Anda di halaman 1dari 23

Daftar isi

Daftar isi................................................................................................................... 1
Tata Tertib Praktikum Parasitologi................................................................................... 2
PRAKTIKUM 1: PROTOZOA....................................................................................... 4
PRAKTIKUM 2-3: TREMATODA-CESTODA-NEMATODA(HELMINTH).............................7
PRAKTIKUM 4: ARTHROPODA................................................................................. 13

Tata Tertib Praktikum Parasitologi


1. Datang minimal 15 menit sebelum praktikum dimulai. Jika terlambat > 10 menit, tidak
boleh ikut pre test, tapi masih boleh praktikum.
2. Letakkan tas dan benda-benda lain yang tidak diperlukan pada tempat yang telah
disediakan. Jangan sekalikali meletakkan barang-barang lain diatas meja praktikum.
3. Gunakanlah baju/ jas laboratorium sebelum masuk laboratorium dan selama praktikum
masih berlangsung. Praktikan yang tidak menggunakan jas laboratorium tidak
diperkenankan mengikuti praktikum.
4. Apabila merusak barang di lab maka wajib mengganti (individu).
5. Apabila tidak dapat mengikuti praktikum wajib izin ke dosen pengampu praktikum
parasit dengan membawa surat yg dpt dipertanggung jawabkan.
6. Wajib membawa glove dan masker saat praktikum
7. 1 kelompok hanya 1 HP yg dibawa, digunakan untuk dokumentasi preparat.
8. Dilarang merokok, makan dan minum.
9. Dilarang membuang bahan padat atau cairan kimia ke wastafel.
10. Setiap kelompok diwajibkan membawa sampel sesuai materi praktikum yg sudah
ditentukan.
11. Kuku tidak boleh panjang, rambut diikat rapi (cewek).
12. Menjaga ketenangan selama praktikum berlangsung.
13. Jauhkan tangan dari mulut, hidung, telinga selama bekerja di laboratorium
14. Jika terjadi kesalahan atau kecelakaan segera lapor kepada asisten dan pembimbing
15. Setelah praktikum selesai, bersihkan semua alat-alat yang telah digunakan menurut
ketentuan laboratorium. Meja dibersihkan dari sisa-sisa bahan dan alat praktikum.
16. Setiap kali selesai praktikum menyerahkan jurnal pekerjaan atau laporan sementara
kepada

asisten

pendamping

masing-masing

untuk

mendapatkan

persetujuan

keabsahannya.
17. Sebelum praktikum dimulai akan diadakan pretest sesuai materi yang akan
dipraktikumkan.
18. Praktikan yang terlambat hadir setelah pretest berlangsung dan praktikan yang tidak
membawa bahan praktikum yang diinstruksikan asisten maka tidak diperkenankan
mengikuti praktikum dan tidak ada praktikum pengganti.
19. Praktikum pengganti hanya diperkenankan bagi praktikan yang sakit dengan
menunjukkan surat dokter dan akan dilaksanakan di akhir keseluruhan acara praktikum.
20. Sebelum meninggalkan laboratorium, matikan gas atau kompor pemanas, lampu, air dan
jangan lupa mencuci tangan dengan desinfektan.

