Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN

PRAKTIKUM LAB PTE


TUGAS AKHIR
Power Amplifiers

KELOMPOK 1
Anggota :
Faizal Nurkhalim (140534602801)
Sisco Agustian (140534603201)
TGL PRAKTIKUM

: 8 November 2014

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
PRODI SI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2014

A.
B.

Tujuan
Mahasiswa mengetahui prinsip dan cara kerja Power Amplifiers
Mahasiswa mengetahui fungsi fungsi komponen dalam Power Amplifiers
Mahasiswa dapat menganalisis rangkaian Power Amplifiers
Mahasiswa dapat membuat Power Amplifiers
Mahasiswa mengetahui cara memasang dan mengkur komponen pada Power Aplifiers
Dasar Teori
Power Amplifiers adalah penguat akhir sistem tata suara yang berfungsi sebagai
penguat sinyal audio yang pada dasarnya merupakan penguat tegangan dan arus dari sinyal
audio yang bertujuan untuk menggerakan pengeras suara (Loud Speaker). Istilah power
amplifiers merupakan penguat akhir jadi tidak di lengkapi pengatur nada. Berbeda dengan

istitilah amplifiers yang di dalamnya sudah di lengkapi pengatur nada dan power amplifiers.
Penguat kelas A
Titik kerja (Q) power amplifier kelas A berada pada setengah VCC (Vcc/2), seting
titik kerja pada posisi ini bertujuan agar penguatan sinyal yang dihasilkan tidak mengalami
cacat atau distorsi. Power amplifier kelas A menggunakan titik kerja pada VCC/2 karena

power amplifier kelas A ini digunakan untuk menguatkan sinyal audio. Secara lebih dalam
titik kerja (Q) power amplifier kelas A dapat dijelaskan sebagai berikut.
Daftar Komponen : Ra = 10K Rb = 10K Rc = 3K Re = 7,5K RL = 5K Vcc = +30VDC
Titik Kerja (Q) Power Amplifier Kelas A Dalam keadaan tidak ada sinyal input, arus dan
tegangan kolektor disebut arus dan tegangan kolektor stasioner. Misalkan bahwa arus
kolektor stasioner adalah 2 mA, maka tegangan kolektor-emiter stasioner adalah :
Sehingga koordinat titik Q adalah 2 mA dan 9 V

Garis Beban DC Power Amplifier Kelas A Garis beban DC menyatakan semua titik
operasi DC yang mungkin. Jika transistor pada gambar di atas jenuh, maka :

Dan jika transistor dioperasikan pada daerah cut-off maka tegangan kolektor-emiter adalah :
Gambar berikut memperlihatkan garis beban DC dengan titik Q yang telah diperoleh
sebelumnya.
Garis Beban AC

Garis beban AC menyatakan semua titik operasi AC yang mungkin. Gambar berikut
memperlihatkan rangkaian ekivalen AC penguat yang sama. Dari rangkaian ekivalen
diperoleh:
Karena ic ie maka :

Rangkaian Ekivalen AC Power Amplifier Kelas A

Jika sinyal AC menggerakkan penguat, sinyal akan menyebabkan perubahan arus dan
tegangan kolektor. Perubahan ini diberikan oleh :

Dengan IC dan VCE adalah arus dan tegangan kolektor DC, serta ICQ dan VCEQ
adalah arus dan tegangan kolektor stasioner. Dengan menyusun kembali maka diperoleh
hubungan antara IC dan VCE sbb :

Grafik persamaan di atas ditunjukkan pada gambar berikut, dan disebut garis beban
AC. Gambar Garis Beban AC Power Amplifier Kelas A

Garis beban AC memperagakan bagaimana operasi sinyal besar. Selama setengah


periode positif tegangan sumber AC, arus kolektor berayun dari titik Q ke atas (arah saturasi
atau penjenuhan). Sedangkan selama setengah periode negatif tegangan sumber AC, arus
kolektor berayun dari titik Q ke bawah (arah cut-off). Untuk sinyal AC yang besar, operasi
dapat bergerak sepenuhnya menuju penjenuhan dan sepenuhnya menuju cut-off
(menggunakan hampir semua daerah aktif).

