Anda di halaman 1dari 31

LAJU KONSUMSI OKSIGEN PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio)

PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN AIR

Kelompok 9
Kelas B

USI SUPINAR
NURHALIMAH
WAHYU SETIAWAN

230110140074
230110140097
230110140122

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2015

DAFTAR ISI

BAB
I.

II.

Halaman
DAFTAR TABEL .......................................................................
iii
PENDAHULUAN ........................................................................
1
1.1

Latar Belakang .....................................................................

1.2

Tujuan Praktikum .................................................................

1.3

Kegunaan Praktikum ............................................................

LANDASAN TEORI ...................................................................

2.1

Ikan Mas (Cyprinus carpio) .................................................

2.2

Laju Pernapasan ...................................................................

2.3

Suhu Air dan Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen)............

2.4

Laju Metabolisme .................................................................

10

2.5

Pengaruh Usia Ikan pada Metabolisme dan Kebutuhan


Oksigen.................................................................................

13

Pengaruh Bobot Ikan Terhadap Kebutuhan Oksigen ...........

13

III. BAHAN DAN METODE ............................................................

14

2.6

3.1

Waktu dan Tempat Praktikum .............................................

14

3.2

Alat dan Bahan Praktikum ...................................................

14

3.2.1 Alat Praktikum ......................................................................

14

3.2.2 Bahan Praktikum ..................................................................

16

3.3

Prosedur Praktikum ..............................................................

16

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................

18

4.1

Hasil .....................................................................................

18

4.2

Pembahasan ..........................................................................

20

V.

KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................

24

5.1

Kesimpulan...........................................................................

24

5.2

Saran .....................................................................................

24

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................

25

LAMPIRAN .................................................................................

26

ii

DAFTAR TABEL

Nomor

Judul

Halaman

1.

Tabel 1. Alat-alat Praktikum ........................................................

14

2.

Tabel 2. Bahan Praktikum ............................................................

16

3.

Tabel 3. Hasil Pengamatan Konsumsi O2 Kelompok 9 ...............

18

4.

Hasil Pengamatan Konsumsi O2 Kelas B ....................................

18

5.

Tabel 3. Hasil Pengamatan Konsumsi O2 di Laboratorium MSP

19

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Ikan adalah anggota vertebrata berdarah dingin (poikilotermik) yang hidup di

air dan bernafas dengan insang. Insang dimiliki oleh jenis ikan (pisces). Insang
berbentuk lembaran-lembaran tipis berwarna merah muda dan selalu lembab. Bagian
terluar insang berhubugan dengan air, sedangkan bagian dalam berhubungan erat
dengan kapiler darah. Tiap lembaran insang terdiri dari sepasang filamen, dan tiap
filamen mengandung banyak lapisan tipis (lamela). Pada filamen terdapat pembuuh
darah yang memiliki banyak kapiler sehingga memungkinkan O2 berdifusi masuk
dan CO2 berdifusi keluar.
Kelangsungan hidup ikan sangat ditentukan oleh kemampuan memperoleh
oksigen yang cukup dari lingkungannya. Berkurangnya oksigen terlarut dalam
perairan tentu saja akan mempengaruhi fisiologi respirasi ikan dan hanya ikan yang
memiliki sistem respirasi yang sesuai yang dapat bertahan hidup (Fujaya, 2004).
Menurut Villa, et., al. (1988), konsumsi oksigen digunakan untuk menilai laju
metabolisme ikan sebab sebagian besar energi berasal dari metabolisme aerobik.
Menurut Fujaya (2004) oksigen sebagai bahan pernapasan dibutuhkan oleh sel untuk
berbagai metabolisme.
Oksigen yang terlarut atau tersedia bagi hewan air lebih sedikit daripada hewan
darat yang hidup dalam lingkungan dengan 21% oksigen (Ville, et. al. 1988). Ikan
dapat hidup dalam air dan mengkonsumsi oksigen karena ikan memiliki insang.
Insang memberikan permukaan luar yang dibasahi oleh air. Oksigen yang terlarut
dalam air akan berdifusi ke dalam sel-sel insang ke jaringan sebelah dalam dari badan
(Kimball,1988).
Salah satu paramter yang digunakan untuk mengukur kualitas suatu perairan
adalah jumlah oksigen terlarut (DO), yaitu menempati urutan kedua setelah Nitrogen
(Cole, 1991). Namun dilihat dari segi kepentingan untuk budidaya ikan, oksigen
1

