Anda di halaman 1dari 25

EMBRIOLOGI MATA

Mata berkembang dari 3 lapis embrional primitive :


1. Ektoderm Permukaan, membentuk :
lensa mata ( merupakan lapisan ektoderm di dalam lapisan
mesoderm. Oki apabila lensa terkena racun, dapat meracuni
mesoderm )
Glandulamakrinalis
Konjungtiva
2. Ektoderm Neural menghasilkan vesikel
optik dan mangkok
optik untuk membentuk retina dan serta N. Optikus.
3. Mesoderm membentuk otot ekstra okuler.
Tahapan Perkembangan Embriologi Bola Mata
1. Tahap Vesikel Optik
Pada janin 2,5 mm( 2 minggu ) terbentuk plika neuralis, kemudian
membentuk tuba neuralis pada minggu ke 3.
Pada janin 9 mm (4 minggu), tuba neuralis membentuk Vesikel Optik
2. Tahap Mangkok Optik
Pada janin 5 mm vesikel optik berinvaginasi membentuk mangkok
optik.
Perkembangan Embriologis Struktur Spesifik
1. Palpebra & Apparatus Lakrimalis
Kuncup palpebra mulai terbentuk pada janin 16 mm (6 minggu),
menyatu pada janin 37 mm (8 minggu), kemudian memisah pada
bulan ke 5.
2. Sklera dab Otot Ekstra Okuler selesai pada janin 5 bulan.
3. Lensa Mata selesai pada bulan ke 7.
4. Retina
Pada bulan ke 8 makula lebih tebal dari bagian retina yang lain dan terjadi
percekungan macula lutea. Makula berkembang secara antomis sampai
berumur 6 bulan sesudah lahir.
*perkembangan visus sampai umur 2 tahun.
Mata berkembang dari tiga lapis embrional primitive : surface
ectoderm (ectoderm permukaan), termasuk derivatnya yaitu crista
neuralis; neural ectoderm (ectoderm neuralis); dan mesoderm.Endoderm

tidak ikut pembentukan mata. Mesenkim adalah istilah untuk jaringan ikat
embrional. Jaringan ikat ocular dan adneksa dulu diduga berasal dari
mesoderm namun kini ternyata bahwa kebanyakan mesenkim di kepala
berasal dari Krista neuralis kranialis.

SURFACE ECTODERM / EKTODERM PERMUKAAN


Membentuk :
1. Lensa
2. Glandula lakrimalis
3. Epitel korne
4. Konjungtiva
5. Glandula adneksa
6. Epidermis palpebra

CRISTA NEURALIS
Berasal dari surface ectoderm,daerah yang tepat bersebelahan plika
neuralis dari ectoderm neural. Membentuk:
1. Keratosit kornea
2. Endotel kornea dan jaringan trabekel
3. Stroma iris dan koroid
4. Muskulus siliaris
5. Fibroblas dari sklera
6. Vitreus

7. Meninges nervus Optikus


8. Tulang
9. Tulang rawan orbita
10. Jaringan ikat dan saraf orbita
11. Muskulus ekstra ocular
12. Lapis-lapis subepidermal palpebra

MESODERM
Tunika fibrosa (luar)
Belakang

: sclera (+ capsula tenon)

Depan

: stroma kornea (kecuali epitel)

Tunika Vaskulosa (dalam)


Belakang

: uvea posterior ( koroid )

Depan

: uvea anterior (sebagian dibentuk oleh neural ectoderm)

Corpus ciliaris (pembuluh darah dan jaringan ikat)


Muskulus ciliaris
Stroma iris
NEURAL ECTODERM
Vesikel cup - double walled cup (tunika nervosa)
Depan (pars caeca)
Pars ciliar
Dalam : secretory (humor aquos)
Luar

: pigmen

Pars iradica
Dalam

: pigmen

Luar

: otot iris (otot iris bagian luar dibentuk oleh neural ectoderm)

Belakang (pars Optica)


Dalam

: Retina

Luar

: Pigmen (Daerah ini paling mudah mengalami ablasio retina)

