Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pesatnya perkembangan teknologi pada era modern bertujuan untuk
mempermudah pekerjaan manusia. Di bidang pertanian berbagai pemikiran yang
lebih efisien dikembangkan untuk mempercepat proses pekerjaan, dengan
menggunakan bantuan tenaga mesin. Sasaran ideal pembangunan sektor pertanian
kita saat ini adalah terwujudnya sistem pertanian yang berkelanjutan (sustainable
agriculture).
Beras merupakan makanan pokok bagi rakyat Indonesia. Proses
pengolahan beras dimulai dari penyabitan pada pasca panen, perontokan padi, lalu
pengeringan dan penggilingan padi. Mula-mula setelah padi dipanen, bulir padi
atau gabah dipisahkan dari jerami. Pemisahan dilakukan dengan memukulkan
seikat padi sehingga gabah terlepas atau dengan bantuan mesin pemisah gabah.
Gabah yang terlepas lalu dikumpulkan dan dikeringkan. Dalam hal ini proses
pengeringan gabah merupakan salah satu faktor penentu kualitas beras. Hal ini
dikarenakan gabah pada awalnya dalam keadaan basah dan harus dikeringkan
terlebih dahulu agar kadar air gabah sesuai dengan standar yang disesuaikan.
Proses pengolahan beras memakan waktu yang cukup lama, salah satu kendala
yang sering dihadapi adalah proses pengeringan padi. Begitu juga kendala dalam
pasca panen padi yang sering dialami oleh para petani yaitu anjloknya harga
gabah bila panen jatuh pada musim penghujan.
Hal tersebut terjadi akibat gabah yang dipanen tidak dapat langsung
dijemur karena keterbatasan lantai jemur dan mendungnya sinar matahari atau
terkena hujan. Selain itu, pada waktu panen yang bersamaan, gabah yang telah
dipanen volumenya sangat banyak dan menjadi bertumpuk sehingga pengeringan
memakan waktu yang cukup lama. Gabah dalam keadaan basah hanya mampu
disimpan maksimal 36 s.d 48 jam dan harus cepat dikeringkan agar tidak terjadi
kerusakan. Akibat pengeringan padi yang tidak optimal maka kualitas beras akan
turun dan sekaligus akan menurunkan harga beras itu sendiri. Kadar air padi
1

panen dari sawah umumnya masih cukup tinggi, sekitar 20% s.d 26%. Pada
tingkat kadar air tersebut, padi tidak aman disimpan karena biji padi dapat tumbuh
kembali menjadi benih. Agar padi aman disimpan, padi perlu dikeringkan hingga
mencapai kadar air seimbang yaitu 14% (Keputusan Bersama Kepala Badan
Bimas Ketahanan Pangan No. 04/SKB/BBKP/II/2002). Oleh karena itu
dibutuhkan suatu proses pengeringan dengan sumber panas buatan yang dapat
diatur untuk mencapai panas yang konstan. Lama pengeringan dengan sinar
matahari yang normal rata-rata berkisar 8 jam tergantung pada intensitas panas
matahari dan setiap dua jam harus dibalikkan atau diaduk. Padi hasil panen dapat
pula dikeringkan dengan mengunakan "Mesin Pengering Padi" atau dryer.
Mesin Pengering dirancang untuk membandingkan efisiensi waktu
pengering antara Mesin Pengering Pengaduk sehingga waktu yang dibutuhkan
untuk mengeringkan lebih cepat dan lebih praktis dan hasil pengeringan lebih
baik.
Bertolak dari hal di atas, maka penulis tertarik untuk merencanakan dan
membuat proyek tugas akhir dengan judul "Rancang Bangun Mesin Pengering
Padi Kapasitas 50 kg/jam". Mesin ini juga dirancang untuk membantu petani
mengeringkan gabah dengan lebih efisien dan efektif dibandingkan dengan cara
lama. Dengan adanya mesin tersebut, penulis mengharapkan semoga mesin
tersebut dapat memberikan banyak manfaat bagi petani.
B. Identifikasi masalah
Berdasarkan latarbelakang masalah diatas dapat diidentifikasi beberapa
masalah, diantaranya:
1. Berapa sumber tenaga penggerak mesin pengering padi.
2. Berapa dimensi mesin pengering padi yang nyaman bagi penggunanya.
3. Bagaimana tingkat keamanan mesin pengering padi bagi penggunanya
C.Batasan Masalah
Dengan memperhatikan berbagai masalah yang ada dan luasnya masalah
yang dihadapi pada mesin pengering kopi maka penulis memfokuskan pada
masalah spesifikasi mesin pengering padi yang nyaman bagi penggunanya dengan
2

