Anda di halaman 1dari 93

STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KOPI

DI KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN


SUMATERA UTARA

SKRIPSI

TIUR MARIANI SIHALOHO


H34076150

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009

RINGKASAN

TIUR MARIANI SIHALOHO. H34076150. 2009. Strategi Pengembangan


Agribisnis Kopi Di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.
Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut
Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan TINTIN SARIANTI).

Sektor pertanian masih tetap berperan besar dalam pembangunan ekonomi


Indonesia, sektor pertanian menjadi sektor unggulan dalam menyusun strategi
pembangunan nasional. Subsektor perkebunan merupakan bagian dari sektor
pertanian, subsektor ini mengalami pertumbuhan paling konsisten, baik ditinjau
dari areal maupun produksi. Salah satu komoditi unggulan perkebunan Indonesia
adalah kopi. Indonesia merupakan negara kedua eksportir kopi dunia, tetapi pada
tahun 2007, menurut Direktorat Jenderal Perkebunan, Indonesia juga mengimpor
kopi dalam jumlah besar. Oleh karena itu strategi pengembangan agribisnis kopi
perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan luar negeri.
Salah satunya dengan mengembangkan kopi dari daerah-daerah Indonesia.
Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengidentifikasi dan menganalisis
faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal yang menentukan pengembangan
kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan, (2) Merumuskan alternatif strategi
pemerintah daerah dan memilih prioritas strategi yang tepat dalam pengembangan
agribisnis kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan.
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Humbang Hasundutan yang
merupakan salah satu Kabupaten sentra kopi di Sumatera Utara. Waktu
pengumpulan data dilakukan selama bulan Juni-Juli 2009.
Data yang digunakan terdiri dari data primer dan sekunder. Jumlah
responden dalam penelitian sebanyak delapan orang. Pengambilan responden
usahatani dilakukan dengan sengaja (purposive). Pengolahan dan analisis data
dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis dalam penelitian meliputi
analisis internal dan eksternal, dilanjutkan dengan analisis Internal-Eksternal,
analisis Strengths,Weaknesess, Opportunities, Threats (SWOT) dan Quantiative
Strategy Planning Matrix (QSPM), untuk merumuskan dan menetapkan prioritas
strategi bagi pengembangan kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan.
Analisis terhadap faktor internal dalam Pengembangan Agribisnis Kopi di
Humbang Hasundutan, menunjukkan faktor kekuatan mampu mengatasi faktor
kelemahan yang dimiliki kawasan tersebut. Secara umum menunjukkan bahwa
Pengembangan Agribisnis Kopi dibawah rata-rata dalam kekuatan internalnya
secara keseluruhan, hal ini ditunjukkan dengan total nilai bobot skor 2,483. Ini
berarti berarti Pemerintah Daerah/Dinas Pertanian Subdinas Perkebunan dan
masyarakat/petani secara internal (kekuatan dan kelemahan) belum baik (kuat),
dalam upaya pengembangan kopi di Humbang Hasundutan.
Hasil analisis eksternal menunjukkan Pemerintah Daerah/Dinas Pertanian
Subdinas Perkebunan dan masyarakat/petani telah merespon dengan baik terhadap
peluang dan ancaman yang dimiliki, yang berarti bahwa faktor peluang eksternal
dalam upaya Pengembangan Agribisnis Kopi di Humbang Hasundutan dapat

mengatasi ancaman yang dihadapinya dan dapat mengambil peluang sebaik


mungkin
Hasil pencocokan IE menjelaskan bahwa strategi pengembangan agribisnis
kopi Kabupaten Humbang Hasundutan adalah pertahanan dan pemeliharaan, yaitu
terdiri dari strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk
Penggabungan faktor internal dan eksternal dan analisis InternalEkasternal dalam matriks Strengths,Weaknesess, Opportunities, Threats (SWOT)
dalam Pengembangan Agribisnis Kopi Humbang Husundutan, menghasilkan
beberapa alternatif strategi yaitu sebagai berikut :1) Meningkatkan kualitas
Sumberdaya manusia melalui pelatihan dan memperluas usahatani kopi yang
berkualitas dan jaringan pemasaran, 2) Membentuk dan membina lembaga
penelitian untuk Research & Development serta mendukung asosiasi kopi dalam
pengembangan kopi organik, 3) Menguatkan modal untuk usaha agribisnis dan
memperluas jaringan pemasaran, 4) Melakukan pembinaan, pengembangan
pemberdayaan kelembagaaan dan manajemen usahatani, 5) Memperbaiki rantai
pemasaran kopi melalui lembaga yang terkait, khususnya dalam penetapan harga
dasar kopi, 6) Menciptakan kerjasama yang baik dengan pihak investor.
Hasil Quantiative Strategy Planning Matrix (QSPM), menunjukkan bahwa
strategi yang menjadi prioritas utama dengan nilai Total Attractiveness Score
(TAS) sebesar 6,145 adalah strategi Meningkatkan kualitas Sumberdaya
manusia melalui pelatihan dan memperluas usahatani kopi yang berkualitas dan
jaringan pemasaran. Kemudian strategi yang memiliki nilai Total Attractiveness
Score (TAS) terkecil adalah strategi Menciptakan kerjasama yang baik dengan
pihak investor dengan nilai sebesar 5,311.
Saran yang diberikan dari hasil penelitian adalah Pemerintah daerah
melalui institusi terkait, hendaknya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia
melalui kelembagaan, membentuk balai penelitian untuk Research &
Development, khususnya bibit kopi unggul, sehingga petani mudah memperoleh
bibit. Pemerintah juga hendaknya mendukung dan menjadi fasilitator bagi
pengembangan asosiasi kopi yang telah ada, karena hal itu dapat meningkatkan
kesejahteraan petani. Disamping itu pemerintah juga hendaknya membuat
regulator dalam pemasaran kopi khususnya penetapan harga dasar kopi agar
pedagang pengumpul dapat terkontrol dalam menetapkan harga kopi.

STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KOPI


DI KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN
SUMATERA UTARA

SKRIPSI

TIUR MARIANI SIHALOHO


H34076150

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009

STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KOPI DI


KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN
SUMATERA UTARA

TIUR MARIANI SIHALOHO


H34076150

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk


Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009

Judul Skripsi

: Strategi Pengembangan Agribisnis Kopi


di Kabupaten Humbang Hasundutan Sumatera Utara

Nama

: Tiur Mariani Sihaloho

NRP

: H 34076150

Disetujui,
Dosen Pembimbing

Tintin Sarianti, SP, MM


NIP. 19750316 200501 2 001

Diketahui
Ketua Departemen Agribisnis
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS


NIP 19580908 198403 1 002

Tanggal Lulus

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul Strategi
Pengembangan Agribisnis Kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan Sumatera
Utara adalah karya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun
kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip
dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian
akhir skripsi ini.

Bogor, September 2009

Tiur Mariani Sihaloho


H34076150

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Tarutung pada tanggal 15 September 1984. Penulis
merupakan anak ke-enam dari tujuh bersaudara kandung dari pasangan Osner
Sihaloho dan Magdalena Simarmata.
Penulis berkesempatan untuk menempuh pendidikan formal di SD Negeri
4 Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara (1991-1997), Sekolah
Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Santa Maria Tarutung, Kabupaten Tapanuli
Utara, Sumatera Utara, (1997-2000) dan Sekolah Menengah Umum (SMU) Santa
Maria Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara (2000-2003).
Pada tahun 2003 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui Ujian
Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor (USMI) pada Program Studi Diploma III
Manajemen Bisnis Perikanan (MBP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dan
lulus pada tahun 2006. Penulis melanjutkan studi di Program Sarjana Agribisnis,
Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian
Bogor sejak tahun 2007 hingga tahun 2009.

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, karena
atas berkat dan kasih karunia-Nya begitu besar dan luar biasa, sehingga penulis
dapat menyelesaikan penelitian ini. Skripsi yang disusun oleh penulis berjudul
Strategi Pengembangan Agribisnis Kopi Di Kabupaten Humbang Hasundutan,
Sumatera Utara dengan menggunakan alat analisis SWOT dan QSPM.. Penelitian
ini bertujuan menganalisis faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal yang
mempengaruhi strategi pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Humbang
Hasundutan.
Skripsi ini masih harus terus diperbaharui dan disempurnakan. Oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk
perbaikan selanjutnya, sehingga penelitian ini dapat berguna buat bangsa dan
negara, pihak terkait, dan menjadi sebuah kebanggaan bagi Institusi, juga secara
khusus bagi penulis.

Bogor, September 2009

Tiur Mariani Sihaloho

UCAPAN TERIMA KASIH

Proses penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan
berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Tintin Sarianti, SP, MM sebagai dosen pembimbing yang dengan sabar
memberikan bimbingan, dorongan, saran dan perhatiannya yang sangat berarti
bagi penulis hingga penyusunan skripsi ini selesai.
2. M. Firdaus, Phd atas kesediaannya menjadi dosen evaluator dalam kolokium
proposal penelitian.
3. Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS selaku dosen penguji utama pada ujian sidang penulis
yang telah meluangkan waktunya serta memberi kritik dan saran demi perbaikan
skripsi ini

4. Dra. Yusalina, MSi atas kesediaannya menjadi dosen penguji departemen pada
ujian sidang penulis yang telah memberi kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.

5. Bapak Libanon Manullang dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah


Humbang Hasundutan yang telah memberikan saran dan masukan terhadap
penelitian ini.
6. Bapak Kaminton Hutasoit dari Dinas Pertanian Humbang Hasundutan dan
keluarga yang telah banyak membantu dalam pengumpulan data responden.
7. Bang Gani, dan seluruh responden yang telah banyak membantu penulis
selama pengumpulan data dan memberikan informasi yang sangat berguna
dalam penelitian ini.
8. Orang tuaku tercinta yang selalu mendoakan, memberi semangat, dan
mendukung penulis dengan penuh kasih sayang. Semoga ini bisa menjadi
persembahan yang terbaik.
9. Saudara-saudaraku terkasih keluarga Kak Nora Sihaloho, Kak Nitrin
Sihaloho, AMd, Abang Martua Sihaloho, SP. MSi, Kak Masna Sihaloho,
AMd dan Adikku Paska Sihaloho, AMd serta keluarga besar Sihaloho dan
Simarmata yang selalu mendoakan, memberi semangat dan nasihat sehingga
penulis semangat menyelesaikan kuliah dan skripsi ini. God Bless for Us.
10. Maruli Nainggolan, SS yang telah memberi saran, kasih sayang dan bantuan
yang tulus serta dukungan yang sangat berarti selama menyelesaikan skripsi
ini. God Bless U.

11. Diantama Ginting atas kesediaan sebagai pembahas dalam seminar hasil
penelitian, sebagai teman berbagi suka dan duka selama kuliah serta pinjaman
laptopnya untuk penyelesain skripsi ini.
12. Seluruh staf sekretariat Ekstensi AGB yang telah membantu penulis.
13. Teman-teman Kos Belitung 21, (Opung, Kak Joice Silaen, Hotna Silalahi,
Juniasti Zalukhu, Rida Murni Purba, Liani Sipayung, Elly Sinambela, Septi,
Monalisa Sinambela, Bu Juju, Nina), Eska Mentari Pasaribu, Mark Majus
Rajagukguk, Osin Joden Br. Karo, Nurlela Nababan, KMKE dan rekan-rekan
AGB yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terimakasih atas bantuannya.

Bogor, September 2009

Tiur Mariani Sihaloho

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL .....................................................................................

xiv

DAFTAR GAMBAR.................................................................................

xv

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................

xvi

I. PENDAHULUAN ...............................................................................
1.1 Latar Belakang ................................................................................
1.2 Perumusan Masalah ........................................................................
1.3 Tujuan ............................................................................................
1.4 Manfaat ..........................................................................................
1.5 Ruang Lingkup................................................................................

1
1
6
7
8
8

II. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................


2.1 Karakteristik Kopi..........................................................................
2.2 Budidaya Kopi .............................................................................
2.3 Aspek Agribisnis ..........................................................................
2.4 Pendukung Bisnis Kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan .....
2.5 Konsep Manajemen Strategi ........................................................
2.6 Penelitian Terdahulu .....................................................................
2.6.1 Penelitian Tentang Kopi .......................................................
2.6.2 Penelitian Tentang Strategi...................................................

9
10
11
13
14
15
17
17
18

III. KERANGKA PEMIKIRAN ............................................................


3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis .........................................................
3.1.1. Konsep Agribisnis...............................................................
3.1.2. Analisis Lingkungan Eksternal dan Internal.......................
3.1.3. Konsep Perumusan Strategi ................................................
3.1.3.1 Tahap Input .............................................................
3.1.3.2 Tahap Pencocokan ..................................................
3.1.3.3 Tahap Keputusan ....................................................
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional .................................................

