Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

ANALISA KUALITATIF TERHADAP KARBOHIDRAT

Oleh :
Wildan Arsyad Fadly

(1147020043)

Tanggal praktikum

: Senin, 21 September 2015

Tanggal pengumpulan

: Senin, 5 Oktober 2015

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM MEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2015

Hasil Pengamatan
Perlakuan
1. Tes umum karbohidrat
Tes Molisch
2 ml madu diteteskan ke tabung reaksi,
2 ml madu diteteskan ke tabung reaksi + 6
ml air,
ditambah 2 tetes pereaksi molish (tak
berwarna),
ditambah 2 ml H2SO4 pekat
(tak
berwarna).

2.

Tes Oksidasi Gula


Tes Benedict
Masing-masing 5 ml pereaksi benedict
(biru) dimasukkan ke 2 tabung reaksi,
ditambahkan 8 tetes madu pekat ke satu
tabung dan madu cair ke tabung yang lain,
diaduk campuran dan dimasukan kedalam
penangas air selaa 3 menit,
didinginkan.
Tes Barfoed
Masing-masing 2 ml madu (pekat & cair)
dimasukkan ke 2 tabung reaksi,
ditambahkan 3 ml peresaksi Barfoed,
letakan campuran diatas penangas air
selama 12 menit dengan jeda 0 5 menit, 5
7 menit, dan 7- 12 menit.

Hasil

Madu pekat (tanpa tambahan air).


Madu cair (dengan tambahan air).
terdapat
cincin
di
permukaan
campuran dan warna campuran
menjadi merah bata dan keruh (madu
pekat).
terdapat cincin keruh di permukaan
campuran dan warna campuran
menjadi merah bata (madu cair).

Terjadi dua fasa. Hijau pekat di atas


dan kuning pucat di bawah, juga
terdapat endapan coklat di bawah
(madu pekat).
Larutan campuran berwarna jingga
dan endapan coklat (madu cair).

Larutan campuran tidak homogen


pereaksi warna biru di atas dan madu
tetap di bawah (madu pekat dan cair),
ada endapan biru dibawah dalam
madu pekat.
0 5 menit : Larutan campuran biru
hijau dengan sedikit endapan (madu
pekat dan cair).
5 7 menit : Larutan campuran warna
biru pekat di atas, hijau di bawah, ada
endapan, dan di permukaan terdapat
cincin (madu pekat). Larutan
campuran warna biru muda di atas,
dan hijau di bawah. (madu cair).
7 12 menit : Larutan campuran
warna biru pekat di atas, hijau di
bawah, dan ada endapan (madu
pekat). Larutan campuran homogen
warna biru muda dan di permukaan
terdapat cincin (madu cair).

3.

4.

Tes untuk Ketosa dan Pentosa


Tes seliwanof resorsinol untuk ketosa
Masing-masing 3 tetes madu (pekat &
cair) dimasukkan ke 2 tabung reaksi,
ditambahkan 3 ml pereaksi seliwanof,
dimasukan kedalam air mendidih.
Tes iodiun untuk kanji
3 tabung disiapkan ; tabung 1 ditambahkan
2 tetes air, tabung 2 ditambahkan HCl 6M,
dan tabung 3 ditambahkan 2 tetes NaOH,
tiap tabung ditambah 3 ml larutan kanji,
kemudian ditambahkan 1 tetes larutan
iodium 0,01 M.

5.

Hidrolisis kanji.
10 ml larutan kanji 1%,
ditambah 3 ml larutan HCl 3M,
ditetekan 1 tetes pada plat tetes sebagai
larutan control,
setiap selang waktu 3 menit selama 15
menit diambil 5 tetes campuran dan
ditambahkan larutan I2 0,01M,
ditambahkan larutan N2CO3 untuk
menetralkan campuran,
ditetesi
dengan
pereaksi
Benedict
berwarna biru.

