Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU TERNAK UNGGAS

Disusun oleh :
Kelompok 30
Abdul Jafar Assidiq
13/352485/PT/06611
Asisten Pendamping : Ardian Priyono

LABORATORIUM ILMU TERNAK UNGGAS


BAGIAN PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

TUJUAN DAN MANFAAT PRAKTIKUM


Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui sistem digesti dan
reproduksi pada ayam betina dan ayam jantan.
Manfaat Praktikum
Manfaat yang dapat diambil dari praktikum ilmu ternak unggas ini
adalah

bertambahnya

pengetahuan mengenai sistem digesti dan

reproduksi pada ayam betina dan ayam jantan, sehingga diharapkan


praktikan mengerti cara memanajemen ternak ayam yang baik dan dapat
menghasilkan produksi yang bagus.

MATERI DAN METODE


Materi
Alat. Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain pisau
scapel merk GMC, mata pisau merk GEA, timbangan Camry dengan kode
1, pita ukur 1,5 m merk Butterfly, gunting merk Carlwebber stainless,
plastik ukuran 1mx1m dan kaca bening berukuran kurang lebih 50x50 cm.
Bahan. Bahan yang digunakan pada saat praktikum adalah 2 ekor
ayam layer afkir berumur 72 minggu dengan berat 1131 gram dan ayam
layer afkir berumur 72 minggu dengan berat 1498 gram. Ayam yang
digunakan telah disembelih tetapi belum dibedah.
Metode
Ayam yang telah dipotong dibersihkan bulu-bulunya kemudian
dibedah lalu dikeluarkan seluruh organ pencernaan dan reproduksinya
(jangan sampai putus), kemudian diletakkan di atas plastik, diatur secara
utuh dan digambar. Organ yang telah tersusun diukur panjang perbagian,
dipotong dan dikeluarkan kotorannya lalu ditimbang. Hasil pengukuran
masing-masing organ dicatat di kertas kerja.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Sistem Digesti
Hasil dari pengukuran organ pencernaan ayam adalah sebagai
berikut :
Tabel 1. Hasil pengukuran organ pencernaan ayam
Parameter
Oesophagus
Crop
Proventrikulus
Gizzard
Usus halus :
Duodenum
Jejenum
Ileum
Coecum
Usus besar
Kloaka
Organ tambahan
Hati
Pankreas
Limfa

Ayam A
Panjang
(cm)
15,4
14
4
8,5
26
61
51
18,5
7
5
13
14,5
1,8

Berat
(gram)
4
10
6
29
5
17
9
10
4
12

Ayam B
Panjang
(cm)
19
10
8
7
30
68
62
19
5
2

Berat
(gram)
6
9
6
25
16
20
20
10
2
18

31
3
1

17,5
13
1,5

38
2
1

Sistem digesti pada ayam dimulai dari mulut, esophagus, crop,


proventrikulus, gizzard, usus halus (duodenum, jejenum, ileum), coecum,
usus besar (rectum) dan kloaka.

Gambar 1. Saluran pencernaan dan reproduksi ayam


Ayam tidak memiliki gigi, tetapi memiliki lidah yang kaku untuk
menelan makanan. Mulut menghasilkan saliva yang mengandung amilase

dan maltase saliva serta bikarbonat yang digunakan untuk pemecahan


bahan pakan dan untuk membasahi pakan agar mudah ditelan (Yuwanta,
2004). Menurut Yasin (2010) bagi unggas, di dalam mulut belum banyak
terjadi proses pencernaan, walaupun unggas sudah berusaha dengan
paruh memecah makanannya dan saliva disekresikan oleh kelenjar
maksilaris, platini, ptrigoidea dan mandibularis.
Oesophagus. Oesophagus merupakan saluran lunak dan elastis
yang merupakan tempat lewatnya makanan pertma kali setelah paruh.
Oesophagus memiliki enzim amilase yang membantu makanan turun dan
juga bantuan dari gaya gravitasi bumi sehingga makanan dapat sampai
tembolok

(crop).

Oesophagus

memanjang

dari

pharynk

hingga

proventikulus melewati tembolok (crop). Organ ini menghasilkan mukosa


yang berfungsi membantu melicinkan pakan menuju tembolok (Yuwanta,
2004). Oesophagus atau kerongkongan berupa pipa tempat pakan melalui
saluran ini dari bagian belakang mulut (pharynk) ke proventriculus
(Suprijatna et al., 2005).

Gambar 2. Oesophagus
Data pengukuran diketahui panjang oesophagus ayam A adalah
15,4 cm sedangkan pada ayam B adalah 19 cm. Sedangkan berat
oesophagus ayam A adalah 4 gram dan ayam B adalah 6 gram. Menurut
neil (1991), kisaran normal panjang oesophagus ayam adalah berkisar
antara 20 sampai 25 cm dengan berat berkisar antara 5 sampai 7,5 gram.
Panjang oesophagus ayam A maupun ayam B berada di bawah kisaran
normal.