kapasitas 50kg/jam, perawatan dan perbaikan mesin,dan analisa biaya pembuatan


mesin pengering padi
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah tersebut maka dapat ditarik rumusan
masalah yaitu:
1. Bagaimana spesifikasi dari mesin pengering padi yang nyaman bagi
penggunanya?
2. Bagaimana perawatan dan perbaikan mesin pengering padi?
3. Berapa biaya pembuatan mesin pengering padi?
E. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari perancangan mesin
pengering padi adalah:
1. Untuk mengetahui spesifikasi dari mesin pengering padi yang nyaman
bagi penggunanya.
2. Untuk mengetahui bagaimana perawatan dan perbaikan mesin pengering
padi
3. Untuk mengetahui Berapa biaya pembuatan mesin pengering padi
F. Manfaat Penulisan
Adapun laporan tugas akhir ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Masyarakat yang membutuhkan mesin ini dalam menunjang
kegiatan usaha dibidang pertanian khususnya pertanian padi;
2. Para pembaca, khususnya yang ingin mengetahui dan
mengembangkan hasil kerja mesin pengering padi;
3. Penulis sendiri, untuk menambah pengetahuan dan
mengembangkan ilmu yang didapat baik secara teori maupun
secara praktik;
4. Waktu yang dibutuhkan untuk pengeringan lebih efisien;

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tanaman Padi

Padi merupakan tanaman pangan dan termasuk dalam keluarga (famili)


rumput berumpun (gramineaceae). Tanaman pertanian kuno berasal dari dua
benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Padi memiliki nama
ilmiah Oryza sativa. Tanaman padi memiliki ciri-ciri diantaranya berakar serabut,
daun sempit memanjang, urat daun sejajar, memiliki pelepah daun, serta buah dan
biji sulit dibedakan karena merupakan bulir (grain) atau kariopsis.
Padi tersebar luas di seluruh dunia dan tumbuh di hampir semua bagian
dunia yang memiliki cukup air dan suhu udara cukup hangat. Padi menyukai
tanah yang lembab dan becek. Sejumlah ahli menduga, padi merupakan hasil
evolusi dari tanaman moyang yang hidup di rawa. Pendapat ini berdasar pada
adanya tipe padi yang hidup di rawa-rawa (dapat ditemukan di sejumlah tempat di
Pulau Kalimantan), kebutuhan padi yang tinggi akan air pada sebagian tahap
kehidupannya dan adanya pembuluh khusus di bagian akar padi yang berfungsi
mengalirkan oksigen ke bagian akar.
Oryza sativa terdiri atas dua varietas yaitu varietas indica dan japonica.
Varietas japonica umumnya berumur panjang, postur tinggi namun mudah rebah,
paleanya memiliki bulu, bijinya cenderung panjang, sedangkan varietas indica
berumur lebih pendek, postur lebih kecil, paleanya tidak memiliki bulu atau
berukuran pendek, dan bentuk biji cenderung oval. Walaupun kedua varietas dapat
saling membuahi, persentase keberhasilannya tidak tinggi. Contoh terkenal dari
hasil persilangan ini adalah kultivar IR8, yang merupakan hasil seleksi dari
persilangan varietas japonica. Selain kedua varietas ini, dikenal pula sekelompok
padi yang tergolong varietas minor javanica yang memiliki sifat antara dari kedua
varietas utama di atas. Varietas javanica hanya ditemukan di Pulau Jawa.
Budidaya padi yang telah berlangsung lama telah menghasilkan berbagai
macam jenis padi akibat seleksi dan pemuliaan yang dilakukan orang yang
bertujuan untuk meningkatkan kualitas.
Setelah padi dipanen, bulir padi atau gabah dipisahkan dari jerami padi.
Pemisahan dilakukan dengan memukulkan seikat padi sehingga gabah terlepas
atau dengan bantuan mesin pemisah gabah. Gabah yang terlepas lalu dikumpulkan
dan dijemur. Pada zaman dulu, gabah tidak dipisahkan lebih dulu dari jerami,

akan tetapi gabah dijemur bersama dengan merangnya. Penjemuran biasanya


memakan waktu tiga sampai tujuh hari, tergantung kecerahan penyinaran
matahari. Penggunaan mesin pengering jarang dilakukan. Istilah "Gabah Kering
Giling" (GKG) mengacu pada gabah yang telah dikeringkan dan siap untuk
digiling. Gabah merupakan bentuk penjualan produk padi untuk keperluan ekspor
atau perdagangan partai besar. Gabah yang telah kering disimpan atau langsung
ditumbuk/digiling, sehingga beras terpisah dari sekam (kulit gabah).