Larutan campuran warna kuning pekat


untuk madu pekat dan kuning cerah
untuk madu cair sebelum dipanaskan.
Larutan campuran homogen warna
merah untuk madu pekat dan cair.
Larutan kanji berwarna putih.
Tabung berisi air : larutan campuran
putih keruh dengan endapan.
Tabung berisi HCl 6M : larutan
campuran putih keruh dengan banyak
endapan.
Tabung berisi NaOH : larutan
campuran putih keruh dengan banyak
endapan.
Larutan campuran berubah menjadi
putih keruh (dipanaskan) larutan
menjadi tak berwarna (suhu tetap)
Larutan campuran ada pada plat tetes
sebagai kontrol.
Larutan campuran menjadi coklat dan
ada endapan (dipanaskan) larutan
menjadi coklat pekat dan ada sedikit
endapan (suhu tetap).
6 menit : warna hitam coklat pudar
dan terlihat ada endapan dan berbau
(dipanaskan) warna hitam ungu pudar
dan belum terlihat endapan dan
sedikit berbau (suhu tetap).
9 menit : warna mulai memekat
perlahan dan endapan semkain banyak
serta bau (dipanaskan) warna tetap
ungu pudar dan belum ada endapan
dan berbau (suhu tetap).
12 menit : warna sudah terlihat hitam
coklat dan endapan tertimbun dibawah
dan berbau (dipanaskan) larutan mulai
terlihat ungu hitam memekat dan
timbul sedikit endapan dan berbau
(suhu tetap).
15 menit : larutan jadi hitam coklat
dan banyak endapan serta berbau
(dipanaskan) larutan jadi hitam ungu

pekat dan sedikit endapan (suhu


tetap).
Larutan berwarna coklat kekuningan
dan ada endapan (dipanaskan) larutan
berwarna coklat pekat dengan sedikit
kekuningan (suhu tetap).
Larutan berwarna hitam coklat
(dipanaskan) dan lartan berwarna
hitam ungu pekat dan sedikit endapan
dibawahnya (suhu tetap).

Pembahasan
Praktikum kali ini yaitu Analisa Kualitatif terhadap karbohidrat. Percobaan ini
menggunakan beberapa tes untuk mengetahui kandungan karbohidrat diantaranya yaitu :
menggunakan Tes Molish, Tes Benedict, Tes Barfoed, Tes seliwanoff resorsinol untuk Ketosa,
Tes Iodium untuk Kanji, dan Tes Hidrolisis Kanji.
1. Tes umum karbohidrat
a. Tes Molisch
Prinsip dari uji molisch ini adalah reaksi dehidrasi karbohidrat oleh asam sulfat dan
alfa naftol yang akan membentuk senyawa kompleks berwarna ungu. Dimana asam
sulfat berfungsi sebagai pembentukan senyawa furfural dan sebagai agen kondensasi.
Uji positif dari uji ini adalah terbentuknya cincin berwarna ungu. Uji molisch ini sendiri
adalah untuk menguji kandungan karbohidrat pada suatu sampel, jadi semua sampel
yang mengandung karbohidrat hasil ujinya positif (Soendoro, 2005).
Mekanisme dari reaksi ini adalah karbohidrat dihidrolisis menjadi monosakarida,
selanjutnya monosakarida jenis pentosa akan mengalami dehidrasi dengan asam
tersebut menjadi furfural, sementara golongan heksosa menjadi hidroksi-multifurfural
menggunakan asam organik pekat. Pereaksi Molisch yang terdiri dari -naftol dalam
alkohol akan bereaksi dengan furfural tersebut membentuk senyawa kompleks
berwarna ungu. Dimana monosakarida akan bereaksi lebih cepat daripada disakarida
dan polisakarida karena pada monosakarida langsung bisa mengalami dehidrasi dengan
asam sulfat membentuk furfural, sementara pada disakarida harus diubah dahulu
menjadi monosakarida baru bisa dihidrolisis oleh asam sulfat membentuk furfural
(Soendoro, 2005).
Reaksi yang terjadi adalah Pada tes ini mennjukan hasil positif dikarenakan sampel
madu membentuk cincin berwana ungu. Hasil ini dikarenakan Asam sulfat pekat yang
menarik air dari karbohidrat, dan dengan adanya resorsinol terbentuklah warna violet
atau ungu. Jadi madu yang digunakan mengandung karbohidrat. Tes Molisch sangat
spesifik untuk membuktikan adanya golongan monosakarida, disakarida, dan poli
sakarida pada karbohidrat. Warna ungu yang terbentuk disebabkan oleh reaksi dehidrasi
karbohidrat oleh asam sulfat (H2SO4). H2SO4 pekat berfungsi untuk menghidrolisis

