Anda di halaman 1dari 3

Obat Kumur

Menurut Backer (1990) obat kumur adalah larutan yang biasanya mengandung bahan
penyegar nafas, astrigen, demulsen atau surfaktan atau antibakteri untuk menyegarkan dan
pembersihan saluran pernapasan yang pemakaiannya dengan berkumur.
Obat kumur merupakan larutan atau cairan yang digunakan untuk membilas rongga
mulut dengan sejumlah tujuan antara lain untuk menyingkirkan bakteri perusak, bekerja
sebagai penciut, untuk menghilangkan bau tak sedap, mempunyai efek terapi dan
menghilangkan infeksi atau mencegah karies gigi. Obat kumur dikemas dalam dua bentuk
yakni dalam bentuk kumur dan spray. Untuk hampir semua individu obat kumur merupakan
metode yang simpel dan dapat diterima untuk pengobatan secara topikal dalam rongga mulut.
Efek Positif obat kumur berdasarkan kandungannya :

1. Bahan antibakteri dan antijamur, mengurangi jumlah mikroorganisme dalam rongga


mulut, contoh: hexylresorcinol, chlorhexidine, thymol, benzethonium, cetylpyridinium
chloride, boric acid, benzoic acid, hexetidine, hypochlorous acid. Penggunaan
senyawa antimikroba dalam bentuk formulasi obat kumur memainkan peranan
penting dalam pemeliharaan kesehatan mulut melalui mekanisme kerjanya dalam
pencegahan pembentukan plak dan pada akhirnya pencegahan terhadap gingivitis dan
karies.
Contoh : CHX.
Dasar yang kuat untuk mencegah terbentuknya plak adalah terjadinya ikatan antara
CHX dengan molekul-molekul permukaan gigi antara lain polisakarida, protein,
glikoprotein, saliva, pelikel, mukosa serta permukaan hidroksiapatit. Akibat adanya
ikatan-ikatan tersebut maka pembentukan plak dihambat. Hal ini juga dipengaruhi
oleh konsentrasi dari medikasi, pH, temperatur, lamanya waktu kontak larutan dengan
struktur rongga mulut. Penyelidikan lain secara in vitro, CHX yang diserap oleh
hidroksiapatit pada permukaan gigi dan mucin pada saliva, kemudian dilepas dalam
bentuk yang aktif, yang menyebabkan efek antimikroba diperpanjang sampai 12 jam,
keadaan ini yang menjadi dasar aktivitas CHX dalam menghambat plak.

2. Bahan oksigenasi, secara aktif menyerang bakteri anaerob dalam rongga mulut dan
busanya membantu menyingkirkan jaringan yang tidak sehat, contoh: hidrogen
peroksida, perborate
3. Astringents (zat penciut), menyebabkan pembuluh darah lokal berkontraksi dengan
demikian dapat mengurangi bengkak pada jaringan, contoh: alkohol, seng klorida,
seng asetat, aluminium, dan asam-asam organik, seperti tannic, asetic, dan asam sitrat
4.

Anodynes, meredakan nyeri dan rasa sakit, contoh: turunan fenol, minyak eukaliptol,
minyak watergreen

5. Bufer, mengurangi keasaman dalam rongga mulut yang dihasilkan dari fermentasi sisa
makanan, contoh: sodium perborate, sodium bicarbonate
6. deodorizing agents (bahan penghilang bau), menetralisir bau yang dihasilkan dari
proses penguraian sisa makanan, contoh: klorofil
7. deterjen, mengurangi tegangan permukaan dengan demikian menyebabkan bahanbahan yang terkandung menjadi lebih larut, dan juga dapat menghancurkan dinding
sel bakteri yang menyebabkan bakteri lisis. Di samping itu aksi busa dari deterjen
membantu mencuci mikroorganisme ke luar rongga mulut, contoh: sodium laurel
sulfate
Beberapa bahan inaktif juga terkandung dalam obat kumur, antara lain:
a. Air, penyusun persentasi terbesar dari volume larutan
b. Pemanis, seperti gliserol, sorbitol, karamel dan sakarin
c. Bahan pewarna
d. Flavorings agents (bahan pemberi rasa).
Efek Negatif :
1. Penelitian internasional telah memperlihatkan pada kebiasaan 3210 orang dan
dijumpai bahwa penggunaan obat kumur dengan kandungan alkohol sehari-hari
merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap perkembangan kanker rongga
mulut. Penelitian ini tanpa memperhatikan pengguna obat kumur tersebut perokok
atau peminum alkohol
2. Pemakaian dengan konsentrasi tinggi dapat memberikan pewarnaan ekstrinsik pada
gigi. Noda coklat gelap sering terlihat pada gigi dan gigi palsu setelah beberapa hari
pemakaian.
3. Sensasi terbakar

4. Mukositis
5. Taste alteration
6. Deskuamasi mukosa
7. Transient parotitis
Indikasi Obat Kumur :
1. Povidone Iodine :

Adanya abses akibat infeksi, sariawan, bau mulut, nafas tak segar, infeksi
yang disertai dengan rasa nyeri seperti pada faringitis

Menobati infeksi jamur pada mulut, tosnilitis, stomatitis, gingivitis,


peradangan pada mulut dan faring

Untuk pasien sebagai bakterisida, virusida, protozosida, sporisida,


yeastisida pada kebersihan sebelum, selama dan sesudah operasi gigi dan
mulut

2. Chlorhexidine :

Gingivitis

Lesi intraoral

Denture stomatitis

Periodontitis

Acute apthous ulcer

Menghambat pembentukan plak

Mencegah karies

Mencegah terjadinya osteitis alveolar pasca pencabutan molar ketiga yang


impaksi

Obat kumur perlu digunakan tetapi dalam hal dan kondisi tertentu sesuai indikasi serta
konsentrasi yang tepat. Apabila tidak ada masalah serius dalam rongga mulut obat kumur
sebaikanya tidak usah terlalu sering digunakan karena zat-zat aktif tertentu yang terkandung
dalam obat kumur justru dapat menggangu keseimbangan flora normal rongga mulut yang
akan memicu dan memberikan dampak-dampak negatif serta efek samping lainnya.