Optic stalk (choroid fissure - a tube within a tube)


Tengah

: pembuluh darah (A & V Opthalmica) Mesoderm

Luar

: nerve fibers

Pada proses embriologi mata terbagi 3 stadium : stadium gelembung


optic, stadium cekungan optic dan stadium diferensiasi

STADIUM GELEMBUNG OPTIK


Minggu ke 3 proensefalon, mesensefalon dan rhombensefalon.
Pertengahan minggu ke 4 prosensefalon jadi telensefalon dan
diensefalon, rhombensefalon menjadi metensefalon dan mielensefalon.
Terlihat tangkai optik yang berasal dari sambungan telensefalon dan
diensefalon.
STADIUM CEKUNGAN OPTIK
Gelembung optik invaginasi cekungan optic. Pada bagian bawah tangkai
optik melekuk ke dalam dan terbentuk celah koroid. Terbentuk pula
gelembung lensa yang terpisah dari ektoderm permukaan dan
mengambang bebas di tepi cekungan optic. Minggu ke 4 celah koroid
menutup hingga janin 4 bulan dan menjadi arteri dan vena retina sentral.
STADIUM DIFERENSIASI
Pada stadium ini berkembang menjadi struktur masing-masing.
Ektoderm
:
kulit
kelopak,
konjungtiva
dan
epitel
kornea,
Neuroektoderm : retina dan pigmen epitel. Mesoderm : stroma kornea,
sklera, koroid, stroma iris dan otot penggerak mata. Lensa mata : terjadi
pemanjangan sel-sel dinding posterior. Minggu ke 7 serabut lensa
memanjang dari ekuator depan : epitel subkapsular belakang : di bawah
kapsula lensa. Bertemunya serabut-serabut terbentuk Y di depan dan Y
terbalik di belakang. Selesai pada minggu ke 28. Retina terbagi atas 2
lapisan yaitu Lapisan luar dari cekungan optik bertahan 1 lapisan epitel
pigmen. Lapisan bagian dalam berdiferensiasi 9 lapisan berlangsung
selama kehamilan. Minggu ke 28 terbentuk inti dari sel kerusut dan
batang, sel hanglion dan serabut saraf. Saraf optik : akson dan lapisan sel
ganglion retina tangkai optik saraf optik minggu ke 7. Koroid :minggu
ke 12 berkembang jadi vena vortikosa. Iris dan badan silliar : minggu ke
12 tepi cekungan optik tumbuh ke depan. Kedua lapisan berpigmen pada
iris, bagian luar yaitu badan silliar. 20 minggu otot sfingter pupil minggu
ke 24 otot dilatators. Badan kaca : terbagi 3 stadium yaitu primer
minggu ke 3 sampai ke 6, sekunder minggu ke 6 sampai minggu ke 10,
tersier minggu ke 10 samapi seterusnya. Kornea : epitel berasal dari
ektoderm permukaan, sisanya dari mesoderm. Dan diferensiasinya pada
usia 5 minggu minggu ke 16. Sklera dan otot luar mata : dari pemadatan
mesoderm yang melingkupi cekungan optik pada kehamilan 7 minggu
selesai minggu ke 1 Kelopak dan sistem lakrimal : kelopak dari lapisan
mesoderm, tonjolan kelopak usia 6 minggu dan minggu ke 20 pemisahan.
Kelenjar lakrimal dan sistem ekskresi dari lapisan ektoderm

ANATOMI MATA

I. Rongga Orbita
Terdapat 7 tulang yang membentuk dinding orbita:

1) Superior

os frontal

2) Lateral

os sfenoid, os frontal, os zigomaticum

3) Inferior

os zigomaticum, os palatinum, os maksila

4) Nasal :

os etmoidale, os lakrimal, os maksila

II.

