Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

KIMIA FARMASI ANALISA II


SALBUTAMOL

Oleh :
Kelompok
Ali Rahman Hakim J1E106228
Wenny Theresia Sinaga J1E108051
Ryan M Fahlevi J1E108053
Desyana Nufus Sholeha J1E108054
Ridha Meisya J1E108055
Gt. Insan Mandala Putra J1E108056

Dosen:
Nurlely,S.farm.,Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2010
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan


makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolonganNya mungkin penyusun
tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. Makalah ini disusun agar
pembaca dapat mengetahui apa itu spektroskopi dan bagaimana cara
menggunakannya.
Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu
yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan
penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang
telah banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini. Semoga
makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon
untuk saran dan kritiknya.
Terima kasih.

Banjarbaru, 28 Maret 2010

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................ii

DAFTAR ISI ................................................................................iii

BAB I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang ..................................................................................1
I.2 Tujuan Penulisan ..................................................................................2
I.3 Metode Penulisan ..................................................................................2
BAB II. ISI
II.1 Deskripsi Salbutamol ...............................................................................3
II.2 Struktur Kimia Salbutamol.......................................................................4
II.3 Penggunaan Salbutamol...........................................................................5
II.4 Kontraindikasi Salbutamol.......................................................................5
BAB III. PENUTUP
III.1 Kesimpulan ..................................................................................7
III.2 Saran ..................................................................................7

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Asma merupakan penyakit yang membutuhkan terapi jangka panjang.


Karena itu penatalaksanaan jangka panjang juga memerlukan pemahaman
penderita akan seluk beluk penyakitnya sehingga akan meningkatkan adheresi
terhadap penatalaksanaan asma yang tepat dan benar, serta dapat memberikan
dampak positif terhadap komponen farmakoekonomik.
Untuk ibu hamil yang mengidap asma, penanganan asma selama masa
kehamilan dengan obat-obat asma perlu perhatian khusus. Tidak semua jenis
obat asma dapat dikonsumsi oleh wanita hamil. Obat-obat jenis beta agonis
adalah yang paling sering diberikan karena menurut hasil riset obat-obat beta
agonis tidak meningkatkan risiko timbulnya kelainan kongenital dan kelainan
lain. Albuterol atau salbutamol adalah jenis beta agonis yang paling banyak
digunakan.
Beta agonis aksi pendek, seperti Albuterol atau salbutamol,
direkomendasikan sebagai pengobatan untuk semua pasien asma dalam terapi
asma akut. Apabila beta agonis tidak memberikan perbaikan, pada terapi
asma akut secara umum dan pada wanita hamil dapat disertakan pemberian
bronkodilator seperti Nebulized Ipratropium. Obat-obatan terbaru yang
digunakan untuk penatalaksanaan asma melibatkan obat-obat leukotriene
modifier (zileuton, zafirlukast, dan montelukast). Obat-obat jenis ini efektif
dalam terapi asma menetap ringan sampai sedang pada wanita hamil (ITA).
Salbutamol sulfat merupakan obat golongan beta agonis yang selektif
pada reseptor β-2, banyak digunakan sebagai bronkodilator oral pada pasien
asma akut atau pada pasien dengan obstruksi paru kronis. Dengn waktu paruh
sekitar 4-6 jam maka pasien akan mengkonsumsi obat tersebut dengan
frekuensi yang cukup sering. Oleh karena itu dikembangkan sediaan lepas
lambat, salah satunya mikrokapsul, untuk upaya menurunkan frekuensi
pengguna an sehingga dapat meningkatkan kenyamanan pasien.
Pada makalah ini dibahas secara umum, deskripsi salbutamol,
penggunaan salbutamol, kontraindikasi dan analisanya baik secara kualitatif
dan kuantitatif.

I.2 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :


1. Memberikan penjelasan tentang kegunaan salbutamol.
2. Memberikan penjelasan tentang metode analisis kualitatif
salbutamol.
3. Memberikan penjelasan tentang metode analisis kuantitatif
salbutamol.

