Anda di halaman 1dari 22

ASUHAN KEBIDANAN PADA

NY R P2002Ab000 AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN (DMPA)


DI PUSKESMAS JANTI

Disusun oleh:
Friska Danastri Imawati
1302100026

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN KEBIDANAN MALANG
PRODI D-III KEBIDANAN MALANG
SEPTEMBER 2015
BAB II

TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Dasar KB
2.1.1 Definisi
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan, upaya itu dapat
sementara, dapat bersifat permanen, pengunaan kontrasepsi merupakan salah satu
variabel yang mempengaruhi fertilisasi. KB merupakan program yang berfungsi bagi
pasangan untuk menunda kelahiran anak pertama (post poning), menjarangkan anak
(spacing) atau membatasi (limiting) jumlah anak yang diinginkan sesuai dengan
keamanan medis serta kemungkinan kembalinya fase kesuburan (ferundity).
(Notoadmojo, 2003).
Alat kontrasepsi yang ideal seharusnya 100% efektif, sangat aman, reversible,
dan tidak menimbulkan nyeri. Kontrasepsi seharusnya tidak menganggu spontanitas,
tidak mengotori, tidak berbau, atau berasa menyengat. Selain itu, harus mudah
digunakan, murah, tidak bergantung pada ingatan penggunanya, dan tidak berganttung
pada petugas kesehatan saja. Metode yang digunakan tidak bertentangan dengan udaya
setempat, sehingga dapat diterima oleh para penggunanya (Fraser, 2011: 656)
Keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan
suami istri untuk :
a. Mendapatkan data obyektif tertentu
b. Menghindari kelahiran yang tidak di inginkan
c. Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan
d. Mengatur interval diantara kelahiran pertama dan kedua dan selanjutnya
e. Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan suami istri
f. Menentukan jumlah anak dalam keluarga.
Keluarga berencana adalah pelayanan kependudukan yang dapat diberikan
sebagai berikut :
a. Komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)
b. Konseling pelayanan kontrasepsi
c. Pelayanan infertilitas
d. Pendidikan Kesehatan Reproduksi
e. Konsultasi pra perkawinan dan konsultasi perkawinan
f. Konsultasi genetik
g. Tes keganasan
h. Adopsi
2.1.2

Macam-Macam Metode Kontrasepsi


1. Metode sederhana
a. Tanpa alat
1) KB ilmiah
a) Pantang berkala

b) Metode kalender
c) Metode suhu basah
d) Metode lendir serviks (billing)
e) Metode simtotermal
f) MAL (Metode Amenore Laktasi)
2) Koitus interuptus (senggama terputus)
b. Dengan alat
1) Mekanisme (barier)
Kondom pria, barier intra vagina (diafragma, kap serviks, spon, kondom
wanita)
2) Kimiawi
Spermatid (vaginal kream, vaginal foam, vaginal jellu, vaginal supositoria,
vagina tablet/busa, vaginal soloble film)
2. Metode modern
a. Kontrasepsi hormonal
1) Kontrasepsi kombinasi
a) Pil kombinasi
b) Suntikan kombinasi
2) Kontrasepsi progestin
a) Kontrasepsi suntikan progestin
b) Kontrasepsi pil progestin/mini pil
c) Kontrasepsi implant
d) AKDR
b.

Kontrasepsi Nonhormonal
1) Intra uterin device (IUD AKDR)
2) Kontrasepsi mantap
a) Tubektomi
b) Vasektomi
c) rekanalisasi

Syarat-syarat dan metode kontrasepsi yang baik dan ideal sebagai berikut :
1. Aman, artinya tidak akan menimbulkan komplikasi berat bila digunakan.
2. Berdaya guna, dalam arti bila digunakan sesuai dengan aturan akan dapat
mencegah terjadinya kehamilan.
3. Dapat diterima, bukan hanya oleh klien melainkan juga oleh lingkungan budaya di
masyarakat.
4. Terjangkau harganya oleh masyarakat
5. Bila metode tersebut dihentikan penggunaannya, klien akan segera kembali
kesuburannya, kecuali untuk kontrasepsi mantap.
Menurut cara pelaksanaannya kontrasepsi dibagi 2 yaitu :

1. Cara temporer (spacing)


Yaitu menjarangkan kelahiran selama beberapa tahun sebelum hamil lagi.
2. Cara permanen (kontrasepsi mantap)
Yaitu mengakhiri kesuburan dengan cara mencegah kehamilan secara permanen
pada wanita disebut sterilisasi, pada pria disebut vasektomi
Dalam mempelajari kontrasepsi, pengetahuan tentang bagaimana terjadinya kehamilan
dan cara kerja kontrasepsi harus dipahami benar-benar.
1. Jangan menumpahkan sel mani kedalam vagina
2. Mengelakkan masa subur wanita => sistem kalender
3. Menutup mulut rahim untuk menghalangi masuknya sperma kedalam rahim dan
saluran telur => diafragma.
4. Mematikan sperma dalam vagina => spermisida
5. Mencegah konsepsi atau nidasi => IUD
6. Menekan/melumpuhkan sel mani => pil KB pria
7. Menekan ovulasi sehingga sel telur tidak keluar kontrasepsi hormonal
8. Memotong, mengikat atau menjepit saluran telur dan saluran sperma =>
kontrasepsi mantap
2.1.3

Kontrasepsi Hormonal
Sejarah penemuan kontrasepsi hormonal berjalan panjang, mulai dari tahun 1897
ketika Beard menduga bahwa korpus luteum dapat menghambat terjadinya ovulasi.
Fellmer pada tahun 1912 mempelajari pengaruh korpus luteum terhadap payudara dan
uterus. Moore dan Price mengetahui fungsi kelenjar hipofisis dan estrogen serta
progesterone dapat memberikan rangsangan balik. Corquodale, Thayer dan Doisy
antara tahun 1930 dan 1936 mengisolasi estrogen dan progesterone.
Laboratorium Syntex pada tahun 1956 menemukan progesterone sintesis dengan
nama Norethistherone. Pada tahun1960 Rock, Pincus dan Garcia mencoba
progesterone sebagai kontrasepsi oral dengan hasil yang memuaskan. Pada tahun
1963, Goldzieher membuat pil KB oral sekuensial. Pada perkembangan dan percobaan
selanjutnya telah dibuat berbagai pil KB dengan tujuan meningkatkan efektivitas,
mengurangi efek samping, meinimalkan keluhan peserta KB.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hormonal telah mempelajari
bahwa estrogen dan progesterone memberikan umpan balik terhadap kelenjar hipofisis
melalui hipotalamus sehingga terjadi hambatan terhadap perkembangan folikel dan
proses ovulasi. Melalui hipotalamus dan hipofisis, estrogen dapat menghambat
pengeluaran follicle stimulating hormone (FSH), sehingga perkembangan dan
kematangan folikel de Graaf tidak terjadi. Di samping itu progesterone dapat
menghambat pengeluaran hormone luteinizing (LH). Estrogen mempercepat perilstatik
tuba sehingga hasil konsepsi mencapai uterus-endometrium yang belum siap untuk
menerima implantasi.
Fungsi komponen progesterone yaitu:

a. Rangsangan balik ke hipotalamus dan hipofisis, sehingga pengeluaran LH tidak


terjadi dan menghambat ovulasi.
b. Progesterone mengubah endometrium, sehingga kapasitasi spermatozoa tidak
berlangsung.
c. Mengentalkan lender serviks sehingga sulit ditembus spermatozoa.
d. Menghambat perilstatik tuba, menyulitkan konsepsi.
e. Menghindari implantasi, melalui perubahan struktur endometrium.
(Manuaba, 2010:597)
2.2 Kontrasepsi Suntik 3 Bulanan
2.2.1 Pengertian
Kontrasepsi suntik 3 bulanan yaitu kontrasepsi suntikan yang mengansung
hormone progesterone. Suntikan progesterone merupakan bentuk kontrasepsi
reversible yang paling umum digunakan dan merupakan metode pilihan bagi sebagian
besar wanita, tidak hanya bagi wanita yang memiliki kontrasindikasi dengan metode
lain (Fraser, 2011 : 662).
Metode suntikan KB telah menjadi bagian gerakan keluarga berencana nasional
serta peminatnya makin bertambah. Tingginya minat pemakai suntikan KB oleh
karena aman, sederhana, efektif, tidak menimbulkan gangguan dan dapat dipakai
2.2.2

pada pascapersalinan (Manuaba, 2010 : 600).


Jenis
Didalam kontrasepsi suntik 3 bulanan penulis mendapatkan jenis kontrasepsi suntikan
yang hanya mengandung progestin yaitu terdapat 2 jenis, dibedakan menurut
kandungan progestinnya.
1. Depo Medroksi Progesteron Asetat (Depoprovera), mengandung 150 mg DMPA,
yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik intramuskular (di daerah
bokong).
2. Depo Norestisteron Enantat (Depo Noristerat), yang mengandung 50 mg DMPA
yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik intramuskular (di daerah
bokong).
(Biran Affandi, 2011: MK-43)
2.2.3

Profil

1. Sangat efektif
2. Aman
3. Dapat dipakai oleh semua perempuan dalam usia reproduksi
4. Kembalinya kesuburan lebih lambat, rata-rata 4 bulan
5. Cocok untuk masa laktasi karena tidak menekan produksi ASI
(Biran Affandi, 2011: MK-43)
2.2.4 Cara Kerja Suntik KB
1) Mencegah ovulasi
2) Mengentalkan lendir servik sehingga menurunkan penetrasi sperma
3) Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi
4) Menghambat transportasi gamet oleh tuba.

(Biran Affandi, 2011: MK-43)


2.2.5 Efektifitas
Kontrasepsi suntik tersebut memiliki efektivitas yang tinggi, dengan 0,3
kehamilan per 100 perempuan/tahun, asal penyuntikannya dilakukan secara teratur
sesuai jadwal yang telah ditentukan (Biran Affandi, 2011: MK-44)
2.2.6 Keuntungan Suntik KB
1) Sangat efektif
2) Pengecahan kehamilan jangka panjang
3) Tidak berpengaruh pada hubungan suami-istri
4) Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap penyakit
jantung dan gangguan pembekuan darah.
5) Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI
6) Sedikit efek samping
7) Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
8) Dapat digunakan perempuan usia > 35 tahun sampai perimenophause
9) Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
10) Menurunkan kejadian penyakit anak payudara
11) Mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul
12) Menurunkan krisis anemia bulan sabit (sicke cell).
(Biran Affandi, 2011: MK-44)
2.2.7 Keterbatasan
1) Sering ditemukan gangguan haid, seperti :
a.

Siklus haid yang memendek atau memanjang

b.

Perdarahan yang banyak atau sedikit

c.

Perdarahan tidak teratur/perdarahan bercak (spooting)

d.

Tidak haid sama sekali

2) Klien sangat tergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan (harus kembali
untuk suntikan)
3) Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikutnya.
4) Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering.
5) Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual,
hepatitis B, virus, infeksi virus HIV.
6) Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian.
Kembalike masa subur terjadi dengan lambat setelah suntikan dihentikan,
khususnya dengan DMPA. Nilai tengah penundaan kehamilan setelah perkiraan
berakhirnya efek kontrasepsi ini adalah 5-7 bulan. Oleh karena itu, suntikan
progesterone tidak dianjurkan sebagai alat kontrasepsi bagi wanita yang memiliki
keinginan untuk hamil secepatnya setelah menggunakan metode ini. (Fraser,
2011)

7) Terlambatnya kembali kesuburan bukan karena terjadinya perusakan/ kelamaan


pada organ genetalia, melainkan karena belum habisnya pelepasan obat suntikan
dari deponya (tempat suntikan).
8) Terjadi perubahan pada lipid serum pada pengunaan jangka panjang
9) Pada penggunaan jangka panjang dapat sedikit menurunkan kepadatan tulang
(densitas).
10) Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina,
menurunkan libido, gangguan emosi (jarang), sakit kepala, jerawat.
(Biran Affandi, 2011: MK-44)
2.2.8 Yang Boleh Menggunakan Kontrasepsi Suntikan Progestin
1)

Usia produksi

2)

Nulipara dan yang telah memiliki anak

3)

Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan yang memiliki efektifitas tinggi.

4)

Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai

5)

Setelah abortus/keguguran

6)

Telah banyak anak, tetapi belum menghendaki tubektomi

7)

Perokok

8)

Tekanan darah < 180/110 mmHg dengan masalah gangguan pembekuan darah
atau anemia bulan sabit.