20
20
20
21
22
22
23
25
26

IV. METODE PENELITIAN .................................................................


4.1 Lokasi dan Waktu ..........................................................................
4.2 Metode Pengambiln Sampel ..........................................................
4.3 Metode Pengumpulan Data............................................................
4.4 Metode Pengolahan Data ...............................................................
4.5 Tahap Perumusan Strategi .............................................................
4.6 Defenisi Operasional......................................................................

29
29
29
30
30
31
38

V. GAMBARAN UMUM ........................................................................


5.1 Situasi Wilayah ...............................................................................
5.1.1 Letak Geografis dan Topologi ....................................
5.1.2 Penduduk .....................................................................
5.2 Prasarana dan Sarana .............................................................

40
40
40
41
41
xii

5.2.1 Jalan dan Transportasi ................................................


5.2.2 Pasar.............................................................................
5.3 Pertanian..........................................................................................
5.3.1 Kegiatan Pertanian ......................................................
5.3.2 Kegiatan Pengusahaan Kopi ........................................
5.3.3 Pemasaran Kopi ...........................................................
5.4 Asosiasi Kopi ..................................................................................

41
41
42
42
43
44
45

VI. ANALISIS FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL


STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KOPI
KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN ..................................
6.1 Faktor Internal.................................................................................
6.1.1 Kekuatan ................................................................................
6.1.2 Kelemahan..............................................................................
6.2 Faktor Eksternal ..............................................................................
6.2.1 Peluang .................................................................................
6.2.2 Ancaman ................................................................................

48
48
48
50
55
55
58

VII. FORMULASI STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS


KOPI HUMBANGN HASUNDUTAN ...........................................
7.1 Analisis Metode IFE dan EFE......................................................
7.1.1 Analisis Matriks IFE ..........................................................
7.1.2 Analisis Matriks EFE ..........................................................
7.2 Analisis Matriks IE dan Analisis SWOT .....................................
7.2.1 Analisis Matriks IE ............................................................
7.2.2 Analisis Matriks SWOT......................................................
7.3 Analisis Matriks QSP...................................................................
7.3.1 Strategi Komprehensif .......................................................

61
61
61
63
65
65
66
71
73

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................


8.1 Kesimpulan ..................................................................................
8.2 Saran.............................................................................................

75
75
75

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................

77

LAMPIRAN...............................................................................................

79

xiii

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

1. Volume Eksportir Kopi Negara Terbesar Dunia


pada April 2007 - Maret 2008.........................................................

2. Volume Ekspor dan Impor Kopi Indonesia


pada Tahun 2003-2007....................................................................

3. Luas Areal dan Produksi Kopi Indonesia Tahun 2004 2008 ......

4. Data Produksi, Luas Lahan dan Produktivitas


Komoditi Kopi Arabika Sumatera Utara Tahun 2007 ....................

5. Metode dan Hasil dari Penelitian Terdahulu...................................

19

6. Penilaian Bobot Faktor Strategis Internal Wilayah.........................

32

7. Penilaian Bobot Faktor Strategis Eksternal Wilayah ......................

32

8. Matriks Internal Faktor Evaluation .................................................

34

9. Matriks Eksternal Faktor Evaluation ..............................................

34

10. Matriks SWOT..... ..........................................................................

36

11. Matriks QSP (Quantitative Strategy Planning) ..............................

38

12. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Tanaman


Perkebunan di Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2008 ......

42

13. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Kopi Menurut Kecamatan


di Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2008 ..........................

43

14. PDRB dan Laju Pertumbuhan PDRB


Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2006-2007 .....................

59

15. Matriks IFE Pengembangan Agribisnis Kopi


Kabupaten Humbang Hasundutan ..................................................

62

16. Matriks EFE Pengembangan Agribisnis Kopi


di Kabupaten Humbang Hasundutan ..............................................

64

17. Matriks SWOT Pengembangan Agribisnis Kopi


di Kabupaten Humbang Hasundutan ..............................................

67

18. Alternatif dan Prioritas Strategi Pengembangan Agribisnis


di Kabupaten Humbang Hasundutan ..............................................

72
xiv

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Halaman

1. Model Proses Manajemen Strategis yang Komprehensif ...............

17

2. Lingkup Pembangunan Sistem Agribisnis ......................................

21

3. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian ..................................

28

4. Matriks IE (Internal-Eksternal) .......................................................

35

5. Saluran Pemasaran Kopi Humbang Hasundutan Tahun 2009 ........

45

6. Petani APKLO sedang panen kopi Ateng


di Kecamatan Lintong Nihuta Tahun 2009.....................................

46

7. Saluran Pemasaran Kopi APKLO


di Kecamatan Lintong Nihuta Tahun 2009.....................................

47

8. Perkebunan Kopi Rakyat di Kecamatan


Lintong Nihuta Tahun 2009 ............................................................

49

9. Petani menggunakan mesin Pulping Manual


di Kecamatan Lintong Nihuta Tahun 2009.....................................

51

10. Petani menggunakan Pulping Penggerak ........................................

51

11. Bibit Kopi yang dihasilkan di Kecamatan Lintong


Nihuta Tahun 2009..........................................................................

54

12. Matriks IE Kabupaten Humbang Hasundutan ................................

66

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Halaman

1. Kuisioner Analisis Lingkungan Internal dan Eksternal ..................

79

2. Kuisioner Penilaian Daya Tarik Strategi Matriks QSP...................

89

xvi

I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia terkenal dengan sebutan Negara Agraris, hal ini dapat
ditunjukkan dengan besarnya luas lahan yang digunakan untuk pertanian. Dari
seluruh luas lahan yang ada di Indonesia 74,68 persen digunakan untuk pertanian.1
Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian tahun 2007 sampai dengan 2008
mengalami pertumbuhan sekitar 4,41 persen. Selain itu berdasarkan data
kemiskinan tahun 2005-2008, kesejahteraan penduduk perdesaan dan perkotaan
membaik secara berkelanjutan. Berbagai hasil penelitian, menyimpulkan bahwa
yang paling besar kontribusinya dalam penurunan jumlah penduduk miskin adalah
pertumbuhan sektor pertanian. Kontribusi sektor pertanian dalam menurunkan
jumlah penduduk miskin mencapai 66 persen, dengan rincian 74 persen di
perdesaan dan 55 persen di perkotaan.2
Sektor pertanian masih tetap akan berperan besar dalam pembangunan
ekonomi Indonesia, sektor pertanian menjadi sektor unggulan dalam menyusun
strategi pembangunan nasional. Sektor pertanian diposisikan sebagai sektor
andalan perekonomian nasional. Hal ini sejalan dengan prioritas pembangunan
ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu, dimana salah satunya adalah Revitalisasi
Pertanian dan Perdesaan.3
Salah satu sub sektor yang memiliki basis sumberdaya alam adalah
subsektor perkebunan. Subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor
yang mengalami pertumbuhan paling konsisten, baik ditinjau dari areal maupun
produksi. Sebagai salah satu subsektor penting dalam sektor pertanian, subsektor
perkebunan secara tradisional mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap
perekonomian Indonesia. Sebagai negara berkembang dimana penyediaan
lapangan kerja merupakan masalah yang mendesak, subsektor perkebunan
mempunyai kontribusi yang cukup signifikan. Sampai dengan tahun 2003, jumlah
tenaga kerja yang terserap oleh subsektor perkebunan diperkirakan mencapai
1

Pertanian Humbang Hasundutan dalam hhtp://sumut.bps.go.id/humbang/index2.publikasi.


Diakses pada 21 April 2009.
2
Strategi dan Pencapaian Swasembada Pangan di Indonesia dalam
www.deptan.go.id/wap/index.php.Diakses pada 24 April 2009
3
Loc.cit

sekitar 17 juta jiwa. Jumlah lapangan kerja tersebut belum termasuk yang bekerja
pada industri hilir perkebunan. Kontribusi dalam penyediaan lapangan kerja
menjadi nilai tambah sendiri, karena subsektor perkebunan menyediakan lapangan
kerja di pedesaan dan daerah terpencil. Peran ini bermakna strategis karena
penyediaan lapangan kerja oleh subsektor berlokasi di pedesaan sehingga mampu
mengurangi arus urbanisasi.
Subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor yang mempunyai
kontribusi penting dalam hal penciptaan nilai tambah yang tercermin dari
kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto. Dari segi nilai absolut
berdasarkan harga yang berlaku, PDB perkebunan terus meningkat dari sekitar Rp
33,7 triliun pada tahun 2000 menjadi sekitar Rp 47,0 triliun pada tahun 2003, atau
meningkat dengan laju sekitar 11,7 persen per tahun.
Sejalan dengan pertumbuhan PDB, subsektor perkebunan mempunyai
peran strategis terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketika Indonesia mengalami
krisis ekonomi yang dimulai tahun 1997, subsektor perkebunan kembali
menunjukkan peran strategisnya. Pada saat itu, kebanyakan sektor ekonomi
mengalami kemunduran bahkan kelumpuhan dimana ekonomi Indonesia
mengalami krisis dengan laju pertumbuhan 13 persen pada tahun 1998. Dalam
situasi tersebut, subsektor perkebunan kembali menunjukkan kontribusinya
dengan laju pertumbuhan antara 4-6 persen per tahun.4
Salah satu komoditas unggulan dalam subsektor perkebunan adalah kopi.
Kopi merupakan produk yang mempunyai peluang pasar yang baik di dalam
negeri maupun luar negeri. Sebagian besar produksi kopi di Indonesia merupakan
komoditas perkebunan yang diekspor ke pasar dunia. Menurut data statistik
International Coffee Organization (ICO), Indonesia merupakan Negara eksportir
ke-dua, setelah Brazil (Tabel 1).

Peran Subsektor Perkebunan Dalam Perekonomian Indonesia dalam


http://www.kompas.co.id/index.php/Bisnis/news.Diakses pada 29 Mei 2009.

Tabel 1. Volume Eksportir Kopi Negara Terbesar Dunia pada April 2007-Maret
2008
Negara Eksportir
Brazil
Indonesia
Uganda
India
Papua New

Volume Ekspor (Kg)


1.464.625.200
255.885.840
170.861.940
150.500.040
58.124.580

Sumber : Ditjenbun, 2008 (diolah)5

Sebagai Negara eksportir kopi ke dua, perkebunan kopi Indonesia dapat


meningkatkan devisa ekonomi. Dari segi sosial, perkebunan kopi juga
menyediakan lapangan kerja cukup besar, karena pengusahaanya banyak
dilakukan oleh rakyat. Indonesia sebagai eksportir kedua, namun Indonesia juga
mengimpor kopi (Tabel 2).
Tabel 2. Volume Ekspor dan Impor Kopi Indonesia pada Tahun 2003-2007
Tahun
2003
2004
2005
2006
2007

Ekspor (ton)
323.520
344.077
445.829
413.500
321.404

Impor (ton)
4.396
5.690
3.195
6.404
49.994

Sumber : Ditjenbun, 2008 (diolah)6

Berdasarkan Tabel di atas, terlihat bahwa jumlah ekspor kopi Indonesia


berfluktuatif, dari tahun 2003 sampai tahun 2006, jumlah ekspor kopi semakin
meningkat, tetapi pada tahun 2007 jumlah ekspor menurun. Sedangkan jumlah
impor meningkat drastis pada tahun 2007. Hal ini berarti bahwa produksi kopi
dalam negeri tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga harus
mengimpor kopi. Produksi kopi Indonesia dapat dilihat pada Tabel 3.

http://ditjenbun.deptan.go.id/cigraph/index.php/viewstat/internasional. Diakses pada 11 Agustus


2009
6
Ibid

Tabel 3. Luas Areal dan Produksi Kopi Indonesia Tahun 2004-2008


Tahun
2004
2005
2006
2007
2008

Luas Areal (Ha)


1.303.943
1.255.272
1.308.731
1.295.911
1.302.892

Total Produksi (ton)


647.386
640.365
682.158
676.476
682.938

Sumber : Ditjenbun, 2008 (diolah)7

Berdasarkan Tabel 3, perkembangan produksi kopi Indonesia berfluktuatif


dari tahun 2004 sampai tahun 2005, produksi kopi menurun, namun pada tahun
2006 produksi kopi meningkat drastis. Pada tahun 2007 produksi kopi kembali
turun karena rendahnya harga kopi. Harga kopi kembali meningkat pada tahun
2008 sehingga mendorong petani untuk memperluas lahan pertanian. Sebagian
besar hal ini disebabkan bahwa teknik budidaya kopi masih tradisional dan
berkerakyatan, harga yang berfluktuatif serta biaya produksi yang tinggi.
Menurut Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan,
Sumatera merupakan penyumbang terbesar produksi kopi nasional.

