Anda di halaman 1dari 44

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................... 4

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ............................................................................. 29

BAB IV HASIL PENELITIAN ............................................................................................ 31

BAB V PEMBAHASAN PENELITIAN .............................................................................. 37

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................................. 40

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 43

LAMPIRAN .......................................................................................................................... 45

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Hipertensi merupakan kondisi yang paling sering ditemukan di pelayanan primer yang
dapat memicu terjadinya penyakit kardiovaskuler, infark miokard, stroke, gagal ginjal, atau
kematian apabila tidak dideteksi dini dan tidak diterapi dengan tepat. 1 Hipertensi terjadi bila
terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau diastolik 90 mmHg.2
Di seluruh dunia, peningkatan tekanan darah diperkirakan menyebabkan sekitar 7,5 juta
kematian (12,8% dari seluruh kematian). Peningkatan tekanan darah merupakan penyakit
yang berbahaya karena merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung koroner dan
stroke hemoragik. Risiko penyakit kardiovaskuler meningkat 2 kali lipat untuk setiap
kenaikan 20/10 mmHg (dimulai dari 115/75). Risiko penyakit lain yang mungkin terjadi
adalah gagal jantung, penyakit vaskuler perifer, gangguan ginjal, perdarahan retina, dan
gangguan visual.3
Secara global, peningkatan tekanan darah di usia 25 tahun ke atas sekitar 40% pada
tahun 2008. Populasi yang terus bertambah dan penuaan, membuat kasus hipertensi semakin
banyak. Jumlah penderita hipertensi yang tidak terkontrol meningkat dari 600 juta kasus pada
tahun 1980 menjadi hampir 1 miliar penderita pada tahun 2008. 3 Kebiasaan merokok
terutama perokok sangat berat dan indeks massa tubuh obesitas juga berhubungan dengan
kejadian hipertensi.4
Di wilayah Asia Tenggara, sekitar 35% populasi dewasa memiliki hipertensi yang
memberikan kontribusi pada 1,5 juta kematian per tahun. Data nasional dari berbagai negara
di Asia Tenggara menunjukkan peningkatan prevalensi hipertensi. Di Indonesia, prevalensi
hipertensi meningkat dari tahun 1995 sebesar 8% menjadi 32% pada tahun 2008. Dari WHO
STEP di negara India, Indonesia, Maldives, dan Nepal kurang dari 50% yang mengetahui
bahwa mereka memiliki hipertensi dan hanya kurang dari setengahnya yang mendapatkan
terapi. Dari subyek yang mendapatkan terapi, hanya kurang dari setengahnya yang memiliki
tekanan darah di bawah 140/90.5
Prevalensi hipertensi pada penduduk Indonesia diatas 15 tahun ke atas berdasarkan
hasil pengukuran tekanan darah adalah sebesar 34,9% dari 643.300 individu. Menurut data
Riskesdas tahun 2007, hipertensi banyak terjadi pada kelompok usia 45-54 tahun sejumlah
49.226 jiwa, diikuti oleh kelompok usia 35-44 tahun sejumlah 47.224 jiwa. Namun bila
dilihat secara keseluruhan, prevalensi hipertensi terbesar, yaitu 70,2% terjadi pada kelompok
usia 65 tahun ke atas. Hipertensi di daerah pedesaan cenderung lebih tinggi. 4 Studi yang
dilakukan Misbach berupa survei hipertensi di rumah sakit di Indonesia pada tahun 2001
1

menunjukkan dari total 40,4% kasus hipertensi yang ditemukan, terdapat 33,5% yang tidak
mendapat terapi dan 31,5% yang mendapat terapi. Proporsi penderita penyakit kardiovaskuler
yang dirawat di rumah sakit di Indonesia terus meningkat dari 2,1% di tahun 1990 menjadi
6,8% di tahun 2001.6
Pengendalian hipertensi hingga kini belum memuaskan, bahkan di negara maju. Di
banyak negara, pengendalian hipertensi baru mencapai 8% karena berbagai kendala mulai
dari faktor penderita, hingga sarana pelayanan yang tersedia. Pengendalian hipertensi di
Indonesia mencakup pencegahan, penemuan dini, diagnosis, dan terapi. Pencegahan meliputi
perubahan gaya hidup dan pemeriksaan berkala untuk keperluan identifikasi hipertensi.
Penemuan dini bisa dilakukan dengan skrining pada populasi, serta meningkatkan kesadaran
masyarakat terutama mereka yang berisiko.6 Di Puskesmas Cipinang Muara, upaya ini belum
terlaksana sepenuhnya dikarenakan pengertian masyarakat mengenai lansia masih kurang
karena mereka masih menganggap bahwa peristiwa sakit pada masa lansia merupakan hal
yang alami dan biasa. Lansia banyak yang berobat ke praktek swasta sehingga tidak terdata.
Selain itu, kelompok lansia juga kurang bisa memanfaatkan posyandu lansia dan kurangnya
kesadaran lansia untuk membina sendiri kesehatannya.
Penemuan kasus hipertensi di masyarakat oleh tenaga kesehatan maupun upaya
meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai hipertensi perlu ditingkatkan karena
sebagian besar penderita hipertensi tidak menunjukkan keluhan. Untuk itu diperlukan
kombinasi upaya mandiri dan aktif oleh individu dan masyarakat serta dukungan oleh kader
dan petugas program pelayanan kesehatan di puskesmas atau rumah sakit.
1.2. Rumusan Masalah
- Bagaimana karakteristik penderita hipertensi di Puskesmas Cipinang Muara?
- Bagaimana pengetahuan penderita hipertensi di Puskesmas Cipinang Muara
terhadap faktor risiko, gejala, komplikasi, pencegahan, serta kepatuhan
-

pengobatan hipertensi?
Seberapa efektif penyuluhan

tentang

hipertensi

berpengaruh

terhadap

karakteristik dan pengetahuan penderita hipertensi?

1.3. Tujuan
- Tujuan umum
Mengetahui karakteristik penderita hipertensi dan manajemen hipertensi di
-

wilayah kerja Puskesmas Cipinang Muara.


Tujuan Khusus
2

a. Mengetahui karakteristik dan pengetahuan penderita hipertensi di Puskesmas


Cipinang Muara terhadap definisi, faktor risiko, gejala, komplikasi,
pencegahan, dan tatalaksana hipertensi.
b. Mengupayakan pencegahan serta promosi kesehatan penyakit dan komplikasi
hipertensi yang efektif di Puskesmas Cipinang Muara.
c. Mengupayakan manajemen hipertensi yang lebih tepat guna dan tepat sasaran.
1.4.

Manfaat
a. Bagi masyarakat
Mengupayakan masyarakat yang sehat dan menurunkan prevalensi penyakit dan
atau komplikasi penyakit hipertensi.
b. Bagi Puskesmas
Memungkinkan manajemen hipertensi yang tepat laksana sehingga tepat sasaran
dan tepat guna.
c. Bagi kesehatan Bangsa Indonesia
Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas akibat penyakit tidak menular
khususnya hipertensi sehingga meningkatkan angka harapan hidup dan taraf
kesehatan Bangsa Indonesia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Hipertensi

2.1.1. Definisi
Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah yang menetap di atas
sama dengan batas normal yang disepakati, yaitu diastolik 90 mmHg atau sistolik 140
mmHg.7 Sekitar 90% kasus hipertensi tidak diketahui penyebabnya dan hipertensi ini disebut
hipertensi esensial (etiologi dan patogenesis tidak diketahui). Awitan hipertensi esensial
biasanya terjadi antara usia 20 dan 50 tahun, dan lebih sering dijumpai pada orang AfroAmerika daripada populasi umum.
Hipertensi didiagnosis melalui pengukuran yang dilakukan oleh penguji atau tenaga
kesehatan pada 3 kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit dan atau dalam waktu 5-15
menit setelah atau saat istirahat.8 Namun menurut JNC VII, minimal 2 kali pengukuran
dibutuhkan untuk menentukan batasan tekanan darah.
2.1.2. Epidemiologi
Data epidemiologi menunjukkan bahwa semakin meningkatnya populasi usia lanjut,
maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar juga akan bertambah, dimana baik
hipertensi sistolik maupun kombinasi hipertensi sistolik dan diastolik sering timbul pada
lebih dari separuh orang yang berusia >65 tahun. Selain itu, laju pengendalian tekanan darah
yang dahulu terus meningkat, dalam dekade terakhir tidak menunjukkan kemajuan lagi (pola
kurva mendatar), dan pengendalian tekanan darah ini hanya mencapai 34% dari seluruh
pasien hipertensi.
Sampai saat ini, data hipertensi yang lengkap sebagian besar berasal dari negaranegara yang sudah maju. Data dari The National Health and Nutrition Examination Survey
(NHNES) menunjukkan bahwa dari tahun 1999-2000, insiden hipertensi pada orang dewasa
adalah sekitar 29-31%, yang berarti terdapat 58-65 juta orang hipertensi di Amerika, dan
terjadi peningkatan 15 juta dari data NHANES III tahun 1988-1991. Hipertensi esensial
sendiri merupakan 95% dari seluruh kasus hipertensi.
Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis,
yakni mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Hipertensi
merupakan gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tekanan darah di
atas normal, yaitu 140/90 mmHg. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Balitbangkes
tahun 2007 menunjukan prevalensi hipertensi secara nasional mencapai 31,7%. 8,9 Data
4

Riskesdas 2007 juga menyebutkan prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar 30% dengan
insiden komplikasi penyakit kardiovaskular lebih banyak pada perempuan (52%)
dibandingkan laki-laki (48%).8 Dari hasil Riskesdas tahun 2013 melalui riset pada penduduk
usia 18 tahun didapatkan data prevalensi hipertensi mencapai 25,8% dengan proporsi
tertinggi terdapat di Provinsi Bangka Belitung sebesar 30,9%.10
2.1.3. Klasifikasi
Menurut The Seventh Report of The Joint National Committe on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7), klasifikasi tekanan
darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prahipertensi, hipertensi derajat
1, dan hipertensi derajat 2.11

Tabel I Kriteria Hipertensi Menurut JNC VII Guidelines


Gambar 2.1. Klasifikasi Hipertensi menurut JNC 7

Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua, yaitu:


2.1.3.1. Hipertensi Primer (Esensial)
Hipertensi primer (esensial) adalah suatu peningkatan persisten tekanan arteri yang
dihasilkan oleh ketidakteraturan mekanisme kontrol homeostatik normal. Hipertensi ini tidak
diketahui penyebabnya dan mencakup 90% dari kasus hipertensi. Hipertensi esensial
merupakan multifaktorial yang timbul terutama karena interaksi antara faktor-faktor yang
mendorong timbulnya kenaikan darah.12
2.1.3.2. Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder memiliki patogenesis yang spesifik. Hipertensi sekunder dapat
terjadi pada individu dengan usia sangat muda tanpa disertai riwayat hipertensi dalam
keluarga. Individu dengan hipertensi pertama kali pada usia di atas 50 tahun atau yang
sebelumnya diterapi tapi mengalami refrakter terhadap terapi yang diberikan mungkin
mengalami hipertensi sekunder. Penyebab hipertensi sekunder antara lain penggunaan
estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskuler ginjal, hiperaldosteronisme primer dan

sindroma cushing, feokromositoma, koarktasio aorta, kehamilan, serta penggunaan obatobatan.12


2.1.4. Etiologi
Etiologi hipertensi tergantung pada kecepatan denyut jantung, volume sekuncup dan
Total Peripheral Resistance (TPR). Maka peningkatan salah satu dari ketiga variabel yang
tidak dikompensasi dapat menyebabkan hipertensi. Peningkatan kecepatan denyut jantung
dapat terjadi akibat rangsangan abnormal saraf atau hormon pada nodus SA. Peningkatan
kecepatan denyut jantung yang berlangsung kronik sering menyertai keadaan hipertiroidisme.
Namun, peningkatan kecepatan denyut jantung biasanya dikompensasi oleh penurunan
volume sekuncup atau TPR, sehingga tidak meninbulkan hipertensi.13
Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi apabila terdapat
peningkatan volume plasma yang berkepanjangan, akibat gangguan penanganan garam dan
air oleh ginjal atau konsumsi garam yang berlebihan. Peningkatan pelepasan renin atau
aldosteron maupun penurunan aliran darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan
garam oleh ginjal. Peningkatan volume plasma akan menyebabkan peningkatan volume
diastolik akhir sehingga terjadi peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah.
Peningkatan preload biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan sistolik.
Peningkatan Total Periperial Resistence yang berlangsung lama dapat terjadi pada
peningkatan rangsangan saraf atau hormon pada arteriol, atau responsivitas yang berlebihan
dari arteriol terdapat rangsangan normal. Kedua hal tersebut akan menyebabkan penyempitan
pembuluh darah. Pada peningkatan Total Periperial Resistence, jantung harus memompa
secara lebih kuat dan dengan demikian menghasilkan tekanan yang lebih besar, untuk
mendorong darah melintas pembuluh darah yang menyempit. Hal ini disebut peningkatan
dalam afterload jantung dan biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan diastolik.
Apabila peningkatan afterload berlangsung lama, maka ventrikel kiri mungkin mulai
mengalami hipertrofi (membesar). Dengan hipertrofi, kebutuhan ventrikel akan oksigen
semakin meningkat sehingga ventrikel harus mampu memompa darah secara lebih keras lagi
untuk memenuhi kebutuhan tesebut. Pada hipertrofi, serat-serat otot jantung juga mulai
tegang melebihi panjang normalnya yang pada akhirnya menyebabkan penurunan
kontraktilitas dan volume sekuncup.
Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:
1. Penyakit ginjal
2. Stenosis arteri renalis
3. Pielonefritis
6

4.
5.
6.
7.
8.
9.

Glomerulonefritis
Tumor-tumor ginjal
Penyakit ginjal polikista (biasaanya diturunkan)
Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)
Terapi penyinaran yang mengenai ginjal
Kelainan hormonal
a. Hiperaldosteronisme
b. Sindroma cushing
c. Feokromositoma
10. Obat-obatan
a. Pil KB
b. Kortikosteroid
c. Siklosporin
d. Eritropoietin
e. Kokain
f. Penyalahgunaan alkohol
11. Penyebab Lainnya
a. Koartasio Aorta
b. Preeklamsi pada kehamilan
c. Keracunan Timbal Akut
2.1.5. Faktor Risiko
Hipertensi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya Faktor yang tidak
dapat dimodifikasi (seperti : usia, jenis kelamin); dan Faktor yang dapat dimodifikasi
(seperti : kelebihan berat badan, aktivitas fisik, asupan garam, faktor emosional, dan faktor
keturunan).14
2.1.5.1.

Faktor yang tidak dapat dimodifikasi


A. Usia
Tekanan darah cenderung rendah pada usia remaja dan mulai meningkat pada masa
dewasa awal. Kemudian meningkat lebih nyata selama masa pertumbuhan dan pematangan
fisik di usia dewasa akhir sampai usia tua dikarenakan sistem sirkulasi darah akan terganggu,
karena pembuluh darah sering mengalami penyumbatan, dinding pembuluh darah menjadi
keras dan tebal serta berkurangnya elastisitas pembuluh darah sehingga menyebabkan
tekanan darah menjadi tinggi. 14
Penelitian Marice Sihombing (2010) mengungkapkan berdasarkan menurut kelompok
umur diketahui bahwa responden yang obesitas dan berumur 55 tahun ke atas memiliki risiko
paling besar yaitu 8,4 kali dibandingkan dengan responden yang obesitas dan berumur 18-24
tahun. Secara umum diketahui bahwa tekanan darah akan meningkat seiring dengan
bertambahnya umur dan semakin meningkat lagi dengan berat badan lebih (overweight) dan
obesitas. Peningkatan tekanan darah akan menjadi lebih besar lagi bila ada riwayat keluarga
yang hipertensi dan mempunyai stres emosional yang tinggi. Pada orang dengan obesitas,
7

jumlah darah yang beredar akan meningkat, cardiac output akan naik dan ini akan
meningkatkan tekanan darah.15
B. Jenis Kelamin
Kejadian hipertensi biasanya lebih banyak pada laki-laki daripada wanita,
dikarenakan laki-laki memiliki gaya hidup yang cenderung meningkatkan tekanan darah.
Wanita dewasa mempunyai prevalensi hipertensi yang lebih tinggi dari pada laki-laki karena
perempuan mengalami kehamilan dan menggunakan alat kontrasepsi hormonal. Pernyataan
ini di dukung oleh penelitian Darmodjo dan tim MONICA (Monitoring Trendsand
Determinants of Cardiovascular Disease), 1999. Pada masa muda dan paruh baya, hipertensi
lebih banyak terjadi pada laki-laki sedangkan setelah usia 55 tahun (ketika seorang wanita
mengalami menopause) akan lebih banyak pada wanita.8
C. Genetik
Pada 70-80% kasus hipertensi esensial, didapatkan riwayat hipertensi di dalam
keluarga. Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orang tua, maka dugaan
hipertensi esensial lebih besar. Hipertensi juga banyak dijumpai pada penderita kembar
monozigot (satu telur), apabila salah satunya menderita hipertensi. Dugaan ini menyokong
bahwa faktor genetik mempunyai peran didalam terjadinya hipertensi.14
2.1.5.2.

Faktor yang dapat dimodifikasi


A. Indeks Massa Tubuh (IMT)

Secara fisiologi, obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan dengan akumulasi


lemak yang tidak normal atau berlebihan di jaringan adiposa sehingga dapat mengganggu
kesehatan. Kaitan erat antara kelebihan berat badan dengan kenaikan tekanan darah telah
dilaporkan oleh beberapa studi. Berat badan dan IMT berkorelasi langsung dengan tekanan
darah, terutama tekanan darah sistolik. Penelitian menunjukan adanya hubungan antara berat
badan dan hipertensi. Bila berat badan meningkat di atas berat badan ideal maka risiko
hipertensi juga meningkat. Bila berat badan menurun, maka volume darah total juga
berkurang, hormon-hormon yang berkaitan dengan tekanan darah berubah, dan tekanan darah
berkurang.14
Peningkatan IMT erat kaitannya dengan penyakit hipertensi baik pada laki-laki
maupun pada perempuan. Kenaikan berat badan (BB) sangat berpengaruh pada mekanisme
timbulnya kejadian hipertensi pada orang yang obesitas akan tetapi mekanisme terjadinya hal
tersebut belum dipahami secara jelas namun diduga pada orang yang obesitas terjadi
8

peningkatan volume plasma dan curah jantung yang akan meningkatkan tekanan darah. 15
Obesitas merupakan faktor risiko utama dari beberapa penyakit degeneratif dan metabolik,
salah satunya adalah penyakit hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi.15
Tabel 2.1. Klasifikasi IMT menurut WHO untuk Asia Pasifik

Klasifikasi
Berat badan kurang
Normal
Berat badan lebih (overweight)
Obesitas tingkat 1
Obesitas tingkat 2

IMT (kg/m2)
<18,5
18,5-22,9
23-24,9
25,0-29,9
>30,0

Tabel 2.2. Tabel Klasifikasi IMT menurut Depkes RI

Klasifikasi
Kurus
Normal
Berat badan lebih (overweight)
Obesitas

IMT (kg/m2)
< 18,5
18,5 - < 24,9
25,0 - < 27,0
27,0

B. Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik adalah setiap pergerakan tubuh akibat aktivitas otot-otot skeletal yang
mengakibatkan pengeluaran energi. (WHO, 2010; Physical Activity. In Guide to Community
Preventive Services Web site, 2008). Aktivitas fisik terdiri dari aktivitas selama bekerja, tidur,
dan pada waktu senggang. Setiap orang melakukan aktivitas fisik, atau bervariasi antara
individu satu dengan yang lain bergantung gaya hidup perorangan dan faktor lainnya seperti
jenis kelamin, umur, pekerjaan, dan lain-lain. Aktivitas fisik sangat disarankan kepada semua
individu untuk menjaga kesehatan. Aktivitas fisik juga merupakan kunci kepada penentuan
penggunaan tenaga dan dasar kepada tenaga yang seimbang.
Aktivitas fisik yang tidak ada (kurangnya aktivitas fisik) merupakan faktor risiko
independen untuk penyakit kronis, dan secara keseluruhan diperkirakan menyebabkan
kematian secara global (WHO, 2010; Physical Activity. In Guide to Community Preventive
Services Web site, 2008). Aktivitas fisik yang dilakukan secara terstruktur dan terencana
disebut latihan jasmani, sedangkan aktivitas fisik yang tidak dilakukan secara terstruktur dan
terencana disebut aktivitas fisik sehari-hari.
9

Pada fisik yang senantiasa aktif, pembuluh darah akan senantiasa elastis sehingga
mengurangi tekanan di perifer. Aktivitas fisik yang teratur menyebabkan jantung bekerja
lebih efisien, denyut jantung berkurang, dan akan menyebabkan penurunan tekanan darah.
Penelitian Marice Sihombing (2010) mengungkapkan kurangnya aktivitas fisik berisiko
hipertensi 1,05 kali dibandingkan dengan cukup aktivitas fisik. Kurang aktivitas fisik
diketahui sebagai faktor risiko berbagai penyakit tidak menular seperti hipertensi, jantung,
stroke, DM dan kanker. Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur seperti olahraga dapat
menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah dan melatih otot jantung
sehingga menjadi terbiasa bila jantung mendapat pekerjaan yang lebih berat karena adanya
kondisi tertentu. Di samping itu, olahraga yang teratur akan merangsang pelepasan endorfin
(morfin endogen) yang menimbulkan euphoria dan relaksasi otot sehingga tekanan darah
tidak meningkat.15
C.