9)

Menggunakan obat untuk epilepsi (fenitonin dan barbiturat) atau obat


tuberkulosis (nofampisin)

10) Tidak dapat memakain kontrasepsi yang mengandung estrogen


11) Sering lupa menggunakan kontrasepsi pil kontrasepsi
12) Anemia defisiensi besi
13) Mendekati usia menopouse dan tidak mau / tidak boleh menggunakan pil
kombinasi.
(Biran Affandi, 2011: MK-45)
2.2.9 Yang Tidak Boleh Menggunakan Kontrasepsi Suntikan Progestin
1)

Hamil atau dicurigai hamil (resiko cacat pada janin 7 per 100.000 kelahiran)

2)

Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya

3)

Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid, terutama amenorhoe

4)

Penderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara

5)

Diabetes mellitus disertai komplikasi

(Biran Affandi, 2011: MK-45)


2.2.10 Waktu Menggunakan Kontrasepsi Suntik Progestin
1. Setiap saat selama siklus haid, asal Ibu tersebut tidak hamil
2. Mulai hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid
3. Ibu yang tidak haid, injeksi pertama tersebut dapat diberikan setiap saat asalkan
saja Ibu tersebut tidak hamil, selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh
melakukan hubungan seksual.

4. Ibu yang menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan ingin mengganti dengan
kontrasepsi suntikan. Bila Ibu telah menggunakan kontrasepsi hormonal
sebelumnya secara benar dan Ibu tersebut tidak hamil suntikan pertama dapat
segera diberikan. Tidak perlu menunggu sampai haid berikutnya datang.
5. Bila Ibu sedang menggunakan jenis kontrasepsi jenis lain dan ingin
menggantinya dengan jenis kontrasepsi suntikan yang lain lagi, kontrasepsi
suntikan yang akan diberikan dimulai pada saat jadwal kontrasepsi suntikan
yang sebelumnya.
6. Ibu yang menggunakan kontrasepsi non hormonal dan ingin menggantinya
dengan kontrasepsi hormonal, suntikan pertama konrtasepsi hormonal yang
akan diberikan dapat segera diberikan, asal saja Ibu tersebut tidak hamil dan
pemberiannya tidak perlu menunggu haid berikutnya datang. Bila Ibu disuntik
setelah hari ke-7 haid, Ibu tersebut selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh
melakukan hubungan seksual.
7. Ibu ingin menggantikan AKDR dengan kontrasepsi hormonal, suntikan pertama
dapat diberikan pada hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid atau dapat
diberikan setiap saat setelah hari ke-7 siklus haid, adal saja yakin Ibu tersebut
tidak hamil.
8. Ibu tidak haid atau Ibu dengan perdarahan tidak teratur, suntikan pertama dapat
diberikan setiap saat, asal saja Ibu tersebut tidak hamil, dan selama 7 hari
setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual.
(Biran Affandi, 2011: MK-45)
2.2.11 Cara Penggunaan Kontrasepsi Suntikan
1. Kontrasepsi suntikan DPMA diberikan setiap 3 bulan sekali diberikan dengan
cara disuntik intramuskuler dalam didaerah pantat. Apabila suntikan diberikan
terlalu dangkal, penyerapan kontrasepsi suntikan akan lambat dan tidak bekerja
segera dan efektif. Suntikan diberikan setiap 90 hari. Pemberian kontrasepsi
suntikan, noristerat untuk 3 injeksi berikutnya diberikan setiap 8 minggu mulai
dengan injeksi kelima diberikan setiap 12 minggu.
2. Bersihkan kulit yang akan disuntik dengan kapas alkohol yang dibasahi oleh etil
/ isopropil alkohol 60-90%. Biarkan kulit kering sebelum disuntik, setelah kulit
kering baru disuntik.
3. Kocok dengan baik, dan hindarkan terjadinya gelembung-gelembung udara,
kontrasepsi suntik tidak perlu didinginkan. Bila terdapat endapan putih pada
dasar ampul, upayakan menghilangkannya dengan menghangatkannya.
(Biran Affandi, 2011: MK-46)
2.2.12 Informasi Yang Perlu Disampaikan
1. Pemberian

kontrasepsi

suntikan

sering

menimbulkan

gangguan

(amenorhea) bersifat sementara dan sedikit sekali mengganggu kesehatan.

haid

2. Dapat terjadi efek samping seperti peningkatan berat badan, sakit kepala, dan
nyeri payudara, efek samping ini jarang tidak berbahaya dan dapat hilang.
3. Karena terlambat kembalinya kesuburan, penjelasan perlu diberikan pada Ibu
usia muda yang ingin menunda kehamilan, atau bagi Ibu yang merencanakan
kehamilan berikutnya dalam waktu dekat.
4. Setelah suntikan dihentikan, haid tidak segera datang. Haid baru datang kembali
pada umumnya setelah 6 setelah, selama itu dapat saja terjadi kehamilan. Bila 36 bulan haid tidak kunjung tiba, maka segera periksakan ke tempat pelayanan
kesehatan untuk dicari penyebabnya.
5. Bila klien tidak dapat kembali pada jadwal yang telah ditentukan, suntikan
dapat diberikan 2 minggu sebelum jadwal. Dapat juga diberikan 2 minggu
setelah jadwal asal tidak ada kehamilan. Klien tidak dibenarkan melakukan
hubungan seksual selam 7 hari, atau menggunakan metode kontraspsi lainnya
selama 7 hari. Bila pelu dapat juga menggunakan kontrasepsi darurat.
6. Bila klien sedang menggunakan salah satu kontrasepsi suntikan dan kemudian
meminta untuk diganti dengan kontrasepsi suntikan yang lain, sebaliknya
jangan dilakukan. Bila terpaksa dilakukan diberikan sesuai dengan jadwal dari
kontrasepsi sebelumnya.
7. Bila klien lupa jadwal suntikan, suntikan dapat segera diberikan, asal saja yakin
ibu tersebut tidak hamil.
(Biran Affandi, 2011: MK-47)
2.2.13 Peringatan Bagi Pemakai Kontrasepsi Progestin
1. Setiap terlambat haid harus dipikirkan adanya kemungkinan kehamilan.
2. Nyeri abdoment bawah yang berat kemungkinan gejala kehamilan ektopik
terganggu.
3. Timbulnya abses atau perdarahan tempat injeksi.
4. Sakit kepala migrain, sakit kepala berulang yang berat, atau kaburnya
penglihatan.
5. Perdarahan berat 2 kali lebih panjang dari masa haid atau 2 kali lebih banyak
dalam satu period masa haid.
Bila terjadi hal-hal diatas, hubungan segera tenaga kesehatan atau klinik.
(Biran Affandi, 2011: MK-48)
2.2.14 Penanganan Gangguan Haid
Amenorea
1. Tidak perlu dilakukan tindakan apapun, cukup konseling saja
2. Bila klien tidak dapat menerima kelainan haid tersebut, suntikan jangan
dilanjutkan. Anjurkan pemakaian jenis kontrasepsi yang lain.

