Anda di halaman 1dari 40

ASUHAN KEPERAWATAN

HUMAN IMUNODEFECIENCY VIRUS (HIV/AIDS)

OLEH :
KELOMPOK 1
KELAS A2 (2013)

NURUL FATIMAH ESTANG


NURUL ICHSAN
NURUL RAHMI
ANTONIUS
DIRJA GUNAWAN

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
LAPORAN PENDAHULUAN
HUMAN IMUNODEFECIENCY VIRUS (HIV)

I.

KONSEP MEDIK
A. Pengertian HIV/AIDS
Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah suatu kumpulan
gejala penyakit kerusakan sistem kekebalan tubuh, buka penyakit bawaan
tetapi di dapat dari hasil penularan. Penyakit ini di sebabkan oleh human
immunodefeciency virus (HIV). Penyakit ini telah menjadi masalah
internasional karena dalam waktu yang relatif singkat terjadi peningkatan
jumlah pasien dan semakin melenda banyak negara. Sampai sekarang belum
ditemukan vaksin atau obat yang relatif efektif untuk AIDS sehingga
menimbulkan keresahan didunia.
Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah suatu infeksi oleh
salah satu dari 2 jenis virus yang secara progresif merusak sel-sel darah putih
yang disebut limfosit, menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency
Syndrome) dan penyakit lainnya sebagai akibat dari gangguan kekebalan tubuh.
Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul
gejala AIDS:
1. Tahap 1: Periode Jendela

a.

HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV


dalam darah

b.

Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat

c.

Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini

d.

Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu - 6 bulan

1. Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:

a.

HIV berkembang biak dalam tubuh

b.

Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa
sehat

c.

Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah
terbentuk antibody terhadap HIV

d.

Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya


tahan tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)

B. Etiologi
Pada tahun 1986 di afrika ditemukan beberapa tipe HIV, yaitu HIV-1
yang sering menyerang manusia dan HIV-2 yang ditemukan di Afrika
Barat. Virus HIV termasuk subfamili lentivirinae dan famili retriviridae.
Asam nukleat dari famili retrovirus adalah RNA yang mampu
membentuk DNA dan RNA. Enzim transkiptase reversi menggunakan
RNA virus sebagai cetakan untuk membentuk DNA. DNA ini bergabung
dengan kromosom induk (sel limfosit T4 dan sel makrofag) yang berfungsi
sebagai pengganda virus HIV. Secara sederhana sel HIV terdiri dari:
1. Inti - RNA dan enzim transkriptase reversi (polimerase), protease, dan
integrase
2. Kapsid antigen p24

3. Sampul (antigen p17) dan tonjolan glikoprotein (gp120 dan gp41)


AIDS dapat menyerang semua golongan, umur termasuk bayi
pria maupun wanita, yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :
a. Lelaki homoseksual atau biseks
b. Orang yang ketagihan obat intravena
c. Partner seks dari penderita AIDS
d. Penerima darah atau produk darah (transfusi)
e. Bayi dari ibu/bapak yang terinfeksi.
(Brunner & Suddarth, 2002)

C. PATOFISIOLOGI
menempel pada limfosit sel induk melalui gp120 sehingga akan terjadi
fusi membran HIV dengan sel induk. Inti HIV kemudian masuk ke dalam
sitoplasma sel induk. Di dalam sel induk, HIV akan membentuk DNA HIV dan
RNA HIV melalui enzim polimerase. Enzim integrasi kemudian akan
membantu DNA HIV untuk berintegrasi dengan DNA sel induk.

DNA virus yang dianggap oleh tubuh sehingga DNA sel induk, akan
membentuk RNA dengan fasilitas sel induk, sedangkan mRNA dalam
sitoplasma akan dirubah oleh enzim protease menjadi partikel HIV. Partikel itu
selanjutnya mengambil selubung dari bahan sel induk untuk dilepas sebagai
virus HIV lainnya. Mekanisme penekanan pada sistem imun (imunosupresi)
ini akan menyebabkan pengurangan dan terganggunya jumlah dan fungsi sel
limfosit T.
D. Gejala-gejala
Gejala-gejala yang muncul pada penyakit AIDS yaitu :
1. Gejala Mayor
a. Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
b. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
c. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
d. Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
e. Demensia / HIV ensefalopati
2. Gejala Minor
a. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
b. Dermatitis generalisata
c. Adanya herpes zooster multi segmental dan herpes zooster
berulang
d. Kandidiasis orofaringeal
e. Herpes simpleks kronis progressif
f. Limfadenopati, generalisata.
g. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
h. Retinitis virus sitomegalu.
(Arif Mansjoer, 2000)
E. Perjalanan klinis
Infeksi opportunistik yang sering terjadi pada penderita AIDS adalah :

1. Tuberkulosis
Sebagian besar pasien dengan TB paru menunjukkan demam tigkat
rendah, keletihan anoreksia, penurunan BB, berkeringat pada malam
hari, nyeri dada, dan batuk menetap.
2. Pneumonia
3. Jamur berulang dikulit, mulut dan tenggorokan.
4. Infeksi gastrointestinal
5. Diare kronis dengan penurunan berat badan
6. infeksi neurologis atau meningitis sub akut
7. Demam tanpa sebab yang jelas
8. Kelainan neurologis
(Arif Mansjoer, 2000)
F. Pemeriksaan neurologis
1. Tes untuk diagnosa ineksi HIV :
a. ELISA
b. Wasten blot
c. DZG antigen test
d. Kultur HIV
2. Tes untuk deteksi gangguan sistem immun :
a. Hematokrit
b. LET
c. CD4 atau CD Limfosit
d. Serum mikroglobulin
e. Hemoglobulin.
(Arif Mansjoer, 2000)
G. Penatalaksanaan umum
Pengobatan HIV/AIDS dapat dibagi dalam :
1. Pencegahan penularan
Sebelum ditemukan vaksin yang efektif,pencegahan penularan HIV
dengan cara menghilangkan atau mengurangi perilaku berisiko