menempati urutan teratas, karena dibutuhkan untuk pernapasan. Oksigen yang


diperlukan untuk pernapasan ikan harus terlarut dalam air. Oksigen merupakan salah
satu faktor pembatas, sehingga jika ketersediaan dalam air tidak mencukupi
kebutuhan ikan, maka segala aktivitas dan proses pertumbuhan ikan akan terganggu,
bahkan akan mengalami kematian.
Menurut Zonnelved dkk. (1991), kebutuhan oksigen mempunyai dua aspek
yaitu kebutuhan lingkungan bagi spesies tertentu dan kebutuhan konsumtif yang
bergantung pada keadaan metabolisme ikan. Ikan membutuhkan oksigen guna
pembakaran untuk menghasilkan aktivitas, pertumbuhan, reproduksi dan lain-lain.
Oleh karena itu, oksigen bagi ikan menentukan lingkaran aktivitas ikan, konveksi
pakan, demikian juga laju perumbuhan bergantung pada oksigen dengan ketentuan
faktor kondisi lainnya adalah optimum.
Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya oksigen
yang dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini memungkinkan oksidasi
dari makanan memerlukan oksigen (dalam jumlah yang diketahui) untuk
menghasilkan energi yang dapat diketahui jumlahnya juga. Akan tetapi, laju
metabolisme biasanya cukup diekspresikan dalam bentuk laju konsumsi oksigen.
Beberapa faktor yang mempengaruhi konsumsi oksigen antara lain temperatur,
spesies hewan, ukuran badan, dan aktivitas.

1.2

Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum Fisiologi Hewan Air mengenai Konsumsi Oksigen adalah

untuk mengetahui jumlah kebutuhan konsumsi oksigen pada ikan mas yang sensitif
terhadap kadar oksigen terlarut dalam media tempat hidupnya.

1.3

Kegunaan Praktikum
Dengan adanya praktikum Fisiologi Hewan Air mengenai Konsumsi Oksigen

pada Ikan Mas, diharapkan praktikan mengetahui berapa kadar oksigen yang
dibutuhkan ikan dalam waktu tertentu, mengetahui konsumsi oksigen pada beberapa

ikan yang memiliki massa yang berbeda dan mengetahui perbedaan konsumsi
oksigen pada umur ikan yang berbeda.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1

Ikan Mas (Cyprinus carpio)


Makhluk

hidup

membutuhkan

kemampuan

untuk

bernapas

dalam

berlangsungnya proses metabolisme dalam tubuh, begitu pula dengan ikan. Ikan
merupakan makhluk hidup poikilotermik, yaitu jenis makhluk hidup yang dapat
menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu lungkungan. Ikan mas termasuk famili
Cyprinidae yang mempunyai ciri-ciri umum, badan ikan mas berbentuk memanjang
dan sedikit pipih ke samping (Compressed) dan mulutnya terletak di ujung tengah
(terminal), dan dapat di sembulkan, di bagian mulut di hiasi dua pasang sungut, yang
kadang-kadang satu pasang di antaranya kurang sempurna dan warna badan sangat
beragam (Susanto,2007). Ikan mas dapat di klasifikasikan secara taksonomi (Susanto,
2007) sebagai berikut:
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Class

: Actinopterygii

Ordo

: Cypriniformes

Famili

: Cyprinidae

Genus

: Cyprinus

Spesies

: Cyprinus carpio

Tubuh ikan mas digolongkan tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor. Pada
kepala terdapat alat-alat seperti sepasang mata, sepasang cekung hidung yang tidak
berhubungan dengan rongga mulut, celah-celah insang, sepasang tutup insang, alat
pendengar dan keseimbangan yang tampak dari luar (Cahyono, 2000). Jaringan
tulang atau tulang rawan yang disebut jari-jari. Sirip-sirip ikan ada yang berpasangan
dan ada yang tunggal, sirip yang tunggal merupakan anggota gerak yang bebas.
Disamping alat-alat yang terdapat dalam, rongga peritoneum dan pericardium,

gelembung renang, ginjal, dan alat reproduksi pada sistem pernapasan ikan umumnya
berupa insang (Bactiar,2002).

Gambar 1. Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Ikan mas dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada
ketinggian antara 150-1000 m diatas permukaan laut, dengan suhu 20oC-25oC pH air
antara 7-8 (Herlina,2002).
Ikan ini merupakan ikan pemakan organisme hewan kecil atau renik ataupun
tumbuh-tumbuhan (omnivora). Kolam yang di bangun dari tanah banyak
mengandung pakan alami, ikan ini mengaduk lumpur, memangsa larva insekta,
cacing-cacing, dan mollusca (Djarijah,2001).
Cahyono (2000) menyatakan, jenis makan dan tambahan yang biasa di berikan
pada ikan mas adalah bungkil kelapa atau bungkil kacang, sisa rumah pemotongan
hewan, sampah rumah tangga dan lain-lain, sedangkan untuk makanan buatan
biasanya di berikan berupa crumble dan pellet.
Ikan mas menyukai tempat hidup (habitat) di perairan tawar yang airnya tidak
terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai atau danau.
Ikan mas dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian 150600 meter di atas
permukaan air laut (dpl) dan pada suhu 25-30C. Meskipun tergolong ikan air tawar,
ikan mas kadang-kadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai yang
bersalinitas (kadar garam) 25-30%.