Stress
Berada dalam keadaan yang penuh stres dapat mempengaruhi tekanan darah secara

sementara. Dakam keadaan stres tubuh melepaskan hormon stress (adrenalin dan kortisol) ke
dalam darah. Hormon ini mempersiapkan tubuh utuk keadaan fight or flight dengan
meningkatkan laju nadi dan mengkonstriksi pembuluh darah. Konstriksi pembuluh darah dan
naiknya laju nadi dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara. Saat reaksi stress
hilang, tekanan darah kembali keadaan sebelum stress.17
D. Merokok
Merokok merupakan salah satu kebiasaan hidup yang dapat mempengaruhi tekanan
darah. Pada keadaan merokok pembuluh darah di beberapa bagian tubuh seperti pembuluh
darah perifer dan pembuluh darah di ginjal akan mengalami penyempitan, dalam keadaan ini
dibutuhkan tekanan yang lebih tinggi supaya darah dapat mengalir ke alat-alat tubuh dengan
jumlah yang tetap. Untuk itu jantung harus memompa darah lebih kuat, sehingga tekanan
pada pembuluh darah meningkat.18
Merokok sebatang setiap hari akan meningkatkan tekanan sistolik 1025 mmHg dan
menambah detak jantung 520 kali per menit. Dengan menghisap sebatang rokok akan
mempunyai pengaruh besar terhadap kenaikan tekanan darah, hal ini disebabkan oleh zat-zat
yang terkandung dalam asap rokok. Asap rokok terdiri dari 4000 bahan kimia dan 200
diantaranya beracun, antara lain karbon monoksida (CO) yang dihasilkan oleh asap rokok.
Gas CO dapat menimbulkan desaturasi hemoglobin, menurunkan langsung peredaran oksigen
untuk jaringan seluruh tubuh termasuk miokard. CO menggantikan tempat oksigen di
hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat aterosklerosis (pengapuran
10

atau penebalan dinding pembuluh darah). Nikotin juga merangsang peningkatan tekanan
darah. Nikotin mengaktifkan trombosit dengan akibat timbulnya adhesi trombosit
(pengumpalan) ke dinding pembuluh darah. Nikotin, CO, dan bahan lainnya dalam asap
rokok terbukti merusak dinding pembuluh endotel (dinding dalam pembuluh darah),
mempermudah pengumpalan darah sehingga dapat merusak pembuluh darah perifer.
Jenis perokok dapat dibagi atas 3 kelompok berdasarkan jumlah rokok yang dihisap
dapat dalam satuan batang, bungkus per hari yaitu :
a. Perokok Ringan disebut perokok ringan apabila merokok kurang dari 10 batang per
hari.
b. Perokok Sedang disebut perokok sedang jika menghisap 10-20 batang per hari.
c. Perokok Berat disebut perokok berat jika menghisap lebih dari 20 batang per hari.
E. Asupan natrium
WHO (1990) menganjurkan pembatasan konsumsi garam dapur hingga 6 gram sehari
(ekivalen dengan 2400 mg natrium). Garam membantu menahan air di dalam tubuh. The
American Heart Association step II Diet menganjurkan seseorang rata-rata mengkonsumsi
tidak lebih 2.400 mg natrium per hari, terutama orang yang peka terhadap garam. Asupan
garam yang berlebihan dapat menyebabkan hipertensi maupun terlalu banyak air yang
tertahan di dalam tubuh. Jika terlalu banyak mengandung air, akan meningkatkan volume
darah tanpa adanya penambahan ruang. Peningkatan volume ini mengakibatkan
bertambahnya tekanan di dalam arteri. WHO merekomendasikan pola konsumsi garam yang
dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi. Kadar natrium yang direkomendasikan adalah
tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram natrium atau 6 gram garam) per hari.19
Kenaikan asupan garam sepertinya lebih berperan dalam meningkatkan tekanan arteri
daripada kenaikan asupan air.14 Penyebabnya adalah air murni secara normal diekskresikan
oleh ginjal hampir secepat asupannya, tetapi garam tidak diekskresikan dengan semudah itu.
Akibat penumpukan garam di dalam tubuh, garam secara tidak langsung meningkatkan
volume cairan ekstrasel karena dua alasan berikut:
1. Bila terdapat kelebihan garam di dalam cairan ekstrasel, osmolalitas cairan akan
meningkat. Dan keadaan ini selanjutnya merangsang pusat haus di otak yang membuat
seseorang minum lebih banyak air untuk mengembalikan konsentrasi garam ekstrasel
kembali normal. Hal ini akan meningkatkan volume cairan ekstrasel.
2. Kenaikan osmolalitas yang disebabkan oleh kelebihan garam dalam cairan ekstrasel
juga merangsang mekanisme sekresi kelenjar hipotalamus-hipofisis posterior untuk
mensekresikan lebih banyak hormon antidiuretik (ADH). Hormon antidiuretik
11

kemudian menyebabkan ginjal meresorpsi air dalam jumlah besar dari cairan tubulus
ginjal sehingga mengurangi volume urin yang diekskresikan tetapi meningkatkan
volume cairan ekstrasel.
Jadi, karena alasan-alasan yang penting ini, jumlah garam yang menumpuk di dalam
tubuh merupakan bentuk utama volume cairan ekstra sel. Karena peningkatan sedikit saja
pada cairan ekstrasel dan volume darah seringkali dapat sangat meningkatkan tekanan arteri,
maka penumpukan garam ekstra di dalam tubuh walau hanya sedikit dapat sangat
meningkatkan tekanan arteri.
F. Alkohol
Konsumsi alkohol harus diwaspadai karena survei menunjukkan bahwa 10% kasus
hipertensi berkaitan dengan konsumsi alkohol. Mekanisme peningkatan tekanan darah akibat
alkohol masih belum jelas namun ada beberapa mekanisme yang diusulkan. 21 Konsumsi
alkohol terus menerus akan meningkatkan kadar alkohol yang berdampak pada peningkatan
tekanan darah sementara. Peningkatan tekanan darah setelah konsumsi alkohol terjadi dalam
24 jam pertama setelah konsumsi alkohol, dan kembali normal dalam beberapa jam sampai
hari setelah konsumsi alkohol dihentikan.22
Efek hipertensi alkohol umumnya terjadi akibat putus alkohol jangka panjang pada
peminum alkohol berat. Hal ini disebabkan karena stimulasi sistem saraf simpatis, endotelin,
RAAS, kortisol; penghambatan substansi relaksasi vaskular yaitu nitric oxide; kekurangan
kalsium atau magnesium; dan peningkatan kalsium dalam sel dan di otot polos pembuluh
darah.22
2.1.6 Patofisiologi
Hipertensi adalah penyakit multifaktorial yang timbul terutama karena interaksi antara
faktor-faktor risiko. Kaplan menggambarkan beberapa faktor yang berperan dalam
pengendalian tekanan darah yang mempengaruhi rumus dasar :
Tekanan Darah = Curah Jantung x Tahanan Perifer.12
Mekanisme yang berhubungan dengan terjadinya hipertensi esensial, antara lain:
1)

Curah jantung dan tahanan perifer


Keseimbangan curah jantung dan tahanan perifer sangat berpengaruh terhadap

kenormalan tekanan darah. Pada sebagian besar kasus hipertensi esensial curah jantung
biasanya normal tetapi tahanan perifernya meningkat. Tekanan darah ditentukan oleh
konsentrasi sel otot halus yang terdapat pada arteriol kecil. Peningkatan konsentrasi sel otot
halus akan berpengaruh pada peningkatan konsentrasi kalsium intraseluler. Peningkatan
konsentrasi otot halus ini semakin lama akan mengakibatkan penebalan pembuluh darah
12

arteriol yang mungkin dimediasi oleh angiotensin yang menjadi awal meningkatnya tahanan
perifer yang irreversible.
2)

Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron

Gambar 2.2. Mekanisme Hipertensi melalui Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron

Ginjal mengontrol tekanan darah melalui pengaturan volume cairan ekstraseluler dan
sekresi renin. Sistem Renin-Angiotensin merupakan sistem endokrin yang penting dalam
pengontrolan tekanan darah. Renin disekresi oleh juxtaglomerulus aparatus ginjal sebagai
respon glomerulus underperfusion atau penurunan asupan garam, ataupun respon dari sistem
saraf simpatetik.
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari
angiotensin I oleh angiotensin -converting enzyme (ACE). ACE memegang peranan fisiologis
penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi
hati, yang oleh hormon renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I
(dekapeptida yang tidak aktif). Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah
menjadi angiotensin II (oktapeptida yang sangat aktif). Angiotensin II berpotensi besar
meningkatkan tekanan darah karena bersifat sebagai vasoconstrictor melalui dua jalur, yaitu:
a. Meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di
hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas
dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan
ke luar tubuh (antidiuresis) sehingga urin menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya.
Untuk mengencerkan, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara
13

menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya volume darah meningkat sehingga
meningkatkan tekanan darah.
b. Menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon
steroid yang berperan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan
ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara
mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan
kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya
akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
3) Sistem Saraf Otonom
Sirkulasi sistem saraf simpatik dapat menyebabkan vasokonstriksi dan dilatasi
arteriol. Sistem saraf otonom ini mempunyai peran yang penting dalam mempertahankan
tekanan darah. Hipertensi dapat terjadi karena interaksi antara sistem saraf otonom dan sistem
renin-angiotensin bersama sama dengan faktor lain termasuk natrium, volume sirkulasi, dan
beberapa hormon.

