Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat-Nya kami
dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul KENDALA-KENDALA
PELAKSANAAN ETIKA BISNIS.
Makalah ini berisi tentang , dengan bahasa yang singkat, padat, dan mudah
dimengerti. Makalah ini kami lengkapi dengan pendahuluan sebagai pembuka yang
menjelaskan latar belakang dan tujuan pembuatan makalah serta manfaat pembuatan
makalah. Pembahasan yang menjelaskan kendala-kendala dalam pelaksanaan etika
bisnis. Penutup yang berisi tentang kesimpulan yang menjelaskan isi dari makalah
kami. Makalah ini juga kami lengkapi dengan daftar pustaka yang menjelaskan
sumber dan referensi bahan dalam penyusunan.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan makalah ini akan kami terima. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak baik yang menyusun maupun yang
membaca.

Padang, 26 November 2015

DAFTAR ISI

Kata Pengantar...
i
Daftar Isi.
ii
BAB I PENDAHULUAN

Page | 1

1.1 Latar Belakang..


.1
1.2 Rumusan Masalah.
.3
1.3 Tujuan........
3
BAB II PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Etika Dan Bisnis .........

4
2.2 Tingkatan Etika Bisnis..6
2.3 Prinsip-Prinsip Etika
Bisnis...7
2.4 Kendala-kendala dalam pelaksanaa etika bisnis 9
2.5 Tingkat keuntungan etika bisnis 10
2.6 Pro dan kontra etika dalam bisnis ..11
2.7 Contoh kasus .13
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan........
7
3.2 Saran....
..8
DAFTAR PUSTAKA

Page | 2

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Di era persaingan global superketat dewasa ini menuntut setiap perusahaan

untuk senantiasa melakukan upaya-upaya yang pro-aktif agar tetap dapat eksis dan
meraih/mempertahankan pasar. Hal ini jelas membuat semua kegiatan saling berpacu
satu sama lain untuk mendapatkan kesempatan (opportunity) dan keuntungan (profit).
Kadang kala untuk mendapatkan kesempatan dan keuntungan tadi, memaksa orang
untuk menghalalkan segala cara mengindahkan ada pihak yang dirugikan atau tidak.
Kompetisi inilah yang harus memanas belakangan ini. Kata itu mengisyaratkan
sebuah konsep bahwa mereka yang berhasil adalah yang mahir menghancurkan
musuh-musuhnya. Banyak yang mengatakan kompetisi lambang ketamakan. Padahal,
perdagangan dunia yang lebih bebas dimasa mendatang justru mempromosikan
kompetisi yang juga lebih bebas.
Lewat ilmu kompetisi kita dapat merenungkan, membayangkan eksportir kita
yang ditantang untuk terjun ke arena baru yaitu pasar bebas dimasa mendatang.
Kemampuan berkompetisi seharusnya sama sekali tidak ditentukan oleh ukuran besar
kecilnya sebuah perusahaan. Inilah yang sering dikonsepkan berbeda oleh penguasa
kita. Perusahaan yang bermoral dan beretika yang akan mampu menarik simpati
konsumen. Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
antara lain yaitu pengendalian diri, pengembangan tanggung jawab sosial,
mempertahankan jati diri, menciptakan persaingan yang sehat, menerapkan konsep
pembangunan tanggung jawab sosial, mempertahankan jati diri, menciptakan
persaingan yang sehat, menerapkan konsep pembangunan yang berkelanjutan,
menghindari sikap 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi)
mampu mengatakan yang benar itu benar, dll.
Tanpa disadari, kasus pelanggaran etika bisnis merupakan hal yang biasa dan
wajar pada masa kini. Secara tidak sadar, kita sebenarnya menyaksikan banyak

Page | 1

pelanggaran etika bisnis dalam kegiatan berbisnis di Indonesia. Banyak hal yang
berhubungan dengan pelanggaran etika bisnis yang sering dilakukan oleh para
pebisnis yang tidak bertanggung jawab di Indonesia. Berbagai hal tersebut
merupakan bentuk dari persaingan yang tidak sehat oleh para pebisnis yang ingin
menguasai pasar. Selain untuk menguasai pasar, terdapat faktor lain yang juga
mempengaruhi para pebisnis untuk melakukan pelanggaran etika bisnis, antara lain
untuk memperluas pangsa pasar, serta mendapatkan banyak keuntungan. Ketiga
faktor tersebut merupakan alasan yang umum untuk para pebisnis melakukan
pelanggaran etika dengan berbagai cara.
Dengan adanya moral dan etika dalam dunia bisnis, serta kesadaran semua
pihak untuk melaksanakannya, kita optimis salah satu kendala dalam menghadapi era
globalisasi dapat diatasi. Etika bisnis juga merupakan cara unggul untuk dapat
memperoleh simpati msyarakat agar perusahaan mampu bertahan

1.2 Batasan Dan Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang maka kami mendapatkan batasan dan rumusan masalah
sebagai berikut :
1.