Berat oesophagus ayam A berada di bawah kisaran normal,

sedangkan ayam B berada dalam kisaran normal. Menurut Akoso (1998),


faktor yang mempengaruhi perbedaan panjang oesophagus pada ayam
adalah jumlah pakan yang dikonsumsi, jenis pakan, umur, dan jenis
kelamin.
Crop. Crop atau tembolok adalah tempat penyimpanan sementara
dan juga tempat pembasahan makanan agar makanan lebih mudah
dicerna oleh organ-organ setelahnya. Makanan yang tersimpan dalam
crop akan bertahan selama kurang lebih 2 jam, dan maksimal
penyimpanan dalam crop ini adalah 250 gram. Crop juga digunakan
sebagai indikator dari kenyang atau tidaknya ayam secara fisik (Yuwanta,
2004).
Menurut Crompton (1999), crop (tembolok) merupakan modifikasi
dari oesophagus yang berperan sebagai tempat penyimpanan pakan,
pakan yang disimpan dalam tembolok hanya sementara. Fungsi utamanya
adalah menyimpan pakan sementara, terutama pada saat ayam makan
dalam jumlah banyak. Dalam menjalankan fungsinya, crop dibantu oleh
kelenjar saliva. Crop mempunyai syaraf yang berhubungan dengan pusat
kenyang lapar yang terdapat di hipotalamus. Menurut Yasin (2010)
pencernaan di tembolok adalah menampung makanan yang masuk,
pelunakan makanan dengan bantuan saliva dari kelenjar mulut,
oesophagus dan tembolok.

Gambar 3. Crop
Hasil yang diperoleh dari panjang crop adalah 14 cm pada ayam A
dan 10 cm pada ayam B, sedangkan berat crop dari ayam A adalah 10

gram dan pada ayam B adalah 9 gram. Menurut Yuwanta (2000), kisaran
normal panjang crop adalah antara 7 sampai 10 cm dengan berat 8
sampai 12 gram. Panjang crop ayam A berada di atas kisaran normal dan
crop ayam B berada dalam kisaran normal. Berat crop ayam A dan crop
ayam B berada dalam kisaran normal. Menurut Blakely dan Bade (1991),
perbedaan ukuran panjang oesophagus dapat dipengaruhi oleh ukuran
ayam, jenis ayam, dapat juga dikarenakan konsumsi pakan yang tidak
tepat, serta dipengaruhi oleh umur, kesehatan ayam dan strain ayam.
Proventrikulus.

Merupakan

tempat

terjadinya

pencernaan

enzimatis. Proventriculus berperan dalam sekresi pepsinogen dan HCl


untuk mencerna protein dan lemak. Pencernaan makanan dalam
proventriculus berlangsung sangat cepat sehingga secara nyata pakan
belum sempat tercerna. Sekresi pepsinogen dan HCl tergantung pada
stimulasi saraf vagus, pakan yang melintas, dan aksi cairan gastrik.
Sekresi proventriculus dapat mencapai 5 sampai 20 ml per jam, dan
mampu mencapai 40 ml ketika ada pakan (Yuwanta, 2004). Menurut
Fadilah (2005), proventrikulus memiliki pH 4 yang berarti bersifat asam
dan memiliki dinding halus.

Gambar 4. Proventrikulus
Hasil yang diperoleh dari praktikum panjang proventriculus ayam A
adalah 4 cm sedangkan ayam B adalah 8 cm. Berat proventriculus ayam
A 6 gram sedangkan ayam B 6 gram. Menurut Yuwanta (2004),
proventriculus mempunyai kisaran panjang normal 6 cm dan berat 5
sampai

7,5

gram.

Berdasarkan

data

yang

diperoleh

panjang

proventrikulus ayam A berada di bawah kisaran normal dan ayam B


berada di atas kisaran normal. Berat proventriculus ayam A dan ayam B
berada dalam kisaran normal. Hal ini disebabkan oleh pemberian pakan
yang berbeda. Pakan yang masuk melalui mulut, oesophagus, crop, dan
proventrikulus belum mengalami proses pencernaan, baik secara
mekanik, kimia, ataupun mikrobiologi (Yuwanta, 2004). Menurut Blakely
dan Bade (1991), perbedaan ukuran panjang alat pencernaan dapat
dipengaruhi oleh ukuran ayam, jenis ayam, dapat juga dikarenakan
konsumsi pakan yang tidak tepat, serta dipengaruhi oleh umur, kesehatan
ayam dan strain ayam.
Gizzard. Gizzard (lambung otot) terpisah dari proventriculus oleh
saluran

pendek

yang

merupakan

konstriksi

dari

proventriculus

(Soeharsono, 2010). Menurut Kustono et al. (2008), gizzard bersifat asam


dengan pH 2 sampai 3,5 dan tidak ada digesti enzim. Ukuran dan
kekuatan gizzard dipengaruhi oleh kebiasaan makan ayam tersebut.
Pakan dalam gizzard mengalami pencernaan secara mekanik.
Pencernaan mekanik dilakukan dengan bantuan batuan-batuan kecil (grit).
Fungsi pencernaan mekanik ini untuk memperkecil ukuran pakan agar
mudah di cerna. Pakan selanjutnya masuk ke dalam gizzard yang
merupakan tempat terjadinya pencernaan mekanik. Gizzard berfungsi
melunakan makanan dengan batuan grid dan mencampur dengan air
menjadi

pasta

yang

disebut

chymne

(Yuwanta,

2000).