Gambar 2.3. Patofisiologi Hipertensi

4) Disfungsi Endotelium

14

Pembuluh darah sel endotel mempunyai peran yang penting dalam pengontrolan
pembuluh darah jantung dengan memproduksi sejumlah vasoaktif lokal yaitu molekul nitric
oxide dan peptida endotelium. Disfungsi endotelium banyak terjadi pada kasus hipertensi
primer. Secara klinis pengobatan dengan antihipertensi menunjukkan perbaikan gangguan
produksi dari nitric oxide.
Banyak

sistem

vasoaktif

yang

mempengaruhi

transpor

natrium

dalam

mempertahankan tekanan darah dalam keadaan normal. Bradikinin merupakan vasodilator


yang potensial, begitu juga endothelin. Endothelin dapat meningkatkan sensitifitas garam
pada tekanan darah serta mengaktifkan sistem renin-angiotensin lokal. Atrial natriuretic
peptide merupakan hormon yang diproduksi di atrium jantung dalam merespon peningkatan
volume darah. Hal ini dapat meningkatkan ekskresi garam dan air dari ginjal.
5) Hiperkoagulasi
Pasien dengan hipertensi memperlihatkan ketidaknormalan dari dinding pembuluh
darah (disfungsi endotelium atau kerusakan sel endotelium), ketidaknormalan faktor
homeostasis, platelet, dan fibrinolisis. Diduga hipertensi dapat menyebabkan protrombotik
dan hiperkoagulasi yang semakin lama akan semakin parah dan merusak organ target.
Beberapa keadaan dapat dicegah dengan pemberian obat anti-hipertensi.
6) Disfungsi diastolik
Hipertrofi ventrikel kiri menyebabkan ventrikel tidak dapat beristirahat ketika terjadi
tekanan diastolik. Hal ini untuk memenuhi peningkatan kebutuhan input ventrikel, terutama
pada saat olahraga terjadi peningkatan tekanan atrium kiri melebihi normal, dan penurunan
tekanan ventrikel.
2.1.7. Tanda dan Gejala
Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakan gejala sampai
bertahun-tahun. Gejala bila ada menunjukan adanya kerusakan vaskuler, dengan manifestasi
yang khas sesuai sistem organ yang diperdarahi oleh pembuluh darah bersangkutan.
Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan urinasi
pada malam hari) dan peningkatan nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin. Keterlibatan
pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik transien yang
bermanifestasi sebagai paralisis sementara pada satu sisi (hemiplegia) atau gangguan tajam
penglihatan. Corwin menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul setelah
15

mengalami hipertensi bertahun-tahun berupa nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang


disertai mual dan muntah, akibat peningkatan tekanan darah intrakranial, penglihatan kabur
akibat kerusakan retina akibat hipertensi, ayunan langkah yang tidak mantap karena
kerusakan susunan saraf pusat, nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi
glomerolus, edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler.
Gejala lain yang umumnya terjadi pada penderita hipertensi yaitu pusing, muka
merah, sakit kepala, keluaran darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk terasa pegal, dan
lain-lain.
Sekitar 50% penderita hipertensi tidak menyadari bahwa tekanan darah mereka
meninggi. Selain itu adanya gejala pada orang tersebut juga dikarenakan sikap acuh tah acuh
penderita. Gejala baru timbul sesudah terjadi komplikasi pada sasaran organ seperti ginjal,
mata, sakit kepala, gangguan fungsi ginjal, gangguan penglihatan, gangguan serebral atau
gejala akibat gangguan peredaran pembuluh darah otak berupa kelumpuhan, gangguan
kesadaran bahkan sampai koma. Gejala hipertensi sebagai berikut:7

Sakit kepala bagian belakang dan kaku kuduk, sulit tidur dan gelisah atau cemas

dan kepala pusing, dada berdebar-debar.


Lemas, sesak nafas, berkeringat, dan pusing.
Selain itu, stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara

waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasaanya akan kembali normal. Jika
penyebabnya adalah feokromositoma, maka didalam urine bisa ditemukan adanya bahanbahan hasil penguraian hormon epinefrin dan norepinefrin. Biasanya hormon tersebut juga
menyebabkan gejala sakit kepala, kecemasan, palpitasi (jantung berdebar-debar), keringat
yang berlebihan, tremor (gemetar) dan pucat. Pemeriksaan untuk menentukan penyebab dari
hipertensi terutama dilakukan pada penderita usia muda. Pemeriksaan ini bisa berupa rontgen
dan radioisotope ginjal, rontgen dada, serta pemeriksaan darah dan air kemih untuk hormon
tertentu.17
2.1.8. Penatalaksanaan
Hipertensi esensial tidak dapat diobati tetapi dapat diberikan pengobatan untuk
mencegah terjadinya komplikasi. Langkah awal biasanya adalah merubah gaya hidup
penderita:12
1. Penderita hipertensi yang mengalami kelebihan berat badan dianjurkan untuk
menurunkan berat badannya sampai batas ideal.
2. Merubah pola makan pada penderita diabetes, kegemukan atau kadar kolesterol darah
tinggi. Mengurangi pemakaian garam sampai kurang dari 2,3 gram natrium atau 6
16

gram natrium klorida setiap harinya (disertai dengan asupan kalsium, magnesium dan
kalium yang cukup) dan mengurangi alkohol.
3. Olah raga teratur yang tidak terlalu berat. Penderita hipertensi esensial tidak perlu
membatasi aktivitasnya selama tekanan darahnya terkendali.
4. Berhenti merokok karena merokok dapat merusak jantung dan sirkulasi darah dan
meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
5. Pemberian obat-obatan:
a. Diuretik thiazide biasanya merupakan obat pertama yang diberikan untuk
mengobati hipertensi. Diuretik membantu ginjal membuang garam dan air, yang
akan mengurangi volume cairan di seluruh tubuh sehingga menurunkan tekanan
darah. Diuretik juga menyebabkan pelebaran pembuluh darah. Diuretik
menyebabkan hilangnya kalium melalui air, sehingga harus diberikan tambahan
kalium atau obat penahan kalium.
b. Penghambat adrenergik merupakan sekelompok obat yang terdiri dari alfablocker, beta-blocker dan alfa-beta-blocker labetalol, yang mengambat efek sistem
saraf simpatis. Sistem saraf simpatis adalah sistem saraf yang dengan segera akan
memberikan respon terhadap stres, dengan cara meningkatkan tekanan darah.
c. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACE-Inhibitor) menyebabkan
penurunan tekanan darah dengan cara melebarkan
d. arteri.
e. Angiotensin II Blocker menyebabkan penurunan tekanan darah dengan suatu
mekanisme yang mirip dengan ACE-inhibitor.
f. Antagonis kalsium menyebabkan melebarnya pembuluh darah dengan mekanisme
yang benar-benar berbeda.
g. Vasodilator langsung menyebabkan melebarnya pembuluh darah. Obat dari
golongan ini hampir selalu digunakan sebagai tambahan terhadap obat anti
hipertensi lainnya.
h. Kedaruratan hipertensi (misalnya hipertensi maligna) memerlukan obat yang
menurutnkan tekanan darah tinggi dengan segara. Beberapa obat bisa menurunkan
tekanan darah dengan cepat dan sebagian besar diberikan secara intravena: a)
Diaxozide b) Nitroprusside c) Nitroglycerin d) Labetalol. Diberikan secara oral :
Nifedipine, merupakan kalsium antagonis dengan kerja yang sangat cepat, tetapi
obat ini bisa menyebabkan hipotensi, sehingga pemberiannya harus diawasi secara
ketat.

17

Gambar

2.4. Alur
Pengobatan Hipertensi
Tabel 2.3. Terapi Hipertensi Lini Pertama

Tatalaksana Hipertensi Menurut JNC 7


Klasifikasi

TDS

TDD

Perbaikan

Tanpa Indikasi

Tekanan

(mmhg)

(mmhg)

Pola Hidup

Memaksa

Memaksa

Darah
Normal

<120

<80

Dianjurkan

Pre

mmhg
120-139

mmhg
80-89

Ya

Tidak indikasi obat

Obat untuk indikasi yang

Hipertensi
Hipertensi

mmhg
140-159

mmhg
90-99

Ya

Pilihan

grade 1

mmhg

mmhg

memaksa
Obat untuk indikasi yang

Thiazide,

memaksa pertimbangkan

pertimbangkan
Hipertensi

>160

>100

Ya

Dengan Indikasi yang

yaitu

utama

Diuretika

yang

ACEI,CCB,ARB
Kombinasi
2

Diuretika,
obat

ACEI,ARB,CCB,BB
Sesuai kebutuhan

18

grade 2

mmhg

mmhg

diuretik

thiazide

dan

ACEI/ARB/BB/CCB
Tabel 2.4. Terapi Hipertensi Lini Kedua

Pilihan Obat Anti Hipertensi Untuk Kondisi Tertentu


Indikasi yang memaksa
Pilihan terapi awal
Gagal Jantung
Diuretika thiazide, BB, ACEI, ARB
Pasca Infark Miokard
BB,ACEI
Penyakit Pembuluh Koroner
Thiazide, BB, ACEI, CCB
Diabetes Melitus
Thiazide, BB, ACEI, ARB,CCB
Penyakit Ginjal Kronis
ACEI,ARB
Pencegahan Stroke Berulang
Thiazide, ACEI
2.1.9.

Pencegahan
Perawatan penderita hipertensi pada umumnya dilakukan oleh keluarga dengan

memperhatikan pola hidup dan menjaga psikis dari anggota keluarga yang menderita
hipertensi. Pengaturan pola hidup sehat sangat penting pada pasien hipertensi guna untuk
mengurangai efek buruk dari pada hipertensi. Adapun cakupan pola hidup antara lain berhenti
merokok, mengurangi kelebihan berat badan, menghindari alkohol, modifikasi diet. Dan yang
mencakup psikis antara lain mengurangi stres, olahraga, dan istirahat. 21
Merokok sangat besar peranannya dalam peningkatkan tekanan darah, hal ini
disebabkan oleh nikotin yag terdapat didalam rokok yang memicu hormon adrenalin yang
menyebabkan tekanan darah meningkat. Nikotin diserap oleh pembuluh-pembuluh darah di
dalam paru dan diedarkan ke seluruh aliran darah lainnya sehingga terjadi penyempitan
pembuluh darah. Hal ini menyebabkan kerja jantung semakin meningkat untuk memompa
darah keseluruh tubuh melalui pembuluh darah yang sempit. Dengan berhenti merokok
tekanan darah akan turun secara perlahan.
Mengurangi berat badan juga menurunkan risiko diabetes, penyakit kardiovaskular,
dan kanker. Secara umum, semakin berat tubuh semakin tinggi tekanan darah, jika
menerapkan pola makan seimbang maka dapat mengurangi berat badan dan menurunkan
tekanan darah dengan cara yang terkontrol.
Alkohol dalam darah merangsang adrenalin dan hormon-hormon lain yang membuat
pembuluh darah menyempit atau menyebabkan penumpukan natrium dan air. Minumminuman yang beralkohol yang berlebih juga dapat menyebabkan kekurangan gizi yaitu
penurunan kadar kalsium. Mengurangi alkohol dapat menurunkan tekanan sistolik 10 mmhg
dan diastolik 7 mmhg.15

