Anda di halaman 1dari 36

TUBERKULOSIS

PARU
Pembimbing dr. Joni Anwar, SpP
Fredi Rizki
- Ike Yuni p.
Shafa Husnul K.
-

Penyakit infeksi kronik yang disebabkan basil


Mycobacterium tuberculosis, ditandai dengan
pembentukan granuloma dan adanya reaksi
hipersensitifitas tipe lambat.

Dunia

Menyerang 1/3 penduduk dunia


9 juta kasus baru dan 3 juta kematian/tahun
1 kasus baru setiap 10 detik

Indonesia

583.000 kasus baru dan 140.000 kematian/tahun


Menyerang usia produktif dan sosek lemah
Penyebab kematian ketiga tertinggi

Berdasarkan hasil pemeriksaan


dahak (BTA), TB paru dibagi dalam :

Tuberkulosis paru BTA (+)


2 dari 3 spesimen dahak positif
Satu spesimen dahak positif + radiologi tuberkulosis aktif.
Satu spesimen dahak positif + biakan positif

Tuberkulosis paru BTA (-)


dahak 3 kali negative + gambaran klinik dan kelainan
radiologik menunjukkan tuberkulosis aktif + tidak respons
antibiotik spektrum luas
dahak negatif + biakan negatif + gambaran radiologik
positif

Kasus baru

Kasus kambuh ( relaps )

pernah mendapat OAT dan telah dinyatakan sembuh atau


pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil
pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif.

Kasus pindahan (transfer)

belum pernah mendapat OAT atau menelan OAT kurang dari satu
bulan

sedang pengobatan di kabupaten lain pindah berobat ke


kabupaten ini.

Kasus lalai berobat

paling kurang 1 bulan, dan berhenti 2 minggu atau lebih,


kemudian datang kembali berobat.

Kasus gagal

Kasus kronik

penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali


menjadi positif pada satu bulan sebelum akhir pengobatan atau
lebih
penderita BTA negatif gambaran radiologik positif menjadi BTA
positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan dan atau gambaran
radiologik ulang hasilnya perburukan.

Adalah penderita dengan hasil pemeriksaan dahak BTA masih


positif setelah selesai pengobatan ulang kategoti 2 dengan
pengawasan yang baik.

Kasus bekas TB

mikroskopik negatif
Gejala klinik tidak ada
Radiologik lesi TB inaktif
Riwayat pengobatan OAT yang adekuat

A. TB ekstra paru ringan

Misalnya : TB kelenjer limfe, pleuritis


eksudativa unilateral, tulang (kecuali
tulang belakang), sendi dan kelenjer
adrenal.

B. TB ekstra paru berat

Misalnya : meningitis, millier, parikarditis,


peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral,
TB tulang belakang, TB usus, TB saluran
kencing dan alat kelamin.

Gejala klinis dan pemeriksaan fisik

Gejala respiratorik
Batuk 2 minggu (kering, berdahak atau
berdarah)
Sesak nafas
Nyeri dada

Gejala sistemik

Keringat dan demam lama pada malam hari


Badan terasa lemah
Nafsu makan dan berat badan

Pemeriksaan BTA
Pemeriksaan foto dada
Pemeriksaan tambahan (PCR; Elisa; PAP, dll)

Sangat penting dalam diagnosis

Dahak diperiksa 3 kali (dahak pagi atau SPS)

Pewarnaan Ziehl Neellsen lebih dianjurkan

BTA positif bila 2 sediaan hasil positif

Pembacaan berdasarkan skala IUALTD

HASIL

Jumlah BTA per Lap. Pandang

Negatif
Ragu ragu
+
++
+++

BTA (-) per 100 lap.pandang


BTA 1 9 per 100 lap.pandang
BTA 10 99 per 100 lap.pandang
BTA 1 10 per 1 lap.pandang
BTA > 10 per 1 lap.pandang

foto toraks PA dengan atau tanpa foto


lateral.

TB aktif :
bayangan berawan / nodular di segmen
apikal dan posterior lobus atau dan segmen
superior lobus bawah paru
Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi
oleh bayangan opak berawan atau nodular
Bayangan bercak milier
Efusi pleura unilateral

TB inaktif
Fibrotik, terutama pada segmen apikal
dan atau posterior lobus atas dan
segmen superior bawah paru
Kalsifikasi
Penebalan pleura

Lesi minimal
Luas lesi < 2 sela iga, tidak ada kavitas

Lesi sedang
Luas lesi < 1 vol. Paru (densitas sedang), atau < 1/3
vol. Paru (densitas tinggi); Bila ada kavitas, ukuran <
4cm

Lesi luas
Luas lesi lebih dari lesi sedang

KECURIGAAN
KECURIGAANTB
TB
Periksa
PeriksaSPS
SPS(Sewaktu,
(Sewaktu,Pagi,
Pagi,Sewaktu)
Sewaktu)
BTA
BTA++22kali
kali

