Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya kepada penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan refreshing ini tepat pada waktunya. Sholawat dan
salam terlimpah pada Muhammad SAW. Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk
menambah ilmu tentang bedah minor untuk memenuhi tugas sebagai penilaian kegiatan
kepaniteraan klinik stase bedah RSUD cianjur.
Pada pembuatan laporan ini penulis menyadari masih banyak kekurangan dan jauh dari
sempurna karena masih dalam proses belajar. Untuk itu penulis sangat mengharapkan saran
dan kritik untuk perbaikan penyusunan refreshing. Penulis mengucapkan banyak terima kasih
kepada dr. H.Wiyoto Sukardi, Sp.B sebagai dokter pembimbing yang telah mendeskripsikan
tentang penyusunan refreshing ini.
Penulis berharap refreshing ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi
instansi kepaniteraan klinik FKK UMJ dan RSUD Cianjur pada umumnya.

Cianjur, Oktober 2014

Penulis

Bedah Minor
A. Definisi Bedah Minor
Bedah minor merupakan tindakan operas kecil yang dilakukan pada jaringan
superficial dan biasanya dikerjakan dengan anastesi lokal. Prosedur ini memiliki
risiko komplikasi yang rendah. Tindakan ini digunakan untuk diagnosis dan terapi
yang sering dilihat oleh dokter umum, misalnya eksisi kulit dan penjahitan luka.
Namun prosedur tersebut bukan tanpa risiko, baik selama operasi atau sesudahnya.
Oleh karena itu perlunya teknik bedah yang tepat sesuai dengan indikasi.
B. Ruang Operasi dan Persiapan Dokter
1. Ruang Operasi Kecil, Pada prosedur bedah minor tidak melibatkan perangkat
yang canggih. Namun, persyaratan dalam hal infrastruktur dan peralatan harus
sesuai.
2. Meja Operasi, sebaiknya diletakkan di tengah ruangan untuk memudahkan.
3. Kursi, untuk prosedur yang panjang sebaiknya dilakukan pada posisi duduk.
4. Meja Instrumen, untuk menempatkan instrumen bedah dan bahan yang
digunakan selama operasi.
5. Lampu, lampu yang digunakan harus memberikan pencahayaan yang cukup
dan lampu yang digunakan dapat dipindahkan kebeberapa arah
6. Showcase dan wadah, digunakan untuk menyimpan perlengkapan instrumen
bedah dan terdapat kontainer yang ditandai untuk material yang sudah
terkontaminasi.
7. Peralatan resusitasi yang digunakan jika terdapat peristiwa yang mengancam
jiwa.
8. Sistem sterilisasi, setiap fasilitas medis yang melakukan prosedur bedah harus
memiliki autoklaf untuk mensterilkan peralatan bedah.

C. Persiapan dokter untuk bedah minor


Melakukan prosedur bedah minor membawa risiko penularan infeksi, untuk itu
perlunya persiapan untuk meminimalkan penularan, yaitu :
1. Pakaian bedah, masker bedah dan kacamata bedah
2. Mencuci tangan, melakukan cuci tangan rutin secara menyeluruh sebelum dan
sesudah melakukan bedah minor.
3. Sarung tangan steril, sarung tangan yang digunakan pada saat bedah steril dan
tersedia dalam berbagai ukuran.
D. Instrumen Bedah Minor

1. Instrumen pemotong
Pisau bedah atau skalpel. Terutama digunakan untuk menyayat/insisi permulaan kulit.
Tersedia dalam berbagai ukuran sesuai keperluan. Bilah no.10 untuk pemakaian umum,
insisi sederhana dan untuk pengambilan tandur alih kulit. Bilah no.11 mempunyai ujung
runcing dengan sisi tajam yang lurus untuk membuat tusukan, misalnya pada abses,
sedangkan bilah no.15 untuk pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi misalnya

operasi di tangan dan eksisi jaringan parut.