2.2

Laju Pernapasan

2.2.1 Pernapasan
Pernapasan adalah proses pengikatan oksigen dan pengeluaran karbondioksida
oleh darah melalui permukaan alat pernapasan. Proses pengikatan oksigen tersebut
dipengaruhi struktur alat pernapasan, juga dipengaruhi perbedaan tekanan parsial O2
antara perairan dengan darah. Perbedaan tersebut menyebabkan gas-gas berdifusi ke
dalam darah atau keluar melalui alat pernapasan.

2.2.2 Mekanisme Pernapasan


Ikan bernapas dengan insang yang terdapat pada sisi kanan dan kiri kepalanya.
Insang berbentuk lembaran-lembaran tipis berwarna merah muda dan selalu lembap.
Bagian terluar dari insang berhubungan dengan air, sedangkan bagian dalam
berhubungan erat dengan kapiler-kapiler darah. Tiap lembaran insang terdiri dari
sepasang filamen, dan tiap filamen mengandung banyak lapisan tipis (lamela). Pada
filamen terdapat pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler sehingga
memungkinkan O2 berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar. Insang pada ikan
bertulang sejati seperti ikan mas, ditutupi oleh tutup insang yang disebut operkulum,
sedangkan insang pada ikan bertulang rawan tidak ditutupi oleh operkulum
melainkan ditandai dengan memiliki garis-garis pernapasan. Membuka dan
menutupnya operkulum beriringan dengan membuka dan menutupnya mulut.
Pernafasan ikan berlangsung 2 tahap, yaitu :
1. Tahap I (Tahap Pemasukan/Inspirasi) :
Gerakan tutup insang ke samping dan selaput tutup insang tetap menempel pada
tubuh mengakibatkan rongga mulut bertambah besar, sebaliknya celah belakang
insang tertutup. Akibatnya, tekanan udara dalam rongga mulut lebih kecil daripada
tekanan udara luar. Celah mulut membuka sehingga terjadi aliran air ke dalam
rongga mulut.

2. Tahap II (Tahap Pengeluaran/Ekspirasi) :


Mulut menutup, kemudian rongga bukofaring dan rongga insang mulai
menyempit, sementara katup mulut mencegah aliran air keluar melalui mulut.
Operkulum dengan tutup insang tetap tertutup, telah mencapai kondisi lebih lanjut
dari penyempitan dan air berkumpul di luar insang. Pada kondisi ini celah insang
terbuka. Air bergerak keluar melalui celah insang dan menyentuh lamela insang
atau lembar insang.

Gambar 2. Mekanisme pernapasan ikan

Pada lamela insang terjadi pertukaran udara pernapasan. Darah melepaskan


CO2 ke dalam air dan mengikat O2 dari air. Pada fase inspirasi, O2 dan air masuk ke
dalam insang, kemudian O2 diikat oleh kapiler darah untuk dibawa ke jaringanjaringan yang membutuhkan. Sebaliknya pada fase ekspirasi, CO2 yang dibawa oleh
darah dari jaringan akan bermuara ke insang dieksresika keluar tubuh.

2.3

Suhu Air dan Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen)

2.3.1 Suhu
Suhu menurut Kangingan (2007:52-53) adalah suatu besaran yang menyatakan
ukuran derajat panas atau dinginnya suatu benda. Suhu menunjukkan derajat panas
benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut.
Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap
atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan
maupun gerakan di tempat berupa getaran. Makin tingginya energi atom-atom
penyusun benda, makin tinggi suhu benda tersebut. Suhu juga disebut temperatur.
Benda yang panas memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan benda yang dingin. Alat
yang digunakan untuk mengukur suhu adalah termometer. Namun dalam kehidupan
sehari-hari, untuk mengukur suhu masyarakat cenderung menggunakan indera
peraba. Tetapi dengan adanya perkembangan teknologi maka diciptakanlah
termometer untuk mengukur suhu dengan valid.
Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu (temperatur),
ataupun perubahan suhu. Istilah termometer berasal dari bahasa Latin thermo yang
berarti bahang dan meter yang berarti untuk mengukur. Prinsip kerja termometer ada
bermacam-macam, yang paling umum digunakan adalah termometer air raksa.

2.3.2 Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen)


Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen =DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup
untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian
menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen
juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses
aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi
dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut
(Salmin, 2000).
Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung sari beberapa faktor, seperti
kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus,

gelombang dan pasang surut. Odum (1971) menyatakan bahwa kadar oksigen dalam
air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang
dengan semakin tingginya salinitas. Pada lapisan permukaan, kadar oksigen
akan lebih tinggi, karena adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta
adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan
kadar oksigen terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar
oksigen yang ada banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan-bahan
organik dan anorganik. Keperluan organisme terhadap oksigen relatif bervariasi
tergantung pada jenis, stadium dan aktifitasnya. Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam
keadaan diam relatif lebih sedikit apabila dibandingkan dengan ikan pada saat
bergerak atau memijah. Jenis-jenis ikan tertentu yang dapat menggunakan oksigen
dari udara bebas, memiliki daya tahan yang lebih terhadap perairan yang kekurangan
oksigen terlarut (Wardoyo, 1978).
Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan
nornal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Kandungan oksigen terlarut
minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme (Swingle, 1968).
Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama
waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70% (Huet, 1970).
KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk kepentingan
wisata bahari dan biota laut (Anonimous, 2004).