PRAKTIKUM 1: PROTOZOA
1. METODE PENGAMATAN
a. METODE ULAS DARAH (X)
*Darah dapat diambil dari vena telinga pada kuda, sapi, kambing, babi, anjing atau
vena sayap pada unggas
1. Siapkan darah yang akan diperiksa (darah segar atau darah+EDTA atau lokasi
pengambilan darah pada hewan yang sudah dilukai)
2. Siapkan dua objek glass (A dan B) yang bersih. Objek glass A adalah objek glass
alas sedangkan objek glass B adalah objek glass pengulas
3. Teteskan setetes darah dengan bantuan pipet pasteur pada ujung objek glass A
atau sentuhkan tepi lebar objek glass pengulas (B) pada lokasi pengambilan darah
pada hewan tanpa menyentuh kulit atau bulu.
4. Pegang dengan kuat objek glass A memakai jari telunjuk / tengah dan ibu jari atau
letakkan pada bidang datar.
5. Ambil objek glass pengulas dan letakkan tepi lebar objek glass pengulas pada
tetesan darah sampai semua tepi lebarnya terbasahi oleh darah. (Untuk objek
glass yang langsung disentuhkan pada lokasi pengambilan darah, proses 1-4
langsung dilanjutkan ke proses no.6.)
6. Bila darah pada tepi lebar terlalu banyak, pindahkan objek glass B di depan
tetesan darah pertama sehingga diperkirakan hasil usapan akan habis sebelum
lapangan pada objek glass A habis
7. Buat sudut antara objek glass B dan A sebesar 30.
8. Gesekkan objek glass B ke depan dengan cepat untuk mengulaskan darah pada
objek glass B sehingga didapatkan hasil semakin ke ujung objek glass A semakin
tipis.
9. Tidak diperbolehkan menghentikan pengulasan pada tengah lapangan objek glass
A sebelum darah habis dan usahakan darah habis pada ujung lapangan objek glass
A.
10. Keringkan hasil ulasan darah pada suhu kamar.

30

Preparat apus
b. METODE PEWARNAAN GIEMSA (X)
1. Siapkan ulas darah tipis yang sudah dikeringkan
2. Fiksasi ulas darah tipis dalam methanol absolut selama 3 menit.
3. Tanpa dikeringkan, masukkan onjek glass pada larutan Giemsa 10-20% selama 30
menit.
4. Setelah 30 menit, ambil objek glass dan cuci dengan air mengalir dengan pelan
sampai zat warna yang berlebih hilang. Tidak diperbolehkan menggosok hasil usapan
darah.
5. Keringkan objek glass dengan cara meletakkan objek glas pada posisi berdiri pada
bidang pengering suhu kamar. Pengeringan dapat dipercepat dengan menggunakan
kipas angin.
6. Periksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400x 1000x (pada pembesaran
1000x, gunakan minyak emersi).
c. SWAP KERONGKONGAN
1. Siapkan objek glass dan cawan petri yang berisi NaCl fisiologis.
2. Pegang unggas yang didiagnosa terserang trichomoniasis dan buka mulut lebar-lebar.
3. Masukkan cotton swab yang sudah dibasahi NaCl fisiologis dan campur sampai
homogen.
4. Ambil satu tetes campuran NaCl dan hasil swab menggunakan pipet pasteur teteskan
pada objek glass dan tutup dengan cover glass.
5. Lihat di bawah mikroskop dengan perbesaran 400-1000x

d. KEROKAN USUS
1. Ambil dan gunting saluran pencernaan secara horizontal sehingga lumen saluran
pencernaan terbuka
2. Kerok lapisan mukosa saluran pencernaan, terutama yang memiliki lesi patologi
3. Campur hasil kerokan dengan NaCl fisiologis

4. Ambil satu tetes hasil kerokan dan letakkan pada objek glass dan tutup dengan cover
glass.
5. Periksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400x -1000x.
e. PEMERIKSAAN TINJA
1. Buatlah preparat apus tinja sederhana pada gelas obyek, dengan cara mengambil dari
sekum dengan cover glass atau dari larutan feses hasil dari metoda natif, sedimentasi,
atau apung lalu tutup dengan gelas penutup.
2. Amati di bawah mikroskop adanya ookista/ protozoa saluran cerna.

PRAKTIKUM 2-3: TREMATODA-CESTODA-NEMATODA(HELMINTH)