Gunting. Gunting ada 4 macam yaitu gunting Mayo, gunting Metzenbaum, gunting
runcing, dan gunting balutan. Gunting Mayo adalah gunting besar yang dirancang untuk
memotong sruktur yang liat, misalnya fascia dan tendo. Gunting Metzenbaum berukuran
lebih kecil dan digunakan untuk memotong jaringan. Gunting runcing digunakan untuk
mendiseksi lebih cermat dan rapi. Gunting balutan adalah gunting khusus untuk

memotong benang atau kain pembalut.


2. Instrumen pemegang
Pinset. Pinset bergerigi (pinset sirurgis) banyak dipakai untuk memegang jaringan
subkutis, otot, serta fascia pada saat mendiseksi dan menjahit. Pinset tak bergerigi
(pinset anatomis) digunakan untuk memegang jaringan yang mudah robek, seperti

mukosa, dll.
Klem. Klem pengenggam (klem Kocher) dirancang untuk memegang kulit dengan
kuat sehingga dapat ditarik dan tidak menimbulkan kerusakan jaringan, khususnya
pembuluh darah. Klem hemostat (klem Pean) digunakan untuk menghentikan
perdarahan, mempunyai gigi yang lebih halus agar dapat menjepit dengan cermat.
Umumnya mempunyai bilah dengan bentuk melengkung atau lurus. Klem arteri

berujung melengkung amat berguna untuk menjepit pembuluh darah dan mengikat
simpul yang terletak jauh di dalam luka. Jika dibutuhkan kecermatan tinggi digunakan

klem hemostat yang kecil dan melengkung disebut klem Mosquito.


Pemegang jarum (needle holder). Mempunyai bilah yang kokoh, pendek dan lebar

agar dapat menjepit dengan kuat.


3. Instrumen penarik/hak
Retraktor banyak dipakai untuk menyisihkan jaringan yang menghalangi gerakan, juga
untuk memberikan pemaparan yang lebih baik.
4. Instrumen penghisap
Digunakan bila perdarahan cukup banyak. Alat penghisap untuk prosedur minor adalah
penghisap berujung Frazier.
Jarum
Jarum jahit bedah yang lurus atau lengkung, berbeda-beda bentuknya berdasarkan
penampang batang jarum yang bulat atau bersegi tajam dan bermata atau tidak bermata.
Jarum umumnya dapat dibedakan menurut dua cara yaitu atas dasar traumatis atraumatis
serta menurut bentuk ujung dan penampangnya yaitu cutting noncutting/ taper.
Yang dimaksud jarum traumatis adalah jarum yang mempunyai mata untuk memasukkan
benang di bagian ujungnya yang tumpul. Disebut traumatis karena jarum ini pada bagian
yang bermata ukuran penampangnya lebih besar dari bagian ujungnya yang tajam sehingga
akan menimbulkan bekas luka yang lebih besar. Hal ini kurang menguntungkan jika
digunakan pada jaringan yang halus seperti usus dan pembuluh darah atau jaringan kritis
lainnya. Keuntungannya adalah jarum ini dapat dipakai berulang kali dan harganya lebih
murah. Jarum atraumatis adalah jarum yang tidak bermata sehingga ujung jarum langsung
dihubungkan dengan benang. Jarum ini mempunyai ukuran penampang yang hampir sama
besar dengan ukuran benangnya. Kerugiannya jarum ini hanya bisa dipakai sampai
benangnya habis dan harganya jauh lebih mahal dari jarum traumatis.
Jarum cutting adalah jarum yang penampangnya berbentuk segitiga atau pipih dan tajam,
sehingga ketika dipakai dapat menyayat jaringan dan menimbulkan lubang yang lebih lebar.
Jarum ini umumnya dipakai untuk menjahit kulit dan tendo karena keduanya adalah jaringan
yang sangat liat. Jarum noncutting atau tappered adalah jarum yang penampangnya bulat dan
ujungnya saja yang tajam, sehingga tidak menimbulkan sayatan yang lebar pada kulit. Jarum
ini digunakan untuk menjahit jaringan lunak, fasia, dan otot.
Benang
Benang dapat dibagi menurut:
1. Penyerapan