19

Modifikasi diet atau pengaturan diet sangat penting pada klien hipertensi, tujuan
utama dari pengaturan diet hipertensi adalah mengatur tentang makanan sehat yang dapat
mengontrol tekanan darah tinggi dan mengurangi penyakit kardiovaskuler. Secara garis besar,
ada empat macam diet untuk menanggulangi atau minimal mempertahankan keadaan tekana
darah , yakni : diet rendah garam, diet rendah kolestrol, lemak terbatas serta tinggi serat, dan
rendah kalori bila kelebihan berat badan.
Diet rendah garam diberikan kepada pasien dengan edema atau asites serta hipertensi.
Tujuan diet rendah garam adalah untuk menurunkan tekanan darah dan untuk mencegah
edema dan penyakit jantung (lemah jantung). Adapun yang disebut rendah garam bukan
hanya membatasi konsumsi garam dapur tetapi mengkonsumsi makanan rendah natrium.
Oleh karena itu, yang sangat penting untuk diperhatikan dalam melakukan diet rendah garam
adalah komposisi makanan yang harus mengandung cukup zat-zat gizi, baik kalori, protein,
mineral maupun vitamin, serta rendah natrium.
Sumber natrium antara lain adalah makanan yang mengandung soda kue, baking
powder, MSG (Monosodium Glutamat), pengawet makanan atau natrium benzoat (biasanya
terdapat didalam saos, kecap, selai, jelly), makanan yang dibuat dari mentega serta obat yang
mengandung natrium (obat sakit kepala). Bagi penderita hipertensi, biasakan penggunaan
obat dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu.
Stres tidak menyebabkan hipertensi yang menetap, tetapi stres berat dapat
menyebabkan kenaikan tekanan darah yang bersifat sementara yang sangat tinggi. Jika
periode stres sering terjadi maka akan mengalami kerusakan pada pembuluh darah, jantung
dan ginjal sama halnya seperti yang menetap. 20
Manfaat olah raga yang sering di sebut olah raga isotonik seperti jalan kaki, jogging,
berenang dan bersepeda sangat mampu meredam hipertensi. Olah raga isotonik mampu
menurunkan hormon noradrenalin dan hormon-hormon lain penyebab naiknya tekanan darah.
Hindari olah raga isometrik seperti angkat beban, karena justru dapat menaikkan tekanan
darah.
Istirahat merupakan suatu kesempatan untuk memperoleh energi sel dalam tubuh.
Istirahat dapat dilakukan dengan meluangkan waktu. Meluangkan waktu tidak berarti minta
istirahat lebih banyak dari pada bekerja produktif samapai melebihi kepatuhan. Meluangkan
waktu istirahat itu perlu dilakukan secara rutin diantara ketegangan jam sibuk bekerja seharihari. Bersantai juga bukan berarti melakukan rekreasi yang melelahkan, tetapi yang
dimaksudkan dengan istirahat adalah usaha untuk mengembalikan stamina tubuh dan
mengembalikan keseimbangan hormon dalam tubuh.21
20

2.1.10 Komplikasi
A. Stroke
Stroke dapat timbul akibat perdarahan tekanan tinggi di otak, atau akibat embolus
yang terlepas dari pembuluh darah non otak yang terpajan tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi
pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan
menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahinya berkurang. Arteri-arteri
otak yang mengalami arterosklerosis dapat melemah sehingga meningkatkan kemungkinan
terbentuknya aneurisma. Gejala terkena stroke adalah sakit kepala secara tiba-tiba, seperti
orang bingung, limbung atau bertingkah laku seperti orang mabuk, salah satu bagian tubuh
terasa lemah atau sulit digerakan (misalnya wajah, mulut, atau lengan terasa kaku, tidak dapat
berbicara secara jelas) serta tidak sadarkan diri secara mendadak.
B. Infark Miokard
Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang arterosklerosis tidak dapat
menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk trombus yang menghambat
aliran darah melalui pembuluh darah tersebut. Karena hipertensi kronik dan hipertensi
ventrikel, maka kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat terpenuhi dan dapat
terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga hipertrofi ventrikel dapat
menimbulkan perubahan-perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga
terjadi disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan risiko pembentukan bekuan.
C. Gagal Ginjal
Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada
kapiler-kapiler ginjal dan glomerolus. Dengan rusaknya glomerulus, darah akan mengalir ke
unit-unit fungsional ginjal, nefron akan terganggu dan dapat berlanjut menjadi hipoksia dan
kematian. Dengan rusaknya membran glomerolus, protein akan keluar melalui urin sehingga
tekanan osmotik koloid plasma berkurang, menyebabkan edema yang sering dijumpai pada
hipertensi kronik. Penyakit ginjal dan saluran kemih telah menyumbang 850.000 kematian
setiap tahunnya, hal ini berarti meduduki peringkat ke-12 tertinggi angka kematian atau
peringkat terringgi ke-17 angka kecacatan.
D. Gagal Jantung
Pada penyakit ini, terjadi kegagalan jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh
sehingga mengakibatkan cairan terkumpul di paru, kaki, dan jaringan lain yang sering disebut
edema. Penumpukan cairan di dalam paru dapat menyebabkan sesak napas.
E. Ensefalopati
Dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna. Tekanan yang tinggi pada kelainan ini
menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke dalam ruang intertisium
21

di seluruh susunan saraf pusat. Neuron-neuron disekitarnya kolaps dan terjadi koma serta
kematian.
2.2Penatalaksanaan Hipertensi di Masyarakat
Pada saat ini hipertensi adalah penyakit ketiga terbesar yang menyebabkan kematian
dini. Penyakit ini dipengaruhi oleh cara dan kebiasaan hidup seseorang. Sering disebut
sebagai the silent killer karena penderita tidak mengetahui kalau dirinya menderita hipertensi.
Penderita seringkali datang berobat timbul kelainan organ akibat hipertensi. Departemen
Kesehatan telah menyusun kebijakan dan strategi nasional pencegahan dan penanggulangan
penyakit hipertensi yang meliputi surveilans, promosi, dan pencegahan dan penatalaksaan
penyakit hipertensi. Kebijakan tersebut tidak mungkin dilaksanakan hanya bersandarkan pada
kemampuan pemerintah, tapi harus melibatkan seluruh potensi yang ada di masyarakat.
Sistematika penemuan kasus dan tatalaksana penyakit hipertensi meliputi:
1. Penemuan kasus dilakukan melalui pendekatan deteksi dini yaitu melakukan
kegiatan deteksi dini terhadap faktor risiko penyakit hipertensi yang meningkat
pada saat ini dengan cara skrining kasus.
2. Tatalaksana pengendalian penyakit hipertensi dilakukan dengan pendekatan:
a. Promosi kesehatan diharapkan dapat memelihara, meningkatkan, dan
melindungi kesehatan diri serta kondisi lingkungan sosial yang diintervensi
dengan kebijakan publik serta dengan meningkatkan pengetahuan dan
kesadaran masyarakat mengenai perilaku hidup sehat dalam pengendalian
hipertensi.
b. Preventif dengan cara larangan merokok, peningkatan gizi seimbang dan
aktivitas fisik untuk mencegah timbulnya faktor risiko dan menghindari
rekurensi faktor risiko.
c. Kuratif dilakukan melalui pengobatan farmakologis dan tindakan yang
diperlukan.
d. Rehabilitatif dilakukan agar penderita tidak jatuh pada keadaan yang lebih
buruk dengan melakukan kontrol teratur dan fisioterapi komplikasi hipertensi
yang fatal dapat diturunkan dengan mengembangkan manajemen rehabilitasi
kasus kronis dengan melibatkan unsur organisasi profesi, pengelola program,
dan pelaksana pelayanan di berbagai tingkatan.
2.2.1. Surveilans
Surveilans hipertensi meliputi faktor risiko, registri penyakit, dan kematian.
Surveilans faktor risiko dan gaya hidup yang diperoleh lewat wawancara merupakan prioritas
22

karena lebih fleksibel dan lebih sensitif untuk mengukur hasil intervensi dalam jangka
menengah.
Adapun daftar pihak yang dapat diikutsertakan antara lain:

Puskesmas, dokter praktek, poliklinik, bidan, dan perawat dengan melakukan

pencatatan dan pelaporan angka kesakitan dan faktor risiko


Organisasi kemasyarakatan (posbindu)
Dinkes kabupaten/kota/propinsi
Rumah sakit

Dalam melaksanakan kegiatan skrining untuk mendeteksi faktor risiko penyakit


hipertensi dapat dilakukan beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Wawancara dengan menggunakan kuesioner yang meliputi identitas diri, riwayat
penyakit, riwayat anggota keluarga yang menderita DM, PJK, dan dislipidemia.
2. Pengukuran tekanan darah dan denyut nadi
3. Pengukuran indeks antropometri, yaitu pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar
pinggang, dan lingkar panggul
4. Pemeriksaan laboratotium darah antara lain Kadar Kolesterol Darah (kolesterol total,
LDL, HDL, dan trigliserida), Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) bagi yang belum
tahu atau belum pernah terdiagnosis. TTGO yaitu pemeriksaan kadar gula daran pada
2 jam setelah minum larutan 75gr glukosa
2.2.2. Promosi Kesehatan
Tujuan dari promosi kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat
akan pentingnya pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak menular (PTM) agar tidak
menderita penyakit hipertensi. Pencegahan dimaksud dengan menjalankan pola hidup sehat
berupa diet seimbang dengan mengurangi konsumsi lemak jenuh, garam, dan memperbanyak
makan sayur dan buah, serta tidak merokok dan perbanyak aktivitas olahraga.
Promosi bagi pencegahan dan penanggulangan hipertensi efektif bila dilakukan dalam
intensitas yang memadai serta berkesinambungan dan dalam waktu yang cukup lama,
promosi dapat dilakukan dengan menggunakan media cetak dan elektronik.
Langkah-langkah promosi kesehatan di masyarakat mencakup:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pengenalan Kondisi Wilayah


Identifikasi Masalah Kesehatan
Survei Mawas Diri
Musyawarah Desa atau Kelurahan
Perencanaan Partisipatif
Pelaksanaan Kegiatan
Pembinaan Kelestarian
23

Tahapan dalam melakukan promosi penyuluhan adalah sebagai berikut:


1.
2.
3.
4.
5.

