Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH MIKOLOGI

FUNGI DIVISI ASCOMYCOTA

OLEH :
MULKI MUHAMMAD ADAM

(F1D1 13 029)

SRI HANDAYANI PUTRI

(F1D1 13 038)

TRI WIDYASTUTI

(F1D1 13 052)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum, Wr. Wb.


Puji Syukur Kami panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa
karena berkat limpahan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan penyusunan
Makalah Fungi Divisi Ascomycota dengan lancar.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas yang merupakan salah
satu syarat komponen penilaian dalam Mata Kuliah Mikologi. Makalah ini berisi
penjelasan dari Fungi Divisi Ascomycota yang materinya disesuaikan dengan
sumber referensi yang tepercaya.
Tidak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah
Mikologi, karena atas pengarahan dan bimbingannya kami dapat menyelesaikan
Makalah Fungi Divisi Ascomycota. Kami sebagai penyusun Makalah ini,
menyadari bahwa makalah ini tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, kami
sangat mengharapkan kritik ataupun saran dari pembaca makalah ini. Ini kami
harapkan demi kesempurnaan makalah yang akan datang.
Wassalamu Alaikum Wr. Wb

Kendari,

September 2015

Penyusun

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..........................................................................................i
KATA PENGANTAR.........................................................................................ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................iii
I.

PENDAHULUAN
1.1...................................................................................................................
Latar Belakang.........................................................................................1
1.2...................................................................................................................
Rumusan Masalah ...................................................................................2
1.3...................................................................................................................
Tujuan.......................................................................................................2
1.4...................................................................................................................

Manfaat....................................................................................................2
II. PEMBAHASAN
II.1..................................................................................................................
Peranan Fungi Ascomycetes....................................................................3
II.2..................................................................................................................
Struktur Vegetatif dan Generatif Fungi Ascomycetes .............................3
II.3..................................................................................................................
Siklus Hidup Fungi Ascomycetes............................................................5
II.4..................................................................................................................Lin
gkungan Pertumbuhan Fungi Ascomycetes ............................................6
II.5..................................................................................................................Pen
gendalian Fungi Patogen Divisi Ascomycota .........................................7
II.6..................................................................................................................Kla
sifikasi dan Taksonomi Divisi Ascomycota ............................................8
III. PENUTUP
III.1.................................................................................................................
Kesimpulan..............................................................................................9
III.2.................................................................................................................
Saran ........................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA

iii

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fungi atau cendawan merupakan salah satu kelompok besar dunia
kehidupan, meliputi kapang, khamir, jamur, dan lumut kerak yang hampir
ditemukan di semua relung ekologi di sekitar kehidupan makhluk hidup
lainnya. Fungi merupakan organisme berinti, berspora, tidak memiliki klorofil,
berupa benang-benang bercabang, dinding selnya tersusun atas selulosa, kitin
atau keduanya, hidup tergantung dari zat-zat organik yang terdapat pada
substrat tempat tumbuhnya, oleh karena itu fungi digolongkan organisme
heterotrof (Alexopoulus, et.al., 1966).
Fungi atau cendawan sangat berperan penting dalam kelangsungan
kehidupan manusia, hewan, tumbuhan maupun mikroorganisme lainnya sebab
dengan kehadirannya di alam tropik memberikan pengaruh yang sangatlah
menonjol baik itu memberikan dampak positif maupun negatif dari segi
kehidupan makhluk hidup. Salah satu dampak positifnya yakni dapat
dimanfaatkan sebagai sumber makanan dan mampu mendegradasi zat-zat
organik maupun anorganik yang tidak dapat terdaurkan secara biogeokimia
(Wahyuni, 2010). Salah satu dampak negatif dengan kehadiran fungi yakni
dapat bersifat patogen yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit.
Faktor lingkungan sangatlah mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan dari fungi yang akan menentukan eksistensi kehidupannya di
alam yang meliputi faktor biotik dan abiotik. Fungi memiliki ciri-ciri yang
berbeda dengan organisme lainnya, untuk itu penting mengetahui segala segi
kehidupan dari fungi agar kita dapat memanfaatkan dan mengendalikan fungi
untuk keperluan pengembangan ilmu pengetahuan yang dapat bermanfaat bagi

kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Makalah ini menyajikan dan
membahas salah satu divisi dari fungi yakni Ascomycota.
2
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa saja fungi yang menguntungkan dan merugikan dari divisi
2.
3.
4.
5.
6.

