Anda di halaman 1dari 8

1

Krisis Keuangan Global (Artikel 2)


Selasa, 02 Desember 08

Kondisi Ekonomi kita dan Gelombang Pasang Surutnya


Oleh Kwik Kian Gie

Dalam sistem ekonomi yang dianut oleh Indonesia, kita selalu mengalami
gelombang pasang surutnya pertumbuhan ekonomi beserta indikator-indikatornya
seperti kesempatan kerja, investasi, tabungan, tingkat suku bunga, besarnya
anggaran negara.
Ekonomi tidak bisa tumbuh terus tanpa batas. Kehidupannya selalu ditandai oleh
fluktuasi dengan periode meningkatnya kegiatan ekonomi, disusul dengan titik
puncak yang sekaligus merupakan titik balik (the upper turning point). Terjadi
krisis, yang disusul dengan periode menurunnya kegiatan ekonomi, atau baisse,
sampai tingkat pertumbuhan dan besaran-besaran makro ekonomi lainnya
mencapai titik paling rendah. Terjadilah titik balik terendah (the lower turning
point), disusul dengan periode kenaikan perkembangan dan pertumbuhan ekonomi,
atau economic boom, atau hausse lagi. Gejala pasang surutnya kegiatan ekonomi
secara periodik di dalam teori ekonomi disebut business cycle atau conjunctuur.
Jadi kalau ekonomi suatu negara pada saat tertentu tiba pada titik tertinggi, yang
lalu mentok dan terjadi krisis, yang disusul dengan memasuki resesi, hal itu sangat wajar.
Ekonomi akan merosot terus, dan pada waktunya nanti akan dicapai titik terrendah.
Bertolak dari sini, gelombangnya meningkat lagi.
Sangat jelas bahwa ekonomi kita memasuki resesi. Titik baliknya berupa
krisis keuangan di Amerika Serikat dengan dampak yang telah saya kemukakan
dalam artikel pertama, yaitu ekspor ke AS, Eropa dan Jepang tersendat. Modal yang

2
tertanam dalam saham-saham di Indonesia dijual karena sedang sangat diperlukan
untuk negerinya sendiri. Dampaknya IHSG anjlok. Hasil rupiahnya dibelikan
dollar, nilai tukar rupiah anjlok. Dampak psikologisnya semuanya mengerem
pembelian, permintaan menurun, produksi dikurangi, PHK meningkat, daya beli
menurun, permintaan menurun, omset menurun, investasi dikurangi lagi dan
seterusnya terjadi spiral ke bawah atau downward spiraling yang sangat kita kenali
dalam resesi-resesi, apalagi depresi yang lalu.
Apakah pemerintah sebagai pengelola ekonomi negara tidak bisa berbuat apa-apa
kecuali membiarkan ekonomi bergelombang naik turun atas dasar mekanisme pasar?
Jawabnya jelas bisa, dan bahkan harus. Kita mengenalnya dengan sebutan kebijaksanaan
yang "antisiklis". Tetapi tipologi dari krisisnya itu sendiri yang merupakan the upper
turning point sangat bervariasi. Tipe titik balik tertinggi atau krisis mewarnai resesi yang
dimasukinya. Pengenalannya sangat penting untuk mengetahui, apakah kita memang
mempunyai instrumen-instrumennya untuk membendung arus yang tidak kita kehendaki,
ataukah kita dihadapkan pada keterbatasan yang membuat semua upaya dan usaha siasia?
Mari kita telusuri permasalahannya.

ANALISA TIPE KRISIS DAN RESESI


Dalam tulisan ini saya mencoba mendekati resesi yang kita masuki dari segi teori
dan pola business cycle. Pertama-tama ingin saya kemukakan berbagai macam teori dan
pola yang ada. Lalu kita coba menempatkan tipe resesi ekonomi yang kita alami dewasa
ini termasuk kedalam teori atau pola yang mana. Berdasarkan pengenalan dan analisa
mengenai teori dan pola yang kira-kira berlaku untuk Indonesia, kita bisa mencoba
mendeteksi, terapi apa yang sebaiknya kita terapkan.
Semua teori sepakat mengenai gambaran dari periode meningkatnya
kegiatan ekonomi, hausse, atau gelombang pasang, dan menurunnya kegiatan