merupakan tindakan sangat penting. Upaya pencegahan primer meleui


pendidikan yang efektif amat penting untuk pengendalian dan
pencegahan penyakit AIDS tidak ditularkan lewat kontak secara
kebetulan. Bukti epidemiologi menunjukkan bahwa peyakit hanya
ditularkan melalui hubungan seks yang intim.Pajanan parenteral
dengan darah atau produk darah dan penularan perinatal dari ibu
kepada bayi yang dikandungnya. Penelitian terhadap kontak
nonseksual pasien AIDS dalam rumah tangga, kontak nonseksual antar
individu yang umumnya terjadi ditempat kerja tidak memperlihatkan
resiko penularan AIDS. Membran mukosa dan kulit yang tidak utuh
dari petugas kesehatan terhadap mikrioorganisme patogen dri semua
penderita tanpa mempedulikan status HIV tersebut. Meskipun HIV
pernah diisolasi dari semua tipe cairan tubuh namun resiko penularan
pada petugas kesehatan dari feses sekret hidung, sputum, keringat, air
susu ibu, air mata, urine dan muntah lebih kecil, kecuali jika cairan
tubuh ini mengandung darah yang nyata. CDC menganjurkan agar
tindakan kewaspadaan universal diterapkan pada darah : cairan
serebrospinal, sinofial, pleural, peritoneal, perikardial, amnion dan
vaginal. Sistem ini menawarkan strategi pengisolasian yang lebih luas
untuk mengurangi resiko penularan kepada petugas kesehatan tidak
perlu mengenali jenis cairan tubuh.Unsur-unsur pada pengisolasion
substansi tubuh tercantum dalam pedoman 50-2.
M. Tubercolusis yang berkaitan dengan HIV cenderung terjadi
diantara para pemakai obat bius IV dan kelompok lain dengan
prevalensi infeksi tubercolusis yang sebelumnya sudah tinggi. Berbeda
dengan infeksi oportunis lainnya, penyakit tubercolusis (TB)
cenderung terjadi secara dini didalam perjalanan infeksi HIV dan
biasanya mendahului mendiagnosis AIDS. Terjadi tubercolosis secara
dini ini akan disertai pembentukan granuloma yang mengalami
pengkijuan (kasiasi) sehingga timbul kecurigaan kearah diagnosis TB.
Pada stadium ini penyakit TB akan bereaksi dengan baik terhadap

terapi anti tubercolosis. Penyakit TB yang terjadi kemudian dalam


perjalanan infeksi HIV ditandai dengan tidak terdapatnya respon tes
kulit tuberkulin karena sistem kekebalan yang sudah terganggu tidak
mampu lagi bereaksi terhadap anti gen TB. Dalam stadium infeksi
HIV yang lanjut, penyakit TB yang disertai penyebaran ketempattempat ekstra pulmoner seperti sistem saraf pusat, tulang, perikardium,
lambung, peritonium, dan skrotum.Strain multipel basil TB yang
resisten obat kini bermunculan dan kerap kali berkaitan dengan
ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan anti tubercolosis.
Hindari kontak dengan seorang yang mempunyai TB Aktif, hindari
penggunaan alat-alat seseorang yang mengalami riwayat TB, seperti
piring, sendok pakaian dan sebagainya. (Brunner & Suddart, 2002)
2.

Pengobatan supportif
Tujuan pengobatan supportif adala untuk meningkatkan keadaan
umum penderita. Pengobatan ini terdiri atas pemberian gizi yang
sesuai, obat sistematik, serta vitamin. Disamping itu perlu di upayakan
dukungan psikososial agar penderita dapat melakukan aktifitas
semula. Pengobatan supportif ini penting dan pada umumnya dapat
dilaksanakan di rumah dan layanan kesehatan yang sederhana.

3.

Pengobatan infeksi opportunistik


Pengobatan opportunistik terjadi karena kekebalan tubuh yang amat
menurun. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroba yang semula
bersifat komersial (misalnya kandidiasis), reaktivasi kuman atau
parasit yang telah ada dalam tubuh ODHA (Orang Dengan
HIV/AIDS). (misalnya : TBC, toksoplasma dan sitomegalo atau
infeksi baru).
Terapinya :
a. Kandidiasis esofaguf yaitu flunazol
b. Tuberkulosis yaitu ripamfisin, INH, etambutol, piramizid,
strptomosin.

c. MAC (Micobacterium Avium Kompleks) yaitu klaritomisin,


etambutol, rifabutin, siprofloksasin.
d. Toksoplasmosis yaitu pirimetamin, sulfadiazin, asam folat,
klindamisin.
4. Pengobatan anti retroviral
Obat ART bermanfaat menurunkan morbiditas dan mortalitas
dini akibat infeksi HIV. ODHA menjadi lebih sehat dan dapat bekerja
normal dan produktif.
Teknik yang canggih dan bisa dipercaya untuk menghitung
HIV di dalam darah saat ini sudah didapatkan yaitu penghitung viral
load dengan teknik PCR (Polymerase Chalin Reaction), cara ini
memudahkan

dalam

memantau

efektifitas

obat

ART.

(Arif

Mansjoer,2000)
5.

Obat-obat untuk infeksi yang berhubungan dengan HIV


Infeksi umum trimetoprim-sullfamettoksazol , yang disebut
pula TMP-SMZ (Bactrim, septra ), merupakan preparat anti bakteri
untuk mengatasi berbagai mikro organisme yang menyebabkan tidak
memberikan keuntungan apapun penderita. Penderita AIDS yang
diobati dengan TMP-SMZ dapat mengalami efek yang merugikan
dengan insiden tinggi yang terjadi lazim terjadi, seperti demam, ruam,
leukopenia, trombsitopenia, dan gangguan fungsi renal. Akhir-akhir
ini telah dilakukan terapi desentisisasi dengan hasil yang baik.

II. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


Asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan pendekatan
proses keperawatan untuk meningkatkan, mencegah, dan memulihkan
kesehatan.
Proses keperawatan adalah susunan metode pemecahan masalah yang
meliputi pengkajian keperawatan, identifikasi/analisa masalah (diagnosa
keperawatan), perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Doenges, E. Marylyn
(1998) yang masing-masing berkesinambungan serta memerlukan kecakapan
keterampilan yang profesional bagi tenaga keperawatan.
A. Pengkajian
Pengkajian adalah suatu upaya pengumpulan data secara lengkap
dan sistematis untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan
keperawatan yang dihadapi pasien baik fisik, mental, sosial maupun
spiritual dapat ditentukan. Tahapan ini mencakup 3 kegiatan yaitu
pengumpulan data, analisa data dan penentuan masalah kesehatan serta
keperawatan Zaidin Ali, (2001).
1. Riwayat tes HIV ( + ), riwayat prilaku beresiko tingi, menggunakan
obat-obat, seksual.
2. Penampilan umum, pucat, kelaparan.
3. 3.gejala subjektif : demam kronik, dengan tampa menggil, keringat
malam hari berulang kali, lemah, lelah,anoreksia, BB menurun, nyeri,
sulit tidur.
4. Psikososial, kehilangan pekerjaan, dan penghasilan, perubahan pola
hidup, ungkapan perasaan takut, cemas, meringis.

5. Status mental : marah atau pasrah, depresi, ide bunuh diri apatis, with
draw!, hilang interest pada lingkungan sekitar, gangguan proses pikir,
hilang memori, gangguan atensi dan konsentrasi, halusinansi dan
delusi.
6. HEENT : nyeri pada orbital, fotophobia, sakit kepala, udema muka,
tinitus, ulsiker pada bibir/mulut, mulut kering suara berubah,
epistaksis.
7. Neurologis

gangguan,

refleks

pupil,

nystagmus,

vertigo

ketidakseimbangan, kaku kuduk, kejam, paraplegia.


