Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Persalinan
2.1.1

Pengertian Persalinan

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin/uri) yang telah cukup
bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain
dengan / tanpa bantuan (kekuatan sendiri).
(Manuaba. 2010)

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang hidup di dunia luar dari
rahim melalui jalan lahir / dengan jalan lain.
(Mochtar. 1998:91)

Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang
cukup bulan / hampir cukup bulan disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput
janin dari tubuh ibu.
(Unpad.1989)

Persalinan normal adalah pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan
(37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung
selama 18-24 jam tanpa komplikasi baik ibu maupun janin.
(Sarwono. 2008)

2.1.2

Jenis Persalinan
Beberapa istilah yang berkaitan dengan usia kehamilan dan berat janin yang dilahirkan
adalah sebagai berikut:
a. Abortus yaitu terhentinya dan dikeluarkannya hasil konnsepsi sebelum mampu hidup
di luar kandungan, usia kehamilan sebelum 20 minggu, berat janin kurang dari 1000
gr.
b. Persalinan prematuritas. Persalinan sebelum usia kehamilan 28 minggu, berat janin
kurang dari 2499 gr.
c. Persalinan aterm. Persalinan sebelum usai kehamilan 37 dan 42 minggu, berat janin di
atas 2500 gr.
d. Persalinan serotinus. Persalinan melampaui usia kehamilan 42 minggu. Pada janin
terdapat tanda postmaturitas.
e. Persalinan presipitatus. Persalinan berlangsung cepat kurang dari 3 jam.
(Manuaba, 2010)

2.1.3

Penyebab Persalinan
Penyebab persalinan belum diketahui secara jelas, yang ada hanyalah teori-teori yang
kompleks, antara lain :
a. Teori penurunan hormon progesteron

1-2 minggu sebelum partus, mulai terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan
progesteron. Progesteron bekerja sebagai penenang otot polos rahim dan akan
menimbulkan kekejangan pembuluh darah sehingga terjadi his apabila kadar
progesteron turun.
b. Teori iritasi mekanik
Dibelakang servik terletak ganglion servikale (fleksus frankenhouser). Bila ganglion
ini ditekan dan digeser misalnya oleh kepala janin akan timbul kontraksi uterus.
c. Teori oksitosen
Menurunnya kadar progesteron akibat tuanya kehamilan dapat meningkatkan
aktivitas oksitosin sehingga timbul his.
d. Teori distensi rahim
Seperti halnya kandung kemih dan lambung, bila dindingnya teregang oleh karena
isinya akan timbul kontraksi. Demikian pula rahim yang menjadi besar dan kejang
menyebabkan iskemia otot rahim sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenter.
e. Teori penuaan plasenta.
Plasenta yang menjadi tua akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan
progesteron yang menyebabkan kejadian kekejangan pembuluh darah, hal ini akan
menimbulkan kontraksi rahim.
(Mochtar, 1998)
2.1.4

Tanda-Tanda Persalinan
1. Permulaan persalinan
a. Lightening / dropping adalah kepala turun masuk PAP terutama pada
primigravida. Pada multigravida tidak begitu kentara.
b. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
c. Perasaan sering kencing atau susah kencing (polikisuria) karena kandung kemih
tertekan bagian terbawah janin.
d. Perasaan sakit perut dan pinggang oleh adanya kontraksi lemah di uterus, kadang
disebut fase labor pains.
e. Serviks menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah bisa
bercampur darah (bloody show).
2. Inpartu
a. Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.
b. Keluar lendir bercampur darah (bloody show) yang lebih banyak karena robekanrobekan kecil pada serviks.
c. Kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
d. Pada pemeriksaan dalam : serviks mendatar dan pembukaan telah ada.
(Mochtar, 1998)

2.1.5

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan

1. Power (kekuatan mendorong janin keluar)


a. His (kontraksi uterus)
b. Kontraksi otot-otot dinding perut.
c. Kontraksi diafragma
d. Ligamentum action terutama ligamentum rotondum.
2. Passage (jalan lahir)
a. Bagian keras

: rangka panggul.

b. Bagian lunak

: otot-otot jaringan dan ligamen.

3. Passenger (janin)
a. Ukuran kepala dan badan janin.
b. Kedudukan janin di dalam rahim.
4. Psikis ibu
a. Emosi dan ketakutan memegang peranan penting dalam distosia his.
b. Ketakutan menyebabkan respon endokrin yang menyebabkan retensi natrium,
ekskresi natrium dan penurunan glukosa. Respon ini menyebabkan sekresi
epineprin, menghambat aktivitas miometrial dan melepaskan horepiaprin
menyebabkan peningkatan dan tidak terkoordinasinya aktivitas uterus.
5. Penolong
Pimpinan persalinan yang salah dapat menyebabkan distosia his.
(Sondakh, 2013)
2.1.6

Tahap-tahap persalinan
KALA I (Kala Pembukaan)
Waktu untuk pembukaan serviks sampai pembukaan lengkap. Dibagi menjadi 2 fase,
yaitu :
a. Fase laten
Pembukaan serviks berlangsung lambat sampai pembukaan 3 cm, berlangsung
dalam 7-8 jam.
b. Fase aktif
Berlangsung selama 6 jam dan dibagi dalam 3 sub fase :

Periode akselerasi : berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4

Periode dilatasi maksimal (steady) : selama 2 jam, pembukaan berlangsung


cepat menjadi 9 cm.

Periode deselerasi : berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam, pembukaan


menjadi 10 cm atau lengkap.

KALA II (Kala Pengeluaran Janin).


Waktu uterus dengan kekuatan his ditambah kekuatan merejan mendorong janin keluar
hingga lahir. Pada kala pengeluaran janin, His terkoordinasi, kuat dan cepat dan lebih
lama kira-kira 2-3 menit sekali. Kepala janin telah turun masuk ruang panggul yang

secara reflektoris menimbulkan rasa meneran. Karena tekanan pada rektum, ibu merasa
seperti mau BAB dengan tanda anus terbuka. Pada waktu His, kepala janin mulai
kelihatan, vulva membuka dan perineum menegang. Dengan His meneran yang
terpimpin, akan lahirlah kepala diikuti oleh seluruh badan janin. Kala II pada primi
berlangsung selama 1 - 2 jam, sedangkan pada multi - 1 jam.
KALA III (Kala uri)
Waktu untuk pelepasan dan pengeluaran uri. Setelah bayi lahir, kontraksi rahim istirahat
sebentar. Uterus teraba keras dengan fundus setinggi pusat dan berisi plasenta yang
menjadi tebal 2 kali sebelumnya. Beberapa saat kemudian timbul His pelepasan dan
pengeluaran uri. Dalam waktu 5-10 menit seluruh plasenta terlepas, terdorong ke dalam
vagina dan akan lahir spontan atau dengan sedikit dorongan dari atas symphisis atau
fundus uteri. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir.
Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah sekitar 100-200 cc.
KALA IV (Kala pengawasan)
Mulai dari lahirnya uri selama 1-2 jam. Adalah kala pengawasan selama 2 jam setelah
bayi lahir dan uri lahir untuk mengamati ibu terutama terhadap bahaya perdarahan post
partum. Observasi yang dilakukan adalah :
a. Tingkat kesadaran pasien.
b. Pemeriksaan TTV : tekanan darah, nadi, pernapasan dan suhu.
c. Kontraksi uterus.
d. Terjadi tidaknya perdarahan.
(Mochtar. 1998:103)
2.1.7