ikatan pada sakarida untuk menghasilkan furfural. Furfural ini kemudian bereaksi
dengan reagent Molisch, -naphthol membentuk cincin yang berwarna ungu.
2. Tes oksidasi gula
a. Tes Benedict
Prinsip uji Benedict ialah ketika suatu senyawa uji memiliki gugus fungsi aldehida
atau gugus fungsi hemiasetal yang dapat membuka menjadi aldehida maka karbohidrat
tersebut merupakan gula pereduksi. Cu2+ yang terkompleks dengan benedict dapat
direduksi menjadi endapan merah bata (Cu2O). Persamaan reaksi yang terjadi pada uji
Benedict :
RCHO + 2 Cu2+ + 5 OH- RCO2- + Cu2O + 3 H2O
Setelah madu discampur dengan pereaksi benedict, terjadi dua fasa karena tidak
homogen, pereaksi benedict berwarna biru dan madu berwarna kuning. Namun setelah
dipanaskan benedict berubah warna menjadi warna merah bata. Tujuan dari uji
benedict ini untuk mengidentifikasi gula pereduksi. Gugus pereduksi ini berupa
aldehid dan keton. Mekanisme dari uji benedict adalah reagen yang tersusun atas
temaga sulfat, larutan natrium karbonat dan natrium sitrat. Mula mula glukosa
dioksidasi menjadi garam glukoramat yang mampu mereduksi CuO menjadi Cu2O
menjadi merah bata.
b. Tes Barfoed
Uji barfoed adalah uji untuk mengetahui, memisahkan antara monosakarida dan
disakarida pereduksi dalam suasana asam. Prinsip dari uji barfoed ini adalah sampel
dicampurkan dengan cupri asetat dan asam asetat pada larutan barfoed yang
memberikan keadaan asam. Kemudian dihasilkan endapan cupro oksida berwarna
merah bata yang menjadi indikasi hasil uji positifnya (Soendoro, 2005).
Mekanisme dari uji barfoed ini adalah Cu2+ dari pereaksi Barfoed dalam suasana
asam akan direduksi lebih cepat oleh gula reduksi monosakarida daripada disakarida
dan menghasilkan Cu2O (kupro oksida) berwarna merah bata. Sedangkan dehidrasi
fruktosa oleh HCL pekat menghasilkan hidroksimetilfurfural dengan penambahan
resorsinol akan megalami kondensasi membentuk senyawa kompleks berwarna merah.
Reaksi pada monosakarida lebih cepat daripada senyawa disakarida karena pada
senyawa disakarida harus diubah menjadi monosakarida (Soendoro, 2005).
Pereaksi Barfoed mereduksi ion Cu2+ menjadi Cu+. Uji ini termasuk uji spesifik.
Uji Barfoed dilakukan untuk memisahkan antara monosakarida dan disakarida.
Pereduksi dalam suasana asam. Karbohidrat direduksi pada suasana asam dengan
menambahkan fosfomolibdat. Pada larutan barfoed yang memberikan keadaan asam,
dan menghasilkan warna merah bata yang menjadi indikasi hasil uji positifnya.