Ascomycota ?
Bagaimana struktur vegetatif dan generatif fungi Ascomycota ?
Bagaimana siklus hidup fungi Ascomycota ?
Bagaimana kondisi lingkungan pertumbuhan untuk fungi Ascomycota ?
Bagaimana cara mengendalikan fungi patogen dari divisi Ascomycota ?
Bagaimana klasifikasi fungi Ascomycota ?

1.3 Tujuan
Tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui jenis-jenis fungi yang menguntungkan dan merugikan dari
2.
3.
4.
5.
6.

divisi Ascomycota.
Mengetahui struktur vegetatif dan generatif fungi Ascomycota.
Mengetahui siklus hidup fungi Ascomycota.
Mengetahui kondisi lingkungan pertumbuhan untuk fungi Ascomycota.
Mengetahui cara mengendalikan fungi patogen dari divisi Ascomycota.
Mengetahui klasifikasi fungi Ascomycota.

1.4 Manfaat
Manfaat dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui jenis-jenis fungi yang menguntungkan dan merugikan
dari divisi Ascomycota.
2. Dapat mengetahui struktur vegetatif dan generatif fungi Ascomycota.
3. Dapat mengetahui siklus hidup fungi Ascomycota.
4. Dapat mengetahui kondisi lingkungan pertumbuhan untuk fungi
Ascomycota.
5. Dapat mengetahui cara mengendalikan fungi patogen dari divisi
Ascomycota.
6. Dapat mengetahui klasifikasi fungi Ascomycota.
3

II. PEMBAHASAN
2.1 Peranan Fungi Ascomycetes
2.1.1 Fungi yang Menguntungkan dari golongan Ascomycetes
- Saccharomyces cereviciae, berperan dalam pembuatan bir, roti
maupun alkohol, sebab dapat memproduksi etanol secara fermentasi

dalam jumlah yang besar dan mempunyai toleransi terhadap alkohol


-

yang tinggi (Koesoemadinata, 2001).


Penicillium chrysogenum, berperan dalam pembuatan antibiotik
penisilin. Antibiotik penisilin ini digunakan untuk menghambat

bahkan membunuh bakteri patogen.


Penicillium roqueforti, berperan dalam meningkatkan kualitas keju.
Aspergillus oryzae, berperan dalam pembuatan tauco.
Aspergillus wentii, berperan dalam pembuatan kecap.

2.1.2 Fungi yang Merugikan dari golongan Ascomycetes


-

Venturia inaequalis, penyebab penyakit yang merusak buah apel.

- Clavisceps purpurea, penyebab penyakit ergot pada tanaman


gandum. Gandum yang terkena spesies ini akan menimbulkan

ergotisma pada hewan atau manusia yang memakannya.


Aspergillus flavus, mengandung senyawa aflatoksin yang hidup pada
kacang dan media lain yang sejenis, dapat membahayakan hati

(liver) dan bersifat karsinogenik.


Penicillium marneffei, menyebabkan penyakit penisiliosis dengan

kelainan pada kulit dan paru.


Candida albicans, menyebabkan peradangan atau infeksi pada
mulut, kulit, kuku, vulvovaginitis, stomatitis.

2.24Struktur Vegetatif dan Generatif Fungi Ascomycetes


Ascomycetes bereproduksi secara aseksual (vegetatif) dengan cara
menghasilkan spora aseksual dalam jumlah yang sangat besar yang
sering kali tersebar oleh angin. Spora aseksual ini dihasilkan pada ujung
hifa yang terdapat dalam rantai yang panjang atau berkelompok.
Ascomycetes memiliki tahapan dikariotik yang lebih panjang yang
dihubungkan dengan pembentukan askokarpus. Reproduksi secara
seksual (generatif) menghasilkan spora yang mirip kantung (Campbell, et
al., 2003).
Reproduksi Ascomycota terjadi secara aseksual dan seksual. Pada
Ascomycota multiselular, reproduksi aseksualnya terjadi dengan cara
membentuk konidia. Konidia merupakan spora aseksual yang dibentuk di