3
ekonomi, baisse atau gelombang surut. Dalam periode gelombang pasang, investasi
selalu lebih besar daripada tabungan yang dapat dibentuk oleh pendapatan
nasional. Kekurangannya selalu dibiayai oleh penciptaan uang, antara lain melalui
kredit bank. Dalam periode gelombang surut, tabungan yang terbentuk dari
pendapatan nasional selalu lebih besar daripada investasi. Dalam periode ini terjadi
pemusnahan uang, antara lain dengan membayar kembali kredit bank. Selisih
antara investasi dan tabungan justru merupakan saluran bagi mengembang dan
menciutnya arus uang, yang dalam hal ini sama dengan mengembang dan
menciutnya permintaan akan barang dan jasa.
Dalam menjelaskan mengenai mengapa krisis terjadi yang merupakan titik balik
dari gelombang pasang menjadi gelombang surut, teori-teori business cycle dapat dibagi
ke dalam dua kelompok besar, yang masing-masing dapat disebut sebagai kelompok dari
teori-teori overinvestment dan kelompok dari teori-teori underconsumption.

KELOMPOK TEORI UNDERCONSUMPTION


Menurut kelompok teori-teori ini, cikal bakal dari krisis adalah kenaikan dari
permintaan untuk barang-barang konsumsi yang tidak setimpal dengan kenaikan
kapasitas produksi dari barang-barang konsumsi tersebut. Permintaan masih meningkat,
tetapi naiknya tidak setimpal dengan membesarnya kapasitas produksinya. Karena
permintaan tidak dapat menyerap volume produksi, tidak ada gunanya memperluas
kapasitas lebih lanjut. Gairah untuk investasi berkurang. Di sini awal kirsis, karena
dengan berkurangnya gairah investasi, investasi menurun, yang mengakibatkan
pendapatan menurun, dengan akibat konsumsi menurun. Konsumsi menurun
berarti permintaan terhadap barang-barang konsumsi menurun, sehingga gairah
terhadap investasi tambah menurun lagi dan seterusnya. Terjadilah spiral ke arah
menurunnya seluruh kegiatan ekonomi dan menurunnya indikator-indikator
makro ekonomi. Menurut teori ini, sebab utama adalah konsumsi yang tidak bisa
membengkak terus sesuai dengan pembengkakan kapasitas produksinya. Maka
menurut kelompok teori ini, obatnya adalah bahwa pada waktu krisis terjadi, kita

4
harus meningkatkan konsumsi dengan cara memompa atau menambah daya beli
kepada masyarakat, kalau perlu dengan deficit spending. Sasarannya biasanya
adalah pembangunan proyek-proyek prasarana oleh pemerintah. Kalau pola krisis
dan resesi seperti ini, investasi proyek-proyek besar disyukuri.
Para pencetus atau penganut teori ini dengan nuansa dan variasinya masingmasing adalah Samuelson melalui teori akselerasi dan multiplier. Aftalion dengan
memasukkan unsur gestation period. Hicks, Harrod dan Haberler yang melihat
mentoknya unsur manusia sebagai faktor produksi, Kaldor dan Kalecki yang
melihatnya dari segi psikologis, yaitu faktor kejenuhan manusia, dan Schumpeter
yang menjelaskannya dari segi kurangnya inovasi untuk berinvestasi.

KELOMPOK TEORI OVERINVESTMENT


Inti dari teori-teori overinvestment adalah bahwa investasi yang selama
gelombang pasang selalu memang lebih besar daripada tabungan, dilakukan dengan
menggunakan kredit dari bank yang semakin lama semakin besar. Artinya, selama
gelombang pasang, pembentukan modal sendiri atau equity capital tertinggal
dibandingkan dengan kesempatan dan gairah investasi. Maka investasi dilakukan dengan
kadar kredit dari bank yang semakin lama semakin membengkak. Kesediaan dan
kemampuan bank tidak akan berkelanjutan tanpa batas. Pada suatu saat, kredit bank akan
berkurang. Dengan demikian investasi akan berkurang, dan krisis dimulai. Pemikiran ini
tampak jelas pada Machlup.
Antara lain Witteveen mengatakan bahwa selama kesempatan bisnis atau
kesempatan untuk investasi masih ada, walaupun investasi dibiayai oleh kredit bank pada
mulanya, peningkatan investasinya sendiri akan mengakibatkan kenaikan pendapatan
yang berganda lewat multiplier. Pendapatan yang meningkat akan membentuk pula
tabungan yang meningkat, dan tabungan ini akan cukup untuk menutup investasi yang
pada mulanya dibiayai dengan kredit bank. Maka selama kita masih belum mentok pada
salah satu faktor produksi, investasi bisa dilakukan terus.