Sumber : www.google.com/gambar-padi.

Gambar 1. Tanaman Padi


B. Gabah
Suatu proses gabah menjadi beras memiliki beberapa tahapan, dimulai
dari pemanenan, perontokan, pengeringan dan penggilingan. Tiap-tiap tahapan ini
sangatlah berbeda penanganannya satu sama lain, pada saat pemanenan biasanya
petani menggunakan arit (sabit) dimana mereka bekerja sama dalam memanen
sawah mereka ataupun mengupahkannya kepada orang. Pada saat perontokan,
petani pada saat ini sudah mampu menggunakan mesin sebagai alat bantu, dimana

sebelumnya petani merontokkan gabah dengan cara memukul gabah ke kayu yang
disusun sedemikian rupa, dengan menggunakan mesin tentunya perontokan akan
semakin mudah dan cepat, untuk melakukan pengeringan gabah petani biasanya
langsung menjemur gabah dipanas matahari, dimana waktu pengeringan dengan
cara seperti itu akan memakan waktu yang relatif lama biasanya dua hari, pada
tahap penggilingan mereka akan membawa gabah yang sudah dikeringkan ke
kilang padi.
Sumber : www.google.com/gambar-gabah

Gambar 2. Gabah
Jumlah kandungan air pada gabah disebut kadar air dan dinyatakan
dengan persen (%). Karena tingginya kandungan air gabah maka perlu dilakukan
pengeringan, dimana pada umumnya kadar air gabah mencapai 20% s.d 26% ini

bergantung cuaca pada saat pemanenan.


Pengeringan gabah adalah suatu perlakuan yang bertujuan menurunkan
kadar air sehingga gabah dapat disimpan lama, daya kecambah dapat
dipertahankan, mutu gabah dapat dijaga agar tetap baik (tidak kuning, tidak
berkecambah dan tidak berjamur), memudahkan proses penggilingan dan untuk
meningkatkan rendemen serta menghasilkan beras gilingan yang baik.
Pengeringan merupakan salah satu kegiatan pascapanen yang penting,
dengan tujuan agar kadar air gabah aman dari kemungkinan berkembangbiaknya
serangga dan mikroorganisme, seperti jamur dan bakteri. Pengeringan harus
sesegera mungkin dimulai sejak saat dipanen. Apabila pengeringan tidak dapat
dilangsungkan, maka usahakan agar gabah yang masih basah tidak ditumpuk
7

tetapi ditebarkan untuk menghindarkan dari kemungkinan terjadinya proses


fermentasi. Pengeringan akan semakin cepat apabila ada pemanasan, perluasan
permukaan gabah padi dan aliran udara.
Adapun tujuan pengeringan disamping untuk menekan biaya transportasi
juga untuk menurunkan kadar air dari 23% s.d 26% menjadi 14% (Keputusan
Bersama Kepala Badan Bimas Ketahanan Pangan No. 04/SKB/BBKP/II/2002),
agar dapat disimpan lebih lama serta menghasikan beras yang berkualitas baik dan
kadar air untuk pengilingan adalah 12%. Proses pengeringan gabah sebaiknya
dilakukan secara merata, perlahan-lahan dengan suhu yang tidak terlalu tinggi
yaitu 30oC s.d 40oC. Pengeringan yang kurang merata, akan menyebabkan
timbulnya retak-retak pada gabah dan sebaliknya gabah yang terlalu kering akan
mudah pecah saat digiling, sedangkan dalam kondisi yang masih terlalu basah
disamping sulit untuk digiling juga kurang baik ditinjau dari segi penyimpanannya
karena akan mudah terserang hama gudang, cendawan, dan jamur.
C. Mutu Beras
Beras yang dijual di pasar bermacam-macam jenisnya dan berbeda-beda
pula mutunya. Berikut dikemukakan secara umum kriteria dan pengertian mutu
beras yang meliputi mutu pasar, mutu rasa, mutu tanak. Tinggi rendahnya mutu
beras bergantung pada beberapa faktor, yaitu spesies dan varietas, kondisi
lingkungan, waktu dan cara pemanenan, metode pengeringan, dan cara
penyimpanan. Di Indonesia, tingkat mutu didasarkan antara lain pada kesepakatan
oleh sebagian besar pedagang beras. Tingkatan mutu yang berlaku di masyarakat
sangat beragam.
Berikut ini beberapa ciri yang sering menjadi dasar pengelompokan beras yaitu :
1. Asal daerah, seperti beras Cianjur, beras Solok, beras Delanggu dan
beras Bayuwangi.
2. Varietas padi, misalnya beras Rojolele, beras Bulu dan beras IR.
3. Cara prosesing, dikenal beras tumbuk dan beras giling.
4. Gabungan antara varietas dengan hasil penyosohan pada derajat yang
berbeda, yang berlaku untuk suatu daerah. Misalnya di Jawa Tengah