Bagaimana prinsip-prinsip dari etika bisnis?

2.

Bagaimana tujuan dari etika bisnis?

3.

Bagaimana peran etika bisnis?

4.

Faktor-faktor apa saja yang membuat pebisinis melakukan pelanggaran etika


Page | 2

bisnis?
1.2

Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memberikan


wawasan yang utuh, komprehensip dan mendalam tentang etika dalam berbisnis
dengan berbagai prinsip dan tujuannya.
1.3

MANFAAT PEMBUATAN MAKALAH

Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah agar para pembaca khususnya para
calon pebisnis memiliki dan mengerti akan wawasan yang utuh mengenai prinsipprinsip, tujuan, serta peran etika bisnis sehingga dapat mengaplikasikannya dalam
kegiatan bisnis yang real di masyarakat pada umumnya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Etika Dan Bisnis


Etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang
mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri dan
juga masyarakat. Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis
secara adil, sesuai dengan hukum yang berlaku, dan tidak tergantung pada kedudukan
individu ataupun perusahaan di masyarakat.
Etika bisnis lebih luas dari ketentuan yang diatur oleh hukum, bahkan
merupakan standar yang lebih tinggi dibandingkan standar minimal ketentuan hukum,
karena dalam kegiatan bisnis seringkali kita temukan wilayah abu-abu yang tidak

Page | 3

diatur oleh ketentuan hukum. Perusahaan meyakini prinsip bisnis yang baik adalah
bisnis yang beretika, yakni bisnis dengan kinerja unggul dan berkesinambungan yang
dijalankan dengan mentaati kaidah-kaidah etika sejalan dengan hukum dan peraturan
yang berlaku.
Etika Bisnis dapat menjadi standar dan pedoman bagi seluruh karyawan
termasuk manajemen dan menjadikannya sebagai pedoman untuk melaksanakan
pekerjaan sehari-hari dengan dilandasi moral yang luhur, jujur, transparan dan sikap
yang profesional.
Beberapa hal yang mendasari perlunya etika dalam kegiatan bisnis:
1. Selain mempertaruhkan barang dan uang untuk tujuan keuntungan, bisnis juga
mempertaruhkan nama, harga diri, bahkan nasib manusia yang terlibat
dalamnya.

2.
3.

Bisnis adalah bagian penting dalam masyarakat


Bisnis juga membutuhkan etika yang setidaknya mampu memberikan
pedoman bagi pihak pihak yang melakukannya.

Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara
lain adalah:
1. Pengendalian diri
2. Pengembangan tanggung jawab social (social responsibility)
3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatny
perkembangan informasi dan teknologi
4. Menciptakan persaingan yang sehat
5. Menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan

Page | 4

6. Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi)


7. Mampu menyatakan yang benar itu benar
8. Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan
pengusaha ke bawah
9. Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama
10. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah
disepakati
11. Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hokum positif
yang berupa peraturan perundang-undangan
SASARAN DAN LINGKUP ETIKA BISNIS
Setelah melihat penting dan relevansinya etika bisnis ada baiknya kita tinjau lebih
lanjut apa saja sasaran dan lingkup etika bisnis itu. Ada tiga sasaran dan lingkup
pokoketika bisnis yaitu:
1. Etika bisnis sebagai etika profesi membahas berbagai prinsip, kondisi dan
masalah yang terkait dengan praktek bisnis yang baik dan etis. Dengan kata
lain, etika bisnis yang pertama bertujuan untuk mengimbau para pelaku bisnis
untuk menjalankan bisnisnya secara baik dan etis. Karena lingkup bisnis yang
pertama ini lebih sering ditujunjukkan kepada para manajer dan pelaku bisnis
dan lebih sering berbicara mengenai bagaimana perilaku bisnis yang baik dan
etis itu.
2. Etika bisnis bisa menjadi sangat subversife. Subversife karean ia
mengunggah, mendorong dan membangkitkan kesadaran masyarakat untuk
tidak dibodoh bodohi, dirugikan dan diperlakukan secara tidak adil dan
tidak etis oleh praktrek bisnis pihak mana pun. Untuk menyadarkan