METODE PENGAMATAN HELMINTH
A. Metode Natif
1) Letakkan tinja + setetes cairan (aquades/NaCl 0,85%, larutan eosin 2% dalam
aquadestilata/lugol 1%) di atas gelas obyek
2) Hancurkan dengan lidi sampai homogen, buang benda kasar dengan lidi
3) Tutup dengan gelas penutup harus tidak boleh ada gelembung udara di dalamnya
atau langsung di amati di bawah mikroskop (mulai dari pembesaran 40x sampai 400x)
ATAU
1) Campurkan 1 bagian tinja dengan 5-10 bagian air
2) Ambil dengan menggunakan pipet, buang tetesan pertama dan letakkan 1 tetes
berikutnya pada objek glass
3) Tutup dengan coverglass, usahakan tidak ada gelembung udara sehingga tidak
mengganggu identifikasi telur
4) Bila tidak ditemukan, pemeriksaan dapat diulangi dengan meneteskan lagi larutan
feses.
B. Metode Willis / Apung Modifikasi
1)
Larutkan feses dengan air sehingga didapatkan konsentrasi 10% (1 bagian
feses dengan 10 bagian air)
2)
Ambil krg lebih 1 cc (25 tetes)larutan, masukkan dalam tabung reaksi yang
diletakkan tegak pada rak tabung
3)
Letakkan tabung pada rak tabung dengan posisi tegak
4)
Tambahkan NaCl jenuh sampai membentuk cembung pada permukaan tabung
5)
Tutup dengan gelas penutup dan biarkan 15 menit
6)
Ambil gelas penutup dan letakkan pada objek gelas dan dilihat di bawah
mikroskop dengan perbesaran 40-400x
C. Metode Parfitt and Banks(untuk membedakan telur Trematoda)
1) Ambil 2 gram tinja taruh dalam mortir dan tuangkan air secukupnya lalu aduk.
2) Tuangkan cairan tinja kedalam tabung reaksi sampai tabung kemudian tunggu 10
menit.
3) Buang supernatan sehingga hanya tersisa endapannya. Lakukan sebanyak 2 kali
4) Tetesi endapan dengan NaOH 10 % 3 tetes.
5) Tambahkan air sampai tabung lalu aduk.

6) Tunggu 10 menit, buang supernatan sehingga hanya tersisa endapan.


7) Tetesi endapan tinja dalam tabung dengam methylene blue 0,5 % sebanyak 2 tetes
dan aduklah.
8) Ambil endapan paling bawah dengan menggunakan pipet lalu letakkan diatas objek
glass dan diamati dengan mikroskop perbesaran 100 kali
D. BEDAH SALURAN CERNA UNGGAS (identifikasi cacing dewasa)
1) Amati saluran cerna unggas secara makroskopik sebelum dilakukan pembedahan
2) Amati dan catat adanya ptechiae atau bentukan abnormal lainnya
3) Buka organ pencernaan dari depan ke belakang (esophagus kloaka )
4) Amati adanya cacing pada saluran cerna unggas, ambil cacing tersebut, masukkan
5)
6)
7)
8)

pada cawan petri dan catat predileksi ditemukannya cacing tersebut


Masukkan ke dalam formalin 10% dalam wadah tertutup
Bila ditemukan cacing pita, tarik sampai didapatkan skoleksnya
Amati cacing tersebut secara makroskopis dan tentukan perkiraan spesiesnya.
Beri label pada wadah tertutup berisi cacing yang berisi genus/spesies cacing,
predileksi dan hostnya.

IDENTIFIKASI CACING DAN TELUR


I. IDENTIFIKASI CACING
o TREMATODA
a) Ciri umum :
Pipih seperti daun, Hermaphrodite, kecuali Schistosoma sp., memiliki sucker
b) Jenis Trematoda :

Fasciola hepatica

Fasciola gigantica

Eurytrema pancreaticum

Cotylophoron cotylophorum

Gigantocotyle explanatum

Paramphistomum cervii

Paragonimus westermanii

Fasciola
hepatica

- Schistosoma japonicum
Bagian bagian tubuh cacing Trematoda (umum)

Paramphistomu

o CESTODA
a) Ciri Umum :
-

Pipih ventrodorsal

Bersegmen seperti pita

Memiliki skoleks (kepala) yang dilengkapi rostrum

Hermaphrodite

Dipylidium
caninum

b) Jenis Cestoda, a.l. :

- Dipyllidium caninum
-

Diphyllobothrium latum

Taenia saginata

Taenia solium

Moniezia expansa

Dll.

