Anda di halaman 1dari 7

Karakteristik Endapan Epitermal Sulfida Rendah / Tipe Adularia-Serisit

( Epithermal Low Sulfidation )


a. Tinjauan Umum
Endapan epitermal sulfidasi rendah dicirikan oleh larutan hidrotermal yang bersifat netral dan
mengisi celah-celah batuan. Tipe ini berasosiasi dengan alterasi kuarsa-adularia, karbonat, serisit
pada lingkungan sulfur rendah dan biasanya perbandingan perak dan emas relatif tinggi. Mineral
bijih dicirikan oleh terbentuknya elektrum, perak sulfida, garam sulfat, dan logam dasar sulfida.
Batuan induk pada deposit logam mulia sulfidasi rendah adalah andesit alkali, dasit, riodasit atau
riolit. Secara genesa sistem epitermal sulfidasi rendah berasosiasi dengan vulkanisme riolitik. Tipe
ini dikontrol oleh struktur-struktur pergeseran (dilatational jog).
b. Genesa dan Karakteristik
Endapan ini terbentuk jauh dari tubuh intrusi dan terbentuk melalui larutan sisa magma yang
berpindah jauh dari sumbernya kemudian bercampur dengan air meteorik di dekat permukaan dan
membentuk jebakan tipe sulfidasi rendah, dipengaruhi oleh sistem boiling sebagai mekanisme
pengendapan mineral-mineral bijih. Proses boiling disertai pelepasan unsur gas merupakan proses
utama untuk pengendapan emas sebagai respon atas turunnya tekanan. Perulangan proses boiling
akan tercermin dari tekstur crusstiform banding dari silika dalam urat kuarsa. Pembentukan
jebakan urat kuarsa berkadar tinggi mensyaratkan pelepasan tekanan secara tiba-tiba dari cairan
hidrotermal untuk memungkinkan proses boiling. Sistem ini terbentuk pada tektonik lempeng
subduksi, kolisi dan pemekaran (Hedenquist dkk., 1996 dalam Pirajno, 1992).
Kontrol utama terhadap pH cairan adalah konsentrasi CO2 dalam larutan dan salinitas. Proses
boiling dan terlepasnya CO2 ke fase uap mengakibatkan kenaikan pH, sehingga terjadi perubahan
stabilitas mineral contohnya dari illit ke adularia. Terlepasnya CO2 menyebabkan terbentuknya
kalsit, sehingga umumnya dijumpai adularia dan bladed calcite sebagai mineral pengotor (gangue
minerals) pada urat bijih sistem sulfidasi rendah
Endapan epitermal sulfidasi rendah akan berasosiasi dengan alterasi kuarsaadularia, karbonat
dan serisit pada lingkungan sulfur rendah. Larutan bijih dari sistem sulfidasi rendah variasinya
bersifat alkali hingga netral (pH 7) dengan kadar garam rendah (0-6 wt)% NaCl, mengandung CO2
dan CH4 yang bervariasi. Mineral-mineral sulfur biasanya dalam bentuk H2S dan sulfida kompleks
dengan temperatur sedang (150-300 C) dan didominasi oleh air permukaan
Batuan samping (wallrock) pada endapan epitermal sulfidasi rendah adalah andesit alkali,
riodasit, dasit, riolit ataupun batuan batuan alkali. Riolit sering hadir pada sistem sulfidasi rendah
dengan variasi jenis silika rendah sampai tinggi. Bentuk endapan didominasi oleh urat-urat kuarsa

yang mengisi ruang terbuka (open space), tersebar (disseminated), dan umumnya terdiri dari uraturat breksi (Hedenquist dkk., 1996). Struktur yang berkembang pada sistem sulfidasi rendah berupa
urat, cavity filling, urat breksi, tekstur colloform, dan sedikit vuggy (Corbett dan Leach, 1996), lihat
Tabel 2.1
Tabel 2.1 Karakteristik endapan epitermal sulfidasi rendah
(Corbett dan Leach, 1996).
Tipe endapan
Posisi tektonik
Tekstur
Asosiasi mineral
Mineral bijih
Contoh endapan
c.

Sinter breccia, stockwork


Subduction, collision, dan rift
Colloform atau crusstiform
Stibnit, sinnabar, adularia, metal sulfida
Pirit, elektrum, emas, sfalerit, arsenopirit
Pongkor, Hishikari dan Golden Cross

Interaksi Fluida
Epithermal Low Sulphidation terbentuk dalam suatu sistem geotermal yang didominasi oleh

air klorit dengan pH netral dan terdapat kontribusi dominan dari sirkulasi air meteorik yang dalam
dan mengandung CO2, NaCl, and H2S
d. Model Konseptual Endapan Emas Epitermal Sulfidasi Rendah

Gambar.2.9 Model endapan emas epitermal sulfidasi rendah


(Hedenquist dkk., 1996 dalam Nagel, 2008).
Gambar diatas (Gambar.2.9) merupakan model konseptual dari endapan emas sulfidasi
rendah. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa endapan ephitermal sulfidasi rendah berasosiasi
dengan lingkungan volkanik, tempat pembentukan yang relatif dekat permukaan serta larutan yang
berperan dalam proses pembentukannya berasal dari campuran air magmatik dengan air meteorit.
High oxidation low sulfidation state (Late-stage porphyry type mineralisation)

