Anda di halaman 1dari 15

Teori Residu (Teori Catur Praja)

Van Vollenhoven menganjurkan teori Catur Praja (Quarto Politica) yang terdiri atas penyelenggara
pemerintahan (bestuur), kepolisian, peradilan, dan legislatif. Menyelenggarakan pemerintahan
mangandung makna proaktif, dan van Vollenhoven memperkenalkan prinsip vrijbestuur dalam
penyelenggaraan pemerintahan, yaitu kewajiban dan hak yang melekat pada diri pejabat publik
begitu diangkat.
Kewajibannya menganut stelsel residual theory, yaitu melaksanakan tugas apa saja meskipun tidak
dinyatakan secara eksplisit, selain tugas-tugas kepolisian, peradilan, dan legislatif. Untuk
melaksanakan kewajiban ini pemerintah memiliki diskresi atau kebebasan bertindak dengan prinsip
freies ermessen demi menjaga kepentingan rakyat.
Berdasarkan teori residu dari Van Vollenhoven dalam bukunya Omtrek Van Het Administratief
Recht, membagi kekuasaan/fungsi pemerintah menjadi empat yang dikenal dengan teori catur
praja yaitu:
1) Fungsi memerintah (bestuur)
Dalam negara yang modern fungsi bestuur yaitu mempunyai tugas yang sangat luas, tidak hanya
terbatas pada pelaksaan undang-undang saja. Pemerintah banyak mencampuri urusan kehidupan
masyarakat, baik dalam bidang ekonomi, sosial budaya maupun politik.
2) Fungsi polisi (politie)
Merupakan fungsi untuk melaksanakan pengawasan secara preventif yaikni memaksa penduduk
suatu wilayah untuk mentaati ketertiban hukum serta mengadakan penjagaan sebelumnya
(preventif), agar tata tertib dalam masyarakat tersebut tetap terpelihara.
3) Fungsi mengadili (justitie)
Adalah fungsi pengawasan yang represif sifatnya yang berarti fungsi ini melaksanakan yang
konkret, supaya perselisihan tersebut dapat diselesaikan berdasarkan peraturan hukum dengan
seadil-adilnya.
4) Fungsi mengatur (regelaar)
Yaitu suatu tugas perundangan untuk mendapatkan atau memperoleh seluruh hasil legislatif dalam
arti material. Adapun hasil dari fungsi pengaturan ini tidaklah undang-undang dalam arti formil
(yang dibuat oleh presiden dan DPR), melainkan undang-undang dalam arti material yaitu setiap
peraturan dan ketetapan yang dibuat oleh pemerintah mempunyai daya ikat terhadap semua atau
sebagian penduduk wilayah dari suatu negara.

Pemikiran Montesqieu Mengenai Trias Politika


15 12 2009

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Meskipun pada dasarnya konsep tentang pemisahan kekuasaan telah banyak dikaji oleh para
pemikir sebelum Montesquieu seperti yang serupa dengan pemikirannya yaitu John Locke,
namun apa yang dilakukan oleh Montesquieu dalam merumuskan mesin politik formal dalam
struktur politik teori pemisahan kekuasaan pemerintah.
Trias Politika yang kini banyak diterapkan adalah, pemisahan kekuasaan kepada 3 lembaga
berbeda : Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif. Dari ketiga lembaga itu masing-masing
mempunyai peranan dan tanggungjawab tersendiri dalam mengemudikan jalannya suatu
pemerintahan yang berdiri disuatu negara.
Tak heran hampir seluruh negara-negara di dunia menerapakan konsep ini dalam kehidupan
berpolitiknya karena konsep tersebut merupakan cara-cara untuk berpolitik secara demokratis
dengan harapan jalannya pemerintahan negara tidak timpang, terhindar dari korupsi
pemerintahan oleh satu lembaga, dan akan memunculkan mekanisme check and balances (saling
koreksi, saling mengimbangi). Kendatipun demikian, jalannya Trias Politika di tiap negara tidak
selamanya mulus atau tanpa halangan.[1]
Tertarik dengan latar belakang tersebut, maka penulis mencoba untuk mengangkat permasalahan
tersebut dan menuangkannya dalam makalah dengan judul PEMIKIRAN MONTESQIEU
MENGENAI TRIAS POLITIKA.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan diatas, maka penulis mencoba untuk
mengidentifikasi masalah yang menjadi topik pembahasan dalam penulisan pemikiran politik
barat ini, yaitu :
1. Bagaimana konsep Trias Politika yang dikemukakan oleh Montesquieu?