Segmen dari
Moniezia
expansa

o NEMATODA
a) Ciri Umum :
-

Bentuk badan gilig, radial simetri

Tidak bersegmen

Berkelamin ganda (Diosceus)

Telur keluar dalam bentuk telur berembrio (L1)

Jantan umumnya memiliki spikula

b) Contoh cacing NEMATODA:

Haemonchus contortus

Scoleks dari
Dipylidium
caninum

Toxocara canis, Toxocara cati

Ascaris suum

Toxocara vitulorum

Heterakis gallinarum

Parascaris equorum

Gaigeria sp.

Mecistocirrus digitatus

Oesophagustomum sp.

Trichuris
ovis

Bagian Anterior dari


Ascaris suum (3
bibir dorsal)

Bagian Posterior dari


Ascaridia galli jantan
(ujung petunjuk : spikula)

IDENTIFIKASI TELUR CACING


Secara umum telur cacing dapat diidentifikasi dengan melihat adanya dua lapis selubung
putih telur (lapisan albumin) yang melindungi bentukan bulat yang umumnya berisi
blastomer atau larva. Telur cacing dapat dibedakan dengan bentukan lain seperti butir air
melalui ada tidaknya blastomer (isi telur), sedangkan bila dibandingkan dengan telur jenis
lain dapat dilihat dari ukuran dan tebal tipisnya lapisan albumin yang menyelubungi telur.
o TREMATODA
Ciri khas telur cacing Kelas Trematoda :
- Memiliki operculum pada salah satu sisinya
- Isi telur tampak padat
- Umumnya berbentuk oval-bulat lonjong dengan lebar masing-masing ujung yang
-

tidak sama (ujung yang satu lebih lebar dibanding ujung yang lain)
Dengan Metode Parfitt and Banks dapat dibedakan antara telur Fasciola dan telur dari
genus lainnya

Telur cacing Paramphistomum


cervii
(ujung petunjuk: operculum)

o CESTODA
Ciri khas telur cacing Kelas Cestoda :
- Berbentuk bulat, segitiga, sampai persegi, tergantung kepada spesies cacing
- Memiliki embrio dengan 6 pasang kait di dalam telur onkosfer/hexacanth embrio
- lapisan albumin yang mengelilingi embrio umumnya tebal
- telur nyaris tampak seperti transparan
- biasanya keluar bersama dengan segmen proglotid yang matang (gravid)

Telur cacing Railletina


tetragona

o NEMATODA
Merupakan jenis cacing yang memiliki keragaman bentuk telur yang relatif banyak. Ciri
khas yang membedakan adalah adanya blastomer, tidak memiliki operculum dan tidak
nampak adanya kait (hexacanth embrio), lapisan albumin umumnya tampak jelas.
Beberapa jenis telur Nematoda :
- Telur dengan isi penuh, berbentuk bulat-oval, memiliki lapisan albumin yang sangat
tebal Famili Ascarididae (ex: Toxocara sp., Ascaris suum, Parascaris equorum)

Telur cacing Ascaris


suum

Telur cacing Toxocara


canis

Telur cacing
Telur cacing
Telur cacing
Telur cacing
Trichuris sp.
Ascaridia
Strongyloi
Nematodirus sp.
- Telur yang berisi larva, berbentuk lonjong, relatif transparan Famili Strongylidae
-

(ex: Strongyloides sp.)


Telur dengan blastomer terlihat jelas, 2-16 buah blastomer dalam telur yang berlapis
albumin Famili Ancylostomatidae (ex: Bunostomum trigonocephalum, Ancylostoma

caninum), Famili Trichostrongylidae (ex: Haemonchus contortus)


Telur dengan sumbat di ujung posterior maupun anterior (polar plug) Famili
Trichuridae (ex: Trichuris vulpis)

PENGHITUNGAN TELUR CACING


Penghitungan telur cacing ini dilakukan dengan cara menghitung total jumlah telur cacing per
spesies pada setiap tetes larutan feses pada metode NATIF. Penghitungan dilakukan dengan
menggunakan rumus:
N x n x 10

