Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kegiatan penambangan untuk membongkar bahan galian dapat
dilakukan dengan salah satu cara yaitu peledakan, untuk melakukan peledakan
sebelumnya

telah

diperhitungkan

faktor-faktornya.

Faktor-faktor

tersebut

diantaranya biaya yang dikeluarkan untuk melakukan peledakan, kekerasan


batuan yang akan dibongkar, kesulitan membongkar suatu batuan, waktu yang
diperlukan untuk membongkar suatu bahan galian dan keamanan untuk
membongkar suatu batuan.
Proses pembokaran bahan galian dengan menggunakan metode
peledakan diawali dengan pengeboran lubang ledak yang dilanjutkan dengan
peledakan. Perhitungan mengenai kegiatan perlu dilakukan karena diharapkan
akan menghasilkan fragmentasi yang optimal, ketika setelah kegiatan peledakan
hasil fragmentasinya buruk maka akan merugikan kepada semua pihak
dikarenakan adanya tambahan biaya dan waktu.

1.2 Maksud dan Tujuan


1.2.1

Maksud
Maksud dari praktikum kali ini adalah memberikan pemahaman tentang

geometri peledakan pada tambang terbuka.


1.2.2

Tujuan

Mengetahui pengertian dari geometri peledakan

Mengetahui unsur-unsur geometri peledakan pada tambang terbuka

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1

Geometri Peledakan
Geometri peledakan merupakan suatu cara perhitungan mengenai

kegiatan peledakan yang ditujukan supaya kegiatan peledakan dapat bekerja


secara

optimum.

Perhitungan

tersebut

didapat

berdasarkan

percobaan-

percobaan kegiatan peledakan. Perhitungan geometri peledakan diperkenalkan


oleh berbagai ahli diantaranya Anderson (1952), Pearse (1955), R.L Ash (1963),
Langefors (1978), Konya (1972), Foldesi (1980), Olofsson (1990) dan Rustan
(1990).

Sumber : 1902miner.wordpress.com

Gambar 2.1
Geometri Peledakan

Dari gambar 2.1 dapat dijelaskan bagian-bagian dari geometri peledakan


dengan menggunakan sistem jenjang. Dimana :
B

: Burden

: Tinggi Jenjang

: Subdrilling

PC

: Powder Column

: Stemming

: Burden Semu

: Spacing

: Hole Depth

Dalam melakukan kegiatan peledakan dalam suatu area tidaklah dapat


dipungkiri terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan peledakan,
faktor tersebut sangatlah berperan penting untuk membuat keputusan ketika
akan memulai kegiatan peledakan. Faktor-faktor tersebut dimulai dari aspek
teknis, merupakan suatu parameter yang menjadikan keberhasilan target
produksi berdasarkan ketepatan data actual dilapangan dengan perhitungan
yang telah dilakukan. Aspek keselamatan kerja, merupakan suatu aspek yang
memperhatikan keselamatan kerja pada seluruh rangkaian kegiatan peledakan
beserta faktor daerah kerja. Aspek lingkungan, merupakan suatu aspek yang
memperhatikan dampak-dampak yang akan muncul ketika kegiatan peledakan
selesai dilakukan yang berpengaruh kepada lingkungan sekitar.
Selain aspek diatas dalam pembuatan desain peledakan pada suatu
wilayah, perlu untuk memperhatikan parameter-parameter yang ada dalam suatu
wilayah tersebut. Parameter tersebut diantaranya :
a. Diameter lubang bor
b. Spasing
c. Burden
d. Tinggi jenjang
e. Stemming
f.