Senyawa uji yang membentuk endapan merah bata adalah monosakarida sedangkan
yang tidak membentuk endapan merah bata (larutan berwarna biru) adalah disakarida.
3. Tes untuk kentosa dan pentose
a. Tes Seliwanoff Resorsinol untuk ketosa
Prinsip tes Seliwanoff, Ketosa didehidrasi lebih cepat daripada aldosa memberikan
turunan fulfural, yang selanjutnya berkondensasi dengan resorcinol memberikan warna
merah kompleks. Pereaksi Seliwanoff merupakan larutan resolsinol (1,3 dihidroksi
benzena) dalam HCl. Pada pengujian yang dilakukan dengan penambahan pereaki
Seliwanoff kedalam larutan karbohidrat tidak menserikan perubahan yang berarti
(warna larutan tetap bening) setelah dilakukan pemanasan terjadi perubahan. warna
pada dua larutan yaitu pada fruktosa yang menghasilkan warna merah kompleks dan
pada sukrosa yang menghasilkan warna orange. Pada larutan merah kompleks
diakibatkan oleh larutan resonsinol pada reaksi Seliwanoff yang bereaksi dengan
fruktosa reaksinya dimulai dengan diubahnya fruktosa menjadi hidroksi metil fulfuran
yang selanjutnya bereaksi dengan resonsinol.
Dari hasil pengamatan diatas bahwa berbagai macam larutan karbohidrat ternyata
pada saat dilarutkan dengan pereaksi Saliwanoff semuanya bereaksi dan warna yang
dihasilkan dari karbohidrat setelah bereaksi ada yang berwarna merah kompleks yang
menandakan bahwa pada jenis karbohidrat ini terdapat keton atau gugus keton, karena
pada dasarnya Saliwanoff hanya dapat bereaksi dengan karbohidrat yang memiliki
gugus keton. Contohnya, adalah fruktosa. Sedangkan pada jenis karbohidrat lain seperti
glukosa tak dapat dihidrolisis dengan Saliwanoff sehingga warna yang dihasilkan
bukan warna merah dan ini berarti tidak mengandung keton tetapi mengandung aldehid
sebab karbohidrat adalah polihidroksi keton atau polihidroksi aldehid.
4. Tes idodium untuk kanji
Prinsip tes Iodium, Iodium memberikan warna kompleks dengan polisakarida.
Tepung memberikan warna biru pada iodium, glikogen, dan tepung yang sudah
dihidrolisis sebagian (eritrodekstrin) memberikan warna merah sampai coklat dengan
iodium. Dari hasil praktikum yang dilakukan terjadi perubahan warna yang yang
tadinya tidak berwarna menjadi biru sekejap.warna biru tersebut merupakan suatu
warna kompleks yang dihasilkan karena iodium punya amilosa.
5. Hidrolisis kanji
Dari hidrolisis hidrolisis kanji, dihasilkan warna biru pekat pada yang tidak
dipanaskan terlebih dahulu. Dikarenakan HCl yang tidak dipanaskan tidak menguap.
Sedangkan yang dipaaskan maka HCl akan menguap ke udara.

Kesimpulan.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
-

Golongan karbohidrat ada empat yaitu monosakarida, disakarida, dan polisakarida.

Pada hasil yang didapat sampel madu positif mengandung karbohidrat.

Ada beberapa cara atau metode yang digunakan untuk menguji kandungan
karbohidrat pada sampel madu yaitu dengan tes molish, tes benedict, tes barfoed, tes
seliwanoff, tes iodium kanji , tes hidrolisis kanji.

Daftar Putaka
Abdurahmat, A. 2010. Bahan Ajar dan Penuntun Biokimia. Gorontalo: Universitas Gorontalo
Press.
Hawab, H. M. 2003. Pengantar Biokimia. Malang: Bayumedia Publishing.
Kusharto, C. M. 1992. Prinsip-prinsip Ilmu Gizi. Yogyakarta: Kanidius.
Ngili, Y. 2009. Biokimia Struktur dan Fungsi Biomolekul. Yoyakarta: Grungan Ilmu.
Purba, M. 2007. Kimia Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Soendoro, R. 2005. Prinsip-prinsip biokimia. Jakarta: Erlangga.
Waryat. 2006. Perbandingan Pemanis (Sukrosa, Fruktosa, dan Glukosa). Jakarta: Erlangga.