Perdarahan

1. Perdarahan ringan atau spooting (bercak) sering dijumpai, tetapi tidak


berbahaya.
2. Bila perdarahan/spooting terus berlanjut atau setelah tidak haid, namun
kemudian terjadi perdaraan, maka perlu dicari penyebabnya perdarahan
tersebut. Obatilah dengan cara yang sesuai.
3. Bila ditemukan penyakit radang panggul atau penyakit akibat hubungan
seksual, klien perlu diberi pengobatan yang sesuai dan suntikan dapat terus
dilanjutkan.
4. Bila perdarahan banyak atau memanjang (> 8 hari) atau 2 kali lebih
banyakdari perdarahan biasanya dialami pada siklus haid normal, jelaskan
bahwa hal tersebut biasa terjadi pada bulan pertama suntikan.
5. Bila gangguan tersebut menetap, perlu dicari penyebabnya dan bila
ditemukan kelainan ginekologik, klien perlu diobati atau dirujuk.
6. Bila perdarahan yang terjadi mengancam kesehatan klien atau klien tidak
dapat menerima hal tersebut, suntikan jangan dilanjutkan lagi. Pilihkan jenis
kontrasepsi yang lain untuk mencegah amenia perlu diberi preparat besi dan
anjurkan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi.
(Biran Affandi, 2011: MK-48)

Keadaan Yang Memerlukan Perhatian Khusus


Keadaan
Penyakit hati akut (umur)

Anjuran
Sebaiknya jangan menggunakan kontrasepsi suntikan

Penyakit jantung

Sebaiknya jangan menggunakan kontrasepsi suntikan

Stroke

Sebaiknya jangan menggunakan kontrasepsi suntikan


(Biran Affandi, 2011: MK-49)

Penanganan Efek Samping Yang Sering Dijumpai


Efek Samping
Amenorea

Penanganan
Bila tidak hamil, pengobatan apapun tidak perlu,

(tidak terjadi perdarahan

jelaskan, bahwa darah haid tidak terkumpul dalam rahim,

/spotting)

nasehati untuk kembali ke klinik.

Bila telah terjadi kehamilan, rujuk klien, hentikan


penyuntikan

Bila terjadi kehamilan ektopik, rujuk klien segera

Jangan berikan terapi hormonal untuk menimbulkan


perdarahan karena tida akan berhasil, tunggu 3-6 bulan
kemudian, bila tidak terjadi perdarahan juga rujuk ke

Perdarahan/perdarahan

bercak (spooting)

klinik.
Informasikan

bahwa

perdarahan

ringan

sering

dijumpai, tetapi hal ini bukanlah masalah serius, dan


biasanya tidak memerlukan pengobatan. Bila klien tidak
dapat

menerima

perdarahan

tersebut

dan

ingin

melanjutkan suntikan, maka dapat disarankan 2 pilihan


pengobatan:
1

siklus

pil

kontrasepsi

kombinasi

(30-50

mg

etinilestradiol) ibuprofen (sampai 800 mg, 3x/hari untuk


5 hari) atau obat sejenis lain, jelaskan bahwa selesai
pemberian pil kontrasepsi kombinasi dapat terjadi
perdarahan. Bila terjadi perdarahan banyak selama
pemberian suntikan ditangani dengan pemberian 2 tablet
kontrasepsi kombinasi/hari selama 3-7 hari dilanjutkan
dengan 1 siklus pil kontrasepsi hormonal, atau diberi 50
mg etirilestradiol atau 1,25 mg estrogen equin konjungasi
Meningkatnya/menurun
nya berat badan

untuk 14-21 hari.


Informasikan bahwa kenaikan/penurunan berat badan
sebanyak 1-2 kg dapat saja terjadi.
Perhatikan diet klien bila perubahan berat badan terlalu
mencolok. Bila berat badan berlebihan, hentikan suntikan
dan anjurkan metode kontrasepsi lain.
(Biran Affandi, 2011: MK-49)

2.3 Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan


2.3.1 Pengkajian
Merupakan langkah awal untuk mendapatkan data tentang keadaan klien melalui
anamnesa.
A. Data Subyektif
Data yang didapat dari hasil wawancara secara langsung kepada klien dan
keluarga serta kesehatan lain. Data subyektif ini mencakup bahwa keluhankeluhan dari klien terhadap masalah kesehatan yang lain.
1. Biodata
Nama

: unuk mengenal dan mengetahui identitas klien

Umur

: untuk mengetahui umur klien ( usia reproduksi 20-35 tahun)

Agama

: untuk menentukan memberi dukungan spritual kepada klien

Pendidikan : untuk menentukan memberi KIE kepada klien


Pekerjaan

: untuk menentukan sosial ekonomi klien

Alamat

: untuk mengetahui domisili klien

2. Alasan Datang
Alasan ibu datang menemui petugas kesehatan untuk mendapatkan suntikan
KB 3 bulan.
3. Keluhan Utama
Keluhan yang umunya dialami oleh ibu akseptor KB suntik 3 bulanan
antara lain :
siklus haid yang memendek atau memanjang
perdarahan yang banyak atau sedikit
perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting)
peubahan berat badan
tidak haid sama sekali (amenorea)
4. Riwayat Haid
Menarche
Menarche menandai awal dari menstruasi dan biasanya terjadi pada umur 916 tahun pada perempuan
Haid teratur atau tidak dan siklus
Siklus normal 21-35 hari
Lama haid
Lama haid normal biasanya 3-5 hari, ada yang 1-2 hari yang diikuti darah
sedikit-sedikit, dan ada yang sampai 7-8 hari
Haid terakhir
KB suntuk DMPA dapat diberikan setiap saat selama siklus haid asal ibu
tersebut tidak hamil, mulai hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid.
5. Riwayat Perkawinan

