Anda di halaman 1dari 20

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I

EKSTRAKSI CAIR-CAIR
I. TUJUAN
1. Mengenal dan memahami prinsip operasi ekstraksi cair-cair.
2. Menghitung koefisien distribusi dan yield proses ekstraksi.
3. Menghitung neraca massa proses ekstraksi pada beberapa variabel percobaan.
II. DASAR TEORI
Ekstraksi cair-cair (liquid extraction, solvent extraction) adalah proses
pemisahan solut dari cairan pembawa (diluen) menggunakan solven cair. Campuran
diluen dan solven bersifat heterogen (immiscible, tidak saling campur), dan jika
dipisahkan terdapat 2 fase, yaitu fase rafinat berisi diluen dan sisa solut sedangkan
fase ekstrak berisi solut dan solven (Mirwan, 2013).
Prinsip dasar dari ekstraksi cair-cair yaitu mengontakkan suatu larutan dengan
pelarut (solven) lain yang tidak saling melarut (immiscible) dan mempunyai densitas
yang berbeda sehingga akan terbentuk dua fasa setelah penambahan solvent.
Perbedaan konsentrasi solut di dalam suatu fasa dengan konsentrasi pada keadaan
seimbang merupakan pendorong terjadinya pelarutan (pelepasan) solut dari larutan
yang ada. Hal ini menyebabkan terjadinya perpindahan massa solut dari pelarut asal
ke pelarut pengekstrak (solven) disebabkan oleh adanya daya dorong (driving force)
yang muncul akibat adanya beda potensial kimia antara kedua pelarut. Sehingga
proses ektraksi cair-cair merupakan proses perpindahan massa yang berlangsung
secara difusional (Nathan, P Joseph. 1967).
Proses ekstraksi cair-cair terdiri dari dua tahap, yaitu pencampuran secara
intensif bahan ekstraksi dengan pelarut dan pemisahan kedua fase cair itu
sesempurna mungkin dengan menggunakan corong pisah. Pemisahan terjadi atas
dasar kemampuan larut yang berbeda dari komponen-komponen dalam campuran.
Solut akan berpindah ke solven yang memiliki kemampuan lebih besar dalam
mengikatnya (solut) (Timothy, C Frank and friends, 2008).

Ada tiga faktor penting yang berpengaruh dalam peningkatan karakteristik hasil
dalam ekstraksi cair-cair, yaitu:
1. Kenaikan jumlah pelarut.
Kenaikan jumlah pelarut yang digunakan akan meningkatan hasil ekstraksi tetapi
harus ditentukan rasio perbandingan pelarut-umpan yang minimum agar proses
ekstraksi menjadi lebih ekonomis.
2. Waktu ekstraksi.
Ekstraksi yang efisien adalah maksimumnya pengambilan solut dengan waktu
ekstraksi yang lebih cepat.
3. Kecepatan pengadukan.
Untuk ekstraksi yang efisien maka pengadukan yang baik adalah yang
memberikan hasil ekstraksi maksimum dengan kecepatan pengadukan minimum,
sehingga konsumsi energi menjadi minimum (Wibawa, Indra. 2010).
Untuk menghitung yield, koefisien distribusi, serta neraca massa dari komponen
yang digunakan saat proses ekstraksi, perlu dilakukan pengukuran konsentrasi dari
ekstrak yang diperoleh, salah satu caranya yaitu dengan memplotkan nilai absorbansi
dengan kurva kalibrasi yang diperoleh dengan pengukuran menggunakan metode
spektrofotometri sehingga diperoleh sebuah persamaan untuk menentukan jumlah
konsentrasinya dalam volum.
Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang
digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan
kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya. Peralatan yang
digunakan dalam spektrofotometri disebut spektrofotometer. Cahaya yang dimaksud
dapat berupa cahaya visibel, UV dan inframerah, sedangkan materi dapat berupa atom
dan molekul namun yang lebih berperan adalah elektron valensi. Konsentrasi dari analit
di dalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang gelombang
tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-Beer.
Hukum Lambert-Beer menyatakan hubungan linieritas antara absorban dengan
konsentrasi larutan analit dan berbanding terbalik dengan transmitan (Triyati, Etty
1985).Dalam hukum Lambert-Beer tersebut ada beberapa pembatasan, yaitu :
a. Sinar yang digunakan dianggap monokromatis

b. Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang yang sama
c. Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang lain
dalam larutan tersebut
d. Tidak terjadi fluorensensi atau fosforisensi
e. Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan
Hukum Lambert-Beer dinyatakan dalam rumus sbb :

A = e.b.c
dimana :
A = absorbansi
e = absorptivitas molar
b = tebal kuvet (cm)
c = konsentrasi
Pertimbangan pemakaian proses ekstraksi sebagai proses pemisahan antara
lain:
1.