Asuhan Persalinan Normal (APN)


KALA I
1. Mempersiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi.
a. Ruangan yang hangat dan bersih memiliki sirkulasi udara yang baik dan
terlindung dari tiupan angin.
b. Sumber air bersih dan mengalir untuk mencuci tangan.
c. Air DTT untuk membersihkan vulva dan perineum ibu.
d. Kecukupan air bersih, klorin, deterjen, kain pel dan sarung tangan karet untuk
membersihkan ruangan, lantai dan perabot dekontaminasi dan proses peralatan.
e. Tempat yang lapang untuk ibu berjalan-jalan dan menunggu saat persalinan.
f. Penerangan yanwg cukup baik siang maupun malam.
g. Tempat tidur yang bersih untuk ibu dan untuk BBL.
h. Meja yang bersih untuk Menaruh peralatan persalinan.
i. Meja yang bersih untuk resusitasi BBL.
2. Menyiapkan semua perlengkapan, bahan dan obat-obatan esensial.
a. Periksa semua peralatan sebelum dan setelah memberi asuhan.

b. Periksa semua obat-obatan dan bahan-bahan sebelum dan setelah menolong


persalinan.
c. Periksa kelengkapan dan bahan-bahan sudah bersih dan siap pakai, partus set,
hecting set, resusitasi BBL sudah dalam keadaan DTT atau stabil.
3. Memberikan asuhan sayang ibu
a. Memberikan dukungan emosional
-

Membantu ibu bernapas secara benar pada saat kontraksi.

Memijat punggung, kaki atau kepala ibu dan tindakan-tindakan bermanfaat


lainnya.

Menyeka muka ibu secara lembut dan menggunakan kain yang dibasahi air
hangat atau dingin.

Menciptakan rasa kekeluargaan dan rasa aman.

b. Mengatur posisi
-

Anjurkan untuk mencoba posisi-posisi yang nyaman selama persalinan. Ibu


boleh berdiri, berjalan, duduk, jongkok, berbaring miring / merangkak.

Bantu ibu berganti posisi selama persalinan.

c. Pemberian cairan dan nutrisi


Anjurkan ibu untuk mendapat asuhan (makanan ringan dan minuman) selama
persalinan dan proses kelahiran bayi.
d. Eliminasi
-

Anjurkan ibu untuk mengosongkan kandung kemih secara teratur selama


persalinan, ibu sedikitnya harus berkemih 2 jam/ lebih sering.

Selama persalinan berlangsung tidak dianjurkan untuk melakukan kataterisasi


kandung kemih secara rutin, kecuali ada indikasi.

Anjurkan ibu untuk BAB jika perlu, jika ibu ingin BAB pada fase aktif.
Lakukan periksa dalam untuk memastikan apa yang dirasakan ibu bukan
disebabkan oleh tekanan bayi pada rektum.

e. Pencegahan infeksi
Mencegah lingkungan tetap bersih merupakan hal yang penting dalam
mewujudkan persalinan yang bersih dan aman bagi ibu dan bayi, kain penutup
yang bersih, kain tebal dan pelapis anti bocor.
KALA II
a. Membimbing ibu untuk meneran.
b. Posisi ibu untuk meneran.
c. Menolong kelahiran bayi :
-

Posisi ibu saat melahirkan

Pencegahan laserasi

Melahirkan kepala

Periksa tali pusat pada leher, melahirkan bahu

Melahirkan seluruh tubuh bayi

KALA III
Dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhirnya dengan lahirnya plasenta dan selaput janin.
1. Tujuan manajemen aktif KALA III
Untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif, sehingga dapat
memperpendek waktu KALA III persalinan dan mengurangi kehilangan darah
dibandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis.
2. Keuntungan MAK III
-

KALA III persalinan lebih singkat

Mengurangi jumlah kehilangan darah

Mengurangi kejadian retensio plasenta

3. MAK III
-

Melakukan penegangan tali pusat terkendali


Tanda-tanda lengkapnya plasenta :

Perubahan ukuran dan bentuk uterus.

Tali pusat memanjang.

Semburan darah tiba-tiba.

Pemijatan fundus uteri (Masase)


Segera lakukan masase pada fundus uteri minimal 15 detik setelah plasenta lahir.

KALA IV
Dimulai setelah plasenta lahir sampai 2 jam PP :
1. Lakukan rangsangan taktil (masase) uterus untuk merangsang uterus berkontraksi
baik dan kuat.
2. Evaluasi TFU dengan memutar jari tangan secara melintang dengan pusar sebagai
patokan. Umumnya fundus uteri setinggi pusat atau beberapa jari dibawah pusat.
Sebagai contoh : hasil pemeriksaan ditulis 2 jari dibawah pusat.
3. Memperkirakan kehilangan darah secara keseluruhan.
4. Periksa kemungkinan perdarahan dari robekan (laserasi / episiotomi) perineum.
5. Evaluasi keadaan umum ibu dan bayi.
6. Dokumentasi semua asuhan dan temuan selama persalinan KALA IV dibagian
belakang partograf, segera setelah asuhan diberikan atau setelah penilaian dilakukan.
2.2
2.2.1

Konsep Persalinan Immatur


Pengertian
Partus immaturus adalah pengeluaran buah kehamilan sebelum umur 28 minggu dan
sesudah umur 20 minggu atau BB janin 500-1000gr. Mekanisme persalinan imatur
berlangsung melalui tahap-tahap seperti persalinan biasa. Pengeluaran plasenta sering
terhambat.

