Anda di halaman 1dari 5

Sosialisme Abad 21 sebagai Post-Neoliberalisme Pemikiran Hugo Chavez di Amerika

Latin
Oleh
Vanny Mayang Sari
1210853008
Meninjau sejarah Amerika Latin pada era 1980 hingga 1990an, saat dunia tengah
mengalami pelemahan akan pengaruh dari ideologi sayap kiri. Pasca penghancuran tembok
Berlin yang memisah Jerman Barat dan Jerman Timur yang memiliki ideologi yang
bersebarangan dan hancur dan hilangnya Uni Soviet sebagai sebuah negara dipenghujung
tahun 1991, menjadi poros yang memperlihatkan titik kemunduran pengaruh ideologi kiri di
dunia. Dunia pada masa itu berubah poros menjadi berpahamkan nilai nilai neoliberalisme.
Neoliberalisme masuk ke Amerika Latin pasca munculnya perundingan di lembaga keuangan
tingkat Internasional yaitu Bank Dunia dan International Monetary Fund yang diikuti oleh
Departemen Keuangan Amerika Serikat dan kemudian dikenal dengan Washington
Consensus yang diadakan pada tahun 1980.1
Noeliberal di Amerika Latin pada dasarnya dibentuk untuk membuka kawasannya ke
pasar dunia serta mendorong negara negara Amerika Latin menerapkan demokrasi
dinegaranya. Bentuk tuntutan dari paket neoliberalisme yang tertuang dalam Washington
Consensus terdiri dari empat poin kebijakan, yakni: pertama, kebijakan ketat terkait
penghapusan subsidi. Kedua, pelaksanaan liberalisasi keuangan negara. Ketiga, liberalisasi
sektor perdagangan dalam negeri. Keempat, pemerintah negara harus melaksanakan
privatisasi BUMN.2 Secara garis besar, paket kebijakan Washington Concensus tersebut
digunakan sebagai instrumen sstruktural untuk menyesuaikan program IMF di negara
negara non-demokrasi di kawasan Amerika Latin.
Kebijakan membuka pasar negara selalu beriringan dengan masuknya pengaruh
asing dan identik dengan faktor sumberdaya dalam negara yang menjadi daya tarik bagi
1 Global Trade Negotiations Home Page. April 2013. Washington Consensus, International
Development at harvard University. Diakses pada
http://www.cid.harvard.edu/cidtrade/issues/washington.html.
pada 20 Nov 2015.

2 Ibid

negara maju untuk di gali dan mengarah pada eksploitasi sumberdaya. Dibidang politik,
negara kawasan Amerika Latin dituntut menerapkan sistem demokrasi untuk menghindari
hambatan yang mungkin diterapkan oleh pemerintahan negara non-demokrasi atau
pemerintahan otoriter.3 Namun, paham neoliberalisme di kawasan Amerika Latin tidak
berkembang lama, bentuk bentuk kegagalan dalam pelaksanaan neoliberalisme muncul
pada periode 1990 hingga 1993 di kawasan Amerika Latin. Dalam kurun waktu tersebut
terjadi peningkatan tajam jumlah pengangguran di negara negara kawasan Amerika Latin.
Maraknya kedatangan perusahaan perusahaan multi nasional di kawasan tersebut turut
membawa kerugian didalam negeri, hal itu lantas muncul karena terdapat perdagangan bebas
dengan pengurangan tarif yang signifikan di kawasan Amerika Latin yang turut membawa
para pemilik modal yang mengeksploitasi sumberdaya. Neoliberalisme turut membentuk
tatanan sosial yang senjang antara pemilik modal dan para pekerja, hal tersebut memunculkan
tingkat kemiskinan dan pengangguran yang tidak lagi dapat ditangani oleh pemerintah.4
Neoliberalisme tidak berkembang lama di Amerika Latin, terutama pada Venezuela.
Pada pemerintahan Hugo Chavez yang terpilih mejadi pemimpin Venezuela tahun 1998,
negara tersebut mulai berubah arah dan menawarkan arah baru dalam sistem pemerintahan.
Tawaran Hugo Chavez tersebut dikenal dengan neososialisme atau sosialisme abad 21. 5
Sosialisme tawaran Chavez tersebut memiliki beberapa perbedaan dengan sosialisme yang
telah terlebih dahulu ada. Sosilaisme baru tersebut lebih berporos pada kesejahteraan umum,
sedikit berbeda dengan sosialisme yang ada di Cina, Korea Utara dan Vietnam yang tertutup.
Di Amerika Latin Sosialisme bentuk baru ini lebih merujuk pada asas kerakyatan dan nilai
nilai hasil adopsi dari kapitalisme dan kemudian disesuaikan dengan paham sosialisme yang
telah ada. Hal tersebut tampak dengan penerapan teknologi maju dari negara Barat serta
penetapan pembiaran privatisasi oleh swasta dengan ketentuan saham tidak boleh lebih dari
milik negara.
Cara kerja Post-Neoliberalisme Hugo Chavez
3 Ade M Wirasenjaya. 2011. NeoLiberal di Indonesia. Hub. Internasional
Universitas Muhammadyah Yogyakarta. Dikases pada laman
http://ade.staff.umy.ac.id/?p=86 . pada 22 Nov 2015
4 World Data Bank. http://databank.worldbank.org/data/home.aspx
5 Nurhidayat. Sosialisme Abad 21. Universitas Sumatera Utara