Penguat Kelas AB
Power Amplifier kelas AB ini dibuat bertujuan untuk membentuk penguat sinyal yang
tidak cacat (distorsi) dari penguat kelas A dan untuk mendapatkan efisiensi daya yang lebih
baik seperti pada amplifier kelas B. Karena amplifier kelas A memiliki efisiensi daya yang
rendah (25%) yang disebaban titik kerja berada di 1/2 VCC tetapi memiliki kualitas sinyal
yang terbaik. Sedangkan amplifier kelas B memiliki efisiensi daya yang baik (85%) karena
titik kerja mendekati VCC tetapi kualitas suara yang kurang baik. Sehingga dibuat amplifier
kelas AB yang memiliki efisiensi daya penguatan sinyal (60%) dengan kualitas sinyal audio
yang baik. Titik kerja amplifier kelas AB dapat dilihat pada grafik garis beban berikut

Dengan menempatkan titik kerja rangkaian power amplifier kelas AB berada diantara
titik kerja kelas A dan kelas B seperti terlihat pada grafik titik kerja rangkaian diatas, penguat

kelas AB dimaksudkan mendapatkan karakteristik dasar gabungan dari amplifier kelas A dan
amplifier kelas B.
Rangkaian Dasar Power Amplifier Kelas AB

Power amplifier kelas AB pada umumnya menggunakan sumber tegangan simetris.


Fungsi dioda pada rangkaian penguat kelas AB diatas adalah untuk memecah sinyal sisi
puncak positif dan sisi sinyal puncak negatif. Q1 dan Q2 masing-masing berfungsi sebagai
penguat sinyal sisi puncak positif dan puncak negatif.
Pada saat menguatkan sinyal sinus maka pada rangkaian amplifier kelas AB diatas
dapat dihitung tegangan output dan daya output dari rangkaian diatas sebagai berikut.

Tegangan output RMS :


Daya Output :
Dimana Vd adalah tegangan dioda antara basis dan Vin
Rangkaian diatas merupakan rangkaian dasar power amplifier kelas AB yang sering
diaplikasikan pada power amplifier OCL, OTL maupun BTL. Power amplifier kelas AB ini
cocok digunakan sebagai penguat sinyal audio karena memiliki efisiensi daya yang baik dan
sinyal output yang dihasilkan tidak mengalami distorsi.

Penguat Pushpull
Rangkaian penguat akhir pada system audio berfungsi sebagai penguat daya, maka

dari itu penguat akhir juga disebut sebagai penguat daya. Rangkaian penguat daya terdiri dari

penguat tegangan dan penguat arus. Bagian Penguat akhir pada sistem audio terdiri dari dua
bagian yaitu : Pengemudi (driver), berupa rangkaian penguat tegangan dengan penguatan
yang besar. Pengaturan titik kerja penguat pada klasifikasi kelas A. Penguat arus, berupa
rangkaian penguat daya dengan penguatan yang tidak terlalu besar, bahkan penguatannya
mendekati satu. Agar mencapai effisiensi kerja yang besar, maka pengaturan kerjanya pada
klasifikasi kelas AB mendekati kelas B. Rangkaian penguat daya dibuat kelas AB agar
mencegah terjadinya cacat sileng (Cross Over Distortion).
Prinsip Kerja Penguat Akhir (Final Amplifier) Secara garis besar rangkaian penguat
akhir dapat digambarkan sebagai berikut :
Prinsip Kerja Penguat OCL Kelas B

Rangkaian penguat OCL (Output Condensator Less) termasuk rangkaian penguat


Push-pull Complementer. Transistor Q2 dan Q3 membentuk rangkaian Push-pull
Complementer. Sinyal output dihasilkan lewat pertemuan elektroda emitter pada transistor
penguat push-pull Q2 dan Q3, dengan demikian penguat Q2 dan Q3 membentuk konfigurasi
Common Colllector yang penguatannya mendekati satu. Output penguat akhir ini adalah
tanpa condensator output, berarti koplingnya adalah langsung. Oleh karena itu disebut juga
penguat DC (DC Ampifier), DC berarti Direct Coupling artinya tegangan output harus tidak
mengandung tegangan DC (Vdc output = 0). Agar tegangan output = 0 maka syaratnya
adalah :
1. Transistor Q2 dan Q3 harus komplemen (NPN dan PNP).
2. Tegangan antara Collector-emitter (VCE) Q2 dan Q3 sama besar.
3. Tegangan sumber dc +Vcc dan Vcc harus sama besar.
Transistor Q1 mewakili kerja penguat tegangan kelas A yang mempunyai penguatan
yang besar. Pengaturan kelas dapat digambarkan dalam daerah pengaturan kerja penguat
sebagai berikut :

Pada daerah kerja kelas A semua gelombang yang diolah memerlukan arus IC.
Walaupun tidak ada sinyal pada input, penguat (transistor) sudah menghantarkan arus.
Sedangkan pada daerah kerja kelas b, arus diperlukan saat setengah gelombang saja. Karena
saat belum ada sinyal, belum ada aliranarus pada IC, maka sering menimbulkan cacat silang
(Cross Over Distortion). Untuk itu daerah kerjanya dirubah menjadi kelas AB. Pada kelas AB
sebelum diberi sinyal arus IC sudah mengalir saat sinyal input = 0 (nol). Penguat kelas AB
digunakan untuk menghilangkan cacat silang, gambar penguat kelas AB ditunjukkan seperti
di bawah ini.
Gambar Prinsip Kerja Penguat OCL Kelas AB

