Anda di halaman 1dari 26

Peran TNI AD dalam Program

Ketahanan Pangan
Posted on March 6, 2015 | 1 Comment
Oleh : Al Ikhlasniati*
Beberapa waktu yang lalu Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyatakan salah satu
program kerja dalam pemerintahannya yaitu membangun ketahanan pangan Indonesia. Program
ini tidak hanya melibatkan kementrian pertanian, akan tetapi juga menggandeng TNI khususnya
Angkatan Darat.
Program membangun ketahanan pangan Indonesia ditargetkan dapat tercapai selama 3 tahun.
Dengan demikian diharapkan 3 tahun yang akan datang Indonesia telah mencapai swasembada
pangan atau memiliki ketahanan pangan yang kuat. Akan tetapi masih ada hal yang mengganjal
dalam menjalankan program ini yaitu keterlibatan TNI AD. Mengapa harus melibatkan tentara
dalam hal meningkatkan ketahanan pangan Indonesia? Itu sebuah tanda tanya besar.
Jika kita memperhatikan beberapa tahun belakangan ini memang krisis pertanian semakin
meningkat. Hal ini dapat dilihat bagaimana harga beras lokal semakin mahal dan semakin
langka. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia maka diimporlah
beras dari negara tetangga.
Impor beras dalam jumlah besar dan harga berasnya yang lebih murah membuat kita cenderung
lebih memilih beras tersebut dibandingkan yang lokal. Pola seperti ini terlihat seperti lingkaran
setan yang tidak ada ujungnya. Oleh karena itu untuk memutus rantai lingkaran setan tersebut
maka kita harus memulai membangun kembali swasembada pangan seperti yang dulu pernah
dilakukan pada zaman pemerintahan Soeharto.
Program pemerintah dalam membangun ketahanan pangan merupakan program yang patut
diacungi jempol. Jika program ini dijalankan sesuai aturan dan sungguh-sungguh tanpa adanya
permainan ataupun kepentingan-kepentingan kelompok atau individu tertentu maka swasembada
pangan akan terwujud dalam waktu 3 tahun mendatang. Akan tetapi melibatkan TNI AD dalam
menjalankan program ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan keberfungsian
tentara itu sendiri.
Di antara pertanyaan-pertanyaan yang mungkin timbul adalah; apakah tentara dilatih untuk
bercocok tanam?; apakah para prajurit tersebut tidak mempunyai kegiatan yang lain?; bukankah
tugas prajurit TNI adalah menjaga keutuhan NKRI, tetapi kenapa malah disuruh menanam padi,
jagung, tebu, dsb sementara masih banyak daerah di Indonesia ini yang sedang mengalami
konflik yang dapat mengganggu kedaulatan NKRI seperti di Papua atau daerah perbatasan
lainnya?

Pertanyaan-pertanyaan ini seringkali muncul terutama dipikiran masyarakat awam. Mungkin


memang pada zaman sekarang di Indonesia sudah tidak ada lagi perang terbuka melawan pihak
asing yang mengganggu kedaulatan bangsa ini. Akan tetapi usaha-usaha separatis ataupun
masalah-masalah di perbatasan wilayah dengan negara lain masih tetap ada.
Hal tersebut seharusnya menjadi perhatian atau fokus utama TNI AD sebagai komponen utama
dalam menjaga keutuhan NKRI. Namun justru yang dilakukan sekarang oleh TNI AD malah
berfokus pada membangun ketahanan pangan. Pengerahan prajurit terutama di wilayah desa
untuk menjadi penyuluh, pengawas dan juga pelaku dari program ini seolah-olah menunjukkan
bahwa selama ini kementrian pertanian tidak mampu untuk mengatasi masalah pertanian yang
ada di Indonesia. Hal ini juga mengisyaratkan bahwa para prajurit di daerah atau di desa tidak
punya kegiatan yang produktif selain latihan. Selain itu muncul pemikiran bahwa petani tidak
mampu untuk bertani makanya dibantu oleh TNI.
Tugas TNI memang melindungi rakyat, tetapi apakah ikut bercocok tanam juga termasuk tugas
utama mereka? Jika TNI AD bercocok tanam lalu petani melakukan apa, menjaga keutuhan
NKRI? Jika sekarang TNI AD memegang peralatan pertanian seperti traktor, lalu apakah petani
yang harus memegang senjata? Mungkin ini hanya terjadi selama 3 tahun, lalu apa yang terjadi
setelah 3 tahun tersebut berlalu? Apakah TNI AD akan lepas tangan begitu saja dan membiarkan
petani melanjutkan apa yang mereka lakukan setelah petani dibuat terbuai oleh bantuan dari TNI
AD?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak akan ada habisnya. Hal ini disebabkan karena kita semua
mengetahui tugas pokok dari masing-masing profesi. Petani tugasnya adalah bertani dan prajurit
TNI adalah menjaga kedaulatan bangsa dan keutuhan NKRI. Namun apa yang terjadi sekarang
menunjukkan bahwa para prajurit TNI AD tidak sepenuhnya melakukan hal tersebut. Petani pun
secara tidak langsung diragukan kredibilitasnya dan dianggap tidak mampu dalam mencapai
swasembada pangan.
Padahal yang diperlukan oleh mereka adalah dukungan yang kuat dari pemerintah, kebijakan
yang pro pada petani dan akses yang mudah dalam mendapatkan pupuk, bibit, dsb dan juga
dalam menjual hasil panennya. Jika hal tersebut dapat dipenuhi kemungkinan besar petani di
Indonesia dapat menuju swasembada pangan tanpa turun tangan langsung dari TNI AD.
Bekerja sama antar institusi adalah suatu hal yang baik, akan tetapi tentu semua memiliki tugas
pokok yang harus diutamakan. Akan lebih baik jika TNI AD hanya melakukan pengawasan
terhadap program tersebut, dan kementrian pertanian tetap menjadi pelaku utama.
Menjadikan tentara sebagai penyuluh mungkin dapat digunakan namun manfaatnya akan lebih
terlihat jika perwakilan dari setiap kelompok tani yang ada diberdayakan sebagai penyuluh. Hal
ini disebabkan mereka lebih mengetahui karakteristik daerah mereka masing-masing dan mereka
telah memiliki pemahaman yang lebih baik terkait melakukan pertanian.
Sebagai saran saja, jika memang kementrian pertanian kekurangan personil dalam memberikan
penyuluhan dan pengawasan serta pelaku pertanian, kenapa tidak memanfaatkan dan
memberdayakan para mahasiswa dan sarjana pertanian untuk melakukan hal tersebut.

Tentunya ini akan memberikan lapangan pekerjaan bagi para sarjana pertanian karena selama ini
yang kita lihat banyak sarjana pertanian yang tidak bekerja sesuai dengan bidang keilmuannya
akibat sedikitnya lapangan pekerjaan yang sesuai. Sementara itu bagi para personil TNI AD, jika
memang mereka memiliki banyak waktu luang yang kurang produktif selain latihan, akan lebih
bermanfaat mereka diberikan kursus bahasa asing ataupun penggunaan komputer.
Dengan demikian mereka akan lebih memiliki keterampilan yang dapat digunakan dalam usaha
pertahanan negara, terutama terkait dengan urusan luar negeri. Mereka akan memiliki nilai tawar
yang tinggi nantinya dalam dunia internasional yang tentunya dapat meningkatkan citra positif
bangsa Indonesia.
Semua ini hanya sebagai renungan saja, karena program ini sedang berjalan. Kita hanya
menunggu hasilnya 3 tahun yang akan datang sementara tetap mengawasi perkembangannya.
Tentunya kita berharap program ini sukses dan mencapai tujuan yang diharapkan yaitu
membangun swasembada pangan Indonesia. Indonesia terbukti kuat ketika program swasembada
pangan yang dilakukan selama pemerintahan Soeharto.
Hal inilah yang menjadi landasan untuk mecoba kembali membangun swasembada pangan
Indonesia sehingga Indonesia dapat menjadi negara yang kuat. Indonesia adalah negara besar
dan kita pantas untuk menjadi negara yang kuat. Mudah-mudahan program ini dapat menjadi
langkah awal untuk menuju kebangkitan Indonesia yang lebih baik.***
Unhan, 28 Februari 2015
*Penulis
adalah
mahasiswa
Universitas Pertahanan Indonesiam