Struktur Tambahan Mata


1) Palpebra/kelopak mata
-

Fungsi: melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar, dan


kekeringan

Vaskularisasi: a.palpebra

Inervasi: nervus kranialis V

2) Konjungtiva: membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian


belakang
a) Konjungtiva tarsal

menutupi tarsus

b) Konjungtiva bulbi

c) Konjungtiva forniks
:
dengan konjungtiva bulbi

menutupi sklera
tempat peralihan konjungtiva tarsal

Mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet untuk


membasahi bola mata, terutama kornea.
3) Apparatus lakrimal

III.

Terletak di darah temporal bola mata

Fungsi: sekresi air mata

Air mata yang diproduksi oleh glandula lakrimal masuk ke dalam


sakus lakrimal melalui pungtum lakrimal. Kemudian berjalan ke
duktus nasolakrimal, dialirkan ke dalam rongga hidung di dalam
meatus inferior.

Bulbus Oculi
1) Sklera

Lapisan luar di 5/6 bagian posterior bola mata

Terdiri dari jaringan ikat yang kenyal, berwarna opak

Melindungi dan memberi bentuk pada mata

2) Kornea
-

Bagian terdepan sklera, 1/5 bagian anterior bola mata

Merupakan selaput bening mata, bersifat transparan

Fungsi: berperan sangat penting dalam kemampuan refraktif mata

Inervasi: saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf V saraf siliar


longus
-

Terdiri atas 5 lapisan:


a)

Epitel
terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling
tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal, dan sel
gepeng
-

b)

c)

d)

Berasal dari ektoderm permukaan

Membran Bowman
-

Merupakan lapisan kolagen yang tersusun tidak teratur

Tidak mempunyai daya regenerasi

Stroma
-

Menyusun 90% ketebalan kornea

Terdiri atas lamel dan keratosit

Membran Descement
-

Merupakan membran aselular, dihasilkan sel endotel

Bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur

hidup
e)

Endotel
-

Berasal

heksagonal

3) Aqueous humor

dari

mesotelium,

berlapis

satu,

bentuk

Cairan encer jernih yang terus-menerus dibentuk untuk mensuplai


nutrisi ke kornea dan lensa.

4) Iris
-

Terdiri dari dua lapis epitel pigmen

Fungsi: mengubah
menentukan warna mata

ukuran

pupil

dengan

berkontraksi

dan

5) Pupil
-

Lubang bundar anterior di bagian tengah iris

Fungsi: mengatur jumlah cahaya yang masuk ke dalam mata

6) Lensa
-

Berasal dari ektoderm permukaan, terletak di belakang iris

Berbentuk lempeng cakram bikonveks yang berperan dalam proses


akomodasi
Epitel lensa akan membentuk serat lensa terus-menerus sehingga
mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian sentral membentuk
nukleus lensa yang merupakan serat lensa yang tertua di dalam kapsul
lensa.
Di bagian luar nukleus terdapat serat lensa yang lebih muda
yang disebut
korteks lensa

7) Ligamentum suspensorium
-

Tergantung di antara otot siliaris dan lensa

Penting dalam akomodasi

8) Badan siliar
-

Terletak di belakang iris

Memproduksi aqueous humor

9) Vitreous humor
-

Terletak di antara lensa dan retina

Merupakan
zat
semi
cair
mirip
mempertahankan bentuk mata yang bulat

10)
-

gel

yang

membantu

Koroid

Lapisan kedua yang melindungi bola mata,

Merupakan lapisan berpigmen untuk mencegah berhamburnya


berkas cahaya yang masuk ke dalam mata
-

Mengandung pembuluh darah yang mensuplai nutrisi ke retina

Membentuk badan siliaris dan iris

11)

Retina

Terdiri dari 10 lapisan, yaitu:


-

Sel epitel pigmen

Lapis fotoresptor
Terdiri atas batang dan sel kerucut.

Membran limitan esterna


Merupakan membran ilusi.

Lapis nukleus luar


Susunan lapis nukleus sel kerucut dan sel batang

Lapis pleksiform luar

Tempat sinapsis sel fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel


horizontal.
-

Lapis nukleus dalam


Merupakan tubuh sel bipolar, sel horizontal dan sel Muller.