Propinsi

terbesar dicapai oleh Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Utara dan Nangro
Aceh Darussalam. Dilihat dari sumberdaya alam dan tenaga kerja, Sumatera
Utara sangat dipertimbangkan dapat memberikan sumbangan terhadap kopi
nasional.
Menurut data AEKI (Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia), kopi di Sumatera
Utara terbukti menjadi salah satu penyumbang devisa. Ekspor kopi Sumatera
Utara hingga April 2008 telah mencapai 71,68 juta dolar AS dari volume ekspor
biji dan bubuk kopi sebanyak 21.969 ton. Dari jumlah ini kopi jenis Arabika
menjadi penyumbang terbesar yakni 65,07 juta dolar AS dari volume ekspor
sebanyak 19.137 ton.8
Salah satu kopi yang diusahakan petani adalah kopi jenis Arabika. Kopi
jenis Arabika hanya ditanam sebagian kecil petani, sehingga harga kopi di pasar
dunia masih tetap tinggi. Kopi Arabika di Indonesia umumnya ditanam petani di
7

Ibid
Internasional doyan kopi arabika Sumut dalam http://kompas.co.id/xml/2008/06/08/20021021/
.Diakses pada 29 Mei 2009

Toraja Sulawesi Selatan, Bali, Jawa, Sumatera Utara Utara dan Aceh. Petani
penanam kopi Arabika mendapat penghasilan lebih baik karena produksi dunia
tidak melimpah seperti kopi Robusta.
Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) merupakan salah satu
kabupaten yang berada di Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten ini dimekarkan
melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2003. Kabupaten Humbang Hasundutan
mendapat daerah yang kaya potensi hasil warisan kabupaten induk. Komoditas
pertanian terbesar kabupaten ini adalah kopi yang merupakan subsektor
perkebunan. Kopi tersebut merupakan komoditi unggulan Kabupaten Humbang
Hasundutan yang sangat potensial untuk dikembangkan. Pada tahun 2007,
Kabupaten Humbang Hasundutan memberi kontribusi sebesar 4.896,01 ton
dengan produktivitas 0,88 ton per tahun terhadap kopi Sumatera Utara.
Menurut Ketua APKLO (Asosiasi Petani Kopi Lintong Organik), kopi
Humbang Hasundutan sudah menembus pasaran dunia sejak tahun 2003.
Diantaranya ke Tullys Coffe, Wataru dan Junicof di Jepang, Twin UK di Inggris
dan Greencofee di Belanda. Sesuai data, terakhir kalinya ekspor dilakukan tahun
2008 lalu dengan jumlah 200 ton. Pada Tahun 2008, luas perkebunan kopi di
Humbang Hasundutan sebanyak 11.375 Ha, dengan hasil produksi 7.824 ton per
tahunnya dan lahan kopi organik seluas 350 ha. Perkebunan kopi di Kabupaten
Humbang Hasundutan terdiri dari 48,45 persen luas lahan pertanian dan
perkebunan.9
Oleh karena itu untuk meningkatkan produksi kopi Indonesia perlu
dilakukan berbagai upaya mengatasi permasalahan yang ada, khususnya di
Kabupaten Humbang Hasundutan. Permasalahan yang harus diatasi mulai dari
tahap produksi hingga pemasaran. Pada akhirnya pengembangan kopi di
Kabupaten Humbang Hasundutan mampu meningkatkan pendapatan petani serta
membantu program pemerintah dalam usaha meningkatkan pendapatan daerah
dan Nasional.

Pengusaha Kopi Jepang Kunjungi Lintong Ni Huta Humbahas Produksi Kopi 7800 ton/tahun
dalam http://www.humbanghasundutankab.go.id. Diakses pada 29 Mei 2009.

1.2 Perumusan Masalah


Sektor pertanian merupakan potensi utama yang dimiliki oleh Kabupaten
Humbang Hasundutan. Sektor ini merupakan sektor yang mendominasi
perekonomian dengan kontribusi sebesar 60,53 persen Tahun 2007 Atas Dasar
Harga Berlaku PDRB sebesar Rp 1.711.728,32 Juta dan PDRB Atas Dasar Harga
Konstan 2000 sebesar Rp 854.594,27 Juta.10 Sumberdaya alam, agroklimat dan
keadaan alam yang cocok untuk pertanian menjadi pertimbangan dalam
pengembangan sektor pertanian, khususnya komoditi unggulan daerah.
Menurut Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumatera Utara
Di Vietnam, petani kopi bisa menghasilkan 1,5 ton perhektar, sementara di
Sumatera Utara untuk bisa satu ton per hektar pun masih sulit.11 Hal ini dapat
ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Data Produksi, Luas Lahan dan Produktivitas Komoditi Kopi Arabika
Sumatera Utara Tahun 2007
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Nama Daerah

Produksi
(ton)

Kabupaten Asahan
Kabupaten Dairi
9.437,80
Kabupaten Deliserdang
653,51
Kabupaten Humbang Hasundutan 4.896,01
Kabupaten Karo
7.207,35
Kabupaten Labuhanbatu
Kabupaten Langkat
Kabupaten Mandailingnatal
324,55
Kabupaten Nias
Kabupaten Nias Selatan
Kabupaten Pakpakbharat
672,80
Kabupaten Serdang Bedagai
Kabupaten Simalungun
5.817,82
Kabupaten Tapanuli Selatan
Kabupaten Tapanuli Tengah
Kabupaten Tapanuli Utara
9.057,07
Kabupaten Tobasamosir
1.928,36
Kabupaten Samosir
2.227,30
Total
42.222,57

Luas Lahan
Produktivitas
menghasilkan ( ha)
per ton/ha
6.904,00
1,36
653,20
1,00
5.542,00
0,88
4.771,00
1,51
460,47
0,70
578,00
1,16
3.889,07
1,49
8.554,25
1,05
1.607,26
1,19
2.058,32
0.37
35.017,57
1,20

Sumber : Data Statistik Perkebunan Sumatera Utara, 2009 (diolah).

10
11

Op.cit
Op.cit

Pada tahun 2007, produktivitas Kabupaten Humbang Hasundutan hanya


mampu memproduksi 0,88 ton per hektar. Demikian juga pada tahun 2006,
produksi hanya 6.226,38 ton dengan luas panen 7.547,50 Ha. Dari tahun 2006
sampai tahun 2007, produktivitasnya hanya meningkat dari 0,82 per hektar
menjadi 0,88 per hektar. Produktivitas kopi Humbang Hasundutan belum
mencapai 1 ton per hektar.(Tabel 4)
Ditinjau dari sumberdaya alam, agroklimat dan keadaan alam yang cocok
untuk pertanian kopi serta peluang kopi di pasar lokal maupun internasional,
Kabupaten Humbang Hasundutan sudah semestinya mampu meningkatkan
produktivitasnya. Untuk pengembangannya perlu diketahui persoalan apa yang
sedang dihadapi serta upaya apa yang akan dilakukan dalam menghadapi
persoalan tersebut.
Penyebab rendahnya produktivitas petani kopi Arabika di Humbang
Hasundutan antara lain karena keterbatasa modal. Petani kopi belum terlalu
menjaga kualitas tanamannya. Jika harga turun, petani tidak peduli dengan
kualitas dan hasil panenannya, sementara harga naik, produksinya justru turun.
Kegiatan pertanian kopi di Kabupaten ini masih terbatas dengan pengetahuan dan
pengalaman sendiri oleh petani. Petani kurang berorientasi pada pasca panen dan
pengolahan, sehingga tidak mampu memberi nilai tambah pertanian, tidak
memperhatikan pasar. Adapun bentuk pengolahan hasil pertanian yang telah
dilaksanakan oleh sebagian masyarakat adalah industri kopi dan dilakukan dalam
skala usaha kecil. Persoalan lainnya adalah harga kopi yang murah dan biaya
produksi yang tinggi juga merupakan permasalahan utama yang dihadapi para
petani, sehingga sulit bagi petani untuk mengembangkan kegiatan usahataninya.
Disamping itu masih rendahnya investasi terhadap pengembangan kopi.
Dari segi sarana dan prasarana kendala yang dihadapi oleh pemerintah dan
masyarakat adalah tidak ada balai penelitian untuk komoditi kopi. Sumberdaya
manusia yang masih minim dan rendah dalam bidang pemasaran dan pengolahan
hasil pertanian juga menjadi kendala yang dapat menghambat pengembangan
produksi kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan.

Permasalahan tersebut akan menghambat pengembangan kopi di


Kabupaten Humbang Hasundutan. Untuk itu diperlukan strategi untuk
pengembangan kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan.
Adapun masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana faktor-faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor-faktor
eksternal (peluang dan ancaman) agribisnis kopi di Kabupaten Humbang
Hasundutan?
2. Bagaimana formulasi dan prioritas strategi pemerintah daerah dalam
pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan?

1.3 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Menganalisis

faktor-faktor internal

dan

faktor-faktor eksternal

yang

mempengaruhi strategi pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Humbang


Hasundutan.
2. Merumuskan alternatif strategi pemerintah daerah dan memilih prioritas
strategi dalam pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Humbang
Hasundutan.

1.4 Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan bahan
pertimbangan bagi berbagai pihak yang berkepentingan, antara lain :
1. Bahan pertimbangan Pemerintah Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan
dalam mengambil kebijakan strategis yang berkaitan dengan perencanaan
pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan.
2. Melatih kemampuan penulis untuk menganalisis permasalahan pengembangan
agribisnis kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan.
3. Sebagai bahan informasi dan buat rujukan untuk penelitian selanjutnya serta
pihak lainnya seperti investor.

1.5 Ruang Lingkup


Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Humbang Hasundutan di Sumatera
Utara. Penelitian ini difokuskan pada analisis agribisnis kopi pada tiga kecamatan
yang terpilih, seperti yang akan dijelaskan pada metode penelitian selanjutnya,
serta bagaimana alternatif strategi dalam Pengembangan Agribisnis Kopi di
Kabupaten Humbang Hasundutan.

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik Kopi


Kopi (Coffea spp), adalah spesies tanaman berbentuk pohon yang
termasuk dalam famili Rubiaceae dan genus Coffea. Tanaman ini tumbuhnya
tegak, bercabang dan bila dibiarkan tumbuh dapat mencapai 12 m. Daunnya bulat
telur dengan ujung agak meruncing, daun tumbuh berhadapan pada batang,
cabang dan ranting-rantingnya. Kopi mempunyai sistem percabangan yang agak
berbeda dengan tanaman lain.
Kopi dapat tumbuh dalam berbagai kondisi lingkungan, tetapi untuk
mencapai hasil yang optimal memerlukan persyaratan tertentu.

Zona terbaik

pertumbuhan kopi adalah antara 200 LU dan 200 LS. Indonesia yang terletak pada
zona 50 LU dan 100 LS secara potensial merupakan daerah kopi yang baik.
Sebagian besar daerah kopi di Indonesia terletak antara 0-100 LS yaitu Sumatera
Selatan, Lampung, Bali, Sulawesi Selatan dan sebagian kecil antara 0-50 LU yaitu
Aceh dan Sumatera Utara.

Unsur iklim yang banyak berpengaruh terhadap

budidaya kopi adalah elavasi (tinggi tempat), temperature dan tipe curah hujan.
Tanaman kopi menuntut persyaratan tanah yang berpori, sehingga
memungkinkan air mengalir ke dalam tanah secara bebas. Tanaman kopi tidak
cocok untuk ditanam ditanah liat yang terlalu lekat karena menahan terlalu banyak
air, sebaliknya tidak pula cocok untuk ditanam di daerah yang berpasir karena
terlalu berpori (porous). Penanaman kopi dilakukan pada tanah dengan kedalaman
1,8m karena pohon kopi mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan dan
memperluas sistem perakaran. Tanah yang dalam akan memberi bahan-bahan
makanan (nutrient yang diperlukan dengan cukup). Tanaman kopi akan tumbuh
dengan baik pada tanah yang agak asam dengan derajat keasaman pH 6. Jenis
tanahnya bervariasi, mulai dari tanah basalt, granite atau crystalline. Derajat
kemiringan lereng yang cocok antara 25-300.
Tanaman kopi merupakan tanaman tahunan yang mempunyai perakaran
yang dangkal, secara alami tanaman kopi memiliki akar tunggang sehingga tidak
mudah rebah. Bibit tanaman kopi berasal dari bibit stek, cangkokan, bibit okulasi.
Tanaman kopi umumnya mulai berbunga setelah berumur kurang lebih dua tahun.