Manajemen

Bencana

Cohort

KOMPASIANA

Robohnya Profesionalisme TNI-AD : Babinsa Jadi


Penyuluh Pertanian by Kurnia Trisno Yudhonegoro
OPINI | 04 February 2015 | 16:24

Dibaca: 196

Komentar: 12

Ketika Kompas mengangkat berita tentang 55000 babinsa (Bintara Pembina Desa)
akan direkrut pemerintah untuk menjadi penyuluh pertanian. Maka penulis segera
menyiapkan tulisan ini, karena tindakan pemerintah ini dikhawatirkan akan berdampak
buruk bukan hanya terhadap sector pertanian kita, melainkan juga merusak
profesionalisme TNI-AD sampai ke jantungnya.
Penulis kebetulan adalah Sarjana Pertanian dari salah satu PTN terkemuka di
Indonesia. Adalah sebuah fakta bahwa sector pertanian merupakan sector yang paling

seksi ketika kampanye tetapi yang mendapat perhatian paling kecil ketika (siapapun)
berkuasa. Jadi ketika pemerintahan yang sekarang berusaha untuk mencapai
kedaulatan pangan, maka patut didukung. Salah satu caranya adalah dengan
menerjunkan lebih banyak penyuluh pertanian untuk mengajarkan kepada petani cara
bertani yang baik dan benar.
Usaha Tani bisa diklasifikasikan kedalam tiga kegiatan utama, Pra-tanam, tanam dan
pasca-panen. Pra tanam termasuk persiapan lahan (penelitian lahan, pencangkulan,
penggaruan, pemupukan awal, dan pengapuran bila perlu), pemilihan benih (benih: biji),
dan pembuatan persemaian (benih ditumbuhkan hingga siap dipindahkan ke lahan).
Termasuk di dalam komponen tanam adalah transplanting (pindah tanam), pemupukan,
perawatan (insektisida, fungisida, rodentisida, bakterisida, ZPT, penyiangan,
Pencangkulan ulang), dan irigasi serta akhirnya, panen. Setelah panen maka petani
juga harus paham penyimpanan, pengeringan, pengolahan, pengepakan dan
penjualan.
Pada saat penulis masih menjadi mahasiswa pertanian, penulis beberapa kali terjun ke
lapangan dan sejujurnya, petani sangat memandang rendah apa yang mereka sebut
sebagai Manusia Teori, mereka-mereka yang dianggap masih bau kencur alias
belum pernah praktek. Memang kita harus memahami, bahwa para petani rata-rata
sudah berkecimpung selama beberapa dekade. bahwa umur dan pengalaman tidak
menjamin seseorang itu benar juga iya, namun itu juga menyebabkan mereka menjadi
sangat konservatif dan anti perubahan.
Sehingga untuk memberikan mereka wawasan baru dan pemahaman, membutuhkan
sosok penyuluh yang paham mengenai semua aspek usaha tani diatas. Dan paham
disini bukan sekadar paham, melainkan juga pernah menanam. Karena petani sangat
awas akan hal-hal kecil seperti bagaimana cara transplanting (umur semaian, waktu
semaian, cara semaian, jumlah semaian), irigasi yang baik (teknik penyiraman, waktu
penyiraman), pembuatan guludan (searah kontur atau melawan kontur), pembuatan
saluran air, perbedaan serangan cendawan dan gejala defisiensi pupuk. Sehingga,
usaha penyuluhan yang baik biasanya berlangsung sangat intensif selama hampir 2x
masa tanam, atau kira-kira delapan bulan, sehingga bisa benar-benar mengikuti dari
awal hingga akhir.
Disinilah masalah muncul, seorang bintara (sersan dua, sersan satu, sersan kepala)
yang dilatih untuk memimpin suatu regu atau peleton (dalam kondisi darurat) bisakah
memahami semua yang disebutkan diatas? Sejujurnya, penulis yang menempuh lima
tahun pendidikan Sarjana Pertanian saja masih belum berani memberi penyuluhan
tanpa ditemani buku panduan. Apalagi seorang bintara yang hanya mengikuti orientasi
singkat selama 50 jam kelas. Yang ditakutkan adalah Bintaranya sendiri tidak yakin

ketika memberi penyuluhan sehingga hanya menjadi buang-buang waktu belaka baik
bagi sang sersan maupun para petani. Terlebih apabila sang bintara sendiri tidak
sanggup untuk terus menerus mendampingi para petani.
Itu baru dari segi kesiapan para penyuluhnya, dari segi social budaya, beberapa petani
senior yang saya temui sewaktu masih mahasiswa masih mengingat bagaimana orde
baru dengan pemaksaan penggunaan intensifikasi pertanian, melakukan tindakan
koersif yang berlebihan. Penerjunan babinsa dikhawatirkan bisa menyebabkan trauma
lama itu muncul kembali. Di level kalangan urban tentu hal ini tidak terasa, tapi coba
bayangkan getaran di level pedesaan.
Dari segi profesionalisme TNI, penerjunan Babinsa sebagai penyuluh pertanian jelas
merupakan strategi pelemahan TNI-AD yang luar biasa efektif. Menurut data dari IISS
Military Balance 2012, jumlah personil aktif dari KODAM adalah 150.000 orang. Dengan
logika bahwa ada 3 sersan per regu, maka perbandingan antara total pasukan dengan
sersan adalah sekitar 1:3 atau 1:4. Nah, bila kita masukkan permintaan dari
pemerintah, yaitu 55.000 babinsa, ini berarti setiap sersan di kesatuan KODAM akan
berubah menjadi penyuluh pertanian. Yang patut diingat, keberadaan sersan (atau NCO
dalam US Army) adalah sentral bagi pelatihan prajurit. Ketidakefektifan tentara Soviet
(dan Rusia pada awal pecah) berawal dari ketiadaan Sersan yang professional dan fulltime, sehingga sebagian tugas seperti pelatihan dan pembinaan menumpuk ke pundak
perwira pertama (letnan dua dan satu). Di Uni Soviet, defisiensi ini begitu kentara
sampai-sampai dibentuk suatu kepangkatan baru yaitu praporschnik untuk memastikan
bahwa pelatihan dan pembinaan suatu regu bisa berjalan dengan maksimal tanpa
membebani perwira yang sudah pusing dengan taktik dan supervisi medan
pertempuran. Sehingga tidak dapat dibayangkan apabila para sersan, yang disebut
sebagai tulang punggung tentara oleh Kepala staf gabungan Inggris Jenderal Mike
Jackson, disibukkan oleh hal lain selain profesi mereka sebagai prajurit.
Sehingga jelaslah apabila pemerintah memaksakan untuk menerjunkan praktis semua
bintara di KODAM untuk menjadi penyuluh pertanian, hasilnya adalah terjadinya
kemandekan pelatihan di tingkat regu. Berikutnya adalah anjloknya profesionalisme
TNI, karena pasti akan muncul pertanyaan, kami dilatih untuk berperang atau bertani?
Kemudian, berhubung yang digerakkan adalah dari KODAM, akan terjadi perbedaan
kesiapan tempur dengan unit KOSTRAD dan KOPASSUS yang semakin tajam.
Semangat untuk mencapai kedaulatan pangan melalui penambahan penyuluh memang
patut diapresiasi. namun, setelah ditilik dari segi manapun, terlihat bahwa walaupun
teknik ini bisa menghemat pengeluaran Negara, namun negatifnya lebih kentara.
Alangkah baiknya jika penyuluhan dilakukan oleh penyuluh yang terlatih atau
setidaknya, anggaran dan kegiatan seperti sekolah lapang pertanian kembali digiatkan

ketimbang dianggarkan untuk melatih silang para sersan yang notabene berprofesi
sebagai prajurit.
Tags: profesionalisme tni usaha tani kementerian pertanian nawacita pertanian
jokowi tni-ad tni sersan babinsa penyuluhan kodam penyuluh kementan

Kompasiana
Putra Wiwoho (Pengamat sosial )