Gizard

mensekresikan coilin yang berfungsi melindungi permukaan gizzard


terhadap kerusakan karena pakan atau zat lain yang tertelan (Yuwanta,
2004). Coilin terbentuk berdasarkan pakan yang di telan oleh ayam, ayam
yang hidupnya didalam kandang dan makanannya hanya konsentrat saja
maka lapisan coilin tidak akan berkembang, sedangkan ayam yang
hidupnya diumbar coilin akan berkembang dengan baik karena konsumsi
pakannya yang ekstrim.

Gambar 5. Gizzard
Hasil yang diperoleh dari praktikum, gizzard ayam A memiliki berat
29 gram dan gizzard ayam B adalah 25 gram, sedangkan panjang gizzard
ayam A adalah 8,5 dan ayam B adalah 7. Menurut

Yuwanta (2004),

kisaran panjang normal gizzard adalah 5 sampai 7,5 cm dengan berat 25


sampai 30 gram. Berat gizzard yang dimiliki ayam A dan ayam B berada
dalam kisaran normal dan panjang gizzard ayam A berada di atas kisaran
normal dan ayam B berada dalam kisaran normal. Perbedaan ini
dikarenakan pemberian pakan yang berbeda maupun pemeliharaan yang
berbeda (Yuwanta, 2004).
Usus halus
Usus halus merupakan tempat terjadinya penyerapan makanan
dan tempat sekresi enzim dari penkreas dan getah empedu dari hati. Usus
halus terdiri dari tiga bagian, yaitu duodenum, jejenum dan illeum.
Panjang total usus halus adalah 126,5 cm (Swenson, 1993).
Usus halus di dalamnya terdapat sel endokrin, sel-sel endokrin
berbentuk polimorfik, bulat, oval, segitiga at au piramidal. Sel-sel ini
menyebar di lapis mukosa, di antara sel-sel epitelium dan kelenjar di
semua bagian saluran pencernaan dari lambung sampai rektum. Sel
endokrin menunjukkan ciri khas adanya butir-butir sitoplasma pada daerah
basal yang bereaksi positif terhadap butir perak. Dua tipe sel endokrin
dapat diamati yaitu sel tipe terbuka dan sel tertutup. Sel tipe terbuka
mempunyai penjuluran sitoplasma yang berhubungan dengan lumen dan

pada sel tipe tertutup, tidak ditemukan hubungan antara sitoplasma


dengan lumen (Satyaningtijas, 1999)
Usus halus merupakan tempat pencernaan secara kimiawi yang
paling aktif. Pencernaan disini dibantu dengan enzim yang dihasilkan dari
pancreas serta getah empedu yang dihasilkan dari hati. Fungsi empedu
adalah untuk mengemulsikan lemak agar mudah dilisiskan oleh enzim
lipase pancreas.
Duodenum. Duodenum merupakan bagian teratas dari usus halus
dan panjangnya mencapai 24 cm. Hidrolisis nutrien kasar seperti pati,
protein, dan lemak paling aktif terjadi di duodenum. Penyerapan hasil
akhir hidrolisis tersebut juga sebagian besar terjadi di duodenum
(Yuwanta, 2004). Bagian duodenum terdapat penkreas. Bagian ini terjadi
pencernaan yang paling aktif dengan proses hidrolisis dari nutrien kasar
yang berupa pati, lemak dan protein (Yuwanta, 2000).

Gambar 6. Duodenum
Berdasarkan hasil praktikum panjang duodenum ayam A adalah 26
cm serta beratnya 15 gram, panjang duodenum ayam B adalah 30 cm
serta beratnya 16 gram. Menurut Darmawan (2008), panjang duodenum
berkisar 26 sampai 28 cm dengan berat sekitar 12 sampai 18 gram. Hasil
pengamatan praktikum menunjukkan panjang dan berat dari duodenum
ayam A dan B berada dalam kisaran normal.
Jejenum.

Jejenum

merupakan

kelanjutan

dari

duodenum,

fungsinya sama dengan duodenum. Bagian ini terjadi proses pencernaan


dan penyerapan zat makanan yang belum diselesaikan pada duodenum

dilanjutkan sampai tinggal bahan yang tidak dapat di cerna (Yuwanta,


2004).

Gambar 7. Jejenum
Berdasarkan hasil praktikum panjang jejenum ayam A adalah 61
cm dengan berat 17 gram dan panjang jejenum ayam B adalah 68 cm
dengan berat 20 gram. Menurut Darmawan (2008), panjang normal
jejenum ayam adalah 66 sampai 71 cm dan berat normal berkisar 19
sampai 23 gram. Hasil pengamatan praktikum menunjukkan ayam A
berada di bawah kisaran normal dan ayam B berada dalam kisaran
normal, sedangkan berat jejenum ayam A berada di bawah kisaran normal
dan ayam B dalam kisaran normal.
Ileum. Jejenum dan illeum dibatasi oleh micell diverticum. Illeum
merupakan kelanjutan dari jejenum, fungsinya sama dengan duodenum
dan jejenum, yaitu sebagai proses pencernaan dan penyerapan zat
makanan yang belum diselesaikan pada duodenum dan jejenum
dilanjutkan sampai tinggal bahan yang tidak dapat di cerna (Yuwanta,
2004).