2.3.3 Konsumsi Oksigen dalam Perairan


Peningkatan suhu sebesar 10% akan meningkatkan oksigen sebesar 10%
dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik dapat mengurangi kadar
oksigen terlarut hingga mencapai O2 (anaerob). Hubungan antara kadar oksigen
terlarut jenuh dan suhu menggambarkan bahwa semakin tinggi suhu kelarutan
oksigen semakin berkurang. Kelarutan oksigen dan gas-gas lain juga berkurang
dengan meningkatnya salinitas. Konsentrasi oksigen terlarut merupakan parameter
yang sangat penting dalam menentukan kualitas perairan.

10

Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses
metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi. Untuk
pertumbuhan dan pembiakan, disamping itu oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi
bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik.

2.3.4 Pengaruh Suhu Terhadap Proses Respirasi


Ikan beradaptasi dengan lingkungannya. Adaptasi fisiologi ikan salah satunya
berhubungan dengan sistem respirasi. Pada adaptasi ini terlihat dari gerakan
operculum

ikan.

Adaptasi

ini

dipengaruhi

oleh

temperatur

dan

keadaan

lingkungannya. Kenaikan suhu pada suatu perairan menyebabkan kelarutan oksigen


(Dissolved Oxygen) di perairan tersebut akan menurun, sehingga kebutuhan
organisme air terhadap oksigen semakin bertambah dengan pergerakan operculum
yang semakin cepat, penurunan suhu pada suatu perairan dapat menyebabkan
kelarutan oksigen dalam perairan itu meningkat sehingga kebutuhan organisme dalam
air terhadap oksigen semakin berkurang. Hal ini menyebabkan jarangnya frekuensi
membuka serta menutupnya operculum pada ikan tersebut.

2.4

Laju Metabolisme

Laju metabolisme adalah jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai oleh tubuh
per satuan waktu (Seeley, 2002). Laju metabolisme berkaitan erat dengan respirasi
karena respirasi merupakan proses ekstraksi energi dari molekul makanan yang
bergantung pada adanya oksigen (Tobin, 2005). Secara sederhana, reaksi kimia yang
terjadi dalam respirasi dapat dituliskan sebagai berikut:
C6H12O6 + 6O2 6 CO2 + 6H2O + ATP
(Tobin, 2005).
Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya oksigen
yang dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini memungkinkan karena
oksidasi dari bahan makanan memerlukan oksigen (dalam jumlah yang diketahui)
untuk menghasilkan energi yang dapat diketahui jumlahnya juga. Akan tetapi, laju

11

metabolisme biasanya cukup diekspresikan dalam bentuk laju konsumsi oksigen.


Laju konsumsi oksigen dapat ditentukan dengan berbagai cara, antara lain dengan
menggunakan mikrorespirometer, metode Winkler, maupun respirometer Scholander.
Penggunaan masing-masing cara didasarkan pada jenis hewan yang akan diukur laju
konsumsi oksigennya.
Respirasi merupakan proses pengambilan O2 dari lingkungan ke dalam tubuh
hewan dan pengeluaran CO2 dari dalam tubuh ke lingkungan. Respirasi pada hewan
air, contoh pada ikan meliputi ekstraksi atau pengambilan O2 dari perairan. Laju
metabolisme pada ikan ditunjukkan dengan konsumsi O2 per unit waktu. Intensitas
ikan dari pernafasan ikan menurun dengan peningkatan bobot ikan. Laju konsumsi
O2 juga menurun dengan tersedianya kadar O2 yang sedikit untuk ikan. Pertumbuhan
ambang batas konsentrasi O2 akan lebih tinggi pada suhu yang tinggi, bertepatan
dengan laju konsumsi O2 yang lebih tinggi.perubahan yang sama dengan ambang
peningkatan aktivitas atau laju pemberian makanan pada ikan. Konsentrasi O2 yang
umum dalam air akan membatasi aktivitas ikan, termasuk mengembangkan makanan
yang akan diubah menjadi daging ikan (Yuwono, 2001).
Oksigen adalah suatu zat yang sangat esensial bagi pernapasan dan merupakan
komponen yang utama bagi metabolisme ikan dan organisme perairan lainnya
Parameter kualitas air mempengaruhi kehidupan dan pertumbuhan ikan adalah suhu
selama penelitian diperoleh 25 270C, suhu air juga merupakan salah satu faktor
yang banyak mempengaruhi penggunaan oksigen terlarut dalam air, namun suhu air
yang diperoleh tersebut masih normal dan dalam kisaran suhu yang dapat ditolerir
oleh ikan (Fathuddin, 2002).
Konsumsi oksigen digunakan sebagai indikator metabolisme pada ikan, dan
perbedaan salinitas mempengaruhi energi yang dibutuhkan untuk osmoregulasi pada
beberapa spesies. Respon respirasi berbeda dengan perbedaan salinitas diantara
spesies teleos. Angka konsumsi oksigen rendah diperoleh pada salinitas isosmosis.
Angka konsumsi oksigen rendah pada air tawar dan pemakaiannya meningkat dengan
menambah salinitas. Hal ini menunjukkan bahwa ikan di air laut mempunyai angka