I.3 Metode Penulisan

Makalah ini disusun dengan metode penulisan berdasarkan penulusuran


literatur dari internet dan studi pustaka.
BAB II
ISI

II.1 Deskripsi Salbutamol

Salbutamol merupakan salah satu bronkodilator yang paling aman


dan paling efektif. Tidak salah jika obat ini banyak digunakan untuk
pengobatan asma. Selain untuk membuka saluran pernafasan yang
menyempit, obat ini juga efektif untuk mencegah timbulnya exercise-
induced broncospasm (penyempitan saluran pernafasan akibat olahraga).
Saat ini, salbutamol telah banyak beredar di pasaran dengan berbagai merk
dagang, antara lain: Asmacare, Bronchosal, Buventol Easyhaler, Glisend,
Ventolin, Venasma, Volmax, dll. Selain itu, salbutamol juga telah tersedia
dalam berbagai bentuk sediaan mulai dari sediaan oral (tablet, sirup,
kapsul), inhalasi aerosol, inhalasi cair sampai injeksi.
Secara umum sifat fisikokimia dari salbutamol adalah serbuk
berbentuk kristal, berwarna putih atau hampir putih. Larut dalam alkohol,
sedikit larut dalam air. Terlindung dari cahaya. Salbutamol termasuk dalam
golongan Antiasma dan obat untuk penyakit paru obstruktif kronik

Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Salbutamol


Oral (Lebih dipilih dengan inhalasi) :
Dewasa : dosis 4mg (orang lanjut usia dan penderita yang peka awali
dengan dosis awal 2 mg) 3-4 kali sehari; dosis maksimal 8mg dalam dosis
tunggal ( tetapi jarang memberikan keuntungan ekstra atau dapat ditoleransi
dengan baik). Anak-anak dibawah 2 tahun : 100 mcg/kg 4 kali sehari
(unlicensed); 2-6 tahun 1-2 mg 3-4 kali sehari; 6-12 tahun 2 mg 3-4 kali
sehari. Injeksi s.c / i.m 500mcg ulangi tiap 4 jam bila perlu.
Injeksi
injeksi IV bolus pelan 250 mcg diulangi bila perlu. IV infus, dosis awal
5mcg/menit, disesuaikan dengan respon dan nadi, biasanya dalam interval
3-20 mcg/menit, atau lebih bila perlu. Anak-anak 1-12 bulan 0,1-1
mcg/kg/menit (unlicensed).
Inhalasi
Dewasa : 100-200 mcg (1-2 semprot); untuk gejala yang menetap
boleh diberikan sampai 4 kali sehari. Anak-anak : 100mcg (1 semprot),
dapat ditingkatkan sampai 200 mcg (2 semprot) bila perlu; untuk gejala
menetap boleh diberikan sampai 4 kali sehari. Profilaksis pada exercise-
induced bronchospasm, Dewasa 200mcg (2 semprot); anak-anak 100mcg (1
semprot), ditingkatkan sampai 200mcg (2 semprot) bila perlu. Serbuk
inhalasi : Dewasa 200-400 mcg; untuk gejala yang menetap boleh diberikan
sampai 4 kali sehari; anak-anak 200mcg. Profilaksis untuk exercise-induced
bronchospasm Dewasa 400mcg; anak-anak 200 mcg.

II.2 Struktur Kimia, Identifikasi serta penetapan kadar

Gambar 1. Struktur Kimia Salbutamol


Nama lain : 2Hydroxy 4-1-cl Hydroxy - 2tert-Butylamino-1-(4-hydroxy-3-
hydroxymethylphenyl).
Identifikasi : Serapan inframerah zat yang didespersikan dalam kalium
bromide P, menunjukkan maksimum hanya pada panjang gelombang yang
sama seperti pada Salbutamol BPFI. Spektrum serapan ultraviolet larutan
dalam asam klorida 0,1 N (1 dalam 12.500) menunjukkan maksimum dan
minimum pada panjang gelombang yang sama seperti salbutamol BPFI.
Penetapan kadar dengan menimbang seksama lebih kurang 400 mg,
larutkan dalam 50 ml asam asetat glacial P, titrasi dengan asam perklorat 0,1
N LV mernggunaka indikator 2 tetes Kristal violet LP, Lakukan penetapan
blangko. 1 ml asam perklorat 0,1 N setara dengan 23,93 mg salbutamol
(Dinkes, 1995).