Page | 5

masyarakat khususnya konsumen, buruh atau karyawan dan masyarakat luas


akan hak dan kepentingan mereka yang tidak boleh dilanggar oleh praktek
bisnis siapapun juga.
3. Etika bisnis juga berbicara mengenai system ekonomi yang sangat
menentukan etis tidaknya suatu praktek bisnis. Dalam hal ini etika bisnis lebih
bersifat makro, yang karena itu barangkali lebih tepat disebut sebagai etika
ekonomi.
Ketiga lingkup dan sasaran etika bisnis ini berkaitan erat satu dengan yang lainnya
dan bersama sama menentukan baik tidaknya, etis tidaknya praktek bisnis tersebut.

2.2

Tingkatan Etika Bisnis

Weiss (1995:9) mengutip pendapat Carroll (1989) membahas lima tingkatan etika
bisnis, yaitu:
1. Tingkat individual, menyangkut apakah seseorang akan berbohong
mengenai rekening pengeluaran, mengatakan rekan sejawat sedang sakit
karena tidak ada di tempat kerja, menerima suap, mengikuti saran teman
sekerja sekalipun melampaui perintah atasan. Jika masalah etis hanya terbatas
pada tanggung jawab individual, maka seseorang harus memeriksa motif dan
standar etikanya sebelum mengambil keputusan
2. Tingkat organisasional, masalah etis muncul apabila seseorang atau
kelompok orang ditekan untuk mengabaikan atau memaafkan kesalahan yang
dilakukan oleh sejawat demi kepentingan keharmonisan perusahaan atau jika
seorang karyawan disuruh melakukan perbuatan yang tidak sah demi
keuntungan unit kerjanya.
3. Tingkat asosiasi, seorang akuntan, penasihat,dokter, dan konsultan manajer
harus melihat anggaran dasar atau kode etik organisasi profresinya sebagai
pedoman sebelum ia memberikan saran pada kliennya.
4. Tingkat masyarakat, hukum, norma, kebiasaan dan tradisi menentukan
perbuatan yang dapat diterima secara sah. Ketentuan ini tidak mesti berlaku
sama di semua negara. Oleh karena itu, kita perlu berkonsultasi dengan orang
Page | 6

atu badan yang dapat dipercaya sebelum melakukan kegiatan bisnis di negara
lain.
5. Tingkat internasional, masalah-msalah etis menjadi lebih rumit untuk
dipecahkan karena faktor nilai-nilai dan budaya, politik dan agama ikut
berperan. Oleh karena itu, konstitusi, hukum, dan kebiasaan perlu dipahami
dengan baik sebelum seesorang mengambil keputusan.

2.3 Prinsip-Prinsip Etika Bisnis


Adapun prinsip-prinsip etika bisnis yaitu sebagai berikut :
1. Prinsip otonomi
Prinsip otonomi memandang bahwa perusahaan secara bebas memiliki
wewenang sesuai dengan bidang yang dilakukan dan pelaksanaannya dengan visi
dan misi yang dimilikinya. Kebijakan yang diambil perusahaan harus diarahkan
untuk pengembangan visi dan misi perusahaan yang berorientasi pada
kemakmuran dan kesejahteraan karyawan dan komunitasnya.
2. Kesatuan (Unity)
Adalah kesatuan sebagaimana terefleksikan dalam konsep yang memadukan
keseluruhan aspek aspek kehidupan, baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial
menjadi keseluruhan yang homogen,serta mementingkan konsep konsistensi dan
keteraturan yang menyeluruh.
3. Kehendak Bebas (Free Will)
Kebebasan merupakan bagian penting dalam nilai etika bisnis,tetapi
kebebasan itu tidak merugikan kepentingan kolektif.Kepentingan individu dibuka
lebar.Tidak adanya batasan pendapatan bagi seseorang mendorong manusia untuk
aktif berkarya dan bekerja dengan segala potensi yang dimilikinya.
4. Kebenaran (kebajikan dan kejujuran)
Kebenaran dalam konteks ini selain mengandung makna kebenaran lawan dari
kesalahan, mengandung pula dua unsur yaitu kebajikan dan kejujuran.Dalam
konteks bisnis kebenaran dimaksudkan sebagia niat,sikap dan perilaku benar yang
meliputi proses akad (transaksi) proses mencari atau memperoleh komoditas

Page | 7

pengembangan maupun dalam proses upaya meraih atau menetapkan keuntungan.