2.2

Sub Drill

Faktor-Faktor Geometri Peledakan


Faktor-faktor yang ada dalam geometri peledakan antara satu dengan

yang lainnya sangatlah berkaitan erat, untuk itu sebaiknya mengenal faktor-faktor
apa saja yang terdapat dalam geometri peledakan.
2.2.1

Diameter Lubang Bor


Pemilihan ukuran lubang bor (diameter lubang bor) sangatlah diperlukan

untuk mendapatkan hasil peledakan yang maksimal. Seiring meningkatnya


produksi pada suatu area penambangan maka pemilihan lubang bor akan
semakin besar, dengan kata lain bahwa pemilihan lubang bor sangat tergantung
oleh perkembangan produksi. Peningkatan diameter lubang bor sesuai dengan
kemajuan produksi haruslah dengan syarat bahwa dengan alat bor dan kondisi
batuan yang sama. Dari diameter inilah nantinya akan mempengaruhi kepada
tinggi atau kedalaman lubang bor. Terdapat keterbatasan dalam pemilihan

diameter lubang bor, aspek tersebut yaitu dari segi ukuran fragmentasi hasil
peledakan, air blast, flying rocks, keperluan penggalian batuan secara selektif
dan isian bahan peledak utama harus dikurangi atau lebih kecil dari perhitungan
teknis yang ada karena pertimbangan energi yang dihasilkan pasca peledakan
sampai pertimbangan dari segi ekonomis.

Dimana

: D = Diameter lubang bor (mm).


K = Tinggi jenjang (mm).

Dengan percobaan di lapangan bahwa ketika batuan memiliki kerapatan


yang

solid

maka

ukuran

fragmentasi

batuan

tersebut

akan

memiliki

kecenderungan untuk meningkat apabila perbandingan kedalam lubang ledak


dan diameter kurang dari 60. Pemilihan besar kecilnya diameter lubang bor
seharusnya harus melihat ke struktur geologi yang ada pada area kerja dan juga
dari segi ekonomisnya. Semakin besar diameter lubang bor maka akan semakin
panjang juga tinggi lubang bornya.

Sumber : 1902miner.wordpress.com

Gambar 2.2
Pengaruh Diameter Lubang Tembang Pada Stemming

Sumber : 1902miner.wordpress.com

Gambar 2.3
Pengaruh Diameter Lubang Bor Terhadap Kedalaman

2.2.2 Ketinggian Jenjang


Tinggi jenjang merupakan jarak antara bidang datar dalam bench
terhadap bidang datar dibawahnya yang diukur secara tegak lurus (vertikal).
Tinggi jenjang ini memiliki batasan maksimum yang tergantung kemampuan atau
jangkauan alat. Dalam merencanakan geometri peledakan diperhatikan tentang
pengaruh ledakan terhadap kestabilan jenjang. Penggunaan besar kecilnya
diameter lubang bor sangat mempengaruhi terhadap perhitungan jenjang,
apabila diameter lubang bor kecil maka jenjang pendek dan diameter lubang bor
besar maka untuk jenjang yang lebih tinggi. Terdapat rumus untuk hubungan
lubang bor dengan ketinggian jenjang :

Dimana

: K = Tinggi Jenjang (m)


D = Diameter lubang bor

2.2.3 Burden
Burden merupakan jarak dari lubang bor terhadap bidang bebas yang
terdekat pada saat terjadi kegiatan peledakan. Burden ini sangat berpengaruh
terhadap fragmentasi dan efek peledakan.

Sumber : 1902miner.wordpress.com

Gambar 2.4
Burden Terhadap Fragmentasi

Yang mempengaruhinya ialah dari jaraknya apabila jarak burden terlalu dekat
maka akan timbul flyrocks dan sebaliknya bila jarak burden terlalu dekat maka
akan tibul retak-retak disekeliling lubang bor bahkan terjadi flyrocks kearah atas
(vertikal). Untuk menentukan dimensi burden pada tempat yang berbeda maka

digunakan burden adjustment pada batuan dan jenis handak. Dalam pengeboran
tegak hanyalah dikenal satu burden, sebaliknya pada pengeboran miring
terdapat dua burden yaitu burden sebenarnya (true burden) dan burden semu
(apparent burden), yang dimana bahwa burden semu merupakan jarak antar
surface dan lubang bor dalam posisi miring sesuai dengan sudut kemiringan
lubang. Berikut merupakan rumus burden :
Menurut C.J. Konya