Persalinan premature (preterm) adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan
kurang dari 37 minggu dengan perkiraan berat janin kurang dari 2500 gram. Risiko
persalinan premature adalah tingginya angka kematian, selain dapat tejadi pertumbuhan
mental-intelektual dan fisik yang kurang menguntungkan sehingga dapat menjadi beban
keluarga, masyarakat dan Negara. Dengan demikian kelahiran premature yang
mempunyai risiko tinggi diupayakan dapat dikurangi sehingga angka kematian perinatal
dapat diturunkan.(Manuaba,2010)
2.2.2

Patofisiologi
Persalinan prematur menunjukkan adanya kegagalan mekanisme yang bertanggung
jawab untuk mempertahankan kondisi tenang uterus selama kehamilan atau adanya
gangguan yang menyebabkan singkatnya kehamilan atau membebani jalur persalinanan
normal sehingga memicu dimulainya proses persalinan secara dini. Empat jalur terpisah
telah dipaparkan, yaitu stress, infeksi, regangan dan perdarahan (Norwintz, 2007).
Persalinan Prematur

2.2.3

Faktor predisposisi:
Pengawasan Hamil
1. Sosial Ekonomi
1. Intensif berjadwal
Ekonomi rendah
2. Perbaikan terhadap:
Gizi kurang
Gizi ibu hamil
Anemia
Pengobatan penyakit
Perokok/Kecanduan
Konsultasi dokter
alcohol
Pemeriksaan
Kerja keras
laboraturium
2. Penyakit ibu
Hipertensi
Diabetes Mellitus
Jantung/paru
3. Anatomi Genital
Serviks inkompletus
Kelainan rahim
4. Faktor Kebidanan
Grande multi
Pre-eklampsi
Perdarahan
Hidramnion
Tindakan
Akrif Bidan:
Tindakan Konservatif
1. Pertimbangan
penyulit
Hamil kembar
Istirahat isolasi di
premature
Infeksi hamil
Polindes
Pertolongan
legeartis
Perbikan sosial ekonomi
Ketuban pecah dini
(Manuaba, 2010)
Nonumum
traumatis
5. Faktor
Konsultasi dokter
Etiologi
Perawatan
<20 tahun bayi
Pengobatan penyakit
prematurManuaba
sulit
sampai
Menurut
(2010), Persalinan premature sulitANC
diduga
danaterm
sulit dicari
Mudah infeksi
penyebabnya,
pengobatannya sukat diterapkan dengan pasti. Beberapa factor
2. Melakukansehingga
rujukan ke
rumah sakit-pelayanan
yang menyebabkan persalinan premature adalah:
yang adekuat

1. Kondisi umum. Kondisi umum diantaranya:


a. Keadaan sosial-ekonomi rendah : kurang gizi, anemia, perokok berat (lebih dari
10 batang/hari), umur ibu terlalu muda kurang dari atau terlalu tua diatas 35
tahun.
b. Penyakit ibu yang menyertai kehamilan: tekanan darah tinggi, penyakit diabetes,
penyakit jantung atau paru, penyakit endokrin, terdapat factor rhesus.

2. Penyulit kebidanan. Perkembangan dan keadaan hamil dapat meningkatkan terjadinya


persalinan premature diantaranya:
a. Hidramnion, kehamilan kembar, pre-eklapsia-eklampsia
b. Perdarahan antepartum pada solusio plasenta, plasenta previa, pecahnya sinus
marginalis.
c. Ketuban pecah dini: terjadi gawat janin, suhu tubuh tinggi.
3. Kelainan anatomi rahim karena kadaan rahimyang sering menimbulkan kontraksi dini
(serviks inkompeten karena kondisi serviks, amputasiserviks) dan kelainan congenital
rahim (uterus arkuatus, uterus septus), atau infeksi pada vagina asenden (naik)
menjadi amnionitis.
Sedangkan menurut Maryunani (2013) etiologi prematuritas, yakni :
a) Banyak kasus persalinan prematur sebagai akibat proses patogenik yang merupakan
mediator biokimia yang mempunyai dampak terjadinya kontraksi rahim dan
perubahan serviks, yaitu :
aktivasi aksis kelenjar hipotalamus hipofisis - adrenal baik pada Ibu maupun
Janin, akibat stress pada Ibu dan Janin,
inflamasi desidua koriamnion atau sistemik akibat infeksi asenden dari traktus
genitourinaria atau infeksi sistemik,
perdarahan desidua,
peregangan uterus patologik,
kelainan pada uterus atau serviks.
b) Kondisi selama kehamilan yang beresiko terjadinya persalinan preterm adalah :
Faktor janin & plasenta :
perdarahan trimester awal, perdarahan antepartum (plasenta previa, solusio
plasenta, vasa previa), ketuban pecah dini (KPD), pertumbuhan janin
terhambat, cacat bawaan janin, kehamilan ganda / gemeli, dan
polihidramnion.
Faktor ibu :
Penyakit berat pada ibu, diabetes mellitus, preeklampsi/hipertensi, infeksi
saluran kemih/genital/intrauterin, penyakit infeksi dengan demam, stress
psikologik, kelainan bentuk uterus/serviks, riwayat persalinan preterm/abortus
berulang, inkompetensi serviks, pemakaian obat narkotik, trauma, perokok
berat, dan kelainan imunologi/kelainan rhesus.
Selain itu etiologi prematuritas menurut Rukiyah (2010) yakni kejadian prematuritas
pada sebuah kehamilan akan dipicu oleh karakteristik pasien dengan :
a) status sosio ekonomi
status sosio ekonomi yang rendah (termasuk didalamnya penghasilan rendah),
b) pendidikan
pendidikan yang rendah sehingga mempengaruhi pola nutrisi yang rendah,
c) umur
kehamilan pada usia 16 tahun dan primigravida >30 tahun
d) riwayat pernah melahirkan prematur
e) pekerjaan fisik yang berat, tekanan mental (stress) atau kecemasan yang tinggi dapat
meningkatkan kejadian prematur
f) perokok berat (>10 batang per hari)

2.2.4

g) Penggunaan obat bius/kokain.


Faktor Predisposisi
Faktor penyebab yang menambah prematuritas antara lain :
a)
b)
c)
d)

e)
f)
g)
h)
2.2.5

infeksi saluran kemih,


penyakit ibu seperti hipertensi dalam kehamilan, asma, penyakit jantung,
kecanduan obat, kolestatis, anemia,
keadaan yang menyebabkan distensi uterus berlebihan, yaitu kehamilan multiple,
hidramnion, diabetes, isoimunisasi Rh,
perdarahan antepartum,
infeksi umum pada ibu,
tindakan bedah selama kehamilan
kehamilan dengan AKDR (Rukiyah, 2010)
Diagnosis
Sering terjadi dalam menentukan diagnosis pada persalinan prematur. Tidak jarang

kontraksi yang timbul pada kehamilan tidak benar-benar merupakan ancaman proses
persalinan. Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman persalinan
prematur:
a. Kontraksi yang berulang sedikitnya setiap7-8 menit sekali, atau 2-3 kali dalam waktu
b.
c.
d.
e.