8. Muskloskeletal : lemah tidak mampu melakukan ADL
9. Kardiovaskuler: takikardi, sianosis, hipotensi, udema periver.
10. Pernapasan : dyspnea, takipnea, sianosis, SOB, menggunakan otot
bantu pernapasan, batuk produktip atau non produktip
11. GI : intake makanan dan minuman menurun, mual, muntah, berat
badan menurun, diare, inkontinensia, perut kram, hepatomegali.
12. GU : lesi atau eksudat pada genitalia
13. Intagumen: kering,gatal,turgor kulit jelek (+)
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai sesorang,
keluarga, atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesahatan atau
proses kehidupan yang actual atau potensial (NANDA 1990). diagnosa
keperawatan memberikan dasar pemilihan intervensi yang menjadi
tanggung gugat perawat. Perumusan diagnosa keperawatan adalah
bagaimana diagnosa keperawatan digunakan dalam proses pemecahan
masalah.
Untuk memudahkan dalam mendokumentasikan diagnosa keperawatan
harus diketahui beberapa tipe diagnosa keperawatan yaitu : diagnosa tipe

keperawatan actual, risiko, kemungkinan, sehat dan sejahtera serta


sindrom. Hidayat Alimul. A. A, (2002).
1. Resiko tinggi infeksi berhungan dengan immunosupressif, malnutrisi
pola hidup yang berisiko.
2. Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi IV,
adanya infeksi non opportunistik yang dapat ditransmisikan
3. Intolerancy aktivity berhubungan dengan kelemahan, pertukaran O2 ,
mall nutrisi, kelelahan.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake yang kurang meningkatnya kebutuhan metabolik dan
menurunnya absorbsi zat gizi.
5. Diare berhubungan dengan infeksi gastrointestinal
6. Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang
keadaan orang yang dicintai.
7. Kurang kebersihan jalan nafas.
8. Resiko infeksi / penularan berhubungan dengan TBC
9. Gangguan pola tidur berhubungan dengan terdapatnya refleks lutut.
10. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dan kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang kurang.
C. Intervensi Keperawatan
Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam
proses keperawatan yang meliputi tujuan perawatan, penetapan pemecahan
masalah, dan menentukan tujuan perencanaan untuk mengatasi masalah
klien. Hidayat Alimul. A. A, (2002)
Adapun intervensi keperawatan sesuai dengan diagnosa yang
muncul dalam tnjauan kasus sebagai berikut :

1. NDX I : Kebersihan jalan nafas tidak efetif berhubungan dengan


peningkatan produksi sputum
Tujuan : setelah pemberian asuhan keperawatan dalam 3 x 24 jam
kebersihan jalan nafas efektif dengan kriteria :
a. Batuk berdahak (-)
b. Sesak nafas (-)
c. Ronchi (-)
d. RR : 18-24 x/mnt.
e. Vokal premitus kuat
f. Irama pernafasan reguler
INTERVENSI :
a. Kaji tingkat fungsi pernafasan, bunyi nafas, kecepatan dan irama.
R/ penurunan bunyi nafas dapat menunjukkan ateletaksis. Ronkhi,
mengi, menunjukkan akumulasi sekret atau ketidakmampuan
untuk membersihkan jalan nafas yang dapat menimbulkan
penggunaan otot asesori pernafasan dan peningkatan kerja
pernafasan.
b. Beri posisi semi fowler atau fowler tinggi, bantu pasien untuk
batuk dan latihan nafas dalam.
R/ mencegah obstruksi atau aspirasi. Pengisapan dapat diperlukan
bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret.
c. Pertahankan masukan cairan kurang lebih 2500 ml/hr kecuali
kontraindikasi
R/ pemasukan tinggi cairan membantu untuk mengencerkan
sekret, membuatnya mudah dikeluarkan.
d. Beri HE pentingnya cara batuk secara efektif dan efesien.
R/ meningkatakan pemahaman klien tentang penyakitnya
e. Kolaborasi tim medis dalam pemberian obat antibiotik dan
antitusif.
R/ menurunkan kekentalan dan perlengketan sekret paru untuk
memudahkan pembersihan.

2. NDX II : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan defisit sistem


immun sekunder terhadap HIV/AIDS.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 hari, kebutuhan
nutrisi adekuat dengan kriteria :
a. Nafsu makan meningkat
b. Porsi makan dihabiskan
c. Sakit menelan (-)
d. Stomatitis (-)
INTERVENSI :
a. Kaji kemampuan mengunyah dan menelan.
R/ intake menurun dihubungkan dengan nyeri tenggorokan dan
mukut
b. Monitor BB, Intake dan output
R/ menentukan alat dasar
c. Rencanakan diit dengan pasien dan orang penting lainnya.
R/ menyakinkan bahwa makanan sesuai dengan keinginan pasien.
d. Kolaborasi dengan tim gizi oleh diit ML TKTP
R/ memudahkan absorbsi nutrisi dan sumber energi
e. Kolaborasi pemberian cairan infus.
R/ memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi.
3. NDX IV : Gangguan pola tidur berhubungan dengan terdapatnya
refleks batuk.
D. Implementasi keperawatan
Implementasi keperawatan (Tindakan)
Tindakan keperawatan adalah tindakan yang diberikan oleh
perawat kepada klien dengan tujuan mengatasi masalah yang terjadi pada
manusia dengan berdasar kepada perencanaan yang telah dibuat pada
catatan intervensi

Implementasi keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan


dari rencana keperawatan. Untuk memperoleh pelaksanaan yang efektif,
dituntut pengetahuan dan keterampilan yang luas dari tenaga perawat
untuk memberikan pelayanan perawatan yang baik dan bermutu yang
telah ditentukan dan direncanakan.

Melaksanakan rencana keperawatan.


Segala informasi yang tercakup dalam rencana keperawatan
merupakan dasar atau pedoman dalam intervensi perawatan.

Mengidentifikasikan reaksi / tanggapan klien


Dalam mengidentifikasi reaksi / tanggapan klien dituntut upaya yang
tidak tergesa-gesa, cermat dan teliti, agar menemukan reaksi klien
sebagai akibat tindakan keperawatan yang diberikan. Dengan melihat
akan sangat membantu perawat dalam mengidentifikasikan rekasi
klien

yang

mungkin

menunjukkan

adanya

penyimpangan-

penyimpangan.
c

Mengevakuasi tanggapan / reaksi klien.


Dengan cara membandingkan terhadap syarat-syarat dengan hasil
yang diharapkan. Langkah ini merupakan langkah yang pertama yang
dipenuhi bila perawat telah mencapai tujuan. Syarat yang kedua
adalah intevensi dapat diterima oleh klien.

E.

Evaluasi
Evaluasi adalah tahapan akhir dari proses keperawatan yang
bertujuan

untuk

menilai

keefektifan

perawatan

dan

untuk

mengkomunikasikan status pasien dari hasil tindakan keperawatan.