dikenal beras TP, SP dan BP; di Jawa Barat dikenal beras TA, BGA,
dan TC.
Berikut dikemukakan secara umum kriteria dan pengertian mutu beras meliputi :
1. Mutu Pasar
Mutu beras di pasaran umumnya berkaitan langsung dengan harganya.
Setidaknya, harga merupakan patokan yang dapat dipergunakan sebagai
pedoman bagi penjual dan pembeli. Dalam kaitan ini, Badan Urusan Logistik
(Bulog) telah menetapkan ciri-ciri untuk menetapkan mutu beras yang akan
dibeli oleh ba
dan tersebut. Ketentuan mutu tersebut hanya terbatas dalam hubungannya
dengan Bulog dan tidak berlaku secara luas dalam perdagangan bebas.
Tabel 1. Persyaratan Beras untuk Pengadaan di Dalam Negeri
No.

Komponen

Ketentuan
14 %

1.

Kadar air

2.

Derajat sosoh minimum

90 %

3.

Butir patah maksimum

35 %

4.

Butir menir maksimum

2%

5.

Butir mengapur maksimum


Butir kuning /Rusak maksimum
Butir merah maksimum
Butir asing maksimum
Butir gabah (Butir/100 gr)

6.
7.
8.
9.

3%
3%
3%
0,05 %
2

Sumber : Bulog, 1983

Persyaratan mutu beras yang ditentukan oleh Bulog dapat


dikelompokkan menjadi dua, yaitu persyaratan kualitatif dan persyaratan
kuantitatif. Persyaratan kualitatif ditentukan secara subjektif yang meliputi
bau, suhu, hama penyakit, dan bahan kimia. Persyaratan tersebut tidak dapat

ditentukan dalam satu satuan, tetapi dinyatakan dengan membandingkan


terhadap contoh. Bau beras yang tidak disenangi adalah bau apek dan bau
alkoholik. Bau apek terutama disebabkan oleh hasil perusakan minyak, bau
asam dan alkoholik disebabkan oleh hasil fermentasi gula. Pengujian bau
dilakukan dengan membandingkan terhadap contoh yang ditetapkan atau
pembanding lainnya.
Disyaratkan bahwa pada semua tingkatan mutu, sampel tidak boleh
mengandung tanda-tanda keberadaan hama atau penyakit hidup, telur,
kepompong, atau jamur baik dalam bentuk spora maupun miselia.
Pengamatan dapat dilakukan secara langsung atau dengan kaca pembesar.
Pada ketentuan mengenai mutu beras juga dipersyaratkan bahwa beras tidak
boleh mengandung sisa-sisa obat antiserangga atau obat antijamur serta bahan
kimia lainnya. Keberadaan bahan kimia ini dapat ditentukan dengan
pembauan. Persyaratan kuantitatif beras yang ditetapkan oleh Bulog,
sebagian besar menyangkut akibat perlakuan-perlakuan lepas panen
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29676/4/Chapter%20II.pdf)
2. Komposisi Gizi
Beras merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat
Indonesia. Beras sebagai bahan makanan mengandung nilai gizi cukup tinggi
yaitu kandungan karbohidrat sebesar 360 kalori, protein sebesar 6,8 gr, dan
kandungan mineral seperti kalsium dan zat besi masing-masing 6 dan 0,8 mg.
Komposisi kimia beras berbeda-beda bergantung pada varietas dan cara
pengolahannya. Selain sebagai sumber energi dan protein, beras juga
mengandung berbagai unsur mineral dan vitamin (Lihat Tabel 1). Sebagian
besar karbohidrat beras adalah pati (85% s.d 90 %) dan sebagian kecil adalah
pentosa, selulosa, hemiselulosa, dan gula. Dengan demikian, sifat fisikokimia
beras ditentukan oleh sifat sifat fisikokimia patinya.
Tabel 2. Komposisi Gizi Beras Giling dan Nasi dari Beras

Giling

(dalam 100 gr bahan)

10

No

Komposisi Gizi

Beras

Nasi
178

1.