2.2.6

10 menit.
Adanya nyeri pada pinggang bagian bawah (low back pain)
Mengeluarkan bercak darah dari vagina
Perasaan menekan daerah serviks
Pemeriksaan serviks menunjukkan telah terjadi pembujkaan sedikitnya 2cm, dan

penipisan 50-80%
f. Presentasi janin rendah , sampai mencapai spina ishiadika
g. Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda awal terjadinya persalinan prematur
h. Terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu
(Sarwono, 2009)
Penyulit bayi premature
Penyulit perawatan bayi preterm disebabkan:
a. Perkembangan alatt vital belum sempurna sehingga mudah terjadi gangguan. Hati
mudah terjadi ikterusdan gangguan fungsi lainnya. Pernapasan mudah terjadi sindrom
pernapasan diantaranya penyakit membrane hialin.
b. Mudah terjadi infeksi karena daya tahan tubuh rendah.
c. Perkembangan mental dan intelektual berjalan lambat sehingga sulit dapat mengikuti
ilmu pengetahuan dan teknologi, dan dapat menjadi beban keluarga dan masyarakat.
Dengan demikian persalinan premature menjadi penyebab utama tingginya nagka
kematian perinatal. Makin rendah berat lahir, semakin tinggi kejadian orbiditas dan
mortilitasnya.

2.2.7

Komplikasi
Menurut Nugroho (2010), komplikasi partus immaturus yang terjadi pada ibu adalah
terjadinya persalinan prematur yang dapat menyebabkan infeksi endometrium sehingga
mengakibatkan sepsis dan lambatnya penyembuhan luka episiotomi. Sedangkan pada
bayi prematur memiliki resiko infeksi neonatal lebih tinggi seperti resiko distress
pernafasan, sepsis neonatal, necrotizing enterocolitis dan perdarahan intraventikuler.

Menurut Benson (2012), terdapat paling sedikit enam bahaya utama yang mengancam
neonatus prematur, yaitu gangguan respirasi, gagal jantung kongestif, perdarahan
intraventrikel dan kelainan neurologik, hiperilirubinemia, sepsis dan kesulitan makan.
2.2.8

Pencegahan Persalinan Immature


Menurut Rukiyah (2012), pengelolaan kehamilan dengan risiko persalinan premature
yaitu:
a. Mendidik ibu dengan resio tinggi agar mengenal tanda persalinan dini yang harus
diwaspadai sebelum kehamlan usia 37 minggu dimana gejalanya eperti nyeri saat
haid, nyeri pinggang, merasa tekanan pada jalan lahir meningkat, adanya lendir
bercampur darah dari kemaluan.
b. Pengawasan ibu dengan resiko tinggi untuk persalinan premature setelah kehamilan
berumur > 20 minggu dengan cara menanyakan adanya tanda persalinan, jika tandatanda tersebut ada maka periksa keadaan serviks terhadap adanya dilatasi ostium
internum atau eksternum, kemajuan persalinan.
c. Bila ditemukan adanya perubahan serviks dan his pasien harus dirawat.
d. Bila ada persalinan, diberikan terapi: istirahat rebah dengan posisi miring kiri untuk
peredaran darah ke uterus, member cairan, mengobati bakteri uri tak bergejala dan
memeriksa kemungkinan infeksi setiap 6-8 minggu, mengurangi stress, istirahat,
perbaikan gizi, tidak melakukan hubungan seksual setelah 20 minggu pada ibu resiko

2.2.9

tinggi, pemantauan kemungkinan adanya kontraksi rahim.


Pengobatan
Metode ini dapat dilakukan apabila keadaan janin memungkinkan untuk tetap
dipertahankan didalam uterus, dan selama dipertahankan tersebut tidak membahayakan
kondisi janin beserta ibunya.
1. Tirah baring
Tindakan ini paling sering dilakukan dengan meminta ibu untuk berbaring lebih enak
pada posisi tubuhnya. Keberhasilannya disebabkan oleh tirah baring dan sebagian
mungkin oleh perasaan tenteram dalam diri ibu bahwa ia tengah mendapatkan
pengobatan.
2. Diberikan magnesium sulfat
Tolkolitik dengan menggunakan magnesium sulfat utnuk merangsang otot polos
uterus sehingga terjadi relaksasi dan hilangnya kontraksi. Untuk waktu tertentu diakui
bahwa ion magnesium dalam konsentrasi yang cukup tinggi dapat mengubah
kontraksi miometrium secara in vivo disamping secara in vitro. Peranan magnesium
diperkirakan terletak dalam sifat antagonisnya terhadap kalsium.
3. Preparat agonis -adrenergik
a.Isosukprin
Isokulin merupakan salah satu senyawa pertama yang dievaluasi secara ekstensif
untuk kerja tokolitiknya. Preparat ini tampaknya kurang efektif, paling tidak
dengan takaran yang tidak menimbulkan efek samping berbahaya, khususnya
takikardi dan hipotensi yang nyata.
Ritodrin
Ritodrin merupakan satu-satunya obat yang indikasi spesifiknya adalah untuk

b.

menghentikan persalinan preterm.