C. Pokok Masalah
Montesquieu menawarkan suatu konsep mengenai kehidupan bernegara dengan melakukan
pemisahan kekuasaan yang diharapkan dapat saling lepas dan dalam tingkat yang sama. Hal ini
berarti bahwa lembaga-lembaga negara dipisahkan sehingga dapat saling mengawasi dan
mengontrol satu sama lain.
Suatu negara bisa dikatakan sebagai negara yang berdemokrasi dalam kehidupan berpolitik dan
bernegaranya apabila diterapkannya konsep trias politika ditubuh bangsa tersebut. Dengan
melakukan pemisahan-pemisahan kekuasaan antar satu lembaga dengan lembaga lain
memungkinkan kontrol dan pengawasan akan lembaga tersebut akan dapat dicapai dengan
maksimal. Karena pada dasarnya kekuasaan di suatu negara tidak bisa hanya dilimpahkan di satu
lembaga yang independen saja, namun harus dikelola dengan beberapa lembaha independen
lainnya (legislatif, eksekutif, dan yudikatif).
Disini dapat dilihat bagaimana lembaga-lembaga tersebut seperti legislatif yang bertugas sebagai
pembuat undang-undang, eksekutif yang bertugas sebagai pelaksana undang-udang, dan
yudikatif yang bertugas sebagai pelaksana peradilan[2] dapat saling mengawasi dan mengontrol
agar jalannya kehidupan berdemokrasi dapat berlangsung.
BAB II
TINJAUAN TEORITIK
Trias Politika berasal dari bahasa Yunani (Tri=tiga; As=poros/pusat; Politika=kekuasaan) yang
merupakan salah satu pilar demokrasi, prinsip trias politika membagi ketiga kekuasaan politik
negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara
yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yang sejajar satu sama lain.
Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga
negara ini bisa saling mengawasi dan saling mengontrol berdasarkan prinsip checks and
balances.
Konsep dasarnya adalah kekuasaan di suatu negara tidak boleh dilimpahkan pada satu struktur
kekuasaan politik melainkan harus terpisah di lembaga-lembaga negara yang berbeda. Lembagalembaga negara tersebut adalah lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan untuk
mewujudkan dan melaksanakan kewenangan eksekutif, lembaga-lembaga pengadilan yang
berwenang menyelenggarakan kekuasaan judikatif dan lembaga-lembaga perwakilan rakyat
(DPR, untuk Indonesia) yang memiliki kewenangan menjalankan kekuasaan legislatif. Di bawah
sistem ini, keputusan legislatif dibuat oleh masyarakat atau oleh wakil yang wajib bekerja dan
bertindak sesuai aspirasi masyarakat yang diwakilinya (konstituen) dan yang memilihnya melalui
proses pemilihan umum legislatif, selain sesuai hukum dan peraturan. Dengan adanya pemisahan

kekuasaan ini, akan terjamin kebebasan pembuatan undang-undang oleh parlemen, pelaksanaan
undang-undang oleh lembaga peradilan, dan pelaksanaan pekerjaan negara sehari-hari oleh
pemerintah.[3]
Dalam filsafat ilmu politik pemikiran Montesquieu mengenai Trias Politika berkaitan dengan
aliran filsafat idealisme karena sangat menekankan kepada demokrasi dalam tubuh pemerintahan
yang tidak dapat ditemui dalam aliran filsafat lainnya.
BAB III
GAMBARAN UMUM MONTESQUIEU
Montesqiueau yang mempunyai nama panjang Charles-Louis de Secondat, baron de La Brde
et de Montesquieu. Lahir pada tanggal 18 January 1689 di Bordeaux dan wafat pada tanggal 10
February 1755. Ibunya wafat ketika ia masih berusia 7 tahun, ayahnya meninggal pada tahun
1713, ketika ia berusia 24 tahun. Kemudian Montesqiueau diasuh oleh pamannya, Jean Bastite
de Secondat. Seorang pastur kaya dan terhormat. Ia mendalami hokum dan pernah menjadi
praktisi hukum di pengadilan[4]. Setelah menyelesaikan di Catholic College of julily ia menikah
dengan istrinya Jeanne de Lartigue pada usia 26 tahun. [5]
Sesudahnya dia mencapai kesuksesannya di literature dengan dipublkasikannya Letters
persanaes. Seorang imajinasi koresponden Persia yang berkunjung ke paris dan mencermati
kontraporer sosialnya. Lalu karya selanjutnya ialah mengenai kebangkitan dan kejatuhan
Romawi, The Cosiderations on the causes of the Grandeur and Decadance of the Roman yang
mirip sebuah novel dan yang paling terbaik ialah karyanya yag bejudul Spirits Of The Laws.
Berisi konsep hukum modern yang didalamnya terdapat konsep Trias Politika.
Montesquieu dalam kehidupannya senang melakukan perjalanan tak heran hamper semua Negara
besar di Eropa telah ia kunjungi. Dia pernah mengunjungi Jerman, Australia, Belanda, Italia, dll.
Kunjungannya itu bermakna sangat penting atas hasil pemikirannya dimasa depan.
Pengalamannya itu memberikan inspirasi, pengalaman dalam pengembangan konsep Trias
Politika di masa depan.
BAB IV
KONSEP TRIAS POLITIKA
Konsep Trias Politika merupakan ide pokok dalam Demokrasi Barat, yang mulai berkembang di
Eropa pada abad XVII dan XVIII . Trias Politika adalah anggapan bahwa kekuasaan negara
terdiri dari tiga macam kekuasaan : pertama, kekuasaan legislatif atau membuat undang-undang;
kedua, kekuasaan eksekutif atau kekuasaan melaksanakan undang-undang; ketiga, kekuasaan
yudikatif atau kekuasaan mengadili atas pelanggaran undang-undang.