B 3,15.De.3
Dimana

:B
De

SGe
SGr

= burden (ft)
= diameter lubang tembak (inch)

SGe = specific gravity bahan peledak


SGr = specific gravity batuan yang diledakkan
Menurut R.L. Ash

B Kb.
Dimana

d
12

: B = burden (ft)
Kb = burden ratio (14 49 ; harga rata-rata 30)
d = diameter mata bor (inch)

2.2.4 Spasing
Spacing adalah jarak antara lubang tembak dalam satu baris (row) dan
diukur sejajar terhadap pit wall. Biasanya spacing tergantung pada burden,
kedalaman lubang bor, letak primer, waktu tunda, dan arah struktur bidang
batuan. Berikut merupakan rumus spasing :
Menurut C.J. Konya

S B.L
Dimana :

S = spacing (m)
L = kedalaman lubang ledak (m)
B = burden (m)

Menurut R.L. Ash

S Ks.B

Dimana :

= spacing (ft)

Ks = spacing ratio (1-3; rata-rata 1,5)


B

= burden (ft)

2.2.5 Subdrilling
Subdrilling adalah tambahan kedalaman daripada lubang bor dibawah
rencana lantai jenjang. Subdrilling perlu untuk menghindari problem tonjolan
pada lantai (toe), karena dibagian ini adalah tempat yang paling sukar
diledakkan. Dengan demikian, gelombang ledak yang ditimbulkan pada lantai
dasar jenjang yang akan bekerja secara maksimum. Berikut merupakan rumus
Subdrilling :
Menurut C.J. Konya

Dimana :

SD = subdrilling (ft)
Ks = antara 0,3 sampai 0.5
B

= burden (ft)

Menurut R.L. Ash

Dimana :

= subdrilling (ft)

Kj

= subdrilling ratio (rata-rata 0,33 dan minimum 0,3)

= burden (ft)

2.2.6 Stemming
Stemming adalah panjang isian lubang ledak yang tidak diisi dengan
bahan peledak tapi diisi dengan material seperti tanah liat atau material hasil
pemboran (cutting), dimana stemming berfungsi untuk mengurung gas yang
timbul sehingga air blast dan flyrock dapat terkontrol.
Panjang pendeknya stemming juga akan mempengaruhi hasil dari
peledakan, jika stemming terlalu panjang, maka :

a Ground vibration tinggi (getar tinggi).


b Lemparan kurang.
c

Fragmentasi area jelek.

d Suara kurang.
Jika stemming terlalu pendek :

a Fragmentasi diarea bawah jelek.


b Terdapat toe di floor (tonjolan di floor).
c

Terjadi flying rock.

d Suara keras (noise) atau (airblast).


Menurut C.J. Konya

Dimana

:T

= stemming (m)

Kt

= 0.17 sampai 1 kali B

= burden (m)

OB = overburden (m)
Menurut R.L Ash

Dimana

:T

= stemming (ft)

Kt = stemming ratio (0,5-1; rata-rata 0,7)


B

= burden (ft)

2.2.7 Kedalaman Lubang Tembak


Kedalaman lubang ledak tergantung pada ketinggian bench, burden, dan
arah pemboran. Kedalaman lubang tembak merupakan penjumlahan dari
besarnya stemming dan panjang kolom isian bahan peledak. Berikut merupakan
rumus kedalamana lubang tembak :
Untuk lubang ledak vertikal

H LJ
Dimana

:H

= kedalaman lubang ledak (m)

= tinggi bench (m)

= subdrilling (m)

Untuk lubang ledak miring

H
Dimana

:H

L
J
cos

= kedalaman lubang ledak (m)