5
Namun kelompok teori overinvestment menekankan bahwa walaupun kredit bank
bisa dipakai sebagai pembiayaan investasi, yang nantinya akan ditutup dengan tabungan
yang akan dibentuk, pasti akan ada faktor produksi yang menjadi kendala di dalam
gelombang pasang. Faktor produksi ini menjadi rerbutan dan harganya akan naik. Maka
untuk mempertahankan volume investasi, dibutuhkan lebih banyak lagi modal, karena
adanya peningkatan harga pada faktor-faktor produksi yang sudah menjadi langka.
Dengan demikian, kebutuhan akan pembiayaan oleh bank akan menjadi membengkak,
sehingga akhirnya banknya sendiri akan tersendat dalam kemampuannya. Bilamana
sumber pembiayaan bagi investasi ini tersendat, investasinya tentunya akan tersendat
pula, dan dengan menurunnya investasi, krisis dimulai. Jadi yang mentok akhirnya toh
berpulang pada faktor modal lagi.
Saya sendiri ingin menambahkan bahwa rentabilitas dari seluruh investasi tidak
selalu lebih tinggi dari tingkat suku bunga bank. Bilamana rentabilitas investasi atau
Return On Investment (ROI) lebih kecil dari tingkat suku bunga, perusahaan-perusahaan
yang memakai banyak kredit akan berguguran dengan kebangkrutan, atau dipaksa
menciutkan skala usahanya.

PERBEDAAN DASAR ANTARA KEDUA KELOMPOK TEORI KONJUNGTUR


Sekarang kita telaah lebih dalam, apa sebenarnya yang merupakan inti perbedaan
antara kelompok teori underconsumption dan kelompok teori overinvestment? Teori
overinvestment melihat bahwa cikal bakal krisis muncul selama gelombang pasang
sedang berlangsung, karena kuatnya keinginan untuk investasi, sehingga akhirnya
pertumbuhan investasi ini mentok pada pembiayaannya, yang selalu ditutup oleh kredit
bank. Kredit bank ini ada batasnya, sehingga pada saat pembiayaan oleh bank tersendat,
krisis terjadi. Oleh karena itu, kelompok teori ini berpendapat bahwa usaha
menghindarkan diri dari krisis harus dilakukan selama gelombang pasang sedang
berjalan. Tidak boleh ditunggu sampai krisis sudah terjadi. Bahkan banyak penganut teori
ini mengatakan bahwa apabila krisis sudah terjadi, kita tidak dapat berbuat lain kecuali

6
menyerahkan penyembuhannya pada proses alamiah yang sangat menyakitkan. Artinya,
kita tidak dapat berbuat lain kecuali membiarkan resesi ekonomi sampai mencapai titik
balik yang terendah, dan proses gelombang pasang dimulai lagi berdasarkan titik
keseimbangan baru yang terletak pada tingkat the lower turning point.
Pada kelompok teori underconsumption (seperti yang kita lihat tadi), cikal
bakalnya krisis adalah pertumbuhan konsumsi yang kurang sepadan dengan pertumbuhan
kapasitas produksi dari barang-barang konsumsi ini. Oleh karena itu, penanganan krisis
adalah dengan meningkatkan konsumsi setelah krisis terjadi.
Jadi pada teori underconsumption, krisis harus diatasi dengan meningkatkan
konsumsi. Pada teori overinvestment, krisis hendaknya diperlunak dengan cara
mengurangi konsumsi dan investasi, agar bisa memperbesar tabungan. Tindakannya pun
harus cukup dini selama gelombang pasang masih berlangsung. Kalau sudah terlambat,
tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali menjalani proses yang sangat menyakitkan.
Contoh bagi kita saat ini antara lain adalah mega proyek dalam bidang properti
yang mencapai jumlah puluhan milyar US$. Berapa besar yang sudah dibangun setengah
jalan? Kalau diteruskan tidak ada uangnya. Kalau dihentikan akan menjadi besi tua.
Inilah antara lain yang saya artikan dengan proses yang menyakitkan.
Kita lihat dengan jelas bahwa terapi yang disajikan oleh teori underconsumption
bertolak belakang dengan terapi yang disajikan oleh teori overinvestment. Baik instrumen
yang dipakai maupun timing penanganannya. Maka pertanyaan yang paling krusial
adalah teori manakah yang pada saat ini kira-kira berlaku bagi Indonesia? Teori
underconsumption atau teori overinvestment? Sebelum menelusuri lebih dalam, kita
teropong terlebih dahulu hubungan antara kedua kelompok teori ini dengan struktur
ekonomi makro kita, karena teori mana yang berlaku bagi sesuatu negara dalam suatu
kurun waktu tertentu, sangat banyak ditentukan oleh struktur ekonomi makronya yang
berlaku dalam kurun waktu yang bersangkutan.

