Anda di halaman 1dari 15

PARASIT DAN PENYAKIT IKAN

AVITAMINOSIS C PADA IKAN


Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Parasit dan Penyakit Ikan semester genap

Disusun oleh :
Kelompok 9 | Perikanan B

Luthfan Adriansyah

230110130097

Dea Febrian

230110130113

Raka Setiawan Putra

230110130118

Reka Dwi Patria

230110130124

Rika Mustikawati

230110130125

Taufiq Hidayat

230110130128

Nabila Dwi Yasti

230110130143

Fauzi

230110

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2015
i

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpah
curahkan rahmat dan hidayat-Nya kepada kami sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas mata kuliah Parasit dan Penyakit Ikan ini tepat pada
waktunya. Tak lupa salawat beserta salam semoga tetap terlimpah curah kepada
junjunan kita Nabi Besar Muhammad Saw, kepada para keluarganya para sahabat
semuanya sampai kepada kita semua selaku umatnya yang senantiasa mengarap
syafaatnya diakhir zaman nanti.
Dalam penulisan makalah ini tidak terlepas dari berbagai pihak, untuk itu
kepada semua pihak yang sudah mendukung dalam pembuatan makalah ini baik
dukungan moril maupun materil penulis haturkan terimakasih yang sebesarbesarnya.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat
banyak kesalahan. Untuk itu segala kritik dan saran yang sifatnya membangun
sangat diharapkan. Semoga Bermanfaat

Jatinangor, Mei 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
Bab

Hal

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1

Latar Belakang......................................................................................1

1.2

Rumusan Masalah.................................................................................2

1.3

Tujuan....................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3
2.1

Vitamin..................................................................................................3

2.2

Fungsi Vitamin C Bagi Ikan..................................................................5

2.3

Avitaminosis C......................................................................................9

2.4
Penanggulangan Avitaminosis
C.........................................................9
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................10
3.1

Kesimpulan.........................................................................................10

3.2

Saran....................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................11

ii

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Perikanan adalah sektor yang sangat menjanjikan bagi masa depan

Nusantara. Semua orang mengetahui bagaimana potensi perikanan Indonesia yang


mampu menjadikannya negara maju di masa depan. Rahasia umum tersebut dapat
dilihat dari luasnya perairan laut Indonesia. Dalam praktiknya, potensi perikanan
Indonesia diperkaya dengan kemampuan membudidayakan ikan, baik ikan air
tawar maupun ikan laut. Komoditas non ikan pun ikut menjadi sorotan menarik
untuk peluang budidaya masyarakat. Dengan adanya budidaya, kegiatan produksi
sumber daya ikan akan dapat dimaksimalkan tanpa harus mengurangi populasi di
habitat aslinya.
Budidaya perikanan adalah . kegiatan ini menunjukan keadaan lingkungan
dan berbagai variabel yang terkontrol. Beberapa variabel utama dalam budidaya
diantaranya keadaan lingkungan, pakan, dan hasil panen. Adapun beberapa
kendala dalam budidaya perikanan diantaranya adalah penyakit yang diderita oeh
ikan. Biasanya penyakit tersebut diakibatkan secara alami, namun ada pula
penyakit yang diakibatkan oleh kesalahan teknis budidaya. Penyakit yang diderita
pada ikan ini tentu menurunkan nilai jual, bahkan memungkinkan ketidaklayakan
penjualan sehingga menyebabkan kerugian.
Salah satu penyakit yang menjadi kendala pembudidaya adalah
avitaminosis pada ikan. Avitaminosis adalah penyakit kekurangan vitamin C.
Vitamin C adalah vitamin yang berguna dalam kekebalan tubuh dan perbaikan sel
yang rusak. Sayangnya, vitamin C tidak semuanya mampu dicerna oleh ikan,
sehingga menjadi kendala bagi pembudidaya itu sendiri. Berbagai upaya petani
ikan pun dilakukan untuk menghindarinya, diantaranya modifikasi pakan, vaksin,
dan sebagainya. Pada makalah ini akan dibahas berbagai hal mengenai
avitaminosis pada ikan.
1.2

Rumusan Masalah

Dari peguraian sebelumnya, terdapat beberapa rumusan masalah sebagai


berukut,
1. Apa itu avitaminosis pada ikan?
2. Bagaimana gejala avitaminosis pada ikan?
3. Bagaimana penanggulangan avitaminosis pada ikan?
1.3