Untuk mengetahui berapa kali menikah, usia pertama kali menikah dan lama
menikah.
6. Riwayat Kesehatan yang Lalu
Untuk mengetahui apakah ibu pernah menderita penyakit yang mungkin
kambuh saat memakai KB suntik 3 bulanan, seperti diabetes Mellitus, ca
mamae, ca serviks.
7. Riwayat Kesehatan Sekarang
Penyakit-penyakit yang berpengaruh terhadap pemakain KB suntik 3 bulanan
antara lain :
Perdarahan per-vaginam yang belum jelas penyebabnya terutama bila terjadi
perdarahan setelah senggama karena dikhawatirkan adanya ca serviks
Menderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara, kontrasepsi
hormonal dapat meningkakan perkembangan sel kanker sehingga pada ibu
yang menderita kanker akan memperparah penyakitnya.
Hamil atau dicurigai hamil, karena resiko cacat pada janin yaitu 7 per
100.000 kelahiran bila diberikan pada ibu hamil.
8. Riwayat Kesehatan Keluarga
Untuk mengetahui latar belakang kesehatan keluarga terutama anggota keluarga
yang mempunyai penyakit menular dan tinggal dalam satu rumah seperti TBC
dan hepatitis, serta penyakit keluarga yang dapat dturunkan seperti jantung,
darah tinggi, dan kencing manis yang mungkin diderita dan ibu mengetahui
bahwa ia menderita penyakit tersebut.
9. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang Lalu
Kehamilan
a. Frekuensi ANC di tangan kesehatan
b. Obat/viamin selama hamil, menngetahui kecukupan vitamin/mineral
selama hamil dan apakah selama hamil pernah masih menggunakan
kontrasepsi karena dapat menyebabkan kecacatan pada janin.
c. Kehamilan disebabkan oleh kegagalan kontrasepsi ataukah memang
diinginkan
d. Pernah mengalami abortus atau tidak
Persalinan
a. Usia kehamilan (aterm, premaure, postmature )
b. Jenis persalinan
c.

Keadaan bayi

Nifas
Saat ini ibu sedang menyusui eksklusif atau tidak, untuk KB suntik 3
bulanan atau suntikan progestin dapat diberikan pada ibu menyusui karena
tidak mengganggu produksi ASI.

10. Riwayat KB
KB apa saja pernah digunakan ibu.
Keluhan yang dialami selama ikut KB.
Bila ibu pernah ganti alat kontrasepsi maka alasan ibu ganti perlu diketahui
Rencana ibu memakai KB Suntik DMPA sampai kapan.
11. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a. Nutrisi
Untuk mengetahui klien makan berapa kali, dengan komposisi apa, dan
minum berapa gelas/hari
b. Istirahat
Tidur berapa jam per hari, ada keluhan atau tidak
c. Eliminasi
berapa kali BAB dan BAK tiap hari, ada keluhan atau tidak
d. Aktivitas
Kegiatan yang dilakukan ibu sehari-hari
e. Seksual
berapa kali dalam seminggu ibu melakukan hubungan seksual, ada
keluhan selama berhubungan atau tidak. Karena libido akseptor menurun
dalam jangka panjang.
f. Kebersihan
Untuk mengetahui pola kebersihan dan kebersihan klien, yaitu ganti
pakaian dan celana dalam 2x dalam sehari, mandi 2x/hari, gosok gigi 2x /
hari, ganti pembalut saat menstruasi 2-3x/hari.
12. Data Psikososial
Psikologis

: untuk mengetahui kesiapan ibu menghadapi efek samping

kb suntikan progestin dimana biasanya ibu merasa cemas dan takut


mengalami kegagalan kontrasepsi.
Sosial : bagaimana hubungan ibu dengan suami dan keluarga, hal ini
untuk menilai apakah ibu memperoleh dukungan yang kuat dalam
pemakian alat kontrasepsi. Bagaimana adat istiadat yang berlaku dalam
lingkungan tempat tinggal ibu terhadap pemakaian KB (alat kontrasepsi),
misalnya anggapan bahwa penggunaan alat kontrasepsi berarti mencegah
kehamilan dan kelahiran seorang anak sehingga dianggap perbuatan dosa.
B. Data Obyektif
Adalah data yang diperoleh melalui pemeriksaan fisik dari inskepsi, palpasi,
perkusi dan auskultasi yang terdiri dari :
1. Pemeriksaan Umum
- Keadaan Umum : baik, cukup, lemah
- Kesadaran

: composmentis, samnolen, apatis

- TD

: <180/110 mmHg

- Nadi

: 60-100x/menit

- Suhu

: 36,5-37,5oC

- Pernapasan

: 16-24x/menit

- Berat badan

2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Kepala

: tidak tampak benjolan, rambut berwarna hitam

Mata

: simetris, konjungtiva merah muda, sklera putih

Telinga

: simetris, bersih tidak tampak serumen

Hidung

: bersih, tidak tampak polip

Mulut

: bibir lembab, tidak stomatitis, tidak pucat, lidah bersih,


tidak tampak caries.

Leher

: tidak tampak pembesaran kelenjar tiroid,kelenjar limfe,


dan vena jugularis

Payudara

: simetris, tidak tampak benjolan abnormal

Abdomen

: tidak tampak benjolan, tidak tampak luka bekas operasi,

Ekstremitas

:gerakan normal, tidak tampak oedem, tidak tampak


varises

Integumen

: bersih, turgor kulit baik

b. Palpasi
Leher

: tidak teraba pembesaran kelenjar tiroid, tidak teraba


pembesaran limfe dan vena jugularis

Payudara

: tidak teraba teraba benjolan abnormal, tidak ada nyeri


tekan

Ekstremitas

: tidak oedem, tidak teraba varises

c. Auskultasi
Dada

: tidak terdengar wheezing, tidak terdengar ronchi

Abdomen

: tidak terdengar bising usus

d. Perkusi
Reflek patella
2.3.2

: +/+

Identifikasi Diagnosa dan Masalah


Dx
: P.Ab akseptor KB suntik 3 bulanan
Ds
Do

: ibu mengatakan ingin mendapatkan suntikan KB 3 bulan.