Profesionalisme Prajurit TNI AD dan Ketahanan


Pangan
OPINI | 06 March 2015 | 15:26

Dibaca: 31

Komentar: 0

Kurnia Trisno Yudhonegoro dalam opininya di media online Kompasiana pada tanggal 4
Februari 2015 dengan judul Robohnya Profesionalisme TNI-AD : Babinsa Jadi
Penyuluh Pertanian dalam kesimpulannya menyatakan, akan dapat berdampak buruk
bukan hanya terhadap sektor pertanian melainkan juga merusak profesionalisme TNI
AD. Saya tidak akan menanggapi tulisan sdr Kurnia Trisno Yudhonegoro tentang
dampak buruk terhadap profesionalitas prajurit TNI AD dengan diterjunkannya Babinsa
menjadi pendamping penyuluh pertanian, sebab saya tahu persis dari tulisan tersebut,
penulis tidak paham tentang struktur organisasi, gelar kekuatan dan sistem pembinaan
yang dilakukan TNI AD sehingga beliau menyimpulkan seperti itu.
Saya sangat berterima kasih kepada penulis yang kebetulan adalah seorang Sarjana
Pertanian dari salah satu PTN terkemuka di Indonesia dan sekaligus bersyukur karena
dengan tulisan tersebut saya menilai penulis benar-benar masih berjiwa petani, yang
merasa terusik dan merasa diambil alih perannya oleh Babinsa, ini merupakan
pertanda baik dan mudah-mudahan masih banyak Kurnia-Kurnia lain yang merasa
terusik dengan terjunnya Babinsa yang notabene tidak dididik dan dilatih untuk menjadi
penyuluh pertanian, namun dengan pengetahuan pertanian yang terbatas dan hanya
dilandasi semangat pengabdian mereka bergelut setiap hari dengan para petani untuk
mendorong mereka tetap dapat bekerja sebagai petani dan meningkatkan
kesejahteraannya. Keberadaan Babinsa ditengah-tengah petani adalah sekaligus
menanamkan nasionalisme para petani agar mereka tetap dapat berperan serta dalam
mendukung terwujudnya ketahanan nasional di bidang pangan. Dari opini sdr Kurnia
Trisno Yudhonegoro tersebut saya melihat masih ada harapan besar para sarjana
pertanian untuk dapat bersama-sama para petani yang hampir semua berpendidikan

rendah untuk meningkatkan produktifitas pertanian yang tentunya akan meningkatkan


taraf hidup mereka dan mendukung tercapainya swasembada pangan bahkan sampai
ketahanan Nasional dibidang pangan.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa saat ini sedikit sekali sarjana pertanian
yang terjun didunia pertanian, mereka lebih senang terjun di dunia bisnis, perbankan
dan profesi-profesi lain yang lebih menjanjikan. Sebagian kecil yang terjun didunia
pertanian kalaupun ada mereka hampir tidak ada yang bergelut dengan lumpur
bersama petani, padahal petani, masyarakat, bangsa dan negara kita yang menyatakan
diri sebagai negara agraris sangat membutuhkan para sarjana pertanian itu. Seiring
dengan pertumbuhan populasi penduduk dunia yang semakin besar, maka setiap
negara menyiapkan diri untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduknya,
terutama dari negara-negara kaya, berpenduduk besar tetapi miskin sumberdaya alam
karena kondisi geografinya yang sangat terbatas. Dengan segala daya dan upaya
mereka akan berusaha menguasai secara langsung maupun tidak langsung wilayahwilayah yang mempunyai potensi sumber daya alam khususnya pangan yaitu di wilayah
Khatulistiwa termasuk Indonesia. Dengan demikian saat ini dan kedepan ancaman
nyata terhadap Indonesia sebagai negara yang mempunyai potensi sumber daya alam
yang sangat besar akan semakin beragam dan konflik kedepan hampir pasti selalu
akan dilatar belakangi masalah energi, pangan dan air yang semuanya ada di
Indonesia.
Dari gambaran di atas maka ketahanan nasional di bidang pangan menjadi hal yang
sangat penting untuk dicapai dan seharusnya menjadi perhatian dari semua komponen
bangsa. Kondisi saat ini kita semua merasakan bahwa hampir semua komoditas
pangan yang kita butuhkan masih impor, bahkan untuk pemenuhan kebutuhan pokok
penduduk Indonesia pada umumnya seperti beras, jagung, kedelai,bahkan bawang
merah/putih pun semua dipenuhi dari Negara-negara tetangga. Kita juga melihat fakta
bahwa selama lebih kurang 30 tahun terakhir ini pemerintah sangat sedikit membangun
waduk dan bendungan serta membiarkan saluran irigasi rusak dan tidak berfungsi.
Masalah lain seperti pengadaan bibit padi yang selalu bermasalah, penyelewengan
pupuk bersubsidi, alih fungsi lahan yang tidak terkendali dan yang paling perlu
mendapat perhatian bagi kita semua adalah makin berkurangnya minat untuk menjadi
petani. Dari kondisi ini apabila tidak ditangani dengan cepat dan benar maka
ketergantungan masalah pangan terhadap luar negeri menjadi semakin besar dan inilah
yang dikehendaki oleh Negara-negara luar terhadap Indonesia.
TNI AD sangat berkepentingan untuk menciptakan ketahanan nasional di bidang
pangan. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa pangan merupakan salah satu
komoditas yang sangat penting dan strategis bagi keberadaan sebuah negara.
Pengalaman menunjukan bahwa permasalahan yang terkait dengan pangan dapat

menjadi pemicu bagi krisis yang berujung pada kehancuran sebuah negara, bisa
dibayangkan apabila kita tergantung dari Negara lain dan suatu saat kita bermasalah
dan diembargo pasti akan sulit sekali mengatasi, rakyat kelaparan, unjuk rasa dimanamana maka pasti Indonesia akan terjadi kekacauan yang luar biasa dan akan sangat
membahayakan keutuhan NKRI. Program pemerintah di bidang pertanian yang antara
lain adalah tercapainya ketahanan pangan dalam 3 tahun kedepan dipandang sebagai
program yang sangat baik dan sejalan dengan pandangan TNI AD dalam upaya
pencapaian ketahanan nasional di bidang pangan. Dari hal itulah TNI AD merespon
dengan mendukung penuh kebijakan pemerintah tersebut. Didahului dengan MoU
antara Kepala Staf Angkatan Darat dengan Menteri Pertanian yang diikuti dengan
penyiapan satuan-satuan jajaran TNI AD khususnya Kodam untuk mendukung program
tersebut.
Keberadaan Babinsa bukan untuk mengambil alih peran para penyuluh pertanian
apalagi Sarjana Pertanian, namun mereka hanya sebagai pendamping kelompokkelompok tani dalam upaya meningkatkan produktifitas pertanian tentunya sekaligus
untuk menutupi kekurangan tenaga penyuluh pertanian dari kementerian yang masih
kekurangan cukup banyak. TNI AD khususnya para Babinsa tentunya akan sangat
senang apabila para petani sudah mampu menjadi petani yang baik dan meningkat

TNI Dipertaruhkan untuk Ketahanan Pangan


Minggu, 08 Maret 2015 08:20:20 | 2631 Views
Pewarta: Slamet Agus Sudarmojo

Doc : antarajatim.com

Keterlibatan TNI dalam ketahanan pangan, mengingatkan kita semua di era Orde Baru.
Di era Orde Baru, untuk pengembangan bidang pertanian dengan pencapaian prestasi
swasembada beras diyakini berbagai pihak tidak lepas dari strategi yang dibangun
Presiden Soeharto, secara militer.

Berdasarkan catatan di Wikipedia, mulai 1968 hingga 1992, produksi hasil pertanian di
Indonesia meningkat tajam.
Pada tahun 1962, misalnya, produksi padi hanya mencapai 17.156 ribu ton, yang
kemudian meningkat tiga kali lipat menjadi 47.293 ribu ton, pada 1992, yang berarti
produksi beras meningkat dari 95,9 kg/jiwa, menjadi 154,0 kg per jiwa.
Prestasi pengembangan bidang pertanian di era Orde Baru menjadi luar biasa,
mengingat Indonesia pernah menjadi salah satu negara pengimpor beras terbesar di
dunia pada tahun 1970-an, yang kemudian berbalik menjadi Negara pengekspor beras.
Bahkan, Indonesia mampu mencapai swasembada pangan pada 1980 dan di bidang
pertanian bisa mengantongi medali from rice importer to self sufficiency dari Food and
Agriculture Organization (FAO).
Prestasi Indonesia di bidang pangan berangsur-angsur memudar, setelah era
reformasi, yang kemudian gagasan melibatkan TNI dalam ketahanan pangan muncul di
era kepemimpinan Presiden Joko Widodo.
Keterlibatan TNI dalam ketahanan pangan sekarang ini berbeda dengan Orde Baru,
karena kepemimpinan nasional di tangan sipil, tapi menjadi strategis, dengan
mempertimbangkan sumber daya TNI.
Sumber daya TNI yang ada dimana-mana, tidak hanya di perkotaan, tapi sampai
pedesaan, bisa menjadi unjung tombak dalam mengamankan berbagai permasalahan
pertanian.
"Kalau TNI sudah memperoleh perintah dari Presiden (Joko Widodo), ya harus berhasil.
Kalau tidak berhasil taruhannya jabatan saya bisa dicopot," ucap Kepala Staf TNI
Angkatan Darat Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, dalam kunjungan kerja di Bojonegoro,
21 Januari lalu.
Pada kesempatan itu, ia menginstruksikan kepada seluruh jajarannya sampai tingkat
desa (Babinsa) terlibat dalam meningkatkan produksi pangan, di antaranya, ikut
melakukan pengawasan pendistribusian pupuk.
Bahkan, ia juga berjanji akan mengkoordinasikan dengan Kementerian Pekerjaan
Umum (PU) menyangkut percepatan ketersediaan air untuk mencukupi kebutuhan areal
pertanian.