Komponen larutan sensitif terhadap pemanasan jika digunakan distilasi


meskipun pada kondisi vakum.

2. Titik didih komponen-komponen dalam campuran berdekatan.


3. Kemudahan menguap (volatility) komponen-komponen hampir
sama.
Berdasarkan sifat diluen dan solven, sistem ekstraksi dibagi menjadi 2 sistem :
2. Immiscible extraction, solven dan diluen tidak saling larut.
3. Partially miscible, solven sedikit larut dalam diluen dan sebaliknya,
meskipun demikian, campuran ini heterogen, sehingga jika dipisahkan
akan terdapat fase diluen dan fase solven.

Parameter parameter yang sering dijadikan ukuran dalam pemilihan pelarut yang
digunakan dalam proses ekstraksi cair-cair adalah:
1. Koefisien distribusi(Ki)
konsentrasi solut dalam fasa ekstrak
Ki = konsentrasi solut dalam fasa rafinat
Sebaiknya dipilih pelarut yang mempunyai nilai K i besar sehingga jumlah
solven yang dibutuhkan lebih sedikit.
2. Yield (Ye)

Ye =

massa kresol dalam ekstrak


100
massa kresol dalam umpan

Solven harus dapat menghasilkan yield yang besar dari hasil ekstraksi.
3. Recoverability (kemampuan untuk dimurnikan)
Perbedaan titik didih dari solut dan solven harus cukup jauh agar mudah
dipisahkan dengan cara distilasi.
4. Chemichal reactivity
Pelarut merupakan senyawa yang stabil dan inert terhadap komponen-komponen
dalam sistem.
5. Selektifitas (factor pemisahan = )
=
fraksi massa solut dalam ekstrak atau fraksi massa diluant dalam ekstrak
fraksi massa solut dalam rafinat atau fraksi massa diluent dalam rafinat
Agar proses ekstraksi dapat berlangsung, harga harus lebih besar dari satu.
Jika nilai =1 artinya kedua komponen tidak dapat dipisahkan.
6. Densitas
Perbedaan densitas dari fasa solven dan fasa diluen harus cukup besar agar
mudah dipisahkan pada proses separasi. Perbedaan densitas ini akan berubah
selama proses ekstraksi dan mempengaruhi laju perpindahan massa.
7. Tegangan antar muka
Tegangan antar muka yang besar akan membuat proses transfer massa menjadi
lebih sulit, sedangkan pelarut yang memiliki tegangan antar muka kecil akan
mempermudah terjadinya proses transfer massa namun kontak antara solut dan
solven menjadi lebih kecil, oleh karena itu untuk memperbesar kontak dapat
dilakukan pengadukan (shaker).
8. Pelarut tidak beracun dan mudah didapat (Mc Cabe, 1993).
III. PROSEDUR KERJA
3.1 Alat
Pada Gambar 1 ditunjukkan alat-alat yang digunakan dalam praktikum ekstraksi
cair-cair.
a. Pipet ukur (10 ml dan25 ml)

b. Ball filler

c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Labu takar (25 ml dan 50 ml)


Gelas beker (100 ml)
Erlenmeyer (100 ml)
Shaker bath
Corong kaca
Corong pemisah (250 ml)
Statif dan Klem

j.
k.
l.
m.
n.