Menentukan materi/isi
Menyediakan bahan promosi
Melakukan pelatihan kader kesehatan
Menentukan sasaran promosi
Menentukan jenis promosi
a. Promosi penanggulangan masalah merokok
b. Promosi peningkatan gizi seimbang
c. Promosi peningkatan aktivitas fisik

2.2.3. Pencegahan dan Penatalaksanaan


Pengendalian faktor risiko PJK dapat saling berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi.
Hal ini dapat dilakukan dengan usaha-usaha sebagai berikut:
a. Mengatasi obesitas/kelebihan berat badan
Obesitas bukanlah penyebab hipertensi, akan tetapi prevalensi hipertensi pada obesitas
jauh lebih besar. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang gemuk 5x lebih besar
dibandingkan dengan orang dengan berat badan normal.
b. Mengurangi asupan garam dalam tubuh
Nasehat pengurangan garam harus memperhatikan kebiasaan makan penderita.
Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan. Batasi garam maksimal 6
gram (1 sendok teh) per hari pada saat memasak
c. Ciptakan keadaan rileks
d. Melakukan olahraga teratur
Berolahraga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4x
seminggu diharapkan dapat menambah kebugaran dan memperbaiki metabolisme tubuh yang
akhirnya dapat menurunkan tekanan darah.
e. Berhenti merokok
Merokok dapat menambah kekakuan pembuluh darah sehingga dapat memperburuk
hipertensi. Zat kimia seperti nikotin dan CO yang dihisap melalui rokok yang masuk ke
dalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri dan mengakibatkan
proses arterosklerosis dan tekanan darah tinggi. Tidak ada cara yang benar-benar efektif
untuk memberhentikan kebiasaan merokok. Beberapa metode yang secara umum dicoba
adalah sebagai berikut:
a) Inisiatif sendiri
b) Menggunakan permen yang mengandung nikotin
c) Kelompok program berhenti merokok
24

f. Mengurangi konsumsi alkohol


Hindari konsumsi alkohol berlebih. Tidak lebih dari 2 gelas perhari untuk laki-laki dan
tidak lebih dari 1 gelas per hari untuk perempuan.
Penatalaksanaan penyakit hipertensi bertujuan untuk mengendalikan angka kesakitan dan
kematian akibat hipertensi dengan cara seminimal mungkin menurunkan gangguan terhadap
kualitas hidup penderita. Pengobatan hipertensi dimulai dengan obat tunggal, masa kerja
yang panjang sehari sekali dan dosis dititrasi. Prinsip pemberian obat anti hipertensi sebagai
berikut:
1. Pengobatan hipertensi sekunder adalah menghilangkan penyebab hipertensi
2. Pengobatan hipertensi esensial ditujukan untuk menurunkan tekanan darah dengan
harapan memperpanjang umur dan mengurangi timbulnya komplikasi
3. Upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan menggunakan obat anti hipertensi
4. Pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka panjang, bahkan pengobatan seumur
hidup.

2.2.4 Rujukan
Rujukan dilakukan saat terapi yang diberikan di pelayanan primer belum dapat
mencapai sasaran pengobatan yang diinginkan atau dijumpai komplikasi penyakit lainnya
akibat penyakit hipertensi. Yang penting adalah mempersiapkan penderita untuk rujukan
tersebut sehingga tidak menimbulkan persepsi yang salah akibat hasil pengobatan yang sudah
dijalani
2.2.5 Pencatatan
Perlu suatu mekanisme pencatatan yang baik, formulir yang cukup serta cara pengisian
yang benar dan teliti. Pencatatan dilaksanakan sesuai dengan jenis kegiatan yang
dilaksanakan, yaitu pencatatan kegiatan pelayanan pengendalian PTM khususnya
tatalaksanan penyakit hipertensi. Formulir pencatatan terdiri dari:
1. Kartu Rawat Jalan untuk mencatat identitas dan status pasien yang berkunjung ke
puskesmas / sarana kesehatan lainnya untuk memperoleh layanan rawat jalan
2. Kartu Rawat Inap diperuntukkan bagi pasien rawat inap di Pueskesmas Rawat Inap
3. Kartu Penderita Hipertensi yang berisikan identitas penderita hipertensi yang dilayani
di Puskesmas dan diberikan kepada penderitanya
4. Formulir Laporan Bulanan penyakit hipertensi
5. Buku Register Tatalaksana dan Rujukan

25

2.2.6 Pelaporan

Gambar 2.5.

Bagan Alur Pelaporan


Pengendalian Penyakit Hipertensi

Frekuensi Pelaporan:
a. Laporan dari Puskesmas ke Dinkes Kabupaten/Kota ini menggunakan formulir
standar yang sudah ada. Setiap bulan paling lambat tanggal 10 telah terkirimkan
b. Laporan di Dinkes kabupaten/kota ke propinsi/pusat dalam diskret hasil entry data/
rekapitulasi frekuensi laporan triwulan dikirimkan paling lambat tanggal 20 bulan
berikutnya ke dinkes propinsi
2.2.7. Evaluasi
Monitoring dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai
keberhasilan penemuan dan penatalaksaan penderita hipertensi. Kegiatan ini dilaksanakan
secara berkala untuk mendeteksi ketika ada masalah dalam penemuan dan penatalaksanaan
penderita hipertensi agar dapat dilakukan tindakan perbaikan.
Pada prinsipnya semua kegiatan harus dimonitor dan dievaluasi antara lain penemuan
penyakit hipertensi mulai dari langkah penemuan penderita dan faktor risikonya,
penatalaksanaan penderita yang meliputi hasil pengobatan, dan efek samping, sehingga
kegagalan pengendalian penyakit hipertensi di pelayanan primer dapat ditekan.
Seluruh kegiatan tersebut harus dimonitor baik dari input maupun output. Cara pemantauan
dapat dilakukan dengan menelaah laporan, pengamatan langsung, dan wawancara dengan
petugas pelaksana dan penderita hipertensi.
26

27

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1.

Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif untuk menentukan gambaran secara sistematik dan

faktual karakteristik pasien hipertensi dan pengetahuan terhadap hipertensi pada masyarakat
daerah Cipinang Muara.
3.2.

Tempat dan Waktu Penelitian

3.2.1. Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan di balai warga RW 002, kelurahan Cipinang Muara, Jakarta
Timur.
3.2.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama kegiatan Poslansia dan Posbindu RW 002 pada bulan
April dan Mei 2015.
3.3.

Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah Pengunjung kegiatan Poslansia dan Posbindu RW 002

Cipinang Muara pada bulan April dan Mei 2015 sebanyak 43 orang.
3.4.

Jenis Data
Jenis data pada penelitian ini adalah data primer yang didapatkan dari pengukuran

tekanan darah dan pengisian kuesioner terhadap Pengunjung Poslansia dan Posbindu RW 002
Cipinang Muara.
3.5.

Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan adalah hasil tekanan darah dan kuesioner

Pengunjung Poslansia dan Posbindu RW 002 Cipinang Muara.


3.6.

Prosedur Penelitian
Pengunjung Poslansia dan Posbindu RW 002 Cipinang Muara yang datang pada bulan

April 2015 dilakukan pengukuran tekanan darah pada saat pelayanan. Kemudian, setiap
pengunjung diwawancara sesuai dengan kuesioner yang berisi tentang penyakit hipertensi.
28

Setelah itu dilakukan penyuluhan pada para pengunjung tentang penyakit hipertensi. Pada
bulan Mei 2015 dilakukan pengukuran tekanan darah kembali pada pengunjung yang sama,
untuk melihat apakah ada perubahan nilai tekanan darah pengunjung setelah dilakukan
penyuluhan.

29

BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1.

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

4.1.1.

Profil Komunitas Umum


Kelurahan Cipinang Muara merupakan bagian dari Kecamatan Jatinegara yang berada

di Kotamadya Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Kelurahan Cipinang Muara
terdiri dari 16 Rukun Warga dengan jumlah penduduk 67.849 jiwa.
4.1.2. Data Geografis
Kelurahan Cipinang Muara memiliki luas daerah 289,5 Ha. Batas wilayah
Kelurahan Cipinang Muara:

Utara : Rel Kereta Api, Kelurahan Cipinang Kecamatan Pulogadung


Selatan: Kali Malang, Kelurahan Cipinang Melayu Kecamatan Makasar
Timur : Kali Sunter, Kelurahan Pondok Bambu dan Klender Kecamatan Duren Sawit
Barat : Jalan Cipinang Jaya, Kelurahan Cipinang Besar Selatan dan Cipinang Besar
Utara Kecamatan Jatinegara

Gambar 4.1. Peta Wilayah Kelurahan Cipinang Muara

30

4.1.3. Data Demografik


Data Jumlah Penduduk Kelurahan Cipinang Muara
Tabel 4.1. jumlah penduduk kelurrahan Cipinang Muara
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

UMUR
0-4
5-9
10 - 14
15 - 19
20 - 24
25 - 29
30 - 34
35 - 39
40 - 44
45 - 49
50 - 54
55 - 59
60 - 64
65 - 69
70 - 74
75
JUMLAH

LK

PR

JUMLA

3395
3780
3485
3896
3579
2890
3450
2897
3170
1430
1280
1150
220
245
58
30

4958
3649
3455
3428
3684
3632
2230
1454
1611
1450
1447
1118
331
233
152
62

H
8353
7429
6940
7324
7263
6522
5680
4351
4781
2880
2727
2268
551
478
210
92

34955

32894

67849

4.1.4. Data Sumber Daya Kesehatan


Tabel 4.2. data sumber daya kesehatan
Jumlah Posyandu Balita

12

Jumlah Posyandu Lansia


Jumlah RW Siaga
Jumlah PAUD
Jumlah Sekolah Binaan

7
8
14
SD
SMP
SMU
SMK
4
4
144
184

Jumlah Kelas Ibu Hamil


Jumlah KP Ibu
Jumlah Kader Kesehatan
Kader Jumantik

23
6
1
3

31

4.1.5. Data Sarana Kesehatan

No
1.

Tabel 4.3. data sarana kesehatan


Fasilitas Kesehatan
Jumlah
Puskesmas
1

2.

Dokter Praktek / Umum

3.

Dokter Spesialis

4.

Klinik Umum

12

5.

Bidan Praktek

6.

Posyandu

12

7.

Balai Kesehatan

8.
Apotik
Jumlah

4.2.

3
33

Hasil Penelitian

4.2.1. Hasil Kuesioner Hipertensi


1. Dari hasil kuesioner yang telah ditanyakan kepada 43 orang sampel, dimana 30 dari
pengunjung poslansia serta 13 orang dari pengunjung posbindu. Didapatkan hasil total
28 orang (65,1%) pernah mengalami hipertensi sebelumnya. Dimana 19 orang
merupakan pengunjung poslansia dan 9 orang pengunjung posbindu.