Gambar 8. Ileum

Berdasarkan hasil praktikum panjang ileum ayam A adalah 51 cm


dengan berat 9 gram dan panjang ileum ayam B adalah 62 cm dengan
berat 20 gram. Menurut Darmawan (2008), panjang normal ileum ayam
adalah 66 sampai 69 cm dan berat normal berkisar 16 sampai 20 gram.
Hasil pengamatan praktikum menunjukkan panjang kisaran normal ayam
A dan ayam B berada di bawah kisaran normal, sedangkan berat ileum
ayam A berada di bawah kisaran normal dan ayam B dalam kisaran
normal.
Menurut Swenson (1993), panjang total usus halus adalah 126,5
cm, sedangkan panjang yang diperoleh dari hasil praktikum berbeda.
Perbedaan ini disebabkan oleh bangsa, pakan yang diberikan, dan kondisi
lingkungan pada saat pemeliharaan. Semakin tua umur ayam, saluran
digesti mengalami perubahan sesuai dengan proporsi pakannya dan
kondisi lingkungannya (Sarwono, 1997).
Coecum. Pakan yang tidak dapat di cerna di usus halus kemudian
masuk ke coecum. Disini terjadi pencernaan secara mikrobiologi oleh
mikroorganisme (Yuwanta, 2000). Coecum merupakan perbatasan antara
usus besar dengan usus halus. Coecum pada unggas terdiri dari dua seka
atau saluran buntu (Yuwanta, 2004).

Gambar 9. Coeca
Berdasarkan praktikum yang dilakukan panjang coecum ayam A
dan ayam B adalah 18,5 cm dan 19 cm, serta beratnya masing-masing 10
gram dan 10 gram. Menurut Neil (1991), bahwa coecum mempunyai
panjang 20 cm sampai 25 cm dan beratnya 6 gram sampai 8 gram. Hasil
praktikum menunjukkan panjang coecum ayam A dan ayam B berada di
bawah kisaran normal dan beratnya berada di atas kisaran normal.
Beberapa nutrien yang tidak tercerna mengalami dekomposisi oleh

mikrobia coecum, tetapi jumlah serta penyerapannya hanya kecil sekali.


Pada bagian coecum pula digesti serat kasar dilakukan oleh bakteri
pencerna serat kasar (Yuwanta, 2000).
Usus besar. Usus besar berfungsi sebagai tempat absorpsi air
sebelum feses dikeluarkan dari tubuh agar feses menjadi keras dan tubuh
tidak mengalami dehidrasi. Partikel pakan yang tidak tercerna oleh
mikroorganisme dirombak menjadi feses. Uterer dari ginjal juga bermuara
pada rektum sehingga urin pada unggas bercampur dengan feses
(ekskreta). Feses dan urin yang akan dikeluarkan akan mengalami
penyerapan air sekitar 72 sampai 75 persen (Yuwanta, 2004).

Gambar 10. Usus besar


Panjang usus besar ayam A dan ayam B masing-masing adalah 7
cm dan 5 cm, serta beratnya masing-masing 4 gram dan 2 gram. Menurut
Akoso (1998), berat normal usus besar adalah 4 gram sampai 6 gram dan
memiliki panjang colon 7 cm hingga 10 cm. Panjang usus besar ayam A
berada dalam kisaran normal dan panjang usus besar ayam B berada di
bawah kisaran normal. Berat usus besar ayam A berada dalam kisaran
normal sedangkan berat usus besar ayam B berada di bawah kisaran
normal. Perbedaan ini disebabkan oleh bangsa, pakan dan kondisi
lingkungan (Sarwono, 1997).
Kloaka. Kloaka merupakan tempat keluarnya ekskreta karena
urodeum dan kuprodeum terletak berhimpitan (Yuwanta, 2004). Kloaka
merupakan lanjutan dari tiga saluran, yaitu saluran untuk urin dan
reproduksi (urodeum), saluran kotoran atau pencernaan (cuprodeum) dan
saluran keluar atau anus (protodeum) (Yuwanta, 2000).

Gambar 11. kloaka


Hasil yang diperoleh dari praktikum, berat kloaka ayam A dan ayam
B masing-masing adalah 12 gram dan 18 gram, sedangkan panjang
kloaka ayam A 5 cm dan ayam B 2 cm. Menurut Neil (1991), panjang
kloaka adalah 1,5 sampai 3 cm dengan berat 6 sampai 8 gram. Berat
kloaka ayam A dan B berada di atas kisaran normal sedangkan panjang
kloaka ayam A berada di atas kisaran normal dan kloaka ayam B berada
dalam kisaran normal. Perbedaan ini disebabkan oleh bangsa, pakan dan
kondisi lingkungan (Sarwono, 1997).
Organ Tambahan
Selain organ-organ yang ada dalam sistem pencernaan juga
terdapat adanya organ-organ tambahan. Organ-organ tambahan tersebut
antara lain hati, limpa dan pankreas.
Hati.