Evaluasi

membeerikan

informasi

sehingga

memungkinkan

revisi

perawatan. Hidayat Alimul. A. A, (2002)


Disamping

evaluasi merupakan proses yang kontinue untuk

menjamin kualitas dan ketepatan perawat yang diberikan, dilakukan


dengan meninjau respon pasien untuk menentukan kefektifan rencana
keperawatan dalam memenuhi kebutuhan pasien. Yang perlu dievaluasi
adalah sebagai berikut :
a Apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah tercapai atau belum.
b Apakah masalah yang ada sudah terpecahkan atau belum.
c Apakah perlu pengkajian kembali.
F. Pemeriksaan Laboratorium
1. Tes untuk diagnosa ineksi HIV :
a. ELISA
b. Wasten blot
c. DZG antigen test
d. Kultur HIV
2. Tes untuk deteksi gangguan sistem immun :
a. Hematokrit
b. LET
c. CD4 atau CD Limfosit
d. Serum mikroglobulin
e. Hemoglobulin. (Arif Mansjoer, 2000)

G.

Penyimpangan KDM

DAPTAR PUSTAKA
Doengoes E. Marilynn. 2000. Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosia
Keperawatan. Edisi 2, Cetakan I, Penerbit buku kedokteran, EGC,
Jakarta.

Hidayat Alimul Azis. A. 2002. Pengantar Dokumentasi Proses Keperawatan,


Penerbit buku kedokteran, Cetakan 1, Penerbit buku kedokteran, EGC,
Jakarta.
Brunner and suddarth (2001); Buku ajar keperawatan medikal bedah, Volume 2,
edisi 8, EGC, Jakarta.
Arif Mansjoer. 2000 . Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 1. Jakarta.

BAB III
TINJAUAN KASUS
TINJAUAN KASUS
1. Pengkajian
a. Pengumpulan Data

1) Data Biografi
a) Identitas Klien
Nama

: Tn. M

Umur

: 27 Tahun

Jenis kelamin

: Laki - laki

Agama

: Katholik

Pendidikan

: Sarjana

Pekerjaan

: Wiraswasta

Status Marital

: Belum menikah

Suku / bangsa

: Jawa / Indonesia

Tanggal masuk RS

: 12 Januari 2012 Jam 08.10

Tanggal Pengkajian

: 13 Januari 2012 Jam 09.50

No. Medrec

: 12010150

Diagnosa Medik

: Diare Akut pada ODHA

Alamat

: Jl. Raya Mundu No: 66 Cirebon

b) Identitas Penanggung Jawab


Nama

: Ny. A

Umur

: 65 Tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Katholik

Pekerjaan

: Tidak bekerja

Pendidikan

: SMA

Hubungan dengan Klien : Anak


Alamat

: Jl. Raya Mundu No: 66 Cirebon

2) Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan Sekarang
(1) Keluhan saat masuk RS
Dua minggu sebelum berobat ke RSU Ciremai Cirebon
klien mengeluh pilek dan mencret dan berat badan
dirasakan menurun, tanggal 19 Desember klien berobat ke

RSU Ciremai dan dilakukan pemeriksaan laboratorium anti


HIV dan klien diduga AIDS tapi untuk memastikan
diagnosa

terebut

dianjurkan

dilakukan

pemeriksaan

konfirmasi anti HIV Western Blot ke RSUPN Cipto


Mangunkusumo. Dan klien disarankan dirawat di RSU
Hasan Sadikin. 4 hari sebelum berobat ke RSHS klien
mengeluh mencret 5 x/ hari konsistensi cair tanpa disertai
lendir dan darah, perut klien dirasakan nyeri, badan klien
terasa lemas. Tanggal 12 Januari 2012 klien berobat ke
RSHS kemudian dirawat di ruang 10A.
(2) Keluhan saat pengkajian
Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 13 Januari 2012
pukul 09.50 WIB klien mengeluh demam, dan mencret 6-7
kali sejak satu hari yang lalu, dengan konsistensi cair (+),
darah (-), lendir (-), mencret dirasakan bertambah ketika
mengkonsumsi makanan pedas, klien mengatakan mencret
disertai sakit pada daerah perut, klien mengeluh mual saat
makan tanpa muntah dan klien juga mengatakan sakit pada
waktu menelan.
b) Riwayat kesehatan dahulu
Klien mengatakan pernah mengalami penyakit mencret sampai
terjadi penurunan berat badan, nafsu makan berkurang dan
timbul bercak-bercak putih pada mulut, klien hanya berobat ke
dokter praktek dan klien mendapatkan obat anti diare dan
vitamin, klien mengaku sering mengkonsumsi zat-zat narkoba
dan melakukan hubungan seks yang bebas tanpa memakai
pengaman.
c) Riwayat kesehatan keluarga
Klien menyangkal dikeluarganya ada yang menderita penyakit
menular seperti TBC, penyakit turunan seperti kencing manis,

dan hypertensi / darah tinggi. Klien mengatakan penyakit yang


saat ini diderita, hanya dirinya di keluarga.
3) Pola aktivitas sehari hari
No
1
1

Jenis aktivitas
2
Nutrisi
a.

Makan

Di rumah
3
Klien

dengan

Makan dengan bubur,

nasi putih, sayur, dan

sayur, dan lauk pauk

lauk pauk, buah kadang-

dengan

kadang.

buahan: pisang, lemon,

Klien mengatakan tidak

serta

pepaya.

mempunyai

juga

sempat

dalam

makan

Di Rumah Sakit
4

pantangan

mengkonsumsi

makanan. Klien makan

telur.

BuahKlien
makan

makanan pedas yang


dibawa adiknya.

sehari 3x, satu porsi

Klien hanya dapat

habis. Tidak ada keluhan

menghabiskan porsi,

mual dan muntah.

makan sehari 3x, klien


mengeluh mual saat
makan

b.

Minum

dan

tidak

Klien minum setiap kali

muntah.

merasa haus, dan setiap

Minum air putih sehari

habis

mencapai 4 botol aqua

makan.

Sehari

rata-rata 10 gelas air

500 ml

putih ( 1 gelas = 250 cc)


2

Eliminasi
a.

b.

BAB

BAK

Klien mengatakan setiap

Klien

hari

BAB 6-7 x/hari cair,

BAB

5x/hari,

mengatakan

konsistensi cair, darah

tidak

dan lendir (-), warna

berdarah dalam faeces

faeces kuning.

saat BAB

Klien BAK 3-4 x/hari

Klien

BAK

tidak

warna

kuning

ada

keluhan

apapun saat berkemih

berlendir

merasakan

dan

3x/hari
tidak

keluhan

apapun saat berkemih.


3

Personal hygiene
a.

Mandi

Sehari

2-3

kali,

Klien

dapat

mandi

3
memakai sabun

4
sendiri 1x/hari dengan
memakai sabun.

b.

Gosok
gigi

Sehari 2x memakai odol

Klien

mengaku

dan sikat gigi

menggosok gigi 2 hari


sekali.

Klien
c.

Keramas

keramas

kali/minggu

memakai

shampo

Klien keramas 1x pada


saat

awal

masuk

RSHS dan membasahi


rambut tiap kali mandi

Klien
d.
4

senantiasa

menggunting

kuku
Istirahat dan tidur

minggu 1 kali

dirawat

a.

