Anda di halaman 1dari 4

Struktur organisasi ASEAN pada awalnya disusun berdasarkan Deklarasi Bangkok, namun kemudian

mengalami perubahan setelah penandatanganan Piagam ASEAN. Struktur organisasi ASEAN yang baru sesuai
dengan Piagam ASEAN terdiri dari 8 badan. Pertama, Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN (KTT) sebagai
pengambil keputusan utama, yang melakukan pertemuan 2 kali setahun. Kedua, Dewan Koordinasi ASEAN
(ASEAN Coordinating Council). Dewan ini terdiri atas para Menteri Luar Negeri ASEAN yang bertugas
mengkoordinasi Dewan Komunitas ASEAN (ASEAN Community Councils). Ketiga, Dewan Komunitas ASEAN
(ASEAN Community Councils) dengan ketiga pilar komunitas ASEAN, yakni Dewan Komunitas PolitikKeamanan ASEAN (ASEAN Political-Security Community Council), Dewan Komunitas Ekonomi ASEAN
(ASEAN Economic Community Council), dan Dewan Komunitas Sosial-Budaya (ASEAN Socio-Cultural
Community Council). Keempat, Badan-badan Sektoral tingkat Menteri (ASEAN Sectoral Ministerial Bodies).
Kelima, Komite Wakil Tetap untuk ASEAN yang terdiri dari Wakil Tetap negara ASEAN, pada tingkat Duta
Besar dan berkedudukan di Jakarta. Keenam, Sekretaris Jenderal ASEAN yang dibantu oleh empat orang Wakil
Sekretaris Jenderal dan Sekretariat ASEAN. Ketujuh, Sekretariat Nasional ASEAN yang dipimpin oleh pejabat
senior untuk melakukan koordinasi internal di masing-masing negara ASEAN. Kedelapan, Badan HAM
ASEAN (ASEAN Human Rights Body) yang akan mendorong perlindungan dan promosi HAM di ASEAN
(Narine, 2002: 33).
Dalam dasawarsa pertama sejak berdirinya ASEAN pada tahun 1967, peningkatan program kerja sama telah
mendorong berdirinya sebuah sekretariat bersama. Sekretariat ini berfungsi untuk membantu negara-negara
anggota ASEAN dalam mengelola dan mengkoordinasikan berbagai kegiatan ASEAN serta melakukan kajiankajian yang dibutuhkan. Pada KTT ke-1 ASEAN di Bali, tahun 1976, para Menteri Luar Negeri ASEAN
menandatangani Persetujuan Pembentukan Sekretariat ASEAN (Agreement on the Establishment of the ASEAN
Secretariat). Sekretariat ASEAN berfungsi sejak tanggal 7 Juni 1976, dikepalai oleh seorang Sekretaris
Jenderal, dan berkedudukan di Jakarta (Narine, 2002: 23). Pada mulanya kantor Sekretariat ASEAN bertempat
di Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, kemudian setelah selesai dibangun pindah ke gedung
Sekretariat ASEAN di Jakarta, tahun 1981.
Pada awalnya, Sekretariat ASEAN berfungsi sebagai badan administratif yang membantu koordinasi kegiatan
ASEAN dan menyediakan jalur komunikasi antara negara-negara anggota ASEAN dengan berbagai badan dan
komite dalam ASEAN, serta antara ASEAN dan negara-negara (Mitra Wicara ASEAN) atau organisasi lainnya.
Selanjutnya untuk memperkuat Sekretariat ASEAN, para Menteri Luar Negeri ASEAN mengamandemen
Persetujuan tentang Sekretariat ASEAN melalui sebuah protokol di Manila, tahun 1992. Protokol tersebut
menaikkan status Sekretariat Jenderal sebagai pejabat setingkat menteri dan memberikan mandat tambahan
untuk memprakarsai, memberikan nasihat, melakukan koordinasi, dan melaksanakan kegiatan-kegiatan
ASEAN. Sekretaris Jenderal ASEAN yang juga menjabat sebagai Kepala Administrasi ASEAN dipilih dari
negara anggota ASEAN berdasarkan rotasi secara alfabetis dan diangkat oleh KTT ASEAN untuk masa jabatan