Dengan prinsip kebenaran ini maka etika bisnis sangat menjaga dan berlaku
preventif terhadap kemungkinan adanya kerugian salah satu pihak yang
melakukan transaksi ,kerjasama atau perjanjian dalam bisnis.
5. Prinsip keadilan / Keseimbangan (Equilibrium)
Perusahaan harus bersikap adil kepada pihak-pihak yang terkait dengan sistem
bisnis. Contohnya, upah yang adil kepada karywan sesuai kontribusinya,
pelayanan yang sama kepada konsumen, dan lain-lain.
6. Prinsip hormat pada diri sendiri
Perlunya menjaga citra baik perusahaan tersebut melalui prinsip kejujuran,
tidak berniat jahat dan prinsip keadilan.
7. Tanggung jawab (Responsibility)
Kebebasan tanpa batas adalah suatu hal yang mustahil dilakukan oleh manusia
karena tidak menuntut adanya pertanggungjawaban dan akuntabilitas. untuk
memenuhi

tuntunan

keadilan

dan

kesatuan,

manusia

perlu

mempertanggungjawabkan tindakannya. secara logis prinsip ini berhubungan erat


dengan kehendak bebas. Ia menetapkan batasan mengenai apa yang bebas
dilakukan

oleh

manusia

dengan

bertanggungjawab

atas

semua

yang

dilakukannya.

2.4 Kendala- Kendala Dalam Pelaksanaan Etika Bisnis


Pelaksanaan prinsip-prinsip etika bisnis di Indonesia masih berhadapan dengan
beberapa masalah dan kendala. Keraf(1993:81-83) menyebut beberapa kendala
tersebut yaitu:
1. Standar moral para pelaku bisnis pada umumnya masih lemah. Banyak di
antara pelaku bisnis yang lebih suka menempuh jalan pintas, bahkan
menghalalkan

segala

cara

untuk

memperoleh

keuntungan

dengan

mengabaikan etika bisnis, seperti memalsukan campuran, timbangan, ukuran,


menjual barang yang kadaluwarsa, dan memanipulasi laporan keuangan.
2. Banyak

perusahaan

yang

mengalami

konflik

kepentingan.

Konflik

Page | 8

kepentingan ini muncul karena adanya ketidaksesuaian antara nilai pribadi


yang dianutnya atau antara peraturan yang berlaku dengan tujuan yang hendak
dicapainya, atau konflik antara nilai pribadi yang dianutnya dengan praktik
bisnis yang dilakukan oleh sebagian besar perusahaan lainnya, atau antara
kepentingan perusahaan dengan kepentingan masyarakat. Orang-orang yang
kurang teguh standar moralnya bisa jadi akan gagal karena mereka mengejar
tujuan dengan mengabaikan peraturan.
3. Situasi politik dan ekonomi yang belum stabil. Hal ini diperkeruh oleh
banyaknya sandiwara politik yang dimainkan oleh para elit politik, yang di
satu sisi membingungkan masyarakat luas dan di sisi lainnya memberi
kesempatan bagi pihak yang mencari dukungan elit politik guna keberhasilan
usaha bisnisnya. Situasi ekonomi yang buruk tidak jarang menimbulkan
spekulasi untuk memanfaatkan peluang guna memperoleh keuntungan tanpa
menghiraukan akibatnya.
4. Lemahnya penegakan hukum. Banyak orang yang sudah divonis bersalah di
pengadilan bisa bebas berkeliaran dan tetap memangku jabatannya di
pemerintahan. Kondisi ini mempersulit upaya untuk memotivasi pelaku bisnis
menegakkan norma-norma etika.
5. Belum ada organisasi profesi bisnis dan manajemen untuk menegakkan kode
etik bisnis dan manajemen. Organisasi seperti KADIN beserta asosiasi
perusahaan di bawahnya belum secara khusus menangani penyusunan dan
penegakkan kode etik bisnis dan manajemen. Di Amerika Serikat terdapat
sebuah badan independen yang berfungsi sebagai badan register akreditasi
perusahaan, yaitu American Society for Quality Control (ASQC)