Ket:
N = jumlah tetes dlm 1 cc larutan (20 tetes)
n = jumlah telur cacing
10 = pengenceran (1:10)
Satuan : ... telur cacing per gram tinja

PRAKTIKUM 4: ARTHROPODA

A. ARTHROPODA

Phylum Arthropoda dipelajari dalam ilmu yang umum disebut dengan Entomologi.
Nama phyllum ini berasal dari bahasa Greek (Yunani) arthros (persendian) dan podos (kaki).
Berdasarkan kenyataaan anggota phyllum ini mempunyai kaki-kaki yang serupa dengan kaki
kepiting.

Artropoda adalah binatang bersegmen banyak. Segmen-segmen arthropoda cenderung


menjadi kelompok tertentu, yaitu bagian anterior membentuk kepala, bagian tengah
thorax dan bagian posterior abdomen.

Phyllum artrophoda dibagi dalam 5 kelas ialah :

Klas I

: Crustacea Lmark, 1815

Subklas

Subklas

: Entomostraca Muller, 1785

: Malacostraca Latreile, 1802

KLAS II

: Myriapoda, 1904

Klas III

: Insecta Linnaeus, 1958

Klas IV

: Arachnida arachnida, 1815

Klas V

: Pentastomida heymonds, 1926

Arthropoda yang berpengaruh terhadap kesehatan hewan

KELAS

NAMA ILMIAH

CONTOH

Kelas: Insecta
Lalat penghisap darah

Ordo : Diptera

Lalat kandang, stable fly


(Stomoxys calcitran),
nyamuk, lalat hitam, lalat
kuda, lalat tanduk,
bitingmidges

Lalat tidak menghisap

Ordo : Diptera

darah

Lalat rumah (Musca


domestica), lalat-lalat yang
berhubungan dengan kondisi
kotor

Lalat invasiv

Ordo : Diptera

Lucilia, Calliphora,

(menyebabkan

Phormia, Chrysomya, M

Myasis)

domestica, dan
gastrophyllus

Kutu penghisap

Ordo : Anoplura

Hog louse (Haematopinus


suis)

Kutu penggigit

Ordo : Mallophaga

Cattle biting louse (Bovicola


bovis)

Pinjal

Ordo : Siphonaptera

Pinjal kucing

Ordo : Acari

Scabies atau Itch mite

Kelas : Arachnida
Tungau

(Sarcoptes scabei)
Caplak

Ordo : Acari

American dog tick


(Dermacentor variabilis)

TEKNIK PEMBUATAN PREPARAT


a. METODE PINNING
1. Sampel yang didapat setelah dimatikan kemudian ditusuk di daerah medial thorax
dengan jarum pentul.
2. Usahakan serangga dalam kondisi: sayap terkembang, kaki dibentangkan, agar
mudah untuk dipelajarinya. Serangga-serangga kecil dapat diletakkan diatas ujung
kertas segitiga dan ditempel menggunakan lem atau kuteks. Lem harus cepat kering,
dan bila kering cukup keras.
3. Pemberian label: berguna untuk memberikan informasi tentang tanggal dan lokasi
spesimen tersebut diperoleh. Label disesuaikan dengan keperluan.
4. Kotak penyimpan serangga : Dasar kotak harus lunak agar mudah untuk
menancapkan ujung pin/jarum, ukuran tergantung serangga yang dikumpulkan.
Penyimpanan dalam kotak diberikan kapur barus untuk mencegah dimakan serangga
kecil lain.
b. METODE SCRAPING KULIT
2. Siapkan mata pisau yang relatif tajam atau scalpel
3. Lakukan pengerokan / scraping pada daerah yang diduga terkena scabiosis atau
demodecosis berkerak tebal, aloplesia, deformitas (kadang-kadang)
4. Kerokan dilakukan dengan menggunakan pisau dengan sudut miring, kerok sampai
kerak terlepas dan mengeluarkan darah
5. Bagian yang disimpan adalah hasil scraping terakhir yang dekat dengan permukaan
yang mengeluarkan darah
6. Pemeriksaan dilakukan dengan cara merendam /mencampur hasil scraping dengan
KOH 10%
7. Amati di bawah mikroskop dengan perbesaran 40x 100x untuk mengamati adanya
tungau (Sarcoptes scabiei, Demodex sp., Otodectes sp., Knemidocoptes sp., dll.)
c. PERMANEN MOUNTING TANPA PEWARNAAN