Lapis pleksiform dalam

Tempat sinapsis sel bipolar, sel amakrin, dan sel ganglion.


-

Lapis sel ganglion


Merupakan lapis badan sel dari neuron kedua.

Lapis serabut saraf


Merupakan lapis akson sel ganglion menuju ke arah saraf optik.

Membran limitan interna


Merupakan membran hialin antara retina dan badan kaca.

Otot penggerak bola mata

terdiri dari 6 otot:

Obliqus inferior
Obliqus Superior
Rektus inferior
Rektus superior
Rektus lateral
Rektus medial

1. Obliqus Inferior
Origo

: fosa tulang lakrimal (nasal)

Insersio

: sclera posterior 2mm dari macula

Persyarafan: okulomotor (III)


Pergerakan : ke atas, lateral

2. Obliqus Superior
Origo

: Anulus Zinni

Insersio

: sclera bagian temporal belakang bola mata

Persyarafan: troklear (IV)


Pergerakan : miring dari bagian
pengelihatan searah / kearah nasal

troklea/

sumbu

aksi

dan

sumbu

3. Rektus Inferior
Origo

: Anulus Zinni

Insersio
: 6mm dari belakang limbus yang pada persilangan dengan
Obliqus inferior diikat dengan ligament Lockwood
Persyarafan: okulomotor (III)
Pergerakan : depresi, bawah, medial

4. Rektus Lateralis
Origo

: Anulus Zinni

Insersio
: permukaan lateral bola mata tepat posterior terhadap tau
kornea dan sclera
Persyarafan: abdusens (VI)
Pergerakan : memutar bola mata sehingga kornea ke lateral

5. Rektus medius
Origo

: Anulus Zinni

Insersio

: permukaan medial bola mata

Persyarafan: okulomotor (III)


Pergerakan : adduksi ke medial

6. Rektus Superior
Origo

: Anulus Zinni

Insersio

: 7mm dibelakang limbus superior bola mata posterior

Persyarafan: okulomotor (III)


Pergerakan : mengangkat kornea ke atas dan medial

FISIOLOGI MATA

Mata berfungsi sebagai organ penglihatan dalam tubuh manusia. Suatu


penglihatan yang tepat / jelas bergantung pada kemampuan mata untuk
memfokuskan cahaya yang masuk. Pemfokusan cahaya yang masuk ke
mata melalui mekanisme refraksi (pembiasan cahaya).

Pembiasan Cahaya (Refraksi Cahaya)


Refraksi cahaya adalah pembelokan suatu berkas cahaya ketika berkas
cahaya tersebut berpindah dari satu medium ke medium lain dengan
densitas yang berbeda. Suatu berkas cahaya dapat dibiaskan karena
terdapat perbedaan kecepatan rambatan cahaya daari medium yang satu
ke medium lainnya. Cahaya sendiri memiliki beberapa sifat yaitu memiliki
kecepatan, panjang gelombang, dan frekuensi. Pada media refraksi yang
berbeda, kecepatan dan panjang gelombang cahaya berubah, namun
frekuensinya tetap. Warna tergantung pada frekuensi sehingga warna dari
seberkas cahaya tidak diubah sewaktu melewati media refraksi.
Selain pada media refraksi yang densitasnya berbeda, pembiasan cahaya
dapat terjadi saat cahaya menembus permukaan miring atau melengkung
pada kedua medium yang berbeda kepadatannya.