2.5

Antara Keuntungan Etika


Tujuan utama bisnis adalah mengejar keuntungan. Keuntungan adalah hal

yang pokok bagi kelangsungan bisnis, walaupun bukan merupakan tujuan satusatunya, sebagaimana dianut pandangan bisnis yang ideal. Dari sudut pandang
etika, keuntungan bukanlah hal yang buruk. Bahkan secara moral keuntungan

Page | 9

merupakan hal yang baik dan diterima. Karena Keuntungan memungkinkan


perusahaan bertahan dalam usaha bisnisnya.
Tanpa memeperoleh keuntungan tidak ada pemilik modal yang bersedia
menanamkan modalnya, dan karena itu berarti tidak akan terjadi aktivitas
ekonomi yang produktif demi memacu pertumbuhan ekonomi yang menjamin
kemakmuran nasional Keuntungan memungkinkan perusahaan tidak hanya
bertahan melainkan juga dapat menghidupi karyawan-karyawannya bahkan pada
tingkat dan taraf hidup yang lebih baik.
Ada beberapa argumen yang dapat diajukan disini untuk menunjukkan bahwa
justru demi memperoleh keuntungan etika sangat dibutuhkan , sangat relevan, dan
mempunyai tempat yang sangat strategis dalam bisnis`dewasa ini.
1. dalam bisnis modern dewasa ini, para pelaku bisnis dituntut menjadi orangorang profesional di bidangnya.
2. dalam persaingan bisnis yang ketat para pelaku bisnis modern sangat sadar
bahwa konsumen adalah benar-benar raja. Karena itu hal yang paling pokok
untuk bisa untung dan bertahan dalam pasar penuh persaingan adalah sejauh
mana suatu perusahaan bisa merebut dan mempertahankan kepercayaan
konsumen.
3. dalam sistem pasar terbuka dengan peran pemerintah yang bersifat netral tak
berpihak tetapi efektif menjaga agar kepentingan dan hak semua pemerintah
dijamin, para pelaku bisnis berusaha sebisa mungkin untuk menghindari
campur

tangan

pemerintah,

yang

baginya

akan

sangat

merugikan

kelangsungan bisnisnya. Slaah satu cara yang paling efektif adalah dengan
menjalankan bisnisnya bisnisnya secara secara baik dan etis yaitu dengan
menjalankan bisnis sedemikian rupa tanpa secara sengaja merugikan hak dan
kepentinga semua pihak yang terkait dengan bisnisnya.
4. perusahaan-perusahaan modern juga semakin menyadari bahwa karyawan
bukanlah tenaga yang siap untuk eksploitasi demi mengeruk keuntunga yang
Page | 10

sebesar-besarnya. Justru sebaliknya, karyawan semakin dianggap sebagai

subjek utama dari bisnis suatu perusahaan yang sangat menentukan


berhasil tidaknya, bertahan tidaknya perusahaan tersebut.
2.6

Pro Dan Kontra Etika Dalam Bisnis


Mitos bisnis dan moral
Bisnis adalah bisnis. Bisnis jangan dicampuradukkan dengan etika. Para
pelaku bisnis adalah orang-orang yang bermoral, tetapi moralitas tersebut hanya
berlaku dalam dunia pribadi mereka, begitu mereka terjun dalam dunia bisnis
mereka akan masuk dalam permainan yang mempunyai kode etik tersendiri. Jika
suatu permainan judi mempunyai aturan yang sah yang diterima, maka aturan itu
juga diterima secara etis. Jika suatu praktik bisnis berlaku begitu umum di manamana, lama-lama praktik itu dianggap semacam norma dan banyak orang yang
akan merasa harus menyesuaikan diri dengan norma itu. Dengan demikian, norma
bisnis berbeda dari norma moral masyarakat pada umumnya, sehingga
pertimbangan moral tidak tepat diberlakukan untuk bisnis dimana sikap rakus
adalah baik(Ketut Rindjin, 2004:65).
Belakangan pandangan diatas mendapat kritik yang tajam, terutama dari tokoh
etika Amerika Serikat, Richard T.de George. Ia mengemukakan alasan alasan
tentang keniscayaan etika bisnis sebagai berikut.
Pertama, bisnis tidak dapat disamakan dengan permainan judi. Dalam bisnis
memang dituntut keberanian mengambil risiko dan spekulasi, namun yang
dipertaruhkan bukan hanya uang, melainkan juga dimensi kemanusiaan seperti
nama bai kpengusaha, nasib karyawan, termasuk nasib-nasib orang lain pada
umumnya.
Kedua, bisnis adalah bagian yang sangat penting dari masyarakat dan
menyangkut kepentingan semua orang. Oleh karena itu, praktik bisnis
mensyaratkan etika, disamping hukum positif sebagai acuan standar dlaam
pengambilan keputusan dan kegiatan bisnis.
Page | 11

