riset
Eksperimen ini menggunakan desain incomplete block 2 X 2 X 2 X 2. Block
dimanipulasi antara partisipan pada dua level. Blok yang tidak lengkap terjadi karena
masing-masing partisipan menerima kertas kerja yaitu: (1 ) persediaan dengan

2004 Digitized by USU digital library

risiko yang lebih rendah dan piutang dengan fisiko yang lebih tinggi. Dan (2)
persediaan dengan risiko yang lebih tinggi dan piutang dengan risiko yang lebih
rendah. Desain seperti ini digunakan untuk menghindari faktor pengganggu pada
area dan level resikonya.
Ada 3 variabel dimanipulasi dan digunakan untuk menguji hipotesis yaitu
tingkat risiko audit (rendah dan tinggi), area (persediaan dan piutang), dan item
penting (lebih penting dan kurang penting). Ukuran teori pendeteksian sinyal ini
dianggap tepat dalam eksperimen ini karena variabel independen diharapkan
mempengaruhi akurasi dan kriteria keputusan.
Gambar Kurva ROC (Receiver-Operating-Charateristics)

Sumber Gambar : dari penelitian Sprinkle dan Tubbs


Masing-masing titik sampel pada grafik ROC menggambarkan hit rate, false
alarm rate yang berkaitan dengan kriteria keputusan yang diasumsikan pada subjek.
Area di bawab kurva RDC disebut daerah akurasi, yang diukur dengan skor
probabilitas 0 sampai 1.
5. Analisis Data
Pertama Least
Square Means untuk masing-masing hipotesis (kondisi
eksperimental) disajikan. Kalau Least Square Means berada dalam arab yang
diprediksi maka dilakukan 1- statistics. Selanjutnya dilakukan Analysis of Variance
(ANOVA).
Untuk menguji hipotesis pertama dan kedua digunakan ANOVA, dengan
tingkat siknifikansi = 5%. Akurasi merupakan variabel dependen. Hipotesis
pertama akan didukung oleh pengaruh utama fisiko yang siknifikan ketika nilai mean
akurasi lebih besar untuk kondisi yang beresiko tinggi dibandingkan dengan kondisi
beresiko rendah. Selanjutnya, hipotesis kedua akan didukung oleh pengaruh utama

2004 Digitized by USU digital library

pentingnya informasi yang siknifikan ketika nilai mean akurasi lebih besar untuk item
yang lebih tinggi dibandingkan dengan item yang lebih rendah.
Hipotesis ketiga dan keempat akan diuji dua kali dalam dua incomplete
block ANOVA secara terpisah, dengan tingkat siknifikansi = 5%. Pada ANOVA
yang pertama, kriteria keputusan digunakan sebagai variabel dependen. Pada
ANOVA kedua, variabel dependennya adalah skore investigasi.
Ukuran kriteria keputusan pada masing-masing titik yang diestimasi dapat dapat
dihitung dengan rumus berikut ini:

Keterangan:
= Ukuran kriteria keputusan
Ca
B
= Rasio deviasi standar dari distribusi gangguan terhadap deviasi standar
dari distribusi sinyal.
Z(.)
= Transformasi Skor Z dari tiap probabilitas
Ha
= Hit Rate/ tingkat sukses
= False Alarm Rate
Fa
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN
Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi yang telah
menyelesaikan mata kuliah auditing II. Subjek berjumlah 50 orang yang terdiri dari
27 laki-laki dan 23 perempuan.
1. Uji Manipulasi
Manipulasi dilakukan pada tingkatan risiko dan area (kasus). Kelompok
subjek I menerima kasus persediaan dengan tingkatan risiko rendah dan kasus
piutang dengan tingkatan risiko yang tinggi. Kelompok subjek lainnya (kelornpok 11)
menerima kasus persediaan dengan tingkatan risiko tinggi dan kasus piutang dengan
tingkatan fisiko yang rendah.
Table 1. Uji Manipulasi

2004 Digitized by USU digital library

Nilai rata-rata peringkat risiko untuk kondisi risiko tinggi adalah 7.3200 yang
lebih besar dibandingkan dengan nilai rata-rata peringkat risiko untuk kondisi risiko
rendah yaitu 4.0600. Perbedaan ini signifikan secara statistik pada alpha 5%, t=
21.680. Uji manipulasi untuk tingkatan risiko telah berhasil dilakukan.
2. Hasil Eksperimen
Hipotesis pertama mengenai memori auditor akan lebih akurat untuk
informasi yang terkandung dalam area risiko audit yang lebih besar dibandingkan
dengan area fisiko audit yang lebih kecil, didukung seperti yang terdapat pada table
2. Hipotesis kedua mengenai memori auditor akan lebih akurat untuk informasi yang
lebih penting dibandingkan dengan informasi yang kurang penting, juga didukung
seperti yang dije1askan dalam table 2. Nilai rata-rata skor akurasi disajikan dalam
table 2.
Tabel. 2