1. Clearing. Untuk melepas pigmen dari serangga dibunuh kemudian masukan dalam
KOH 10% selama 1-10 jam, bila pigmen tebal semakin baik. Atau panaskan pada air
mendidih dengan waktu disesuaikan tebalnya kutikula (tubuh serangga tampak
trasparan).

2. Dehidrasi : menggunakan alkohol dengan konsentrasi semakin naik mulai 30 50


70 - 95 96% masing 3-5 menit selanjutnya dicelup dalam xylol /minyak cengkeh
selama 1 menit.

3. Mounting/perekatan: letakkan serangga pada gelas objek dan menggunakan permount


(canada balsem) secukupnya, ditutup dengan gelas penutup

4. Labelling: identifikasi dibawah mikroskop 40 100x kemudian diberi label.

5. Masukkan dalam inkubator sampai preparat kering untuk kutu, larva, nimfa
caplak/pinjal dengan chitin tipis, maka setelah dimatikan langsung ditaruh pada glass
objek, dikeringkan dengan kertas saring, di mounting dan dilabel, masukkan dalam
inkubator sampai preparat kering.
IDENTIFIKASI ARTHROPODA

1) LALAT

Pengamatan untuk membedakan spesies lalat, dilihat dari :

Ukuran

Bentukan atau garis pada thorax dan abdomen

Venasi sayap

bentuk kepala dan tipe mulut

2) NYAMUK

Pengamatan untuk membedakan spesies nyamuk, dilihat dari :

3) KUTU

Ukuran

Bentuk thorax dan abdomen

Bentuk dan morfologi khusus pada sayap

bentuk kepala dan tipe mulut

a) Ciri Umum :

Pipih ventrodorsal

Abdomen sangat lebar

Thorax kecil /pendek

Kaki terletak pada thorax sebanyak 3 pasang

Bentuk kepala membedakan golongan kutu (penghisap, penggigit, atau


peralihan)

Haematopinus
eurysternus

b) Contoh spesies kutu :

- Columbicola columbae (unggas)

- Damalinia ovis

- Damalinia bovis

- Menacanthus sp.

- Phtirus pubis

- Pedunculus humanus

- Lipeurus caponis

- Felicola subrostata

- Tricodectes canis

- Dll.

4) PINJAL

a) Ciri Umum :

- Pipih laterolateral

- Memiliki sepasang kaki belakang yang panjang dan kuat untuk


melompat

- Bentuk kepala membulat dengan genal comb

- Kaki depan pendek

- Abdomen besar, thorax pendek

Ctenocephalides felis

b) Contoh Spesies Pinjal :

- Xenopsylla cheopis (tikus)

- Ctenocephalides canis (anjing)

- Ctenocephalides felis (kucing)

- Dll.

5) CAPLAK

a) Ciri Umum :

Pipih ventrodorsal

Lapisan chitin tebal

Abdomen pada betina tidak tertutup chitin

Kaki 4 pasang

Memiliki mulut tipe penghisap dengan gigi

Ixodes ricinus

b) Contoh Spesies Caplak :

Boophilus microplus (sapi)

Rhipicephalus sanguineus (anjing,kucing)

Ixodes ricinus

Aponnoma sp.

Amblyomma sp.

Dll.

6) TUNGAU

a) Ciri Umum :

Kepala tersembunyi pada bagian ventral

Tampak dorsal hanyalah bagian abdomen

4 kakinya pendek dan berambut

Biasanya bagian badannya berduri

Ukuran sangat kecil

Psoroptes sp.

b) Contoh Spesies Tungau :

Sarcoptes scabiei

Demodex sp.

Knemidocoptes gallinae

Otodectes canis

Dll.