1. Resistor
Sebuah resistor sering disebut werstan, tahanan atau penghambat, adalah suatu
komponen elektronik yang dapat menghambat gerak lajunya arus listrik. Resistor disingkat
dengan huruf "R" (huruf R besar). Satuan resistor adalah Ohm, yang menemukan adalah
George Ohm (1787-1854), seorang ahli Fisika bangsa Jerman. Tahanan bagian dalam ini
dinamai Konduktansi. Satuan konduktansi ditulis dengan kebalikan dari Ohm yaitu
mho1.Kemampuan resistor untuk menghambat disebut juga resistensi atau hambatan listrik.
Besarnya diekspresikan dalam satuan Ohm. Suatu resistor dikatakan memiliki hambatan 1
Ohm apabila resistor tersebut menjembatani beda tegangan sebesar 1 Volt dan arus listrik
yang timbul akibat tegangan tersebut adalah sebesar 1 ampere, atau sama dengan sebanyak
6.241506 1018 elektron 1per detik mengalir menghadap arah yang berlawanan dari arus.
Hubungan antara hambatan, tegangan, dan arus, dapat disimpulkan melalui hukum berikut
ini, yang terkenal sebagai hukum Ohm:

R = V/I
Berdasarkan penggunaanya resistor dapat di bagi :
a. Resistor Biasa (Nilainya Tetap)
Sebuah resistor penghambat gerak arus, yang nilainya tidak dapat. Berubah, jadi selalu
tetap (konstan). Resistor ini biasanya dibuat dari nikelin atau karbon.

b. Resistor Berubah (Variabel)


Sebuah resistor yang nilainya dapat berubah-ubah dengan jalan menggeser atau
memutar toggle pada alat tersebut. Sehingga nilai resistor dapat kita tetapkan sesua dengan
kebutuhan. Berdasarkan jenis ini kita bagi menjadi dua, Potensiometer, rheostat dan Trimpot
(Trimmer Potensiometer) yang biasanya menempel pada papan rangkaian (Printed Circuit
Board, PCB).

Potensiometer

Trimpot

c. Resistor NTC dan PTS


NTC (Negative Temperature Coefficient) adalah Resistor yang nilainya akan bertambah
kecil bila terkena suhu panas.Sedangkan PTS (Positife Temperature Coefficient), ialah
Resistor yang nilainya akan bertambah besar bila temperaturnya menjadi dingin.

NTC Thermistor
d. LDR (Light Dependent Resistor)
Jenis Resistor yang berubah hambatannya karena pengaruh cahaya. Bila cahaya gelap
nilai tahanannya semakin besar, sedangkan cahayanya terang nilainya menjadi semakin kecil.

Simbol LDR
Gelang Warna Resisitor
Pada Resistor biasanya memiliki 4 gelang warna, gelang pertama dan kedua
menunjukkan angka, gelang ketiga adalah faktor kelipatan, sedangkan gelang ke empat

menunjukkan toleransi hambatan. Pertengahan tahun 2006, perkembangan pada komponen


Resistor terjadi pada jumlah gelang warna. Dengan komposisi: Gelang Pertama (Angka
Pertama), Gelang Kedua (Angka Kedua), Gelang Ketiga (Angka Ketiga), Gelang Keempat
(Multiplier) dan Gelang Kelima (Toleransi).Berikut Gelang warna dimulai dari warna Hitam,
Coklat, Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Ungu (violet), Abu-abu dan Putih Sedangkan
untuk gelang toleransi hambatan adalah: Coklat 1%, Merah 2%, Hijau 0,5%, Biru 0,25%,
Ungu 0,1%, Emas 5% dan Perak 0%. Kebanyakan gelang toleransi yang dipakai oleh umum
adalah warna Emas, Perak dan Coklat
Warna

Nilai

Peng
ali

Hitam
Mearah
Coklat
Jingga
Kuning
Hijau
Biru

Toler
ansi

0
1
2
3
4
5
6

10
101
102
103
104
105
106

Ungu
Abu-abu

7
8

10
108

Putih
Emas
Perak

109
0,1
0,01

1%
2%

0,5%
0,25
%
0,1%
0,05
%

2. Kapasitor
Kapasitor (Kondensator) yang dalam rangkaian elektronika

5%
10%

dilambangkan dengan

huruf "C" adalah suatu alat yang dapat menyimpan energi/muatan listrik di dalam medan
listrik, dengan cara mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan listrik. Kapasitor
ditemukan oleh Michael Faraday (1791-1867). Satuan kapasitor disebut Farad (F). Satu Farad
= 9 x 1011 cm2 yang artinya luas permukaan kepingan tersebut. Struktur sebuah kapasitor
terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan oleh suatu bahan dielektrik. Bahan-bahan
dielektrik yang umum dikenal misalnya udara vakum, keramik, gelas dan lain-lain. Jika
kedua ujung plat metal diberi tegangan listrik, maka muatan-muatan positif akan mengumpul
pada salah satu kaki (elektroda) metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan negatif
terkumpul pada ujung metal yang satu lagi. Muatan positif tidak dapat mengalir menuju