ujung konidiofor. Konidiofor sendiri adalah hifa yang termodifikasi


membentuk tangkai sporangium. Reproduksi secara seksual pada
Ascomycota uniselular terjadi dengan cara konjugasi Askus merupakan
struktur mirip kantung yang mengandung spora (askospora). Adapun
pada Ascomycota multiseluler, reproduksi seksualnya terjadi dengan cara
perkawinan antara hifa haploid (n) yang berbeda jenis, yaitu hifa positif
dan hifa negatif. Hifa dikariotik (berinti dua) merupakan hifa yang
terbentuk pada saat penyatuan hifa positif dan hifa negatif. Pada hifa
dikariotik, ujung-ujungnya akan membentuk askus. Askus tersebut akan
berkelompok membentuk tubuh buah (askokarp).
Ascomycetes merupakan golongan jamur yang memiliki ciri
dengan spora yang terdapat di dalam kantung yang disebut askus. Askus
adalah sel yang membesar yang di dalamnya terdapat spora yang disebut
akospora. Setiap askus biasanya memiliki 2-8 askospora. Kelompok ini
memiliki 2 stadium perkembangbiakan yaitu stadium konidium atau
stadium seksual dan stadium askus atau stadium aseksual. Kebanyakan
ascomycetes bersifat mikroskopis, sebagian kecil bersifat makroskopis
yang memiliki tubuh buah (Gandjar dkk., 2006).

5
2.3 Siklus Hidup Fungi Ascomycetes
Ascomycetes berkembang biak secara vegetatif (aseksual) dan generatif
(seksual).

- Perkembangbiakan secara vegetatif (aseksual) dengan membelah diri,


membentuk tunas, fragmentasi, dan membentuk konidia. Pada Ascomycetes
multiseluler berlangsung dengan membentuk Konida atau Konidiospora
yang merupakan spora vegetatif. Konidia terbentuk pada ujung hifa yang

tegak, bersekat dan berjumlah empat butir. Pada Ascomycetes uniseluler


berlangsung dengan cara membentuk tunas (blastospora). Pada waktu masih
muda, tunas menempel pada sel induk dan setelah dewasa, tunas

melepaskan diri dari sel induk.


Perkembangbiakan secara generatif (seksual), pada Ascomycetes uniseluler
(misalnya Saccharomyces) berlangsung dengan cara Konjugasi dan
menghasilkan zigot diploid (2n). Zigot kemudian tumbuh menjadi askus
(berbentuk kantong panjang berisi askospora). Di dalam askus terjadi
pembelahan meiosis yang menghasilkan empat sel askospora haploid (n)
yang

merupakan

spora

generatif.

Pada Ascomycetes

multiseluler,

konidiospora/askospora tumbuh menjadi benang hifa. Hifa bercabang


membentuk miselium dan ujung miselium yang vegetatif berubah fungsi
membentuk askogonium (oogonium) dan ujung lain dari miselium
membentuk anteridium. Askogonium membentuk tonjolan (trikogen) yang
menghubungkan askogonium dan anteridium. Plasma dan inti anteridium
berpindah ke askogonium. Inti-inti askogonium berpasangan dengan inti-inti
anteridium. Askogonium yang memiliki pasangan inti membelah secara
mitosis membentuk hifa dikarion yang diploid (2n). Hifa dikarion
memanjang dan membelah menjadi miselium yang akan membentuk badan
buah. Ujung-ujung hifa dikarion membentuk askus, dua inti pada bakal
askus membentuk inti diploid (2n) dan membelah secara meiosis)
menghasilkan 8 spora askus (askospora) yang haploid (n).
6