II.3 Penggunaan Salbutamol


Asma merupakan penyakit kronik saluran pernafasan yang dapat
menjangkiti semua usia. Gejala-gejala yang menyertai asma menimbulkan
gangguan aktivitas sehari-hari. Pasien asma memiliki kepekaan saluran
pernafasan yang berlebih (hipersensitif) sehingga mudah bereaksi pada zat
yang masuk ke saluran napas. Reaksi terhadap benda asing berupa
penyempitan atau pemblokan saluran napas, ditandai dengan nafas
berbunyi, batuk, tersengal, dan penyempitan rongga dada. Kondisi yang
memicu asma adalah, inflamasi (iritasi atau peradangan) atau
bronchoconstriction (penciutan atau kontraksi otot di saluran pernafasan)
(farmacia, 2006)
Pada terapi pengobatan gangguan pernafasan obat salbutamol sudah
tidak asing lagi dipergunakan. Salbutamol merupakan salah satu
bronkodilator yang paling aman dan paling efektif. Tidak salah jika obat ini
banyak digunakan untuk pengobatan asma. Selain untuk membuka saluran
pernafasan yang menyempit, obat ini juga efektif untuk mencegah
timbulnya exercise-induced broncospasm (penyempitan saluran pernafasan
akibat olahraga). Saat ini, salbutamol telah banyak beredar di pasaran
dengan berbagai merk dagang, antara lain: Asmacare, Bronchosal, Buventol
Easyhaler, Glisend, Ventolin, Venasma, Volmax, dll. Selain itu, salbutamol
juga telah tersedia dalam berbagai bentuk sediaan mulai dari sediaan oral
(tablet, sirup, kapsul), inhalasi aerosol, inhalasi cair sampai injeksi.
Albuterol atau salbutamol, direkomendasikan sebagai pengobatan untuk
semua pasien asma dalam terapi asma akut.

II.3 Kontraindikasi Salbutamol


Pada hipertiroid, insufisiensi miokardial, aritmia, rentan terhadap
perpanjangan interval QT, hipertensi, kehamilan (dosis tinggi sebaiknya
diberikan melalui inhalasi karena pemberian melalui pembuluh darah dapat
mempengaruhi miometrium dan dapat mengakibatkan gangguan jantung),
menyusui; diabetes mellitus, terutama pemberian melalui pembuluh darah
(pantau kadar gula darah, dilaporkan ketoasidosis)
Untuk asma jika dosis tinggi diperlukan selama kehamilan maka
sebaiknya diberikan dengan inhalasi kaerna pemberian intravena dapat
mempengaruhi miometrium. Mungkin muncul di ASI; pabrik menyarankan
untuk dihindari kecuali manfaat jauh lebih besar dari risiko- jumlah dari
obat yang diinhalasi pada ASI mungkin terlalu kecil untuk membahayakan.
BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah:


1. Salbutamol merupakan salah satu bronkodilator yang paling aman dan
paling efektif dan banyak digunakan untuk pengobatan asma.
2. Nama lain dari salbutamol 2Hydroxy 4-1-cl Hydroxy - 2tert-Butylamino-
1-(4-hydroxy-3-hydroxymethylphenyl).
3. Salbutamol termasuk dalam golongan Antiasma dan obat untuk penyakit
paru obstruktif kronik
4. Asma merupakan penyakit kronik saluran pernafasan dengan kepekaan
saluran pernafasan yang berlebih (hipersensitif) sehingga mudah bereaksi
pada zat yang masuk ke saluran napas.

III.2 Saran

Saran yang dapat kami berikan yaitu penggunaan salbutamol secara


rasional diperhatikan. Hal ini berhubungan dengan penyakit asma yang
merupakan penyakit yang cukup banyak dialami masyarakat dan salbutamol
yang merupakan obat esensial.
DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 2006. Mengefektifkan Salbutamol Inhalasi.


http//www.farmacia.com
diakses tanggal 29 Maret 2010

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia. Jakarta.