12

konsumsi oksigen lebih rendah dibandingkan di air tawar (Tsuzuki et al., 2008).
Beberapa faktor yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen antara lain umur, jenis
kelamin, status reproduksi, makanan dalam usus, stress fisiologis, aktivitas, musim,
ukuran tubuh dan temperatur lingkungan (Tobin, 2005).
Metode Winkler merupakan suatu cara untuk menentukan banyaknya oksigen
yang terlarut di dalam air (Anonim, wikipedia.org). Dalam metode ini, kadar Oksigen
dalam air ditentukan dengan cara titrasi. Titrasi merupakan penambahan suatu larutan
yang telah diketahui konsentrasinya (larutan standar) ke dalam larutan lain yang tidak
diketahui konsentrasinya secara bertahap sampai terjadi kesetimbangan (Chang,
1996).

2.5

Pengaruh Usia Ikan pada Metabolisme dan Kebutuhan Oksigen


Semakin dewasa usia ikan, maka semakin rendah kebutuhan Oksigennya. Hal

tersebut dikarenakan ikan yang usianya lebih tua sudah memiliki daya metabolisme
yang lebih kuat. Sebaliknya ikan yang masih muda membutuhkan Oksigen yang lebih
rendah dibandingkan ikan dewasa karena daya metabolisme tubuhnya masih lemah.
Hal itu ditunjukkan dengan lebih agresifnya ikan saat berada dalam toples.

2.6

Pengaruh Bobot Ikan Terhadap Kebutuhan Oksigen


Pada dasarnya ikan yang memiliki bobot tubuh lebih berat atau dapat dikatakan

berukuran besar dianggap memerlukan Oksigen yang lebih tinggi dibandingkan


dengan ikan yang lebih rendah bobot tubuhnya. Akan tetapi hal tersebut tidak benar,
ikan yang berukuran lebih besar justru lebih sedikit memerlukan Oksigen.
Sebaliknya, ikan yang berukuran lebih kecil memerlukan banyak Oksigen untuk
kebutuhan metabolisme tubuhnya.

14

BAB III
BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat


Waktu dan tempat pelaksanaan praktikum adalah sebagai berikut :
Tanggal : 19 Oktober 2015
Waktu

: Pukul 10.00 WIB - selesai

Tempat

: Lab. MSP

3.2 Alat dan Bahan


Dalam pelaksanaan praktikum ini digunakan alat-alat dan bahan sebagai berikut :
3.2.1 Alat
Tabel 1. Alat-alat Praktikum
No

Alat

Fungsi

Wadah plastik

Utuk tempat
percobaan

DO meter

Untuk mengukur
DO awal dan DO
akhit

Gambar

15

Jam tangan

untuk penunjuk
waktu

Timbangan

untuk mengukur
bobot ikan

Penutup wadah

Sebagai penutup
wadah

16

3.2.2 Bahan
Tabel 2. Bahan Praktikum
No
1

Bahan
Ikan Mas

Fungsi

Gambar

Bahan uji konsumsi


oksigen

Air

Untuk media hidup


ikan

3.1

Prosedur Praktikum
Dalam percobaan ini langkah-langkah yang harus diperhatikan antara lain :

1.

Wadah plastik disiapkan yang sebelumnya terlebih dahulu diisi air penuh.

2.

Oksigen terlarut diukur dengan menggunakan DO meter atau titrasi metode


Winkler, kemudian dicatat hasilnya.

3.

Ikan ditimbang, lalu dicatat bobotnya.

4.

Ikan dimasukkan dengan hati-hati tanpa ada air yang memercik.

5.

Wadah percobaan ditutup dengan cling wrap, agar tidak ada kontak dengan
udara luar.

6.

Wadah percobaan dibiarkan selama 60 menit

7.

Setelah selesai, pentup plastik dibuka, ikan dipindahkan secara hati-hati ,


jangan sampai terjadi percikan air, lalu diukur oksigen terlarut pada media air

17

wadah percobaan tersebut dengan menggunakan DO meter atau titrasi metode


Winkler, kemudian dicatat hasilnya.
8.