Gelas ukur
Piknometer
Neraca analitik
Spektrofotometer UV-Vis
Kuvet

n
Gambar 1. Alat-alat Praktikum Ekstraksi Cair-cair

3.2 Bahan
a.
b.
c.
d.

Kresol
Kerosin
Metanol
Aquades

3.3 Skema Kerja


Pada Gambar 2 ditunjukkan skema kerja pada praktikum ekstraksi cair-cair.
Kresol (2ml)
Kerosin (23ml)
Larutan Umpan

Metanol (

8 % Kresol

Dibuat 3 larutan, dengan r

7 ml larutan sampel 7 ml larutan sampe


14 ml larutan solven 21 ml larutan solve

Di shaker selama 10 m

Larutan rasio 1:2 homogen


Lar
Larutan rasio 1:3 homo

Didiamkan dalam corong

Ekstrak A Rafinat A Ekstrak B Rafinat B

Diukur volume dan massanya


dan dicari
absorbansinya
dengan
Spektrofotometer
Diukur volume
danabsorbansinya
massanya
dan dengan
dicariUV-Vis
absorb
Diukur volume
dan massanya
dan dicari
Spek

Gambar 2. Skema Kerja Ekstraksi Cair-cair

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Pengukuran Absorbansi ekstrak pada panjang gelombang 347 nm
Tabel 1. Absorbansi Larutan Ekstrak
Rasio sample

Massa (g)

Volume (ml)

Absorbansi

1:2

12,42

13,5

0,493

1:3

19,24

21

0,362

1:4

27,26

29

0,287

Tabel 2. Data perhitungan densitas Ekstrak menggunakan Piknometer


Rasio sample

Massa (g)

Volume (ml)

Densitas (gr/ml)

1:2

9,38

10

0,938

1:3

9,32

10

0,932

1:4

9,47

10

0,947

2. Data Kalibrasi
Tabel 3. Data Kurva Kalibrasi Larutan Kresol-Metanol
Konsentrasi (%)
2
4
8
15
20
60
80

Absorbansi
0,331
0,032
0,04
0,074
0,103
0,316
0,455

Tabel 4. Data Hasil perhitungan, Konsentrasi Kresol dalam Ekstrak


Rasio Sampel

1:2
1:3
1:4

Konsentrasi (%)
89,018
65,2
51,56

Absorbansi
0,331
0,032
0,04

Kurva Kalibrasi kresol - metanol pada maks = 347 nm


f(x) = 0.01x + 0
R = 0.99
sampel ekstrak
Kurva kalibrasi

Absorbansi

Linear (Kurva kalibrasi)

0.00

50.00

100.00

Konsentrasi (%)

Gambar 3. Kurva kalibrasi larutan kresol-metanol pada maks = 347 nm

V. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
a. Kresol yang terkandung dalam Kerosin dapat diekstraksi menggunakan solven
metanol 80%, dengan cara terlebih dahulu di shaker untuk memperbesar
kontak antara pelarut dan umpan kemudian dilanjutkan dengan proses separasi
menggunakan corong pemisahan.
b. Yield masing-masing sampel adalah:
1:2 = 3728,3%
1:3=2428,6%
1:4 = 2652%
Koefisian distribusi dari masing-masing sampel adalah:
1:2 = -1,0175
1:3 = -1 ,0311
1:4 = -1,031
2. Saran
a. Karena bau senyawa kresol sangat menyengat dan kerosin berbahaya bagi
kulit, disrankan untuk menggunakan masker dan sarung tangan yang baik.
b. Berhati-hati pada saat ingin membuat larutan sampel maupun solven agar
perbandingannya sesuai dan dengan jumlah yang tepat pula.
a. Saat menggunakan alat shaker bath, ikat erlenmeyer pada jarring kawat shaker
bath dengan kencang agar tidak terlepas saat proses shaker berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA
Mirwan, Agus. 2013. Kerberlakuan Model HB-GFT Sistem n-Heksana
Mek Air Pada Ekstraksi Cair-Cair Kolom Isian Jurnal Teknik Kima.
Progam Studi Teknik Kimia Universitas Lambung Mangkurat.
Wibawa, Indra. 2010. Ekstraksi Cair-Cair. Jurnal Teknik Kimia. Program
studi Teknik Kimia Universitas Lampung.
Nathan, P Joseph. 1967. Liquid-Liquid Extraction. Journal of Chemical
Education. Mexico.
Timothy, C Frank and friends. 2008. Perrys Chemical engineers Handbook
8th edition. The McGraw Hills Company,Inc.
Mc Cabe, Smith and Harriot. 1993. Unit Operations of Chemical Engineering
- 5th edition. The McGraw Hills Company,Inc.