Persediaan
Kurang Penting
Lebih penting

Piutang

0.5540

0.5720

0.6620

0.7060

0.5630
0.6840

0.6080
0.6390
Nilai rata-rata akurasi memori subjek pada saat menghadapi contoh kasus
atau area yang memiliki risiko tinggi adalah 0.6610. Nilai ini lebih besar bila
dibandingkan dengan nilai rata-rata akurasi memori subjek pada saat menghadapi
contoh kasus atau area yang memiliki fisiko rendah yaitu 0.5860. Perbedaan nilai
rata-rata akurasi memori subjek ini berada dalam arab yang diprediksi dan siknifikan
secara statistik (t = 5.293, P = 0.0005). Dengan kata lain, memori auditor terbukti

2004 Digitized by USU digital library

lebih akurat dalam kondisi fisiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi risiko
yang lebih rendah. Hasil empiris ini mendukung hipotesis satu.
Nilai rata-rata akurasi memori subjek pada saat menghadapi contoh kasus
atau area yang lebih penting adalah 0.6840. Nilai ini lebih besar bila dibandingkan
dengan nilai rata-rata akurasi memori subjek pada saat menghadapi contoh kasus
atau area yang kurang penting yaitu 0.5630. Perbedaan nilai rata-rata akurasi
memori subjek ini berada dalam arah yang diprediksi dan siknifikan secara statistik
(t = 8.4]7, P = 0.0002). Dengan kata lain, memori auditor terbukti lebih akurat
dalam kondisi informasi yang lebih penting dibandingkan dengan kondisi infomasi
yang kurang penting. Hasil empiris ini mendukung hipotesis dua.
Hipotesis ketiga mengenai auditor akan kurang bergantung pada memori
untuk informasi yang terkandung dalam area fisiko audit yang lebih besar
dibandingkan dengan area fisiko audit yang lebih kecil, tidak didukung seperti yang
terdapat pada table 3. Hipotesis keempat mengenai auditor akan kurang mungkin
bergantung pada memori untuk informasi yang lebih penting dibandingkan dengan
informasi yang kurang penting, juga tidak didukung seperti yang dijelaskan dalam
table 3. Nilai rata-rata skor kriteria keputusan dalam empat tingkatan disajikan
dalam table 3. Hasil pengujian hipotesis 3 dan 4 sudah dalam arah yang diprediksi,
tapi tidak siknifikan secara statistik.
Tabel 3

Nilai rata-rata keputusan untuk bergantung pada memori lebih rendah pada
area fisiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan area fisiko yang lebih rendah.
Subjek kurang ingin bergantung pada memori pada area fisiko yang lebih tinggi
dibandingkan dengan area fisiko yang lebih rendah. Namun hasil ini tidak signifikan

2004 Digitized by USU digital library

secara statistik (t= 0.5848, P = 0.143). Nilai rata-rata keputusan untuk bergantung
pada memori lebih rendah pada kondisi informasi yang lebih penting dibandingkan
dengan kondisi informasi yang kurang penting. Subjek kurang ingin bergantung
pacta memori pada kondisi informasi yang lebih penting dibandingkan dengan
informasi yang kurang penting. Namun hasil ini tidak siknifikan secara statistik (t =
0.8276, P = 0.123).
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh fisiko audit dan pentingnya
informasi pada memori auditor. Risiko audit dan pentingnya informasi dimanipulasi
dalam sebuah eksperimen. Variable dependen yang digunakan dalam penelitian ini
adalah memori yang diukur dengan tingkat akurasi memori auditor dan keinginan
auditor untuk bergantung pada memori.
Hasil penelitian ini mendukung hipotesis pertama dan kedua, bahwa seorang
auditor akan memiliki memori yang lebih akurat untuk informasi yang terkandung
dalam area fisiko audit yang lebih besar dibandingkan dengan area risiko audit yang
lebih kecil. Selain itu, seorang auditor juga akan memiliki memori yang lebih akurat
untuk informasi yang lebih penting dibandingkan dengan informasi yang urang
penting . Hasil empiris penelitian ini signifikan secara statistik dan dalam arah yang
diprediksi.
Penelitian ini juga menguji hipotesis ketiga dan keempat. Hasilnya secara
statistik sudah dalam arah yang benar, tapi tidak siknifikan. Secara umum dapat
dikatakan bahwa hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan Srinkle
dan Tubbs (1998).
Hasil penelitian ini memberikan implikasi dalam memahami efektifitas dan
efisiensi proses review maupun kegiatan dalam proses review. Proses review
merupakan sarana dalam mendeteksi kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi
dalam laporan keuangan.
Dalam kenyataannya, auditor sering dihadapkan pada pekerjaan audit dengan
kondisi waktu yang terbatas. Pertimbangan antara biaya dan manfaat harus
difikirkan. Auditor harus banyak mengandalkan memori. Sebelum maupun sesudah
mereview kertas kerja, auditor harus banyak mengingat apa yang sudah
diperiksanya, karena tidak efektif kalau selalu harus melihat kembali pada kertas
kerja. Bahkan dalam mendiskusikan apa temuan-temuan dalam audit dalam satu
tim, memori kembali berperan penting.
Keterbatasan penelitian
Penelitian ini memiliki banyak keterbatasan, antara lain subjek dalam
penelitian ini maupun metode penelitian ini. Penelitian ini menggunakan mahasiswa
sebagai pengganti auditor. Hasil empiris penelitian ini sebagian belum siknifikan
mungkin karena menggunakan mahasiwa sebagai subjek penelitian. Auditor berbeda
dengan mahasiwa antara lain dalam hal pengalarnan. Auditor dapat dianggap lebih
mampu mengingat informasi tentang audit dibandingkan dengan mahasiswa karena
mereka lebih sering dihadapkan pada persoalan audit.
Keterbatasan lainnya dalam penelitian ini adalah metode penelitian ini
menggunakan eksperimen, yaitu masalah validitas eksternal dan internal. Masalah
validitas eksternal ini timbul karena sulit untuk menggeneralisasi hasil penelitian ini.
Hal ini disebabkan penggunaan mahasiswa sebagai subjek penelitian ini. Penelitian
lanjut diperlukan dengan menggunakan auditor sebagai subjek.
Ancaman lainnya terhadap basil penelitian ini adalah masalah validitas
internal yaitu hubungan sebab akibat, apakah variable independen benar-benar yang