: KU

: Baik

Kesadaran

: composmentis, samnolen, apatis

TD

: <180/110 mmHg

Nadi

: 60-100x/menit

Suhu

: 36,5-37,5oC

Pernapasan

: 16-24x/menit

Berat badan

Masalah
a. Gangguan siklus haid / amenore
Ds : ibu mengatakan tidak haid selama ikut KB
Do : HPHT
b. Perubahan BB (naik/turun)
Ds : ibu mengatakan akhir-akhir ini berat badannya bertambah/ menurun
Do : terdapat peningkatan/penurunan antara BB sebelum sunitk KB dan setelah
suntik KB.
c. Pusing / sakit kepala / migran
Ds : ibu mengatakan selama ikut KB suntik ibu sering merasa pusing
Do : ibu tampak menahan kesakitan pada saat TTV
d. Spotting
Ds : ibu mengatakan selama ikut KB suntik mengelurkan perdarahan bercak/flek
Do : anemis/tidak
2.3.3

Identifikasi Diagnosa dan Masalah Poternsial


Diagnosa potensial adalah kemungkinan kemungkinan buruk yang mungkin bisa
terjadi. Diagnosa potensial berdasarkann diagnosa dan masalah yang sudah
teridentifikasi
Masalah potensial adalah masalah lain yang dapat berkembang, diperoleh dari
diagnosa potensial

2.3.4

Identifikasi Kebutuhan Segera


Kebutuhan segera adalah suatu tindakan yang jika tidak dilakukan dapat
membahayakan keadaan klien, tindakan segera meliputi tindakan yang dilakukan

2.3.5

secara mandiri, kolaborasi dan rujukan


Intervensi
Dx
: P.Ab akseptor KB suntik 3 bulanan
Tujuan
: ibu mengerti penjelasan petugas serta ibu mendapatkan KB suntik 3
bulanan sesuai dengan prosedur dan standart
KH
:
- Ibu mendapatkan KB suntik 3 bulanan
- Keadaan Umum
: baik, cukup, lemah
- Kesadaran
: composmentis, samnolen, apatis
- TD
: <180/110 mmHg
- Nadi
: 60-100x/menit
- Suhu
: 36,5-37,5oC
- Pernapasan
: 16-24x/menit
- Berat badan
:
- Ibu mampu mengulangi penjelasan yang telah diberikan dan tahu kapan harus
kemabali untuk mendpatkan suntikan KB.
Intervensi :
1. Informasikan mengenai hasil pemeriksaan
R/ ibu mengerti keadaan dirinya dan ibu lebih kooperatif

2. Berikan konseling mengenai KB suntik 3 bulanan, seperti efektivitasnya,


keuntungan dan kekurangan KB suntik 3 bulanan
R/ pengetahuan ibu mengenai KB suntik 3 bulanan bertambah sehingga ibu
3.
4.
5.
6.

menjadi lebih nyaman dalam menggunakan KB suntik 3 bulanan.


Siapkan obat dan alat
R/ persiapan yang tepat memperlancar proses penyuntikan KB suntik 3 bulanan
Atur posisi klien
R/ posisi yang tepat mempermudah tindakan
Lakukan penyuntikan KB sesuai dengan prosedur
R/ tindakan sesuai prosedur meminimalkan angka kesalahan dan komplikasi
Menjadwalkan ibu untuk kunjungan ulang dan kembali bila memerlukan
konsultasi atau bila ada keluhan.
R/ klien dapat dating tepat waktu serta klien dapat merasa terlindungi bila ada

keluhan yang terjadi.


7. Lakukan pendokumentasian dan menyerahkan kartu akseptor KB kepada klien
R/ pendokumentasian digunakan sebagai alat tanggung jawab dan tanggung gugat
dalam pelayanan KB juga pengingat bagi klien.
Masalah
1.

Gangguan siklus haid / amenore


: klien dapat mengerti adanya efek samping yang terjadi
: klien lebih tenang dan dapat menerima efek samping KB suntik

Tujuan
Kh
Intervensi
a. Jelaskan kepada ibu tentang efek samping dari KB suntik
R/ tingkat pengetahuan ibu bertambah sehingga ibu bisa lebih kooperatif
b.
Anjurkan kepada ibu untuk konsumsi makanan gizi seimbang
R/ input yang cukup membantu proses perbaikan sel_sel tubuh yang rusak
c.
Lakukan pengobatan jika terjadi komplikasi yang berlanjut
R/ penanganan yang tepat menghindari terjadinya komplikasi yang berlanjut
2. Berat Badan bertambah
Tujuan : Tidak terjadi peningkatan BB yang berlebihan
KH
:
Peningkatan BB ibu selanjutnya tidak terlalu banyak
Tidak terjadi ganguan pencitraan diri pada ibu
Ibu dapat beradaptasi dengan pertambahan berat badan
Intervensi
a. Jelaskan pada ibu keterbatasan KB suntik 3 bulanan, salah satunya adalah
peningkatan BB
R/ peningkatan BB sering terjadi selam pemakaian KB suntik 3 bulan. Setiap
individu berbeda-beda tergantung kadar hormone progesterone yang dapat
mempermudah perubahan karbohidrat dan gula menjadi lemak yang tersimpan
di bawah kulit juga hormone progesterone dapat merangsang nafsu makan
b. Berikan informasi pada ibu bahwa olahraga minimal 15 menit / hari dapat
mengendalikan kenaikan berat badan
R/ olahraga dapat merangsang metabolisme untuk membakar lemak
c. Tekankan mengenai pentingnya mengatur pola makan serta diet rendah kalori
R/ pola makan seseorang berkaitan dengan penambahan / penurunan BB. Diet
rendah kalori dapat mengganggu karbohidrat masuk dalam tubuh sehingga
tubuh memetabolisme cadangan lemak di bawah kulit sehingga BB berkurang
d. Anjurkan ibu untuk menghentikan penggunaan KB suntik 3 bulan bila
peningkatan BB terlalu banyak dan menyarankan menggunakan KB
nonhormonal

R/ penghentian penggunaan KB hormonal dapat menghentikan peningkatan


berat badan dan KB nonhormonal tidak emmeiliki efek sampng terhadap
3.

peningkatan berat badan.