Nama/NIM : Yessie Patricia/5213413055

Lampiran
Perhitungan pada praktikum Ekstraksi Cair-Cair
1. Membuat larutan Sampel dan Solven
Dik : Variabel : Rasio Perbandingan Sampel dengan Pelarut yaitu 1:2, 1:3 dan 1:4
Feed = 7 ml umpan (1)
Solven = 80% metanol
Dit : jumlah masing-masing larutan yang dibutuhkan untuk membuat solven dan
umpan.
Jawab :
Jumlah solven yang dibutuhkan = 14 ml + 21 ml + 28 ml = 63 ml
Jumlah umpan yang dibutuhkan = 7 ml+7 ml + 7 ml

= 21 ml

Membuat larutan sampel dan solven


a. Kresol 8% dengan labu takar 25 ml
= (8% x 25)ml kresol + (92% x 25)ml kerosin
= 2 ml kresol + (92% x 25)ml kerosin
b. Metanol 80% dengan labu takar 75 ml
= (80% x 75)ml metanol + (20% x 75) ml aquades
= 60 ml metanol + 15 ml aquades
2. Menghitung massa jenis ekstrak
a) Feed : solven = 1:2
Mencari dengan data yang diperoleh menggunakan piknometer :
Volume sampel ekstrak = 10 mL
Massa sampel ekstrak = 9,38 gr
massa 9,38 gr
=
=
=0,938 gr / ml
volume 10 mL
b) Feed : solven = 1:3

Mencari dengan data yang diperoleh menggunakan piknometer :


Volume sampel ekstrak = 10 mL
Massa sampel ekstrak = 9,32 gr
massa 9,32 gr
=
=
=0,932 gr / ml
volume 10 mL
c) Feed : solven = 1:4
Mencari dengan data yang diperoleh menggunakan piknometer :
Volume sampel ekstrak = 10 mL
Massa sampel ekstrak = 9,38 gr
massa 9,47 gr
=
=
=0,947 gr /ml
volume 10 mL
3. Menghitung Konsentrasi Ekstrak
Dik : persamaan : y = 0,0055x + 0,0034
dimana
y = Absorbansi
x = konsentrasi
Absorbansi Feed : solven = 1:2 yaitu 0,493
Absorbansi Feed : solven = 1:2 yaitu 0,362
Absorbansi Feed : solven = 1:2 yaitu 0,287
Dit : Konsentrasi ekstrak dari masing-masing variabel.
Jawab :
a) Feed : solven = 1:2
x =(A - 0,0034)/0,0055
x = (0,493 - 0,0034)/0,0055
x = 89,018
b) Feed : solven = 1:3
x =(A - 0,0034)/0,0055
x = (0,362 - 0,0034)/0,0055
x = 65,2
c) Feed : solven = 1:4
x =(A - 0,0034)/0,0055
x = (0,287 - 0,0034)/0,0055
x = 51,56
4. Penghitungan Yield proses ekstraksi cair-cair
Dik : kresol = 1.0456 g/ml
Vsolven= 14 ml( 1:2), 21 ml (1:3) atau 28 ml (1:4)

Feed : solven = 1:2

Vekstrak = 13,5 ml Vrafinat = 7,5 ml

Feed : solven = 1:3

Vekstrak = 21 ml

Vrafinat = 7 ml

Feed : solven = 1:4

Vekstrak = 29 ml

Vrafinat = 6 ml

Dit : Yield dari masing-masing variabel


Jawab :
a) Feed : solven = 1:2
Volume kresol dalam ekstrak =%konsentrasi kresol di ekstrak x Volume ekstrak
= 89,018 13,5 ml
= 21,02 mL
Massa kresol dalam ekstrak = kresol x volume kresol
= 1,0465 g/ml x 21,02 ml
= 21,997 gram
Volume kresol dalam umpan = 0,56 mL
Massa kresol dalam umpan = kresol x volume kresol
= 1,0465 gr/ml x 0,56 ml
`
= 0,59 gr
massa kresoldalam ekstrak
Yield
= massa kresoldalam umpan 100

21,997 g
100
0,59 g

= 3728,3 %

b) Feed : solven = 1:3


Volume kresol dalam ekstrak =%konsentrasi kresol di ekstrak x Volume ekstrak
= 65,2 21 ml
= 13,692 mL
Massa kresol dalam ekstrak = kresol x volume kresol
= 1,0465 g/ml x 13,692 ml
= 14,329 gram
Volume kresol dalam umpan = 0,56 mL
Massa kresol dalam umpan = kresol x volume kresol
= 1,0465 gr/ml x 0,56 ml
`
= 0,59 gr
massa kresoldalam ekstrak
Yield
= massa kresoldalam umpan 100