7
STRUKTUR DAN KONJUNGTUR
Dalam analisa tulisan ini yang diartikan dengan struktur adalah perbandingan
antara modal dan tenaga kerja. Kegiatan ekonomi atau investasi dan produksi tidak lain
adalah mengkombinasikan faktor produksi tenaga manusia dan modal untuk mengolah
alam menjadi barang-barang konsumsi dan alat-alat produksi. Jarang sekali terjadi bahwa
untuk jangka waktu yang cukup lama, jumlah tenaga kerja yang tersedia tepat cukup
untuk dikombinasikan dengan jumlah modal yang ada.
Untuk periode yang cukup lama, modal lebih banyak daripada tenaga kerja yang
tersedia. Struktur yang demikian kita namakan STRUKTUR LANGKA TENAGA
KERJA. Keadaan yang sebaliknya adalah bahwa kita selalu kekurangan modal untuk
dapat menciptakan lapangan kerja bagi seluruh angkatan kerja. Struktur ini kita namakan

STRUKTUR LANGKA MODAL.


Witteveen berpendapat bahwa dengan struktur langka modal, yang berlaku adalah
teori-teori overinvestment. Dalam kurun waktu yang ditandai oleh struktur langka tenaga
kerja, yang berlaku adalah teori underconsumption. Tanpa penelahaan lebih dalam,
hubungan ini memang logis. Kurang modal berarti faktor ini yang akan mentok terlebih
dahulu. Jadi klop dengan overinvestment seperti yang tergambarkan tadi. Kurang tenaga
manusia berarti kurang mulut yang berkonsumsi. Jadi klop dengan underconsumption.
Kita melihat bahwa pada teori underconsumption, struktur yang melandasi
penyebab krisis adalah tiadanya kesempatan untuk menginvestasikan tabungan, karena
faktor tenaga kerja sudah terpakai habis. Dalam struktur yang ditandai oleh langka modal,
kita dihadapkan pada kecenderungan yang kuat dan terus menerus untuk melakukan
investasi agar bisa memberikan lapangan kerja kepada penduduknya. Kecenderungan
yang kuat ini lalu dipaksakan dengan pembiayaan-pembiayaan melalui kredit bank.
Seperti telah diuraikan diatas, pembiayaan semacam ini tidak bisa berkelanjutan tanpa
batas. Kredit bank akan tersendat, dan biaya-biaya investasi akan meningkat.

APA YANG BERLAKU UNTUK INDONESIA?


Tanpa penelitian lebih lanjut, rasanya bagi Indonesia, seperti halnya dengan
negara-negara berkembang lainnya, struktur pada umumnya adalah langka modal. Maka
yang berlaku rasanya adalah teori overinvestment. Berdasarkan teori ini, tidak akan
banyak manfaatnya untuk meningkatkan investasi terus dengan memompa atau
memperbesar daya beli masyarakat, karena krisis terjadi justru disebabkan oleh
overinvestment. Yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah sekedar supaya resesi tidak
menjadi terlampau parah. Secara mental kita harus sudah siap dengan proses alamiah
untuk mencapai keseimbangan baru. Yang dapat dilakukan adalah tight money policy,
penjadwalan kembali proyek-proyek besar tanpa pandang bulu milik siapa proyek itu,
pengendalian kredit komersial dari luar negeri. Pokoknya mengerem investasi. Dengan
mengerem investasi kita memang memasuki resesi yang akan merupakan proses yang
menyakitkan, tetapi tidak bisa kita hindarkan. Ini adalah biaya yang dari waktu ke waktu
harus kita bayar karena kita ingin memiliki ekonomi yang tidak sentralistik dan tidak
otoriter. Maka kita harus menghadapi resesi yang kita masuki sekarang ini dengan tenang
dan wajar, karena gelombang ekonominya sedang surut. Kita berkonsolidasi untuk boom
yang pasti akan datang setelah kita mencapai the lower turning point.
Yang perlu ditegakkan adalah konsistensi dalam pelaksanaan dan disiplin baja
tanpa pilih kasih. Yang perlu dipantau dan diantisipasi adalah perubahan kondisi
psikologi massa yang setiap saat mendadak bisa mencapai momentumnya, agar theory of
the rational expectation yang negatif tidak terjadi. Pemerintah perlu siap dengan
gebrakan-gebrakan psikologis bilamana sewaktu-waktu nanti diperlukan