Hati

dalam

proses

pencernaan

berfungsi

untuk

mensekresikan getah empedu yang dibawa ke dalam duodenum. Fungsi


dari getah empedu ini untuk menetralkan asam lambung (HCl) yang
dibawa dari proventriculus, mengaktifkan lipase pankreas membentuk
sabun terlarut dengan lemak bebas. Kedua fungsi tersebut membantu
dalam absorpsi dan translokasi asam lemak (Yuwanta, 2000). Fungsi
utamanya dalam pencernaan dan absorpsi adalah produksi empedu.
Empedu penting dalam proses penyerapan lemak, pakan dan ekskresi
limbah produk seperti kolesterol (Suprijatna, 2005).

Gambar 12. Hati


Hasil pengamatan praktikum panjang hati ayam A adalah 13 cm
dan ayam B adalah 17,5 cm, sedangkan berat hati ayam A adalah 31
gram dan ayam B adalah 38 gram. Menurut Yuwanta (2004), berat hati
pada unggas adalah 3% dari bobot badan. Ayam A memiliki berat 1130,8
gram sehingga berat normal hati ayam A adalah 33,924 gram. Ayam B
memiliki berat 1498 gram sehingga berat normal hati ayam B adalah
44,94 gram. Berdasarkan data yang di dapat berat hati ayam A dan B
berada di bawah kisaran normal. Menurut sidadolog (2001) perbedaan
ukuran disebabkan oleh umur, jenis pakan, dan jenis ayam.
Pankreas. Pankreas terletak diantara lipatan duodenum. Fungsi
pankreas yaitu mensekresikan anzim amilase, tripsin dan lipase yang
dibawa ke dalam duodenum untuk pencernaan karbohidrat, protein dan
lemak. Pankreas terletak diantara duodenal loup pada usus halus.
Pankreas merupakan suatu kelenjar yang berfungsi sebagai kelenjar
endokrin

dan

eksokrin.

Sebagai

kelenjar

endokrin,

pankreas

mensekresikan hormon insulin dan glukagon, sebagai kelenjar eksokrin


pankreas mensekresikan enzim atau pancreatic juice. Enzim yang
disekresikan antara lain lipase, tripsinogen dan amilase (Suprijatna, 2005).

Gambar 13. Pankreas

Hasil pengamatan pankreas ayam A dan ayam B memiliki panjang


dan berat berturut-turut 14,5 cm dan 13 cm, 3 gram dan 2 gram. Menurut
Sumiati (2003), Berat pankreas pada ayam adalah 0,37 % sampai 0,50 %
dari berat tubuh. Ayam A memiliki berat 1130,8 gram sehingga memiliki
berat normal sebesar 4,18 gram. Ayam B memiliki berat 1498 gram
sehingga berat normalnya sebesar 5,54 gram. Berdasarkan data yang di
dapat berat pankreas ayam A dan B berada di bawah kisaran normal.
Menurut Yuwanta (2004) bahwa faktor yang mempengaruhi perbedaan
adalah umur, dan jenis unggas.
Limfa. Limfa berada di sebelah kiri dan kanan duodenum, sedikit di
atas empedu dan berwarna kemerah-merahan. Bentuk limpa yaitu bulat
dan tersusun oleh lapisan jaringan yang keputihan. Fungsi dari limpa
adalah untuk pembentukkan sel darah merah dan sel darah putih
(Yuwanta, 2000).

Gambar 14. Limfa


Hasil pengamatan limfa di dapatkan data sebagai berikut, panjang
limfa ayam A dan ayam B adalah 1,8 cm dan 1,5 cm sedangkan beratnya
adalah 1 gram untuk ayam A dan B. Menurut Sumiati (2003), berat limpa
ayam sekitar 0,09 % sampai 0,11 % dari bobot badannya. Ayam A memiliki
berat badan sebesar 1130,8 sehingga berat normalnya 1,02 gram. Ayam B
memiliki berat badan sebesar 1498 gram sehingga berat normalnya 1,35
gram. Berdasarkan data yang di dapat berat limfa ayam A dan B berada
dalam kisaran normal. Menurut Zuprizal (2005), perbedaan disebabkan
oleh jenis unggas.

Sistem Reproduksi Ayam


Hasil dari pengukuran organ pencernaan ayam adalah sebagai
berikut :
Tabel 2. Hasil pengamatan organ reproduksi ayam betina
Parameter
Ovarium + ovum
Infundibulum
Magnum
Isthmus
Uterus
Vagina