Gambar 1. Reproduksi Ascomycetes


2.4 Lingkungan Pertumbuhan Ascomycetes
Pada umumnya fungi dari divisi Ascomycota hidup pada habitat yang
basah (berair) dengan cara hidup saprofit, parasit maupun bersimbiosis dengan
ganggang membentuk Lichenes (lumut kerak). Faktor lingkungan juga sangat
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fungi Ascomycetes. Faktor
lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan fungi antara
lain, kelembaban, suhu, pH tanah dan intensitas cahaya. Kelembaban udara
antara 65% - 70% sangat baik untuk pertumbuhan miselium. Ketersediaan air
di lingkungan sekitar fungi sangat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangannya. Hal ini menyebabkan hifa fungi dapat menyebar ke atas
permukaan tanah yang kering atau muncul di atas permukaan substrat (Carlile
and Watkinson, 1995). Curah hujan yang tinggi, akan membuat variasi suhu
yang rendah dan kelembagaan yang relatif tinggi. Nutrisi yang tersedia pada
substrat dipengaruhi oleh pH, sehingga mempengaruhi pertumbuhan fungi.
Kebanyakan fungi Ascomycetes hidup pada substrat yang mengandung C
organik dan tumbuh dengan baik pada pH yang asam sampai netral (Barnes et
7al., 1997).
2.5 Pengendalian Fungi Patogen dari Golongan Ascomycetes (fungisida)

Aspergillus flavus
Serangan hama

dan infeksi patogen akan mempengaruhi

penampilan tanaman dan kebernasan serta kualitas biji. Biji rusak rentan
terhadap infeksi A. flavus dan kontaminasi aflatoksin (Rahmianna dkk,
2007). Selain itu, luka makro maupun mikro akibat hama maupun patogen
merupakan jalan masuk bagi A. flavus untuk menginfeksi biji atau
bertahan sebagai sumber inokulum yang terbawa pada periode pasca
panen. Salah satu contoh rekomendasi untuk lahan yang endemik hama
uret adalah aplikasi Carbofuran 0,5 4 kg/ha tergantung pada stadia dan
populasi hama pada saat kacang tanah berumur 50 hari atau pada saat
tanaman memasuki fase pembentukan polong dan pengisian biji. Aplikasi
dilakukan segera sesudah pengairan (Ginting dkk, 2003).
Pengendalian biologi menggunakan A. flavus strain non toksik
memiliki prospek yang menjanjikan untuk mengurangi kontaminasi
aflatoksin pra panen. Strain non toksik hidup di lingkungan (niche) yang
sama dengan strain toksik, sehingga strain non toksik mampu berkompetisi
karena menggunakan ruang dan sumber nutrisi yang sama (Abbas, 2011).
Keuntungan lain adalah strain non toksik yang terbawa pada periode panen
dan pasca panen tidak beresiko untuk menghasilkan aflatoksin.
-

Candida albicans
Fluconazole (Diflucan) adalah bahan/zat anti jamur sintetis
yang dapat digunakan untuk pengobatan infeksi Candida albicans dan
infeksi jamur lainnya. Flukonazol merupakan inhibitor cytochrome P-450
sterol C-14 alpha-demethylation (biosintesis ergosterol) jamur yang sangat
selektif. Pengurangan ergosterol, yang merupakan sterol utama yang
terdapat di dalam membran sel-sel jamur, dan akumulasi sterol-sterol yang
mengalami metilase menyebabkan terjadinya perubahan sejumlah fungsi
sel yang berhubungan dengan membran. Secara in vitro flukonazol
memperlihatkan

aktivitas

fungistatik

8 neoformans dan Candida spp.


2.6 Klasifikasi dan Taksonomi Ascomycota

terhadap Cryptococcus

Menurut Largent (1977), salah satu cara untuk mengetahui genus atau
jenis jamur mikroskopis yaitu dengan mengamati karakter-karakter utama
yang

dimilikinya.

Karakter

utama

yang

dimiliki

jamur

adalah

makromorfologi dan mikromorfologi. Karakter mikromorfologi meliputi


bentuk hifa, ukuran hifa, bentuk spora, ukuran spora, warna spora, bentuk
sistidum dan ukuran sistidum.