a. Benang yang dapat diserap atau absorbable, contoh: catgut, asam poliglikolat (Dexon),
asam poliglaktik (Vicryl) dan polidioksanone. Yang paling sering dipakai adalah catgut
dan Vicryl.
b. Benang tidak dapat diserap atau non-absorbable. Contoh: sutera, katun, poliester, nilon,
polypropilene (prolene), dan kawat tahan karat. Yang sering dipakai adalah sutera dan
polypropilene.
2. Reaksi jaringan yang timbul terhadap materi yang digunakan untuk pembuatannya
a. Benang yang menimbulkan reaksi (besar), misalnya catgut, sutera, dan benang-benang
multifilamen.
b. Benang yang menimbulkan reaksi minimal, misalnya nilon dan benag-benang
monofilamen.
3. Filamen fisik
a. Benang multifilamen yang disusun/kepang (braided), misalnya sutera.
b. Benang monofilamen yang hanya terdiri dari satu filamen, misalnya nilon.
Jenis Benang yang Dapat Diserap
1.
Catgut, terbuat dari usus halus kucing atau domba. Catgut merupakan benda asing
bagi jaringan tubuh yang dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Plain catgut memiliki
waktu absorbsi sekitar 10 hari. Chromic catgut yang mengandung garam kromium
memiliki waktu absorbsi yang lebih lama sampai 20 hari. Chromic catgut biasanya
menyebabkan reaksi inflamasi yang lebih besar dibandingkan plain catgut. Tidak terbukti
bahwa catgut dapat menyebabkan reaksi alergi. Catgut digunakan untuk mengikat
pembuluh darah lapisan subkutaneus dan untuk menutup kulit di skortum dan perineum.
2.
Benang sintetis
a. Multifilamen
Asam poliglikolat atau Dexon adalah benang sintetis yang mempunyai kekuatan
regangan sangat besar. Diserap habis setelah 60 90 hari. Efek reaksi jaringan yang
dihasilkan lebih kecil daripada catgut. Digunakan untuk menjahit fasia otot, kapsul
organ, tendon dan penutupan kulit secara subkutikulet Dexon tidak mengandung
protein kolagen, antigen, dan zat pirogen sehingga menimbulkan reaksi jaringan yang
minimal. Karena bentuknya yang berpilin jangan digunakan untuk menjahit di
permukaan kulit karena dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri sehingga mudah

timbul infeksi.
Asam poliglaktik atau vicryl adalah benang sintetis berpilin yang sifatnya mirip
dengan dexon. Benang ini memiliki kekuatan regangan sedikit di bawah dexon dan
dapat diserap habis setelah 60 hari pascaoperasi. Hanya digunakan untuk menjahit
daerah-daerah yang tertutup dan merupakan kontraindikasi untuk jahitan permukaan
kulit. Vicryl biasanya berwarna ungu.

Untuk menghasilkan kekuatan yang memuaskan Vicryl dan dexon disimpul minimal
tiga kali. Vicryl dan dexon terutama digunakan untuk meligasi pembuluh darah,

menautkan fasia, dan menjahit kulit secara subkutikular.