Klien tidak pernah tidur

Sering,

siang karena kerja di

sebentar antara -1

bengkel

jam

dari

pagi

kuku

mengunting

Gunting

Siang

kuku

Klien

sekali

selama

sebentar-

sampai sore
b.

Malam

Klien dapat tidur dengan

Klien

nyenyak

mulai

pukul

sering terbangun dari

kadang

pukul

tidur

dikarenakan

01.00 baru tidur sampai

mencret

yang

pukul 12.00
Klien bekerja tiap hari

menerus.
Klien
mengatakan

mengelola bengkel dari

kegiatan

pagi sampai sore.

hanya tidur dan baca

23.00

Aktivitas

mengatakan

koran

di

serta

terus

bangsal
mengisi

TTS

4)

Pemeriksaan Fisik
a) Sistem Pernafasan
Pernafasan melalui hidung, tidak ada pernafasan cuping hidung
(pch). Ukuran dan bentuk hidung simetris, tidak ada deviasi
septum, hidung kokoh, tidak ada sekret, terdapat bulu hidung
(fibrise), Tidak terdapat polip, pola nafas reguler, frekwensi
28x per menit, tes kepatenan kuat nostril kanan dan kiri.

Diameter dada antero posterior (AP) 2:1, Pergerakan dada


simetris antara kanan dan kiri, tidak ada nyeri tekan, auskultasi
bunyi nafas vesikuler pada seluruh area paru serta tidak
ditemukan ronchi dan wheezing. Perkusi suara vokal premitus
terdapat pada kedua paru. Ekspansi paru kanan dan kiri sama.
b) Sistem Kardiovaskuler
Konjunctiva warna merah muda (tidak pucat), bibir tidak
cyanosis, Ictus cordis terdapat pada line midklavikula inter
costalis (ICS) V, tidak ada peninggian jugular vena pressure
(JVP), pada pemeriksaan auskultasi bunyi S1 pada daerah katup
trikuspidal dan mitral, bunyi S2 pada daerah katup aortik dan
pulmonal di sela iga II parasternal kiri dan sela iga II
parasternal kanan. Bunyi jantung murni reguler, tidak ada murmur, tidak ada oedema tungkai, tidak ada clubing finger,
capilary refile time (CRT) < 3 detik, akral hangat. Burgeur tes
negatif, Homan tes negatif, tensi darah 90/60 mmHg, Nadi 104
x per / menit.
c) Sistem Pencernaan
Bibir tidak cyanosis, mukosa mulut dan bibir agak kering,
terdapat bercak-bercak putih tipis di sisi lidah dan gusi, ukuran
dan bentuk simetris, warna gigi agak kuning, jumlah tidak
lengkap, ditemukan nyeri menelan, uvula kaku dan tampak
kemerahan, bentuk abdomen agak cekung, lembut, tidak teraba
massa, tidak terdapat lesi / luka bekas operasi, turgor kulit
lambat, auskultasi bising usus 34x per menit, pada perkusi
terdapat bunyi tympani pada seluruh daerah abdomen, kecuali
pada kwadran kanan atas hypocondriac kanan (organ hati),
pada palpasi terdapat nyeri tekan, ukuran hati tidak membesar,
berat badan sebelum sakit 55 kg dan sesudah sakit 45 kg, LILA
16cm.
Susunan gigi geligi

0212 2121
3 2 1 2 2 01 2 31

d) Sistem Perkemihan
Tidak terlihat distensi kandung kemih, tidak teraba pembesaran
ginjal, tidak terdapat nyeri ketok costavertebra, tidak ada
oedema palpebra, klien dapat berkemih 3-4 x/hari + 100 cc
warna kuning jernih tanpa ada keluhan
e) Sistem Reproduksi
Area genital tidak dapat dikaji karena klien merasa malu. Klien
hanya mengatakan penisnya tidak dapat ereksi.
f) Sistem Endokrin
Tidak ada gambaran moon face, tidak terdapat pembesaran
kelenjar tyroid, tidak nampak pembesaran kelenjar getah
bening, tidak ada gerakan tremor / ektra piramidal.
g) Sistem Muskuloskeletal
a. Atas
Ukuran simetris, bentuk normal, tidak ada poli dan
syndactyli, tidak terdapat atropi, tidak terdapat gambaran
tromboplebitis, gerakan bebas. Refleks bisep +/+, trisep +/
+, radiobrakhialis +/+. Kekuatan otot 5/5
b. Bawah
Ukuran simetris, bentuk normal, tidak ada deformitas,
pergerakan bebas, Homan tes negatif, tidak ada oedema
tungkai, kekuatan otot 5/5, refleks achiles +/+, Refleks
patela +/+, refleks babinski negatif. Sensasi tajam tumpul
positif.
h) Sistem Integumen
Warna kulit sawo matang, kulit ekstremitas atas dan bawah
kering dan bersisik terdapat keropeng diektrremitas atas dan
bawah, rambut panjang warna hitam dan tampak kotor,
distribusi merata, tidak mudah dicabut, kuku pendek bersih,
tidak terdapat luka bekas operasi, badan klien teraba panas

dengan temperatur: 38.2oC per axila menggunakan termometer


air raksa. Turgor kulit menurun.
i) Sistem Penglihatan, Pendengaran, Wicara
Tidak terdapat gangguan pada penglihatan, wicara dan
pendengaran baik, terbukti klien dapat membaca dan menjawab
pertanyaan yang diajukan dengan benar, tidak menggunakan
alat bantu baca dan pendengaran.
j) Sistem Persyarafan
1. Fungsi serebral
(a) Status Mental

Orientasi
Klien dapat membedakan, petugas dan sesama
pasien. Klien dapat menyebutkan tanggal, bulan,
tahun, keberadaannya saat ini, dan di kota mana ia
berada.

Daya Ingat
Tidak terdapat gangguan baik jangka panjang, dan
pendek, Klien dapat menyebutkan ulang 3 nama
objek dengan jelas yang diperlihatkan

perawat.

Klien dapat mengingat tahun kelahiran saat ditanya


ia menjawab tahun 1978.

Perhatian / Konsentrasi
Klien dapat meneruskan 5 angka kedepan dan
kebelakang dari pengurangan yang disebutkan
perawat.

Konsentrasi
Caranya perawat menyebutkan kata-kata yg tdk
berhubungan kemudian klien disuruh mengulang.