c.Terbutalin
Obat ini umumnya digunakan untuk memperkirakan persalinan preterm, dan oleh
sebagian ahli dinyatakan sebagai preparat yang dapat menghambat kontraksi
miometrium secara efektif bahkan setelah dilatasi serviks sudah berlangsung
lama. Toksisitas, khususnya edema polmoner maternal, dan intoleransi glukosa
pernah terlihat dalam pemakaian obat ini.
d.
Fenoterol
Obat ini secara structural sangat menyerupai ritrodin. Masih belum jelas apakah
fenoterol lebih atau kurang efektif atau lebih atau kurang menyebabkan reaksi
yang merugikan bila dibandingkan preparat -adrenergik lainya yang sekarang
digunakan diberbagai Negara.
4. Terapi kombinasi
Untuk mencoba mengurangi efek ritrodin yang merugikan, sementara preparat ini
secara efektif menghentikan persalinan preterm. Hatjis (1987) melaporkan bahwa
ritrodin yang dikombinasikan dengan magnesium sulfat lebih ampuh dalam
menghentikan persalinan preterm bila dibandingkan dengan pemakaian ritrodin saja.
5. Antiprostaglandin
Sekelompok enzim yang secara kolektif disebut prostaglandin sintase bertanggung
jawab atas konversi asam arakidonat bebas menjadi prostaglandin. Beberapa obat
diketahui menghambat system prostaglandin sintase, termasuk aspirin serta jenis-jenis
salisilat lainnya, indometasin, naproksen dan asam meklofenamat.
6. Preparat penghambat saluran kalsium
Aktivitas otot polos, termasuk miometrium berhubungan langsung dengan kadar
kalsium bebas dalam sitoplasma dan penurunan konsentrasi kalsium akan
menghambat kontraksi miometrium. Ion-ion kalsium mencapai sitoplasma lewat
saluran atau pintu membran yang spesifik dan terdapat suatu kelompok baru obatobat yang dikenal sebagai penghambat saluran kalsium. Kelompok obat ini bekerja
menghambat masuknya ion kalsium lewat saluran membrane sel dengan mekanisme
yang berbeda-beda. Preparat penghambat masuknya kalsium akhir-akhir ini dipaki
untuk pengobatan penyakit arteri koronaria dan hipertensi, mengingat efek relaksasi
otot polos arteriol yang ditimbulkannya.
7. Narkotik dan sedatif
a. Diazoksida
Preparat antihipertensi yang sangat poten ini, juga dapat menghambat kontraksi
uterus yang sedang hamil. Efek samping dari pemakaian diazoksida adalah
hipotensi maternal, takikardi, peningkatan curah jantung, hiperglikemia,
hiperurikemia dan retensi air, natrium, kalium, klorida serta bikarbonat. Mungkin
tampak jelas bahwa efek samping yang merugikan dan multiple ini melampaui
efek yang bermanfaat dalam pencegahan persalinan preterm.
b. Preparat progestasional
Secara historis dengan diketahuinya progesterone parenteral sebagai preparat
yang dapat memperpanjang masa kehamilan pada kelinci, progesterone dan
preparat progestin sintetik lainnya pernah dipaki untuk mencoba menghentikan
persalinan preterm. Sedangkan besar bukti yang ada sampai sejauh ini tidak

begitu meyakinkan bahwa preparat tersebut efektif secara klinis (Hauth dkk,
1983)
c. Etanol
Penggunaan etanol yang disuntikkan intravena untuk menghentiak persalinan
preterm menjadi popular setelah adanya laporan yang menggembirakan dari
Fuchs dkk 1967. Pada mulanya etanol dianggap merintangi pelepasan oksitosin
dari neurohipofise. Peran oksitosin endogenus, kalau ada dalam memicu
persalinan pada manusia kini dipertanyakan. Namun demikian, etanol mungkin
memiliki efek depresi langsung pada miometrium. Juga terlihat bahwa etanol
menyebabkan mabuk pada ibu disertai janin/bayinya dan menimbulkan gangguan
metabolism yang berbahaya dan keduanya. (Cuningham, 1989)
2.2.10 Penatalaksanaan Persalinan Immatur
Pertolongan persalinan premature dilakukan secara legeartis, dengan trauma yang
minimal. Penyulit yang dihadapi diantaranya trauma persalinan menimbulkan perdarahan
intracranial, gangguan pernapasan karena aspirasi air ketuban, asfiksia neonatus, dan
mudah terjadi infeksi neonatus.
Sebagai bidan dengan fasilitas

terbatas,

persalinan

premature

sebaiknya

dikonsultasikan dan sedapat mungkin dilakukan rujukan ke rumah sakit sehingga


mendapat pertolongan yang adekuat.(Manuaba, 2010)
Secara umum, semakin muda usia gestasi, semakin tinggi kemungkinan penyebab
infeksi, yang sering kali diikuti dengan persalinan dan pelahiran yang cepat. Asuhan yang
terampil diperlukan oleh ibu dan janin selama persalinan. Ibu dihadapkan pada krisis
emosional yang tidak diharapkan karena interupsi kemajuan normal kehamilan. Dalam
prematuritas yang ekstrem (22-25 minggu), angka mortalitas perinatal yang tinggi
member arti bahwa ibu dan pasangannya harus menghadapi kemungkinan kematian atau
disabilitas bayi mereka. diskusi lengkap tentang kemungkinan prognosis dan perlu
tidaknya upaya resusitasi harus dilakukan klinisi senior yang terlibat dalam pemberian
asuhan, dan tentu saja orang tua (Fraser, 2011)
Untuk persalinan kurang bulan masih sering muncul kontroversi seperti apakah
sebaiknya persalinan berlangsung pervaginam atau seksio sesarea terutama pada berat
janin yang sangat rendah dan preterm sungsang, pemakaian forsep untuk melindungi
kepala janin, dan apakah ada manfaatnya dilakukan episiotomi profilaksis yang luas
untuk mengurangi trauma kepala.
Bila janin presentasi kepala maka diperbolehkan partus pervaginam. Seksio sesaria
tidak memberikan prognosis yang lebih baik pada bayi, bahkan merugikan ibu.
Prematuritas janganlah dipakai sebagai indikasi untuk melakukan seksio sesarea. Oleh
karena itu, seksio sesarea hanya dilakukan atas indikasi obstetrik.
Pada kehamilan letak sungsang 30-34 minggu, seksio sesarea dapat dipertimbangkan.
Setelah kehamilan lebih dari 34 minggu persalinan dibiarkan terjadi karena mordibitas
dianggap sama dengan kehamilan aterm (Sarwono, 2009)
Adapun cara untuk memimpin persalinan prematur adalah:
a. Persalinan tidak boleh berlangsung terlalu lama tetapi tidak terlalu cepat juga

b. Tidak memecahkan ketuban sebelum pembukaan lengkap


c. Membuat episiotomi medialis, halini untuk memungkinkan persalinan kepala janin
tanpa mengakibatkan trauma.
d. Apabila persalinan harus segera diselesaikan maka memilih forsep daripada ekstraksi
vakum, tetapi juga harus diperhatikan apakah penggunaan forsep pada sebagian besar
kasus akan menghasilkan trauma yang lebih ringan, mengingat bahwa kepala janin
masih sangat rentan
e. Tali pusat secepat mungkin digunting untuk menghindari terjadinnya ikterus
neonatorum yang berat
(Bagian obstetri dan ginekologi FK UNPAD, 1984)
2.3

Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan


I. PENGKAJIAN
Dilakukan dengan mengumpulkan semua data baik data subyektif maupun obyektif
data subyektif disertai hari/tanggal dan jam pada saat dilakukan pengkajian, tanggal masuk
rumah sakit, jam masuk rumah sakit, nomer register.
A. Data Subyektif
1. Biodata
a. Nama ibu dan suami
Nama ibu dan suami untuk mengenal, memanggil, dan menghindari terjadinya
kekeliruan .
b. Umur
Umur ibu menjadi faktor predisposisi dilakukannya suatu tindakan. Umur ibu
<20 tahun atau >35 tahun merupakan faktor terjadinya persalinan immatur.
c. Agama
Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan
kesehatan pasien/klien. Dengan diketahuinya agama pasien akan memudahkan
bidan melakukan pendekatan didalam melaksanakan asuhan kebidanan.
d. Pendidikan
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan sebagai dasar dalam memeberikan
asuhan.
e. Pekerjaan
Untuk mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonomi klien dan apakah
pekerjaan ibu/suami dapat mempengaruhi kesehatan klien atau tidak. Keadaan
ekonomi dapat mempengaruhi asupan nutrisi ibu bersalin.
f. Penghasilan
Untuk mengetahui status ekonomi penderita dan mengetahui pola kebiasaan
yang dapat mempengaruhi kesehatan klien.
g. Alamat

Untuk mengetahui tempat tinggal klien, dan menilai apakah lingkungan cukup
aman bagi kesehatan.
2. Keluhan Utama
Merupakan alasan utama pasien untuk datang dan apa-apa saja yang keluhan
dirasakan. Pada persalinan immature ibu mengeluhkan seperti:
1. Ibu mengatakan yaitu kontraksi uterus yang frekuensi dan intensitasnya
semakin meningkat pada usia kehamilan 22-28 minggu.
2.

Ibu mengatakan nyeri pada punggung bawah (low back pain).

3. Ibu mengatakan adanya perasaan menekan daerah serviks.


4. Ibu mengatakan adanya bercak perdarahan.
5. Ibu mengatakan pada kehamilannya yang kurang bulan ini, keluar air yang
berlebihan
3. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Ditanyakan untuk mengetahui riwayat penyakit sebelum hamil, apakah ibu sudah
mempunyai tekanan darah tinggi atau darah tinggi yang disebabkan kehamilannya
karena bisa memperburuk keadaan pada saat persalinan, penyakit jantung,
hepatitis, asma, epilepsy, diabetes Mellitus, TBC, dll.
4. Riwayat Kesehatan Sekarang
Untuk mengetahui apakah ibu sekarang masih menderita penyakit darah tinggi
atau penyakit lain yang dapat mempengaruhi bisa mempengaruhi persalinannya
seperti penyakit jantung, hepatitis, asma, epilepsy, diabetes Mellitus, TBC, dll.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ditanyakan mengenai latar belakang keluarga terutama :
-

Anggota keluarga yang mempunyai penyakit tertentu terutama penyakit


menular seperti TBC, hepatitis.

Penyakit keluarga yang diturunkan seperti kencing manis, tekanan darah tinggi,
asma.

6. Riwayat Haid
Ditanyakan mengenai :
a. Menarche adalah terjadi haid yang pertama kali. Menarche terjadi pada usia
pubertas, yaitu sekitar 12-16 tahun.
b. Siklus haid pada setiap wanita tidak sama. Siklus haid yang normal/ dianggap
sebagai siklus adalah 28 hari, tetapi siklus ini bisa maju sampai 3 hari atau
mundur sampai 3 hari. Panjang siklus haid yang biasa pada wanita adalah 2532 hari

c. Lamanya haid, biasanya antara 2-5 hari, ada yang 1-2 hari diikuti darah sedikitsedikit dan ada yang sampai 7-8 hari pada wanita biasanya lama haid ini tetap
d. Banyaknya darah yang keluar dan konsistensinya encer
e. Disminore dapat terjadi pada saat menjelang menstruasi atau pada saat
menstruasi, dan pada saat setelah menstruasi.
f. Hari pertama haid terakhir ditanyakan untuk mengetahui usia kehamilan dan
apakah tafsiran rersalinannya sudah sesuai dengan keadaan klien. Kelahiran
bayi dengan immature ini tidak sesuai dengan tafsiran persalinan Yaitu saat
usia kehamilan 21-28 minggu.
7. Riwayat Pernikahan
Ditanyakan tentang : Ibu menikah berpa kali, lamanya, umur pertama kali
menikah
a. Jika lama menikah 4 tahun tetapi belum hamil bisa menyebabkan masalah
pada kahamilannya pre eklamsi.
b. Lama menikah 2 tahun, sudah punya lebih dari 1 anak. Bahanya perdarahan
setelah bayi lahir karena kondisi ibu masih lemah.
c. Umur pertama kali menikah < 18 tahun, pinggulnya belum cukup pertumbuhan
sehingga resiko pada waktu melahirkan.
d. Jika hamil umur > 35 tahun bahanyanya bisa terjadi hipertensi, pre eklamsi.
8. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu
-

Kehamilan yang lalu


Untuk Mengetahui apakah selama kehamilan ibu yang lalu, ibu dengan
persalinan immatur pernah mengalami masalah seperti pendarahan, grande
multi, preeklamsia, eklamsi, hidramnion, hamil kembar, solusio plasenta,
plasenta previa, ketuban pecah dini. dan gangguan pertumbuhan intrauterin.

Persalinan yang lalu


Ditanyakan persalinan pada ibu tentang persalinan yang pernah dialaminya.
Apakah persalinannya lancar, biasa atau tidak pernah mengganggu keadaan
umum ibu, apakah ibu tidak pernah mengalami kelainan, apakah ibu
mengalami persalinan preterm, berat badan bayi lahir rendah, bayi lahir dengan
cacat congenital.

Nifas yang lalu


Dinyatakan keadaan masa nifas yang lalu. Apakah masa nifas yang lau itu
dalam keadaan normal ataukah ada kelainan seperti perdarahan.

9. Riwayat Kehamilan Sekarang


Untuk mengetahui keadaan ibu pada saat kehamilannya apakah ibu periksa secara
teratur atau tidak. Apakah ibu mengonsumsi alkohol, merokok, minum jamujamuan, ataupun melakukan pijat oyok karena hal tersebut merupakan faktor
predisposisi terjadinya persalinan immatur. Selama kehamilan ini, apakah ibu

pernah mengalami masalah seperti pendarahan, grande multi, preeklamsia,


eklamsi, hidramnion, hamil kembar, solusio plasenta, plasenta previa, ketubahn
pecah dini. dan gangguan pertumbuhan intrauterin.
10. Riwayat KB
Untuk menngetahui apakah ibu cocok menggunakan jenis KB yang dipilihnya
sesuai dengan keadaan dan umur ibu, mulai kapan menggunakan KB dan kapan
lepasnya.
11. Pola Kebiasaan Sehari-hari
Untuk mengetahui kesenjangan atau perbedan jauh tidaknya kebiasaan antara
dirumah dan di rumah sakit sehingga menimbulkan masalah :
a. Nutrisi (untuk mengetahui pola dan porsi makan ibu apakah menurun atau
tetap). Asupan nutrisi yang kurang pada saat kehamilan merupakan factor
predisposisi terjadinya persalinan immature.
b. Eliminasi (untuk mengetahui output ibu, seberapa yang keluar apakah
seimbang dengan yang masuk).
c. Istirahat (untuk mengetahui seberapa lama ibu istirahat selama kehamilannya).
Kurangnya

istirahat

dapat

menyebabkan

kelelahan

sehingga

dapat

menyebabkan persalinan immature.