= tinggi bench (m)

= subdrilling (m)

2.3

Powder Factor (PF)


Powder factor (PF) menunjukkan jumlah bahan peledak (kg) yang dipakai

untuk memperoleh satu satuan volume atau berat fragmentasi peledakan, jadi
satuannya biasa kg/m atau kg/ton. Pemanfaatan PF cenderung mengarah pada
nilai ekonomis suatu proses peledakan karena berkaitan dengan harga bahan
peledak yang digunakan dan perolehan fragmentasi peledakan yang akan dijual.
Berikut merupakan rumus kedalamana powder factor :

Dimana

:V

= Volume (cubic yard)

= Spacing (ft)

= Burden (ft)

= Tinggi jenjang (ft)

BAB III
TUGAS DAN PEMBAHASAN

3.1

Tugas

1.

Hitung geometri peledakan berdasarkan rumusan yang telah disusun oleh

R.L. Ash dan C.J. Konya dan gambarkan dikertas millimeter blok dan dengan
menggunakan Coreldraw. Dengan :

= 800

Kbstd

= 30

SGe

= 0,85

SGestd

= 1,2

VOD handak = 11.803 fps

2.

VODstd

= 12.000 fps

De

= 3,30 inch

SGr

= 2,5 ton/m3 = 155,76

SGrstd

= 160 lb/ft3

= 10,30 m

Target Prod

= 10.000

PT. Kebon Bibit Selatan membutuhkan 24.000 ton gamping/hari.

Dilakukan peledakan tiga kali sehari. Diketahui tinggi jenjang 9 m dengan lebar
20 m, kemiringan jenjang 800. Bahan peledak yang digunakan adalah ANFO
dengan VOD = 11.482 fps dan SGe 0,82

gr

/cc. SGr batuan 2,7

ton

/m3. Hitung

Powder Factor jika diketahui Stiffness Ratio = 2,5. Dikerjakan dalam R.L. Ash
dan C.J. Konya .
3.

Untuk mencapai target produksi batubara dua juta ton per tahun, PT.

Bengkulu perlu mengupas overburden sebanyak tujuh juta bcm. Densitas


overburden rata-rata 2,5

ton

/m3 dan bahan peledak yang akan digunakan adalah

ANFO dengan densitas 0,85

gr

/cc. Dengan menggunakan alat bor dengan

diameter 4,30 inch dan tinggi jenjang 12,30 m, hitung seluruh parameter
geometri peledakan, jumlah bahan peledak total, Powder Factor. Bench tegak,
dikerjakan dalam R.L. Ash dan C.J. Konya .

10

11

4.

PT. Minenine mencoba mencapai target produksi batubara dua juta ton

per tahun dan perlu mengupas overburden sebanyak tujuh juta bcm (SR 3,5 : 1).
Densitas overburden hasil pengujuan rata-rata 1,6

ton

/m3 dan bahan peledak yang

akan digunakan adalah ANFO dengan densitas 0,85 gr/cc. Alat bor yang dimiliki
Tamrock tipe Drilltech D25K yang mampu membuat lubang berdiameter 43/4 inch.
Fragmentasi hasil peledakan harus baik, artinya sesuai dimensi mangkok shovel
dan dengan airblast, flyrock serta getaran kurang. Alat muat yang dipakai jenis
Front Shovel Cat 5320B yang mampu menjangkau sampai 15m. Hitunglah
seluruh parameter geometri peledakan, jumlah bahan peledak total dan Powder
Factor. Gambarkan sketsa lubang ledaknya dengan geometri yang telah
dihitung.

3.2

Pembahasan

1.