DO awal - DO akhir adalah konsumsi oksigen ikan tersebut

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1

HASIL

Perhitungan nilai Konsumsi O2 pada ikan mas (Cyprinus carpio)


Konsumsi Oksigen (mg/l) =

(DO Awal DO Akhir)x 2


Bobot Ikan

Dengan :
Bobot Ikan 83,77 gram
DO Awal = 5,4 mg/l
DO Akhir = 3,7 mg/l
Maka, Konsumsi Oksigen =

4.1.1

(DO AwalDO Akhir) x 2


Bobot Ikan

(5.4 3.7) x 2
83.77

= 0.040 mg/l

Data Hasil Pengamatan Konsumsi O2 Kelompok 9

Tabel 3. Hasil Pengamatan Konsumsi O2 Kelompok 9


Kelompok
9

4.1.2

Bobot Ikan

DO Awal

DO Akhir

Konsumsi O2

(g)

(mg/l)

(mg/l)

(mg/l)

83.77

5.4

3.7

0.040

Data Hasil Pengamatan Konsumsi O2 Kelas B

Tabel 4. Hasil Pengamatan Konsumsi O2 Kelas B


Bobot Ikan

DO Awal

DO Akhir

Konsumsi O2

(g)

(mg/l)

(mg/l)

(mg/l)

68

3.4

0.047

101

3.9

0.022

91

3.1

0.042

119

3.3

0.028

102

3.4

0.032

Kelompok

18

19

Bobot Ikan

DO Awal

DO Akhir

Konsumsi O2

(g)

(mg/l)

(mg/l)

(mg/l)

119

3.3

0.028

102

3.2

0.035

86.73

5.4

3.0

0.055

83.77

5.4

3.7

0.040

10

82.86

5.4

2.3

0.074

11

83.77

5.4

3.6

0.043

12

87.76

5.4

3.6

0.041

13

150.84

5.4

4.0

0.018

14

58.96

5.4

2.1

0.111

15

70.96

5.4

2.4

0.084

16

125

2.9

0.033

17

140

2.8

0.031

18

111.68

2.9

0.037

19

141.20

2.9

0.029

20

140.17

2.8

0.031

21

112.69

2.7

0.040

22

128.16

2.5

0.039

23

95.5

2.5

0.052

Kelompok

4.1.3

Data Hasil Pengamatan Konsumsi O2 Laboratorium MSP


Tabel 5. Hasil Pengamatan Konsumsi O2 di Laboratorium MSP

Kelompok

Bobot Ikan

DO Awal

DO Akhir

Konsumsi O2

(g)

(mg/l)

(mg/l)

(mg/l)

86.73

5.4

3.0

0.055

83.77

5.4

3.7

0.040

10

82.86

5.4

2.3

0.074

20

Bobot Ikan

DO Awal

DO Akhir

Konsumsi O2

(g)

(mg/l)

(mg/l)

(mg/l)

11

83,77

5,4

3,6

0,043

12

87.76

5.4

3.6

0.041

13

150.84

5.4

4.0

0.018

14

58.96

5.4

2.1

0.111

15

70.96

5.4

2.4

0.084

Kelompok

4.2

PEMBAHASAN
Laju konsumsi oksigen pada setiap jenis ikan berbeda-beda. Konsumsi oksigen

dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti temperatur, ukuran tubuh, aktivitas yang
dilakukannya (Djuhanda. 1981). Dari hasil pengukuran oksigen terlarut (DO)
kelompok 9, didapat nilai DO sebesar 5,4 mg/l. Nilai DO tersebut berlaku untuk
kelompok 8 hingga 15 pada laboratorium MSP. Setelah 30 menit penutupan,
kemudian dilakukan pengukuran dan didapat nilai DO akhir sebesar 3,7 mg/l. Maka
laju konsumsi oksigennya didapat sebesar 0,040 mg/l, setelah melalui penghitungan.
Dari hasil yang didapat, laju konsumsi oksigen ikan kelompok 9 cukup rendah
bila dibandingkan dengan laju konsumsi oksigen ikan kelompok lain di laboratorium
MSP. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, pertama dari bobot ikan. Bobot ikan
kelompok 9 yang diamati cukup besar, yaitu 83,77 gram. Pada beberapa kelompok
yang memiliki bobot ikan yang tidak terlalu jauh dengan kelompok 9, diketahui
bahwa laju konsumsi oksigennya hampir sama atau mendekati. Namun pada
kelompok 10 dengan berat 82,86 gram memiliki laju konsumsi yang cukup tinggi.
Pada kelompok 14 diketahui bobot ikannya sebesar 58,96 gram, terkecil
dibandingkan kelompok lain. Serta kelompok 13 yang memiliki ikan terberat dengan
bobot 150,84 gram. Dapat dilihat bahwa laju konsumsi ikan kelompok 14 terbesar
dengan nilai 0,111 mg/l, dan ikan kelompok 13 memiliki laju konsumsi terendah