ujung kutub negatif dan sebaliknya muatan negatif tidak bisa menuju ke ujung kutub positif,
karena terpisah oleh bahan dielektrik yang non-konduktif. Muatan elektrik ini
tersimpan selama tidak ada konduksi pada ujung-ujung kakinya. Di alam bebas,
fenomena kapasitor ini terjadi pada saat terkumpulnya muatan-muatan positif dan negatif di
awan.
Kapasitansi
Kapasitansi didefinisikan sebagai kemampuan dari suatu kapasitor

untuk dapat

menampung muatan elektron. Coulombs pada abad 18 menghitung bahwa 1 coulomb = 6.25
x 1018 elektron. Kemudian Michael Faraday membuat postulat bahwa sebuah kapasitor akan
memiliki kapasitansi sebesar 1 farad jika dengan tegangan 1 volt dapat memuat muatan
elektron sebanyak 1 coulombs. Dengan rumus dapat ditulis :
Q=C V
Q = muatan elektron dalam C (coulombs)
C = nilai kapasitansi dalam F (farad)
V = besar tegangan dalam V (volt)
Dalam praktek pembuatan kapasitor, kapasitansi dihitung dengan mengetahui luas area
plat metal (A), jarak (t) antara kedua plat metal (tebal dielektrik) dan konstanta (k) bahan
dielektrik. Dengan rumus dapat
di tulis sebagai berikut :
C = (8.85 x 10 ) (k A/t)
Untuk rangkaian elektronik praktis, satuan farad adalah sangat besar sekali. Umumnya
kapasitor yang ada di pasaran memiliki satuan :
F, nF dan pF.
1 Farad = 1.000.000 F (mikro Farad)
1 F = 1.000.000 pF (piko Farad)
1 F = 1.000 nF (nano Farad)
1 nF = 1.000 pF (piko Farad)
1 pF = 1.000 F (mikro-mikro Farad)
1 F = 10-6 F
1 nF = 10-9 F
1 pF = 10-12 F
Rangkaian kapasitor
Rangkaian Kapasitor secara paralel akan mengakibatkan nilai kapasitansi pengganti
semakin besar. Di bawah ini contoh kapasitor yang dirangkai secara paralel.
C1
C2
Pada rangkaian kapasitor paralel berlaku rumus :
1=
1
+
1
Ctotal C1
C2

Fungsi Kapasitor
Fungsi penggunaan kapasitor dalam suatu rangkaian :
1. Sebagai kopling antara rangkaian yang satu dengan rangkaian yang lain (pada PS)
2. Sebagai filter dalam rangkaian PS
3. Sebagai pembangkit frekuensi dalam rangkaian antenna
4. Untuk menghemat daya listrik pada lampu neon
5. Menghilangkan bouncing (loncatan api) bila dipasang pada saklar
Tipe Kapasitor
Kapasitor terdiri dari beberapa tipe, tergantung dari bahan dielektriknya. Untuk lebih
sederhana dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :
a. Kapasitor electrostatic
Kapasitor electrostatic adalah kelompok kapasitor yang dibuat dengan bahan dielektrik
dari keramik, film dan mika. Keramik dan mika adalah bahan yang popular serta murah untuk
membuat kapasitor yang kapasitansinya kecil. Tersedia dari besaran pF sampai beberapa F,
yang biasanya untuk aplikasi rangkaian yang berkenaan dengan frekuensi tinggi. Termasuk
kelompok bahan dielektrik film adalah bahan-bahan material seperti polyester
(polyethylene terephthalate atau dikenal dengan sebutan mylar), polystyrene,
polyprophylene, polycarbonate, metalized paper dan lainnya. Mylar, MKM, MKT adalah
beberapa contoh sebutan merek dagang untuk kapasitor dengan bahan-bahan dielektrik film.
Umumnya kapasitor kelompok ini adalah non-polar.
b. Electrolytic
Kelompok kapasitor electrolytic terdiri dari kapasitor-kapasitor yang bahan
dielektriknya adalah lapisan metal-oksida. Umumnya kapasitor yang termasuk kelompok ini
adalah kapasitor polar dengan tanda + dan - di badannya. Mengapa kapasitor ini dapat
memiliki polaritas, adalah karena proses pembuatannya menggunakan elektrolisa sehingga
terbentuk kutub positif anoda dan kutub negatif katoda.Telah lama diketahui beberapa metal
seperti tantalum, aluminium, magnesium, titanium, niobium, zirconium dan seng (zinc)
permukaannya dapat dioksidasi sehingga membentuk lapisan metal-oksida (oxide film).
Lapisan oksidasi ini terbentuk melalui proses elektrolisa, seperti pada proses penyepuhan
emas. Elektroda metal yang dicelup ke dalam larutan elektrolit (sodium borate) lalu diberi
tegangan positif (anoda) dan larutan electrolit diberi tegangan negatif (katoda). Oksigen pada
larutan electrolyte terlepas dan mengoksidasi permukaan plat metal. Contohnya, jika
digunakan Aluminium, maka akan terbentuk lapisan Aluminium-oksida (Al2O3) pada
permukaannya.