Diketahui :

= 800

Kbstd

= 30

SGe

= 0,85

SGestd

= 1,2

VOD handak = 11.803 fps


VODstd

= 12.000 fps

De

= 3,30 inch

SGr

= 2,5 ton/m3 = 155,76

SGrstd

= 160 lb/ft3

= 10,30 m

Target Prod

= 10.000

Jawab :
A. C.J. Konya
Burden (B)
B

= 3,15 x De x

= 3,15 x 3,30 x

SGe
Drock

= 7,255 ft = 2,211

0,85
2,5

12

= B x sin
= 2,211 x sin 80
= 2,117 meter

Spacing (S)
B

= 2,117 x 4
= 8,708 meter

= 10,30 meter

Karena L > 4B (L= Tinggi Jenjang ), maka menggunakan rumus


= 1,4 x B
= 1,4 x 2,117
= 3,04 meter

Subdrilling
J

= 0,3 x B
= 0,3 x 2,117
= 0,653 meter

Stemming
T

= 0,7 x B
= 0,7 x 2,117
= 1,523 meter

Kedalaman Lubang Bor (H)


H

= L / (sin 80) + J
= 10,30 + 0,653
= 11,111

Powder Column (PC)


PC = (L + J) T
= HT
= 11,111 1,523
= 9,588 meter

Loading Density (LD)


= 0,508 x De2 x Sge
= 0,508 x 3,302 x 1,2
= 6,63 kg/meter

13

Berat Handak ( w )
W

= LD x PC
= 6,63 x 9,588
= 63,568 kg/lubang

Volume (bcm)
V

= (B x S x L) x sin
= (2,117 x 3,04 x 10,30) x sin
= 67,130 m3

Volume (Tonase)
T

= (B x S x L) x Sgr
= 67,130 x 2,5
= 167,826 ton

Powder Factor
PF = W : T
= 49,598 : 301,367
= 0,164
B. R.L. Ash
AF1 = (

= (

SGe x VOD
SGe std x VOD std
0,85 x 11.803
1,2 x 12.000

= 0,881
AF2 = (

D std
D rock

) 1/3

= (

160
155,76

) 1/3

= 1,008

Burden (B)
B

Kb x De
x sin
12

)1/3

)1/3

14

26,641 x 3,30
x sin 80
12

Spasi (S)
Ks = Kskoreksi x AF1 x AF2
= 1,4 x 0,881 x 1,008
= 1,243
S

= Ks x B
= 1,243 x 2,202
= 2,738 meter

Subdrilling ( J )
KJ = 0,3 x AF1 x AF2
= 0,3 x 0,881 x 1,008
= 0,226
J

= 0,3 x B
= 0,3 x 2,202
= 0,586 m

Stemming ( T )
KT = Sge x AF1 x AF2
= 0,85 x 0,881 x 1,008
= 0,754
T

= Kj x B
= 0,754 x 2,202
= 1,662 meter

Kedalaman Lubang bor (H)


H

= L / (sin 80) + J
= 10,61 + 0,586
= 11,198 meter

Powder Column (PC)


PC = (L + J) T
= HT
= 11,198 1,662
= 9,535 meter

Loading Density (LD)

7,338 ft ------- 2,202 meter

15

LD = 0,508 x De2 x SGe


= 0,508 x 3,302 x 0,85
= 4,7023 kg/m

Berat Handak ( w )
W

= LD x PC
= 4,7023 x 9,535
= 44,836 kg/lubang

Volume (bcm)
V

= ( B x S x L ) x sin
= 2,20 x 2,738 x 10,30 x sin 80
= 61,178 m3

Tonase
T

= V x SGr
= 61,178 x 2,5
= 152,945 ton

Powder Factor
PF = W : Tonase
= 44,836: 152,945
= 0,255 kg/ton

Sumber : Praktikum Teknik Peledakan 2015

Gambar 3.1
Sketsa Geometri Peledakan C.J.KONYA

16

Sumber : Praktikum Teknik Peledakan 2015

Gambar 3.2
Sketsa Geometri Peledakan R.L.ASH

2.