Refraksi pada Mata


Cahaya yang masuk kedalam mata harus melalui beberapa media refraksi
di dalam mata untuk dapat di fokuskan pada retina sehingga kita dapat
melihat dengan jelas. Beberapa media refraksi yang terdapat pada mata
adalah: Kornea, Aqueos humor, Lensa, dan Vitreus humor. Dua struktur
media refraksi yang paling penting dalam kemampuan refraksi mata
adalah kornea dan lensa.
1. Kornea
Permukaan kornea merupakan struktur pertama yang dilalui cahaya
sewaktu masuk mata. Pertemuan berkas cahaya dari udara dengan
permukaan kornea menimbulkan kemampuan refraksi total mata karena
perbedaan densitas pertemuan udara/ kornea jauh lebih besar
dibandingkan pada perbedaan densitas antara lensa dan cairan yang

mengelilinginya. Pada kornea besarnya


ditentukan oleh kelengkungan kornea.

pembiasan

cahaya

juga

2. Iris
Setelah melalui kornea berkas cahaya harus menembus media refraksi
mata lain, yaitu Aqueos humor untuk selanjutnya diteruskan ke lensa.
Namun, untuk dapat diteruskan sampai pada lensa berkas cahaya harus
melewati suatu celah yang disebut dengan pupil. Pulpil adalah celah yang
terbentuk dari iris. Iris dan pupil berfungsi untuk mengatur banyaknya
cahaya yang masuk.
Pada iris terdapat 2 otot, yaitu otot sirkuler dan otot radial yang akan
menyebabkan pupil miosis atau midriasis. Otot sirkuler menyebabkan
pupil midriasis, sementara otot radial menyebabkan pupl miosis.

3. Lensa
Setelah melewati pupil dan dibiaskan pada Aqueos humor, selanjutnya
berkas cahaya akan dibiaskan pada lensa. Bentuk lensa yang terdapat di
dalam mata adalah bikonveks. Sifat dari lensa konveks adalah
menyebabkan konvergensi atau penyatuan, sehingga peran lensa pada
mata adalah memfokuskan cahaya yang masuk ke dalam mata tepat di
retina. Untuk memfokuskan bayang tersebut membutuhkan kekuatan
lensa yang disesuaikan dengan jarak benda yang dilihat. Kemampuan
kekuatan lensa tersebut dapat disesuaikan melalui proses yang disebut
proses akomodasi.
Untuk penglihatan jauh (lebih dari 6 meter) berkas sinar yang masuk ke
dalam mata adalah berkas sinar sejajar. Lensa tidak berakomodasi untuk
memfokuskan cahaya yang masuk. Dalam hal ini lensa yang tidak
berakomodasi berbentuk lebih gepeng. Hal ini terjadi karena terjadi
peregangan pada ligamentum suspensorium akibat otot siliaris tidak
berkontraksi. Sebaliknya ketika kita melihat benda yang lebih dekat mata
kita haarus berakomdasi agar cahaya yang masuk dapat tepat difokuskan
di retina. Keadaan lensa yang berakomodasi akan lebih cembung (sferis).
Lensa tersebut dapat mencembung karena ligamentum suspensorium
tidak meregang akibat otot siliaris yang berkontraksi.

PROSES MELIHAT

Seperti yang telah diketahui bahwa fungsi mata adalah


memfokuskan cahaya dari lingkungan ke sel-sel batang dan kerucut (sel
fotoreseptor retina), dimana fotoreseptor berperan dalam mengubah
energy cahaya menjadi sinyal listrik yang nantinya akan disalurkan ke
system saraf pusat

Retina
Retina atau selaput jala, merupakan bagian mata yang mengandung
reseptor (sel batang dan sel kerucut) yang menerima rangsangan cahaya.
Tepat ditengah retina, terdapat cekungan sebesar pangkal jarum pentul
yang disebut fovea. Pada bagian ini hanya dijumpai sel kerucut, sehingga
ditempak ini merupakan titik untuk penglihatan tajam.