21

sebesar 0,018 mg/l. Dapat disimpulkan bahwa bobot ikan sangat mempengaruhi laju
konsumsi oksigen.
Faktor berikutnya adalah aktivitas dari ikan tersebut. Terlihat dari pembahasan
sebelumnya, ikan yang memiliki bobot yang besar memiliki nilai konsumsi oksigen
yang rendah. Sedangkan ikan yang memiliki bobot kecil, laju konsumsinya sangat
cepat. Hal tersebut diakibatkan karena bobot ikan mempengaruhi daya aktivitas dari
ikan tersebut. Semakin banyak ikan tersebut beraktivitas maka mempengaruhi laju
metabolisme di dalam tubuhnya (semakin cepat), sehingga laju konsumsi oksigen pun
berbanding lurus dengan laju metabolisme. Energi yang dihasilkan akan dengan cepat
digunakan dan habis terpakai bila aktivitas ikan semakin agresif.
Dari faktor tersebut mempengaruhi laju metabolisme dari ikan. Pada ikan yang
memiliki bobot yang kecil seperti pada kelompok 14, memiliki laju konsumsi oksigen
yang tinggi. Hal ini menyebabkan laju metabolisme meningkat seiring meningkatnya
konsumsi yang tinggi. Ikan yang memiliki daya aktivitas yang tinggi memerlukan
oksigen yang banyak, sehingga melakukan respirasi yang cukup cepat. Semakin
tinggi tingkat respirasi yang dilakukan, maka laju metabolisme yang dilakukan akan
semakin cepat pula. Hal tersebut terjadi pada ikan kelompok 13dengan laju konsumsi
sebesar 0,111 mg/l.
Faktor selanjutnya adalah umur dari ikan, namun dalam praktikum kali ini
umur dari ikan yang akan dipraktikumkan tidak diketahui. Ikan yang berumur lebih
muda akan mengkonsumsi oksigen yang lebih banyak daripada ikan yang berumur
lebih tua. Karena semakin tua umur/ usia ikan maka semakin sedikit respirasi yang
dibutuhkan. Hal ini disebabkan oleh penurunan regenerasi sel sehingga respirasi yang
dibutuhkan pun sedikit.
Kemudian tingkat emosi/ stress menjadi faktor yang mempengaruhi laju
konsumsi oksigen. Pada hasil pengamatan, ikan kelompok 9 tidak terlalu mengalami
stress yang berlebihan. Hal tersebut terlihat dari daya aktivitas ikan yang tidak
agresif, kemudian ukuran tubuh ikan yang terlalu lebar yang tidak diikuti oleh wadah
plastik yang terlalu sempit. Sehingga pergerakan ikan menjadi terganggu dan

22

terbatas, menyebabkan laju konsumsi oksigen pun sedikit. Kemudian dari proses
pemindahan wadah, menyebabkan ikan melakukan adaptasi. Bila ikan tidak mampu
beradaptasi dengan cepat, maka ikan tersebut akan mengalami stress yang
menyebabkan laju metabolisme yang meningkat.
Faktor berikutnya adalah jenis kelamin, jenis kelamin mempengaruhi laju
konsumsi oksigen dikarenakan perbedaan sistem hormonal. Pada jenis kelamin betina
lebih banyak melakukan respirasi, sehingga laju konsumsi oksigen pun meningkat.
Jenis kelamin betina memiliki sistem hormonal yang lebih kompleks dibandingkan
jantan, sehingga memerlukan jumlah oksigen yang cukup besar dalam melakukan
aktivitas atau pergerakan. Dalam praktikum kali ini, jenis kelamin tidak dilakukan
pengamatan. Padahal penentuan jenis kelamin dapat membantu proses analisa dari
laju konsumsi oksigen pada ikan.
Faktor yang terakhir berasal dari eksternal yaitu, dari suhu lingkungannya.
Temperatur pada laboratorium MSP berkisar pada suhu normal. Sehingga tidak
mempengaruhi daya aktivitas ikan yang akan diamati.
Dari data keseluruhan dapat dilihat bahwa pada Lab. FHA, rentang bobot 100119 gram memiliki rentang laju konsumsi 0,22-0,35 mg/l; bobot terkecil pada
kelompok 1 dengan berat 68 gram, serta nilai laju konsumsi 0,047 mg/l. Sedangkan
pada Lab. Akuakultur, rentang bobot 111-113 gram memiliki laju konsumsi 0,0370,040 mg/l; pada rentang 140-141 gram (terberat) didapat laju konsumsi sebesar
0,029-0,031 mg/l; dan bobot terkecil pada kelompok 23 dengan 95,5 gram, serta laju
konsumsi sebesar 0,052 mg/l. Kemudian dari data Lab.MSP seperti pada pembahasan
sebelumnya. Maka dapat dianalisis dan dilihat terdapat perbedaan dari hasil DO awal
sehingga mempengaruhi laju konsumsi oksigen pada data keseluruhan kelas B.
Bila data tersebut dibandingkan dengan data kelas atau data dari laboratorium
lain. Terdapat perbedaan yang dihasilkan dari setiap laboratorium. Pada Lab. MSP
DO awal didapat sebesar 5,4 mg/l. Namun, pada Lab. FHA dan Akuakultur didapat
DO awal sebesar 5 mg/l. Dari perbedaan jumlah DO awal akan mempengaruhi nilai
yang dihasilkan dari laju konsumsi oksigen.