Tujuan
Berikut ini adalah tujuan yang diharapkan dari makalah ini, yaitu sebagai

berikut,
1. Mengetahui apa itu avitaminosis pada ikan;
2. Mengetahui gejala avitaminosis pada ikan;
3. Mengetahui penanggulangan avitaminosis pada ikan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Vitamin
Nama vitamin berasal dari gabungan kata bahasa Latin yaitu vita yang

artinya hidup dan amina (amine) yang mengacu pada suatu gugus organik yang
memiliki atom nitrogen (N), karena pada awalnya vitamin dianggap demikian.
Kelak diketahui bahwa banyak vitamin yang sama sekali tidak memiliki atom N.
Vitamin merupakan suatu komponen organik yang ada di dalam pakan
yang dibutuhkan dalam jumlah yang relatif sedikit untuk pertumbuhan, kesehatan,
dan memelihara fungsi-fungsi metabolisme tubuh. Suatu vitamin yang mungkin
esensial bagi suatu jenis hewan, mungkin tidak esensial bagi jenis hewan lain.
Meskipun dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil, defisiensi vitamin dapat
menyebabkan gejala mulai dari menurunnya nafsu makan sampai pada kerusakan
organ tubuh pada ikan.
Berdasarkan kelarutannya, vitamin digolongkan dalam dua kelompok,
yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air. Beberapa
vitamin larut lemak adalah vitamin A, D, E, dan K, yang hanya mengandung
unsur-unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. Sedangkan vitamin yang larut dalam
air terdiri atas asam askorbat (C) dan B-komplek (B1 sampai B12), yang selain
mengandung unsur-unsur karbon, hidrogen, oksigen, juga mengandung nitrogen,
sulfur atau kobalt.
Vitamin yang larut dalam lemak, yaitu A, D, E dan K, memiliki sifat-sifat
umum, antara lain tidak terdapat di semua jaringan; terdiri dari unsur-unsur
karbon, hidrogen dan oksigen; memiliki bentuk prekusor atau provitamin;
menyusun struktur jaringan tubuh; diserap bersama lemak; disimpan bersama
lemak dalam tubuh; diekskresi melalui feses; kurang stabil jika dibandingkan
vitamin B, dapat dipengaruhi oleh cahaya, oksidasi dan lain sebagainya.
Sedangkan vitamin yang larut dalam air memiliki sifat-sifat umum, antara lain
tidak hanya tersusun atas unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen; tidak
memiliki provitamin; terdapat di semua jaringan; sebagai prekusor enzim-enzim;
diserap dengan proses difusi biasa; tidak disimpan secara khusus dalam tubuh;
3

diekskresi melalui urin; relatif lebih stabil, namun pada temperatur berlebihan
menimbulkan kelabilan.
2.1.1

Vitamin C
Vitamin C merupakan jenis asam yang kita kenal dengan nama asam

askorbat. Vitamin C merupakan salah satu nutrien mikro yang berperan penting
dalam proses reproduksi, peningkatan hemoglobin darah, dan lain-lain. Struktur
molekul asam askorbat tampak seperti gambar 1.

Gambar 1. Struktur Vitamin C


Kebutuhan vitamin dalam peran aktif kecil jumlahnya, namun kekurangan
atau tanpa salah satu jenis vitamin akan besar pengaruhnya terhadap ikan karena
setiap jenis vitamin mempunyai peranan berbeda, misalnya vitamin C sangat
dibutuhkan untuk hidroksilasi proline dan lisin dalam pembentukan kolagen.
Vitamin C sangat penting untuk proses metabolisme normal sel. Beberapa
penelitian telah memperlihatkan bahwa suplementasi vitamin C dalam ransum
telah memperbaiki pertumbuhan dan meningkatkan kelangsungan hidup. Dalam
metabolisme, vitamin C berperan sebagai kofaktor reaksi-reaksi hidroksilasi
dalam sel, agen reaksi redoks, anti oksidan, lipolisis dan lipogenesis.
Vitamin C merupakan vitamin yang mudah diserap oleh saluran pencernaan.
Kelenjar adrenalin mengandung vitamin C yang sangat tinggi (Winarno 1992).
Vitamin C mempunyai banyak fungsi dalam kaitannya dengan respirasi sel dan
kerja enzim Vitamin C (ascorbic acid;AA) dapat meningkatkan pertumbuhan ikan
(Lovel 1984, Lee and Bai 1998).