5 tahun dan tidak dapat diperbaharui. Sekretaris Jenderal ASEAN bertangggung jawab kepada KTT ASEAN,
AMM, dan membantu ASC (Narine, 2002: 16).
Sejak ditandatanganinya Piagam pada tahun 2007, Sekretariat ASEAN lebih difungsikan sebagai tempat
dilaksanakannya sidang-sidang ASEAN sehingga lingkup tugas Sekretariat ASEAN semakin luas. Untuk itu,
Sekretariat ASEAN menambah jumlah pos jabatan Deputi Sekretariat Jenderal ASEAN yang semula 2 menjadi
4 orang Deputi untuk membantu tugas Sekretaris Jenderal. Dua deputi dipilih berdasarkan rotasi alfabetis dan
bertugas selama 3 tahun dan tidak diperpanjang, sedangkan dua deputi lainnya direkrut secara terbuka dan
bertugas selama 3 tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu 3 tahun berikutnya. Pada tahun 2008
Sekretariat ASEAN memiliki 230 staf dan pada tahun 2010, staf Sekretariat ASEAN berjumlah 292 dengan
rincian 265 posisi telah terisi dan 27 posisi masih kosong. 265 posisi yang telah terisi terdiri atas Sekretaris
Jenderal, 4 Deputi Sekjen, 73 orang Openly Recruited Staff (ORS) dan 187 orang pegawai setempat (Locally
Recruited Staff) (ASEAN, 2014).
Masalah keuangan dan operasional Sekretariat ASEAN diatur dalam Bab IX Piagam ASEAN tentang anggaran
dan keuangan Budget and Finance yang terdiri atas 2 pasal, yaitu Pasal 29 tentang General Principles dan Pasal
30 tentang Anggaran dan Keuangan Operasional Sekretariat ASEAN (Operational Budget and Finances of the
ASEAN Secretariat). Sumber-sumber keuangan yang diperlukan oleh Sekretariat ASEAN diatur pada pasal 30
Piagam ASEAN yang mewajibkan negara-negara anggota ASEAN untuk memberikan kontribusi tahunan yang
setara dan dibayarkan tepat waktu. Sekretaris Jenderal ASEAN wajib menyiapkan anggaran operasional
tahunan untuk mendapatkan persetujuan dari Dewan Koordinasi ASEAN berdasarkan rekomendasi Komite
Wakil Tetap. Sekretariat ASEAN bekerja sesuai dengan aturan dan prosedur keuangan yang ditetapkan oleh
Dewan Koordinasi ASEAN berdasarkan rekomendasi Komite Wakil Tetap. Pasal 29 Piagam mengatur
pemberian mandat ASEAN untuk menyusun aturan dan prosedur keuangan (financial rules and procedures)
yang memenuhi standar internasional. ASEAN juga harus menerapkan kebijakan dan praktik manajemen
keuangan yang sehat dan disiplin anggaran. Pertanggungjawaban keuangan harus melalui proses audit internal
dan eksternal (ASEAN, 2014).
Aturan dan Regulasi Keuangan ASEAN (ASEAN Financial Rules and Regulations/AFRP) diadopsi oleh ACC
pada rangkaian KTT ASEAN di Hanoi, April 2010. Hal penting yang dimuat dalam AFRP ini adalah sumber
Anggaran Operasional Tahunan Sekretariat ASEAN meliputi kontribusi tahunan negara anggota dan Pendapatan
Dana Tambahan (Extra Budgetary Income/EBI) lain, termasuk kontribusi sukarela dan sumbangan dari semua
pihak, tidak termasuk Dana Abadi (Trust Funds) dan Dana Proyek (Project Funds). Pengelolaan anggaran pada
Dana Abadi dan Dana Proyek akan diatur dalam ToR setiap program kerja sama, kegiatan atau proyek pada
masing-masing Dana Abadi. Proposal anggaran operasional tahunan harus diajukan Sekretariat ASEAN kepada
Subkomite Anggaran (Sub Committee on Budget/SCB) untuk dievaluasi dan diajukan kepada CPR akhir

September tahun anggaran berjalan. SCB merupakan bagian dari CPR yang bertugas pokok untuk mengevaluasi
proposal anggaran yang diajukan Sekretariat ASEAN. Sekretaris Jenderal juga wajib menyerahkan laporan
kuartal kepada CPR tentang pelaksanaan anggaran. Laporan disampaikan pada bulan April, Juli, Oktober dan
Januari tahun anggaran berikut. AFRP juga memiliki aturan tentang Pengadaan dan Akuisisi (Procurement and
Acquisitions) yang mengharuskan Sekretariat ASEAN untuk menyusun rencana pengadaan barang dan jasa
yang disesuaikan dengan besar anggaran yang disetujui dan juga harus sejalan dengan Perkiraan Rencana
Pengadaan Tahunan (Annual Procurement Plan Estimation/APPE). APPE tersebut juga harus disetujui CPR.
Pelaksanaannya harus dilakukan melalui mekanisme Subkomite Tender (Sub-Committee on Tender/SCT) yang
terdiri atas wakil-wakil Perutusan Tetap dan Sekretariat ASEAN. Untuk penghapusan barang modal,
mekanismenya melalui Badan Survei (Board of Survey/BOS), antara lain, melalui proses lelang. Dengan telah
diadopsinya AFRP ini, penyusunan, pelaksanaan, dan pengawasan anggaran ASEAN diharapkan akan dapat
dilakukan lebih transparan dan sesuai standar etik yang ada (ASEAN, 2014).

Referensi :
ASEAN, 2014. Agreement for the Establishment of a Fund for ASEAN Rules Governing the Control,
Disbursement and Accounting of the Fund for the ASEAN Cameron Highlands, 17 December 1969
[online] dalam http://www.asean.org/asean/asean-structure diakses pada 11/19/2015
ASEAN, 2014. ASEAN Structure [online] dalam http://www.asean.org/news/item/asean-secretariat-basicdocuments-agreement-for-the-establishment-of-a-fund-for-asean-rules-governing-the-controldisbursement-and-accounting-of-the-fund-for-asean-cameron-highlands-17-december-1969-2 diakses
pada 11/19/2015
Narine, Shaun. 2002. Explaining ASEAN: Regionalism in Southeast Asia. London: Lynne Rienner Publisher,
Inc