Target Nasional
Sesuai yang disampaikan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, pemerintah menargetkan
produksi padi secara Nasional 2015, mencapai 73 juta ton gabah kering giling (GKG),
meningkat dibandingkan produksi tahun lalu yang hanya 70 juta ton GKG.
Provinsi Jawa Timur pada 2015 memperoleh target untuk meningkatkan produksi
tanaman padi menjadi 14 juta ton gabah kering giling (GKG), yang tahun lalu hanya 12
juta ton GKG.
Keterlibatan TNI dalam usaha ikutg meningkatkan produksi pangan terutama tanaman
padi, dengan ikut mengamankan pendistribusian pupuk belumlah cukup.
Berbagai faktor lainnya yang menunjang peningkatan produksi pangan, yang masih
menjadi permasalahan, antara lain, ketersediaan pupuk secara penuh, air, benih
unggul, ketersediaan lahan, juga berbagai kebutuhan lainnya.
Data dari PT Petrokimia Gresik, sesuai Permentan No. 130 tahun 2014 tentang
Kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian
Tahun Anggaran 2015, alokasi pupuk bersisidi secara nasional mencapai 9,5 juta ton.
Dari alokasi jatah pupuk itu, PT Petrokimia memperoleh alokasi pupuk sebesar
5.219.785 ton, sedangkan lainnya dibagi untuk PT Pupuk Sriwijaya (Pusri), PT Pupuk
Kalimantan Timur (PKT), PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan PT Pupuk Kujang
Cikampek (PKC). Alokasi pupuk
Alokasi anggaran yang disiapkan Pemerintah untuk pupuk bersubsidi 2015 mencapai
Rp35,7 triliun tersebut, di antaranya, untuk membayar hutang pupuk bersubsidi di
tahun-tahun sebelumnya.
"Sesuai data di RDKK kebutuhan pupuk 2015 berkisar 12-13 juta ton," jelas Manajer
Humas PT Petrokimia Gresik Yusuf Wibisono di Bojonegoro
Bagi TNI dengan sumber daya yang dimiliki untuk mengamankan pendistribusian pupuk
bersibsidi 9,5 juta ton bisa tepat sasaran tidaklah sulit.
Tapi permasalahan muncul ketika alokasi pupuk bersubsidi yang tersedia itu, masih
belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pupuk areal pertanian sesuai yang

masuk dalam rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK).


Belum lagi adanya pengembangan kawasan hutan yang menjadi areal pertanian, tapi
belum masuk dalam RDKK, yang juga membutuhkan pupuk bersubsidi.
Tidak terlalu berlebihan kelemahan soal pupuk bersubsidi membuka peluang pihak lain
memanfaatkan untuk kepentingan pribadi.
Sebagaimana disampaikan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, 20 mafia pupuk
bersubsidi di beberapa daerah sudah ditangkap, di antaranya, Jawa Timur enam mafia,
Jawa Tengah enam mafia, dan lainnya di Aceh, Sumatera Utara, Jambi, dan Sulawesi
Selatan.
"Mereka mengoplos pupuk bersubsidi dengan pupuk biasa dan kemudian menjual
dengan harga mahal," ujarnya.
Permasalahan klasik lainnya yaitu ketersediaan air yang masih menjadi momok bagi
petani juga berbagai pihak lainnya terutama di musim kemarau.
Seperti Bupati Bojonegoro Suyoto, dengan jajarannya, beberapa waktu lalu, datang
langsung ke Waduk Wonogiri, Jawa Tengah, untuk memastikan kebutuhan air areal
pertanian di daerahnya dari air Bengawan Solo di musim kemarau bisa tercukupi.
Keterlibatan TNI di bidang ketahanan pangan memang masih terbatas dalam
pendampingan untuk meningkatkan produksi tanaman padi, jagung dan kedelai.
Meski demikian, keterlibatan TNI, dalam pendampingan ketahanan pangan tetap harus
disambut positif.
Kehadiran TNI ke depan bisa dikembangkan untuk ketahanan pangan dalam arti luas,
apalagi dengan teknologi pertanian yang ada sangat memungkinkan ketahanan pangan
menjadi sesuatu yang pasti. (*)

Redaktur: Edy M Yakub

Wujudkan Ketahanan Pangan, TNI Teken MoU dengan


Kementerian Pertanian
Kamis, 8 Januari 2015 | 17:28 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Gatot
Nurmantyo mengatakan, TNI mendukung program pemerintah untuk membangun
swasembada pangan dalam tiga tahun ke depan.
Oleh karena itu, TNI dan Kementerian Pertanian menandatangani nota
kesepahaman demi mencapai target pemerintah tersebut. "Penandatanganan
dilakukan karena perintah presiden tentang swasembada pangan tiga tahun ke
depan. TNI AD mendukung agar swasembada pangan ini tercapai," ujar Gatot di
Balai Kartini, Jakarta, Kamis (8/1/2014).
Penandatanganan nota kesepahaman tersebut dihadiri oleh Panglima Kodam
seluruh Provinsi dan Kepala Dinas Pertanian tingkat I. Gatot mengatakan, peran TNI
untuk mendukung program swasembada pangan tiga tahun yaitu melakukan
penyuluhan kepada para petani dan menunjang sarana pertanian seperti
pengadaan traktor, subsidi pupuk, dan pengadaan bibit.
Gatot mengatakan, sekitar dua minggu lalu sejumlah personil TNI AD melakukan
peninjauan di sektor pertanian ke Sulawesi Selatan. Menurut dia, sejak 2008 hasil
produksi pangan di sana terus meningkat karena adanya kerjasama antara
Gubernur Sulawesi Selatan dengan Kodam setempat.
Keberhasilan tersebut, kata Gatot, yang akan diterapkan TNI dan Kementerian
Pertanian dalam mewujudkan swasembada pangan dalam tiga tahun. "Menteri
Pertanian lalu memberi keputusan, berapa yang mau dibantu kami siapkan personil
untuk mendampingi nanti," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan,
seluruh pemangku kepentingan akan dilibatkan dalam kerjasama tersebut.
Termasuk para petani, perusahaan penghasil pupuk, dan pemangku di sektor
perkebunan. "Khusus TNI melakukan binaan ke bawah jajarannya seperti yang di
Sulsel ke masyarakat," kata Amran.

Penulis

: Ambaranie Nadia Kemala Movanita

Editor

: Bambang Priyo Jatmiko

Tentara Diminta Menteri Jadi Penyuluh Pertanian


Abraham Utama, CNN Indonesia
Kamis, 08/01/2015 19:47 WIB
Menteri Pertanian Amran Sulaiman (tengah)
menyusuri pematang sawah di Desa
Karangtinoto, Rengel, Tuban, Jawa Timur, Selasa
(18/11). (Antara/Aguk Sudarmojo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian
Pertanian melibatkan bintara pembina desa
(Babinsa) TNI Angkatan Darat menjadi penyuluh
pertanian akibat kekurangan tenaga penyuluh. Tambahan tenaga penyuluh dari
unsur tentara diharapkan dapat mendukung upaya swasembada pangan yang
dicanangkan pemerintah.
Butuh sinergi semua pihak untuk mencapai target swasembada pangan. "Harus
bersinergi dan menghilangkan ego sektoral," kata Menteri Pertanian Amran
Sulaiman di Balai Kartini, Jakarta Selatan. Sinergi itu, menurutnya, termasuk dengan
menerjunkan TNI AD untuk mewujudkan swasembada pangan.
Kontribusi tentara bisa lewat pembinaan ke masyarakat tani di daerah. Menurut
Amran, 50 ribu Babinsa TNI AD yang tersebar di seluruh Indonesia adalah jumlah
yang signifikan untuk diberdayakan.
Kementerian Pertanian saat ini kekurangan 20 ribu tenaga penyuluh. Maka
tambahan 50 ribu Babinsa hingga tingkat kecamatan itu akan sangat membantu
menutupi kekurangan tenaga penyuluh.
Amran menyatakan penyuluhan adalah satu dari lima persolan besar yang
menghambat kemajuan di bidang pertanian. Empat masalah lainnya adalah sarana
irigasi, benih, pupuk, dan peralatan mesin pertanian.
Keterlibatan Babinsa tersebut berawal dari keberhasilan penyuluhan Babinsa di
Bone, Sulawesi Selatan, hingga mampu meningkatkan produksi pertanian hingga 6
juta ton padi pada sawah seluas 2.000 hektare
Sementara Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan

untuk menindaklanjuti kerjasama ini, beberapa personel TNI AD sudah melakukan


kunjungan ke Bone. "Pengetahuan penyuluhan yang didapat di sana nanti akan
dikembangkan di Kodam masing-masing," kata dia.
Gatot membantah keterlibatan TNI dalam sektor pertanian ini akan mengganggu
tugas utama mereka dalam menjaga pertahanan negara. Menurutnya, sektor
pertahanan mencakup dua sisi, yakni kekuatan persenjataan dan kekuatan sosial.
"Undang-Undang mengatur ada operasi militer perang dan non-perang. Maka
esatuan masyarakat dengan TNI tidak bisa dipisahkan," katanya. Gatot
mengibaratkan, jika rakyat adalah raga, maka TNI adalah jiwa dari badan tersebut.
(sur/agk)