10

Bunga keluar dari ketiak daun yang terletak pada batang utama dan cabang
reproduksi tetapi bunga yang keluar dari kedua tempat tersebut biasanya tidak
berkembang menjadi buah, jumlahnya terbatas dan hanya dihasilkan oleh
tanaman-tanaman yang masih sangat muda. Bunga yang jumlahnya banyak akan
keluar dari ketiak daun yang terletak pada cabang primer. Bunga ini berasal dari
kuncup-kuncup sekunder reproduktif yang berubah fungsinya menjadi kuncup
bunga. Kuncup bunga kemudian berkembang menjadi bunga secara serempak
dan bergerombol.

2.2 Budidaya Kopi


Untuk mendapatkan hasil kopi yang optimal dalam pembudidayaan kopi
diperlukan persyaratan dan teknik-teknik tertentu. Dalam hal ini ada dua jenis
budidaya kopi yang akan dibahas yaitu budidaya kopi Arabika dan kopi Robusta
yaitu sebagai berikut :
1.

Kopi Arabika
Penanaman kopi Arabika memiliki syarat tumbuh ketinggian 700-2000m

dpl, dengan garis lintang 20o LS sampai 20o LU. Untuk curah hujan 1.500 s/d
2.500 mm/thn, kedalaman tanah efektif lebih dari 100 cm, kemiringan tanah
kurang dari 45 % dan pH 5,5-6,5.
Iklim sangat berpengaruh terhadap produktivitas tanaman kopi. Pengaruh
iklim mulai nampak sejak cabang-cabang primer menjelang berbunga. Pada saat
bunga membuka sampai dengan berlangsung penyerbukan pertumbuhan buah
muda sampai tua dan masak menjelang kemarau pada umumnya cuaca mulai
terang, udara tidak berawan, berarti penyinaran matahari akan lebih banyak maka
suhu akan meningkat. Banyak atau lamanya penyinaran merupakan stimulan bagi
besar kecilnya persiapan pembungaan. Semakin banyaknya penyinaran maka
persiapan pembentukan bunga akan semakin cepat.
Untuk penanaman kopi diperlukan beberapa persiapan diantaranya bahan
tanaman dan persipan areal. Persiapan bahan tanam meliputi penyediaan benih,
penyemaian benih dan persemaian lapangan.

11

a. Persemaian
Untuk mendapatkan bahan tanaman diperlukan benih dan entres untuk
sambungan dan stek. Benih yang akan digunakan untuk batang bawah harus
dipilih dari buah kopi yang baik dan masak dari bahan yang dikehendaki untuk
mendapatkan biji untuk benih kulit dan daging buah dipisahkan dan lendir
dibersihkan dengan abu. Setelah itu benih diangin-anginkan selama kurang lebih
dua sampai tiga hari. Benih yang tersedia kemudian disemaikan pada media yang
telah disiapkan.
Tanah persemaian harus dipacul kira-kira 30 cm dan bersih dari sisa-sisa
akar dan batu-batu lain. Pada bagian atas bedengan diberi lapisan apsir tebal kirakira 5 cm. Bedengan harus diberi naungan dan setiap hari harus disiram dengan
air yang cukup tetapi tidak tergenang. Setelah benih berusia tiga bulan harus
dipindahkan kepersemaian lapangan.
b. Penanaman
Persiapan lahan dilakukan pembersihan dari semak, membongkar tunggul
atau akar pohon yang ada. Kumpulkan seluruh bagian semak yang ada, kemudian
diberakan dan dilakukan pengajiran. Jarak tanam berbentuk segi emapt 2,5 x 2,5
m, pagar 1,5 x 2,5 m, untuk tumpangsari 2 x 4 m. Untuk lubang tanamnya dibuat
tiga bulan sebelum tanam dengan ukuran 50 x 50 x 50 cm dantanah galian
dicampur dengan pupuk kandang ke dalam lubang setelah 2-4 minggu. Bibit kopi
harus berumur 4-5 bulan, tinggi minimal 20 cm, jumlah minimal tiga pasang.
Selain itu juga perlu ditanam pohon pelindung yang hendaknya sudah
ditanam 1-2 tahun. Biasanya jenis pohonnya seperti lamtoro, dadap dan sengon.
Pohon pelindung selain untuk melindungi tanaman kopi itu berguna sebagai
memperpanjang umur produksi, menghindari penyakit, mengurangi biaya
penyiangan, dapat menurunkan suhu air dan tanah pada musim panas. Penanaman
kopi Arabika dapat dilakukan pada awal musim penghujan diharapkan agar tidak
banyak tanah yang terlepas dari akar dan leher akar bibit ditanam rata dengan
permukaan tanah.
c. Pemeliharaan
Penyulaman dilakukan pada bibit yang sudah mati untuk menjamin jumlah
tegakan tanaman. Penyiangan dilakukan empat kali sebulan pada tanaman muda

12

sedangkan tanaman dewasa dua kali sebulan yang bertujuan meratakan unsur hara
dan air. Pemupukan dilakukan dua kali setahun yaitu awal musim hujan dan akhir
musim hujan.
d. Panen dan Pasca Panen
Kopi Arabika mulai berbuah pada umur tiga tahun. Buah yang sudah
masak berwarna merah tua dan pemetikan dilakukan harus hati-hati jangan sampai
ada bagian pohon yang rusak. Pengolahan hasil dibagi menjadi dua bagian yaitu :
a. Pengolahan secara kering yaitu buah kopi yang sudah kering diperam selama
24 jam, kemudian dijemur panas matahari diputar balikan agar merata sampai
10-14 hari, untuk memisahkan kulit buah.
b. Pengolahan secara basah buah yang baru dipetik ditumbuk dengan lesung dan
diberi sedikit air supaya cepat keluar, selain itu juga untuk menghilangkan
lendir-lendir masih memikat perlu diperam dulu dalam kaleng atau diisi air 34 hari dan dicuci bersih.
2.

Kopi Robusta
Penanaman kopi Robusta memiliki syarat tumbuh ketinggian 400-800 m

dpl, rata-rata temperatur harian 21-240. Untuk curah hujan rata-rata membutuhkan
2000-3000 mm/tahun dan pH atau keasaman 5,5-6,5. Untuk penanaman kopi
diperlukan beberapa persiapan diantaranya bahan tanaman dan persiapan areal.
Persiapan bahan tanaman meliputi penyediaan benih, penyemaian benih dan
persemaian lapangan.
a. Persemaian
Untuk mendapatkan bahan tanaman diperlukan benih dan entres untuk
sambungan dan stek. Benih yang akan digunakan untuk batang bawah harus
dipilih dari buah kopi yang baik dan masak dari bahan yang dikehendaki untuk
mendapatkan biji untuk benih kulit dan daging buah dipisahkan dan lendir
dibersihkan dengan abu. Setelah itu benih diangin-anginkan selama kurang lebih
dua sampai tiga hari. Benih yang tersedia kemudian disemaikan pada media yang
telah disiapkan.
Tanah persemaian harus dipacul kira-kira 30 cm dan bersih dari sisa-sisa
akar dan batu-batu lain. Pada bagian atas bedengan diberi lapisan pasir tebal kirakira 5 cm. Bedengan harus diberi naungan dan setiap hari harus disiram dengan

13

air yang cukup tetapi tidak tergenang. Setelah benih berusia tiga bulan harus
dipindahkan kepersemaian lapangan.
b. Penanaman
Penanaman dilakukan pada musim hujan. Untuk itu tiga sampai enam
bulan sebelumnya harus dibuat dengan ukuran 0,4 x 0,4 x 0,4 m. Pembuatan
lubang dan luasnya tergantung pada struktur tanah. Makin berat struktur tanah
makin lama lubang harus dibuat, makin besar dan luas. Setelah itu baru dilakukan
penanaman serta diberi serasah.
Untuk memperoleh produksi yang optimal jarak kopi perlu diperhatikan.
Jarak tanam harus dipilih sesuai dengan jenis kopi, kesuburan tanah dan tipe
iklim.

Untuk tanah lebih subur atau yang mempunyai iklim lebih basah

diperlukan jarak tanam lebih lebar dari pada tanah yang kurang subur atau
mempunyai iklim kering.
c. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman merupakan kegiatan yang terus menerus dilakukan
agar diperoleh hasil yang optimal. Kegiatan pemeliharaan meliputi :
1. Pemeliharaan Tanah atau Lahan
Pemeliharaan tanah dimaksudkan untuk menjaga agar media tanam kopi
tetap dalam kondisi baik. Disini yang perlu diperhatikan adalah pertumbuhan
gulma yang dapat menyaingi pengambilan makanan. Untuk itu pemberian serasah
perlu dilakukan untuk mencegah pertumbuhan gulma. Serasah dapat diperoleh
baik dari rembesan pohon pelindung atau dari hasil siangan.
2. Pemeliharan Tanaman Pokok
Pemeliharaan dapat berupa pemangkasan dan penyulaman. Tujuan
pemangkasan adalah untuk mengatur pertumbuhan vegetatif ke arah pertumbuhan
generatif yang lebih produktif. Terdapat tiga macam pemangkasan yaitu
pemangkasan bentuk, pemangkasan produksi serta pemangkasan rejuvinasi.
Pemangkasan bentuk bertujuan untuk membentuk kerangka tanaman yang kuat
dan seimbang.

Sedangkan pemangkasan produksi bertujuan mempertahankan

keseimbangan kerangka tanaman yang telah diperoleh melalui pemangkasan


bentuk. Sementara itu, pemangkasan rejuvinasi bertujuan untuk peremajaan
batang. Dilihat dari jumlah batang terdapat dua sistem dalam pemangkasan yaitu

14

pemangkasan

berbatang

ganda

dan

pemangkasan

berbatang

tunggal.

Pemangkasan berbatang ganda dilakukan biasanya diperkebunan rakyat


sedangkan pemangkasan berbatang tunggal dilakukan di perkebunan besar.
Sistem pemangkasan batang dipengaruhi oleh kondisi ekologis dan jenis kopi
yang ditanam. Sistem berbatang tunggal lebih sesuai untuk jenis kopi yang banyak
membentuk cabang-cabang sekunder. Oleh karena itu bila peremajaan batang
kurang diperhatikan produksi cepat menurun karena pohon menjadi berbentuk
payung.
Sistem berbatang ganda lebih diarahkan pada peremajaan batang. Oleh
karena itu lebih sesuai bagi daerah yang basah dan letaknya rendah dimana
pertumbuhan batang baru berjalan lebih cepat. Peremajaan tidak hanya mengganti
tanaman yang rusak atau tua dengan tanaman yang baru, tetapi juga perlu
pergantian varietas atau klon yang unggul serta perbaikan kultur teknis.
Rejuvinasi sebaiknya dilakukan pada akhir suatu panen besar, pada waktu akhir
musim kemarau. Rejuvinasi dilakukan secara :
a. Total, yaitu mengganti seluruh pohon kopi dari suatu area
b. Selektif, yaitu rejuvinasi selektif yang dipilih pada pohon-pohon yang jelas
sudah tua atau rusak dan produksinya rendah
c. Sistematis, yaitu peremajaan bertahap untuk diremajakan seluruhnya
3. Pemupukan
Pupuk diperlukan karena adanya pengambilan hara oleh tanaman dan
persediaan dalam tanah. Kopi mengambil hara dalam tanah untuk pertumbuhan
vegetatif serta untuk pertumbuhan buah. Tujuan pemupukan adalah :
a. Memperbaiki kondisi tanaman, tanaman yang dipupuk secara optimal dan
teratur akan memiliki daya tahan lebih besar, sehingga tidak mudah
dipengaruhi oleh keadaan yang ekstrim.
b. Peningkatan produksi dan mutu, walaupun pada tahun pertama
pemupukan lebih banyak berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif,
tetapi pemupukan ini juga meningkatkan mutu yaitu besarya biji kopi dan
rendemen lebih tinggi
c. Stabilisasi produksi, tanaman kopi bersifat biannual bearing(panen raya
setiap empat tahun sekali). Oleh karena itu untuk menjaga agar produksi

15

tidak turun terlalu banyak maka perlu pemupukan yang teratur dosis dan
jenis pupuk harus disesuaikan sebab pemberian pupuk yang salah tidak
hanya tidak efektif tetapi juga menurunkan produksi.
d. Demikian pula dengan waktu pemupukan yang harus sesuai dengan
kebutuhan tanaman dan iklim. Dosis dan waktu pemupukan baiknya
dilakukan pada awal musim dan akhir musim hujan
4. Hama dan Penyakit
Terdapat banyak sekali hama dan penyakit yang dapat menyerang kopi
diantaranya :
1. Serangan bubuk buah akan mengakibatkan gugurnya buah muda,
menurunkan mutu akibat biji berlubang dan penyusustan berat.
Pemberantasan terhadap hama ini dilakukan dengan pemusnahan sumber
infeksi (petik bubuk, lelesan) dan pemutusan siklus hidup.
2. Bubuk cabang, yang menyerang cabang dan wiwilan yang masih muda
dan mengakibatkan cabang kering atau patah. Untuk mengatasi serangan
hama bubuk cabang, maka yang harus dilakukan adalah memperbaiki
kondisi

tanaman

kopi,

menghambat

pertumbuhan

cendawan,

memusnahkan cabang-cabang yang terserang.