Kapasitor Elco
c. Electrochemical
Termasuk kapasitor jenis ini adalah battery dan accu. Pada kenyataannya battery dan
accu adalah kapasitor yang sangat baik, karena memiliki kapasitansi yang besar dan arus
bocor (leakage current) yang sangat kecil. Tipe kapasitor jenis ini juga masih dalam
pengembangan untuk mendapatkan kapasitansi yang besar namun kecil dan ringan, misalnya
untuk aplikasi mobil elektrik dan telepon selular.
3. Dioda
Dioda adalah komponen aktif semikonduktor yang terdiri dari persambungan (junction)
P-N.Sifat dioda yaitu dapat menghantarkan arus pada tegangan maju dan menghambat arus
pada tegangan balik. Dioda berasal dari pendekatan kata dua elektroda yaitu anoda dan
katoda. Dioda semikonduktor hanya melewatkan arus searah saja (forward), sehingga banyak
digunakan sebagai komponen penyearah arus. Secara sederhana sebuah dioda bisa kita
asumsikan sebuah katup, dimana katup tersebut akan terbuka manakala air yang mengalir
dari belakang katup menuju kedepan, sedangkan katup akan menutup oleh dorongan aliran
air dari depan katup. Dioda disimbolkan dengan gambar anak panah yang pada ujungnya
terdapat garis yang melintang. Simbol tersebut sebenarnya adalah sebagai perwakilan dari
cara kerja dioda itu sendiri. Pada pangkal anak panah disebut juga sebagai anoda (kaki positif
= P) dan pada ujung anak panah disebut sebagai katoda (kaki negative = N).

Struktur dan skema dari dioda dapat dilihat pada gambar di atas. Pada dioda, plate
diletakkan dalam posisi mengelilingi katoda sedangkan heater disisipkan di dalam katoda.
Elektron pada katoda yang dipanaskan oleh heater akan bergerak dari katoda menuju plate.
Untuk dapat memahami bagaimana cara kerja dioda kita dapat meninjau 3 situasi
sebagai berikut ini yaitu :
1. Dioda diberi tegangan nol
2. Dioda diberi tegangan negative
3. Dioda diberi tegangan positive

1. Dioda diberi tegangan nol

Ketika dioda diberi tegangan nol maka tidak ada medan listrik yang menarik elektron
dari katoda. Elektron yang mengalami pemanasan pada katoda hanya mampu melompat
sampai pada posisi yang tidak begitu jauh dari katoda dan membentuk muatan ruang (Space
Charge). Tidak mampunya elektron melompat menuju katoda disebabkan karena energi yang

diberikan pada elektron melalui pemanasan oleh heater belum cukup untuk menggerakkan
elektron menjangkau plate.

2. Dioda Diberi Tegangan Negative

Ketika dioda diberi tegangan negatif maka potensial negatif yang ada pada plate akan
menolak elektron yang sudah membentuk muatan ruang sehingga elektron tersebut tidak akan
dapat menjangkau plate sebaliknya akan terdorong kembali ke katoda, sehingga tidak akan
ada arus yang mengalir.

3. Dioda Diberi Tegangan Positive

Ketika dioda diberi tegangan positif maka potensial positif yang ada pada plate akan
menarik elektron yang baru saja terlepas dari katoda oleh karena emisi thermionic, pada
situasi inilah arus listrik baru akan terjadi. Seberapa besar arus listrik yang akan mengalir
tergantung daripada besarnya tegangan positif yang dikenakan pada plate. Semakin besar

tegangan plate akan semakin besar pula arus listrik yang akan mengalir. Oleh karena sifat
dioda yang seperti ini yaitu hanya dapat mengalirkan arus listrik pada situasi tegangan
tertentu saja, maka dioda dapat digunakan sebagai penyearah arus listrik (rectifier). Pada
kenyataannya memang dioda banyak digunakan sebagai penyearah tegangan AC menjadi
tegangan DC.
FUNGSI DIODA
Dioda ini mempunyai banyak fungsi dalam dunia elektronika. Dari sekian banyak
fungsi dioda, berikut ini adalah fungsi dioda yang perlu Anda ketahui, antara lain :
- Untuk penyearah arus
- Untuk penyetabil tegangan
- Untuk indikator
- Sebagai saklar
Berdasarkan fungsi dioda tersebut, dioda terdiri dari :
-