2) Monofilamen
Polidioksanone (PDS). Kekuatan regangannya bertahan selama 4 sampai 6 minggu
dan diserap seluruhnya setelah 6 bulan. Karena monofilamen, benang ini sangat baik
untuk menjahit daerah yang terinfeksi atau terkontaminasi.
Jenis Benang yang Tidak Dapat Diserap
1. Sutera atau silk adalah serat protein yang dihasilkan larva ulat sutera yang dipilin
menjadi benang. Mempunyai kekuatan regangan yang besar, mudah dipegang dan mudah
dibuat simpul. Kelemahannya, kekuatan regangan dapat menyusut pada jaringan yang
berbeda-beda, umumnya timbul setelah 2 bulan pascapoperasi.
2. Poliester (dacron) merupakan serat poliester, berupa benang pilinan yang mempunyai
kekutan regangan yang sangat besar. Sangat dianjurkan untuk penutupan fasia.
Kerugiannya adalah tidak digunakan pada jaringan yang terinfeksi atau terkontaminasi
karena bentuknya yang berpilin. Untuk kekuatan yang maksimal poliester disimpul
minimal sebanyak lima kali.
3. Polipropilene (prolene) adalah material monofilamen yang sangat halus sehingga tidak
banyak menimbulkan kerusakan dan reaksi jaringan. Biasanya berwarna biru. Pada
beberapa merek prolene langsung bersambung dengan jarum berukuran diameter sama
sehingga tidak menimbulkan trauma yang berlebihan. Merupakan pilihan utama untuk
menjahit daerah yang terinfeksi atau terkontaminasi. Ukuran yang sangat kecil sering
digunakan untuk bedah mikro. Kelemahannya benang ini sulit disimpul dan sering
terlepas sendiri.
4. Kawat baja dibuat dari baja yang mengandung karbon rendah merupakan bahan inert
(tidak bereaksi dengan jaringan). Menghasilkan kekuatan regangan yang terbesar dan
reaksi jaringan yang minimal. Kesulitannya adalah dalam hal menjahit dan harus hatihati untuk mencegah supaya jaringan tidak terpotong atau terlipat (kinking). Digunakan
untuk menyambung ligamen, tendon dan tulang.
Ukuran Benang
Benang ukuran terbesar yang tersedia adalah nomor 5 yang kira-kira berukuran seperti
kawat biasa. Ukuran akan mengecil sampai ke nomor 1, yamg masih dianggap benang yang
kasar. Ukuran yang lebih kecil lagi dimulai dari 1.0, kemudian 2.0 , 3.0 dan seterusnya
sampai yang terkecil 10.0. Untuk kegunaan biasa ukuran 5.0 sampai 1.0 adalah ukuran baku.
Ukuran 6.0 sampai 7.0 digunakan untuk anastomosis pembuluh darah halus, ukuran 8.0

sampai 10.0 untuk operasi mata dan bedah mikro, ukuran 0 1 cocok untuk menjahit fasia
sedangkan ukuran 4.0 untuk menjahit tendon.

E. Anastesi Lokal pada Bedah Minor


Anastesi lokal adalah obat yang menghambat transmisi impuls saraf sehingga tidak
ada rasa nyeri. Kebanyakan kasus menggunakan anastesi lokal dengan lignokain 1%
(Xylocaine) dan 1/10000 adrenaline. Selanjut nya dengan 0,25% atau 0,5%
bupivacaine (Marcain). Infiltrasi menggunakan needle no 27g atau 25g.
F. Teknik Menjahit
1. Teknik Interrupted sutures
Teknik Interrupted Suture atau jahit terputus adalah teknik penjahitan yang
paling tepat untuk operasi kecil, sering digunakan karena mudah dan
sederhana. Pada teknik ini cocok untuk daerah yang banak bergerak/ektremitas
kaena tiap jahita saling menunjang satu sama lain dan tiap jahitan disimpul
sendiri. Secara kosmetik benang kasar, tegang atau besar pada saat
menyimpulnya akan menimbulkan bekas yang kurang bagus. Pada teknik ini
menggunakan benang non absorbable.

2. Teknik Simple Running Suture atau jelujur


Pada teknik ini simpul hanya pada ujung-ujung jahitan, jadi hanya terdapat
dua simpul. Proses menjahit cepat. Bila salah satu simpul terbuka maka jahitan
akan terbuka seluruhnya. Jahitan ini jarang dipakai untuk menjahit kulit.