Proses melihat dimulai dari adanya berkas cahaya yang masuk, kemudian
melewati kornea sebagai media refraksi pertama, dan kemudian melewati
pupil yang besar kecilnya diatur oleh iris. Sebelum melewati pupil, berkas
cahaya akan dibiaskan melalui aqueus humor, yaitu suatu cairan yang
terletak antara cornea dan iris. Setelah itu berkas cahaya tersebut juga
akan dibiaskan oleh lensa dan kemudian berkas cahaya tersebut akan
difokuskan agar jatuh tepat di retina (fovea centralis). Pada retina, berkas
cahaya tersebut akan ditangkap oleh fotoreseptor dan kemudian
dihantarkan ke neuron bipolar dan kemudian ke sel ganglion. Setelah itu
akson sel ganglion akan bersatu membentuk saraf optikus dan keluar dari
retina menuju kiasma optikus yang terletak dibawah hipotalamus,
kemudian berlanjut menjadi traktus (jaras) optikus. Traktus optikus ini

akan bersinaps di nucleus genikulus lateralis yang terletak di thalamus


yang kemudian nantinya akan berakhir do lobus oksipitalis untuk di
presentasikan.

Korteks Penglihatan di Lobus Okspitalis

Korteks penglihatan primer

Pada fisura calcarina meluas bersama dengan area kortikal 17 Broadman

Korteks penglihatan sekunder

Pada korteks atau area asosiasi penglihatan, terletak di sebelah lateral,


anterior atau superior dan inferior terhadap korteks penglihatan primer.

KELAINAN REFRAKSI
Miopi

Miopi atau rabun jauh adalah kelainan mata yang disebabkan bayangan
jatuh di depan retina. Miopi dapat ditolong dengan menggunakan lensa
cekung yang bernilai negatif (nearsighted). Mata miopi disebabkan
akomodasi lensa matanya tak dapat menggeser bayangan ke retina, lensa
mata terlalu konvergen (cembung).
Mata miopi memiliki punctum remotum lebih dekat ke mata dibandingkan
dengan mata normal. Sementara, punctum proximum nya normal.
Akibatnya mata selalu berkonvergensi
Epidemiologi
Prevalensi pria dan wanita sama. Lebih sering mengenai anak anak dan
dewasa muda.
Klasifikasi Miopi
Bentuk Miopi

Miopi Refraktif diakibatkan bertambahnya indeks bias


media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumesen
dimana lensa menjadi lebih cembung.

Miopi Aksial diakibatkan terlalu panjangnya sumbu bola


mata anterior-posterior, normalnya 23 mm, dengan
kelengkungan kornea dan lensa yang normal. Biasanya
disebabkan karena faktor genetik. Pada penelitian disebutkan
juga bahwa anak anak yang sedang dalam masa
perkembangan
dibiasakan
membaca
dekat,
juga
mempengaruhi perkembangan bola mata menjadi lebih
panjang

Derajat Beratnya

Ringan miopi yang bisa dikoreksi dengan lensa < 3 dioptri

Sedang miopi yang bisa dikoreksi dengan lensa 3 6 dioptri

Berat miopi yang bisa dikoreksi dengan lensa > 6 dioptri

Perjalanan Miopi

Stasioner miopi yang menetap setelah dewasa (>20 tahun)

Progresif miopi yang bertambah terus pada usia dewasa


akibat bertambahnya panjang bola mata

Maligna miopi yang progresif. Dapat menyebabkan ablasio


retina dan kebutaan. Disebut juga miopi degeneratif. Biasanya
bila miopi > 6 dioptri disertai kelainan fundus okuli dan
panjangnya bola mata sampai terbentuk stafiloma postikum
yang terletak pada temporal papil disertai artrofi korioretina

Gejala Klinis

Kabur saat melihat benda atau tulisan jauh dan lebih baik pada
pengelihatan dekat

Sakit kepala

Celah kelopak (rima okuli) sempit

Sering mengernyitkan mata untuk mendapat efek pinhole

Cepat lelah dan mata berair saat membaca.