a. Aktifitas (untuk mengetahui apa saja yang dilakukan ibu). Aktifitas ibu yang
terlalu berat pada saat kehamilan factor predisposisi terjadinya persalinan
immature.
d. Personal hygiene (untuk mengetahui tingkat kebersihan pada dirinya sendiri).
12. Riwayat psikososial dan budaya
a. Psikososial :

Untuk mengetahui apakah ibu menerima

kehamilan dan tindakan medis yang akan dilakukan. Selain itu


juga mengetahui siapa saja yang nantinya merawat bayi dan
ibunya dirumah. Untuk mengetahui hubunga ibu dengan
lingkunga sekitar (keluarga dan tetangga) dan dengan petugas
kesehatan dirumah sakit.
b. Budaya

Untuk mengetahui kebiasaan ibu dalam

kepercayaan yang dijalani ibu dan keluarga, untuk meluruskan


apa bila ada kebiasaan ibu yang kurang baik dalam medis.
Social budaya yang melarang wanita hamil untuk mengkonsumsi makanan seperti
ikan dan telur selama masa kehamilan. Serta social budaya yang beranggapan
wanita hamil beristirahat adalah tindakan negative.

B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum

Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Composmentis

Tanda-tanda vital

Tekanan darah

90/60 - 130/90mmHg

Nadi

60 - 100 x/menit

Suhu

36,5 - 37,5 oC

Pernafasan

16 - 24 x/menit

2. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
-

Kepala :

Bersih, rambut tidak bercat, tidak tampak

ketombe dan tidak tampak kusam.


-

Wajah :

Ibu tampak cemar, tampak menyeringai

pada saat kontraksi dan untuk mengetahui muka pucat atau


tidak, odema/tidak, terdapat cloasma gravidarum/tidak.
-

Mata :

Simetris/tidak,

konjungtiva

anemis/tidak,

skera kuning/tidak.
-

Hidung

Simetris, bersih, tidak ada polip,

tidak ada perdarahan yang keluar dari hidung dan tidak ada
sekret.
-

Mulut :

Bibir tampak pucat/tidak sianosis/tidak

Telinga:

Simetris, bersih, tidak ada serumen, tidak

terdapat perdarahan pada telinga dan pendengaran baik.


-

Leher :

Ada pembesaran kelenjar limfe atau tidak,

ada pembesaran kelenjar tiroid/tidak.ada pembesaran vena


jugularus/tidak.
-

Payudara

menonjol/

tidak,

Sumetris/tidak,
ada

puting

hiperpigmentasi

pada

susu
areola

mama/tidak.
-

Abdomen

: ada lika bekas operasi atau tidak, tampak

striae livida, apakah membesar sesuai dengan umur


kehamilannya.
-

Genetalia

: Ada varises/tidak, ada/tidak cairan yang

abnormal.
Atas

Ekstermitas

: Simetris/tidak, odema pada kedua tangan/ sebagian, pucat


pada kuku jari/tidak.

Bawah

: Simetris/tidak, odema pada kedua tangan/ sebagian, pucat


pada kuku jari/tidak.

b. Palpasi

Leher :

Ada pembesaran pada kelenjar limfe atau

tidak, kelenjar tiroid dan vena jugularis/tidak.


-

Payudara

Tidak teraba benjolan abnormal,

payudara teraba kenyal, tidak ada nyeri tekan, keluar


colostrum
-

Abdomen

Leopold I : Untuk menentukan TFU (tidak sesuai dengan TFU


normal, > TFU normal) dan apa yang terdapat dibagian fundus (TFU
dalam cm) dan kemungkinan teraba kepala atau bokong lainnya, normal
pada fundus teraba bulat, tidak melenting, lunak yang kemungkinan
adalah bokong janin.

Leopold II : Untuk menentukan dimana letaknya punggung


janin dan bagian-bagian kecilnya. Pada dinding perut klien sebelah kiri
maupun kanan kemungkinan teraba, punggung, anggota gerak, bokong
atau kepala.

Leopold III

: Untuk menentukan apa yang yang terdapat

dibagian bawah perut ibu dan apakah BTJ sudah terpegang oleh PAP,
dan normalnya pada bagian bawah perut ibu adalah kepala.
-

Leopold IV

Untuk

menentukan

seberapa

jauh

masuknya BTJ ke dalam rongga panggul dan dilakukan perlimaan untuk


menentukan seberapa masuknya ke PAP.
-

Ekstremitas

Apakah Oedema pada ekstremitas

atas dan bawah.


c. Auskultasi
-

Dada :

Paru-paru terdengar wheezing, dan ronchi

atau tidak.
-

Abdomen

DJJ +/-

DJJ dengan frekuensi normal yaitu120-160 kali/menit, irama teratur atau


tidak, intensitas kuat, sedang atau lemah. Apabila persalinan disertai gawat
janin, maka DJJ bisa kurang dari 110 kali/menit atau lebih dari 160
kali/menit dengan irama tidak teratur.
d. Perkusi

: Ada reflek patela atau tidak.

Tafsiran berat janin (TBJ)

Dengan menggunakan rumus (TFU dalam cm 13) x 155 yang bertujuan untuk
mengetahui taksiran berat badan janin dan dalam persalinan prematur biasanya
berat badan janin rendah.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan darah rutin glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas
diperiksa kadar elektrolit dan analisa gas darah.
b. Foto dada ataupun babygram diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur
kehamilan kurang bulan dimulai pada umur 8jam atau didapat / diperkirakan
akan terjadi sidrom gawat nafas.
c. USG kepala Didapatkan hasil ukuran janin kecil dan tidak sesuai dengan usia
kehamilan.
VT

Vulva vagina

Pembukaan

Effeccement

Ketuban

Bagian terdahulu

Bagian terendah

Penurunan hodge

Bagian bawah perut ibu tidak teraba bagian terkecil janin.