Secara kosmetik bekas luka jahitan seperti pada jahitan terputus. Teknik
jelujur digunkan untuk ketegangan luka yang minimal.

3. Teknik Subkutikuler
Pada teknik ini memberikan hasil kosmetik yang paling bagus. Tidak dapat
dipakai untuk darah bergerak paling baik untuk wajah. Terdapat berbagai
modifikasi jahitan intradermal ini. Diperlukan banyak latihan untuk
memahirkan cara penjahitan.Dibutuhkan waktu yang singkat untuk melakukan
ini tetapi sulit untuk menyesuaikan ketegangan kulit. Hal ini dilakukan dengan
melewatkan benang melalui demis horizontal sepanjang luka, lalu ujung
benang keluar melalui kulit. Penggunaan benang sutra dihindari karena akan
sulit menghapus/melepas jahitan.

4. Teknik Menjahit Matrass Horizontal


Teknik menjahir horizontal berguna untuk tegangan tinggi karena memberikan
kekuatan dan eversi luka

5. Teknik Menjahit Matrass Vertikal


Teknik ini digunakan jika eversi tepi luka tidak bisa dicapai hanya denngan
menggunakan jahitan terputus. Indikasi utama penggunaan jahitan vertikal
untuk mengangkat permukaan pinggir luka yaitu bila tepi luka tidak sama
tinggi, sering digunakan pada bagian tubuh yang memiliki kecendrungan
untuk inversi

G. Teknik Pembedahan
1. Pemilihan sayatan.
Sayatan bedah dibuat sedapat mungkin sesuai dengan arah lipatan kulit agar luka sembuh
-

dengan lebih baik tanpa meninggalkan bekas yang mencolok atau menimbulkan koloid.
Orientasi pada lipatan kulit.
Sayatan bedah harus mempertimbangkan letak saraf. Jika serabut saraf sensorik
terpoyong maka dapat terjadi anastesi atau parastesi di daerah distal.
Sayatan bedah harus mempertimbangkan segi kosmetik

2. Perlakuan terhadap jaringan


- Pembedahan harus selalu mengusahakan agar jaringan tubuh tidak mengalami cedera
-

yang terlalu hebat.


Untuk menjamin agar terjadi penyembuhan luka yang baik dan tidak terjadi infeksi,
sedapat mungkin harus digunakan teknik tanpa singgung dan disseksi (memotong)
secara halus.

H. Tindakan pembedahan
1. Insisi
Tindakan insisi sebagai akses awal menuju daerah tujuan operasi tanpa
merusak struktur anatomi penting. Insisi dilakukan setelah mengkaji kembali
diagnosa dan tujuan terapi bedah. Perencanaan insisi harus disertai dengan
perencanaan penutupan defek yang ditimbulkannya. Arahnya sejajar dengan
garis langer, sehingga akan terbentuk jaringan parut yang halus karena kolagen
kulit terarah dengan baik. sayatan insisi atau excisions harus berorientasi
sehingga mereka menghasilkan bekas luka yang dapat diterima,
baik kosmetik dan fungsional. Untuk melakukan hal ini, sayatan harus paralel
dengan ketegangan minimal yang cocok dengan garis-garis ekspresi wajah dan
garis relaksasi kulit (garis langer).

2. Eksisi
Merupakan tindakan pengangkatan massa tumor. Indikasinya antara lain untuk
kista epidermoid (klavus) dan kista dermoid. Klavus merupakan tumor jinak
yang keras, biasanya tumbuh pada kulit telapak kaki maupun tangan
3. Ekstirpasi
Tindakan

pengangkatan

seluruh

Indikasi:ateroma, fibroma, lipoma

masa

tumor

beserta

kapsulnya.

Daftar Pustaka
Chang, Bernard W. Minor operation : excision and skin closure, small flaps, small
grafts
Maria, Jose. Skill in Minor Surgical Procedures For General Prectitioner, Primary
Care at a Glance-Hot topics and New Insights. 2012.