Dioda Kontak Titik (Point Contact Diode)


Dioda dipergunakan untuk mengubah frekuensi tinggi menjadi frekuensi rendah. Dioda
ini tidak mengalirkan arus yang besar dan banyak dipergunakan pada rangkaian radio dan
televisi. Dioda kontak titik ini dibuat dari kawat wolfram dengan ujung yang runcing
ditempelkan secara kuat pada lempengan germanium atau silikon serta ditutup dengan kotak
dari kaca. Dioda ini hanya dapat mengalirkan arus listrik pada arah sebaliknya.

Dioda Hubungan
Dioda hubungan dapat mengalirkan arus listrik yang besar hanya satu arah dan tidak
dapat mengalirkan arus sebaliknya. Dioda ini biasanya dipergunakan untuk perata arus Power
Supply ( catu daya atau sumber tegangan ). Dioda ini berkapasitas besar yang dinyatakan
dengan Amper dan mempunyai daya tahan terhadap tegangan yang dinyatakan dengan Volt.
Jadi setiap silikon yang dibeli di toko elektronika, mempunyai kapasitas daya tahan terhadap
arus dan tegangan yang berbeda. Sebagai contoh adalah silikon 1 N 4002, ada dua macam
yakni berkapasitas 1A/50Vdan berkapasitas 1A/100V.

Dioda Zener
Dioda zener disebut juga dioda tegangan konstan karena alat ini dapat mengalirkan arus
dengan tegangan yang tetap sesuai dengan kapasitas dari dioda zener tersebut. Dioda zener
biasa disingkat ZD (zener diode), dioda ini kebanyakan mempunyai daya tahan Watt.
Dioda zener dapat dipergunakan untuk menstabilkan tegangan yang ada pada catu daya

(Power Supply) atau sumber tegangan (DC Volt). Type dari dioda zener dibedakan oleh
tegangan pembatasnya. Dioda banyak digunakan sebagai pembatas tegangan.
-

Dioda Pemancar Cahaya (LED)


Dioda ini akan mengeluarkan cahaya bila diberi tegangan sebesar 1,8V dengan arus1,5
mA. LED digunakan sebagai alat peraga (display), digunakan sebagai indikator aktif atau
tidaknya suatu rangkaian elektronik, sebagai lampu isyarat dan lampu hias.
KARAKTERISTIK DIODA
Hampir semua peralatan elektronika memerlukan sumber arus searah. Penyearah
digunakan untuk mendapatkan arus searah dari suatu arus bolak-balik. Arus atau tegangan
tersebut harus benar-benar rata tidak boleh berdenyut-denyut agar tidak menimbulkan
gangguan bagi peralatan yang dicatu.
Dioda sebagai salah satu komponen aktif sangat popular digunakan dalam rangkaian
elektronika, karena bentuknya sederhana dan penggunaannya sangat luas. Ada beberapa
macam rangkaian dioda, diantaranya : penyearah setengah gelombang (Half-Wave Rectifier),
penyearah gelombang penuh (Full-Wave Rectifier), rangkaian pemotong (Clipper), rangkaian
penjepit (Clamper) maupun pengganda tegangan (Voltage Multiplier). Di bawah ini
merupakan gambar yang melambangkan dioda penyearah.

Sisi Positif (P) disebut Anoda dan sisi Negatif (N) disebut Katoda. Lambang dioda
seperti anak panah yang arahnya dari sisi P ke sisi N. Karenanya ini mengingatkan kita pada
arus konvensional dimana arus mudah mengalir dari sisi P ke sisi N.
Dioda termasuk komponen elektronika yang terbuat dari bahan semikonduktor.
Beranjak dari penemuan dioda, para ahli menemukan juga komponen turunan lainnya yang
unik. Dioda memiliki fungsi yang unik yaitu hanya dapat mengalirkan arus satu arah saja.
Struktur dioda tidak lain adalah sambungan semikonduktor P dan N. Satu sisi adalah
semikonduktor dengan tipe P dan satu sisinya yang lain adalah tipe N. Dengan struktur
demikian arus hanya akan dapat mengalir dari sisi P menuju sisi N.