Ketiga, dilihat dari sudut pandang bisnis itu sendiri, praktik bisnis yang berhasil
adalah memperhatikan norma-norma moral masyarakat, sehingga ia memperoleh
kepercayaan dari masyarakat atas produ atau jasa yang dibuatnya.
ALASAN MENINGKATNYA PERHATIAN DUNIA USAHA TERHADAP
ETIKA BISNIS

Krisis publik tentang kepercayaan

Kepedulian terhadap kualitas kehidupan kerja

Hukuman terhadap tindakan yang tidak etis

Kekuatan kelompok pemerhati khusus

Peran media dan publisitas

Perubahan format organisasi dan etika perusahaan

Perubahan nilai-nilai masyarakat dan tuntutan terhadap dunia bisnis mengakibatkan


adanya kebutuhan yang makin meningkat terhadap standar etika sebagai bagian dari
kebijakan bisnis.

Contoh Kasus Etika Bisnis di Bidang Peternakan


Usaha peternakan ayam negeri atau broiler mempunyai prospek yang baik
untuk dikembangkan karena tingginya permintaan masyarakat akan daging. Usaha
peternakan ayam ini juga memberikan keuntungan yang tinggi dan bisa menjadi
sumber pendapatan bagi peternak ayam broiler tersebut. Akan tetapi, peternak dalam
menjalankan usahanya masih mengabaikan prinsip-prinsip etika bisnis.
Akhir-akhir ini usaha peternakan ayam dituding sebagai usaha yang ikut mencemari
lingkungan. banyaknya peternakan ayam yang berada di lingkungan masyarakat
dirasakan mulai mengganggu oleh warga terutama peternakan ayam yang lokasinya
dekat dengan pemukiman penduduk. Masyarakat banyak mengeluhkan dampak buruk
dari kegiatan usaha peternakan ayam karena masih banyak peternak yang
Page | 12

mengabaikan penanganan limbah dari usahanya.


Limbah peternakan yang berupa feses (kotoran ayam), dan sisa pakan serta air dari
pembersihan ternak dan kandang menimbulkan pencemaran lingkungan masyarakat
di sekitar lokasi peternakan tersebut. Selain itu timbulnya banyak lalat yang
dikarenakan kurang bersih dan dirawatnya kandang, masyarakat takut lalat tersebut
nantinya membawa penyakit. Dan satu lagi dari peternakan ayam negeri masyarakat
mengkhawatirkan virus flu burung Avian Infuenza (H5N1) yang pada saat tahun 2008
lagi sedang gempar-gemparnya. Oleh karena itu, peternak ayam negeri atau broiler
harus memiliki etika bisnis yang baik bukan hanya mencari keuntungan semata
namun juga harus menciptakan lingkungan yang sehat di sekitar peternakan.
Dengan cara pengelolaan limbah yang baik misalkan dijadikan pupuk untuk tanaman
atau untuk pakan ikan lele, menjaga kebersihan lingkungan dengan melakukan
penyemprotan kandang disinfetan secara berkala agar tidak timbul banyak lalat &
penyakit.
Dari contoh kasus diatas, maka dapat ditarik kesimpulan, jika saja peternakan
tersebut menerapkan etika bisnis dengan baik, maka akan mendatangkan manfaat dari
penerapan etika bisnis :
1)

Perusahaan mendapatkan kepercayaan dari konsumen.

2)

Perusahaan yang jujur akan menciptakan konsumen yang loyal. Bahkan


konsumen akan merekomendasikan kepada orang lain untuk menggunakan
produk tersebut.

3)

Citra perusahaan di mata konsumen baik.

4)

Dengan citra yang baik maka perusahaan akan lebih dikenal oleh masyarakat
dan produknya pun dapat mengalami peningkatan penjualan.

5)

Meningkatkan motivasi pekerja.

6)

Karyawan akan bekerja dengan giat apabila perusahaan tersebut memiliki citra
yang baik dimata perusahaan.

7)

Keuntungan perusahaan dapat di peroleh.