Energi (Kal)

Giling
360

2.

protein (gr)

6,8

2,1

3.

lemak (gr)

0,7

0,1

4.

Karbohidrat (gr)

78,9

40,6

5.

Kalsium (mg)

140

22

0,8

0,5

6.
7.

fosfor (mg)
besi (mg)

8.

Vitamin A (SI)

9.

Vitamin B1 (mg)

0,12

0,02

10

Vitamin C (mg)

.
11.

air (gr)

13

57

Sumber : Direktorat Gizi, Depkes RI, 1992

3. Kadar Air
Kadar air dalam beras yang ditimbun merupakan sifat yang paling
dominan mempengaruhi daya tahan beras untuk ditimbun tanpa menjadi
rusak, busuk dan diserang oleh hama gudang. Beras dengan kadar air kurang
dari 14% akan lebih aman disimpan, sedangkan beras dengan kadar air lebih
dari 14% akan menyebabkan metabolisme mikroba dan perkembangbiakan
serangga berjalan cepat. Penyimpanan pada suhu rendah akan lebih aman
dibandingkan pada suhu tinggi. Beras giling akan mengalami perubahan rasa
11

dan aroma jika disimpan pada suhu 15oC selama 3 s.d 4 bulan. Beras yang
dibungkus dengan kantung plastik dan disimpan pada suhu 8,5oC s.d 13oC
masih mempunyai aroma dan rasa yang baik setelah disimpan lebih dari 7
bulan.
D. Alat Pengering
Berbagai aspek pemikiran mengenai pengering padi telah banyak
dilakukan untuk memperoleh hasil yang optimal. Adupun jenis-jenis pengering
padi di pasaran adalah sebagai berikut :
1. Bed Drier
Gabah kering sawah dihampar di atas tray (empat persegi panjang)
bagian bawah tray diberikan hembusan udara panas , biasa menggunakan
bahan bakar minyak dengan sistem direct drying, diperlukan tenaga
manual untuk selalu membalik hamparan gabah diatas tray agar didapat
hasil pengeringan yang merata.

Sumber : www.google.com/alat-pengering-padi-tipe-bed-drier

Gambar 3. Bed Drier


2. Tower Drier
Menara pengering dikenal sebagai LSU Drier (hasil
pengembangan Lousiana State University), gabah basah dengan bucket
elevator dinaikkan dan dituang dibagian atas menara, gabah yang jatuh
melalui kisis miring merupakan tirai gabah dan dari bawah diberi
hembusan udara panas, proses diulang-ulang sampai kadar air yang
diinginkan tercapai, energi pengeringan umumnya menggunakan bahan
bakar minyak, mesin pengering ini hanya terjangkau pengusaha menengah
keatas atau umumnya merupakan bantuan dari Pemerintah.

12

Kedua jenis mesin pengering gabah tersebut kurang diminati


masyarakat petani karena berbagai alasan ekonomis antara lain :
a. Harga mesin relatif mahal menurut ukuran petani (lebih dari Rp 100
juta model Tower);
b. Biaya pengeringan mahal karena menggunakan bahan bakar minyak
tanah;
Saat ini hampir semua mesin pengering gabah baik investai oleh
petani maupun bantuan pemerintah tidak dioperasikan karena mahalnya
minyak tanah, atau sebagian dioperasikan dengan membeli secara
sembunyi sembunyi minyak tanah bersubsidi dan apabila dibiarkan akan
menjadi monumen atau besi tua. Unit mesin pengering model tower ini
mengkonsumsi 15 sampai dengan 17 liter minyak tanah per jam.

Sumber : www.google.com/pengering-padi-tipe-tower-drier

Gambar 4. Tower Drier


3. Pengeringan Matahari
Proses pengeringan gabah tradisional dengan matahari (sun drying)
adalah proses pengeringan yang paling banyak dilakukan , baik oleh petani
gabah (untuk dijual sebagai gabah kering atau untuk disimpan sebagai
tabungan dalam lumbung gabah), biaya pengeringan bervariasi dan sangat
tergantung pada kondisi cuaca.
a. Biaya langsung pengeringan/jemur matahari Rp. 50/kg gabah
(kemarau);
b. Biaya langsung pengeringan/jemur matahari Rp.150,-/kg gabah
(hujan);
c. Biaya investasi lantai jemuran 150 m2 (kap 1 ton/hari) Rp 15 juta
(belum termasuk harga tanah).