Post-neoliberalisme yang ditawarkan oleh Presiden Hugo Chavez seolah


mengajukan kontra pada pemikiran dan sistem ideologi neoliberalisme. Paham postneoliberalisme tersebut mengandung pemikiran untuk merebut kekuasaan namun tidak
dengan cara kekerasan dan kudeta seperti yang lazim digunakan oleh masyarakat negara
dengan pemerintahan yang otoriter dan diktator, paham post-neoliberalisme atau sosialis abad
21 yang diusung oleh Hugo Chavez tersebut lebih mengedepankan pemngambilan kekuasaan
melalui perekrutan pemimpin secara alamiah yang bersumber pada keinginan rakyat.6
Dalam sistem tersebut, pemimpin negara berperan menjadi pembuat kebijakan dan
regulator atas kebijakan ekonomi negara. Dalam sistem pemerintahan sosialisme abad 21
tersebut, pemimpin negara mendapat kontrol dari masyarakat atau warga negaranya dalam
melaksanakan pemerintahan. Peran masyarakat dalam sistem politik sosialisme abad 21
menjadi penting dalam proses pemutusan dan pengambilan kebijakan karena masyarakat
diikut sertakan selama masa pemerintahan, bukan hanya pada momentum tertentu seperti
pemilu dan kondisi situasional lainnya.7
Di sisi hubungan luar negeri, hubungan Amerika dan Venezuela pasca Sosialisme
Abad 21 diterapkan di negara Amerika Latin muncul percikan yang kurang harmonis di
kedua negara. Pada penerapan sistem Sosialisme Abad 21 Venezuela tengah berada dibawah
kepemimpinan Hugo Chavez dan Amerika Serikat tengah berada dibawah kepemimpinan
George W. Bush tepatnya hal tersebut terjadi pada tahun 2000 hingga 2013. Hubungan buruk
keduanya terlihat dari beberapa tindakan kedua negara yang saling bereaksi hinggan berakhir
dengan tindakan Presiden Venezuela, Hugo Chavez yang mengusir secara tidak hormat Duta
Besar Amerika Serikat pada tahun 2008 yang bersumber dari tindakan menggangu yang
ditimbulkan Amerika Serikat di wilayah Bolivia yang merupakan tetangga dekat Venezuela.8
Berdasarkan prinsip dari sistem sosialisme abad 21 yang dikemukakan oleh Hugo
Chavez, Venezuela bersama dengan negara negara di kawasan Amerika lainnya
6 Hugo J. Faria. 2008. Hugo Chavez Against the Backdrop of Venezuelan
Economic and Political History. Pg 522-523 diakses pada
https://www.independent.org/pdf/tir/tir_12_04_2_faria.pdf
7 Ibid.
8 Mark P. Sullivan. 2015. Venezuela: Background and U.S Relations.
Congressional Research Service. Diakses pada
https://www.fas.org/sgp/crs/row/R43239.pdf

berkomitmen untuk menghalangi masuknya kembali neoliberalisme ditengah tengah


mereka. Langkah pencegahan akan masuknya paham neoliberalisme yang tampak jelah
adalah dengan dibentuknya MERCOSUR singkatan dari Mercado Comun del Sur serta
dibentuknya ALBA, BRICS, Bank Selatan serta perjanjian perjanjian antar negara untuk
menjaga komitmen post-neoliberalisme dan mencegah intervensi dan invansi Amerika
Serikat di Amerika Latin.9
Ketakutan akan mengulang keacauan pada sistem neoliberalisme yang pernah
diterapkan menjadikan negara kawasan Amerika Latinmembentuk ikatan kuat diantara satu
sama lain. Pasca penerapan sistem Sosialisme abad 21 menjadikan Amerika Latin sebagai
kawasan yang kuat dan mengancam bagi Amerika Serikat, karena dengan sistem Sosialisme
Abad 21 yang dicari adalah keuntungan bersama, bukan swasta sehingga menghalangi
masuknya perusahaan asal Amerika. Sosialisme abad 21 Hugo Chavez ini melonggarkan
hubungan pemerintah dan masyarakat. Sehingga masyarakat mendapat peran dan pengaruh
dalam kebijakan pemerintah. Sehingga sistem tersebut menjadi sebuah sistem sosialisme
yang searah dengan demokrasi, humanisme, serta mengutamakan perdamaian dan
persaudaraan yang terwujud pada Venezuela pada pemerintahan Hugo Chavez sebagai bentuk
kontra atau penolakkan atas neoliberalisme yang telah terlebih dahulu membawa kawasan
tersebut dalam kegagalan.

Daftar Pustaka
Ade M Wirasenjaya. 2011. NeoLiberal di Indonesia. Hub. Internasional Universitas
Muhammadyah Yogyakarta. Dikases pada laman http://ade.staff.umy.ac.id/?p=86 .
European Parliament. 2012. The Role Of BRICS in the Developing World. Diakses pada
http://www.ab.gov.tr/files/ardb/evt/1_avrupa_birligi/1_9_politikalar/1_9_8_dis_polit
ika/The_role_of_BRICS_in_the_developing_world.pdf
Global Trade Negotiations Home Page. April 2013. Washington Consensus, International
Development at harvard University. Diakses pada
http://www.cid.harvard.edu/cidtrade/issues/washington.html.
9 European Parliament. 2012. The Role Of BRICS in the Developing World.
Diakses pada
http://www.ab.gov.tr/files/ardb/evt/1_avrupa_birligi/1_9_politikalar/1_9_8_dis_polit
ika/The_role_of_BRICS_in_the_developing_world.pdf hlm.20-24

Hugo J. Faria. 2008. Hugo Chavez Against the Backdrop of Venezuelan Economic and
Political History. Diakses pada
https://www.independent.org/pdf/tir/tir_12_04_2_faria.pdf
Mark P. Sullivan. 2015. Venezuela: Background and U.S Relations. Congressional Research
Service. Diakses pada https://www.fas.org/sgp/crs/row/R43239.pdf
Nurhidayat. Sosialisme Abad 21. Universitas Sumatera Utara
World Data Bank. http://databank.worldbank.org/data/home.aspx