3. Kulit putih, akibat dari serangan ini mengakibatkan tanaman kopi menjadi
kerdil dan buah mudah gugur. Untuk mengatasinya maka dilakukan
pemberantasan

semut,

membabat

tanaman

yang

disenangi

kutu,

memusnahkan tanaman pelindung yang terserang dan menyemprot obatobatan.


4. Cendawan akar coklat dan akar hitam, tanaman yang terserang daunnya
akan layu kuning dan kering. Untuk menghindari serangan lebih luas maka
tanaman yang terserang didongkel dan dimusnahkan, kemudian diisolasi
dengan pembuatan parit.
d. Panen dan Pasca Panen
Kopi berbuah tidak serentak maka panennya juga tidak dapat dilakukan
sekali saja. Untuk itu pemetikan haruslah dipilih yang lazim disebut petik merah,
yaitu pemetikan buah yang masak berwarna merah dipetik satu demi satu dari tiap

16

dongkolan. Ada tiga tahap pemetikan kopi untuk menhasilkan mutu yang tinggi
yaitu :
1. Petik pendahuluan, yaitu pemetikan pada buah-buah yang terserang bubuk
buah, biasanya dilakukan pada buah kopi yang berwarna kuning sebelum usia
delapan bulan.
2. Panen raya yakni pemetikan buah yang sebenarnya, pemetikan sistem petik
merah dapat berjalan antara empat sampai lima bulan dengan giliran sepuluh
sampai 14 hari.
3. Rajutan, yaitu pemetikan terakhir tanpa dipili, petik ini dilakukan bila sisa
kopi dipohon masih berkisar 10 persen.
Setelah kopi dipetik perlu dilakukan penggilingan dua tahap kemudian
penjemuran kira-kira 36 jam (Tjokrowinoto, 2002).

2.3 Penelitian Terdahulu


2.3.1 Penelitian tentang Kopi
Hasil penelitian yang dilakukan Sartika (2007) mengenai analisis
pendapatan usahatani dan pemasaran kopi arabika dan robusta adalah penerimaan
rata-rata usahatani kopi Arabika adalah Rp 18.477.000 per tahun dengan R/C
Rasio 1,94, sedangkan penerimaan kopi Robusta Rp 5.228.500 per tahun dengan
R/C Rasio 1,22. Besar margin pemasaran pada kedua saluran pemasaran produk
adalah sama.
Penelitian yang dilakukan oleh Purwoko (2006) mengenai nilai tambah
dan strategi pemasaran kopi bubuk arabika kelompok tani. Strategi yang dapat
ditetapkan adalah membuka peluang investasi kepada pihak lain, memperluas
jaringan pasar, memperbaiki mutu dan tampilan produk olahan kopi,
mengikutsertakan

anggota

kelompok

tani

dalam

program

pemerintah

pengembangan usaha dan pelatihan.

2.3.2 Penelitian tentang Strategi


Penelitian

yang

dilakukan

Syahrudin

(2008)

mengenai

strategi

pengembangan agroindustri minuman jeruk nipis peras di Kabupaten Kuningan,


Jawa Barat. Strategi yang dapat ditetapkan adalah : (1) meningkatkan

17

kualitas dan kontiniutas bahan baku, (2) meningkatkan pangsa pasar melalui
promosi, (3) meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait, (4)
mengembangkan teknologi tepat guna, (5) meningkatkan kualitas sumberdaya
manusia.
Penelitian yang dilakukan Parluhutan (2006) di Kebun Raya Bogor,
mengenai strategi formulasi strategi pengembangan usaha. Strategi yang dapat
diperoleh dalam penelitian tersebut adalah mengoptimalkan dan meningkatkan
pemeliharaan peralatan yang ada, melakukan R&D dan standarisasi produk,
mempertahankan dan meningkatkan mutu produk dengan cara pengawasan.
Penelitian yang dilakukan oleh Karo-Karo (2006) di Kabupaten Karo,
mengenai strategi pengembangan kawasan agropolitan. Menetapkan beberapa
strategi yang dapat diperoleh dalam penelitian tersebut. Strategi tersebut adalah
pengembangan kawasan agropolitan disesuaikan dengan kondisi karakteristik dan
peluang yang dimiliki oleh kawasan, pengembangan dan pemberdayaan
kelembagaan agribisnis, meningkatkan peran serta masyarakat, khususnya pelaku
agribisnis dalam menunjang kegiatan kawasan agropolitan, pengembangan sarana
dan prasarana sosial ekonomi guna menunjang kegiatan pertanian.
Penelitian yang dilakukan oleh Tambunan (2005) di PT Bina Usaha Flora
Cipanas, Cianjur mengenai strategi pengembangan usaha tanaman hias
menetapkan beberapa prioritas strategi yaitu menjalin kerjasama dengan
pelanggan tetap potensial, floris, dinas taman kota, pengelola lapangan golf,
developer real estate untuk meraih wilayah Cipanas-Cianjur, mengoptimalkan dan
mengaktifkan

kegiatan

personal

selling,

memberikan

potongan

harga,

menigkatkan pelayanan dan melakukan open house.


Penelitian yang dilakukan oleh Wijaya (2004) mengenai strategi bersaing
minuman sari buah sirsak. Berdasarkan analisis dengan menggunakan analisis
deskriptif, matriks IFE, EFE, IE, SWOT, dan QSPM maka strategi bersaing
adalah memanfaatkan kemajuan teknologi pengemasan, memperluas jaringan
distribusi, menjaga dan meningkatkan kualitas produksi, meningkatkan modal
kerja dalam membiayai promosi, memaksimalkan kapasitas produksi dan
meningkatkan diferensiasi produk.

18

Dari penelitian yang dilakukan oleh beberapa penelitian tersebut dapat


ditarik kesimpulan bahwa penelitian yang akan dilakukan mengenai Strategi
Pengembangan Agribisnis Kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan memiliki
persamaan dan perbedaan dengan penelitian terdahulu. Pada umumnya alat analis
penelitian sama namun komoditi serta lokasi berbeda, demikian juga alat analis
berbeda namun komoditi sama (Tabel 5)

Tabel 5. Metode dan Hasil dari Penelitian Terdahulu


No

Nama Peneliti
dan Tahun Peneliti

Judul

Rizal Syahrudin (2008)

Ika Sartika Saragih


(2007)

Yodhy Purwoko Jati


(2006)

Eli Parluhutan (2006)

Feryanto W Karo-Karo

Asril Tambunan (2005)

Dedi Wijaya Okta


(2004)

Analis strategi pengembangan


agroindustri minuman jeruk
nipis peras di Kabupaten
Kuningan Jawa Barat
Analisis pendapatan usahatani
dan pemasaran kopi arabika dan
kopi robusta (Studi kasus di
Desa Tambun Raya Kabupaten
Simalungun Sumatera Utara)
Analis nilai tambah dan strategi
pemasaran kopi bubuk arabika
kelompok tani Manunggal IV
Kecamatan Jambu Semarang
Formulasi
Strategi
pengembangan usaha anggrek
spesies di unit Koleksi Anggrek
Kebun Raya Bogor
Strategi
Pengembangan
Kabupaten
Karo
sebagai
Kawasan Agropolitan
Strategi pengembangan usaha
tanaman hias pada PT Bina
Usaha Flora (BUF) di CipanasCianjur
Analisis Formulasi strategi
bersaing minuman sari buah
sirsak pada PT Minuman SAP
dalam menghadapi persaingan
industri minuman ringan

Alat
Analisis
AHP

Analisis
Pendapatan,R/C
rasio, Efisiensi
Margin Pemasaran,
farmers share
Matriks IFE, EFE,
IE, SWOT, dan
QSPM
Matriks IFE, EFE,
IE, SWOT, dan
QSPM
LQ, SWOT
QSPM

dan

Matriks IFE, EFE,


IE, SWOT, dan
QSPM
Analisis Deskriptif,
Matriks IFE, EFE,
IE, SWOT, dan
QSPM

19

III KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis


3.1.1 Konsep Agribisnis
Secara harfiah agribisnis adalah kegiatan bertani yang sudah dipandang
sebagai kegiatan bisnis, tidak lagi hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan
hidup sendiri. Menurut Davis dan Goldberg dalam Syahyuti (2006), agribisnis
adalah rangkaian semua kegiatan mulai dari pabrik dan distribusi alat-alat maupun
bahan untuk pertanian, kegiatan produksi pertanian, pengolahan, penyimpanan,
serta distribusi komoditas pertanian dan barang-barang yang dihasilkannya.
Sistem agribisnis terdiri dari lima subsistem, yaitu: (1) agribisnis hulu (up-stream
agribusiness) berupa ragam kegiatan industri dan perdagangan sarana produksi
pertanian, (2) pertanian primer atau disebut subsistem budidaya (on-farm
agribusiness), (3) agribisnis hilir (down-stream agribusiness) atau subsistem
pengolahan, ada kalanya disebut dengan agroindustri, (4) subsistem
perdagangan atau tata niaga hasil, dan (5) subsistem jasa pendukung berupa
kegiatan penelitian, penyediaan kredit, sistem transportasi, pendidikan dan
penyuluhan, serta kebijakan makro.
Paradigma agribisnis berdiri di atas lima premis dasar, yaitu bahwa usaha
pertanian haruslah profit oriented; pertanian hanyalah satu komponen rantai dalam
sistem komoditi sehingga kinerjanya ditentukan oleh kinerja sistem komoditi
secara keseluruhan; pendekatan sistem agribisnis adalah formulasi kebijakan
sektor pertanian yang logis, dan harus dianggap sebagai sistem ilmiah yang
positif, bukan ideologis dan normatif; sistem agribisnis secara intrinsik netral
terhadap semua skala usaha dan pendekatan sistem agribisnis khususnya ditujukan
untuk negara sedang berkembang.
Strategi pembangunan pertanian dengan menerapkan konsep agribisnis,
sesungguhnya terdiri dari 3 tahap perkembangan yang semestinya terjadi secara
berurutan yaitu :
1. Agribisnis berbasis sumberdaya yang digerakkan oleh kelimpahan sumber
daya sebagai faktor produksi (faktor-driven), dan berbentuk ekstensifikasi
agribisnis dengan dominasi komoditas primer.

20

2. Agribisnis berbasis investasi (investment-driven) melalui percepatan industri


pengolahan dan industri hulu serta peningkatan sumberdaya manusia.
3. Agribisnis berbasis inovasi (inovation-driven), dengan kemajuan teknologi.
Pada tahap ini, komoditas yang diproduksi adalah hasil dari penerapan ilmu
pengetahuan yang tinggi dan tenaga kerja terdidik, memiliki nilai tambah yang
besar, dan tujuan pasar yang luas.
Secara singkat lingkup model pembangunan atau paradigma agribisnis
dapat digambarkan sebagai berikut :
Subsistem
Agribisnis
Hulu

Industri
perbenihan/
Pembibitan
tananaman
Industri
agrokimia
Industri
agro
otomotif

Subsistem
Usahatani

Usaha
tanaman
pangan dan
hortikultura
Usaha
perkebunan
Usaha
peternakan

Subsistem
Pengolahan

Industri
makanan
Industri
minuman
Industri rokok
Industri barang
serat alam
Industri
biofarma
Industri
agrowisata dan
estetika

Subsistem
Pemasaran

Distribusi
Promosi
Informasi
pasar
Kebijakan
perdagangan
Struktur pasar

Subsistem Jasa dan Penunjang


Perkreditan dan asuransi
Penelitian dan pengembangan
Pendidikan dan penyuluhan
Transportasi dan pergudangan

Gambar 1. Lingkup Pembangunan Sistem Agribisnis


Sumber: Pembangunan Sistem dan Usaha Agribisnis
(60 Tahun Bungaran Saragih, 2005)

3.1.2 Konsep Perumusan Strategi


Strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu strategos dan strategus yang
berarti seni perang. Suatu strategi mempunyai dasar-dasar atau skema untuk
mencapai sasaran yang dituju. Menurut Hamel dan Prahalad (1995): Strategi
merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkatkan) dan
terus menerus dan dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang

21

diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Dengan demikian perencanaan


strategi hampir selalu dimulai dari apa yang dapat terjadi, bukan dimulai dari
apa yang terjadi. Terjadinya kecepatan inovasi pasar baru dan perubahan pola
konsumen memerlukan kompetensi inti (core competencies). Perusahaan perlu
mencari kompetensi inti di dalam bisnis yang dilakukan.
Defenisi

strategi

yang

dikemukakan

oleh

Chandrel

(1962:13)

menyebutkan bahwa Strategi adalah tujuan jangka panjang dari suatu


perusahaan, serta pendayagunaan dan alokasi semua sumber daya yang penting
untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut Umar (2008), strategi merupakan
tindakan yang bersifat (incremental) senantiasa meningkat dan terus menerus,
serta dilakukan berdasarkan sudut pandangan tentang apa yang diharapkan oleh
para pelanggan di masa yang akan datang.
Menurut David (2006) strategi adalah alat untuk mencapai tujuan jangka
panjang. Manajemen strategis didefenisikan sebagai seni dan pengetahuan untuk
merumuskan,

mengimplementasikan,

dan

mengevaluasi

keputusan

lintas

fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai obyektivitasnya.