Tipe mineralisasi pada tahapan ini ditunjukan dengan hadirnya magnetit dan hematit sekunder
hasil alterasi propilitik pada batuan tuf andesitik dan diorit. Suhu pembentukan alterasi ini
diperkirakan berada pada suhu 350-400C, berdasarkan kehadiran mineral epidot, dan
magnetit/hematit. Sulfidasi pada tahapan ini bersifat rendah (low sulfidation) dicirikan dengan
hadirnya pirit. Pirit merupkan mineral transisi dari tahapan fluida oksidasi menuju sulfidasi.
Low sulfidation state (late-stage vein quartz)
Mineralisasi pada tahapan ini terlihat dalam komposisi sulfida dalam veinlet kuarsa yang
meomotong tuh alreasi advanced argillik. Komposisi sulfida yang terlihat adalah pirit, berwarna
putih

kekuningan,

berukuran

sangat

halus,

<50-250m,

anhedral-euhedral,

aggregate,

subdisseminated, dan mengisi retakan. Paragenesa berupa 3 fase yaitu hidrotermal I (ubahan
filik:kuarsa, serisit), kemudian hidrotermal (ubahan silisifikasi: mikrogranular silika-pirit), dan
hidrotermal III (penetrasi kuarsa-pirit).

Endapan sulfidasi rendah dicirikan oleh adanya asosiasi mineral-mineral sulfida seperti piritpirortit-arsenopirit-sfalerit(kaya akan Fe) sedangkan sulfidasi tinggi dicirikan oleh asosiasi mineralmineral enargite-luzonit-kovelit-kelimpahan mineral pirit. White dan Hedenquist (1995) di dalam
White (2009), mengklasifikasikan kedua jenis endapan tersebut sebagai berikut :

Tabel 1. Klasifikasi Endapan Epitermal White dan Hedenquist (1995)

Tabel 2. Asosiasi mineral bijih pada endapan epithermal


(White dan Hedenquist, 1995) di dalam White(2009)

Tabel 3. Asosiasi mineral-mineral sekunder pengisi gangue


(White dan Hedenquist, 1995) di dalam White (2009)

Dibawah ini digambarkan ciri-ciri umum endapan epitermal (Lingren, 1933 dalam Sibarani,2008)):

Suhu relatif rendah (50-250C) dengan salinitas bervariasi antara 0-5 wt.%
Terbentuk pada kedalaman dangkal (~1 km)
Pembentukan endapan epitermal terjadi pada batuan sedimen atau batuan beku, terutama
yang berasosiasi dengan batuan intrusiv dekat permukaan atau ekstrusif, biasanya disertai

oleh sesar turun dan kekar.


Zona bijih berupa urat-urat yang simpel, beberapa tidak beraturan dengan pembentukan
kantong-kantong bijih, seringkali terdapat pada pipa dan stockwork. Jarang terbentuk

sepanjang permukaan lapisan, dan sedikit kenampakan replacement (penggantian).


Logam mulia terdiri dari Pb, Zn, Au, Ag, Hg, Sb, Cu, Se, Bi, U
Mineral bijih berupa Native Au, Ag, elektrum, Cu, Bi, Pirit, markasit, sfalerit, galena,
kalkopirit, Cinnabar, jamesonite, stibnite, realgar, orpiment, ruby silvers, argentite,

selenides, tellurides.
Mineral penyerta adalah kuarsa, chert, kalsedon, ametis, serisit, klorit rendah-Fe, epidot,

karbonat, fluorit, barite, adularia, alunit, dickite, rhodochrosite, zeolit


Ubahan batuan samping terdiri dari chertification (silisifikasi), kaolinisasi, piritisasi,

dolomitisasi, kloritisasi
Tekstur dan struktur yang terbentuk adalah Crustification (banding) yang sangat umum,
sering sebagai fine banding, vugs, urat terbreksikan.

Karakteristik umum dari endapan epitermal (Simmons et al, 2005 dalam Sibarani, 2008) adalah:

Jenis air berupa air meteorik dengan sedikit air magmatik


Endapan epitermal mengandung mineral bijih epigenetic yang pada umumnya memiliki

batuan induk berupa batuan vulkanik.


Tubuh bijih memiliki bentuk yang bervariasi yang disebabkan oleh kontrol dan litologi
dimana biasanya merefleksikan kondisi paleo-permeability pada kedalaman yang dangkal

dari sistem hidrotermal.


Sebagian besar tubuh bijih terdapat berupa sistem urat dengan dip yang terjal yang terbentuk
sepanjang zona regangan. Beberapa diantaranya terdapat bidang sesar utama, tetapi biasanya

pada sesar-sesar minor.


Pada suatu jaringan sesar dan kekar akan terbentuk bijih pada urat.
Mineral gangue yang utama adalah kuarsa sehingga menyebabkan bijih keras dan realtif

tahan terhadap pelapukan.


Kandungan sulfida pada urat relatif sedikit (<1 s/d 20%).

Referensi
Jurnal Ilmiah Geologi Pangea Vol. 1, No. 2, Desember 2014
Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 6, No. 2, Juli 2013

http://thegoldenjubilee.blogspot.co.id/2012/03/endapan-mineral-epitermal.html
http://jojogeos.blogspot.co.id/2015/06/endapan-mineral-epitermal-tugas-kuliah.html