2.2

Fungsi Vitamin C Bagi Ikan


Fungsi biologi vitamin C dalam kehidupan organisme secara umum

sebagai bahan redox pelarut dalam air, co-factor dalam sintesis kollagen, pemacu
pertumbuhan, pengatur sintesis hormon, sebagai pemacu modular hexose
monophosphate dan indikator dari hepatimicrosomal hydroxylase dan sebagai
immunostimulator pada ikan.
Kebutuhan vitamin C dalam peran aktif kecil jumlahnya, namun
kekurangan atau tanpa salah satu jenis vitamin akan besar pengaruhnya terhadap
ikan karena setiap jenis vitamin mempunyai peranan berbeda. Terdapat berbagai
macam fungsi vitamin C bagi tubuh ikan, diantaranya adalah sebagai berikut :
2.2.1

Berperan penting dalam proses reproduksi.


Vitamin C (asam ascorbic) adalah salah satu diantara vitamin penting yang

diperlukan untuk meningkatkan reproduksi ikan. Asam ascorbic adalah suatu


kofaktor dalam biosintesis hormon steroid dan neurohormon. Pada ikan, asam
ascorbic memainkan suatu peran penting dalam aturan diet ikan untuk memacu
peningkatan reproduksi. Ascorbyl monophosphate adalah sumber yang baik dari
asam ascorbic stabil dan secara efisien akan ditransfer ke telor dan offspring
sebagai produk reproduksi ikan. Korelasi langsung antara tingkat penetasan dan
konsentrasi telor dari asam ascorbic telah diteliti. Disisi lain, penurunan
konsentrasi asam ascorbic dapat menjadi penanggung jawab untuk penurunan
viabilitas sperma.
Pada calon induk Rainbow Trout, tingkat suplementasi dari 115 mg asam
ascorbic/kg pakan meningkatkan secara signifikan jumlah dari penetasan telor
dibandingkan pada telor ikan tanpa pemberian pakan suplemen asam ascorbic.
Dapat disimpulkan bahwa calon induk (broodstock) ikan harus hidup dengan
sejumlah vitamin yang cukup untuk menyediakan telor sebanyak lebih dari 20 g
asam ascorbic/g.
Kandungan vitamin C dalam ovarium akan meningkat pada awal
perkembangannya dan kemudian menurun pada fase akhir sebelum ovulasi. Pada
proses vitelogenesis vitamin C memainkan peranan penting dalam reaksi

hidroksolasi biosintesis hormon steroid (Horning et al. 1994). Selain itu, vitamin
C juga berfungsi sebagai anti oksidan (Goodman 1994) dan akan melindungi
kolesterol yang merupakan sumber bahan baku untuk biosintesis hormon steroid,
dari kerusakan akibat terjadinya proses oksidasi oleh oksigen.
Dalam proses hidroksilasi prolin dan lisin yaitu dua asam amino yang
merupakan komponen utama kolagen dalam vitamin C. Kolagen merupakan
penyusun utama dinding kantong kuning telur, terjadinya akumulasi vitamin C di
jaringan kolagen yang mengintari sel telur, sehingga pasa saat gonad berkembang
vitamin C ini digunakan untuk reaksi hidroksilasi pembentukan jaringan kolagen
dari senyawa lisin dan prolin (Goodman, 1994). Ikan tidak mampu mensintensis
vitamin C (Faster dalam Sandnes, 1991) sehingga untuk mempertahankan
metabolisme sel, vitamin C mutlak harus diperoleh dari luar tubuh karena tidak
terdapat enzim L-gulonolakton oksidase yang dibutuhkan untuk biosintesis
vitamin C (Dabrowski, 2002).
2.2.2

Berperan penting terhadap peningkatan hemoglobin darah.


Saat ini penelitian tentang hubungan vitamin C dengan kondisi darah ikan

belum banyak dilakukan, padahal darah mempunyai peranan yang vital dalam
kehidupan dan pertumbuhan ikan yaitu sebagai alat transportasi sari-sari makanan
hasil proses pencernaan dari usus ke seluruh jaringan tubuh.
Hemoglobin merupakan salah satu bagian dari darah, dimana hemoglobin
mempunyai peranan penting dalam pembentukan sel darah merah. Hemoglobin
membawa oksigen dari paru-paru menuju jantung, dan apabila terjadi pendarahan
maka darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah yang sesuai. Vitamin
C mempunyai peran dalam pembentukan hemoglobin dalam darah, dimana
vitamin C membantu penyerapan zat besi dari makanan sehingga dapat diproses
menjadi sel darah merah kembali. Dengan meningkatkan hemoglobin dalam darah
maka asupan makanan dan oksigen dalam darah dapat diedarkan ke seluruh
jaringan tubuh yang akhirnya dapat mendukung kelangsungsungan hidup dan
pertumbuhan ikan (Suhartono et al., 2004; Wikipedia, 2008).