Page | 13

Page | 14

CONTOH OBAT NYAMUK PT MEGASARI MAKMUR

Perjalanan obat nyamuk bermula pada tahun 1996, diproduksi oleh PT


Megasari Makmur yang terletak di daerah Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat. PT
Megasari Makmur juga memproduksi banyak produk seperti tisu basah, dan berbagai
jenis pengharum ruangan. Obat nyamuk HIT juga mengenalkan dirinya sebagai obat
nyamuk yang murah dan lebih tangguh untuk kelasnya. Selain di Indonesia HIT juga
mengekspor produknya ke luar Indonesia.
Obat anti-nyamuk HIT yang diproduksi oleh PT Megarsari Makmur
dinyatakan ditarik dari peredaran karena penggunaan zat aktif Propoxur dan
Diklorvos yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan terhadap manusia.
Departemen Pertanian, dalam hal ini Komisi Pestisida, telah melakukan inspeksi di
pabrik HIT dan menemukan penggunaan pestisida yang menganggu kesehatan
manusia seperti keracunan terhadap darah, gangguan syaraf, gangguan pernapasan,
gangguan terhadap sel pada tubuh, kanker hati dan kanker lambung.
HIT yang promosinya sebagai obat anti-nyamuk ampuh dan murah ternyata
sangat berbahaya karena bukan hanya menggunakan Propoxur tetapi juga Diklorvos
(zat turunan Chlorine yang sejak puluhan tahun dilarang penggunaannya di dunia).
Obat anti-nyamuk HIT yang dinyatakan berbahaya yaitu jenis HIT 2,1 A (jenis
semprot) dan HIT 17 L (cair isi ulang). Selain itu, Lembaga Bantuan Hukum
Kesehatan melaporkan PT Megarsari Makmur ke Kepolisian Metropolitan Jakarta
Raya pada tanggal 11 Juni 2006. Korbannya yaitu seorang pembantu rumah tangga
yang mengalami pusing, mual dan muntah akibat keracunan, setelah menghirup udara
yang baru saja disemprotkan obat anti-nyamuk HIT.
ANALISIS :
Dalam perusahaan modern, tanggung jawab atas tindakan perusahaan sering
didistribusikan kepada sejumlah pihak yang bekerja sama. Tindakan perusahaan
biasanya terdiri atas tindakan atau kelalaian orang-orang berbeda yang bekerja sama
Page | 15

sehingga tindakan atau kelalaian mereka bersama-sama menghasilkan tindakan


perusahaan. Jadi, siapakah yang bertanggung jawab atas tindakan yang dihasilkan
bersama-sama itu?
Pandangan tradisional berpendapat bahwa mereka yang melakukan secara sadar dan
bebas apa yang diperlukan perusahaan, masing-masing secara moral bertanggung
jawab. Lain halnya pendapat para kritikus pada pandangan tradisional, yang
menyatakan bahwa ketika sebuah kelompok terorganisasi seperti perusahaan
bertindak bersama-sama, tindakan perusahaan mereka dapat dideskripsikan sebagai
tindakan kelompok, dan konsekuensinya tindakan kelompoklah, bukan tindakan
individu, yang mengharuskan kelompok bertanggung jawab atas tindakan tersebut.
Kaum tradisional membantah bahwa, meskipun kita kadang membebankan
tindakan kepada kelompok perusahaan, fakta legal tersebut tidak mengubah realitas
moral dibalik semua tindakan perusahaan itu. Individu manapun yang bergabung
secara sukarela dan bebas dalam tindakan bersama dengan orang lain, yang
bermaksud menghasilkan tindakan perusahaan, secara moral akan bertanggung jawab
atas tindakan itu.
Namun demikian, karyawan perusahaan besar tidak dapat dikatakan dengan
sengaja dan dengan bebas turut dalam tindakan bersama itu untuk menghasilkan
tindakan perusahaan atau untuk mengejar tujuan perusahaan. Seseorang yang bekerja
dalam struktur birokrasi organisasi besar tidak harus bertanggung jawab secara moral
atas setiap tindakan perusahaan yang turut dia bantu, seperti seorang sekretaris, juru
tulis, atau tukang bersih-bersih di sebuah perusahaan. Faktor ketidaktahuan dan
ketidakmampuan yang meringankan dalam organisasi perusahaan birokrasi berskala
besar, sepenuhnya akan menghilangkan tanggung jawab moral orang itu.
Kita mengetahui bahwa Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan
mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral
sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis. Etika bisnis
merupakan studi standar formal dan bagaimana standar itu diterapkan ke dalam
system dan organisasi yang digunakan masyarakat modern untuk memproduksi dan
Page | 16