2004 Digitized by USU digital library

10

mempengaruhi variabel dependen (Cooper dan Emory, 1996). Ancaman validitas


internal, antara lain: 1) Ada kemungkinan peristiwa-peristiwa sebelum eksperimen
dilakukan yang dapat mempengaruhi subjek atau ada pemahaman yang berbedabeda dari masing-masing subjek, masalah ini sering disebut sebagai sejarah. 2) Ada
beberapa masalah yang tidak dapat dikendalikan oleh peneliti antara lain, rasa lelah,
jenuh, dan kurang dapat berkonsentrasi yang dihadapi oleh subjek pada masa
eksperimen dilakukan. Masalah ini disebut sebagai maturasi. Untuk mengatasinya,
eksperimen dilakukan pada pagi hari. 3) Masalah lainnya yang mungkin muncul
kalau kalau salah dalam memilih subjek dan tidak seimbang dalam pembagian
antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Keadaan ini dapat menimbulkan
bias. Masalah ini sering disebut sebagai seleksi. Hal ini diatasi dengan cara membagi
kelompok secara random dan dalam jumlah yang seimbang. 4) Masalah
instrumentasi timbul kalau subjek salah dalam memahami instrumen yang
digunakan sehingga mempengaruhi treatment yang hendak diberikan. Hal ini diatasi
dengan melakukan pilot test.
Implikasi bagi penelitian berikutnya
Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan pertimbangan bagi
penelitian berikutnya dalam meneliti lebih lanjut pengaruh risiko audit dan pentingya
informasi pada memori auditor. Penelitian berikutnya perlu meneliti lebih lanjut
mengenai instrurnen yang digunakan dalam penelitian ini, agar realibilitas dan
validitas instrumen dapat dibuktikan kebenarannya.
Penelitian berikutnya dapat menambah variabel tekanan waktu (time
pressure) dalam eksperimen, sehingga dapat diketahui adanya perbedaan kinerja
memori dengan atau tanpa tekanan waktu. Selain itu, penelitian lanjut dapat
membandingkan memori auditor dengan mahasiswa, apakah ada perbedaan yang
timbul sehubungan dengan memasukkan variabel pengalaman. Untuk mendapatkan
hasil yang konsisten, penelitian ini dapat diuji ulang dengan, menggunakan metode
penelitian lainnya, antara lain metode survey.

DAFTAR PUSTAKA
American Institute of Certified Public Accountants. 1997. Professional Standards,
Vol.I.New York, AICPA.
Asare, S., and L. Mc.Daniel. 1996. The Effect of Familiarity with the Preparer and
Task Complexity on the Effectiveness of The Audit Review Process.
Accounting Review 71 (April): 139-159.
Bamber, E. 1983. Expert Judgement in the Audit Team: A Source Reliability
Approach. Jounal Accounting Research 21 (Autumn): 396-412.
Ernst & Young. 1993. Audit Manual. Vol 2. New York. Ernst & Young.
Libby, R, and K. Trotman. 1993. The Review Process as a Control for Differential
Recall of Evidence in Auditor Judgements, Accounting, Organization and
Society 18 (August): 559-574.
Macmillan, N., and C. Creelman. 1991. Detection Theory: A User's Guide. Cambridge,
U.K: Cambridge University Press.

2004 Digitized by USU digital library

11

Moeckel, G. and R. Plumlee. 1989. Auditors' Confidence in Recognition of Audit


Evidence. Accounting Review 64 (October): 653-668.
Sprinkle, G. and Tubbs, R. 1998. The Effects of Audit Risk and Information
Importance on Auditor Memory During Working Paper Review. Accounting
Review 73 (October): 475-502.
Tan, H. 1995. Effects of Expectations, Prior Involment, and Review Awareness on
Memory for Audit Evidence and Judgement. Journal of Accounting
Research 33 (Spring): 113-135.

2004 Digitized by USU digital library

12