13

Untuk menekan biaya investasi kadang kala gabah (tentu dalam


jumlah kecil) dijemur diatas hamparan anyaman bambu (sesek) atau terpal.

Sumber :

www.google.com/pengeringan-gabah

Gambar 5. Penjemuran Pada Lantai dan Tikar


E. Teori Pengeringan
Proses pengeringan adalah proses menurunkan kadar air suatu bahan
sampai pada batas kandungan air yang ditentukan. Dalam wet basis, jumlah
(massa) air yang diuapkan dihitung berdasarkan selisih massa mula-mula (mw1)
dan massa air akhir (mw2).
mw = mw1 - mw 2 .... (petrachristianuniversitylibrary.com.2007)
Dimana :
mw = massa air yang diuapkan pada proses pengeringan (kg)
mw1

= massa air mula-mula (kg)

mw 2

= massa air akhir (kg)

dimana untuk mw1

= Kc.m

Kc

= kadar air mula-mula wet basis (%)

= massa total bahan sebelum dikeringkan (kg)

Kadar air akhir (K) dicari dengan menggunakan persaamaan :


K

mw 2
mw2 +md

......

(petrachristianuniversitylibrary.com.2007)
K

= kadar air setelah proses pengeringan dalam wet basis (%)

md

= massa kering bahan (kg)


14

Sehingga :
mw2

K . md
1K

Sehingga didapatkan :
mw = Kc.m

K . md
1K

mw =

Ko . m ( 1K ) K .( mmw )
1K

mw =

Ko . m ( 1K ) K .( mKo. m)
1 K

mw =

m(Ko K )
1K

Berat bahan kering mutlak adalah berat bahan setelah mengalami pengeringan
dalam waktu tertentu sehingga beratnya konstan. Pada proses pengeringan, air
yang terkandung dalam bahan tidak dapat seluruhnya diuapkan, meskipun
demikian hasil yang diperoleh disebut juga sebagai berat bahan kering.
Di dalam analisis bahan pangan, biasanya kadar air bahan dinyatakan dalam
persen berat kering. Hal ini disebabkan perhitungan berdasarkan berat basah
mempunyai kelemahan yaitu berat basah bahan selalu berubah-ubah setiap
saat, sedangkan berat bahan kering selalu tetap. Metode pengukuran kadar air
yang umum dilakukan di laboratorium adalah metode oven atau d
engan cara destilasi. Pengukuran kadar air secara praktis di lapangan dapat
dilakukan dengan menggunakan moisture meter yaitu alat pengukur kadar air
secara elektronik.

F. Teori Dasar Perhitungan


Perancangan yang baik harus didasari dengan perencanaan yang tepat
tujuannya untuk memperkecil kesalahan yang terjadi. Dengan perencanaan teratur

15

maka proses kerja akan lebih mudah diaplikasikan dan pelaksanaan kerja sesuai
dengan yang dibutuhkan sehingga kesalahan yang terjadi bisa diminimalisir.
Beberapa perhitungan dasar yang menjadi landasan untuk menghasilkan
hasil rancangan yang lebih spesifik antara lain :
1. Perencanaan Daya Motor
Motor sangat penting peranannya karena berfungsi sebagai sumber
daya untuk menggerakkan elemen-elemen mesin. Sumber tenaga yang
dibutuhkan bisa ditransfer motor sesuai dengan kebutuhan. Dasar
perhitungan motor adalah sebagai berikut :
P = T.
Dimana :
P = Daya rencana (W)
T = Torsi (N.m)
= Kecepatan sudut (rad/s)
Dari persamaan diatas maka :
= 2 . f
Dimana : f = frekuensi (rps)
=

22
7

rad

n = 60. f
v = . r
v=

dn
60

...................(Sularso, Elemen Mesin, 1997 :

166)
Dimana :
v = Kecepatan linier (m/s)
r = Jari-jari lingakaran (m)
= Kecepatan sudut (rad/s)
n = Kecepatan rotasi (rpm)
Maka daya rencana :
Pc = fc. P ......................................... (Sularso, Elemen Mesin, 1997 : 7)
16