Simbol dan struktur dioda


Gambar ilustrasi di atas menunjukkan sambungan PN dengan sedikit porsi kecil yang
disebut lapisan deplesi (depletion layer), dimana terdapat keseimbangan hole dan elektron.
Seperti yang sudah diketahui, pada sisi P banyak terbentuk hole-hole yang siap menerima
elektron sedangkan di sisi N banyak terdapat elektron-elektron yang siap untuk bebas
merdeka. Lalu jika diberi bias positif, dengan arti kata memberi tegangan potensial sisi P
lebih besar dari sisi N, maka elektron dari sisi N dengan serta merta akan tergerak untuk
mengisi hole di sisi P. Tentu kalau elektron mengisi hole disisi P, maka akan terbentuk hole
pada sisi N karena ditinggal elektron. Ini disebut aliran hole dari P menuju N, Kalau
menggunakan terminologi arus listrik, maka dikatakan terjadi aliran listrik dari sisi P ke sisi
N.

Sebaliknya apakah yang terjadi

jika polaritas tegangan dibalik

yaitu dengan

memberikan bias negatif (reverse bias). Dalam hal ini, sisi N mendapat polaritas tegangan
lebih besar dari sisi P.

Tentu jawabannya adalah tidak akan terjadi perpindahan elektron atau aliran hole dari P
ke N maupun sebaliknya. Karena baik hole dan elektron masing-masing tertarik ke arah
kutup berlawanan. Bahkan lapisan deplesi (depletion layer) semakin besar dan menghalangi
terjadinya arus. Demikianlah sekelumit bagaimana dioda hanya dapat mengalirkan arus satu

arah saja. Dengan tegangan bias maju yang kecil saja dioda sudah menjadi konduktor. Tidak
serta merta di atas 0 volt, tetapi memang tegangan beberapa volt di atas nol baru bisa terjadi
konduksi. Ini disebabkan karena adanya dinding deplesi (depletion layer). Untuk dioda yang
terbuat dari bahan Silikon tegangan konduksi adalah di atas 0.7 volt. Kira-kira 0.3 volt batas
minimum untuk dioda yang terbuat dari bahan Germanium.

Sebaliknya untuk bias negatif dioda tidak dapat mengalirkan arus, namun memang ada
batasnya. Sampai beberapa puluh bahkan ratusan volt baru terjadi breakdown, dimana dioda
tidak lagi dapat menahan aliran elektron yang terbentuk di lapisan deplesi.
4. Transistor
Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, pemotong
(switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau fungsi lainnya. Transistor dapat
berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus inputnya (BJT) atau tegangan
inputnya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber
listriknya.

Gambar Transistor
Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal. Tegangan atau arus yang dipasang di
satu terminalnya mengatur arus yang lebih besar yang melalui 2 terminal lainnya. Transistor
adalah komponen yang sangat penting dalam dunia elektronik modern. Dalam rangkaian
analog, transistor digunakan dalam amplifier (penguat). Rangkaian analog melingkupi
pengeras suara, sumber listrik stabil, dan penguat sinyal radio. Dalam rangkaian-rangkaian
digital, transistor digunakan sebagai saklar berkecepatan tinggi. Beberapa transistor juga
dapat dirangkai sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate, memori, dan
komponenkomponen lainnya. Ada beberapa macam transistor, antara lain :

a. Transistor Bipolar
Transistor bipolar dinamakan demikian karena kanal konduksi utamanya menggunakan
dua polaritas pembawa muatan: elektron dan lubang, untuk membawa arus listrik. Dalam
BJT, arus listrik utama harus melewati satu daerah / lapisan pembatas dinamakan depletion
zone, dan ketebalan lapisan ini dapat diatur dengan kecepatan tinggi dengan tujuan untuk
mengatur aliran arus utama tersebut.
BJT (Bipolar Junction Transistor) adalah salah satu dari dua jenis
Start
transistor.
Cara kerja BJT dapat dibayangkan sebagai dua dioda yang terminal positif
atau negatifnya berdempet, sehingga ada tiga terminal. Ketiga terminal tersebut adalah emiter
(E), kolektor (C), dan basis (B).
Power Supply
12v

C.
1.
-

Alat dan Bahan


Kapasitor
Alat
Setrika
Ferry Clhoride
Bensin
Bor Pcb (0,8 mm dan 1 mm)
Output berupa AC bersih
Solder
Pemotong Kuku
Obeng
Multimeter
Power Supply

2.
-

Bahan Transistor D438


PCB
.............................................................................
Elco 4,7
.............................................................................
Elco 200
.............................................................................
Dioda D4148
.............................................................................
Resistor 22 k
...............................................................................
Sinyal
TIP 32
Resistor
5,6 kdi Kuatkan
..............................................................................
Resistor 47 k
...............................................................................
Resistor 2k2
...............................................................................
2 Buah Dioda