Juling ke dalam (esotropia) pada miopi yang tinggi dan lama

Pada pemeriksaan funduskopi miopik kresen, gambaran bulan


sabit pada polus posterior fundus. Pada miopi tinggi ditemukan
degenerasi makula dan retina perifer

Pemeriksaan

Orang rabun jauh dapat dengan mudah membaca kartu Jaeger (chart
untuk membaca dekat), namun memiliki kesulitan membaca Snellen chart
(grafik
untuk
membaca
jauh).
Sebuah pemeriksaan mata umum, atau ujian oftalmik standar bisa
meliputi:

Pengukuran tekanan bola mata

Tes Refraksi, untuk menentukan resep kacamata yang benar

pemeriksaan retina

Pengujian dari otot-otot yang menggerakkan mata

Visual ketajaman, baik pada jarak (Snellen), dan menutup (Jaeger)

Penatalaksanaan
Kacamata sferis negatif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan
maksimal. Bila penderita dikoreksi dengan sferis 2,00 memberikan
ketajaman penglihatan 6/6, demikian juga bila diberi S-2,25. Maka
diberikan lensa koreksi S-2,00 agar memberikan istirahat mata sesudah
koreksi
Beberapa tindakan bedah juga dapat dilakukan seperti photorefractive
keratectomy (PRK) atau laser assisted in-situ keratomileusis (LASIK).
Dapat juga dilakukan orthokeratologi atau terapi penglihatan (vision
therapy)
Prognosis
Diagnosis dini rabun jauh sangat penting, karena seorang anak dapat
menderita secara sosial dan bidang pendidikan dengan tidak bisa melihat
dengan baik di kejauhan
Komplikasi
Esotropia karena mata berkonvergensi terus menerus
Ablasio retina disebabkan karena tingginya miopi
Komplikasi dapat terjadi pada orang yang menggunakan lensa kontak
(ulkus kornea dan infeksi)
Pencegahan

Banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung lutein,


buah-buahan dan sayur-sayuran yang mengandung vitamin A dan
Beta Karotin. Lutein ini berguna sebagai pemfilter sinar biru yang
merupakan toksik mata

Jaga kondisi kesehatan anda dari berbagai penyakit seperti diabetes


dan hipertensi

Selalu membiasakan diri berada ditempat dengan cahaya yang


cukup, terutama pada saat membaca dan melakukan aktivitas
lainnya. Jangan pula sering melihat televisi dengan keadaan lampu
yang dimatikan.

Sering-seringlah istirahatkan mata anda pada saat berada didepan


komputer, atau pada saat melihat televisi

Hipermetropi
Hipermetropi adalah kelainan mata yang disebabkan bayangan jatuh di
belakang retina. Cacat mata ini dapat ditolong dengan lensa positif. Mata
yang tidak dapat memfokuskan benda pada jarak dekat. Titik dekat (PP)
agak lebih besar dari mata normal 25 cm dan titik jauh penglihatan tak
terhingga, yang menyebabkan sulit membaca. Kelainan ini disebabkan
lensa mata terlalu pipih sehingga bayangan benda yang dilihat terbentuk
di belakang retina.
Epidemiologi
hipermetropi biasanya diderita oleh orang-orang paruh baya yang
kesulitan melihat pada jarak dekat.
Penyebab

Hipermetropi Refraktif diakibatkan berkurangnya indeks bias


media penglihatan (lensa) akibat tidak bisa mencembungnya lensa
lebih besar

Hipermetropi Aksial diakibatkan terlalu pendeknya sumbu bola


mata anterior-posterior, normalnya 23 mm

Hipermetropi Kurvatur kelengkungan kornea atau lensa kurang


sehingga bayangan jatuh dibelakang retina

Bentuk Hipermetropi

Hipermetropi manifes ditentukan dengan lensa sferis (+) terbesar


dengan visus sebaik baiknya tanpa sikloplegi. Kekuatannya sesuai

dengan banyaknya akomodasi


diletakkan didepan mata.

yang

dihilangkan

bila

lensa

Hipermetropi absolut hipermetropi manifes tanpa akomodasi


sama sekali. Tidak bisa berakomodasi

Hipermetropi fakultatif hipermetropi manifes dengan akomodasi.


Masih bisa berakomodasi

Hipermetropi laten hanya bisa diukur dengan pemberian


sikloplegi terlebih dahulu. Merupakan selisih antara hipermetropi
total dan manifes.

