Anda di halaman 1dari 3

RESUME GENETIKA II

REGULASI EKSPRESI GEN PADA EUKARIOT


Disusun oleh: Offering G Selasa / Kelompok 15
Afifah Nur Aini
Alifia Yulianita
Differensiasi sel pada eukariot tingkat tinggi
Jika sel-sel tubuhsel saraf, sel ginjal, sel hati, sel tulang, sel darah, sel rambut, sel kulit, dan
seterusnyapada manusia manapun diamati dengan mikroskop, akan terlihat bahwa morfologi
antara sel-sel tersebut jauh berbeda. Sel-sel tersebut juga memiliki tugas khusus
(terspesialiasi) dan mampu menjalankan fungsi metabolis yang spesifik, sebagai contoh : sel
darah merah terspesialisasi untuk mensintesis hemoglobin dan sel syaraf adalah satu-satunya
sel yang mampu mensintesis neurotransmiter. Seluruh sel tersebut berasal dari satu sel yang
sama, yakni zigot, dan terbentuk melalui pembelhan mitosis biasa. Namun fenotip sel-sel
tersebut dapat menjadi beraneka ragam karena diferensiasi.
Diferensiasi dapat terjadi karena regulasi ekspresi gen, bukan
karena perubahan komposisi genom. Hal ini dibuktikan oleh
berbagai pengamatan, salah satunya terhadap amfibi. Sel telur
amfibi yang intinya sudah dihilangkan dapat berkembang
menjadi embrio normal setelah mendapat transplantasi inti dari
sel lain yang sudah berdiferensiasi. Dari hal tersebut dapat
dipastikan bahwa informasi genetik yang diperlukan untuk perkembangan embrio masih
tersimpan pada sel yang mengalami diferensiasi. Lebih jauh lagi, analisis biokimia terhadap
DNA dari jenis sel yang berbeda menunjukkan bahwa genom yang terkandung sama.
Contoh-contoh neuklasikal dari ekspresi gen yang diregulasi untuk perkembangan eukariot
Transkripsi pada kromosom lampbrush yang ada di sel telur amfibi
Setelah fertilisasi terjadi peningkatan sintesis protein
secara pesat, namun tidak terjadi sintesis RNA. Ini
berarti semua komponen yang dibutuhkan untuk
sintesis protein selama tahap awal embriogenesis
sudah tersedia dalam sel telur sejak sebelum
fertilisasi.
Pengamatan oogenesis pada vertebrata khususnya
amfibi menunjukkan bahwa transkripsi masih
berlangsung pada tahap profase I meosis (tepatnya
fase diploten). Pada fase ini, kromosom tampak
dalam struktur lampbrush.
Transkrip gen, berupa molekul mRNA atau premRNA, yang disintesis selama oogenesis harus
disimpan dalam bentuk non aktif namun stabil
(kemungkinan dalam bentuk kompleks RNAprotein) hingga terjadi fertilisasi. Fertilisasi akan
memicu ditranslasikannya molekul mRNA. Semua
penemuan ini menunjukkan bahwa mekanisme
regulasi beberapa eukariot terjadi pada level pasca
transkripsi (pemrosesan mRNA) dan level translasi.

Amplifikasi gen rRNA dalam sel telur amfibi


Sintesis protein secara besar-besaran yang dipicu oleh terjadinya fertilisasi tidak dibarengi
dengan disintesiskannya rRNA dalam embrio amfibi hingga memasuki tahap blastula. Ini
berarti sejumlah besar rRNA dalam bentuk prekursor rRNA 40S telah disintesis sejak
oogenesis. Oleh karena itu wajar jika sel telur amfibi mengandung sangat banyak ribosom,
mencapai 1012 per sel telur dewasa. Mekanisme untuk mensintesis transkrip suatu gen tertentu
disebut mekanisme amplifikasi gen spesifik.
Brown dan Dawid telah menunjukkan bahwa inti dari sel telur
Xenopus laevis mengandung ratusan anak inti. Masing-masing anak
inti mengandung molekul DNA sirkuler yang membawa salinan gen
rRNA hasil dari replikasi selektif. Akibatnya pada sel telur yang
sedang berkembang terdapat lebih dari 1 juta salinan gen rRNA.
Transkrip gen berbeda-beda dalam jenis sel yang berlainan
Eksperimen hibridisasi dan saturasi RNA-DNA menunjukkan bahwa pada jenis sel manapun
DNA pada genom yang ditranskripsi menjadi mRNA hanya kurang dari 10%. Sebagai contoh,
pada Xenopus sebanyak 2-5% sekuen DNA terwakilkan menjadi mRNA dalam sel liver, dan
hanya kurang dari 1% dalam sel telur. Tampaknya sel otaklah yang mengandung paling
banyak sekuen DNA yang terwakilkan menjadi mRNA, yakni mencapai 8%. Dari penemuan
tersebut dapat dinyatakan bahwa kebanyakan sekuen DNA pada genom eukariot tingkat tinggi
tidak ditranskripsi menjadi mRNA pada jenis sel manapun.
Adanya histon dianggap menjadi penyebab represi non spesifik terhadap gen-gen eukariot.
Histon selalu ada evolusi eukariot dan diketahui mampu mengikat erat DNA dalam
nukleosom.
Mekanisme regulasi transkripsi pada eukariot tingkat tinggi
Pada E. coli holoenzim polimerase RNA saja sudah mengandung semua informasi yang
dibutuhkan untuk menginisiasi transkripsi secara akurat dengan sinyal dari promoter yang
tepat. Namun pada eukariot selain polimerase DNA II juga dibutuhkan enam protein
tambahan yang disebut faktor transkripsi untuk menginisiasi transkripsi.
Faktor transkripsi bersama dengan polimerase menginisiasi transkripsi melalui serangkaian
proses berikut :
1) faktor D berikatan ke kotak TATA,
2) berikatannya faktor A dan B bersama dengan faktor D membentuk kompleks preinisiasi transkripsi yang berfungsi melindungi sekuen DNA -10 sampai
+10 dari penguraian oleh nuklease,
3) polimerase RNA yang sudah ditempeli faktor F bergabung dengan kompleks preinisiasi transkripsi,
4) kompleks menjadi lengkap dengan berikatannya faktor E dan H, dimana keberadaan
faktor E melindungi sekuen DNA +20 sampai +30 dari penguraian oleh nuklease,
5) dan akhirnya polimerase RNA dapat menginisiasi transkripsi pada +1 (startpoint).

Kebanyakan hasil transkripsi pada eukariot bersifat monogenik


Pada eukariot tingkat tinggi tidak ditemukan operon walaupun pada eukariot tingkat rendah
seperti jamur ditemukan unit yang mirip operon.
Kebanyakn mRNA pada eukariot tingkat tinggi bersifat monogenik, yakni mengandung
sekuen pengkode dari satu gen struktural. Pada beberapa kasus, transkrip primer bersifat
poligenik, kemudian dilakukan pemutusan untuk menghasilkan beberapa mRNA monogenik.