Trias Politica menganggap kekuasaan-kekuasaan ini sebaiknya tidak diserahkan kepada orang
yang sama untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak yang berkuasa. Dengan
demikian diharapkan hak-hak asasi warga negara dapat lebih terjamin. Konsep ini pertama kali
diperkenalkan dibukunya yang berjudul, LEsprit des Lois (The Spirit of Laws). Sebelumnya
konsep ini telah diperkenalkan oleh John Locke. Filsuf Inggris mengemukakan konsep tersebut
dalam bukunya Two Treatises on Civil Government (1690), yang ditulisnya sebagai kritik
terhadap kekuasaan absolut raja-raja Stuart di Inggris serta untuk membenarkan Revolusi
Gemilang tahun 1688 (The Glorious Revolution of 1688) yang telah dimenangkan oleh Parlemen
Inggris.
Ide pemisahan kekuasaan tersebut, menurut Montesquieu, dimaksudkan untuk memelihara
kebebasan politik, yang tidak akan terwujud kecuali bila terdapat keamanan masyarakat dalam
negeri. Montesquieu menekankan bahwa seseorang akan cenderung untuk mendominasi
kekuasaan dan merusak keamanan masyarakat tersebut bila kekuasaan terpusat pada tangannya.
Oleh karenanya, dia berpendapat bahwa agar pemusatan kekuasaan tidak terjadi, haruslah ada
pemisahan kekuasaan yang akan mencegah adanya dominasi satu kekuasaan terhadap kekuasaan
lainnya
Karya Montesqiueau ini hampir diterapkan diseluruh Negara didunia yang menganut Demokrasi
termasuk juga Indonesia. Di Negara Komunis yang hanya mempunya satu partai cenderung
menjauhi konsep Trias Politica terlihat jelas bahwa bentuk pemerintahan hanya dipegang oleh
kalangan partai tunggal tersebut saja, sebut saja China, Korea Utara dan Uni Soviet (masa perang
dingin) adalah sejumlah Negara yang menjauhi Trias Politica tak heran jika bentuk
pemerintahannya bersifat otoriterian karna tidak adanya pembagian kekuasaan.
Beda dengan Negara yang mengenakan sistim Trias Politica. Dengan adanya lembaga Legislatif,
kepentingan rakyat dapat terwakili secara baik karma merupakan cermin kedaulatan rakyat.
Selain itu lembaga ini juga mempunyai fungsi sebagai check and balance terhadap dua lembaga
lainnya agar tidak terjadi penyelewengan kekuasaan dengan begitu jalannya pemerintahan bisa
berjalan efektif dan efisien.[6]
BAB V
ANALISIS PENURUT PENULIS
Kekuasaan adalah gejala yang selalu ada dalam proses politik. Politik tanpa kekuasaan bagaikan
agama tanpa moral karena begitu berkaitannya antara keduanya namun dalam hal ini perlu
adanya pembagian kekuasaan (trias politica). Dalam analisis ini kami berpendapat bahwa
Prinsip trias politika ini terbagi menjadi tiga kekuasaan politik negara untuk diwujudkan dalam
tiga jenis lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yg sejajar
satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan agar

ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan saling mengontrol. Dan salah satu prinsip
trias politica ini biasa dijalani oleh Negara-negara yang demokrasi.
Trias Politika adalah anggapan bahwa kekuasaan negara terdiri dari tiga macam kekuasaan :
Pertama, kekuasaan legislatif atau kekuasan membuat undang-undang; kedua, kekuasaan
eksekutif atau kekuasaan melaksanakan undang-undang; ketiga, kekuasaan yudikatif atau
kekuasaan mengadili atas pelanggaran undang-undang. Ketiga jenis lembaga-lembaga negara
tersebut adalah lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan untuk mewujudkan
dan melaksanakan kewenangan eksekutif, lembaga-lembaga pengadilan yang berwenang
menyelenggarakan kekuasaan judikatif dan lembaga-lembaga perwakilan rakyat (DPR, untuk
Indonesia) yang memiliki kewenangan menjalankan kekuasaan legislatif. Di bawah sistem ini,
keputusan legislatif dibuat oleh masyarakat atau oleh wakil yang wajib bekerja dan bertindak
sesuai aspirasi masyarakat yang diwakilinya dan yang memilihnya melalui proses pemilihan
umum legislatif, selain sesuai hukum dan peraturan. Dan Trias Politika ini adalah suatu prinsip
normatif bahwa kekuasaan-kekuasaan ini sebaiknya tidak diserahkan kepada orang yang sama
untuk mencegah supaya tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan oleh fihak yang berkuasa.
Selain pemilihan umum legislatif, banyak keputusan atau hasil-hasil penting, misalnya pemilihan
presiden suatu negara, diperoleh melalui pemilihan umum. Pemilihan umum tidak wajib atau
tidak mesti diikuti oleh seluruh warganegara, namun oleh sebagian warga yang berhak dan
secara sukarela mengikuti pemilihan umum. Sebagai tambahan, tidak semua warga negara
berhak untuk memilih kecuali yang sudah memenuhi persyaratan sebagai pemilih. Jadi dalam hal
ini Trias Politica banyak digunakan atau diterapkan pada negara demokrasi sebab kedaulatan
rakyat memilih sendiri secara langsung presidennya dan sebagai presiden itu bukan menjadi satusatunya kekuasaan yang berwenang atas semua kekuasaan di negara itu jadi perluk adanya
pembagian kekuasaan.
BAB VI
KESIMPULAN
Doktrin trias politika ini untuk pertama kali dikemukakan oleh John Locke (1632-1704) dan
Montesquieu (1689-1755) dan doktrin ini biasa ditafsirkan sebagai pemisahan kekuasaan. John
Locke mengemukakan konsep trias politika ini dalam bukunya berjudul Two Treatises on Civil
Government yang ditulisnya sebagai kritikan atas kekuasaan absolut. Menurut Locke kekuasaan
negara dibagi dalam tiga kekuasaan yaitu : kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif, dan
kekuasaan federatif, yang masing-masing terpisah-pisah satu sama lain. Kekuasaan legislatif
ialah kekuasaan membuat peraturan dan undang-undang, kekuasaan eksekutif ialah kekuasaan
melaksanakan undang-undang dan di dalamnya termasuk kekuasaan mengadili dan kekuasaan
federatif ialah kekuasaan yang meliputi segala tindakan untuk menjaga keamanan negara dalam
hubungan dengan negara lain seperti membuat aliansi dan sebagainya (dewasa ini disebut
hunbungan luar negeri). Beberapa puluh tahun kemudian, pada tahun 1748, filusuf Perancis

Montesquieu mengembangkan lebih lanjut pemikiran Locke ini dalam bukunya LEsprit des Lois
(The Spirit of the Laws). Karena melihat sifat dari raja-raja Bourbon, dia ingin menyusun suatu
sistem pemerintahan dimana warga negaranya merasa lebih terjamin haknya. Dalam uraian dia
membagi kekuasaan pemerintahan dalam tiga cabang, yaitu kekuasaan legislatif, kekuasaan
eksekutif dan kekuasaan yudikatif. Menurut dia tiga kekuasaan itu haruslah terpisah satu sama
lain, baik mengenai tugas (fungsi) maupun mengenai alat perlengkapan (organ) yang
menyelenggarakan. Terutama adanya kebebasaan badan yudikatif yang ditekankan oleh
Montesquieu, oleh karena disinilah letaknya kemerdekaan individu dan hak azasi manusia itu
dijamin dan dipertaruhkan. Kekuasaan legislatif menurut dia adalah kekuasaan untuk membuat
undang-undang kekuasaan eksekutif meliputi penyelenggaraan undang-undang, sedangkan
kekuasaan yudikatif adalah kekuasaan mengadili atas pelanggaran undang-undang. Jadi berbeda
dengan John Locke yang memasukkan kekuasaan yudikatif ke dalam kekuasaan eksekutif,
Montesquieu memandang kekuasaan pengadili (yudikatif) itu sebagai kekuasan yang berdiri
sendiri. Hal ini disebabkan oleh karena dalam pekerjaannya sehari-hari sebagai hakim,
Montesquieu mengetahui bahwa kekuasaan eksekutif itu berlainan dengan kekuasaan
pengadilan. Sebaliknya oleh Montesquieu kekuasaan hubungan luar negeri yang disebut John
Locke sebagai kekuasaan federatif, dimasukkan kedalam kekuasaan eksekutif. Oleh
Montesquieu dikemukakan bahwa kemerdekaan hanya dapat dijamin, jika ketiga fungsi tersebut
tidak dipegang oleh satu orang atau badan, tetapi oleh tiga orang atau badan yang terpisah.
Dikatakan olehnya: Kalau kekuasaan legislatif dan kekuasaan eksekutif disatukan dalam satu
orang atau dalam satu badan penguasa, maka tak aka nada kemerdekaan. Akan merupakan
malapetaka kalau seandainya satu orang atau satu badan, apakah terdiri dari kaum bangsawan
ataukah dari rakyat jelata, diserahi menyelenggarakan ketiga-tiga kekuasaan itu, yakni kekuasaan
membuat undang-undang, menyelenggarakan keputusan-keputusan umum dan mengadili
persoalan-persoalan antara individu-individu. Pokoknya Montesquieu dengan teorinya itu
menginginkan jaminan bagi kemerdekaan individu terhadap tindakan sewenang-wenang dari
penguasa. Dan hal ini menurut pandangannya, hanya mungkin tercapai, jika diadakan pemisahan
mutlak antara ketiga kekuasaan tersebut[7]

