Anda di halaman 1dari 3

Usaha pengendalian secara biologis.

Usaha ini dilakukan dengan jalan sterilisasi


terhadap lalat jantan, dengan tujuan agar lalat tersebut bila mengadakan
perkawinan akan dihasilkan telur steril (cara ini hanya bisa dilakukan di
laboratorium).
Usaha pengendalian dengan menggunakan racun serangga. Racun serangga
yang digunakan dalam pengendalian lalat ada dua golongan.
Tipe Pemakaian
1. Residual

2. Sapse terman

Jenis Racun
- DDT
emulsi/suspensi
50%
- Lindone 0,5%
- Chlordane 2,5%
- Method 5%
- DDT 5%
- Chlordane 2%
- Sindbane 2%

Keterangan
Disemprotkan pada
tempat istirahat lalat
pada malam hari.

Disemprotkan pada
timbunan sampah atau
sekitar tempat
pengolahan makanan.

Pengendalian Pinjal
Pengendalian pinjal dapat dibagi menjadi dua golongan.
1. Pemberantasan pinjal pada binatang kesayangan (anjing dan kucing).
Pengendalian pinjal pada hewan kesayangan seperti kucing dan anjing
dapat digunakan sejumlah insektisida misalnya DDT, diazinon 2%.
Pyrethrum dapat digunakan secara aman untuk membasmi parasit pada
hewan peliharaan/hewan yang digunakan dalam percobaan laboratorium.
Malathion dan Carboryl dapat digunakan untuk pengawasan pinjal kucing
dan anjing. Dalam pelaksanaannya, diusahakan agar insektisida tidak
mengenai mulut, hidung, dan mata dari hewan kesayangan, insektisida
cukup digosokkan dengan tangan pada bulu-bulu binatang kesayangan
tersebut.
2. Pengendalian pinjal pada binatang mengerat. Dalam rangka pencegahan
penyakit pinjal faktor yang terpenting dari plague (sampor) dan fleaborne
typus. Cetusan kedua penyakit tersebut ditanggulangi dengan cara
pemberantasan binatang pengerat, membuat sesuatu bersifat rat-profing,
dan perbaikan sanitasi.
Pengendalian Binatang Pengganggu Lainnya
Kutu Manusia (Ordo anophelera)
1. Pedeculus kumanus capitus (kutu kepala). Pemberantasan kutu kepala
secara mekanik dengan cara dicuci dengan air panas, dicukur, secara
kimia dengan obat.
2. Pedeculus kumanus carporis (kutu badan).
Berikut ini adalah pemberantasan kutu badan.
1. Secara mekanis: cuci pakaian dengan air panas dan sabun, dipanasi
dengan uap panas dan kering, dijemur pada sinar matahari, serta setrika
dan perhatikan pada lipatan-lipatan pakaian.

2. Secara kimia: pakaian dicelupkan dalam larutan DDT 10%, lindane 1%,
pyeritin dicampur alistrin (untuk membinasakan telur-telurnya),
pemakaian racun dalam bentuk serbuk DDT 10%, lindane 1%, pemakaian
racun bentuk cair (spraying) seperti campuran benzyl benzoad 68%, DDT
6%, benzocaine 12%, dan tween 12%.

Phtirus Pubis (Kutu Kelamin)


Berikut ini adalah pemberatasan Phtirus pubis.
1. Secara mekanik: memotong pendek/mencukur semua rambut-rambut
kelamin, rambut ketiak, siram WC/urinour dengan air panas.
2. Secara kimia: pemakaian bubuk DDT 10% ditaburkan pada daerah
kelamin, ketiak selama 2-4 jam, pemakaian campuran seperti pada
pemberantasan kutu badan. Cara ini walaupun efektif, namun
menanggung risiko terjadinya peracunan, sehingga tidak dianjurkan.
Cimex lectularis (Kutu Busuk)
Pemberantasan Cimex lectularis dengan cara digites, dipukul, diinjak,
pemberantasan dari alat-alat yang tidak dipakai, pemanasan ruangan dengan
temperatur 51-52oC, secara kimia dengan DDT 5% atau lindane 0,5%
(disemprotkan kepada benda tempat tinggal kutu tersebut), minyak tanah, solar,
atau kapur barus.
Kecoa
Pemberantasan kecoa dengan memerhatikan sanitasi lingkungan, pengumpulan
makanan, pembuangan sisa-sisa makanan yang memenuhi persyaratan sanitasi,
dan pemberantasan secara kimia menggunakan chlordane 2-3%.
Pengendalian Tikus
Berikut ini ada 3 teknik pengendalian tikus.
1. Perbaikan sanitasi lingkungan
a. Penyimpanan sampah. Sarana penyimpanan sampah hendaknya cukup
untuk menampung seluruh sampah yang dihasilkan selama satu hari,
sehingga tidak menjadi sarang tikus.
b. Penyimpanan barang yang masih berguna. Penyimpanan barang di
gudang dengan cara yang benar dapat mengurangi tempat
persembunyian dan sumber makanan bagi tikus.
c. Pengumpulan sampah. Pengelolaan sampah yang baik bergantung
pada usaha pengumpulan sampah yang baik pula. Usaha pengumpulan
sampah rumah tangga dua kali seminggu unutk mencegah kelebihan
beban pada sarana penyimpanan sampah rumah tangga, sehingga
memungkinkan tikus tidak memperoleh makanan dan tidak menjadi
tempat bersarang bagi lalat.
d. Pembuangan sampah. Tempat sampah yang terbuka dan penumpukan
sampah basah di daerah terbuka akan menjadi sarang utama lalat dan
tikus. Cara pembuangan dengan penimbunan sanitasi (sanitasi land
fiell) dapat menghambat perkembangan populasi tikus.
2. Pembunuhan tikus

a. Pembunuhan tikus merupakan bagian yang terpenting dalam rangka


meningkatkan sanitasi dan faktor lingkungan yang lainnya.
b. Cara pembunuhan tikus dapat dilaksanakan dalam berbagai cara.
Peracunan. Penggunaan racun dalam pengendalian tikus sering
kali dilakukan bersama dengan umpan, upaya pembunuhan tikus
dengan racun ini juga disebut pengumpanan atau pemasangan
umpan racun.
Pemasangan perangkap. Dilakukan apabila peracunan
mengalami kegagalan/dihadapkan pada risiko yang sangat tinggi
dimana bau bangkai tikus yang tidak ditemukan akan
menimbulkan masalah.
Pengasan (gassing). Penggasan ke dalam lubang tikus
dipergunakan sebagai tindakan pelengkap dalam pembunuhan
tikus. Penggasan ini tidak boleh dilakukan oleh tenaga pelaksana
yang tidak terlatih. Bahan yang dipergunakan untuk penggasan
antara lain celanin, sianida, debu sianida, dsb.
Pembunuhan oleh predator. Pengaruh predator terhadap
pengurangan populasi tikus hanya bersifat sementara. Kegiatan
predator ini merupakan faktor pembatas yang memengaruhi
keseimbangan polpuasi tikus di suatu tempat.