Misal : Dan, Jika, Kalau, Apabila, Atau. & mobil,


makan, mandi, tidur, terbang.Bahasa dan Wicara
Tidak mengalami gangguan wicara, intonasi sesuai
dengan keadaan emosi, klien menggunakan bahasa
Indonesia saat wawancara, vokal jelas dan dapat
dimengerti, komunikasi non verbal sesuai dengan
emosi / afek (keadaan topik pembicaraan).
(b) Kesadaran
Kompos mentis
2. Fungsi syaraf kranial
(a) Nervus I (Olfaktorius)
Fungsi

penciuman

tidak

terganggu,

klien

dapat

membedakan dan mengenal antara bau kayu putih dan


kopi dengan mata tertutup secara bergantian pada kedua
nostril.
(b) Nervus II (Optikus)
Klien dapat membaca koran pada jarak +30, lapang
pandang tidak mengalami penyempitan.
(c) Nervus III, IV, VI (Okulomotorius, trochlearis, abdusen)
Klien dapat menggerakan bola matanya ke arah yang
diperintahkan pengkaji (lateral,medial, oblique inferior
dan superior), pupil isokor, bereaksi terhadap cahaya.
(d) Nervus V (Trigeminus)
Klien dapat merasakan pilinan kapas pada wajah, otot
maseter kuat, reflek kornea positif, fungsi mengunyah
baik.
(e) Nervus VII (Facialis)
Klien dapat merasakan rasa manis, asin pada 2/3
anterior lidah, klien dapat menyeringai, mengerutkan
dahi, dan mengedepankan kedua bibir ke arah depan
(f) Nervus VIII ( Auditorius)

Klien dapat mendengar bisikan yang diberikan perawat


dengan telinga sebelah tertutup dan klien dapat
mengulanginya dengan benar, tes tunjuk jari-hidung
dapat dilakukan klien.
(g) Nervus IX (Glosofaringeus)
Klien dapat merasakan rasa pahit pada 1/3 posterior
lidah
(h) Nervus X (Vagus)
Fungsi menelan terganggu, klien dapat membuka mulut,
uvula

kaku

dan

tampak

kemerahan

saat

klien

mengatakan ah
(i) Nervus XI (Asesorius)
Klien dapat menggerakan leher ke kanan dan ke kiri
tanpa hambatan, otot sternokledomastoideus tegang saat
klien melawan daya yang diberikan pada mandibula
oleh pengkaji. Klien dapat menahan beban yang
diberikan pada bahunya
(j) Nervus XII (Hypoglosus)
Klien dapat menjulurkan lidah, menggerakannya ke
kanan dan ke kiri.
5)

Data Psikologis
(a) Status Emosi
Emosi klien stabil, klien aktif menjawab pertanyaan, tidak
mudah tersinggung, afek dan mimik muka sesuai keadaan.

(b) Kecemasan
Klien mengaku bahwa dirinya diduga dengan diagnosis AIDS,
Klien bertanya kepada perawat apakah benar dia sudah positif
mengidap HIV? serta menanyakan; Apakah penyakit saya bisa

disembuhkan?? ekspresi wajah klien tampak cemas dan


gelisah.
(c) Pola Koping
Klien mengatakan bila mempunyai masalah klien hanya
mengatasinya sendiri kemudian bergaul dengan teman-teman
dan untuk mengalihkan masalahnya klien minum-minuman
beralkohol sampai mabuk dan melakukan hubungan sexual
dengan PSK (Pekerja Sex Komersial).
(d) Gaya Komunikasi
Pada saat berkomunikasi klien cenderung diam, vokal jelas,
menggunakan bahasa Indonesia saat wawancara, sehari-hari
klien menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.
6)

Konsep Diri
(a) Gambaran diri
Klien mengatakan menyukai seluruh bagian tubuhnya, tetapi
merasa malu dan bingung karena sejak menderita sakit ini
penis klien tidak dapat ereksi.
(b) Harga Diri
Klien mengatakan merasa bersalah atas perbuatannya selama
ini dan klien merasa malu dengan keadaan dirinya yang diduga
mengidap HIV,
(c) Peran Diri
Klien seorang pemuda sudah bekerja mengelola bengkel dan
dapat mencukupi kebutuhannya sehari-hari serta membiayai
kuliah adiknya.
(d) Identitas Diri
Klien mengaku dirinya adalah seorang bujangan,

pendiam,

tidak gampang marah.


(e) Ideal Diri
Klien mengatakan dirinya ingin cepat sembuh dan kembali
menjalankan aktifitas di bengkel yang dikelolanya.

7)

Data Sosial
Hubungan klien dengan keluarga serta saudaranya baik, klien
ditunggu oleh saudaranya yang perempuan. Klien dapat menjalin
kerja sama dengan petugas dan sesama pasien di ruang perawatan.
Klien termasuk pribadi yang kooperatif.

8)

Data Spiritual
Klien beragama katholik, klien percaya penyakitnya dapat di
sembuhkan, klien mengatakan datangnya ke RS merupakan salah
satu usaha yang harus ia jalani karena penyakitnya merupakan
cobaan dari Tuhannya. Klien mengatakan jarang melakukan
peribadahan sesuai dengan agama yang di yakininya.

9)

Data Penunjang
Laboratorium.

No

Tanggal

1
1

2
6/01/12

Jenis pemeriksaan

Hasil

Nilai normal

Satuan

3
Hematologi
Haemoglobin
Leucosit
Hematokrit
Trombosit

10.7
9.700
31,0
372.000

13-18
3.8-10.6rb
40-52
150-440 rb

gr / dl
/mm3
%
/ mm3

Kimia klinik
Ureum
Kreatinin
GDS
SGOT
SGPT
Albumin
Globulin

43
1.12
123
60
59
2,3
1,9

15-50
0.6-1.1
< 140
sd. 37
Sd. 40
3,5-5,0
3,1-3,7

mg /dl
mg /dl
mg / dl
U/L0 C
U/L0 C
Gr/dl
Gr/dl

7,410
25,5
112,5
15,9
16,7
-7,0
98,3

7,35 7,45
35 48
80 - 108
22 26
22 29
(-2) (+3)
95 98 %

mmHg
mmHg
mmHg
meq/L
mmHg
meq/L

1.005
7
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

.002-1.03
4.8-7.5
Negatif
Negatif
Negatif
0.2-1.0

AGD
Ph Arteri
PCO2
PO2
HCO3Total CO2 Arteri
Base Excess Arteri
Saturasi O2
Urine
Bj
Ph
Protein
Reduksi
Billirubin
Urobillin

Ml / dl

3
4

7/01/12
8/01/12

9/01/12

6
7

10/01/12
11/01/12

Nitrit
Keton
Erytrosit
Leucosit
Epitel

4
Negatif
Negatif
4-8
Negatif
0-2

Faeces
Warna
Konsistensi
Lendir
Eritrocyt
Leukocyt
Amoeba
Telur cacing
Kalium
Natrium
Kalium
Natrium
Kalsium
Ureum
Kreatinin
Kalsium
Kalsium

Kuning
Lembek
Negatif
Negatif
0,1
Negatif
Negatif
Negatif
<1,5
132
1,6
137
2,9
32
1,1
1,9
1,9

5
Negatif
Negatif
<1
<6
<6

Negatif
0,1 1
Negatif
Negatif
Negatif
3,6-5,5
135-145
3,6-5,5
135-145

6
/ Lpg
Lpg
/ Lpk

Meq/L
Meq/L
Meq/L
Meq/L
Meq/L

Pengobatan :
-

IVFD RL 3000cc/24jam

KCL 250 Eq dalam 500cc Dextrose 5%

Aspar k 3x2 tablet

Spasmal 3x1 tablet

Kotrimoksazol 2x400mg

OMZ 1x1 tablet

Itrakonazol 2x200 mg

Diet lunak rendah serat

b.Analisa Data
NO

DATA

Kemungkinan penyebab dan


dampak

Masalah

1.