. Pengertian Hukum Administrasi Negara


1) Pengertian Administrasi Negara
Istilah Administrasi berasal dari bahasa Latin yaitu Administrare, yang artinya adalah
setiap penyusunan keterangan yang dilakukan secara tertulis dan sistematis dengan maksud
mendapatkan sesuatu ikhtisar keterangan itu dalam keseluruhan dan dalam hubungannya satu

dengan yang lain. Namun tidak semua himpunan catatan yang lepas dapat dijadikan administrasi.
Menurut Liang Gie dalam Ali Mufiz (2004:1.4) menyebutkan bahwa Administrasi adalah suatu
rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam bentuk kerjasama untuk
mencapai tujuan tertentu. Sehingga dengan demikian Ilmu Administrasi dapat diartikan sebagai
suatu ilmu yang mempelajari proses, kegiatan dan dinamika kerjasama manusia. Dari definisi
administrasi menurut Liang Gie kita mendapatkan tiga unsur administrasi, yang terdiri:
1. kegiatan melibatkan dua orang atau lebih
2. kegiatan dilakukan secara bersama-sama, dan
3. ada tujuan tertentu yang hendak dicapai
Kerjasama itu sendiri merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dua
orang atau lebih, kerjasama dapat terjadi dalam semua hal bidang kehidupan baik sosial,
ekonomi, politik, atau budaya. Dari sifat dan kepentingannya, kerjasama dapat dibedakan
menjadi dua yaitu kegiatan yang bersifat privat dan kegiatan yang bersifat publik. Sehingga ilmu
yang mempelajarinya dibedakan menjadi dua pula yaitu ilmu administrasi privat (private
administration) dan ilmu administrasi negara (public administration). Perbedaan antara dua
cabang ilmu ini (private administration dan public administration) terletak pada fokus
pembahasan atau obyek studi dari masing-masing cabang ilmu tersebut. Administrasi negara
memusatkan perhatiannya pada kerjasama yang dilakukan dalam lembaga-lembaga pemerintah,
sedangkan administrasi privat memfokuskan perhatiannya pada lembaga-lembaga bisnis swasta.
Dengan demikian ilmu administrasi negara (public administration) dapat diartikan sebagai ilmu
yang mempelajari kegiatan kerjasama dalam organisasi atau institusi yang bersifat publik yaitu
negara.
Mengenai arti dan apakah yang dimaksud dengan administrasi, lebih lanjut Liang Gie
dalam Ali Mufiz (2004: 1.5) mengelompokkan menjadi tiga macam kategori definisi administrasi
yaitu:
1. Administrasi dalam pengertian proses atau kegiatan

Sebagaimana dikemukakan oleh Sondang P. Siagian bahwa administrasi adalah


keseluruhan proses kerjasama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas
rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
2. Administrasi dalam pengertian tata usaha
a. Menurut Munawardi Reksodiprawiro, bahwa dalam arti sempit administrasi berarti tata
usaha yang mencakup setiap pengaturan yang rapi dan sistematis serta penentuan
fakta-fakta secara tertulis, dengan tujuan memperoleh pandangan yang menyeluruh
serta hubungan timbal balik antara satu fakta dengan fakta lainnya.
b. G. Kartasapoetra, mendefinisikan bahwa administrasi adalah suatu alat yang dapat
dipakai menjamin kelancaran dan keberesan bagi setiap manusia untuk melakukan
perhubungan, persetujuan dan perjanjian atau lain sebagainya antara sesama manusia
dan/atau badan hukum yang dilakukan secara tertulis.
c. Harris Muda, administrasi adalah suatu pekerjaan yang sifatnya mengatur segala
sesuatu pekerjaan yang berhubungan dengan tulis menulis, surat menyurat dan
mencatat (membukukan) setiap perubahan/kejadian yang terjadi di dalam organisasi
itu.
3. Administrasi dalam pengertian pemerintah atau administrasi negara
a. Wijana, Administrasi negara adalah rangkaian semua organ-organ negara terendah dan
tinggi yang bertugas menjalankan pemerintahan, pelaksanaan dan kepolisian.
b. Y. Wayong, menyebutkan bahwa administrasi Negara adalah kegiatan yang dilakukan
untuk mengendalikan usaha-usaha instansi pemerintah agar tujuannya tercapai.
Dari berbagai definisi tentang administrasi Negara, Ali Mufiz (2004:1.7) menyebutkan
ada dua pola pemikiran yang berbeda tentang administrasi negara yaitu:
1. Pola Pemikiran Pertama