Diketahui :
L

=9m

= 800

VOD

= 11.482 fps

SGe

= 0,82

SGr

= 2,7

SR

=3

Target Prod

= 24.000

Ditanyakan :
Jawab :
A.

C.J. Konya
Burden ( B )
SR = L : B
B

= L : SR
= 9 : 2,5
= 3,6 x sin 80 meter -------- 3,54 meter

Diameter (De)
B

= 3,15 x De x

SGe
Drock

17

3,54

= 3,15 x De x

0,82
2,7

3,54
De

3,15 x

0,82
2,7

= 1,68 inch

Spacing ( S )
S

L+7 B
8

9+(7 x 3 ,54)
8

= 4,22 meter

Stemming ( T )
T

= 0,7 x B
= 0,7 x 3
= 2,1 meter

Subdrilling
J

= 0,3 x B
= 0,3 x 3,54
= 1,062 meter

Kedalaman Lubang bor (H)


H

= L / (sin 80) + J
= 9,138 + 1,062
= 10,200 meter

Powder Column (PC)


PC = (L + J) T
= HT
= 10,200 2,1
= 7,722 meter

Loading Density ( LD )
LD = 0,508 x De2 x SGe

18

= 0,508 x 1,682 x 0,85


= 1,175 kg/m

Berat Handak ( w )
W

= LD x PC
= 1,175 x 7,722
= 9,073 kg/lubang

Volume (bcm)
V

= ( B x S x L ) x sin
= (3,54 x 4,22 x 9) x sin 80
= 132,406 m3

Tonase
T

= V x SGr
= 132,406 x 2,7
= 357,497 ton

Powder Factor
PF = W : Tonase
= 9,073 : 357,497
= 0,025 kg/ton

B.

R.L. Ash
AF1 = (

= (

SGe x VOD
SGe std x VOD std
0,82 x 11.482
1,2 x 12.000

= 0,855
AF2 = (

= (

D std
D rock
160
168.556

= 0,982

Burden (B)

) 1/3

) 1/3

)1/3

)1/3

19

Kb = 30 x AF1 x AF2
= 30 x 0,885 x 0,982
= 25,166
B

Kb x De x
12

25,188 x 4,648
x sin 80
12

Spasi (S)
Ks = Kskoreksi x AF1 x AF2
= 1,4 x 0,855 x 0,982
= 1,176 m
S

= Ks x B
= 1,176 x 1,059
= 1,246

Subdrilling ( J )
KJ = 0,3 x AF1 x AF2
= 0,3 x 0,855 x 0,982
= 0,252
J

= 0,252 x B
= 0,252 x 1,059
= 0,267 meter

Stemming ( T )
KT = Sge x AF1 x AF2
= 0,82 x 0,855 x 0,982
= 0,689
T

= Kj x B
= 0,689 x 1,059
= 0,730 meter

Kedalaman Lubang bor (H)


H

= L / (sin 80) + J
= 9,138 + 0,267
= 10,200 meter

3,530 ft ------- 1,059 m

20

Powder Column (PC)


PC = (L + J) T
= HT
= 10,200 0,730
= 8,536 meter

Loading Density ( LD )
LD = 0,508 x De2 x SGe
= 0,508 x 1,682 x 0,82
= 1,175 kg/m

Berat Handak ( w )
W

= LD x PC
= 1,175 x 8,536
= 10,036 kg/lubang

Volume (bcm)
V

= ( B x S x L ) x sin
= (1,059 x 1,24 x 9) x sin 80
= 11,712 m3

Tonase
T

= V x SGr
= 11,712 x 2,7
= 31,622 ton

Powder Factor
PF = W : Tonase
= 10,036 : 31,622
= 0,317 kg/ton

3.

Diketahui :
L

= 12,30 m

VOD

= 11.482 fps

De

= 4,30

SGe

= 0,85

SGr

= 2,5

Target Prod

= 2.000.000

Overburden

= 7.000.000

21

Ditanyakan :
Jawab :
A.