Melihat pentingnya peranan vitamin C, maka dicoba untuk mencari level


optimumnya terhadap peningkatan hemoglobin darah dan kelulushidupan benih
ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis). Dari penelitian yang telah dilakukan
dapat disimpulkan bahwa pemberian vitamin C dalam pakan dapat meningkatkan
kadar hemoglobin darah, sedangkan pemberian pakan tanpa penambahan vitamin
C tidak dapat meningkatkan kadar hemoglobin. Pemberian vitamin C dengan
jumlah yang berbeda didalam pakan memberikan pengaruh nyata (P < 0,05)
terhadap peningkatan hemoglobin darah tetapi tidak memberikan pengaruh (P >
0,05) terhadap kelulushidupan ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis).
Pemberian vitamin C sebanyak 2 g/kg pakan adalah optimal karena menghasilkan
peningkatan hemoglobin darah tertinggi dan kelulushidupan ikan kerapu bebek
100%.
2.2.3

Berperan penting dalam proses metabolisme makanan.


Penggunaan vitamin C yang diaplikasikan pada pakan ikan dapat

mengurangi tingkat stress pada ikan. Vitamin C penting bagi ikan karena
mempunyai banyak fungsi dalam metabolisme tubuh (Masumoto 1991), bahkan
dapat sebagai faktor pembatas pertumbuhan bila terjadi defisiensi (Silva dan
Anderson 1995).
Vitamin C sangat penting untuk proses metabolisme normal sel. Beberapa
penelitian telah memperlihatkan bahwa suplementasi vitamin C dalam ransum
telah memperbaiki pertumbuhan dan meningkatkan kelangsungan hidup. Dalam
metabolisme, vitamin C berperan sebagai kofaktor reaksi-reaksi hidroksilasi
dalam sel, agen reaksi redoks, anti oksidan, lipolisis dan lipogenesis.
Namun ikan tidak mampu mensintesis vitamin C disebabkan tidak
tersedianya L-gulunolakton, sebagai reaksi tahap akhir sintesis vitamin C,
sehingga untuk mencukupi kebutuhan vitamin C dalam menjaga fungsi normal sel
dibutuhkan suplementasi vitamin C dari luar tubuh. Vitamin C penting bagi
pertumbuhan ikan, karena berperan dalam banyak metabolisme tubuh.
Pengaruhnya terhadap pertumbuhan ikan dijelaskan oleh Masumoto et al (1991)
berkaitan dengan pembentukan kolagen pada ikan. Pembentukan kolagen penting

untuk pertumbuhan normal ikan karena kolagen merupakan komponen utama


pada matriks tulang. Vitamin C diserap dengan cepat pada jaringan dimana
kolagen dibentuk, yaitu di kulit, sirip punggung, tulang rawan mulut, kepala,
rahang, tulang rawan penunjang insang dan tulang ikan. Peranan vitamin C dalam
sintesis kolagen dimulai dari proses hidrolsilasi dua asam amino prolin dan lisin
menjadi hidroksiprolin dan hidroksilisin. Kedua asam amino ini merupakan
komponen utama dalam formulasi kolagen.
Dalam prosesnya melibatkan enzim prolil lisil hidroksilase, oksigen, ion
fero, -ketoglutarat dan vitamin C. Peranan utama vitamin C pada reaksi ini adalah
untuk merubah feri (Fe3+) menjadi fero (Fe2+) atau untuk mempertahankan
bentuk ion fero. Pembentukan kolagen yang optimal sangat ditentukan oleh cukup
tidaknya kadar vitamin C dalam pakan. Kanawaza et al (1992) menunjukkan
bahwa penambahan APM (L-ascorbyl-2-phosphate magnesium) sebanyak 3-6
gram/kg pakan memberikan pertumbuhan terbaik dan dapat mencegah terjadinya
gejala defisiensi pada ikan yellowtail (Seriola quingueradiata). Percobaan yang
dilakukan Nuranto (1991) menunjukkan bahwa pada ikan lele dengan panjang 7-8
cm membutuhkan kadar vitamin C dalam pakan sebanyak 100 mg/kg pakan.
Sedangkan kadar vitamin 25 mg/kg pakan memperlihatkan gejala defisiensi.
Percobaan Subyakto (2000) menunjukkan bahwa kadar APM 25 mg/kg pakan
memberikan pertumbuhan terbaik juvenil kerapu tikus (Cromileptes altivelis).
Sedangkan untuk pertumbuhan optimal channel catfish (Clarias gariepinus)
dibutuhkan kadar vitamin C (ascorbyl-phosphate ester) sebesar 25 mg/kg pakan
(Merchi et al, 1997). Selain itu, penambahan (enrichment) vitamin C juga bisa
dilakukan terhadap pakan alami. Penambahan vitamin C pada pakan alami
(Daphnia sp) dengan 2.0 g/l ascorbic acid-ethyl cellulose memberikan pengaruh
terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang baik bagi ikan. Seperti
halnya yang telah dilakukan oleh Kemala (2003) terhadap benih ikan gurame yang
berumur satu hari.