Memandang administrasi Negara sebagai satu kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah,
khususnya oleh lembaga eksekutif. Marshall Edward Dimock dan Gladys Ogden Dimock
(1964), yang mengutif definisi W.F. Willougby, yaitu bahwa fungsi administrasi adalah
fungsi untuk secara nyata mengatur pelaksanaan hukum yang dibuat oleh lembaga
legislative dan ditafsirkan oleh lembaga yudikatif.
2. Pola Pemikiran Kedua
Pola kedua menyatakan bahwa administrasi Negara lebih luas daripada sekedar
membahas aktivitas-aktivitas lembaga eksekutif saja. Artinya Administrasi Negara
meliput seluuh aktivitas dari ketiga cabang pemerintahan, mencakup baik lembaga
eksekutif maupun lembaga legislative dan yudikatif, yang semuanya bermuara pada
fungsi untuk memberikan pelayanan publik. J.M. Pfifftner berpendapat bahwa
administrasi Negara adalah koordinasi dari usaha-saha kolektif yang dimaksudkan untuk
melaksanakan kebijaksanaan pemerintah.
Mendasarkan pada pola kedua di atas, Felix A. Nigro dan Lloyd G. Nigro (1977:18)
menyimpulkan bahwa administrasi negara adalah:
1) usaha kelompok yang bersifat kooperatif yang diselenggarakan dalam satu lingkungan
publik
2) meliputi seluruh cabang pemerintahan serta merupakan pertalian diantara cabang
pemerintahan (eksekutif, yudikatif, dan legislatif).
3) Mempunyai peranan penting dalam perumusan kebijaksanaan publik (public policy)
dan merupakan bagian dari proses politik
4) Amat berbeda dengan administrasi privat
5) Berhubungan erat dengan kelompok-kelompok privat dan individual dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Sementara C.S.T. Kansil (1985:2) mengemukakan arti Administrasi Negara adalah


sebagai berikut:
1) Sebagai aparatur negara, aparatur pemerintahan, atau istansi politik (kenegaraan)
artinya meliputi organ yang berada di bawah pemerintah, mulai dari presiden,
menteri, termasuk gubernur, bupati/walikota (semua organ yang menjalankan
administrasi negara).
2) Sebagai fungsi atau sebagai aktivitas, yakni sebagai kegiatan mengurus kepentingan
negara
3) Sebagai proses teknis penyelenggaraan undang-undang, artinya meliputi segala
tindakan aparatur negara dalam menjalankan undang-undang.
Tujuan administrasi negara sangat tergantung pada tujuan dari negara itu sendiri.
Indonesia yang berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945, selayaknya pula bahwa tujuan dari
administrasi negaranya berdasar dan bersumber pada nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 dimana
dalam Pembukaannya disebutkan bahwa Negara Indonesia bertujuan untuk bagaimana
melindungi segenap bangsa Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan keadilan
sosial, memajukan kesejahteraan umum dan ikut serta dalam usaha perdamaian dunia. Jadi tugas
administrasi negara adalah memberikan pelayanan (service) yang baik kepada kepentingan
masyarakat, bangsa dan negara, serta mengabdi kepada kepentingan masyarakat. Bukan
sebaliknya yang seringkali terjadi masyarakat yang harus melayani administrator negara. Untuk
itu agar penyelenggaraan administrasi negara ini dapat berjalan sesuai dengan tujuan dan citacita bangsa maka dituntut partisipasi masyarakat (social participation), dukungan dari
masyarakat kepada administrasi negara (social support), pengawasan dari masyarakat terhadap
kinerja administrasi negara (social control), serta harus ada pertanggung jawaban dari kegiatan
administrasi negara (social responsibility).
2) Hukum Administrasi Negara
Istilah Hukum Administrasi Negara (yang dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No. 0198/LI/1972 tentang Pedoman Mengenai Kurikulum Minimal Fakultas