C.J. Konya
Burden
B

= 3,15 x De x

= 3,15 x 4,30 x

SGe
Drock

0,85
2,5

= 9,453 ft = 2,881 m

Spacing (S)
B

= 2,881 x 4
= 11,524 meter

= 12,30 meter

Karena L > 4B (L= Tinggi Jenjang ), maka menggunakan rumus :


= 1,4 x B
= 1,4 x 2,881
= 4,033 meter

Stemming ( T )
T

= 0,7 x B
= 0,7 x 2,881
= 2,016 m

Subdrilling
J

= 0,3 x B
= 0,3 x 2,881
= 0,864 meter

Kedalaman Lubang bor (H)


H

= L+J
= 12,30 + 0,864
= 13,164 meter

Powder Column (PC)


PC = (L + J) T
= HT

22

= 13,164 2,016
= 11,148 meter

Loading Density ( LD )
LD = 0,508 x De2 x SGe
= 0,508 x 4,302 x 0,85
= 7,983 kg/m

Berat Handak ( w )
W

= LD x PC
= 7,983 x 11,148
= 88,994 kg/lubang

Volume (bcm)
V

= ( B x S x L ) x sin
= (2,881 x 4,033 x 12,30)
= 142,914 m3

Tonase
T

= V x SGr
= 142,914 x 2,5
= 357,286 ton

Powder Factor
PF = W : Tonase
= 88,994 : 357,286
= 0,249 kg/ton

B.

R.L. Ash
AF1 = (

= (

SGe x VOD
SGe std x VOD std
0,85 x 11.482
1,2 x 12.000

= 0,865
AF2 = (

SGr std
SGr

) 1/3

)1/3

)1/3

23

= (

160
2,5

) 1/3

= 1,008

Burden ( B )
Kb = 30 x AF1 x AF2
= 30 x 0,865 x 1,008
= 26,157
B

Kb x De
12

26,157 x 4,30
12

Spasi ( S )
Ks = Kskoreksi x AF1 x AF2
= 1,4 x 0,865 x 1,008
= 1,220
S

= Ks x B
= 1,220 x 2,86
= 3,48

Subdrilling ( J )
KJ = 0,3 x AF1 x AF2
= 0,3 x 0,865 x 1,008
= 0,261
J

= KJ x B
= 0,261 x 2,86
= 0,746 meter

Stemming ( T )
KT = SGe x AF1 x AF2
= 0,85 x 0,865 x 1,008
= 0,741
T

= Kt x B
= 0,741x 2,86

9,37 ft ------- 2,86 m

24

= 2,119 meter

Kedalaman Lubang bor (H)


H

= L+J
= 12,30 + 0,746
= 13,046 meter

Powder Column (PC)


PC = (L + J) T
= HT
= 13,046 2,119
= 10,927 meter

Loading Density ( LD )
LD = 0,508 x De2 x SGe
= 0,508 x 4,302 x 0,85
= 7,983 kg/m

Berat Handak ( w )
W

= LD x PC
= 7,983 x 10,927
= 87,230 kg/lubang

Volume (bcm)
V

= (BxSxL)
= (2,86 x 3,48 x 12,30)
= 112,419 m3

Tonase
T

= V x SGr
= 112,419 x 2,5
= 306,048 ton

Powder Factor
PF = W : Tonase
= 87,230 : 306,048
= 0,285 kg/ton

C. J. Konya

25

Burden
B

= 3,15 x de x

= 3,15 x 3 x

SGe
SGr

0,85
1,6

= 7,653 ft
= 2,332 meter
Spacing (S)
B

= 2,332 x 4
= 9,330 meter

= 15 meter

Karena L > 4B (L= Tinggi Jenjang ), maka menggunakan rumus


= 1,4 x B
= 1,4 x 2,332
= 3,264 meter

Subdrilling
J

= KJ x B
= 0,3 x 2,332
= 0,699 meter

Steaming
T

= 0,7 x B
= 0,7 x 2,332
= 1,632 m

Kedalaman Lubang bor (H)