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, menegaskan akan mundur
dari jabatannya jika tiga tahun mendatang Indonesia gagal dalam swasembada pangan.
Itu tak lain karena ia mendapat target dari Presiden RI Joko Widodo agar TNI membantu
mewujudkan swasembada pangan dalam kurun tiga tahun. Mandat itu didapatkan Gatot di
Jakarta belum lama ini dalam rapat bersama seluruh kepala dinas se-Indonesia yang terkait
dengan pangan.
"Karena itu (target swasembada pangan dalam tiga tahun) diminta oleh Presiden, apabila dalam
tiga tahun tidak swasembada pangan, berarti saya tidak bisa melaksanakan perintah Presiden dan
pasti saya akan mengundurkan diri," kata Gatot usai silaturahmi dengan Forkominda Jawa Barat
di Bandung, Selasa (13/1/2015).
Dengan target yang diberikan Presiden, ia menunjukkan optimismenya. "Kita akan berusaha
semaksimal mungkin dan saya punya keyakinan pasti bisa," tegasnya.
Untuk mewujudkan target, anggota TNI Angkatan Darat akan terjun langsung ke lapangan
membantu para petani. Terlebih TNI AD sudah berpengalaman membantu petani dalam
meningkatkan produksi pangan di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Keterlibatan TNI di Bone mampu menjaga produksi pangan. Dalam kurun waktu 2008 hingga
2014, produksi pangan di sana stabil di kisaran 2 juta ton per tahun, bahkan cenderung
meningkat.
Menurut dia, presiden RI sudah memerintahkan seluruh TNI angkatan darat untuk membantu
mewujudkan swasembada pangan. Ia berjanji akan busaha semaksimal mungkin agar
swasembada pangan itu bisa terealisasi.

Mobile Training Team (MTT) Ketahanan Pangan Langkah Awal Korem 174/ATW
Wujudkan Swasembada Pangan

January 27, 2015 in Kodam XVII/Cenderawasih


Korem 174/ATW melaksanakan kegiatan Mobile Training Team (MTT) bekerjasama dengan
Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan
Perkebunan serta Badan Pengkajian dan Teknologi Pertanian guna melatih kader ketahanan
pangan dijajaran Korem 174/ATW untuk mewujudkan ketahanan swasembada pangan di wilayah
Papua. Selasa, 27/1.
Dalam amanatnya Danrem 174/Anim Ti Waninggap Brigjen TNI Supartodi, S.E, MSi.
menyampaikan bahwa seiring dengan berkembangnya kemajuan pembangunan disegala sektor
telah membawa konsekuensi, diantaranya semakin terbatasnya lahan-lahan pertanian yang ada,
dimana lahan pertanian tersebut telah banyak berubah fungsi menjadi kompleks perumahan serta
perkantoran sebagai akibat dari pengembangan wilayah dan laju pertumbuhan penduduk yang
semakin meningkat. Hal tersebut tentunya membawa dampak kepada semakin berkurangnya
tingkat
produktifitas
pangan
dan
bertambahnya
kebutuhan
masyarakat.
Menyadari hal tersebut, Pimpinan TNI AD senantiasa berupaya untuk berperan aktif dalam
mendukung dan membantu program ketahanan pangan. salah satu kegiatan yang dilaksanakan
adalah program pelatihan kader ketahanan pangan bagi seluruh Kotama di jajaran TNI AD.
Kegiatan ini dilaksanakan guna mendorong Swasembada Pangan Nasional.
Sebagai langkah awal dalam mewujudkan swasembada pangan, kerja sama ini juga diwujudkan
dalam bentuk kegiatan Sinkronisasi tugas penyuluh, Babinsa dengan melaksanakan Mobile
Training Team (MTT) yaitu pelatihan kader ketahanan pangan yang di ikuti oleh para Babinsa
dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) serta ketua Gapoktan yang ada diwilayah Kab Merauke
guna mendukung program utama pemerintah dalam rangka menciptakan ketersediaan pangan
nasional. Dengan memanfaatkan lahan yang ada untuk ditanami dengan tanaman produktif
dalam rangka meningkatkan hasil pertanian melalui peran para Babinsa, Petugas Penyuluhan
Pertanian di lapangan dan petani diharapkan akan mampu mewujudkan swasembada pangan
nasional.
Melalui kegiatan MTT yang dilaksanakan selama 4 hari ini yang rencananya akan diakhiri
dengan penanaman raya oleh Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Fransen G. Siahaan
pada tanggal 30 Januari 2015 bertempat di Kampung Wasur Distrik Merauke. Diharapkan
dengan adanya kader ketahanan pangan kita mampu mendukung program pemerintah untuk
meningkatkan produksi pangan serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para prajurit
khususnya para Babinsa dan Masyarakat dibidang pertanian sebagai pelaku utama dalam
ketahanan pangan.

Turut hadir dalam acara tersebut Kasrem 174/ATW Kolonel Inf Ardiheri, para Kasi Korem
174/ATW, Dansat/Kabalak Disjan jajaran Korem 174/ATW serta Kepala Dinas Tanaman Pangan
dan Hortikultura, Kepala BP4K Kab. Merauke serta Kepala Badan Pengkajian dan Teknologi
Pertanian wilayah Merauke. (Cen/IKS)

Komandan Komando Resort Militer 172/PWY Kolonel Inf Tri Yuniarto, S.AP, M.Si membuka
Pelatihan Babinsa Kader Pertanian dalam rangka mendukung Program Nasional Ketahanan
Pangan dan Hemat Energi satuan jajaran Korem 172/PWY TA. 2015 yang dilaksanakan di
Rindam XVII/Cenderawasih, Selasa (27/1).
Dalam sambutannya Danrem 172/PWY menyampaikan tugas utama TNI sesuai UU No. 34
tahun 2004 selain perang juga membantu tugas pemerintahan di daerah melalui fungsi utama
pembinaan teritorial yang secara luas termasuk di dalamnya mencakup penyiapan potensi
sumber daya alam khususnya logistik wilayah guna membantu pemenuhan kebutuhan pokok
masyarakat
di
bidang
pangan.
Tujuan dilaksanakannya pelatihan kader ketahanan pangan TNI AD dan perancangan
swasembada pangan nasional untuk meningkatkan ketersediaan pangan dan peningkatan
produksi pangan nasional khususnya padi, serta memberikan motivasi kepada masyarakat untuk
mengembangkan komoditi padi yang berbasis teknologi modern.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh Kodam XVII/Cenderawasih bersama-sama Pemprov Papua
selama ini dan kedepan dengan berbagai keterbatasan yang dihadapi, diharapkan mampu
mendukung secara maksimal program 3 tahun swasembada pangan nasional yang dicanangkan
oleh pemerintah pusat saat ini. Dalam kegiatan ini juga, para kader akan mendapat sosialisasi
tentang program hemat energy yang menjadi program KASAD yaitu Lamtera (Lampu Hemat
Energi Tentara Rakyat), Kombara (Kompor Babinsa Rakyat) dan Morgantara (Motor Gas Tentara
Rakyat).
Diharapkan kepada para Peserta Pelatihan menyiapkan diri dengan baik agar mampu
menyelesaikan Pelatihan ini dengan penuh rasa tanggung jawab dan dengan adanya Pelatihan ini
dapat memberikan kontribusi positif bagi upaya peningkatan Program Ketahanan Pangan di
wilayah masing-masing.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh perwakilan satuan jajaran Korem 172/PWY dengan Tim
Penyuluh dari Kodam XVII/Cenderawasih dan Korem jajaran Kodam XVII/Cenderawasih.
(Cen/IKS)