2.3

Avitaminosis C
Avitaminosis

adalah

keadaan

kekurangan

vitamin

dalam

tubuh.

Avitaminosis terjadi apabila vitamin yang masuk kedalam tubuh lebih sedikit
dibandingkan kebutuhan badan.
Avitaminosis C merupakan keadaan dimana tubuh kekurangan vitamin C.
Kekurangan vitamin C pada tilapia dapat menyebabkan scoliosis, lordosis,
mengurangi pertumbuhan, mengurangi perbaikan luka, hemorrhage internal dan
eksternal, erosi sirip caudal, exophthalmia, kekurangan darah merah dan
mengurangi kemampuan penetesan telor (hatchability. Pada sisi lain, suplemen
dari asam ascorbic pada calon induk (broodstock) dalam pemberian pakan secaras
signifikan akan meningkatkan hatchabilitas telor.
Kebutuhan vitamin C tergantung pada umur ikan. Penelitian melaporkan
ikan rainbow trout dewasa yang diberi pakan dengan diet tanpa asam ascorbic
untuk 21 bulan termasuk fase perkembangan gonadal, menunjukkan tidak ada
tanda makroskopik avitaminosis C dan tidak ada kematian yang meningkat
dibandingkan dengan kelompok kontrol.
2.4

Penanggulangan Avitaminosis C
Cara menanggulangi terjadinya avitaminosis C pada ikan, dapat dilakukan

dengan cara menambahkan kandungan vitamin C pada pakannya, karena dalam


penelitian beberapa peneliti menyimpulkan bahwa pemberian vitamin C pada
pakan ikan nila mampu meningkatkan level antibodi serta ketahanan ikan
terhadap infeksi penyakit bakterial yang disebabkan oleh Streptococus iniae.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
1
2
3

3.1 Kesimpulan
Berikut ini adalah kesimpulan dari pembahasan materi, yaitu sebagai
berikut,
1. Avitaminosis pada ikan adalah keadaan kekurangan vitamin dalam tubuh
ikan. Avitaminosis terjadi apabila vitamin C yang masuk kedalam tubuh
lebih sedikit dibandingkan kebutuhannya.
2. Gejala ikan yang menderita avitaminosis adalah mudah terserang penyakit,
ikan mudah stres, mudah mengalami luka, dan penurunan jumlah
hemoglobin.
3. Penanggulangan yang dapat dilakukan pada ikan yang menderita
avitaminosis adalah menambahkan vitamin C pada pakan buatan, baik
secara alami maupun sintetis.

3.2 Saran
Materi mengenai avitaminosis pada ikan merupakan materi yang sangat
menarik. Selain belum banyak orang yang mengetahuinya, keberadaan unsur ini
memang sangat jarang diperhatikan, terutama pada sektor perikanan. Sebaiknya
dilakukan penelitian intensif mengenai peran vitamin C pada setiap golongan
ikan, terutama golongan ikan karnivora yang hanya mampu mensintesis protein
hewani, sementara vitamin C banyak ditemukan pada protein nabati. Selain itu,
studi mengenai gejala pada ikan penderita avitaminosis juga diperlukan untuk
mendukung data-data faktual yang dapat menyelesaikan permasalahan masyarakat
terutama dalam sektor perikanan.

10

DAFTAR PUSTAKA
Kursistiyanto, N., dkk. 2013. Penambahan Vitamin C pada Pakan dan
Pengaruhnya Terhadap Respon Osmotik, Efisiensi Pakan dan Pertumbuhan
Ikan Nila Gesit (Oreochromis sp) pada Media dengan Osmolaritas Berbeda.
Jurnal Saintek Perikanan. Vol 8 [2]: 66-75.
Sinjal, Hengky. 2014. Pengaruh Vitamin C Terhadap Perkembangan Gonad,
Daya Telur, dan Sintasan Larva Ikan Lele Dumbo (Clarias sp). Jurnal
Budidaya Perairan. Vol 2 [1]: 22-29.
Siregar, YI dan Adelina. 2008. Pengaruh Vitamin C Terhadap Peningkatan
Hemoglobin (Hb) Darah dan Kelulushidupan Benih Ikan Kerapu Bebek
(Cromileptes altivelis). Jurnal Natur Indonesia. Vol 12 [1].

11