Dimana :
Pc = Daya rencana (W)
fc = Faktor koreksi ditentukan 1,2
P = Daya rencana (W)
2. Perencanaan Poros
Poros merupakan elemen penting di mesin karena berfungsi untuk
meneruskan daya yang ditransfer oleh motor. Poros harus sesuai dengan
perhitungan yang dibutuhkan dan kondisi beban yang dialami poros harus
diperhatikan dengan teliti.
Rumus yang digunakan untuk perencanaan adalah sebaagai berikut :
Perencanaan poros yang mengalami beban Puntir :
Pd
T = 9,74 x 105
............................ (Sularso, Elemen Mesin,
n1
1997 : 7)
Dimana :

T = Momen puntir (kg.mm)


Pd = Daya rencana (kW)
n1 = Putaran poros (rpm)

Tegangan geser yang dialami poros adalah :


T
5,1 T
=
=
............................. (Sularso, Elemen Mesin,
3
3
ds
ds
1997 : 7)
Dimana :

= Tegangan geser ijin (kg/mm2)

T = Momen puntir (kg.mm)


22
=
rad
7
ds = Diameter poros (mm)
Untuk mencari tegangan geser ijin dengan
b
a =
................................... (Sularso, Elemen Mesin,
Sf 1 x Sf 2
1997l : 8)
Dimana : a = Tegangan geser ijin (kg/mm2)
b = Tegangan tarik (kg/mm2)
Sf1 = Faktorjenis bahan baja karbon 6
Sf2 = Faktor kekasaran permukaan 1,3

17

Poros dengan beban puntir dan lentur :

max = (5,1/ d s

K
K
) ( m M )2+( t T )2 ...........(Sularso, Elemen Mesin,

1997 : 8)
Sehingga diameter poros bisa ditentukan dengan :

d 3s

K
K
= (5,1/max) ( m M )2+( t T )2 ...........(Sularso, Elemen Mesin,

1997 : 8)
Dimana :
max = Tegangan geser ijin (kg/mm2)
ds = Diameter poros (mm)
Km = Faktor tumbukan, yaitu 2,5
Kt = Faktor koreksi, yaitu 2,5
M = Momen lentur (kg.mm)
T = Momen Puntir (kg.mm)
3. Perencanaan Pasak
Pasak adalah sejenis sambungan tidak tetap yang berfungsi untuk
menetapkan bagian-bagian mesin seperti roda gigi, sproket, puli, kopling,
dan lain sebagainya pada poros. Pasak pada umumya dapat digolongkan
atas beberapa macam seperti pasak pelana, pasak rata, pasak singgung dan
pasak benam yang umumnya berpenampang segi empat.
Pasak dapat dihitung dengan cara :
2T
F=
........................................(Suryanto, Elemen Mesin, 1995 :
d
138)
Gaya akan menimbulkan tegangan geser pada penampang maka dapat
dinyatakan dengan :
F = g b L ................................... (Suryanto, Elemen Mesin, 1995 : 138)
Dimana :
g = Tegangan geser (kg/mm2)
F = Gaya tangensial (N)

18

T = Torsi (Nm)
b = Lebar pasak (mm)
L = panjang pasak (mm)
d = diameter poros (mm)
Tekanan bidang permukaan pasak dengan naf :
F
Pa =
................................... (Suryanto, Elemen Mesin, 1995 :
L h1
139)
Dimana :
F = Gaya bidang (N)
L = Panjang pasak (mm)
Pa = Tekanan bidang antara pasak dan naf (N/mm2)
h1 = Tinggi pasak bagian atas (mm)
Tekanan bidang permukaan pasak dengan poros :
Pa = F/Lh2 .................................(Suryanto, Elemen Mesin, 1995 : 139)
Dimana :
F = Gaya bidang (N)
L = Panjang pasak (mm)
Pa = Tekanan bidang antara pasak dan poros (N/mm2)
h2 = Tinggi pasak bagian bawah (mm)
Tekanan bidang maksimum adalah :
2
1
Lb
F=
Pa maks ................... (Suryanto, Elemen Mesin,
3
h
1995 : 140)
Dimana :
F
L
Pa
h
b

= Gaya bidang (N)


= Panjang pasak (mm)
= Tekanan bidang antara pasak dan poros (N/mm2)
= Tinggi pasak (mm)
= Lebar pasak (mm)