DS :
-

Klien mengatakan
BAB 6-7 x/hari
Klien mengatakan
sakit pada daerah perut.
Klien mengatakan
mencret
dirasakan
bertambah
ketika
mengkonsumsi makanan
pedas
Klien mengatakan
mual
DO :

BAB 6-7x/hari
Konsistensi feses
cair (+), lendir (-), darah
(-), warna feces kuning.
Turgor
kulit
menurun
Mukosa
mulut
dan bibir agak kering
Kulit kering dan
bersisik
Tensi
90/60
mmHg,
Nadi 104 x /
menit.
Respirasi
28x/menit
Suhu 38,2 0C
2.
DS :
-

Klien mengatakan
berat badan menurun

Klien mengatakan

Memudahkan
Invasi MO
melalui
Makanan &
minuman

Melepaskan
enterotoxin

Reaksi
imflamasi

Peningkatan
motilitas salcerna

Virus HIV
(Rotavirus)

Menurunkan
jmlh & fungsi
CD-4

Klien mengatakan
sakit

pada

waktu

menelan
DO :
-

Uvula

tampak

kemerahan
-

Makan habis
porsi 1x makan

cairan
tubuh

Diare tiap hari

Kehilangan cairan yang berlebihan

Kekurangan volume cairan tubuh


berlebih

Infeksi Virus
HIV

Aktivasi
Sitokin (IL1+TNF)

Invasi MO

Perubahan
kebutuhan
nutrisi;
kurang dari
kebutuhan

Penetrasi
Demam
Hipotal
kedalam

amus
usus

Hipermet
abolik
Anoreksia
Merusak

vili-vili usus

Pemecahan Asupan
Protein Dan nutrisi Malabsorp
Otot
kurang
si

Berat badan turun


dari 55 kg menjadi 45 kg

volume

berlebih

mual pada saat makan


-

Kekurangan

Kehilangan len body mass

Perubahan kebutuhan nutrisi

3.

DS:
-

Klien mengeluh demam

Klien mengatakan BAB


6-7x/hari
DO:

Badan klien teraba panas

Klien diare 6-7x/hari

Tensi: 90/60

Nadi: 104x/mnt

Respirasi: 28x/mnt

4.

Klien mengatakan
sakit

pada

waktu
Invasi MO

menelan
-

Klien

termoregula

Aktivasi Sitokin (IL-1+TNF)

si:
Hipertermi

Infeksi Virus
HIV

Resiko

Menurunkan
jmlh & fungsi
CD-4

perubahan

mengaku

sekali.

tinggi
membran
mukosa

menggosok gigi 2 hari


-

Gangguan

Gangguan Termoregulasi

Suhu: 38,2 0 C
DS :

Invasi MO
Saluran cerna

Masuk komponen dinding sel

Reaksi inflamasi

Peningkatan metabolisme sel

Peningkatan suhu tubuh

oral
Resiko tinggi perubahan membran

Klien mengatakan

mukosa oral

demam.
DO :
-

Suhu 38,20c

Terdapat

bercak

putih tipis pada pinggir


lidah dan gusi
-

Uvula kaku dan


tampak kemerahan
DS :

5.
-

Klien mengatakan
merasa

bersalah

atas

perbuatannya selama ini


-

Klien
malu
dirinya

Isolasi

sosial

Persepsi AIDS Penyakit Aib

merasa

Persepsi tidak diterima dalam

dengan

keadaan

masyarakat

yang

diduga

mengidap HIV
DO :

Didiagnosa AIDS

Isolasi sosial

Pada

saat

berkomunikasi

klien

cenderung diam
-

Ekspresi

wajah

klien tampak cemas dan


gelisah
-

Klien

bertanya

kepada perawat apakah


benar dia sudah positif
mengidap HIV?
-

Klien

bertanya;

Apakah penyakit saya


bisa disembuhkan?

c. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas


Ditemukan

NO

Diagnosa Keperawatan

1.

Kekurangan volume cairan tubuh; berlebih

2.

berhubungan dengan diare tiap hari


Perubahan kebutuhan nutrisi; kurang

(tanggal)

dari

kebutuhan berhubungan dengan asupan tidak


3

13-01-12

virus HIV
Resiko tinggi perubahan membran mukosa oral
berhubungan dengan defesit imunologis dan

5.

13-01-12

adekuat
Gangguan termoregulasi: hipertermi berhubungan
dengan invansi MO saluran cerna dan infeksi

4.

13-01-12

invasi kuman patogen ke mulut


Isolasi sosial berhubungan dengan prsepsi tidak
diterima dalam masyarakat

13-01-12

13-01-12

2. Perencanaan
No
1
1

Diagnosa Keperawatan
2
volume
cairan
tubuh
<

Kekurangan

berlebih

Tujuan
3
Jangka Panjang :

1.

Interv
4
Anjurkan

2
berhubungan dengan diare tiap hari
DS:
-

Klien mengatakan BAB 6-7x/hari

Klien mengatakan sakit pada daerah perut

Klien mengatakan mencret bertambah bila

3
Volume cairan tubuh normal
dipertahankan
Jangka Pendek :
Setelah

Klien mengatakan mual

dilakukan

intervensi

selama 1 hari tercapai rehidrasi

makan makanan pedas


-

4
minum sedikit

2.

Ukur intak

3.

Kaji turgo

dengan kriteria :
-

DO:

Frekuensi

BAB < 3

kali

BAB 6-7x/hari

Konsistensi feses cair (+), lendir (-), darah


(-), warna feses kuning.

Turgor kulit menurun

Mukosa mulut dan bibir agak kering

Kulit kering dan bersisik

Tensi 90/60 mmHg,

Nadi 104 x / menit.

Respirasi 28x/menit

Suhu 38,2 0C

mukosa, dan ra

Konsistensi lembek

Turgor kulit baik

Membran

mukosa

4.

dan timbang B
5.

lembab
-

Observasi
Anjurkan

menghidari ma

Tanda vital stabil

6.

Kolaboras

cairan parenter

7.

Berikan

dan terapi lain


-

Spasmal

Jam 13.00
-

Aspar K

Jam 13.00
-

Kotrimok

Jam 16.0
-

OMZ 1x

Jam 21.00

Itrakonaz

Jam 16.00
2.

Perubahan kebutuhan nutrisi; kurang dari kebutuhan

Tupan :

1.

tubuh berhubungan dengan asupan tidak adekuat

Perbaikan status nutrisi

ilangkan rang

Ditandai :

yang berbaha

DS :

Tupen :

yang memperb

Klien mengatakan berat badan menurun

Setelah

dilakukan

intervensi

2.