mendistribusikan barang dan jasa dan diterapkan kepada orang-orang yang ada di
dalam organisasi.
Dari kasus diatas terlihat bahwa perusahaan melakukan pelanggaran etika bisnis
terhadap prinsip kejujuran perusahaan besarpun berani untuk mmengambil tindakan
kecurangan untuk menekan biaya produksi produk. Mereka hanya untuk
mendapatkan

laba

yang

besar

dan

ongkos

produksi

yang

minimal.

Mengenyampingkan aspek kesehatan konsumen dan membiarkan penggunaan zat


berbahaya dalam produknya . dalam kasus HIT sengaja menambahkan zat diklorvos
untuk membunuh serangga padahal bila dilihat dari segi kesehatan manusia, zat
tersebut bila dihisap oleh saluran pernafasan dapat menimbulkan kanker hati dan
lambung. Dan walaupun perusahaan sudah meminta maaf dan juga mengganti barang
dengan memproduksi barang baru yang tidak mengandung zat berbahaya tapi
seharusnya perusahaan jugamemikirkan efek buruk apa saja yang akan konsumen
rasakan bila dalam penggunaan jangka panjang. Sebagai produsen memberikan
kualitas produk yang baik dan aman bagi kesehatan konsumen selain memberikan
harga yang murah yang dapat bersaing dengan produk sejenis lainnya.
Penyelesaian Masalah yang dilakukan PT.Megasari Makmur dan Tindakan
Pemerintah
Pihak produsen (PT. Megasari Makmur) menyanggupi untuk menarik semua
produk HIT yang telah dipasarkan dan mengajukan izin baru untuk memproduksi
produk HIT Aerosol Baru dengan formula yang telah disempurnakan, bebas dari
bahan kimia berbahaya. HIT Aerosol Baru telah lolos uji dan mendapatkan izin dari
Pemerintah. Pada tanggal 08 September 2006 Departemen Pertanian dengan
menyatakan produk HIT Aerosol Baru dapat diproduksi dan digunakan untuk rumah
tangga (N0. RI. 2543/9-2006/S).Sementara itu pada tanggal 22 September 2006
Departemen Kesehatan juga mengeluarkan izin yang menyetujui pendistribusiannya
dan penjualannya di seluruh Indonesia.

Page | 17

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan

antara lain yaitu pengendalian diri, pengembangan tanggung jawab sosial,


mempertahankan jati diri, menciptakan persaingan yang sehat, menerapkan
konsep pembangunan tanggung jawab sosial, mempertahankan jati diri,
menciptakan persaingan yang sehat, menerapkan konsep pembangunan yang
berkelanjutan, menghindari sikap 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi,
Kolusi, dan Komisi) mampu mengatakan yang benar itu benar, dll.
Tanpa disadari, kasus pelanggaran etika bisnis merupakan hal yang biasa dan
wajar pada masa kini. Secara tidak sadar, kita sebenarnya menyaksikan banyak
pelanggaran etika bisnis dalam kegiatan berbisnis di Indonesia. Banyak hal yang
berhubungan dengan pelanggaran etika bisnis yang sering dilakukan oleh para
pebisnis yang tidak bertanggung jawab di Indonesia.
3.2 Saran
Dengan adanya moral dan etika dalam dunia bisnis, serta kesadaran semua
pihak untuk melaksanakannya, kita optimis salah satu kendala dalam menghadapi
era globalisasi dapat diatasi. Etika bisnis juga merupakan cara unggul untuk dapat
memperoleh simpati masyarakat agar perusahaan mampu bertahan. Sehingga
terciptalah suatu perilaku yang baik didalam perusahaan dan tidak merugikan
orang lain yang ada disekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2012. Pelanggaran Etika Bisnis. http://anikmugirahayu. blogspot.com /


2012/06/pelanggaran-etika-bisnis.html. diakses pada tanggal 26 November

Page | 18

2014.

Anonim.2011. Pandangan Etika Terhadap Praktek Bisnis. http://henritapangestuti.

blogspot.com/2011/12/pandangan-etika-terhadap-praktek bisnis.html. diakses pada


tanggal 26 November 2014.

Page | 19