- Genus Aspergillus
Kerajaan
Divisi
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Fungi
: Ascomycota
: Eurotiomycetes
: Eurotiales
: Euroticeae
: Aspergillus
: Aspergillus fumigatus, Aspergillus flavus, Aspergillus
clavatus, Aspergillus nidulans, Aspergillus niger,
Aspergillus oryzae, Aspergillus wentii
(Sudiro, 1993).

- Genus Penicillium
Kerajaan
Divisi
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Fungi
: Ascomycota
: Eurotiomycetes
: Eurotiales
: Trichocomaceae
: Penicillium
: Penicillium notatum, Penicillium chrysogenum.
Penicillium marneffei, Penicllium roqueforti, Penicllium
camemberti
(Wikipedia Indonesia, 2015)
Genus Saccharomyces
Kerajaan
: Fungi
Divisi
: Ascomycota
Kelas
: Saccharomycetes
Ordo
: Saccharomycetales
Famili
: Saccharomycetaceae
Genus
: Saccharomyces
Spesies
: Saccharomyces cereviseae, Saccharomyces boullardii,
Saccharomyces uvarum
(Wikipedia Indonesia, 2015)

9
3.1 Simpulan

BAB III. PENUTUP

Simpulan yang terdapat pada makalah Fungi Divisi Ascomycota adalah


sebagai berikut :
1. Fungi dari divisi Ascomycota memiliki peran yang menguntungkan dan
merugikan. Contoh Ascomycota yang menguntungkan antara lain :
Saccharomyces cereviciae, Penicillium notatum, Aspergillus oryzae,
Aspergillus wentii, dan Penicillium roqueforti. Contoh Ascomycota yang
merugikan antara lain : Penicillium marneffei, Aspergillus flavus,
Clavisceps purpurea, Candida albicans, dan Venturia inaequalis.
2. Struktur vegetatif (aseksual) Ascomycota meliputi, tunas (blastospora),
komidi, konidiofor, sedangkan struktur generatif (seksual) Ascomycota
meliputi, askus, askospora haploid, konidiaspora, miselium, askogonium,
arkegonium, hifa dikarion).
3. Siklus hidup Ascomycota meliputi reproduksi secara aseksual dan seksual.
4. Lingkungan pertumbuhan yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan bagi Ascomycota meliputi habitat pada lingkungan basah
dan darat (saprofit, parasit, simbiosis dengan ganggang) dan faktor-faktor
lingkungan (kelembaban udara 65%-70%, pH substrat optimum berkisar
5,5-7,5, suhu optimum 25-35 oC, dan cahaya dengan panjang gelombang
320-720 nm.
5. Pengendalian fungi patogen Ascomycota (Fungisida) dapat menggunakan
aplikasi Carbofuran 0,5-4 kg/Ha, menggunakan fungi antagonis dengan
strain non toksik, Fluconazole (DiflucanTM).
6. Klasifikasi dan taksonomi Ascomycota

didasarkan

atas

karakter

mikromorfologi. Tiga genus utama dalam divisi Ascomycota yaitu genus


Aspergillus, Penicillium dan Saccharomyces.
1
3.10Saran

Saran yang diajukan dalam makalah Fungi Divisi Ascomycota adalah

agar kita senantiasa menjaga kebersihan lingkungan internal maupun


eksternal tubuh sehingga dapat terhindar dari fungi atau cendawan yang
bersifat patogen yang dapat menimbulkan penyakit bahkan menyebabkan
kematian.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N. A., Reece., and Mitchel, 2003, Biologi Edisi Kelima


Jilid Dua, Erlangga, Jakarta.
Constantine J. Alexopoulos, Charles
Blackwell., 1996, Introductory
Publisher : Wiley, New York.

W. Mims, Meredith M.
Mycology, 4th Edition,

Gandjar, I., Sjamsuridzal, W., Oetari, A., 2006, Mikologi Dasar dan
Terapan, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Koesoemadinata, V. C., 2001, Pemanfaatan Gula Hasil Hidrolisis Hemiselulosa
Tandan Kosong Sawit untuk Produksi Etanol secara Fermentasi, Laporan
Hasil Penelitian, Jurusan Teknik Kimia FTI, ITB, Bandung.
Wahyuni, D., 2010, Mikologi Dasar, Jember University Press, Jawa Timur.