Sedangkan proses manajemen strategi adalah suatu pendekatan secara obyektif,
logis, dan sistematis dalam penetapan keputusan utama dalam suatu organisasi.
Proses manajemen strategis terdiri dari tiga tahap berturut-turut, perumusan
strategi, implementasi strategi, dan evaluasi strategi.
Perencanaan strategi adalah: (a) mengukur dan memanfaatkan kesempatan
(peluang) sehingga mampu mencapai keberhasilan, (b) membantu meringankan
beban pengambil keputusan dalam tugasnya menyusun dan mengimplementasikan
manajemen strategi, (c) agar lebih terkordinasi aktivitas-aktivitas yang dilakukan
(d) sebagai landasan untuk memonitor perubahan yang terjadi, sehingga dapat
segera dilakukan penyesuaian, dan (e)

sebagai cermin atau bahan evaluasi,

sehingga bisa menjadi penyempurnaan perencanaan strategis yang akan datang.


Jadi manajemen strategi penting untuk memperoleh keunggulan bersaing dan
memiliki produk yang sesuai dengan keinginan konsumen dengan dukungan yang
optimal dari sumberdaya yang ada. Konsep proses manajemen dapat dilihat pada
Gambar 2.

22

Melakukan
audit
internal

Membuat
pernyataan
visi dan
misi

Menciptakan
tujuan jangka
panjang

Membuat,
Mengevalusi,
dan memilih
strategi

Melaksanakan
strategi

Mengukur
dan
mengevaluasi
kinerja

Melakukan
audit
eksternal

Pelaksanaan

Perumusan

Evaluasi

Gambar 2. Model Proses Manajemen Strategis yang Komprehensif


Sumber : David (2006)

Proses manajemen strategi terdiri dari tiga tahap, yaitu perumusan


(formulasi) strategi, implementasi strategi dan evaluasi strategi. Tahap perumusan
strategi meliputi pengembangan pernyataan misi, penetapan tujuan jangka
panjang, dan pengembangan evaluasi serta seleksi atau pemilihan strategi. Tahap
pelaksanaan strategi meliputi penetapan kebijakan dan tujuan tahunan serta
alokasi sumberdaya. Pada tahap evaluasi strategi dilakukan pengukuran dan
evaluasi kinerja pelaksanaan strategi.

3.1.3 Analisis Lingkungan Eksternal dan Internal


Analisis lingkungan internal adalah lebih pada analisis internal perusahaan
dalam rangka menilai atau mengindentifikasi kekuatan dan kelemahan dari tiaptiap divisi (Rangkuti, 2000). Analisa lingkungan internal perusahaan merupakan
proses untuk menentukan dimana perusahaan atau pemerintah daerah mempunyai
kemampuan yang efektif sehingga perusahaan dapat memanfaatkan peluang
secara efektif dan dapat menangani ancaman di dalam lingkungan.

23

David (2006), menyebutkan sosial-faktor lingkungan yang akan dianalisa


berhubungan dengan kegiatan fungsional perusahaan diantaranya adalah bidang
manajemen,

sumberdaya

manusia,

keuangan,

produksi,

pemasaran,

dan

oragnisasi. Analisis lingkungan internal ini pada akhirnya akan mengidentifikasi


kelemahan dan kekuatan yang dimiliki perusahaan.
Sedangkan sosial lingkungan eksternal yang dianalisa adalah terdiri dari
lingkungan makro dan mikro. Lingkungan makro adalah lingkungan yang secara
tidak langsung mempengaruhi keputusan dalam jangka panjang. Lingkungan ini
terdiri dari sosial ekonomi, sosial budaya, dan teknologi. Sedangkan lingkungan
mikro adalah kegiatan perusahaan yang secara langsung mempengaruhi kegiatan
perusahaan itu sendiri. Lingkungan mikro terdiri dari pesaing, kreditur, pemasok,
dan pelanggan.
Analisa lingkungan eksternal untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman
yang

sedang

dihadapi

perusahaan.

Peluang

merupakan

kondisi

yang

menguntungkan bagi perusahaan, sedangkan ancaman adalah keadaan yang tidak


menguntungkan bagi perusahaan.

3.1.4 Analisis SWOT (Strengths,Weaknesess, Opportunities, Threats)


Analisis SWOT adalah perangkat umum yang didesain dan digunakan
sebagi langkah awal dalam proses pembuatan keputusan dan sebagai perencanaan
strategis. Menurut Rangkuti (2000), analisis SWOT adalah indentifikasi berbagai
faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan.

Analisis ini

didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan


peluang (Oppurtunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan
kelemahan, (Weaknesess) dan ancaman (Threats). Proses pengambilan keputusan
strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan
kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencanaan strategis (strategic planner)
harus menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan, kelemahan,
peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini.
Menurut David (2006) faktor-faktor kunci eksternal dan internal
merupakan pembentuk matriks SWOT yang menghasilkan empat tipe strategi,
yaitu a) Strategi SO yakni strategi yang menggunakan kekuatan internal untuk

24

memanfaatkan peluang eksternal, b) strategi WO yakni mengatasi kelemahan


internal dengan memanfaatkan keunggulan peluang eksternal, c) strategi ST yaitu
strategi yang menggunakan kekuatan internal untuk menghindari pengaruh dari
ancaman eksternal, serta d) strategi WT adalah strategi bertahan dengan
meminimalkan kelemahan dan mengantisipasi ancaman lingkungan.
Data dan informasi internal perusahaan dapat digali dari fungsional
perusahaan, misalnya dari aspek manajemen, keuangan, SDM, pemasaran, sistem
informasi dan produksi. Data eksternal dikumpulkan untuk menganalisis hal-hal
yang menyangkut persoalan ekonomi, sosial, budaya, demografi, lingkungan
politik, pemerintahan, hukum, teknologi, persaingan di pasar industri di mana
perusahaan berada.

3.1.5 Analisis QSPM (Quantiative Strategy Planning Matrix)


QSPM (Quantiative Strategy Planning Matrix) adalah alat yang
direkomendasikan bagi para ahli strategi untuk melakukan evaluasi pilihan
strategi alternatif secara objektif, berdasarkan key success factors internaleksternal yang telah diidentifikasikan sebelumnya. Tujuan QSPM adalah untuk
menetapkan kemenarikan relatif (relative attractiveness) dari strategi-strategi
yang bervariasi yang telah dipilih, untuk menentukan strategi mana yang dianggap
paling baik untuk diimplementasikan.
David (2006), menyebutkan bahwa dalam merancang dan memperoleh
daftar prioritas strategi, hanya ada satu teknik analisis yan dirancang untuk
menetapkan daya tarik relatif dari tindakan alternatif yang dijalankan. Teknik
tersebut adalah Matriks QSP yang merupakan tahap ketiga dalam kerangka
analisis perumusan strategi. Teknik tersebut secara objektif menunjukkan strategi
alternatif yang paling baik. QSPM menggunakan masukan dari analisis tahap
pertama dan hasil-hasil pencocokan dari analisis tahap kedua (matriks SWOT).
QSPM menentukan daya tarik relatif dari berbagai strategi yang
didasarkan sampai seberapa jauh faktor-faktor keberhasilan kritis eksternal dan
internal kunci dimanfaatkan atau ditingkatkan. Daya tarik relatif dari masingmasing strategi dihitung dengan menentukan dampak kumulatif dari masingmasing strategi faktor keberhasilan kritis eksternal dan internal. Setiap jumlah

25

rangkaian strategi alternatif dapat diikutkan dalam QSPM, dan setiap jumlah
strategi dapat menyusun suatu rangkaian strategi tertentu. Tetapi hanya strategistrategi dari satu rangkaian tertentu yang dinilai relatif terhadap satu sama lain.
Menurut David (2006), QSPM memiliki sifat positif yang dapat
ditonjolkan dalam menyusun sebuah prioritas strategi, yakni rangkaian strategi ini
dapat diperiksa secara berurutan atau bersama. Tidak ada batasan untuk jumlah
strategi yang dapat dievaluasi jumlah rangkaian strategi yang dapat diperiksa
dengan menggunakan QSPM. Selain memiliki kelebihan, QSPM juga memiliki
kelemahan dalam pelaksanaanya. Kelemahan dari QSPM, yakni proses ini selalu
memerlukan penilaian intuitif dan asumsi yang diperhitungkan. Namun demikian,
dalam memberi peringkat dan nilai daya tarik mengharuskan keputusan subjektif,
tetapi prosesnya harus menggunakan informasi objektif.

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional


Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tahun ini berencana memperluas areal
perkebunannya hingga 146 ribu hektar lagi dari luas yang sudah ada dewasa ini
sekitar 1,8 juta hektar dengan 23 komoditi. Perluasan 146 ribu hektar itu
diprogramkan untuk tanaman unggulan Sumatera Utara yakni kopi, kakao, karet
dan kelapa. Direncanakan, perluasan itu dilakukan di 21 kabupaten dari 32
kota/kabupaten yang ada di Sumatera Utara dewasa ini. Kebijakan itu dilakukan
berkaitan dengan program Gubernur Sumatera Utara yang antara lain
menginginkan rakyat tidak lapar dan punya masa depan. Dinas Perkebunan tahun
ini menyediakan 700 ribu bibit untuk empat komoditi itu dimana bibit tersebut
bisa untuk kebutuhan di lahan seluas 1.400 hektar. Bantuan benih sebanyak 700
ribu untuk kakao, karet, kopi dan kelapa pada tahun ini naik cukup besar
dibandingkan alokasi tahun lalu yang masih hanya 400 ribu benih. Adapun
pembagian benih itu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah.1
Kopi merupakan salah satu komoditas yang sangat potensial di Kabupaten
Humbang Hasundutan. Namun produktivitas kopi di Humbang Hasundutan belum
optimal, hal ini terlihat bahwa produktivitas kopi Humbang Hasundutan hanya
0,88 ton per hektar pada tahun 2007. Dalam pengembangan kopi di Humbang
1

Areal Perkebunan Sumut Diperluas 146 Ribu Hektare dalam http://hariansib.com/2009/02/.


Diakses 29 Mei 2009

26

Hasundutan, petani kesulitan dalam memperoleh benih unggul dan memasarkan


produknya, sehingga petani tidak memperhatikan kualitas produk. Apabila harga
kopi turun, petani tidak peduli dengan kualitas dan hasil panenannya, ketika harga
naik, produksinya malah turun. Disamping itu biaya produksi yang cenderung
makin mahal menjadi faktor penghambat pengembangan kopi di Humbang
Hasundutan, khususnya dalam memberantas hama penyakit.
Sementara menurut data AEKI Sumatera Utara April 2008 Kopi di
Sumatera Utara terbukti menjadi salah satu penyumbang devisa. Ekspor kopi
Sumatera Utara hingga April 2008 telah mencapai 71,68 juta dolar AS dari
volume ekspor biji dan bubuk kopi sebanyak 21.969 ton. Dari jumlah ini kopi
jenis arabika menjadi penyumbang terbesar yakni 65,07 juta dolar AS dari volume
ekspor sebanyak 19.137 ton. Ini menunjukkan bahwa kopi Humbang Hasundutan
hanya mampu menyumbang 0,88 ton per hektar terhadap total ekspor kopi
Sumatera Utara yang mencapai hingga 71,68 juta dollar AS.
Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian yang berkaitan dengan strategi
pengembangan kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui apakah faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kopi di
Kabupaten Humbang Hasundutan dan strategi utama apa yang dapat
mengembangkan produktivitas kopi Kabupaten Humbang Hasundutan. Di lain
pihak dengan adanya dukungan pemerintah untuk memperluas areal perkebunan
dan bantuan benih, maka penelitian strategi pengembangan kopi ini perlu
dilakukan.
Penelitian mengenai strategi pengembangan kopi dilakukan dengan
mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang berkaitan dengan kopi
Kabupaten Humbang Hasundutan.

