Anda di halaman 1dari 6

III.

DINAMIKA KERAK BUMI

Bumi merupakan planet yang sangat dinamis., artinya bumi selalu


megalami perubahan. Perubahan tersebut disebabkan oleh proses-proses yang
bekerja pada bumi ini
Proses-proses yang merubah bentuk permukaan bumi dapat dibagi
menjadi 2 macam, yaitu proses yang merusak dan membangun permukaan
bumi. Proses yang pertama merupakan proses yang terjadi pada permukaan
bumi, yaitu proses pelapukan dan erosi. Proses tersebut, walaupun berjalan
sangat lambat tetapi berlangsung terus menerus, menyebabkan permukaaan
bumi secara perlahan menjadi rata. Sedangkan proses yang membangun
permukaan bumi umumnya disebabkan oleh gaya-gaya yang berasal dari dalam
bumi seperti aktivitas gunungapi dan pembentukan pegunungan. Proses tersebut
menyebabkan permukaan bumi menjadi bertambah tinggi. Hubungan antara
proses-proses tersebut dan sifat kedinamikan bumi, meskipun sudah diketahui
sejak lama, tetapi belum ditemukan suatu hipotesa yang masuk akal untuk
menceritakan tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada bumi. Sampai
pada awal abad ke 20 muncullah suatu pendapat yang mengatakan tentang
pemisahan atau pemekaran dari daratan (kontinen) di permukaan bumi. Setelah
lebih dari 50 tahun dengan terkumpulnya data-data yang mendukung hipotesa
tersebut untuk beralih menjadi suatu teori. Teori tersebut disebut teori tektonik
lempeng (plate tectonic). Teori yang akhirnya meluas tersebut merupakan
sebuah model yang konprehensif tentang kegiatan yang terjadi di dalam bumi.
Model tektonik lempeng menyebutkan bahwa kerak bumi ini disusun oleh
lempeng-lempeng yang besar dan kaku. Kerak bumi sendiri dibedakan menjadi
kerak benua (continental crust), yaitu kerak bumi yang menyusun daratan atau
benua (kontinen), dan kerak samudera (oceanic crust), yaitu kerak bumi yang
menyusun lantai dasar samudera. Kerak benua dan kerak samudera sering juga
disebut lempeng benua dan lempeng samudera. Lempeng-lempeng tersebut
selalu bergerak walaupun sangat lambat. Pergerakan ini disebabkan karena

adanya perbedaan distribusi panas di bawah kerak bumi (mantel bumi). Panas
yang sangat tinggi yang terdapat pada tempat yang lebih dalam akan bergerak
naik ke tempat yang temperaturnya lebih rendah dan akan menyebar secara
lateral. Penyebaran panas secara lateral inilah yang mengakibatkan bergeraknya
lempeng-lempeng penyusun kerak bumi. Pergerakan dari lempeng-lempeng
kerak bumi ini menyebabkan terjadinya gempa bumi, aktivitas gunungapi, dan
deformasi batuan penyusun kerak bumi yang menbentuk pegunungan.
Karena setiap lempeng bergerak sebagai unit yang berbeda, maka
interaksi yang sangat besar terjadi pada pertemuan antara lempeng-lempeng
tersebut. Batas-batas antara lempeng-lempeng penyusun kerak bumi merupakan
jalur aktivitas gunungapi (vulkanik) dan gempa bumi. Ada tiga macam batas
pertemuan lempeng-lempeng tersebut yang dipisahkan berdasarkan jenis
pergerakannya dan setiap lempeng akan dibatasi oleh kombinasi ketiga macam
batas tersebut. Ke tiga macam batas pertemuan lempeng-lempeng penyusun
kerak bumi tersebut adalah

(gambar 2):

1. Batas divergen, zona dimana lempeng-lempeng saling memisahkan diri


(saling menjauh), meninggalkan ruang diantaranya.
2. Batas konvergen, zona dimana lempeng-lempeng bergerak saling
mendekati sehingga terjadi tumbukan antara keduanya. Kejadian ini dapat
menyebabkan lempeng yang satu menunjam di bawah lempeng lainnya
atau hanya tumbukan yang menyebabkan bagian ini akan terangkat
bersama-sama.
3. Batas transform fault, zona dimana lempeng-lempeng bergerak saling
melewati antara satu lempeng dengan lempeng lainnya (bergeseran).
Pemisahan lempeng (divergen) terutama terjadi pada lempeng samudera
(oseanik), karena lempeng ini relatif lebih tipis daripada lempeng benua
(kontinen). Pada saat lempeng samudera mengalami pemisahan, celah yang
terbentuk di antara keduanya akan diisi oleh material cair yang panas yang
berasal dari astenosfer (gambar 3). Material tersebut perlahan-lahan akan
mendingin dan membentuk potongan baru lantai dasar samudera.