Ayam A
Panjang
(cm)
9
8
37
10
11
7,3

Berat
(gram)
35
0,8
27
3
27
9

Ayam B
Panjang
(cm)
8
10
27
13
9
7

Berat
(gram)
42
11
20
5
15
1

Sistem Reproduksi Ayam Betina


Ovarium. Ovarium adalah tempat sintesis hormon steroid seksual,
gametogenesis, dan perkembangan serta pemasakan kuning telur
(folikel). Pada umumnya hanya ovarium kiri yang berkembang, sedangkan
bagian kanan mengalami rudimenter (Yuwanta, 2004). Ovarium dikontrol
oleh hormon gonadotropin yang terdiri dari luteinizing hormone (LH) dan
folikel stimulating hormone (FSH) yang dihasilkan oleh pituaria (hipofisis)
anterior. Ovarium menghasilkan beberapa hormon yaitu estrogen yang
fungsinya untuk mempengaruhi pigmentasi bulu spesifik bagi ayam betina
dan mempengaruhi perkembangan oviduct untuk persiapan bertelur,
progesteron fungsinya bersama androgen mengatur perkembangan
oviduct untuk sekresi albumen dari magnum dan aktif menstimulasi
hipotalamus untuk mengaktifkan faktor releasing hormon agar memacu
sekresi LH dari pituaria anterior. Apabila ovum sudah masak maka stigma
akan robek sehingga terjadi ovulasi. Robeknya stigma dipengaruhi oleh
hormon LH (Yuwanta, 2000).

Gambar 15. Ovarium


Berdasarkan tabel di atas, ovarium ayam layer A yang berumur
lebih dari 72 minggu, mempunyai berat 35 gram, sedangkan ovarium
ayam B mempunyai berat 42 gram dan panjang ovarium ayam A adalah 9
dan ayam B adalah 8. Menurut Sidadolog (2001), berat ovarium unggas
dewasa adalah antara 40 gram sampai 60 gram. Berdasarkan data yang
di dapatkan ovarium ayam A berada di bawah kisaran normal dan ayam B
berada dalam kisaran normal. Menurut Yuwanta (2004), perbedaan
ukuran dapat disebabkan oleh umur folikel yang masih muda atau baru
saja terjadi ovulasi sehingga beratnya menurun. Folikel sudah berada di
ovarium sejak induk masih dalam bentuk embrio.
Infundibulum. Infundibulum merupakan bagian dari oviduct.
Infundibulum berfungsi sebagai alat untuk menangkat sel telur yang sudah
siap untuk dibuahi, peristiwa turunnya telur dari ovarium menuju
infundibulum

terjadi

selama

kurang

lebih

15

sampai

30

menit.

Infundibulum merupakan tempat penangkapan sel telur dari ovarium.


Sebelum sel telur keluar sebagai telur dari saluran

protodeum,

infundibulum tidak mau menerima sel telur selanjutnya. Hal inilah yang
menyebabkan ayam tidak bisa bertelur dua kali dalam sehari.

Gambar 16. infundibulum


Berdasarkan hasil pengamatan, berat infundibulum ayam A dan
ayam B adalah 0,8 gram dan 11 gram dengan panjang masing-masing 8
cm dan 10 cm. Menurut Horhoruw (2012), panjang infundibulum sekitar 8
cm hingga 10 cm, sedangkan berat infundibulum sekitar 1,96 gram
sampai 4,30 gram. Berdasarkan pengamatan panjang infundibulum
berada dalam kisaran normal dan berat infundibulum ayam A berada di
bawah klisaran normal sedangkan infundibulum ayam B berada di atas
kisaran normal. Infundibulum sangat tipis dan mensekresikan sumber
protein

yang

mengelilingi

membran

vitelina.

Pada

perbatasan

infundibulum dan magnum terdapat sarang spermatozoa yang merupakan


terminal akhir dari lalu lintas spermatozoa sebelum terjadi pembuahan
(Yuwanta, 2004).
Magnum.

Magnum

merupakan

bagian

terpanjang

apabila

dibandingkan dengan bagian yang lain. Di dalam mukosa magnum


terdapat sel goblet yang berfungsi dalam mensekrasikan putih telur kental
dan cair (Yuwanta, 2004).

Gambar 17. Magnum

Panjang magnum pada ayam A 37 cm dan berat 27 gram,


sedangkan panjang pada ayam B 27 cm dan berat 20 gram. Menurut
Horhoruw (2012), panjang magnum normal sekitar 23,83 cm

sampai

32,60 cm, sedangkan berat normal magnum sekitar 22,57 gram sampai
26,42 gram. Panjang magnum ayam A berada di atas kisaran normal dan
panjang magnum ayam B berada dalam kisaran normal, sedangkan berat
magnum ayam A berada di atas kisaran normal dan berat magnum ayam
B berada dalam kisaran normal. Faktor yang mempengaruhi panjang
magnum adalah perbedaan umur, faktor genetik, dan produksi telur yang
telah dihasilkan. Faktor genetik sangat berpengaruh pada panjang
magnum.
Isthmus. Isthmus merupakan bagian pembentuk kerabang tipis
(membran shell), panjang 6 sampai 10 cm berfungsi untuk membentuk
telur dengan pembungkus kerabang tipis (Sidadolog, 2001). Isthmus
mensekresikan membran atau selaput telur. Isthmus bagian depan yang
berdekatan dengan magnum berwarna putih, sedangkan 4 cm terakhir
dari isthmus mengandung banyak pembuluh darah sehingga memberikan
warna merah (Yuwanta, 2004).