Untuk mengetahui alternatif strategi

pengembangan kopi, maka identifikasi faktor internal dan eksternal dianalisis


dengan analisis SWOT.
Dari alternatif yang sudah didapat, selanjutnya dilakukan analisis dan
evaluasi strategi sebelum tahap penetapan rencana strategi, setelah evaluasi
dilakukan maka dilanjutkan dengan tahap terakhir menetapkan rencana strategis
pengembangan kopi Kabupaten Humbang Hasundutan, penetapan prioritas
strategi ini menggunakan analisis QSPM untuk menentukan prioritas strategi yang

27

akan dijalankan berdasarkan potensi sumberdaya wilayah yang didukung oleh


hasil analisis lingkungan internal dan eksternal serta mengusulkan strategi
komprehensif sehingga yang diusulkan akan sesuai dengan kondisi Kabupaten
Humbang Hasundutan, untuk lebih ringkasnya gambaran mengenai penelitian
dapat dilihat pada Gambar 3.

Permasalahan Agribisnis Kopi


Kabupaten Humbang Hasundutan

Faktor-Faktor Keragaan Sumberdaya :


Sumberdaya alam dan lingkungan
Sumberdaya manusia
Sumberdaya sosial dan kelembagaan
Sumberdaya buatan

Analisis Faktor faktor


Internal dan Eksternal
Analisis SWOT

Matriks QSP :
Tahap Penetapan Prioritas Strategi

Strategi Pengembangan
Agribisnis Kopi
Humbang Hasundutan
Gambar 3. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian

28

IV METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu


Penelitian dilakukan di Kabupaten Humbang Hasundutan Sumatera Utara.
Pemilihan daerah penelitian ini dilakukan dengan sengaja (purposive) dengan
beberapa pertimbangan. Pertimbangan pertama, Kabupaten Humbang Hasundutan
adalah salah satu kabupaten penghasil kopi di Sumatera Utara.
Pertimbangan kedua, Kabupaten Humbang Hasundutan mempunyai
potensi sumberdaya alam khususnya lahan pertanian yang subur, sumberdaya
manusia yang memiliki semangat, kerja keras dan budaya bertani yang turuntemurun. Proses pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan pada bulan JuniJuli 2009.

4.2 Metode Pengambilan Sampel


Metode pengambilan sampel dilakukan dengan secara sengaja (purposive)
yang terdiri dari :
1. Kepala

Bidang

Perkebunan

Dinas

Pertanian

Kabupaten

Humbang

Hasundutan, dengan pertimbangan lebih mengetahui dalam perkembangan


kopi dan sebagai penyusun dan menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan
pengembangan kopi,
2. Kepala Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Kabupaten
Humbang Hasundutan, karena secara umum mempunyai hak dalam menyusun
dan merencanakan pembangunan Kabupaten Humbang Hasundutan, dan
khususnya arahan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan kopi,
3. Ketua Asosiasi Petani Kopi Lintong Organik, dengan alasan sebagai satusatunya Asosiasi pengembangan kopi Humbang Hasundutan,
4. Ketua Kelompok Tani Kopi di tiap kecamatan yang terpilih, dengan alasan
Ketua lebih mengetahui permasalahan dalam pengembangan kopi Humbang
Hasundutan dan lebih dekat dengan petani kopi.
5. Pedagang pengumpul dan Pengusaha industri kopi yang ada di Kabupaten
Humbang Hasundutan, dengan alasan sebagai subsistem hilir agribisnis kopi.

29

4.3 Metode Pengumpulan Data


Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dan pengisian kuisioner oleh
responden, serta pengamatan langsung.
Data sekunder yang dikumpulkan yaitu data sumberdaya fisik lahan, data
produktivitas sumberdaya alam, data sumberdaya buatan, data sumberdaya
manusia dan data PDRB sektor pertanian yang terkait dengan penelitian. Data
tersebut diperoleh dari instansi seperti Dinas Pertanian Humbang Hasundutan,
Kantor Bappeda Humbang Hasundutan, Dinas Perkebunan Sumatera Utara, BPS
Humbang Hasundutan dan dinas-dinas terkait dalam pengembangan kopi di
Humbang Hasundutan.

4.4 Metode Pengolahan Data


Pengolahan data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data dilapang
(data primer). Data yang diolah berasal dari data primer dan sekunder, pengolahan
data dilakukan dengan bantuan program Microsoft Excel dan kalkulator.
Penelitian ini dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Analisis data
yang dilakukan meliputi tahap pemasukan data, transfer data, editing data,
pengolahan data dan interpretasi data. Analisis dalam penelitian meliputi analisis
internal dan eksternal, dilanjutkan dengan analisis SWOT dan QSPM, untuk
merumuskan dan menetapkan prioritas strategi bagi pengembangan kopi di
Kabupaten Humbang Hasundutan.

4.5 Tahap Perumusan Strategi


Perumusan strategi pengembangan kopi Kabupaten Humbang Hasundutan
dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap masukan (input stage), tahap
pencocokan (matching stage) dan tahap pengambilan keputusan (decision stage).
Tahap masukan adalah menyimpulkan informasi dasar yang diperlukan untuk
merumuskan strategi dengan menggunakan matriks IFE (Internal Faktor
Evaluation) dan EFE (External Faktor Evaluation). Informasi dasar ini diperoleh
dari data primer dan data sekunder. Tahap pencocokan merupakan tahapan yang

30

merumuskan strategi, tahap kedua ini menggunakan matriks SWOT. Dilanjutkan


tahap ketiga yaitu tahap pengambilan keputusan yang menggunakan matriks QSP.

4.5.1 Analisis Matriks IFE (Internal Faktor Evaluation) dan EFE (External
Faktor Evaluation)
Matriks IFE ditujukan mengidentifikasi faktor lingkungan internal dan
mengukur sejauh mana kekuatan dan kelemahan yang dimiliki daerah, sedangkan
matriks EFE ditujukan untuk mengidentifikasi faktor lingkungan eksternal dan
mengukur sejauh mana peluang dan ancaman yang dihadapi daerah.
Tahap-tahap yang dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor kunci
dalam matriks IFE dan EFE adalah sebagai berikut :
a. Identifikasi Faktor-Faktor Internal dan Eksternal Wilayah
Langkah awal yang dilakukan adalah mengidentifikasi faktor internal,
yaitu mendaftar semua kekuatan dan kelemahan yang dimiliki daerah. Daftarkan
kekuatan terlebih dahulu, baru kemudian kelemahan wilayah.

Identifikasikan

faktor eksternal wilayah dengan melakukan pendaftaran semua peluang dan


ancaman wilayah. Daftarkan peluang terlebih dahulu, baru kemudian ancaman
wilayah. Daftar harus spesifik dengan menggunakan presentase, rasio atau angka
perbandingan.

Hasil kedua identifikasi faktor-faktor di atas menjadi faktor

penentu eksternal dan internal yang selanjutnya akan diberi bobot.


b. Penentuan Bobot Variabel
Pemberian bobot setiap faktor dengan skala mulai dai 0,0 (tidak penting)
sampai 1,0 (paling penting). Pemberian bobot ini berdasarkan pengaruh faktorfaktor tersebut terhadap posisi strategis wilayah dalam suatu daerah tertentu.
Jumlah bobot yang diberikan harus sama dengan satu.
Penentuan bobot akan dilakukan dengan cara mengajukan identifikasi
faktor strategis internal dan eksternal tersebut kepada responden dengan
menggunakan metode paired comparison. Metode ini digunakan untuk
memberikan penilaian terhadap bobot setiap faktor penentu internal.

Setiap

variabel digunakan skala 1, 2, dan 3 untuk menentukan bobot.

31

Skala yang digunakan untuk menentukan bobot adalah :


1 = Jika indikator horizontal kurang penting daripada indikator vertikal
2 = Jika indikator horizontal sama penting daripada indikator vertikal
3 = Jika indikator horizontal lebih penting daripada indikator vertikal
Bentuk penilaian pembobotan dapat dilihat pada Tabel 6 dan 7. Cara
membaca perbandingan dimulai dari variabel baris (indikator vertikal)
dibandingkan dengan variabel kolom (indikator horizontal) dan harus konsisten.

Tabel 6. Penilaian Bobot Faktor Strategis Internal Wilayah


Faktor Strategis Internal
A
B
C
D

..

Total
Xi

Xi

Total

i =1

Tabel 7. Penilaian Bobot Faktor Strategis Eksternal Wilayah


Faktor Strategis Eksternal
A
B
C
D

..

Total
Xi

Xi

Total

i =1

Menurut Kinnear dalam Karo-Karo (2006), bobot setiap variabel diperoleh


dengan menentukan nilai setiap variabel terhadap jumlah nilai keseluruhan
variabel dengan menggunakan rumus :

i =

Xi
n

Xi

i=1

Dimana,

i = Bobot variable ke-i

n = jumlah data

Xi = Nilai variabel x ke-i

i = 1, 2, 3,...., n

32

c. Penentuan Rating
Penentuan rating oleh stakeholders dilakukan terhadap variabel-variabel.
Dalam mengukur masing-masing variabel terhadap kondisi wilayah digunakan
skala 1, 2, 3, dan 4 terhadap masing-masing faktor strategis. Matriks IFE dan
EFE dapat dilihat pada Tabel 8 dan 9.
Menurut David (2006) skala nilai rating untuk matriks IFE (kekuatan dan
kelemahan) adalah :
1 = Kelemahan utama/mayor

3 = Kekuatan kecil/minor

2 = Kelemahan kecil/minor

4 = Kekuatan besar/mayor

Sedangkan untuk matriks EFE (peluang dan ancaman), skala nilai rating yang
digunakan adalah :
1 = Tidak berpengaruh

3 = Kuat pengaruhnya

2 = Kurang kuat pengaruhnya

4 = Sangat kuat pengaruhnya

Penentuan rating yang dilakukan oleh masing-masing responden,


selanjutnya akan disatukan dalam matriks gabungan IFE dan EFE.

Untuk

perolehan nilai rating pada matriks gabungan dilakukan dengan menggunakan


metode rata-rata dan setiap hasil yang memiliki nilai desimal akan dibulatkan.
Adapun ketentuan pembulatan dalam matriks gabungan ini adalah, jika pecahan
desimal berada pada kisaran dibawah 0,5 (<0,5) dibulatkan kebawah, jika hasil
rating diperoleh hasil desimal dengan nilai sama atau di atas 0,5 (>0,5) dibulatkan
keatas.

Pembulatan ini tentunya tidak akan mempengaruhi hasil perhitungan

secara signifikan (David, 2006).


Selanjutnya dilakukan penjumlahan dari pembobotan yang dikalikan
dengan rating pada tiap faktor untuk memperoleh skor pembobotan. Jumlah skor
pembobotan berkisar antara 1,0-4,0 dengan rata-rata 2,5. Jika jumlah skor
pembobotan IFE dibawah 2,5 maka kondisi internal wilayah lemah. Untuk jumlah
skor bobot faktor eksternal berkisar 1,0-4,0 dengan rata-rata 2,5. Jika jumlah skor
pembobotan EFE 1,0 menunjukkan wilayah tidak dapat memanfaatkan peluang
dan mengatasi ancaman yang ada. Jumlah skor 4,0 menunjukkan wilayah
merespon peluang maupun ancaman yang dihadapinya dengan sangat baik.

33

Tabel 8. Matriks Internal Faktor Evaluation


Faktor Strategis Internal

Bobot

Rating

Skor Bobot

Rating

Skor Bobot

Kekuatan
1. .........
2. .........
3. .........
Kelemahan
1. ..........
2. ..........
3. ..........
Total
Sumber : David (2006)

Tabel 9. Matriks Eksternal Faktor Evaluation


Faktor Strategis Internal

Bobot

Kekuatan
1. .........
2. .........
3. .........
Kelemahan
1. .........
2. .........
3. .........
Total
Sumber : David (2006)

4.5.2 Analisis Matriks SWOT


Faktor-faktor strategis eksternal dan internal merupakan pembentukan
matriks SWOT (David, 2006). Matriks SWOT merupakan alat pencocokan yang
penting untuk membantu pemerintah dalam stakeholders mengembangkan empat
tipe strategi, yakni (1) strategi SO yaitu strategi yang menggunakan kekuatan
internal untuk memanfaatkan peluang eksternal, (2) strategi WO yaitu strategi
yang bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan memanfaatkan
peluang eksternal, (3) strategi ST yaitu strategi yang menggunakan kekuatan
internal untuk menghindari pengaruh dan ancaman eksternal serta (4) strategi WT

34

merupakan strategi yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal dan


menghindari ancaman lingkungan.
Analisis SWOT berdasarkan asumsi bahwa suatu strategi yang efektif
memaksimalkan kekuatan dan peluang, meminimalkan kelemahan dan ancaman.
Matriks SWOT terdiri dari sembilan sel, yaitu empat sel faktor (S,W,O dan T),
empat sel alternatif strategi dan satu sel kosong (Tabel 10).
Terdapat delapan tahapan dalam membentuk matriks SWOT, yaitu :
1. Tentukan faktor-faktor peluang eksternal daerah
2. Tentukan faktor-faktor ancaman eksternal daerah
3. Tentukan faktor-faktor kekuatan eksternal daerah
4. Tentukan faktor-faktor kelemahan eksternal daerah
5. Sesuai kekuatan internal dengan peluang eksternal untuk mendapatkan strategi
SO.
6. Sesuai kelemahan dengan peluang eksternal untuk mendapatkan strategi WO.
7. Sesuai kekuatan internal dengan ancaman eksternal untuk mendapatkan
strategi ST.
8. Sesuai kelemahan internal dengan ancaman eksternal untuk mendapatkan
strategi WT.