14,329 g
100
0,59 g

= 2428,6 %

c) Feed : Solven = 1 : 4
Volume kresol dalam ekstrak =%konsentrasi kresol di ekstrak x Volume ekstrak
= 51,56 29 ml
= 14,952 mL
Massa kresol dalam ekstrak = kresol x volume kresol
= 1,0465 g/ml x 14,952 ml
= 15,647 gram
Volume kresol dalam umpan = 0,56 mL
Massa kresol dalam rafinat = kresol x volume kresol
= 1,0465 gr/ml x 0,56 ml
`
= 0,59 gr
massa kresoldalam ekstrak
Yield
= massa kresoldalam umpan 100

15,647 g
100
0,59 g

= 2652 %

5. Penghitungan Koefisien distribusi proses ekstraksi cair-cair


Dik : kresol = 1.0465 g/ml
BM kresol = 108 g/mol
Feed : solven = 1:2

mkresol di ekstrak = 2,438 g

mkresol di rafinat = 2,802 g

Feed : solven = 1:3

mkresol di ekstrak = 1,831 g

mkresol di rafinat = 1,831 g

Feed : solven = 1:4

mkresol di ekstrak = 1,465 g

mkresol di rafinat = 1,076 g

Dit : Koefisien distribusi untuk masing-masing variable


Jawab :
a) Feed : solven = 1:2

Konsentrasi solut di ekstrak =

21,997 g
g
108,13
mol
13,5 ml

= 0,01507
Konsentrasi solut di rafinat

= Konsentrasi solut di umpan - Konsentrasi solut di


ekstrak

0,59 g
g
mol
21 ml

108,13

0,01507

= 0,00026 0,01507
= - 0,01481
Ki

konsentrasi solut diekstrak


= konsentrasi solut di rafinat
0,01507

= 0,01481
= - 1,0175

b) Feed : solven = 1:3

Konsentrasi solut di ekstrak =

14,329, g
g
108,13
mol
21 ml

= 0,0063
Konsentrasi solut di rafinat

= Konsentrasi solut di umpan - Konsentrasi solut di


ekstrak

0,59 g
g
mol
28 ml

108,13

= 0,00019 0,0063

0,0063

= - 0,00611
Ki

konsentrasi solut diekstrak


= konsentrasi solut di rafinat
0,0063

= 0,00951
= -1,0311

c) Feed : solven = 1:4

Konsentrasi solut di ekstrak =

15,647 g
g
108,13
mol
29 ml

= 0,00499
Konsentrasi solut di rafinat

= Konsentrasi solut di umpan - Konsentrasi solut di


ekstrak

0,59 g
g
mol
35 ml

108,13

0,00499

= 0,00015 0,00499 = -0,00484


Ki

konsentrasi solut diekstrak


= konsentrasi solut di rafinat
0,00499

= 0,00484
= -1,031

Yessie Patricia/5213413055
Pembahasan
Pada praktikum ekstraksi cair-cair ini dilakukan proses ekstraksi kresol
dari campuran kresol-kerosen yang memiliki kadar kresol 8% dengan
menggunakan campuran metanol-aquades dengan kadar metanol 80% sebagai
pelarut. Larutan umpan yang digunakan sebanyak 25 ml, dimana kebutuhan
sebenarnya untuk masing-masing variabel berjumlah 14 ml. Pertama-tama larutan
umpan, yaitu kresol 8% di buat dengan memasukkan 2 ml kresol kedalam labu
takar 25 ml, kemudian ditambahahkan kerosin hingga mencapai batas 25 ml,
kemudian diaduk agar homogen. Hal ini dilakukan karena setiap komponen
memiliki densitas/kerapatan yang berbeda-beda sehingga penambahan kerosin
dilakukan tidak pas 23 ml, melainkan hingga batas 25 ml, pada saat praktikum,
jumlah kerosin yang ditambahkan yaitu 23,04 ml. Untuk membuat larutan solven,
cara pencampuran juga dilakukan dengan cara yang sama seperti pada pembuatan
larutan solven, yaitu 60 ml metanol dimasukkan kedalam labu takar 75 ml
kemudian ditambahkan aquades hingga batas 75 ml, kemudian diaduk agar
homogen.
Pada percobaan ini terdapat tiga variabel perbandingan umpan dengan
solven, yaitu 1:2, 1:3 dan 1:4. Larutan sampel dan larutan solven kemudian
dicampur berdasarkan perbandingan yang telah ditentukan di dalam erlenmeyer
250 ml, kemudian diletakkan diatas shaker bath selama 10 menit dengan
frekuensi pengadukan yang sama yaitu 200 rpm. Tujuan pengadukan ini yaitu
untuk memperbesar kontak antara 2 larutan yang tidak saling larut ini sehingga
proses difusi solute dari diluen ke solven dapat berjalan semakin baik. Setelah
waktu pengadukan selesai, larutan solven dan sampel terlihat bercampur akibat
proses pengontakan ini. Akibat proses pengadukan ini, terjadi perpindahan massa
kresol dari pelarutnya yaitu kerosin kepelarut pengestrak yaitu metanol akibat
adanya daya dorong (driving force) antara kedua larutan yang muncul akibat beda
potensial kimia antara kedua pelarut.