D. Flowchart Power Amplifiers

Resistor 22k

1 buah
1 buah
1 buah
2 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah

Sinyal Negatif yang


telah diKuatkan

Kapasitor
TIP 31

Sinyal Positif yang telah diKuatkan


End

E. Gambar Rangkaian
1. Gambar Rangkaian

2. Layout PCB

3. Tata Letak Komponen

F. Prinsip Kerja Rangkaian


Rangkaian power amplifiers dihubungkan dengan power supply yang
bertegangan 12 volt. Lalu arus masuk ke kapasitor 4,7 f, lalu keluaranya berupa
sinyal AC bersih. Lalu arus keluaran dari kapasitor dikuatkan dengan Transistor
D438. Setelah mengalami penguatan di Transistor D438 arus tersebut masuk ke 2
dioda yang hubungkan seri. Fungsi diode yang di hubungkan seri disini untuk
membagi tegangan antara positif dan negative. Lalu arus Positif keluaran 2 buah
diode tadi di kuatkan lagi dengan TIP 31, sedangkan arus negative di kuatkan dengan
TIP 32. Kemudian kedua arus tersebut masuk ke kapasitor 200f. Dan rangkaian
power amplifiers siap di hubungkan dengan speaker.
G. Analisa Rangkaian
Sumber tegangan yang digunakan adalah power supply dengan tegangan 12V.
Sumber tegangan ini digunakan sebagai sumber tegangan DC untuk menguatkan
tegangan dan menjadi VCC pada rangkaian power amplifier ini. Input bisa berasal
dari mic atau dari alat lain dengan spesifikasi input maksimal bertengangan 170mV
dan frekuensi maksimal tak terhingga (sesuai dengan simulasi yang dilakukan) untuk
output tanpa ripple .
capasitor 4.7 mikro Farat dalam rangkaian berfungsi sebagai coupling untuk
membatasi arus DC yang masuk. Resistor 1 dan resistor 2 berfungsi sebagai penghasil
tegangan VB dengan prinsip pembagi tegangan. Transistor akan menguatkan arus
yang masuk melalui VB dengan penguatan common colector , tegangan yang
dikuatkan negatif ataupun positif.
Dioda yang ada pada output colector transistor D438 berfungsi sebagai untuk
memecah sinyal sisi puncak positif dan sisi sinyal puncak negatif yang merupakan
output dari kapasitor D438.

Transistor TIP 31 berfungsi sebagai penguat tegangan input yang berfasa


positif dan transistor TIP32 berfungsi sebagai penguatan tegangan input yang berfasa
negatif. Fungsi dari R3 dan R4 adalah sebagai RC dan RE.
Capasitor 200 mikro farat berfungsi sebagai coupling penyaring arus DC,
sehingga uotput berupa AC murni (bersih)
Heat Sink ( casing) Fungsi dari Heat Sink ini adalah untuk menyerap dan
membuang panas yang dihasilkan oleh transistor.Bahan pembuat dari heat sink ini
umumnya adalah aluminium cor atau kadang-kadang digunakan pula tembaga.

H. Prosuder Pemakaian Alat


a. Memasang input daya dengan power supplay / lainnya yang bertegangan 12
V DC
b. Memasang inputan suara yang akan dikuatkan dengan sumber sinyal (mic
atau peralatan lainnya)
c. Memasang (menghubungkan) output berupa speaker.
d. Menekan saklar on pada power supply dan power amplifier
e. Alat siap digunakan

I. Kesimpulan
a. Rangkaian yang saya buat diatas merupakan rangkaian power amplifier.
Rangkaian Power Amplifiers adalah penguat akhir sistem tata suara yang
berfungsi sebagai penguat sinyal audio yang pada dasarnya merupakan
penguat tegangan dan arus dari sinyal audio yang bertujuan untuk
menggerakan pengeras suara (Loud Speaker)
b. Power Amplifiers berfungsi sebagai penguat bagian akhir
c. Rangkaian power amplifier terdiri dari penguat kelas A dan penguat kelas
AB

Kelebihan

Mempunyai efisiensi daya yang cukup tinggi


Sinyal keluaran tidak ada distorsi
Kualitas output adalah baik
Kekurangan
Penguatan kurang maksimal
Tidak bisa mengeluarkan suara bass baik
- Terdapat input maksimal agar tidak terjadi potongan sinyal input saat
di kuatkan (suara)

Daftar Pustaka
- http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/definisi-dan-prinsip-kerja-

penguat-akhir-final-amplifier/
http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/titik-kerja-q-dan-garis-beban-

power-amplifier-kelas-a/
http://www.academia.edu/7310536/Makalah_jadi_Penguat_Kelas_A_B_dan_C
http://cheps-seven.blogspot.com/2012/06/power-amplifier.html
http://lovearyah.blogspot.com/2014/06/simbol-simbol-flowchart-dan-

fungsinya.html
http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/power-amplifier-kelas-ab/
Elektronika-dasar.web.id
Komponen-dasar-elektronika.academia.edu