Pengawalan dan Pendampingan Penyuluh, Babinsa dan


Mahasiswa
10:51 WIB | Rabu, 11 Maret 2015

UPSUS Peningkatan Produksi Jagung


Jagung merupakan komoditi tanaman pangan yang memiliki peranan pokok sebagai pemenuh
kebutuhan pangan, pakan dan industri dalam negeri yang setiap tahunnya cenderung meningkat
seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan berkembangnya industri pangan dan pakan
sehingga dari sisi Ketahanan Pangan Nasional fungsinya menjadi amat penting dan strategis.
Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan jagung yang terus meningkat, pemerintah telah
menetapkan Pencapaian Swasembada Berkelanjutan jagung yang harus dicapai dalam waktu 3
(tiga) tahun. Sasaran tahun 2015 awalnya sebesar 20,31 juta ton pipil kering, namun adanya
percepatan menjadi 25,03 juta ton pipil kering. Untuk pencapaian swasembada berkelanjutan
tersebut diperlukan upaya peningkatan produksi yang luar biasa. Oleh karena itu diperlukan
perhatian dari berbagai pihak, mengingat banyak kendala harus diatasi dan berbagai tantangan
harus diantisipasi seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN yang merupakan sebuah wilayah
kesatuan pasar dan basis produksi menuntut agar barang, jasa dan SDM Indonesia mampu
bersaing dengan negara lain; otonomi daerah; perubahan pola konsumsi; dan dinamika pasar
pangan.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi produksi, salah satu di antaranya pendampingan dan
pengawalan. Pengawalan dan pendampingan menjadi unsur penting dalam menggerakkan para
petani untuk dapat menyiapkan teknologi. Penyuluh, Babinsa dan mahasiswa merupakan salah
satu penggerak bagi para petani (pelaku utama). Penyuluh, Babinsa dan mahasiswa dapat
berperan sebagai komunikator, fasilitator, advisor, motivator, edukator, organisator dan
dinamisator melalui pengawalan dan pendampingan kegiatan UPSUS (Upaya Khusus)
peningkatan produksi jagung dalam pencapaian swasembada berkelanjutan.

Adapun strategi yang akan ditempuh antara lain:


1. Menggerakkan BP3K sebagai Pos Simpul Koordinasi Pengawalan dan
Pendampingan UPSUS Peningkatan Produksi salah satunya jagung.
Diharapkan sinergitas pengawalan dan pendampingan di lapangan dapat
dilakukan antar kelembagaan penyuluhan, baik secara vertikal, horizontal,
maupun lintas sektoral melalui kegiatan: a. Koordinasi pelaksanaan kegiatan
UPSUS di tingkat kecamatan; b. Peningkatan kapasitas penyuluh PNS dan
THL-TBPP melalui pelaksanaan Latihan dan Kunjungan (LAKU); dan c.
Pengembangan metode penyuluhan melalui pelaksanaan demfarm.
2. Melaksanakan Diklat Teknis dan Metodologi Penyuluhan bagi Penyuluh
Pertanian dan Bintara Pembina Desa (Babinsa).
3. Melaksanakan Bimbingan Teknis bagi Mahasiswa.
4. Melaksanakan Pengawalan dan Pendampingan Terpadu Penyuluh, Mahasiswa
dan Bintara Pembina Desa (Babinsa).

Apa yang Perlu Dilakukan Penyuluh/THL-TBPP?


1. Mengikuti dan atau melakukan sosialisasi untuk menyamakan persepsi
bagi para pelaku dan pemangku kepentingan tentang pengawalan dan
pendampingan terpadu penyuluh, mahasiswa dan Babinsa.
2. Mengikuti Diklat teknis (jika dapat penugasan) bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan dalam memfasilitasi pengawalan dan
pendampingan kepada petani/penerima manfaat agar mampu menerapkan
teknologi yang direkomendasikan. Selain penyuluh dan THL-TBPP, penyuluh
swadaya dan Babinsa juga akan mendapat pelatihan, tentunya dengan
kurikulum yang berbeda. Sedangkan mahasiswa akan mendapat bimbingan
teknis.
3. Meningkatkan Koordinasi Pelaksanaan Pengawalan dan
Pendampingan di setiap tingkatan. Kegiatan Koordinasi Pelaksanaan
Pengawalan dan Pendampingan dimaksudkan untuk membangun persamaan
persepsi, meningkatkan koordinasi, integrasi, dan sinergitas antar
lembaga/instansi yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan pencapaian
swasembada berkelanjutan jagung.
4. Menyiapkan Calon Petani Calon Lokasi (CP/CL). Kegiatan ini dilakukan
secara terpadu oleh penyuluh, mantri tani/UPTD dan Babinsa dengan ruang
Iingkup kegiatan di antaranya: a. Mengecek ulang persyaratan kelompok
penerima manfaat (potensi kenaikan IP, luas lahan dan berada dalam daerah
irigasi), b. pemberkasan administrasi bantuan di tingkat kelompok (RUKK), c.
Penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan.
5. Memfasilitasi Penyusunan, RDK/RDKK. Format dan tahapan pelaksanaan
penyusunan RDK/RDKK mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor

82/Permentan/OT.140/8/2013 tentang Pedoman Pembinaan Kelompoktani dan


Gabungan Kelompoktani.
1. Melakukan Sistem Kerja Latihan Kunjungan dan Supervisi (Lakususi).
Latihan di BP3K dilakukan secara rutin setiap dua minggu. Materi latihan
disesuaikan dengan topik dan masalah yang dihadapi oleh penyuluh selama
melakukan pengawalan dan pendampingan kepada penerima manfaat
kegiatan peningkatan produksi.

Kunjungan penyuluh dilakukan dalam rangka pengawalan dan pendampingan untuk


meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam menerapkan teknologi peningkatan
produksi jagung agar sesuai rekomendasi serta mengumpulkan dan memperbarui data. Khusus
untuk kunjungan dalam rangka persiapan dan pelaksanaan demfarm penyuluh dibantu oleh
mahasiswa untuk mendampingi penerapan inovasi teknologi hasil perguruan tinggi.
Supervisi dilakukan oleh Kepala BP3K bersama dengan Komandan Koramil, Mantri Tani/UPTD
kepada penyuluh, Babinsa dan kelompoktani/P3A/Gapoktan/GP3A penerima manfaat baik
secara terjadwal maupun sewaktu ada haI-haI yang memerlukan penanganan khusus di lapangan.
Kepala BP3K melaporkan hasil supervisi secara berjenjang untuk dapat ditindak lanjuti.
1. Pengawalan dan pengamanan penyaluran benih, pupuk dan aIsintan.
Pengawalan dan pengamanan penyaluran benih, pupuk dan alsintan
dikoordinasikan oleh Babinsa bersama mantri tani/kepala UPTD dan penyuluh
pertanian, dengan kegiatan, yaitu: a. Validasi ulang penerima manfaat (nama
Poktan/P3A/Gapoktan/GP3A, alamat dan jenis bantuan yang dialokasikan); b)
Koordinasi dengan dinas yang menangani pertanian di kabupaten tentang
jenis, jumlah dan waktu penyaluran benih, pupuk dan alsintan; c) Mengawasi
pelaksanaan penyaluran di lokasi titik bagi; d) Meneliti kebenaran berita
acara penyaluran benih, pupuk dan alsintan.
2. Menggerakkan Tanam Serentak. Kegiatan ini bertujuan untuk: a.
Mempermudah pemberantasan hama; b. Mengurangi resiko kehilangan hasil
akibat serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT); c. Memutus siklus
organisme pengganggu tanaman dan menghemat penggunaan air.
3. Menggerakkan pengamanan, perbaikan jaringan irigasi. Babinsa
mengkoordinasikan pelaksanaan gerakan perbaikan jaringan irigasi tersier
dibantu oleh penyuluh dan mahasiswa.
4. Menggerakkan Pengamanan Pertanaman dari seranganOPT. Gerakan
Pengamanan Pertanaman dari Serangan OPT secara teknis dikoordinasikan
oleh Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) dan
penyuluh. Khusus untuk gerakan yang melibatkan masyarakat maka kegiatan
mobilisasi dikoordinasikan oleh Babinsa yang dibantu oleh mahasiswa.
5. Mendiseminasi Informasi dan Teknologi Pertanian. Pelaksanaan
diseminasi informasi dan teknologi pertanian disinergikan dengan kegiatan