BTA
BTA++11kali
kali

BTA
BTA-AB
ABSpek.
Spek.Luas
Luas

Foto
Fotodada
dada
TB
TB

TB
TBBTA
BTA++

Tak
TakBaik
Baik

Bukan
BukanTB
TB

Baik
Baik

Ulangi
UlangiDahak
DahakSPS
SPS
BTA
BTA+
+11Kali
Kali
RO
ROTB
TB

TB
TBBTA
BTA--

BTA
BTA-RO
ROBUKAN
BUKANTB
TB

BUKAN
BUKANTB
TB

TB paru BTA positif

TB paru BTA negatif

Sputum BTA (+) 2 kali


Sputum BTA (+) 1 kali, kultur (+)
Sputum BTA (+) 1 kali, klinis / radiologis sesuai TB

Klinis / radiologis sesuai TB paru


Sputum BTA (-)
Kultur (-)atau (+)

Bekas TB paru

Sputum dan kultur (-)


Gejala klinis tidak menunjang
Radiologis menunjukkan gambaran tak aktif

1.
2.
3.
4.
5.

Pengobatan minimal dengan 2 OAT


Paduan jangka pendek
Pengobatan dibagi atas 2 fase
Fase awal dan lanjutan
Uji resistensi pada kasus gagal dan kambuh
Pemberian dosis sebaiknya berdasarkan berat
badan

Kategori

Kriteria penderita

Regimen pengobatan
Fase awal

Kasus baru BTA (+)


Kasus baru BTA (-)
Ro (+) sakit berat
Kasus TBEP berat

2 RHZE (RHZS)
2 RHZE (RHZS)
2 RHZE (RHZS)*

II

Kasus BTA positif


Kambuh
Gagal
Putus berobat

2 RHZES / 1 RHZE
2 RHZES / 1 RHZE*

III

Kasus baru BTA (-)


TBEP ringan

2 RHZ
2 RHZ
2 RHZ*

IV

Kasus kronik

Obat-obat sekunder

* Yang diterapkan di Indonesia

Fase lanjutan
6 EH
4 RH
4 R3H3*
5 RHE
5 R3H3E3*

6 EH
4 RH
4 R3H3*

Cara Kerja
OAT

H
R
Z
S
E

Bakterisidal
Bakterisidal
Bakterisidal
Bakterisidal
Bakteriostatik

DOSIS REKOMENDASI (Mg/Kg)


Harian
INTERMITENT
3X/Mg
2x/Mg
5 (4-6)
10 (8-12)
25 (20-30)
15 (12-18)
15 (15-20)

10 (8-12)
10 (8-12)
35 (30-40)
15 (12-18)
30 (25-35)

15 (13-17)
10 (8-12)
50 (40-60)
15 (12-18)
45 (40-50)

Macam OAT dan


Dosis
S : 1,5 g
H : 300 mg
R : 450 mg
Z : 500 mg
E : 250 mg
* Kategori 2

Dosis Fase Awal


750 mg
300 mg
450 mg
1500 mg
750 mg

Dosis Fase
Lanjutan
600 mg ; 500 mg*
450 mg ; 250 mg*
1250 mg*

OAT LINI
LINI KEDUA
OAT
KEDUA
OAT

Cara kerja

Dosis rekomendasi

Aminoglikosida
a. Streptomisin
b. Kanamisin
c. Kapreomisin
Tionamid (Etionamid
dan protionamid)
Ofloksasin
Sikloserin
PAS

Bakterisidal

15 mg/kg

Bakterisidal

10-20 mg/kg

Bakterisidal
Bakteriostatik
Bakteriostatik

7,515 mg/kg
10-20 mg/kg
150 mg

1.

Evaluasi klinis

2.

Evaluasi radiologis

3.

Evaluasi BTA

Sangat penting
Konversi : perubahan BTA (+) menjadi (-) pada akhir
pengobatan fase awal
Terapi sisipan diberikan pada kasus konversi (-)
Jadwal pemeriksaan BTA

FOLLOW-UP BTA
Kategori
Waktu
Evaluasi

1
Akhir bulan ke-2
Akhir bulan ke-3
(sisipan)
Sebulan sebelum AP
Akhir pengobatan

Akhir bulan ke-3


Akhir bulan
ke-2
Akhir bulan ke-4
(sisipan)
Sebulan sebelum AP
Akhir pengobatan

4. Evaluasi efek samping obat


a. Efek samping ringan
Seperti mual, nyeri sendi
terapi simptomatis
b. Efek samping berat
Jarang terjadi, tersering hepatitis
Perlu perubahan paduan sampai penyetopan obat
5. Evaluasi keteraturan berobat
Menyulitkan skema pengobatan
Panduan sesuai Depkes RI

TINDAK LANJUT HASIL BTA


TIPE PENDERITA
TB

URAIAN

HASIL
BTA

TINDAK LANJUT

Negatif

Tahap lanjutan dimulai

Positif

Dilanjutkan dengan OAT


sisipan selama 1 bulan
jika setelah sisipan masih
tetap positif, tahap
lanjutan tetap diberikan

Akhir
Penderita baru BTA
positif dengan
pengobatan
kategori I

tahap
intensif

Sebulan sebelum akhir Negatif


pengobatan
keduanya
atau
Positif
akhir pengobatan
(AP)