Klien mengatakan mual pada saat makan

selama 3 hari berat badan dapat

erikan makana

Klien mengatakan sakit pada waktu menelan

dipertahankan dengan kriteria:

hangat dan me

2
DO :
-

Uvula tampak kemerahan

Berat badan turun dari 55 kg menjadi 45 kg

Makan habis porsi dalam 1 x makan

3
Berat badan tetap

Nafsu

4
ditelan

makan

3.

membaik
-

Tidak

njurkan
mual

saat

makanan yan

makan
-

klien

mual dan mun


Porsi makan habis

4.
njurkan

klien

cairan satu jam

dan pada saat m


5.

njurkan klien
dengan porsi

sering (6 kali /
6.

imbang bera
kebutuhan
3

Gangguan termoregulasi: hipertermi berhubungan

Tupan:

dengan invansi MO saluran cerna dan infeksi virus

Gangguan termoregulasi tidak

HIV, ditandai dengan :

terjadi

DS

Tupen:

Klien mengeluh demam

Setelah dilakukan tindakan


perawatan selama 1x 24 jam,

DO:

suhu badan klien turun dengan

Badan klien teraba panas

Mukosa mulut dan bibir agak kering

BAB 6-7x/hari

Tensi: 90/60 mmHg

Nadi: 104x/menit

Respirasi: 28x/menit
0

Suhu: 38,2 C

dingin

3.

Klien mengatakan Badan


Badan

mengenakan p

tidak panas
-

A
minum

kriteria:
-

2.

Klien mengatakan BAB 6-7x/hari


-

1.

klien

mudah menyer
4.

tidak

teraba

untuk pemberia

panas
-

Bibir dan mulut lembab

Tanda

tanda

vital

dalam

keadaan normal

Resiko tinggi perubahan membran mukosa oral

Tupan :

berhubungan dengan defesit imunologis dan invasi

Tidak

kuman patogen ke mulut

membram mukosa oral

Ditandai dengan :

1.
terjadi

perubahan

perawatan or

setiap setelah

sikat gigi halu

2
DS :
-

4
abrasif, dan p

Tupen :
Klien mengatakan gogok gigi tiap dua hari

sekali

Setelah

dilakukan

intervensi

keperawatan selama 2 hari tidak

Klien mengatakan sakit pada waktu menelan

terjadi lesi di mukosa oral,

Klien mengatakan demam

dengan kriteria :

DO :
-

lidah dan gusi


-

Uvula kaku dan tampak kemerahan

pemberian ob
3.

Lidah dan gusi bersih

Terdapat bercak putih tipis pada pinggir

2.

klien dengan

peroxida /sa

dari bercak putih

Uvula tidak kemerahan

soda kue 2x/

Klien

kolaborsi

tidak

sakit
4.

menelan saat makan


Klien

mukosa oral s

dapat

membersihkan mulut tanpa


sakit

Isolasi sosial berhubungan dengan persepsi tidak

Tupan : Persepsi tidak diterima

diterima dalam masyarakat

dalam masyarakat hilang

1.

penggunaan m

Ditandai dengan :

sarung

memungkinka
DS :
-

Tupen :
Klien mengatakan merasa bersalah atas

perbuatannya selama ini


-

Klien merasa malu dengan keadaan dirinya


yang diduga mengidap HIV
DO :

Setelah

Pada saat berkomunikasi klien cenderung

perasaan

Ekspresi wajah klien tampak cemas dan

Klien bertanya kepada perawat apakah benar


dia sudah positif mengidap HIV?
Klien bertanya; Apakah penyakit saya bisa
disembuhkan?

2.

klien tentang s

klien menunjukan peningkatan


harga

diri,

dengan

kriteria :

gelisah
-

intervensi

keperawatan selama tiga hari,

diam
-

dilakukan

3.
Klien dapat berinteraksi

untuk

bicara

aktif dan terbuka dengan

selama dan d

petugas

perawatan,

Klien

tampak

dukungan, pe

tidak

penuh

murung

Klien
bersosialisasi
lingkungannya

menghormati p

mau
dengan

pen

4.

hubungan yan

orang terdekat

4
W

5.

gejala verbal/n
menarik

dir

perasaan kese
kepasien:

berfikir untuk

3. Pelaksanaan
N

Tanggal

Waktu

Implementasi dan Evaluasi

Paraf

&
Nama

1
1

2
13-1-12

3
3

4
10.50

I:
Berikan kompres dingin
E:
DS: Klien mengatakan: Merasa nyaman dengan
kompres dingin
DO:-

13-1-12

10.55

I:
Menganjurkan banyak minum
E:
DS:
DO: Klien mau minum gelas

13-1-12

11.00

I:
Menganjurkan klien mengenakan pakaian tipis dan
mudah menyerap keringat
DS:
DO: Klien mau mengganti dengan pakaian yang tipis

13-1-12

11.00

I:
Anjurkan klien untuk menghindari makanan pedas
E:
DS: Klien mengatakan; Mengerti dan tidak akan
mengkonsumsi makanan pedas
DO: I:

13-1-12

11.05
1.

Menganjurkan
klien untuk batasi makanan yang menyebabkan mual
dan muntah

2.
6

13-1-12

E:

3.
11.10
4.

DS:DO:

Klien

tampak mengerti
I:
Menganjurkan klien untuk batasi cairan satu jam

5
sebelum makan dan pada saat makan

E:
7

13-1-12

11.15

DS:
DO: Klien mengerti
I:
Menganjurkan klien untuk makan dengan porsi
sedikit frekuensi sering
E:

13-1-12

11.20

DS:
DO: Klien mengerti
I:
Membatasi/menghindari penggunaan masker, baju
dan sarung tangan
E:

13-1-12

11.20

DS:
DO: Klien mau berkomunikasi dengan perawat
I:
Memberikan waktu untuk bicara dengan klien
selama dan diantara aktivitas perawatan, tetap
memberi
perlakukan

dukungan,
dengan

mengusahakan
penuh

verbalisasi,

penghargaan

dan

menghormati perasaan klien


E:
DS:10

13-1-12

11.35

DO: Klien mau berkomunikasi dengan perawat


secara aktif
I:
Mewaspadai gejala-gejala verbal / nonverbal, misal :
menarik diri, putusasa perasaan kesepian
E:
DS: Klien mengatakan Kesepian karena tidak ada

11

13-1-12

12.00

yang menunggu.
DO: I:
Mengobservasi tanda tanda vital

5
E:
DS:DO:

12

13-1-12

12.05

Tensi : 90/60 mmHg

N: 98 x/mnt

R: 26 x/mnt

S: 37,7 0 C

I :
Kaji turgor kulit, membran mukosa, dan rasa haus
E:
DS:
Klien mengatakan : Masih merasa haus
DO:
Turgor kulit menurun, membran mukosa kering,