II. IDENTIFIKASI MASALAH/DIAGNOSA


Dx :

G... P.. Ab Usia Kehamilan ...-... minggu janin tunggal hidup intra uterin letak
kepala dengan inpartu kala ..dengan partus immatur

Ds : -

Diperoleh dari informasi baik auto / allo amamnesis

Do : -

Keadaan Umum

Baik

Kesadaran

Composmentis

Tanda-tanda vital :
Tekanan darah

90/60 - 130/90mmHg

Nadi

60 - 100 x/menit

Suhu

36,5 - 37,5 oC

Pernafasan

16 - 24 x/menit

- Abdomen

Leopold I : Untuk menentukan TFU (tidak sesuai dengan TFU


normal, > TFU normal) dan apa yang terdapat dibagian fundus (TFU dalam cm)
dan kemungkinan teraba kepala atau bokong lainnya, normal pada fundus teraba
bulat, tidak melenting, lunak yang kemungkinan adalah bokong janin.

Leopold II : Untuk menentukan dimana letaknya punggung


janin dan bagian-bagian kecilnya. Pada dinding perut klien sebelah kiri maupun
kanan kemungkinan teraba, punggung, anggota gerak, bokong atau kepala.

Leopold III

: Untuk menentukan apa yang yang terdapat

dibagian bawah perut ibu dan apakah BTJ sudah terpegang oleh PAP, dan
normalnya pada bagian bawah perut ibu adalah kepala.
-

Leopold IV

Untuk

menentukan

seberapa

jauh

masuknya BTJ ke dalam rongga panggul dan dilakukan perlimaan untuk


menentukan seberapa masuknya ke PAP.
Auskultasi : Djj +/VT

III.

Vulva vagina

Pembukaan

Effeccement

Ketuban

Bagian terdahulu

Bagian terendah

Penurunan hodge

Bagian bawah perut ibu tidak teraba bagian terkecil janin.

ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL


1. Pendarahan
Perdarahan dapat terjadi apabila persalinan premature yang diakibatkan oleh
plasenta previa atau solusio plasanta yang membuat perdarahan banyak pada Ibu.
2. Infeksi
Terbukanya jalan lahir pada Ibu yang mngalami premature akibat diabetes beresiko
untuk infeksi.
3. Atonia Uteri
adanya kelainan bawaan uterus dan ketuban pecah dini yng mengakibatkan
prematuritas.

IV.

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA


Menentukan tindakan apa yang harus segera diambil untuk mengantisipasi adanya
masalah

potensial.

Pada

persalinan

immature

apabila

ditemukan

kondisi

kegawatdaruratan maka diperlukan tindakan kolaborasi dan rujukan ke fasilitas yang


lebih memadai.
V.

INTERVENSI
Dx

: G... PAb. Usia Kehamilan ...-... minggu janin tunggal hidup intra
uterin letak kepala dengan inpartu kala .. dengan partus immatu

Tujuan

:Setelah dilakukan asuhan kebidanan diharapkan dalamjam ibu


dapat melahirkan secara normal dan tidak terjadi komplikasi

Kriteria Hasil: keadaan ibu dan janin baik dan dalam batas normal serta tidak terjadi
komplikasi
1. Memberitahu ibu mengenai hasil pemeriksaan
R/ Ibu lebih mengerti keadaan dirinya sehingga ibu menjadi lebih koooperatif.
2. Menyarankan ibu untuk tirah baring
R/ dengan tirah baring, aktivitas ibu akan berkurang sehingga dapat mencegah
terjadinya persalinan immature ataupun mengurangi terjadinya komplikasi pada
persalinan immatur
3. Menentukan tanda-tanda inpartu
R/ apabila sudah terlihat tanda-tanda inpartu maka dapat mempersiapkan untuk
pertolongan persalinan immature dengan tepat.
4. Memantau KU ibu dan janin meliputi tekanan darah, his, DJJ tiap jam.
R/ KU ibu dan janin sebagai indicator baik tidaknya keadaan ibu dan janin
5. Memberikan asuhan sayang ibu seperti cara relaksasi dari nyeri
R/ dengan pemberian asuhan sayang ibu, akan mengurangi kekhawatiran ibu
sehingga ibu akan nyaman dan tenang.
6. Membuat informed consent berkaitan dengan penanganan terhadap kemungkinan
kelahiran bayi premature dan rujukan
R/ informed consent sebagai lembar persetujuan dari klien ataupun keluarga pada
tindakan yang akan dilakukan. Selain itu keluarga dan klien dapat mempersiapkan
diri dan keperluan lainnya apabila dilakukan rujukan.
7. Menyiapkan peralatan untuk melakukan rujukan seperti kendaraan, partus set, obatobatan, donor darah, surat rujukan dan sebagainya.
R/ sebagai langkah untuk persiapan rujukan sehingga proses merujuk ibu berjalan
dengan lancar.
8. Mendampingi ibu rujukan ke rumah sakit terdekat dan memiliki fasilitas lengkap
agar ibu mendapatkan pertolongan yang lebih intensif.
R/ mendampingi ibu untuk rujukan ke rumah sakit yang memiliki fasilitas yang
lengkap agar ibu dapat segera mendapatkan pertolongan yang maksimal.
9. Melakukan kolaborasi dengan dokter SpOG
R/ ibu mendapatkan penanganan yang tepat oleh dokter SpOG
10. Kehamilan < 34 minggu pada wanita dengan kemajuan persalinan yang tidak
progresif ( dilatasi servik < 4 cm) cegah kontraksi uterus dengan pemberian
tokolitik dan berikan kortikosteroid serta antibiotika profilaksis untuk GBS
R/ pembeian tololitik berguna untuk merangsang otot polos uterus sehingga terjadi
relaksasi dan hilangnya kontraksi, sedangkan pemberian kortikosteroid bertujuan

untuk pematangan paru janin sebelum dilahirkan. Jika kontraksi uterus berhenti,
bisa menunda persalinan.
11. Kehamilan < 34 minggu dengan kemajuan persalinan progresif ( dilatasi servik > 4
cm) tanpa disertai indikasi ibu dan atau anak untuk terminasi kehamilan
Observasi ketat kontraksi uterus dan DJJ dan lakukan pemeriksaan servik serial
untuk menilai kemajuan persalinan.
R/ memantau ada atau tidaknya kemajuan tanda-tanda inpartu.
VI. IMPLEMENTASI
Dilaksanakan berdasarkan identifikasi perlunya tindakan segera, baik tindakan
intervensi, tindakan konsultasi, kolaborasi dengan dokter, atau rujukan berdasarkan
kondisi klien.
VII. EVALUASI
Dilakukan untuk merencanakan asuhan yang menyeluruh yang ditentukan oleh
langkah-langkah sebelumnya