Hukum Negeri maupun Swasta di Indonesia, dalam pasal 5 disebut Hukum Tata
Pemerintahan) berasal dari bahasa Belanda Administratiefrecht, Administrative Law (Inggris),
Droit Administratief (Perancis), atau Verwaltungsrecht (Jerman). Dalam Keputusan Dirjen Dikti
Depdikbud No. 30/DJ/Kep/1983 tentang Kurikulum Inti Program Pendidikan Sarjana Bidang
Hukum disebut dengan istilah Hukum Administrasi Negara Indonesia, sedangkan dalam
Keputusan Dirjen Dikti No. 02/DJ/Kep/1991, mata kuliah ini dinamakan Asas-Asas Hukum
Administrasi Negara. Dalam rapat dosen Fakultas Hukum Negeri seluruh Indonesia pada bulan
Maret 1973 di Cibulan, diputuskan bahwa sebaiknya istilah yang dipakai adalah Hukum
Administrasi Negara, dengan tidak menutup kemungkinan penggunaan istilah lain seperti
Hukum Tata Usaha Negara, Hukum Tata Pemerintahan atau lainnya. Alasan penggunaan istilah
Hukum Administrasi Negara ini adalah bahwa Hukum Administrasi Negara merupakan istilah
yang luas pengertiannya sehingga membuka kemungkinan ke arah pengembangan yang sesuai
dengan perkembangan dan kemajuan negara Republik Indonesia ke depan. Dan berdasarkan
Kurikulum Program Sarjana Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Dirjen Dikti Depdiknas
tahun 2000, mata kuliah ini disebut Hukum Administrasi Negara dengan bobot 2 SKS.
Hukum Administrasi Negara sebagai salah satu bidang ilmu pengetahuan hukum; dan
oleh karena hukum itu sukar dirumuskan dalam suatu definisi yang tepat, maka demikian pula
halnya dengan Hukum Administrasi Negara juga sukar diadakan suatu perumusan yang sesuai
dan tepat. Mengenai Hukum Administrasi Negara para sarjana hukum di negeri Belanda selalu
berpegang pada paham Thorbecke, beliau dikenal sebagai Bapak Sistematik Hukum Tata Negara
dan Hukum Administrasi Negara. Adapun salah satu muridnya adalah Oppenheim, yang juga
memiliki murid Mr. C. Van Vollenhoven. Thorbecke menulis buku yang berjudul Aantekeningen
op de Grondwet (Catatan atas undang-undang dasar) yang pada pokoknya isi buku ini mengkritik
kebijaksanaan Raja Belanda Willem I, Thorbecke adalah orang yang pertama kali mengadakan
organisasi pemerintahan atau mengadakan sistem pemerintahan di Belanda, dimana pada saat itu
Raja Willem I memerintah menurut kehendaknya sendiri pemerintahan di Den Haag, membentuk
dan mengubah kementerian-kementerian menurut orang-orang dalam pemerintahan.
Oppenheim memberikan suatu definisi Hukum Administrasi Negara adalah sebagai suatu
gabungan ketentuan-ketentuan yang mengikat badan-badan yang tinggi maupun yang rendah
apabila badan-badan itu menggunakan wewenang yang telah diberikan kepadanya oleh Hukum

Tata Negara. Hukum Administrasi Negara menurut Oppenheim adalah sebagai peraturanperaturan tentang negara dan alat-alat perlengkapannya dilihat dalam geraknya (hukum negara
dalam keadaan bergerak atau staat in beweging). Sedangkan murid Oppenheim yaitu Van
Vollenhoven membagi Hukum Administrasi Negara menjadi 4 yaitu sebagai berikut:
1) Hukum Peraturan Perundangan (regelaarsrecht/the law of the legislative process)
2) Hukum Tata Pemerintahan (bestuurssrecht/ the law of government)
3) Hukum Kepolisian (politierecht/ the law of the administration of security)
4) Hukum Acara Peradilan (justitierecht/ the law of the administration of justice), yang
terdiri dari:
a. Peradilan Ketatanegaraan
b. Peradilan Perdata
c. Peradilan Pidana
d. Peradilan Administrasi
Utrecht (1985) dalam bukunya Pengantar Hukum Administrasi Negara mengatakan
bahwa Hukum Administrasi Negara ialah himpunan peraturan peraturan tertentu yang menjadi
sebab, maka negara berfungsi. Dengan kata lain Hukum Administrasi Negara merupakan
sekumpulan peraturan yang memberi wewenang kepada administrasi negara untuk mengatur
masyarakat.
Sementara itu pakar hukum Indonesia seperti Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo, S.H. (1994),
berpendirian bahwa tidak ada perbedaan yuridis prinsipal antara Hukum Administrasi Negara
dan Hukum Tata Negara. Perbedaannya menurut Prajudi hanyalah terletak pada titik berat dari
pembahasannya. Dalam mempelajari Hukum Tata Negara kita membuka fokus terhadap
konstitusi negara sebagai keseluruhan, sedangkan dalam membahas Hukum Administrasi Negara
lebih menitikberatkan perhatian secara khas kepada administrasi negara saja. Administrasi

merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam konstitusi negara di samping legislatif,
yudikatif, dan eksaminasi. Dapat dikatakan bahwa hubungan antara Hukum Administrasi Negara
dan Hukum Tata Negara adalah mirip dengan hubungan antara hukum dagang terhadap hukum
perdata, dimana hukum dagang merupakan pengkhususan atau spesialisasi dari hukum perikatan
di dalam hukum perdata. Hukum Administrasi Negara adalah sebagai suatu pengkhususan atau
spesialisasi dari Hukum Tata Negara yakni bagian hukum mengenai administrasi negara.
Berdasarkan definisi Hukum Administrasi Negara menurut Prajudi Atmosudirdjo (1994),
maka dapatlah disimpulkan bahwa Hukum Administrasi Negara adalah hukum mengenai selukbeluk administrasi negara (hukum administrasi negara heteronom) dan hukum operasional hasil
ciptaan administrasi negara sendiri (hukum administrasi negara otonom) di dalam rangka
memperlancar penyelenggaraan dari segala apa yang dikehendaki dan menjadi keputusan
pemerintah di dalam rangka penunaian tugas-tugasnya.
Hukum administrasi negara merupakan bagian operasional dan pengkhususan teknis dari
hukum tata negara, atau hukum konstitusi negara atau hukum politik negara. Hukum administrasi
negara sebagai hukum operasional negara di dalam menghadapi masyarakat serta penyelesaian
pada kebutuhan-kebutuhan dari masyarakat tersebut.
Hukum Administrasi Negara diartikan juga sebagai sekumpulan peraturan yang mengatur
hubungan antara administrasi Negara dengan warga masyarakat, dimana administrasi Negara
diberi wewenang untuk melakukan tindakan hukumnya sebagai implementasi dari policy suatu
pemerintahan.
Contoh, policy pemerintah Indonesia adalah mengatur tata ruang di setiap kota dan
daerah di seluruh Indonesia dalam rangka penataan lingkungan hidup. Implementasinya adalah
dengan mengeluarkan undang-undang yang mengatur tentang lingkungan hidup. Undang-undang
ini menghendaki bahwa setiap pembangunan harus mendapatkan izin dari pejabat yang
berwenang. Pelaksanaannya adalah bahwa disetiap daerah ada pejabat administrasi Negara yang
berwenang memberi/menolak izin bangunan yang diajukan masyarakat melalui Keputusan
Administrasi Negara yang berupa izin mendirikan bangunan.
B. Lapangan Pekerjaan Administrasi Negara

Sebelum abad ke 17 adalah sukar untuk menentukan mana lapangan administrasi Negara dan
mana termasuk lapangan membuat undang-undang dan lapangan kehakiman, karena pada waktu
itu belum dikenal pemisahan kekuasaan, pada waktu itu kekuasaan Negara dipusatkan pada
tangan raja kemudian pada birokrasi-birokrasi kerajaan. Tapi setelah abad ke 17 timbulah aliran
baru yang menghendaki agar kekuasaan negara dipisahkan dari kekuasaan raja dan diserahkan
kepada tiga badan kenegaraan yang masing-masing mempunyai lapangan pekerjaan sendirisendiri terpisah yang satu dari yang lainnya seperti yang telah dikemukakan oleh John Locke dan
Montesquieu.
Sejak itu baru kita mengetahui apakah yang menjadi lapangan administrasi negara itu. Maka
yang menjadi lapangan administrasi negara berdasarkan teori Trias Politica John Locke maupun
Monesquieu adalah lapangan eksekutif yaitu lapangan yang melaksanakan undang-undang.
Bahkan oleh John Locke tugas kehakiman dimasukkan ke dalam lapangan eksekutif karena
mengadili itu termasuk melaksanakan undang-undang. Sejak adanya teori pemisahan
kekuasaan ini lapangan administrasi negara mengalami perkembangan yang pesat.
Tetapi ajaran Trias Politica ini hanya dapat diterapkan secara murni di negara-negara seperti yang
digambarkan oleh Immanuel Kant dan Fichte yaitu di negara-negara hukum dalam arti sempit
atau seperti yang disebut Utrech Negara Hukum Klasik (klasieke rechtsstaat), tetapi tidak
dapat diterapkan kedalam system pemerintahan dari suatu negara hukum modern
(moderneechsstaat), karena lapangan pekerjaan administrasi negara pada Negara hukum modern
adalah lebih luas dari pada dalam negara hukum klasik. Apakah sebabnya maka lapangan
administrasi negara dalam negara hukum modern itu lebih luas dari pada dalam negara hukum
klasik, hal ini dapat dilihat dari ciri-ciri kedua negara tersebut.