32

2. Dari hasil kuesioner pada poslansia, 4 orang mengetahui menderita hipertensi kurang
dari 6 bulan lalu, 1 orang menderita hipertensi di antara kurun waktu 6 bulan sampai 1
tahun sebelumnya, sedang kan 11 orang telah menderita lebih dari 1 tahun.
Dari posbindu hanya didapatkan 1 orang saja yang mengetahui dengan pasti bahwa
dia menderita hipertensi dalam waktu 6 bulan terakhir.
3. Dari hasil kuesioner total didapatkan 26 orang (60,5%) yang pernah mengalami
hipertensi dengan gejala seperti sakit kepala, kaku pada leher, berdebar-debar, serta
lemas satu sisi. Hasil tersebut didapatkan dari 18 orang pengunjung poslansia dan 8
orang pengunjung posbindu.
4. Dari hasil kuesioner diketahui hanya 8 orang pengunjung poslansia yang
mengkonsumsi obat hipertensi secara teratur. Sedang kan dari posbindu diketahui 4
orang yang mengkonsumsi obat hipertensi secara teratur.
5. Dari hasil kuesioner pada pengunjung poslansia didapatkan 5 orang memiliki
kebiasaan faktor risiko merokok, dimana 2 orang sudah merokok dalam rentang
waktu 10-20 tahun sedang kan 3 orang telah merokok selama lebih dari 20 tahun.
Dari hasil kuesioner pada pengunjung posbindu, hanya didapatkan 1 orang yang
memiliki kebiasaan faktor risiko merokok, dan telah dilakukan dalam rentang waktu
10-20 tahun.
6. Dari hasil kuesioner pada pengunjung poslansia didapatkan 5 orang memiliki faktor
risiko tiap hari mengkonsumsi garam dan lemak melebihi takaran yang
diperbolehkan, 10 orang dalam rentang 2-3 hari sekali, sisanya sebanyak 15 orang
lebih dari 3 hari sekali.
Dari posbindu didapatkan hasil 2 orang mengkonsumsi garam dan lemak berlebihan
tiap hari, 11 orang lainnya lebih dari 3 kali sehari.
7. Dari hasil kuesioner pada pengunjung poslansia didapatkan 10 orang melakukan
olahraga lebih dari 3 kali dalam seminggu, 7 orang melakukan olahraga 2-3 kali
seminggu, 5 orang hanya sekali seminggu, sisanya tidak pernah berolahraga.
Dari hasil posbindu didapatkan 4 orang berolahraga sekali seminggu, sisany sebanyak
9 orang tidak pernah berolahraga.
8. Dari hasil kuesioner didapatkan total 16 orang memiliki faktor risiko riwayat
hipertensi di keluarga, dimana 10 orang dari pengunjung poslansia dan 6 orang dari
pengunjung posbindu.
9. Dari hasil kuesioner keseluruhan sampel didapatkan hasil 11 orang memiliki faktor
risiko riwayat di keluarga selain hipertensi, seperti stroke, sakit jantung, dan diabetes.
Dimana 8 orang dari pengunjung poslansia dan 3 orang pengunjung posbindu.
33

4.2.2. Hasil Pengukuran Tekanan Darah Bulan April


Pada pengukuran tekanan darah yang dilakukan pada bulan April 2015 dengan total
sampel 43 orang dari 30 orang pengunjung Polansia dan 13 orang pengunjung Posbindu.
Dari hasil yang didapatkan di Poslansia didapatkan 6 orang (20%) memiliki tekanan
darah dalam batas normal. 5 orang (16,7%) memiliki tekanan darah termasuk pre-hipertensi.
13 orang (43,3%) memiliki tekanan darah termasuk Hipertensi Grade I. 6 orang (20%)
memiliki tekanan darah termasuk dalam kategori Hipertensi Grade II, dimana 1 orang
diantaranya termasuk dalam Krisis Hipertensi Urgency.
Dari hasil yang didapatkan di Posbindu didapatkan 11 orang (84,6%) memiliki
tekanan darah masih dalam batas normal. Sedangkan sisanya sebanyak 2 orang (16,4%)
memiliki tekanan darah yang termasuk kategori Hipertensi II, dan keduanya juga masuk ke
dalam kategori Krisis Hipertensi Urgency juga.
Sehingga dari total sampel yang diukur tekanan darahnya selama bulan April di RW
02, didapatkan 17 orang (39,5%) memiliki tekanan darah dalam batas normal. 5 orang
(11,6%) memiliki tekanan darah termasuk Pre-hipertensi. 13 orang (30,2%) memiliki tekanan
darah termasuk dalam kategori Hipertensi Grade I. 8 orang (18,6%) memiliki tekanan darah
termasuk kategori Hipertensi Grade II, dimana 3 orang diantaranya termasuk dalam Krisis
Hipertensi Urgency.

Hasil Pengukuran Tekanan Darah Bulan April


100
90
80
70
60
%

50
40
30
20
10
0

Normal

Pre-hipertensi
Poslansia

Hipertensi Grade I

Hipertensi Grade II

Posbindu

Gambar 4.1. grafik hasil pengukuran tekanan darah bulan April


4.2.3. Hasil Pengukuran Tekanan Darah Bulan Mei
34

Pengukuran tekanan darah yang dilakukan pada bulan Mei 2015 dengan total sampel
yang sama 43 orang dari 30 orang pengunjung Polansia dan 13 orang pengunjung Posbindu.
Pengukuran dilakukan setelah dilakukan penyuluhan pada bulan April, untuk melihat apakah
terdapat penurunan angka hipertensi dan peningkatan pengetahuan serta kesadaran tentang
penyakit hipertensi.
Dari hasil yang didapatkan di Poslansia didapatkan 13 orang (43,3%) memiliki
tekanan darah dalam batas normal. 2 orang (6,7%) memiliki tekanan darah termasuk prehipertensi. 9 orang (30%) memiliki tekanan darah termasuk Hipertensi Grade I. 6 orang
(20%) memiliki tekanan darah termasuk dalam kategori Hipertensi Grade II, dimana 2 orang
diantaranya termasuk dalam Krisis Hipertensi Urgency.
Dari hasil yang didapatkan di Posbindu didapatkan 11 orang (84,6%) memiliki
tekanan darah masih dalam batas normal. Sedangkan sisanya sebanyak 2 orang (16,4%)
memiliki tekanan darah yang termasuk kategori Hipertensi I.
Sehingga dari total sampel yang diukur tekanan darahnya selama bulan Mei di RW
02, didapatkan 24 orang (55,8%) memiliki tekanan darah dalam batas normal. 2 orang (4,6%)
memiliki tekanan darah termasuk Pre-hipertensi. 11 orang (25,6%) memiliki tekanan darah
termasuk dalam kategori Hipertensi Grade I. 6 orang (14%) memiliki tekanan darah termasuk
kategori Hipertensi Grade II, dimana 2 orang diantaranya termasuk dalam Krisis Hipertensi
Urgency.
Hasil Pengukuran Tekanan Darah Bulan Mei
100
90
80
70
60
%

50
40
30
20
10
0

Normal

Pre-hipertensi
Poslansia

Hipertensi Grade I

Hipertensi Grade II

Posbindu

Gambar 4.2. grafik hasil pengukuran tekanan darah bulan Mei

35

Grafik Perbandingan Tekanan Darah April-Mei


Hipertensi Grade II

Hipertensi Grade I

Pre-hipertensi

Normal
0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

% (persentase)
April

Mei

Gambar 4.3. grafik perbandingan tekanan darah April-Mei

BAB V
PEMBAHASAN PENELITIAN
5.1.

Pembahasan Hasil Kuesioner Hipertensi


Dari hasil kuesioner yang ditanyakan pada total sampel 43 orang di RW 02 pada bulan
April 2015 didapatkan 28 orang (65,1%) mengaku pernah didiagnosis hipertensi oleh tenaga
medis. Namun hanya 17 orang yang mengetahui secara pasti sejak kapan menderita
hipertensi, 5 orang mengaku dinyatakan menderita hipertensi 6 bulan terakhir, 1 orang
dinyatakan hipertensi dalam rentang waktu 6 bulan sampai 1 tahun terakhir, dan 11 orang
menderita hipertensi sudah lebih dari 1 tahun. Sisanya sebanyak 11 orang lainnya tidak
mengetahui secara pasti sejak kapan menderita hipertensi dengan alasan tidak pernah berobat
dan kontrol secara rutin ke dokter.
Dari pengunjung yang mengaku pernah didiagnosis hipertensi, 26 orang diantaranya
pernah merasakan gejala-gejala yang bervariasi, seperti sakit kepala, leher dan bahu terasa
kaku, serta badan pegal-pegal dan tidur tidak nyaman.Namun, dari 28 orang tersebut hanya
12 orang saja yang mengaku berobat dan kontrol secara rutin ke dokter. 8 orang dari
pengunjung Poslansia, dan 4 orang dari pengunjung Posbindu. Dari kedua belas orang yang
36

mengkonsumsi obat beberapa didapatkan memiliki tekanan darah yang telah mencapai target
normal setelah dilakukan pengukuran.
Hasil kuesioner juga menunjukkan angka beberapa faktor risiko penyakit hipertensi
yang ada pada warga RW 02 kelurahan Cipinang muara, seperti merokok, konsumsi garam
dan lemak harian, aktifitas olahraga tiap minggunya, serta riwayat penyakit di keluarga yang
berhubungan dengan penyakit hipertensi.
Pada pengunjung poslansia didapatkan 5 orang memiliki kebiasaan faktor risiko
merokok, dimana 2 orang sudah merokok dalam rentang waktu 10-20 tahun sedang kan 3
orang telah merokok selama lebih dari 20 tahun. Kemudian dari pengunjung posbindu, hanya
didapatkan 1 orang yang memiliki kebiasaan faktor risiko merokok, dan telah dilakukan
dalam rentang waktu 10-20 tahun. Dari total 6 orang yang merokok semua nya dinyatakan
hipertensi setalah dilakukan pengukuran tekann darah. Beberapa orang sebelumnya telah
mengerti bahwa merokok dapat meningkatkan risiko hipertensi, namun menyatakan sulit
untuk berhenti karena sudah kecanduan.
Dari total 43 orang sampel didapatkan 7 orang memiliki faktor risiko tiap hari
mengkonsumsi garam dan lemak melebihi takaran yang diperbolehkan, 10 orang dalam
rentang 2-3 hari sekali, sisanya sebanyak 26 orang lebih dari 3 hari sekali. Dari hasil
kuesioner juga didapatkan karakteristik aktifitas fisik di luar kegiatan sehari-hari yang
dilakukan, dimana 10 orang melakukan olahraga lebih dari 3 kali dalam seminggu, 7 orang
melakukan olahraga 2-3 kali seminggu, 9 orang hanya sekali seminggu, sisanya 13 orang
tidak pernah berolahraga.
Angka faktor risiko yang berupa riwayat penyakit keluarga menunjukkan, total 16
orang memiliki faktor risiko riwayat hipertensi di keluarga, dimana 10 orang dari pengunjung
poslansia dan 6 orang dari pengunjung posbindu. Serta 11 orang memiliki faktor risiko
riwayat di keluarga selain hipertensi, seperti stroke, sakit jantung, dan diabetes. Dimana 8
orang dari pengunjung poslansia dan 3 orang pengunjung posbindu.
5.2.