Pusing / sakit kepala / migran
Tujuan
: klien bisa menerima dan mampu mengatasi pusing
KH
: pusing berkurang sampai hilang
Intervensi
a. Jelaskan pada klien pemakaian KB suntik dapat menimbulkan pusing
R/ pusing terjadi akibat ketidakseimbangan hormone di dalam tubuh klien
berakibat berpengaruh pada vaso kontriksi pada pembuluh darah sehingga
aliran darah yang membawa O2, makanan ke otak berkorang sehingga terjadi
pusing
b. Ajarkan klien teknik distraksi
R/ dengan teknik distraksi klien dapat mengalihkan rasa pusing ke hal-hal

yang lebih positif


c. Ajarkan klien teknik relaksasi
R/ teknik relaksasi melancarkan peredaran darahsehingga rasa nyeri berkurang
4.
Perdarahan bercak (spotting)
Tujuan : ibu bisa beradaptasi dengan efek samping dari KB suntik 3 bulanan
KH
: ibu bisa menerima perubahan fisiologis yang disebabkan oleh efek

2.3.6
2.3.7

samping dari pemakaian KB suntik 3 bulanan dan ibu lebih tenang


Intervensi :
a. Jelaskan bahwa spotting merupakan perubahan yang normal
R/ ibu mengerti dan lebih kooperatif dengan perubahan yang terjadi
b. Beritahu ibu untuk menjaga kebersihan daerah kelaminnya
R/ kebersihan daerah kelamin dapat mencegah terjadinya infeksi
Implementasi
Merupakan penatalaksanaan dari intervensi yang telah dibuat.
Evaluasi
Hasil evaluasi tindakan nantinya dituliskan setiap saat pada lembar catatan
perkembangan dengan melaksanakan observasi dan pengumpulan data subyektif,
obyektif, mengkaji data tersebut dan merencanakan terapi atas hasil kajian tersebut.
Jadi secara dini catatan perkembangan berisi uraian yang berbentu SOAP, yang
merupakan singkatan dari :
S : Subyektif
Merupakan informasi/data yang diperoleh dari keluhan pasien
O : Objektif
Merupakan informasi yang didapatkan dari hasil pemeriksaan oleh bidan maupun
oleh tenaga kesehatan lainnya.
A :Assesment
Merupakan penilaian yang disimpulkan dari informasi subyektif dan obyektif
P :Planning
Merupakan rencana tindakan kebidanan yangt dibuat sesuai dengan masalah
klien.

Latar belakang
Alat kontrasepsi merupakan factor yang penting dalam kehidupan seorang wanita,
dengan tingkatan kebutuhan yang

bervariasi sesuai dengan tahapan dalam rangkaian

kehidupan tertentu, dan sebaiknya dipandng dalam konteks seksual dan kesehatan reproduksi
yang lebih luas.Keluarga berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan
preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita, meskipun tidak selalu diakui demikian.
(Depkes RI, 1998)
KB merupakan program yang berfungsi bagi pasangan untuk menunda kelahiran anak
pertama (post poning), menjarangkan anak (spacing) atau membatasi (limiting) jumlah anak
yang diinginkan sesuai dengan keamanan medis serta kemungkinan kembalinya fase kesuburan
(ferundity).

(notoadmojo,

2003). Program KB merupakan salah satu kegiatan pokok dalam upaya mencapai keluarga
sejahtra, diarahkan untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk dengan cara penurunan
angka kelahiran untuk mencapai keseimbangan antara pertumbuhan penduduk dengan laju
pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan data yang diperoleh dalam SDKI 2012 diadapatkan pola pemakaian
kontrasepsi tersebar antara lain, suntik 31,9% , pil 13,6% , IUD 3,9% , implan 3,3% ,kondom
1,8% ,MOW 3,2% ,MOP 0,2% ,pantang berkala 1,3% ,senggama terputus 2,3% ,metode
lainnya 0,4%. Fakta yang bersumber dari data SDKI menyebutkan bahwa terdapat
kecenderungan peningkatan penggunaan kontrasepsi suntik dari 31,6% di tahun 2007
menjadi 31,9% di tahun 2012. Di antara cara KB modern yang dipakai, suntik KB merupakan alat
kontrasepsi terbanyak digunakan oleh wanita berstatus kawin (31,9 persen). Selain itu Hasil

sementara SDKI 2012 menyebutkan 38,1% wanita usia reproduktif tidak menggunakan
kontrasepsi.

Pelayanan kontrasepsi dapat diperoleh di pusat kesehatan terdekat misalnya puskesmas,


pustu, RS atau dapat juga diperoleh di bidan praktek swasta. Kontrasepsi suntikan adalah
jenis kontrasepsi yang dipakai dengan cara disuntikan secara inframuskuler (didaerah
bokong). Target demografis penurunan angka fertilitas dari 44% pada tahun 1971 menjadi
22% pada tahun 1990. Wanita yang dapat menggunakan jenis kontrasepsi ini adalah wanita
yang sudah atau masih aktif dalam aktifitas reproduksinya (20-35 tahun)
(Abdul Bari Syaifudin, 2003)
Jenis kontrasepsi suntikan ada 2 macam, yaitu suntikan kombinasi dan progestin. Jenis
suntikan kombinasi adalah 25 mg DMPA dan 5 mg Estradiol sipionat yang diberikan injeksi
IM sebulan sekali (cyclofem) dan 50 mg Noretindron Enantat dan 5 mg Estradiol Valerat IM
sebulan sekali, sedangkan kontrasepsi progestin yaitu DMPA (depoprovera) mengandung 150

mg DMPA 3 bulan sekali dan Depo Noretisteron Enantat (Deponoristerat) mengandung 200
mg Nuretindron Enantat setiap 2 bulan sekali. Efek KB suntikan sangat bervariasi seperti
penambahan berat badan, pusing, mual, keputihan serta perdarahan seperti Amenorhea /
spotting yang bersifat darah yang irregular / sementara