Gambar 18. Isthmus


Hasil praktikum diperoleh panjang isthmus ayam A adalah 10 cm
dengan berat 3 gram dan ayam B adalah 13 cm dengan berat 5 gram.
Menurut Horhoruw (2012), panjang isthmus normal sekitar 10,40 sampai
13,23 cm, sedangkan berat isthmus normal adalah 5 sampai 6,81 gram.
Ukuran panjang isthmus ayam A dan ayam B menurut literatur berada

dalam kisaran normal sedangkan berat isthmus ayam A berada di bawah


kisaran normal dan berat isthmus ayam B berada dalam kisaran normal.
Menurut Horhoruw (2012), panjang dan berat isthmus dipengaruhi oleh
hormon somatotropin dan hormon tiroksin, reproduksi hormon tersebut
dibantu oleh vitamin E dan mineral yang terdapat dalam pakan.
Uterus. Uterus atau disebut juga glandula kerabang telur. Pada
bagian ini ada dua fenomena yaitu hidratasi putih telur kemudian
terbentuk kerabang keras telur (Yuwanta, 2004). Di uterus juga terjadi
penambahan pigmen kerabang menjadi putih kecoklatan, kehijauan atau
bintik hitam (Sarwono, 1997).

Gambar 17. Uterus


Berdasarkan hasil pengamatan, panjang uterus pada ayam A 11 cm
dan berat 27 gram, sedangkan pada ayam B panjang 9 cm dan berat 15
gram. Kisaran normal untuk panjang uterus adalah 10 cm dengan berat 18
gram (Yuwanta, 2004). Panjang uterus ayam A dan ayam B, dan berat
uterus ayam A dan ayam B berada di atas kisaran normal. Hal ini
dipengaruhi oleh sering tidaknya ayam bertelur (Yuwanta, 2004).
Vagina. Di dalam vagina terjadi pembentukan kutikula. Telur
melewati vagina dengan cepat yaitu 3 menit, kemudian telur dikeluarkan
(oviposition) dan 30 menit setelah peneluran akan terjadi ovulasi. Telur
yang berada di dalam vagina dilapisi oleh mucus. Mucus ini menyumbat
pori kerabang, dengan demikian pencemaran bakteri dapat dihindari.

Gambar 19. vagina


Berdasarkan hasil pengukuran praktikum, panjang vagina pada
ayam A 7,3 cm dan berat 9 gram, sedangkan pada ayam B panjang 7 cm
dan berat 1 gram. Menurut Horhoruw (2012), panjang vagina normal pada
ayam petelur sekitar 4,30 sampai 7,07 cm, sedangkan berat vagina
normal adalah sekitar 4,13 sampai 5,29 gram. Panjang vagina ayam A dan
ayam B berada dalam kisaran normal sedangkan berat vagina ayam A
dan ayam B berada di atas kisaran normal. Menurut Horhoruw (2012),
panjang dan berat vagina dipengaruhi oleh hormon reproduksi yang terdiri
dari hormon estrogen, hormon progesteron, dan hormon androgen yang
dihasilkan

di

ovarium,

hormon-hormon

yang

dihasilkan

tersebut

dipengaruhi oleh faktor pakan dan cahaya.


Sistem Reproduksi Ayam Jantan
Sistem reproduksi ayam jantan terdiri atas sepasang testis,
sepasang saluran deferens, papila dan kloaka.
Testis. Testis terletak di rongga badan dekat tulang belakang
melekat pada bagian dorsal dari rongga abdomen dan dibatasi oleh
ligamentum mesorchium dan berdekatan dengan aorta dan vena cava,
atau dibelakang paru-paru depan dari ginjal (Yuwanta, 2000). Temperatur
testis berkisar antara 41 sampai 43C, karena hanya pada suhu ini
spermatogenesis bisa terjadi. Testis berbentuk biji buah buncis dengan
warna putih krem. Testis terbungkus dua bagian lamak, yaitu lapisan
tunica albuginea. Testis mengandung tubulus seminiferus sebagai tempat
spermatogenesis dan

sel

leydig.

Sel

leydig

ini berfungsi untuk

mensekresikan hormon androgen dan testosteron. Besar testis tergantung


pada umur dan strain (Yuwanta, 2000).
Testis mempunyai fungsi utama sebagai penghasil spermatozoa,
seminal plasma dan hormon testosteron. Spermatozoa adalah sel kelamin
jantan yang mutlak di perlukan untuk menghasilkan generasi baru melalui
fungsinya yaitu membuahi ovum. Seminal plasma merupakan cairan
semen yang berguna untuk media transportasi sehingga memudahkan
dalam ejakulasi dalam perkawinan. Testosteron merupakan hormon
kejantanan yang

berfungsi untuk pembentukan spermatozoa dan

menumbuhkan sifat kelamin jantan terutama membangkitkan libido


seksual (Sutiyono, 2001)
Vas deferens. Saluran sperma terdiri dari dua bagian, yaitu bagian
atas dan bagian bawah. Bagian atas disebut epididimis, sedangkan
bagian bawah disebut vas deferens yang merupakan perpanjangan dari
epidermis. Saluran ini akhirnya akan bermuara pada protodeum. Di dalam
saluran inilah sperma mengalami pemasakan dan penyimpanan sebelum
diejakulasikan. Pemasakan dan penyimpanan terjadi pada 65% bagian
distal saluran deferens (Yuwanta, 2000).
Papila. Alat kopulasi pada ayam terdiri dari dua papila (penis) yang
mengalami rudimenter, kecuali pada itik berbentuk spiral dengan panjang
12-18 cm. Pada papila ini juga disekresikan cairan transparan yang
bercampur dengan sperma saat dilepaskan (Yuwanta, 2000).

Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan didapatkan
kesimpulan sebagai berikut, organ pencernaan ayam A yang sesuai
dengan literatur adalah berat crop, berat proventrikulus, berat gizzard,
berat duodenum dan panjang duodenum. Organ pencernaan ayam A yang
tidak sesuai dengan literatur adalah berat dan panjang oeshophagus,
panjang crop, panjang proventrikulus, panjang gizzard, panjang dan berat
jejenum, panjang dan berat ileum, panjang coeca, panjang usus besar,
panjang dan berat kloaka. Organ pencernaan ayam B yang sesuai dengan
literatur adalah berat oeshopagus, panjang dan berat crop, berat
proventrikulus, panjang dan berat gizzard, panjang dan berat duodenum,
panjang dan berat jejenum, berat ileum, dan panjang kloaka. Organ
pencernaan ayam B yang tidak sesuai dengan literatur adalah panjang
oeshopagus, panjang proventrikulus, panjang ileum, panjang coeca,
panjang usus besar, dan berat kloaka. Perbedaan panjang dan berat
organ pencernaan masing-masing ayam dikarenakan beberapa faktor
yang meliputi ukuran ayam, jenis ayam, dapat juga dikarenakan konsumsi
pakan yang tidak tepat, serta dipengaruhi oleh umur, kesehatan ayam dan
strain ayam.
Organ reproduksi betina yang di dapatkan dari hasil pengamatan
yaitu ovarium, infundibulum, dan isthmus sesuai dengan literatur yang di
dapatkan. Magnum, uterus, dan vagina data yang di dapatkan tidak sesuai
dengan literatur. Sistem reproduksi ayam atau unggas yang paling
berkembang baik adalah sebelah kiri, sedangkan organ sebelah kanan
mengalami rudimenter.

Daftar Pustaka
Akoso, B.T.1998. Kesehatan Unggas. Cetakan ke-2. Kanisius. Yogyakarta.
Blakely, J. and Bade, D.H. 1991. Ilmu Peternakan, Edisi IV. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Crompton, D. W. 1999. A study of the growth of the alimentary tract of the
young. Cockerel Br Poult. Sci.
Darmawan, Arif. 2008. Pengaruh Pemberian Tepung Daun Sembung
Dalam Ransum Terhadap Persentase Bobot Karkas, Organ Dalam,
dan Lemak abdomen Broiler. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Fadillah, R., P. Agustin, A. Syamsiful., dan P. Eko. 2007. Sukses Beternak
Ayam Broiler. Agro Media Pustaka. Jakarta.
Horhoruw, Wiesje Martha. 2012. Ukuran saluran reproduksi ayam petelur
fase pullet yang diberi pakan dengan campuran rumput laut
(Gracilaria edulis). Jurusan Peternakan. Fakultas Pertanian.
Universitas Pattimura. Vol.2, No.2.
Kustono.,Diah, T. W., Ismaya., dan Sigit, B. 2008. Bahan Ajar Fisiologi
Ternak. Laboraturium Fisiologi dan Reproduksi Ternak Bagian
Produksi Ternak. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.
Neil, A. C. 1991. Biology 2nd Edition. The Benjamin Coming Publishing
Company enc. Pec Wood City.
Satyaningtijas, Aryani S., S. Novelina, dan S. Agungpriyono. 1999.
Morfologi dan Penyebaran Sel-Sel Endokrin Saluran Pencernaan
Ayam Kampung
Sarwono, B. 1997. Ragam Ayam Piaraan, Edisi I. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Sidadolog, J. H. P. 2001. Manajemen Ternak Unggas. Lab Ilmu Ternak
Unggas. Jurusan Reproduksi Ternak. Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.
Soeharsono. 2010. Fisiologi Ternak. Widya Padjajaran. Bandung.
Suprijatna, E. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya.
Jakarta.

Sutiyono. 2001. Pengenalan Organ Reproduksi Ayam. Kerjasama Antara


PT. Perhutani KPH Kendal dengan Forum Kelompok Sumber Daya
Alam Jawa Tengah Pelestari.
Swenson, M. J. 1993. Dukes Physiology of domestic Animals. 11th
Edition. Comstock Associates, Cornell University Press. Ithaca dan
London.
Yasin, Ismail. 2010. Pencernaan Serat Kasar pada Ternak Unggas.
Fakultas Peternakan Undaris Ungaran
Yuwanta, Tri. 2000. Dasar Ternak Unggas. Fakultas Peternakan.
Unversitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Yuwanta, Tri. 2004. Dasar-dasar Ternak Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
Zuprizal dan Kamal. M. 2005. Nutrisi Pakan Unggas. Fakultas Peternakan
UGM. Yogyakarta.