H

= L+J
= 15 + 0,699
= 15,699 meter

Powder Column (PC)


PC = (L + J) T
= HT
= 15,699 1,632
= 14,067 meter

Loading Density ( LD )

26

LD = 0,508 x De2 x SGe


= 0,508 x 32 x 0,85
= 3,886 kg/m

Berat Handak ( w )
W

= LD x PC
= 3,886 x 14,067
= 54,667 kg/lubang

Volume (bcm)
V

= (BxSxL)
= (2,332 x 3,264 x 15)
= 114,174 m3

Tonase
T

= V x SGr
= 114,174 x 1,6
= 182,679 ton

Powder Factor
PF = W : Tonase
= 54,667 : 182,679
= 0,299 kg/ton

n lubang = over burden : volume (bcm)


= 7000000 / 114,174 = 61309,930 lubang/tahun
= 61309,930 / 365

= 167,972 lubang / hari

Jumlah bahan peledak total


= n lubang pertahun x berat handak (w)
= 61309,930 x 54,667
= 3351629,943 kg/tahun
= 3351,629 ton/tahun
= 9,182 ton/hari

27

Sumber : Praktikum Teknik Peledakan 2015

Gambar 3.3
Sketsa Laporan Peledakan Rutin

BAB IV
ANALISA

Dapat dianalisa bahwa geometri peledakan nantinya akan menentukan


efisiensi kerja dari kegiatan peledakan. Untuk itu dilakukan dua pengolahan data
perhitungan geometri peledakan yang mana nantinya akan dibandingkan
hasilnya antara metode R.L. ASH dan metode C.J. Konya. Dalam perhitungan no
1 hasilnya dengan menggunakan metode R.L. ASH tidak jauh beda dengan
metode C.J. Konya yang berbeda hanyalah dengan spasi pada metode C.J.
Konya. Perbedaan antara kedua metode ini bila metode R.L ASH menggunakan
perhitungan yang lebih spesifik dalam parameter-parameter perhitungannya,
kondisi lingkungan peledakan dihitung dengan sedemikian detailnya.
Perhitungan efisiensi kegiatan peledakan dengan melihat Powder
Factornya, bila lebih kecil maka hasilnyapun akan semakin baik.

BAB V
27

KESIMPULAN

Dapat disimpulkan geometri peledakan merupakan merupakan suatu cara


perhitungan mengenai kegiatan peledakan yang ditujukan supaya kegiatan
peledakan dapat bekerja secara optimum. Dalam perhitungan yang dilakukan
dalam geometri peledakan terdapat unsur-unsurnya yaitu diameter lubang bor,
ketinggian jenjang, burden, spasing, subdrilling, stemming dan kedalaman
lubang tembang. Dari unsur-unsur tersebutlah perhitungan mengenai jumlah
pemakaian bahan peledak barulah dapat dihitung. Selain itu terdapat faktorfaktor dalam kegiatan peledakan aspek teknis, merupakan suatu parameter yang
menjadikan keberhasilan target produksi, aspek keselamatan kerja dan aspek
lingkungan

28

DAFTAR PUSTAKA

Anggha,

2011

Peledakan,

http://angghajuner.blogspot.com/2011/10

/peledakan.html. Diakses pada tanggal 26 Oktober 2014 (html, online).


Dirga, 2010,

Teknik Peledakan, http://dirgamining.blogspot.com/2012/10/

teknik-peledakan.html. Diakses pada tanggal 26 Oktober 2014 (html,


online).
Rachmat, 2013, Teknik Peledakan, http://rachmatrisejet.blogspot.com/2013 /
07/teknik-peledakan_15.html. Diakses pada tanggal 26 Oktober 2014 (html,
online).