Pembahasan Hasil Pengukuran Tekanan Darah pada Bulan April dan Meil
Pada bulan April 2015 dilakukan pengukuran tekanan darah baik pada pengunjung
poslansia dan posbindu, dimana didapatkan 17 orang (39,5%) memiliki tekanan darah dalam
batas normal. 5 orang (11,6%) memiliki tekanan darah termasuk Pre-hipertensi. 13 orang
(30,2%) memiliki tekanan darah termasuk dalam kategori Hipertensi Grade I. 8 orang
(18,6%) memiliki tekanan darah termasuk kategori Hipertensi Grade II, dimana 3 orang
diantaranya termasuk dalam Krisis Hipertensi Urgency. Selama kegiatan ini juga dilakukan
37

penyuluhan tentang penyakit hipertensi, baik dari faktor risiko, gejala-gejala yang dapat
dirasakan, tatalaksana, hingga pentingnya perubahan gaya hidup serta kontrol dan
mengkonsumsi obar secara teratur.
Setelah sebelumnya telah dilakukan pengukuran tekanan darah dan penyuluhan pada
bulan April kemudian pada bulan Mei dilakukan kembali pengukuran tekanan darah untuk
melihat adakah penurunan angka hipertensi sebagai parameter keefektifan penyuluhan yang
telah dilakukan sebelumnya. Dimana didapatkan 24 orang (55,8%) memiliki tekanan darah
dalam batas normal. 2 orang (4,6%) memiliki tekanan darah termasuk Pre-hipertensi. 11
orang (25,6%) memiliki tekanan darah termasuk dalam kategori Hipertensi Grade I. 6 orang
(14%) memiliki tekanan darah termasuk kategori Hipertensi Grade II, dimana 2 orang
diantaranya termasuk dalam Krisis Hipertensi Urgency.
Dari perbandingan yang dilakukan terhadap hasil pengukuran tekanan darah bulan
April dan bulan Mei 2015 dengan jumlah sampel yang sama serta orang yang sama. Terlihat
peningkatan dari jumlah pengunjung yang memiliki tekanan darah dalam batas normal, dari
sebelumnya 17 orang (39,5%) pada bulan April menjadi 24 orang (55,8%) pada bulan Mei.
Angka pengunjung dengan kategori tekanan darah termasuk pre-hipertensi menurun dari 5
orang (11,6%) pada bulan April menjadi 2 orang (4,6%) pada bulan Mei. Begitu pun angka
hipertensi sendiri terjadi penurunan, dimana pada kategori hipertensi grade I pada bulan April
terdapat 13 orang (30,2%) menjadi 11 orang (25,6%). Pada kategori hipertensi grade II pun
terjadi penurunan angka penderita dari 8 orang (18,6%) pada bulan April menjadi 6 orang
(14%) pada bulan Mei. Angka kejadian krisis hipertensi urgency tetap sama baik di bulan
April mau pun Mei terdapat 2 orang, namun terjadi pada orang yang berbeda.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyuluhan yang telah dilakukan pada bulan April
cukup efektif tidak hanya dari segi pengetahuan dan kesadaran warga, namun juga
menurunkan angka hipertensi secara nyata. Dimana total angka hipertensi dari bulan April
sebanyak 21 orang menurun menjadi 17 orang di bulan Mei, atau terdapat penurunan angka
hipertensi sebanyak 9,3%. Sedangkan total angka tekanan darah normal juga mengalami
peningkatan sebesar 16,3% dari bulan April sebanyak 17 orang menjadi 24 orang. Menurut
pengakuan sebagian besar pengunjung pada bulan Mei mereka mulai melakukan perubahan
gaya hidup terutama pada diet rendah garam dan lemak. Dan juga meningkatnya kesadaran
akan kepatuhan minum obat setiap hari dan kontrol ke dokter juga.

38

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1.

Kesimpulan
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang memiliki prevalensi

yang cukup tinggi di Indonesia, khususnya di provinsi DKI Jakarta sendiri. Karena hipertensi
sering kali tidak menimbulkan gejala, maka dibutuhkan surveilans hipertensi dan edukasi
mengenai hipertensi itu sendiri pada masyarakat. Dalam penelitian ini, kami melakukan
penelitian mengenai karakteristik, pengetahuan penderita hipertensi, serta seberapa besar
efektifitas peran puskesmas turun langsung ke lapangan dalam hal ini memberikan
penyuluhan tentang hipertensi pada masyarakat yang ada di kelurahan Cipinang Muara. Dari
data yang dikumpulkan, dapat dilihat bahwa penderita hipertensi di kelurahan Cipinang
Muara merupakan penderita hipertensi tidak terkontrol yang memiliki faktor risiko hipertensi
yang tidak dapat dimodifikasi yaitu riwayat keluarga dengan hipertensi dan justru sebagian
besar faktor risiko yang dapat dimodifikasi yaitu pola makan asupan garam dan lemak
berlebih, merokok, serta kurangnya olahraga. Hal lain yang dapat disimpulkan adalah
kurangnya kepatuhan minum obat dan kontrol ke dokter secara berkala, serta ketidakpahaman
akan pentingnya perubahan gaya hidup tidak hanya konsumsi obat yang dapat menjaga
tekanan darah dalam batas normal.
Hasil penelitian ini menunjukkan karakteristik penyakit hipertensi di RW 02 pada
bulan April sebesar 48,8% dari total seluruh sampel yang diperiksa, sedangkan setelah
diberikan penyuluhan terjadi penurunan angka kesakitan sebesar 19,05% dari bulan April
menjadi 39.5% di bulan Mei.
Selain itu, sebagian penderita hipertensi belum memiliki pengetahuan yang baik akan
faktor risiko hipertensi terutama riwayat keluarga dengan hipertensi dan jenis kelamin,
batasan tekanan darah, komplikasi, penatalaksanaan, dan juga pencegahan hipertensi. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa diperlukan adanya upaya preventif secara primer dan
sekunder lebih lanjut untuk mencegah terjadinya hipertensi dan komplikasinya.
6.2.

Saran
Data mengenai karakteristik dan pengetahuan penderita hipertensi masih didapatkan

secara terbatas. Masih ada keterbatasan dalam proses pengumpulan data seperti misalnya
pengetahuan pasien yang tidak secara murni diketahui karena beberapa jawaban diberikan
setelah dipandu melalui pilihan dalam kuesioner. Pengetahuan subjek hipertensi juga masih
39

kurang. Hal ini perlu ditindaklanjuti dengan promosi kesehatan dan upaya preventif primer
atau sekunder guna tatalaksana hipertensi yang lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran..

40

DAFTAR PUSTAKA
1. James PA, et al. 2014 Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood
Pressure in Adults: Report From the Panel Members Appointed to the Eighth Joint
National Committee (JNC 8). JAMA. 2014;311(5):507-520.
2. U.S Department of Health and Human Services. Reference card from The Seventh Report
of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation. And Treatment of
High Blood Pressure. USA: U.S Department of Health and Human Services; 2004.
3. World

Health

Organization.

Raised

Blood

Pressure.

[Diunduh

dari :http://www.who.int/gho/ncd/risk_factors/blood_pressure_prevalence_text/en/]
4. Sarwanto, Wilujeng LK, Rukmini. Prevalensi Penyakit Hipertensi Penduduk di Indonesia
dan Faktor yang Berisiko. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. 2009; vol 12; 154-162.
5. Krishnan A, Garg R, Kahandaliyanage A. Hypertension in the South-East Asia Region:
an Overview. Regional Health Forum. 2013; 17 (1); 7-14.
6. Indonesian Society of Hypertension. Konas InaSH

1.

[Diunduh

dari

http://www.inash.or.id/news_detail.html?id=34; 2007.]
7. Price, Sylvia Anderson & Wilson, Lorraine M. Patofisiologi: Konsep Klinis prosesproses penyakit. Edisi 6 Volume 2. Jakarta: EGC; 2006.
8. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) 2007. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2008.
9. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) 2010. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2010.
10. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) 2013. Jakarta; Kementerian Kesehatan RI; 2013.
11. U.S. Department of Health and Human Services. The Seventh Report of the Joint
National Committee on Prevention, Detection, Evaluation. And Treatment of High Blood
Pressure. USA: U.S. Department of Health and Human Services; 2004.
12. Sudoyo, Aru, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi IV. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2007.
13. Sagala.
Hipertensi;
2010.
[Diunduh

dari

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17124/ 4/Chapter%20II.pdf]
14. Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC; 2007.
15. Sihombing M. Hubungan Perilaku Merokok, Konsumsi Makanan/Minuman, dan
Aktivitas Fisik dengan Penyakit Hipertensi pada Responden Obes Usia Dewasa di
Indonesia. Majalah Kedokteran Indonesia. 2010; 60(9); 406-12.
16. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Jakarta. Survei Kesehatan Nasional
(SURKESNAS) 2004: SKRT 2004-volume 2: Status Kesehatan Masyarakat Indonesia.
Jakarta: Badan Litbangkes; 2005.
41

17. American Heart Association. Stress and Hypertension. USA: American Heart Asociation;
2014.
18. Alwi H. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka; 2003.
19. Almatsier S. Penuntun Diet. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum; 2006.
20. Sugiharto A. Faktor-faktor risiko Hipertensi Grade II Pada Masyarakat (Studi Kasus di
Kabupaten Karanganyar). Tesis Program Studi Magister Epidemiologi Program Studi
Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Semarang : Tesis; 2007.
21. Amir IR. Hubungan Gaya Hidup dengan Indeks Massa Tubuh orang Dewasa di
Kotamadya Bandung Tahun 1996. Tesis Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat
Uniersitas Indonesia. Depok : Tesis; 1997.
22. Medscape Medical Student. Alcohol Consumption and Hypertension. Medscape.
[Diunduh dari : www.medscape.com/viewarticle/403751_4].

42

LAMPIRAN

KUESIONER HIPERTENSI
NAMA

.....................................

USIA :

.....................................

1. Apakah anda menderita hipertensi?


a. Ya
b. Tidak
2. Sudah berapa lama?
.................................
3. Apakah anda pernah mengalami sakit kepala, kaku pada leher, berdebar, lemas satu
sisi?
a. Ya
b. Tidak
4. Apakah anda mengkonsumsi obat hipertensi secara teratur?
a. Ya
b. Tidak
5. Apakah anda merokok?
a. Ya. Sudah berapa lama? ..................
b. Tidak
6. Berapa sering anda mengkonsumsi garam dan lemak?
a. Setiap hari
b. Sering (2-3 hari sekali)
c. jarang
7. Aktifitas fisik dalam seminggu?
a. > 3x
b. 2-3x
c. 1x
d. Tidak pernah
8. Di keluarga ada riwayat hipertensi
a. Ya
b. Tidak
9. Di keluarga ada riwayat stroke, penyakit jantung, diabetes
a. Ya
b. Tidak

43

Anda mungkin juga menyukai