latihan di BP3K, kunjungan penyuluh di kelompoktani, rembug tani, kursus


tani, demfarm dan hari temu lapangan/farm field day.
6. Melaksanakan Kursus tani. Kegiatan kursus tani dikoordinasikan oleh
penyuluh pertanian dibantu penyuluh swadaya, Babinsa dan mahasiswa.
Waktu pelaksanaan kursus tani disesuaikan dengan jadwal dan materi yang
telah disepakati dan disinergikan dengan kunjungan penyuluh ke
kelompoktani/P3A/gapoktan/GP3A.
7. Melaksanakan Demfarm. Demfarm sebagai sarana pembelajaran petani
bertujuan: a) Mempercepat proses diseminasi teknologi padi kepada petani;
b) Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap petani dalam
penerapan teknologi padi; c) Menerapkan berbagai metode penyuluhan; d)
Menumbuhkembangkan kelembagaan petani dan penyuluh swadaya.
Pelaksanaan demfarm dilakukan oleh Penyuluh Pertanian dan Perguruan
Tinggi (Dosen dan Mahasiswa). Demfarm yang dilaksanakan oleh Penyuluh
Pertanian dikoordinasikan oleh BP3K dibantu oleh Babinsa.
8. Melaksanakan Hari Temu Lapangan Petani (Farmer Field Day/FFD).
Kegiatan FFD dikoordinasikan oleh penyuluh pertanian bersama dengan
Babinsa dan mahasiswa. Khusus untuk FFD yang terkait dengan pelaksanaan
demfarm introduksi teknologi unggulan hasil perguruan tinggi, kegiatan FFD
dikoordinasikan bersama dengan dosen perguruan tinggi.
9. Menggerakkan Panen dan Pengamanan Hasil. Gerakan panen dan
pengamanan hasil secara teknis dikoordinasikan oleh penyuluh pertanian
yang mencakup: a. Penetapan lokasi dan luasan panen, b. Teknik panen yang
akan dilaksanakan, c. Persiapan lokasi ubinan, d. Persiapan penggunaan
mesin panen apabila akan mengadakan demonstrasi dengan menggunakan
mesin combine harvester, e. Penyiapan pengangkutan, perontokan,
penjemuran dan penyimpanan. Khusus untuk pengamanan hasil panen yaitu
keamanan dalam penyimpanan, transportasi dari sawah menuju rumah
petani/gudang dikoordinasikan oleh Babinsa.
10.Mengembangkan Jejaring dan Kemitraan Usaha. Pengembangan
jejaring dan kemitraan usaha dikoordinasikan oleh penyuluh pertanian
dibantu oleh mahasiswa dengan pelaku usaha yang memiliki tujuan untuk
mengembangkan usaha bersama para petani dengan prinsip kesetaraan dan
saling menguntungkan.
11.Melaporkan kegiatan pendampingan kepada Kepala Balai
Penyuluhan Kecamatan/KCD (untuk penyuluh yang mengawal di
desa).

Dari apa yang telah dilakukan oleh penyuluh, tentunya ada Indikator Kinerja yang dapat diukur
antara lain:
1. Tersedianya air yang cukup bagi luasan areal persawahan melalui
pengembangan/rehabilitasi jaringan irigasi;

2. Tersedianya pupuk, benih dan obat-obatan;


3. Meningkatnya Indeks Pertanaman (IP);
4. Tercapainya produktivitas jagung minimal sebesar 5,04 ton/ha pada areal
tanam baru dan 1 ton/ha pada areal existing;
5. Meningkatnya kualitas teknis budidaya penerima manfaat di lokasi kegiatan
Rehabilitasi Jaringan Irigasi, Optimasi Lahan, GP-PTT dan PAT Jagung melalui:
1. Penerapan pola jajar legowo 4:1 dan 2:1;
2. Penggunaan Benih Varietas Unggul Baru (VUB) berupa benih jagung hibrida;
3. Penggunaan pupuk berimbang sesuai rekomendasi;
1. Meningkatnya penggunaan alat dan mesin pertanian melalui
penyaluran Bantuan Alat dan Mesin Pertanian berupa alat dan mesin
pra panen (Traktor Roda-2, Traktor Roda-4, Pompa Air), Alat dan Mesin
Pasca Panen (Combine Harvester Jagung, Pemipil Jagung/Corn Sheler,
Flat Bed Dryer Jagung dan Bangunan, Vertical Dryer Jagung dan
Bangunan) serta Alat dan Mesin Pengolahan Hasil Pertanian;
2. Meningkatnya luas tanam padi, jagung dan kedelai di lokasi tadah
hujan, pasang surut, lahan kering dan lebak.

Demikian gambaran yang harus dilakukan penyuluh dalam pengawalan dan pendampingan
UPSUS peningkatan Produksi Jagung, semoga dapat membantu rekan-rekan penyuluh di
lapangan. Mari kita siap memperjuangkan untuk swasembada berkelanjutan. Selamat. Yulia TS
Sumber: Pedoman Umum Pengawalan dan Pendampingan Terpadu Penyuluh, Babinsa dan
Mahasiswa Dalam Rangka Upaya Khusus Peningkatan Produsi Padi, Jagung dan Kedelai, 2015

Sinergi Penyuluh dan Babinsa dalam Swasembada Pangan


10:09 WIB | Selasa, 24 Februari 2015

Oleh: Yudhi Harsatriadi Sandyatma, S.Sos, M.Sc

Visi-misi pembangunan pertanian pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (2015-2019)


dengan fokus pada kedaulatan pangan telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Dalam dokumen yang baru dirilis melalui
Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tersebut, dalam waktu lima tahun ke depan
Pemerintah mentargetkan 7 komoditas pangan untuk dapat swasembada. Target produksi
ketujuh komoditas tersebut yaitu: padi (82 juta ton), jagung (24,1 juta ton), kedelai (2,6
juta ton), gula (3,8 juta ton), daging sapi (755,1 ribu ton), ikan (18,8 juta ton), dan garam
(4,5 juta ton). Guna mewujudkan agenda besar tersebut, Pemerintah melakukan berbagai
upaya di antaranya: (1) membangun jaringan irigasi 1 juta hektar; (2) merehabilitasi 3
juta hektar jaringan irigasi untuk mengembalikan layanan irigasi; (3) beroperasinya dan
terpeliharanya jaringan irigasi 7,3 juta hektar; (4) membangun 115 ribu hektar jaringan
tata air tambak untuk mendukung pengembangan ekonomi maritim dan kelautan; dan (5)
membangun 49 waduk baru.
Pemerintah bahkan tidak tanggung-tanggung, khusus padi, jagung, dan kedelai mentargetkan
dalam waktu 3 tahun harus bisa swasembada. Presiden Jokowi pun memberikan arahan kepada
Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) untuk mengerahkan Bintara Pembina Desa (Babinsa)
menjadi penyuluh pertanian untuk mengisi kekurangan penyuluh yang ada saat ini. Arahan
Presiden tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Menteri Pertanian dengan menandatangani Nota
Kesepahaman Bersama KASAD pada tanggal 7 Januari 2015 silam.
Peran Penyuluh
Dapat dipahami bahwa jumlah penyuluh pertanian saat ini masih minim, berdasarkan data Badan
Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian (2015)
hanya sebanyak 39.336 orang yang terdiri dari 27.561 Penyuluh PNS dan 11.775 Tenaga Harian
Lepas Tenaga Bantu Penyuluh (THL-TBP). Jumlah tersebut jika mengacu pada Peraturan
Menteri Pertanian Nomor: 3/Permentan/OT.140/1/2011 yang mengharuskan 1 desa 1 penyuluh,
maka untuk memenuhi 80.714 Desa (BPS, 2013) dibutuhkan 41.378 penyuluh baru.
Merekrut penyuluh saat ini dapat dikatakan mudah-mudah sulit karena penyuluh sebagai change
agent dituntut untuk menjadi motivator, fasilitator, dinamisator, dan inovator yang menjalankan
fungsi: (1) memfasilitasi proses pembelajaran; (2) mengupayakan kemudahan akses ke sumber
informasi, teknologi, dan sumberdaya lainnya agar dapat mengembangkan usaha petani; (3)
meningkatkan kemampuan kepemimpinan, manajerial, dan kewirausahaan; (4) membantu
menumbuhkembangkan organisasi petani menjadi organisasi ekonomi yang berdaya saing tinggi,
produktif, menerapkan tata kelola berusaha yang baik, dan berkelanjutan; (5) membantu
menganalisis dan memecahkan masalah serta merespon peluang dan tantangan mengelola usaha
petani; (6) menumbuhkan kesadaran terhadap kelestarian fungsi lingkungan; dan (7)
melembagakan nilai-nilai budaya pembangunan pertanian. Fungsi tersebut idealnya harus