Sembuh
Gagal, Ganti dengan OAT
kategori 2 mulai dari awal

TINDAK LANJUT HASIL BTA


TIPE
PENDERITA
TB

Penderita BTA
positif dengan
pengobatan
ulang kategori
2

URAIAN

Akhir intensif

Sebulan
sebelum AP
atau
pada akhir AP

HASIL BTA

TINDAK LANJUT

Negatif

Teruskan pengobatan dengan


tahap lanjutan

Positif

Beri sisipan 1 bulan. Jika setelah


sisipan masih tetap positif,
teruskan pengobatan tahap
lanjutan. Jika ada fasilitas, rujuk
untuk uji kepekaan obat

Negatif keduanya

Sembuh

Positif

Belum ada pengobatan, disebut


kasus kronik,jika mungkin,rujuk
pada unit pelayanan spesialistik.
Bila tidak ,beri INH seumur hidup

TINDAK LANJUT HASIL BTA


TIPE PENDERITA TB
URAIAN

HASIL
BTA

TINDAK LANJUT
Terus ketahap lanjutan

Penderita BTA (-) & Ro


(+) dengan
pengobatan kategori 3
(ringan) atau kategori I
(berat)

Negatif
Akhir
intensif
Positif

Ganti dengan kategori


2 mulai dari awal

EFEK SAMPING
Ringan

Anoreksia, mual, nyeri perut


Nyeri sendi
Rasa terbakar di kaki
Urine kemerahan

PENYEBAB
R
Z
H
R

PENATALAKSANAAN
OAT diteruskan
Obat diberikan malam hari
Aspirin
Vit. B6 100 mg/hr
Reassurance

STOP OAT Penyebab


S
Stop OAT
Gatal, rash pada kulit
(penanganan khusus)
S
Stop S, ganti E
Tuli
S
Stop S, ganti E
Nistagmus dan vertigo
Seluruh OAT Stop OAT
Ikterik
terutama RHZ (penanganan khusus)
Muntah, penurunan kesadaran Seluruh OAT Stop OAT, test fungsi hati dan
protombin time
E
Stop E
Gangguan penglihatan
R
Stop R
Shok, purfura, gagal ginjal akut

Berat

Sembuh

Pengobatan lengkap

Gagal

Meninggal

Lalai

2.

Faktor penderita
Faktor masyarakat dan keluarga

3.

Faktor petugas

4.

Faktor pemerintah

5.

Peningkatan kasus MDR

6.

Keterlambatan pengobatan

1.

Kontroversial
Diberikan pada kasus:

TB miliar

Meningitis
Penurunan kesadaran
Demam tinggi
Pleuritis eksudativa TB
TBC Perikarditis konstriktiva

Dosis 30-40 mg/hari, tappering off 5-10 mg setiap 57 hari


Lama pemberian 4 sampai 6 minggu

Pada penderita DM diperhatikan:


Etambutol, karena menyebabkan gangguan pada mata
Rifamfisin karena menurunkan efektifitas sulfonilurea

Kehamilan dengan TB

Streptomisin, karena dapat menyebabkan gangguan


pendengaran pada janin

Menyusui dengan TB

Semua obat aman

Gagal ginjal dengan TB


Streptomisin dan kanamisin dihindari
Etambutol, waktu paruhnya akan memanjang sehingga terjadi
akumulasi

Penyakit hati dengan TB


Rifampisin dihindari
Regimen dianjurkan: 2SHE/10HE atau 2RHSE/6RH

Kontrasepsi

Rifampisin menurunkan khasiat hormonal kontrasepsi

OAT dihentikan, bila :


Klinis hepatitis jelas
Bilirubin > 2
SGOT/SGPT diatas 5 x nilai normal

Bila SGOT/SGPT peningkatannya < 3 kali nilai normal


dan klinis tidak ada, OAT dapat diteruskan dengan
pengawasan

Bila klinis membaik, pemberian OAT dapat dimulai


kembali dengan proses desensitisasi.

Ada terapi efektif TB, namun kasus TB tetap tinggi


Masalah Keteraturan berobat
Pengatasan : DOTS

Diterapkan sejak 1993 (Indonesia 1995)


Terbukti efektif di 80 negara yang telah menerapkannya
5 Komponen DOTS
1. Komitmen terhadap penanggulangan TB
2. Penemuan kasus berdasarkan BTA
3. Pengadaan obat yang cukup dan tidak terputus
4. Pengobatan jangka pendek, diawasi oleh PMO
5. Sistem pencatatan dan pelaporan yang baku

Penekanan
Di

pada aspek pengawasan langsung (DOT)

Indonesia menjadi PMO (Pengawas Menelan Obat)

Batasan

Sarat

PMO:Seseorang yang mengawasi penderita TB


menelan OAT secara langsung

PMO
Bersedia menjadi PMO
Dikenal dan disegani penderita
Sebaiknya satu rumah atau berdekatan
Mau diberikan pelatihan singkat tentang penyakit TB