4. Perencanaan Sabuk dan Puli


Sabuk yang digunakan adalah V-belt yang berfungsi untuk meneruskan
putaran dari poros motor ke poros yang digerakkan dengan bantuan puli.
Rumus yang digunakan untuk mencari diameter puli adalah sebagai
berikut :
n1
=
n2

Dp
dp

Dimana :

19

n1 = Putaran motor penggerak (rpm)


n2 = Putaran poros yang digerakkan (rpm)
Dp= Diameter puli yang digerakkan (mm)
dp = Diameter puli pengerak (mm)
Menghitung keliling sabuk dapat dicari dengan menggunakan
persamaan berikut :
L=2C+

(dp + Dp) +

1
4C

(Dp - dp)2 ....(Sularso, Elemen mesin,

1997: 170)
Dimana :
L = Panjang keliling sabuk (mm)
Dp = Diameter puli yang digerakan (mm)
dp = Diameter puli penggerak (mm)
C = Jarak sumbu poros (mm)
Tegangan yang terjadi pada puli dinyatakan dengan :
T1
F1
= e
= e ....... (Sularso, Elemen mesin,
T2
F2
1997: 171)
Dimana :
F1 = Tegangan sisi kencang (kg)
F2 = Tegangan sisi kendor (kg)
e = Logaritma natural
= Koefisien gesek antara puli dan sabuk
= Sudut kontak (rad)
5. Perencanaan Bantalan
Bantalan adalah elemen mesin yang di pasang guna untuk menumpu
poros yang bergerak rotasi atau bolak-balik, sehingga dapat berlangsung
dengan halus, aman, dan memperpanjang komponen lainnya yang
mendukung kerja mesin. Bantalan harus cukup kokoh untuk kemungkinan
poros serta elemen-elemen mesin yang lainnya bekerja dengan baik, jika
bantalan tidak befungsi dengan baik, maka performance dari seluruh
komponen atau sistem akan menurun. Bantalan yang digunakan adalah
bantalan gelinding bola yang berfungsi sebagai tumpuan poros untuk
menahan gaya radial dan aksial, selain itu bantalan berfungsi untuk
mengurangi gesekan pada poros oleh sebab itu diperlukan pelumas untuk
melindungi bantalan dari gesekan.
Bantalan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

20

a . Atas dasar gerakan bantalan terhadap poros


1) Bantalan luncur
Pada bantalan terjadi gesekan luncur antara poros dengan
bantalan, hal ini terjadi karena permukaan poros ditumpu oleh
permukaan bantalan dengan peratara lapisan pelumas.
2) Bantalan gelinding
Pada bantalan ini terjadi gesekan gelinding antara bagian
yang diputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti
bola (peluru), rol atau rol jarum dan rol bulat.
b.

Atas dasar arah beban terhadap poros


1) Bantalan radial
Arah beban yang ditumpu bantalan ini adalah tegak lurus sumbu
poros.
2) Bantalan aksial
Arah beban bantalan ini sejajar dengan sumbu poros.
3) Bantalan gelinding khusus

Perhitungan bantalan dinyatakan sebagai berikut :


Umur suatu bantalan yang menerima suatu beban lain F dapat dituliskan
dengan rumus :
C
L
=
F

( )

........(Joseph E.Shigley dan Larry D. Mitchell. 1994 :

57)
Dimana :
L
C
F
a

= Umur bantalan (jam)


= Beban dasar (N)
= Nilai beban radial yang sebenarnya (N)
= Tiga (3) untuk bantalan peluru

Dengan menggunakan notasi bawah D untuk menyatakan harga perencanaan


(design) atau harga yang dibutuhkan, dan R sebagai harga katalogus atau
penilaian (rated), maka dapat dituliskan dengan rumus :

21

CR

= F

1 /a

[( )( )]
LD
LR

nD
nR

Dimana :
CR

= Nilai beban dasar (N)

untuk memberi nilai umur yang sesuai dengan setiap umur L yang diiginkan
pada keandalan R, maka dapat digunakan rumus sebagai berikut :

CR

=F

[( )( )( )]
LD
LR

nD
nR

1
6,84

1/ a

1/ R
ln 1 /1,17 a

.............(Joseph E.Shigley dan Larry D. Mitchell. 1994 : 57)


Dimana :
LD

= Umur bantalan (jam)

LR

= Umur nilai dasar (jam)

nD

= Putaran yang direncanakan (rpm)

nR

= Putaran nilai dasar (rpm)

= Nilai kehandalan (90%)

Nilai LR nR

= 106

Nilai LD nD

= Sesuai dengan nilai perencanaan

22