Hipermetropi total seluruh derajat hipermetropi, didapatkan


setelah akomodasi dilenyapkan atau pada relaksasi muskulus
siliaris. Pemeriksaan dilakukan dengan pemberian sikloplegi terlebih
dahulu. Hasilnya lebih besar dari hipermetropi manifes.

Gejala Klinis

Pengelihatan dekat kabur, pada umumnya pengelihatan jauh tidak


ada keluhan. Bila derajat hipermetrop tinggi, maka pengelihatan
jauh menjadi terganggu.

sakit kepala

silau

kadang melihat ganda.

Penatalaksanaan
Kacamata sferis positif terbesar yang memberikan ketajaman penglihatan
maksimal. Bila penderita dikoreksi dengan sferis + 2,00 memberikan
ketajaman penglihatan 6/6, demikian juga bila diberi S+2,25. Maka
diberikan lensa koreksi S+2,25 agar memberikan istirahat mata sesudah
koreksi
Komplikasi
Esotropia mata selalu berakomodasi
Glaukoma akibat hipertrofi M siliaris.
Presbiopia
Hilangnya daya akomodasi yang terjadi bersamaan dengan proses
penuaan pada semua orang.

Epidemiologi
Mulai usia 40 tahun keatas.
Etiologi
Gangguan akomodasi pada presbiopia terjadi akibat :
1. Kelemahan otot akomodasi
2. Lensa mata tidak kenyal atau berkurangnya elastisitasnya akibat
skerosis lensa
Gejala
1. Merasa tidak mampu membaca huruf kecil/membedakan benda-benda
kecil yang terletak berdekatan.
2. Setelah membaca, mata lelah, berair, sering tersa pedas.
3. Baca dengan menjauhkan kertas yang dibaca.
4. Gangguan pekerjaan terutama di malam hari.
5. Memerlukan sinar yang lebih terang untuk membaca.
Penatalaksanaan
Koreksi dengan menggunakan lensa plus untuk mengatasi daya focus
otomatis lensa yang hilang. Kacamata bifokus mempunyai dua lensa. Yaitu
untuk membaca dipasang dibawah dan untuk melihat jarak jauh dipasang
diatas.
Astigmatisma
Suatu keadaan dimana berkas sinar tidak difokuskan pada satu titik
dengan tajam pada retina akan tetapi pada dua garis titik api yang saling
tegak lurus yang terjadi akibat kelainan kelengkungan permukaan
korneaa.
Epidemiologi
Tersebar merata di berbagai usia dan jenis kelamin.
Etiologi
Kelainan bentuk kornea dan lensa.
Bentuk-bentuk astigmatisma :
1. Astigmatisma regular : terbentuk dua garis focus, bayangan regular.
2. Astigmatisma irregular : bayangan irregular.

Penatalaksanaan
:
Koreksi
dengan
dikombinasikan dengan lensa sferis.

lensa

silindris,

seringkali

Ambliopia
Penurunan ketajaman penglihatan pada satu mata (yang tidak dapat
dikoreksi dengan lensa) tanpa adanya penyakit mata organic (tapi
penyakit mata organic mungkin saja ada).
Epidemiologi
Pada anak-anak.
Etiologi :
1. Deprivasi penglihatan (misalnya
hipoplasia nervus opticus).

katarak

congenital

atau

2. Strabismus
3. Kelainan refraksi
Gejala
Mungkin mengedipkan mata, menutup satu mata dengan tangan, atau
mempunyai satu mata yang tidak melihat arah yang sama dengan mata
lainnya.
Pencegahan
Pemeriksaan skinning penglihatan rutin sebelum usia 4 tahun untuk
mendeteksi penurunan ketajaman penglihatan atau adanya faktor-faktor
ambliogenik (strabismus, anisometropia).
Penatalaksanaan
Sesuai dengan etiologi, misalnya katarak maka tindakan operasi. Lebih
cepat pengobatan prognosis lebih baik. Lebih baik usia 2-4 tahun. Kalau
tidak diobati menjelang 8 tahun prognosis dubia et malam yaitu kebutaan
permanen pada mata yang terkena.