23

Kemudian dari cara penutupan wadah, terdapat pula perbedaan. Pada Lab.FHA
dan Akualtur menggunakan cling wrap sebagai alat bantu untuk menutup. Sedangkan
pada Lab.MSP menggunakan tutup dari wadah plastik tersebut. Dari perbedaan
tersebut sebenarnya memberikan pengaruh terhadap hasil akhir DO. Hal ini
disebabkan karena cling wrap memiliki tingkat kerapatan yang cukup tinggi
dibandingkan dengan tutup wadah plastik. Dengan semakin rapatnya tutup maka
mencegah oksigen dari udara masuk kedalam wadah yang berisi air (memiliki tingkat
kepercayaan yang tinggi).
Pengaruh berikutnya dari pengukuran DO akhir, bila menggunakan cling wrap
maka pengukuran dilakukan dengan menusuk tutup untuk menghindari terlalu
lebarnya celah dibandingkan dengan menggunakan tutup wadah. Pembacaan skala
pada DO meter juga mempengaruhi nilai DO akhir yang didapatkan. Kesalahan
membaca akan mempengaruhi keabsahan atau kebenaran hasil dari penghitungan laju
konsumsi oksigen.

24

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :

Laju konsumsi oksigen berbanding lurus dengan tingkat agresifitas (aktifitas),


laju metabolisme dan tingkat emosi/stress.

Laju konsumsi oksigen pada setiap ikan memiliki jumlah yang berbeda-beda
bergantung dengan jenisnya (spesies), bobot, jenis kelamin, dan umur ikan.

Hasil dari laju konsumsi oksigen kelompok 9 dengan bobot 83,77 gram sebesar
0,040 mg/l.

Faktor yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen adalah bobot ikan, daya
aktivitas ikan tersebut, laju metabolisme, umur ikan, tingkat emosi/ stress, jenis
kelamin, dan suhu lingkungan.

Faktor lain yang mempengaruhi pengukuran nilai DO adalah perbedaan alat


bantu untuk menutup wadah, dan cara pengukuran DO akhir.

5.2

SARAN
Untuk mendapatkan hasil yang absolut dan benar dibutuhkan alat-alat yang
berfungsi dengan baik, serta tingkat ketelitian dari praktikan. Sehingga
pengukuran dan penghitungan yang dilakukan meminimalkan tingkat kesalahan
dari praktikan (human error) dan kesalahan akibat alat yang tidak dapat
berfungsi dengan baik.

24

DAFTAR PUSTAKA

Alfiansyah,

Muhammad.

2011.

Sistem

Pernafasan

Ikan

(Pisces).

Dari

http://www.sentra-edukasi.com/2011/08/sistem-pernapasan-ikanpisces.html#.VEHzdGeM_H0 (diakses pada tanggal 18 Oktober 2014


pada pukul 09.00 WIB).

Arsyad. 1999. Klasifikasi Ikan Mas (Cyprinus carpio). PT Gramedia Utama. Jakarta.

Fujaya Yushinta. 2002. Fisiologi Ikan. Fakultas Ilmu Kelautan dan perikanan,
Universitas Hasanudin. Makassar.

Kimball, J. W. 1988. Biologi Jilid II. Diterjemahkan oleh Siti Soetarmi Tjitrosomo
dan Nawangsari Sugiri. Erlangga. Jakarta

Ville, C. A., W. F. Walker and R. D. Barnes. 1988. Zoologi Umum. Erlangga. Jakarta

Zipcodezoo. Cyprinus carpio. Dari


http://zipcodezoo.com/Animals/C/Cyprinus_carpio_carpio/

(diakses

pada tanggal 09 Oktober 2014 pada pukul 12.14 WIB).

Zonneveld, N. H. 1991. Prinsip-Prinsip Budidaya Ikan. PT. Gramedia Pustaka


Utama. Jakarta

25

LAMPIRAN

Praktikan Mempersiapkan toples/Wadah


plastic yang telah diisi air untuk tempat
percobaan dan Penutup wadah yang
terbuat dari plastic

Praktikan Memaasukkan 1 ekor


ikan mas ke dalam wadah

Asisten Laboratorium dan


praktikan mengukur DO awal

Praktikan Mengukur massa/berat ikan

26

Ikan setelah 30 menit


Ikan di biarkan didalam toples yang telah
diisi dengan air dalm keadaan toples
tertutup rapat selama 30 menit

Asisten Laboratorium dan praktikan


mengukur DO akhir

27