Setelah pengadukan di alat shaker bath selesai, masing-masing larutan


dituang kedalam corong pemisah yang berbeda-beda dan didiamkan selama 90
menit di dalam lemari asam. Hal ini dilakukan untuk memisahkan campuran
tersebut dan mengambil larutan solven yang telah mengikat solute. Pada
praktikum ini alat yang digunakan untuk memisahkan campuran yaitu corong
pemisah, karena campuran masih merupakan larutan yang tidak saling larut dan
memiliki perbedaan densitas yang cukup jauh sehingga mudah untukdipisahkan
dengan corong pemisah. Sebelum mencapai waktu 90 menit sudah mulai tampak
larutan mulai terpisah menjadi 2 lapisan, yaitu lapisan atas dan lapisan bawah,
namun untuk memaksimalkan proses pemisahan maka waktu separasi dilakukan
selama 90 menit. Fase ekstrak yang berada di bagian bawah merupakan fase yang
berisi solute (kresol) dan solven (metanol dan aquades) yang memiliki massa jenis
lebih tinggi dibandingkan rafinat, sedangkan fase rafinat yang berada dibagian
atas berisi residu dan diluen (kerosin) yang memiliki massa jenis lebih rendah
daripada ekstrak, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.

Gambar 4. Keadaan ekstrak dan rafinat setelah 90 menit dipisahkan


menggunakan corong pemisah.
Langkah selanjutnya yaitu mengeluarkan eksrak dari corong pemisah
kemudian mengukur volume, massa, dan menghitung absorbansinya dengan

spektrofotometer. Dari praktikum diperoleh bahwa volume ekstrak yang


dihasilkan yaitu 13,5 ml dari variabel rasio 1: 2, 21 ml dari variabel rasio 1: 3 dan
29 ml dari variabel rasio 1: 4. Kemudian diambil sampel larutan ekstrak dan
dimasukkan kedalam kuvet untuk dianalisis absorbansinya menggunkan alat
Spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 347 nm. Dari alat
spektrofotometer, absorbansi masing-masing dan ekstrak diperoleh 0,493 dari
variabel rasio 1: 2, 0,362 dari variabel rasio 1: 3 dan 0,287 dari variabel rasio 1: 4.
Untuk mengetahui konsentrasi dalam volum, untuk masing masing
variabel, maka nilai absorbansi dapat diplotkan dengan kurva kalibrasi yang
memiliki persamaan y = 0,0055x + 0,0034, sehingga diperoleh data konsentrasi
ekstrak yaitu 89,018 untuk variabel rasio 1: 2, 65,2 untuk variabel rasio 1: 3 dan
51,56 untuk variabel rasio 1: 4 dengan demikian variabel rasio 1:2 memberikan
konsentrasi ekstrak yang paling besar. Kemudian dilakukan perhitungan untuk
memperoleh nilai yield dan koefisien distribusi, sehingga di peroleh bahwa yang
memberikan nilai yield paling tinggi yaitu variabel dengan rasio 1:2 3728,3%
sedangkan yang memberikan nilai koefisien distribusi yang paling besar adalah
variabel dengan rasio 1:3 yaitu -1,0311.