Gambar 2. Batas-batas pertemuan


lempeng tektonik
A. Batas divergen
B. Batas konvergen
C. Batas transform fault

Proses tersebut di atas berlangsung terus menerus sehingga terjadi


penambahan kerak samudera di antara lempeng-lempeng yang bergerak saling
menjauh. Mekanisme pergerakan ini disebut

pemekaran lantai dasar

samudera (sea floor spreading). Lantai dasar Samudera Atlantik terbentuk


sejak 200 juta tahun yang lalu dengan pergerakan rata-rata sekitar 5 sentimeter
setiap tahun, walaupun pergerakannya antara satu tempat dengan tempat
lainnya sangat bervariasi. Pergerakan tersebut sepertinya sangat perlahan,
tetapi bila dibandingkan dengan umur bumi, maka pergerakan yang hanya
sekitar 5 % dari sekala waktu geologi, pembentukan Samudera Atlantik relatif
cepat.
Meskipun terjadi penambahan pada kerak samudera, tetapi luas kerak
bumi relatif tetap (konstan), karena disisi lain terjadi proses penghancuran kerak
tersebut. Proses penghancuran kerak bumi terjadi pada batas lempeng yang
konvergen. Pada saat terjadi pergerakan pada batas yang konvergen , ujung
atau tepi yang satu dari lempeng tersebut akan menunjam di bawah lempeng
lainnya. Peristiwa ini terjadi apabila kerak benua bertemu dengan kerak
samudera. Kerak samudera yang disusun oleh batuan yang berat jenisnya lebih
besar daripada berat jenis kerak benua akan menunjam di bawah kerak benua.
Zona penunjaman ini disebut zona subduksi (subduction zone) (gambar 4).
Selain itu pada pertemuan kedua lempeng tersebut akan terbentuk bagian laut
yang sangat dalam yang disebut palung laut.

Pada zona subduksi, bagian dari kerak samudera yang menunjam ke


bawah akan memasuki suatu zona dengan lingkungan tekanan dan temperatur
yang tinggi. Hal ini mengakibatkan batuan penyusunnya akan mengalami
peleburan atau pencairan dan membentuk magma. Magma yang terbentuk akan
bermigrasi ke atas dan masuk ke dalam kerak yang tertekuk. Magma yang
bermigrasi

tersebut

dapat

juga

mencapai

permukaan

bumi,

sehingga

mengakibatkan terjadinya erupsi gunungapi.

Gambar 3 Pembentukan kerak


samudera pada pemekaran lantai
dasar samudera

Gambar 4. Pembentukan zona subduksi dan


palung laut pada pertemuan lempeng konvergen

Batas transform fault, batas lempeng-lempeng yang saling bergesekan


tidak menghasilkan atau menghancurkan bagian kerak bumi. Pergeseran
tersebut akan membentuk sesar-sesar di sekitarnya. Sesar yang terbentuk
tersebut searah dengan pergerakan lempeng-lempeng yang bergesekan, yang
pada awalnya diketahui berasosiasi dengan pergeseran pada punggungan lantai
dasar samudera. Meskipun kebanyakan transform fault terjadi pada kerak
samudera, tetapi ada pula yang terjadi pada pertemuan antara kerak samudera
dengan kerak benua. Sesar San Andreas di California, merupakan contoh yang
sangat terkenal dari pertemuan lempeng jenis ini. Pada sesar ini lempeng
Samudera Pasifik bergerak ke arah utara bergesekan dengan lempeng benua
Amerika Utara. Pergerakan ini biasanya tidak dapat dipantau, tetapi setelah
proses tersebut, terjadilah pelepasan tenaga yang besar dengan tiba-tiba pada
kedua sisinya, sehingga mengakibatkan terjadinya gempa bumi. Oleh sebab itu
pantai barat Amerika Serikat terutama di Kalifornia sering terjadi gempa bumi.
Gempa bumi terakhir yang hebat terjadi pada tahun 1989 yang merusakkan
daerah San Fransisco. Dengan data yang ditemukan sekarang telah diketahui
bahwa

interaksi

antara

lempeng-lempeng

tektonik

di

sepanjang

batas

pertemuannya berhubungan erat dengan aktivitas gunungapi, gempa bumi, dan


proses pembentukan pegunungan. Selanjutnya pergerakan batas lempeng ini
tidak tetap sepanjang masa. Bila terjadi pemekaran kembali pada kerak benua
yang sekarang stabil, maka akan terbentuk suatu cekungan laut yang baru.
Sebaliknya pada lempeng-lempeng yang saling bertemu, akan dapat membentuk
lempeng superkontinen yang baru pula. Pada pertemuan kerak benua dan kerak
benua, batuan sedimen yang terakumulasi sangat tebal pada batas lempenglempeng tersebut akan mengalami pengangkatan dan membentuk suatu deretan
pegunungan yang sangat tinggi.
Selama temperatur di bumi bagian dalam masih tetap lebih tinggi daripada
temperatur di bagian bumi yang dekat permukaan, material cair di dalam bumi
akan terus bergerak. Selanjutnya pergerakan di dalam bumi menyebabkan kerak
bumi terus bergerak. Jadi selama bagian bumi masih tetap panas, posisi dan

bentuk dari samudera dan benua akan terus mengalami perubahan, dan bumi
masih merupakan planet yang dinamik.
Pada

awal

munculnya

pendapat-pendapat

tentang

bumi,

selain

dinyatakan bahwa bumi adalah bulat, juga dinyatakan bahwa bumi merupakan
suatu benda yang padat dan kaku yang tidak mudah mengalami perubahan.
Sedangkan benua atau daratan yang berada di atasnya tidak bergerak dan tetap
tinggal pada tempatnya.
Konsep mengenai kerak bumi merupakan massa yang dinamik dapat dibagi
menjadi tiga tahap:
1. Tahap awal oleh Owen dan Snider
2. Tahap pertengahan oleh Alfred Wegener
3. Tahap modern: Tektonik Lempeng

Teori Klasik mengenai dinamika kerak bumi


1. Teori Kontraksi
2. Teori Aliran Konveksi
3. Teori Geosinklin
4. Teori Undasi
5. Teori Pengapungan Benua