(Saifuddin,

2006).
Sehubungan dengan kondisi diatas penulis tertarik untuk melakukan Asuhan kebidanan
pada nyT P2002 Ab000 dengan Akseptor Ulang KB Suntik DMPA perode 12 minggu DI
BPS Suhartatik - Wajak.
KB merupakan program yang berfungsi bagi pasangan untuk menunda kelahiran anak
pertama (post poning), menjarangkan anak (spacing) atau membatasi (limiting) jumlah anak
yang diinginkan sesuai dengan keamanan medis serta kemungkinan kembalinya fase
kesuburan (ferundity).
(notoadmojo, 2003).
Indonesia menghadapi masalah dengan jumlah kualitas Sumber Daya Manusia
(SDM) dengan kelahiran 5.000.000/tahun untuk dapat mengangkat derajat kehidupan bangsa
telah dilaksanakan bersama pembangunan ekonomi dan keluarga berencana tidak dilakukan
bersamaan dengan pembangunan ekonomi di khawatirkan hasil pembangunan tidak akan
berarti. (Gede Manuaba, 1998)
Perempuan merupakan pengguna kontrasepsi terbanyak dan memerlukan kontrasepsi
yang aman dan berkualitas karena perempuan rentan terhadap morbiditas jika mereka hamil
dan prosentasi akseptor KB di Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh dalam SDKI 2012
diadapatkan pola pemakaian kontrasepsi tersebar antara lain, suntik 31,9% , pil 13,6% , IUD
3,9% , implan 3,3% ,kondom 1,8% ,MOW 3,2% ,MOP 0,2% ,pantang berkala 1,3%
,senggama terputus 2,3% ,metode lainnya 0,4%. Fakta yang bersumber dari data SDKI
menyebutkan bahwa terdapat kecenderungan peningkatan penggunaan kontrasepsi suntik
dari 31,6% di tahun 2007 menjadi 31,9% di tahun 2012. Di antara cara KB modern yang
dipakai, suntik KB merupakan alat kontrasepsi terbanyak digunakan oleh wanita berstatus kawin
(31,9 persen). Selain itu Hasil sementara SDKI 2012 menyebutkan 38,1% wanita usia

reproduktif tidak menggunakan kontrasepsi.


Metode suntikan KB telah menjadi bagian gerakkan keluarga berencana nasional
serta peminatnya main bertambah. Tingginya minat pemakai suntik KB oleh karena aman,
sederhana, efektif, tidak menimbulkan gangguan dan dapat dipakai pada pasca persalinan.
Jenis kontrasepsi suntikan ada 2 macam, yaitu suntikan kombinasi dan progestin. Jenis
suntikan kombinasi adalah 25 mg DMPA dan 5 mg Estradiol sipionat yang diberikan injeksi
IM sebulan sekali (cyclofem) dan 50 mg Noretindron Enantat dan 5 mg Estradiol Valerat IM
sebulan sekali, sedangkan kontrasepsi progestin yaitu DMPA (depoprovera) mengandung 150
mg DMPA 3 bulan sekali dan Depo Noretisteron Enantat (Deponoristerat) mengandung 200
mg Nuretindron Enantat setiap 2 bulan sekali. Efek KB suntikan sangat bervariasi seperti

penambahan berat badan, pusing, mual, keputihan serta perdarahan seperti Amenorhea /
spotting yang bersifat darah yang irregular / sementara

(Saifuddin,

2006).
Sehubungan dengan kondisi diatas penulis tertarik untuk melakukan Asuhan kebidanan
pada nyT P2002 Ab000 dengan Akseptor Ulang KB Suntik DMPA perode 12 minggu DI
BPS Suhartatik - Wajak.
Dari visi program keluarga berencana nasional mewujudkan keluarga berkualitas
2015 yaitu keluarga yang sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak ideal, berwawasan ke
depan, bertanggung jawab, harmonis dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka
generasi mendatang dituntut menjadi generasi yang berkualitas dan keluarga merupakan
salah satu penunjang untuk mengukur yang akan datang akan lebih siap.

Ibu juga mengatakan bahwa ibu tidak ingin memiliki anak lagi karena telah memiliki 2 orang
anak akan tetapi ibu masih belum ingin memakai kontrasepsi dengan masapemakaian lama
seperti implant, IUD, dan steril (MOW/MOP) sehingga ibu memutuskan untuk menggunakan
KB suntik 3 Bulan saja
Pada kasus, karena ibu baru 6 munggu pasca melahirkan masih menyusui sehingga metode
KB hormonal yang diperbolehkan yaitu KB hormonal yang mengandung hormone
progesterone saja. Hal ini dikarenak penggunaan kontrasepsi hormonal progestin tidak
mempengaruhi jumlah ASI yang diproduksi untuk bayi. Selain itu ibu belum mengalami haid
dan belum melakukan hubungan seksual selama masa nifas. Selama dilakukan pengkajian
pada ibu baik secara subyktif dan obyektif, didapatkan bahwa hasil pemeriksaan, ibu
diperbolehkan menggunakan KB suntik 3 bulan.
Umumnya masalah yang terjadi pada akseptor KB suntik adalah peningkatan berat badan,
amenorrhea, pusing atau sakit kepala dan perdarahan bercak/ spoting. Namun hal- hal
tersebut adalah normal yang dikarenakan efek dari hormonal progestin yang terkandung
dalam obat yang disuntikkan. Hormon progesteron dapat meningkatkan nafsu makan
sehingga berat badan bertambah, selain itu dapat menghambat terjadinya menstruasi
sehingga akan mengalami amenorrhea dan kadang kadang terjadi spoting. namun tidak
semua efeksamping diatas terjadi pada setiap akseptor KB suntik 3 bulan. Pada kasus, ibu
mengatakan bahwa efek samping yang ibu rasakan dan mengganggu kenyamanan ibu adalah

adanya peningkatan BB. Sehingga pada identikasi diagnose dan masalah, ditemukan
adalanya masalah terhadap peningkatan berat badan
Identifikasi masalah potensial disini tidak ada karena tidak terjadi masalah atau
komplikasi akibat pemakaian KB suntik 3 bulan.
Identifikasi pemenuhan kebutuhan segera tidak dituliskan karena tidak ada masalah
potensial yang bisa terjadi.
Pada asuhan kebidanan ini intervensi sudah ditetapkan sesuai diagnosa dan masalah yang
dihadapi oleh ibu akseptor KB suntik 3 bulan. Karena ibu mengalami masalah peningkatan berat
badan maka ibu intervensi yang disusun yaitu penjelasan bahwa peningkatan BB adalah efek
samping kB suntik, anjurkan untuk olahraga minimal 15 menit setiap hari, anjutkan mengatur
pola makan dan diet rendah kaloti, serta anjurkan untuk mengganti metode KB bila terjadi
peningkatan BB yang mencolok.
Implementasi pada asuhan kebidanan ini telah dilakukan sesuai dengan konsep
management yang ada, sehingga tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan praktek.
Evaluasi dilakukan pada kriteria hasil yang telah ditetapkan yaitu ibu dapat mendapatkan
suntikan DMPA 150 mg dan ibu dapat memahami penjelasan dari petugas.