dimiliki oleh penyuluh, namun pada kenyataannya belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh
penyuluh.
Tidak dapat dipungkiri keberadaan Babinsa untuk menjalankan fungsi dan peran penyuluh
sebagaimana diuraikan di atas secara empiris agak sulit untuk terealisasi dalam jumlah yang
massif dan berkelanjutan. Meskipun demikian haruslah diakui dalam skala kecil keberhasilan
keterlibatan Babinsa sebagai pendamping pembangunan pertanian telah dirasakan di Kabupaten
Takalar, Sulsel yang mampu meningkatkan produktivitas padi dari 6 ton/ha menjadi 8-9 ton/ha.
Sejatinya, sebagaimana dalam Keputusan KASAD Nomor Skep/98/V/2007 tanggal 16 Mei 2007
tugas utama Babinsa sebagai unsur pelaksana Koramil adalah melaksanakan bimbingan teritorial
dalam membina dan membimbing masyarakat terkait keamanan dan ketertiban masyarakat di
wilayah pedesaan/kelurahan.
Peran Babinsa
Berbagai pihak pasti sepakat dalam rangka pencapaian swasembada pangan tidak mungkin
hanya Kementerian Pertanian untuk mewujudkannya, perlu peran semua pihak terutama dari
lintas kementerian/lembaga. Sebenarnya keterlibatan Babinsa dalam penyuluhan bukanlah hal
yang baru, pada tahun 2012, BKKBN dalam rangka menekan laju pertumbuhan penduduk
dengan menggalakkan kembali program Keluarga Berencana (KB), sebanyak 48.640 Babinsa
dilibatkan menjadi penyuluh KB. Langkah tersebut rupanya ingin diikuti oleh Pemerintah saat
ini guna memenuhi kekurangan tenaga penyuluh. Sebenarnya, selain dari Babinsa, Pemerintah
dapat juga memanfaatkan potensi kemampuan para mahasiswa pertanian untuk melakukan
kuliah kerja nyata dengan menjadi penyuluh dan tentunya merekrut penyuluh THL-TBP baru
dalam jumlah besar.
Peran Babinsa memang akan lebih optimal dalam pengawalan dan pendampingan pelaksanaan
kegiatan dalam pencapaian swasembada pangan seperti kegiatan Upaya Khusus dalam rangka
peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai melalui perbaikan jaringan irigasi dan sarana
pendukungnya. Dalam konteks ini Babinsa sepenuhnya bukan sebagai penyuluh tetapi hanya
mendampingi dan mengawal berbagai kegiatan dalam rangka pencapaian swasembada pangan
agar kegiatan tersebut dapat berjalan sesuai tepat waktu, sasaran, tujuan, dan manfaat.
Konkretnya, misalnya mengawal dan mendampingi dalam hal pendistribusian bantuan bibit,
pupuk, dan peralatan mesin pertanian.
Fungsi-fungsi penyuluhan tetap dibebankan pada penyuluh pertanian lapangan agar terbentuk
kemandirian petani dan pemberdayaan petani.
(Pegawai BKP dan Alumnus Prodi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan, Sekolah
Pascasarjana UGM)

Program Swasembada Pangan Perlu Pendampingan Penyuluh


11:31 WIB | Rabu, 14 Januari 2015

Ketua Umum DPP PERHIPTANI Dr. Ir. H. Isran Noor MSi mengatakan, dalam
pencapaian swsembada pangan diperlukan pendampingan dari penyuluh. Menurut Ketua
Umum, keberhasilan swasembada beras tahun 1984, berdasarkan hasil penelitian FAO, 60
persen keberhasilan itu merupakan peran dari SDM Pertanian termasuk di dalamnya
penyuluh.
Selanjutnya Isran Noor mengingatkan, kondisi teknologi pertanian sekarang ini sudah lebih
modern dan kemampuan serta pemikiran petani sudah lebih maju, bukan lagi seperti tahun 1984.
Untuk menyesuaikan terhadap kondisi ini, Ketua Umum mengharapkan kepada semua penyuluh
agar meningkatkan kinerja, pengetahuan dan keterampilan. Peningkatan pengetahuan penyuluh
dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti belajar mandiri, hasil kaji terap dan mengikuti
pelatihan dan pendidikan.
Menyikapi berkurangnya jumlah luas lahan pertanian produktif akibat pembangunan perumahan,
jalan dan kawasan industri di Indonesia yang diperkirakan 100.000 hektar per tahun, Ketua
Umum menjelaskan, agar Pemerintah Pusat memetakan perluasan areal pertanian ke wilyah
Kalimantan Barat atau seluruh pulau Kalimantan. Dijelaskan oleh Ketua Umum yang juga
Bupati Kutai Timur dan Ketua APKASI itu, banyak lahan potensial pertanian tersedia di
Kalimantan, namun perluasan areal selalu terkendala oleh aturan Kementerian Kehutanan untuk
perluasan dan pemanfaatannya.
Ketua Umum mengajak, sambil menunggu kemudahan aturan Kementerian Kehutanan, agar
masyarakat petani memanfaatkan peluang lahan kawasan hutan yang sudah diatur dalam
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.70/Menhut-II/2008, yaitu kawasan desa enclave, sistim
pinjam pakai dan pemanfaatan kawasan hutan dengan tumpangsari. Dijelaskan oleh Ketua

Umum yang juga mantan penyuluh pertanian itu, desa enclave adalah desa yang letaknya di
dalam kawasan konservasi yang dihuni oleh masyarakat dan telah ditetapkan sebagai desa
enclave. Tumpangsari (interplanting, mixed planting) adalah pola penanaman tanaman semusim
sebagai tanaman sela di antara tanaman pokok kayu.
Ketua Umum juga menyoroti rendahnya pengalokasian dana dari Pemerintah Pusat ke
Pemerintah Daerah dibandingkan dengan pendapatan daerah berupa pajak yang ditarik
Pemerintah Pusat. Seandainya alokasi dana ini bisa ditingkatkan, maka pencapaian swasembada
yang dicanangkan Pemerintah tiga tahun ke depan, akan lebih cepat tercapai, jelas Ketua Umum.
Dalam sambutannya, Gubernur Kalimantan Barat selaku Ketua Dewan Ketahanan Pangan, Drs.
Cornelis, MH, mengatakan untuk mewujudkan ketahanan pangan yang mandiri dan
berkelanjutan perlu didukung dengan penyelenggaraan penyuluhan sebagaimana diamanatkan
UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam memenuhi
kebutuhan pangan berkewajiban untuk memberikan penyuluhan dan pendampingan. Selanjutnya
UU No. 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani mengamanatkan
Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya memberi fasilitas penyuluhan
dan pendampingan kepada petani dan membentuk kelembagaan penyuluhan serta menyediakan
paling sedikit 1 (satu) orang penyuluh dalam 1 (satu) desa.
Kepada jajarannya hadir pada kesempatan ini, Gubernur menyampaikan agar aturan dan
peraturan urusan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan dilaksanakan sesuai
amanatnya. Gubernur menyebutkan 3 (tiga) aturan yang berkaitan dengan penyuluhan, yaitu; (1)
UU No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, (2)
Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 2009 tentang Pembiayaan, Pembinaan dan Pengawasan
Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan dan (3) Peraturan Presiden Republik Indonesia
No. 154 Tahun 2014 tentang Kelembagaan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan.
Berdasarkan peraturan perundangan yang mengatur urusan pangan dan urusan penyuluhan
tersebut, Gubernur menghimbau kepada para Bupati/Walikota agar membentuk kelembagaan
yang menangani urusan pangan dan urusan penyuluhan, serta mengupayakan 1 (satu) orang
penyuluh per desa agar para petani mendapatkan fasilitas penyuluhan dan pendampingan yang
memadai, sehingga pada akhirnya kemandirian pangan yang berkelanjutan dapat tercapai dan
kesejahteraan petani meningkat.
Sambutan Ketua Umum DPP PERHIPTANI dan Gubernur Kalimantan Barat ini disampaikan
pada Acara Pengukuhan Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PERHIPTANI Kalimantan
Barat. Acara ini dilaksanakan sebagai salah satu bagian dari rangkaian Acara Rapat Koordinsi
Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2014, pada tanggal 23 Desember
2014 bertempat di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalimatan Barat. Acara dihadiri DPRD
Kalimantan Barat, Bupati/Walikota selaku Ketua Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota,
Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluh se-Provinsi Kalimantan Barat.

Ketua Umum DPW PERHIPTANI Kalimantan Barat yang juga Anggota DPRD Tkt I Barat, Ir.
Ujang Sukandar MS, dalam sambutannya selesai dikukuhkan berkomitment, bendera
PERHIPTANI akan dikibarkan di seluruh wilayah Kalimantan Barat. Untuk tugas ini, beliau
berharap agar pemerintah daerah dan penyuluh memberikan dukungan yang maksimal. Lebih
lanjut dijelaskan, berdirinya PERHIPTANI mempunyai tujuan mulia, yaitu suatu organisasi
profesi untuk meningkatkan profesionalisme penyuluh sehingga memiliki kemampuan untuk
mendampingi petani dalam rangka mewujudkan program swasembada pangan yang
diprogramkan pemerintah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Lamhi
Hutauhuruk