Tabel 10. Matriks SWOT

Oppurunities (O)
Daftar Peluang
1. ........
2. ........
3. ........
Threats (T)
Daftar Ancaman
1. ........
2. ........
3. ........

Strenght (S)
Daftar Kekuatan
1. .......
2. .......
3. .......
Strategi SO
Gunakan kekuatan untuk
memanfaatkan peluang

Weakness (W)
Daftar Kelemahan
1. ........
2. ........
3. .........
Strategi WO
Atasi kelemahan dengan
memanfaatkan peluang

Strategi SO
Strategi SO
Gunakan kekuatan untuk Minimalkan
kelemahan
menghindari ancaman
dan hindari ancaman

Sumber : David (2006)

35

4.5.3 Analisis Matriks QSP


Menurut David (2006) QSPM adalah alat yang direkomendasikan untuk
melakukan pilihan strategi alternatif secara obyektif, berdasarkan pada faktorfaktor sukses kritis eksternal dan internal yang telah diidentifikasi sebelumnya.
Jadi secara teoritis tujuan penggunaaan QSPM adalah untuk menentukan suatu
rekomendasi strategi yang dianggap paling tepat untuk diimplementasikan.
Secara konsep, QSPM menentukan daya tarik relatif dari berbagai strategi
yang ada berdasarkan pada sejauh mana faktor-faktor sukses kritis internal dan
eksternal dimanfaatkan atau diperbaiki. Daya tarik relatif dari setiap strategi
dalam satu sel alternatif dihitung dengan menetapkan dampak kumulatif dari
setiap faktor sukses kritis eksternal dan internal. Berapapun jumlah strategi dapat
disusun dalam suatu set strategi. Ada lima langkah untuk mengembangkan QSP,
yakni :
1. Mendaftar kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman pada kolom kiri
matriks QSP. Informasi ini diambil dari matriks IFE dan EFE.
2. Berilah nilai rating pada masing-masing faktor internal dan internal identik
seperti pada matriks IFE dan EFE.
3. Teliti matriks SWOT dan identifikasi strategi alternatif yang harus
dipertimbangkan pelaksanaannya oleh pemerintah daerah.
4. Tetapkan nilai daya tarik atau Attractiveness Score (AS) dengan cara memilih
masing-masing faktor internal dan eksternal. Nilai AS menunjukkan daya
tarik relatif dari setiap strategi terhadap strategi lainnya. Tentukan bagaimana
peran dari faktor tersebut dalam proses pemilihan strategi yang akan dibuat.
Nilai 1 berarti tidak menarik, nilai 2 berarti agak menarik, nilai 3 berarti
menarik, dan nilai 4 berarti sangat menarik. Sama halnya dengan penentuan
rating pada matriks gabungan IFE dan EFE, pembulatan dengan metode yang
sama juga diberlakukan dalam matriks gabungan QSPM.
5. Hitung jumlah TAS dari perkalian rating dan AS pada masing-masing kolom
QSPM. Nilai Total Attractiveness Score (TAS) terbesar yang menunjukkan
bahwa alternatif strategi itu menjadi pilihan utama dan nilai TAS terkecil
menunjukkan bahwa alternatif strategi ini menjadi pilihan terakhir.

36

Pada dasarnya dalam pengolahan data dengan menggunakan matriks QSP


ini peringkat digunakan untuk memperoleh daftar prioritas. QSPM menggunakan
input dari analisis tahap pertama dan hasil mencocokkan dari analisis tahap kedua
untuk memutuskan sasaran diantara strategi alternatif. Seperti alat analisis
perumusan strategi yang lain QSP memerlukan penilaian intuitif yang baik (Tabel
11).

Tabel 11. Matriks QSP (Quantitative Strategy Planning)

Faktor Sukses
Kritikal
Peluang
1.
2.
3.
Ancaman
1.
2.
3.
Kekuatan
1.
2.
3.
Kelemahan
1.
2.
3.
Total
Sumber : David (2006)
Keterangan; AS
TAS

Bobot

Alternatif Strategi
Strategi 1
Strategi 2
AS
TAS
AS
TAS

Strategi 3
AS
TAS

= Attractiveness Score
= Total Attractiveness Score

37

V GAMBARAN UMUM WILAYAH HUMBANG HASUNDUTAN

5.1 Situasi Wilayah


5.1.1 Letak Geografis dan Topologi
Kabupaten

Humbang

Hasundutan

adalah

Kabupaten

yang

dimekarkan dari Kabupaten Tapanuli Utara sesuai dengan UU No. 9 tahun


2003. Kabupaten ini terletak ditengah wilayah Provinsi Sumatera Utara,
dengan

luas

wilayah 251.765,93 Km2 terdiri

dari 10 Kecamatan, 1

Kelurahan dan 117 Desa. Ibukota kabupaten berada pada kecamatan Dolok
Sanggul sebagai pusat pemerintahan. Sembilan kecamatan lainnya yakni ;
Kecamatan Pakkat, Kecamatan Onan Ganjang, Kecamatan Sijamapolang,
Kecamatan Lintong Nihuta, Kecamatan Paranginan, Kecamatan Dolok Sanggul,
Kecamatan

Pollung,

Kecamatan

Parlilitan,

Kecamatan

Tarabintang

dan

Kecamatan Baktiraja.
Letak Geografis Humbang Hasundutan terletak pada garis 201-2028
Lintang Utara dan 98010- 98058Bujur Timur. Kabupaten Humbang Hasundutan
berbatasan langsung dengan Kabupaten Samosir di sebelah utara, Kabupaten
Pakpak Bharat dan Kabupaten Tapanuli Utara di sebelah timur,

Kabupaten

Tapanuli Tengah di sebelah selatan, dan Kabupaten Dairi di sebelah barat.


Kabupaten Humbang Hasundutan merupakan daerah dataran tinggi yang
mempunyai ketinggian bervariasi antara 330-2.075 m di atas permukaan laut
(dpl). Berdasarkan topografinya, Kabupaten Humbang Hasundutan berada di
jajaran Bukit Barisan dengan keadaan lereng umumnya berbukit dan
bergelombang. Daerah yang miring dengan kemiringan lereng 15-40% terdapat
sekitar 99.368 Ha (42,55%), sedangkan daerah yang datar (0-2%) hanya terdapat
sekitar 26.095 Ha (11,17%).
Dikaji dari tingkat kesuburan tanahnya, lahan di Kabupaten Humbang
Hasundutan pada umumnya relatif subur, dimana jenis tanah yang terdapat secara
umum adalah jenis tanah yang kebanyakan mengandung bahan organik dan
memiliki tingkat keasaman tanah (pH) yang tinggi dengan rata-rata 5-6,5.

38

Kabupaten Humbang Hasundutan memiliki suhu berkisar 170C-290C dan


rata-rata kelembaban udara (RH) sebesar 85,94 persen. Menurut metode
pengukuran Schamid dan Ferguson, wilayah Humbang Hasundutan termasuk
daerah beriklim tipe B.

5.1.2 Penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten Humbang Hasundutan sampai dengan tahun
2007 mencapai 158.095 jiwa yang tersebar di sepuluh kecamatan. Jumlah
penduduk terbanyak terdapat di Kecamatan Dolok Sanggul sebesar 37.045 jiwa
sedangkan jumlah penduduk yang terkecil terdapat di Kecamatan Sijamapolang,
yaitu 4.513 jiwa.

5.2 Prasarana dan sarana


5.2.1 Jalan dan Transportasi
Kondisi jalan di Kabupaten Humbang Hasundutan masih relatif baik.
Ruas jalan propinsi maupun kabupaten yang ada di beberapa kecamatan, seperti
Kecamatan Onan Ganjang, Sijamapolang, Pakkat, Parlilitan, Tarabintang dan
Kecamatan Baktiraja rawan akan bencana tanah longsor, yang dapat memutuskan
hubungan transportasi. Namun secara keseluruhan kondisi jalan di Humbang
Hasundutan dapat dilalui dengan kendaraan roda empat. Panjang jaringan jalan di
Kabupaten Humbang Hasundutan sampai dengan tahun 2007 sekitar 1.139,60
Km, yang terdiri dari 43 Km jalan negara, 111,2 Km jalan propinsi dan 985,4 Km
jalan kabupaten.
5.2.2 Pasar
Pasar sebagai fasilitas tempat pemasaran barang di wilayah Humbang
Hasundutan ada sembilan, dengan hari raya pekan yang berbeda. Pasar dapat
mendukung petani untuk memperoleh sarana dan prasarana pertanian serta
mempermudah pemasaran hasil pertaniannya ke berbagai pasar yang masih bisa
dijangkau. Di samping itu pasar juga memberikan kesempatan lebih bagi para
pedagang sarana produksi dan pedagang pengumpul.

39

5.3 Pertanian
5.3.1 Kegiatan Pertanian
Sektor pertanian merupakan tulang punggung perekonomian daerah, yang
memberikan sumbangan terbesar terhadap PDRB di Kabupaten Humbang
Hasundutan. Kontribusi sektor ini mencapai 60,53 persen pada tahun 2007 dan
cenderung meningkat dari tahun ketahun. Hal ini membuktikan, bahwa sektor
pertanian merupakan sektor yang paling penting yang menjadi roda penggerak
perekonomian Kabupaten Humbang Hasundutan.
Tanaman pertanian yang paling dominan diusahakan oleh masyarakat
mencakup tanaman padi, palawija dan hortikultura. Tanaman padi merupakan
tanaman yang paling banyak diusahakan, karena padi adalah tanaman pokok yang
menjadi kebutuhan utama. Selain padi juga diusahakan tanaman seperti cabe,
bawang merah, kentang, kubis, sawi, tomat, dan wortel. Kabupaten ini
mempunyai potensi lahan yang cocok dijadikan sebagai pengembangan tanaman
keras dan perkebunan (Tabel 12)

Tabel 12. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Tanaman Perkebunan di


Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2008
No

Komoditi

Luas Panen
(Ha)
3.665,00

Produksi
(ton)
2.178,28

Produktivitas
(ton/ha)
0,59

Karet

Kemenyan

4694,00

1.424,63

0,30

Kopi

7.540,00

6.234,38

0,82

Kelapa

118,50

175,05

1,48

Kulit Manis

356,00

229,58

0,64

Kemiri

337,80

208,22

0,62

Kelapa Sawit

185,00

255,25

1,38

Tembakau

40,00

1,18

0,03

Kakao

344,00

270,10

0,79

10

Pinang

79,50

106,85

1,34

11

Aren

176,50

143,88

0,82

12

Andaliman

17

15,30

0,90

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Humbang Hasundutan (2009)

40

Luas tanaman perkebunan pada tahun 2008 mencapai 36.599,35 Ha dan


tersebar diseluruh Kecamatan.

Lahan yang paling luas diperuntukkan untuk

perkebunan kopi, yakni seluas 22.707 Ha dengan luas panen 7.540,00 Ha dan
jumlah produksi mencapai 6.234,38 ton.
5.3.2 Kegiatan Pengusahaan Kopi
Kopi merupakan salah satu komoditi unggulan Kabupaten Humbang
Hasundutan disamping kubis, ketela rambat, kemenyan, ikan mas dan kerbau.
Kopi merupakan komoditi yang mempunyai prospek yang baik karena kebutuhan
kopi dalam negeri, khususnya luar negeri semakin meningkat. Usahatani kopi
sudah merakyat di Kabupaten Humbang Hasundutan, hampir setiap kecamatan
membudidayakan kopi seperti pada Tabel 13 berikut.

Tabel 13. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Kopi Menurut Kecamatan di
Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2008
No

Komoditi

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Doloksanggul
Lintong Nihuta
Paranginan
Baktiraja
Pollung
Onan Ganjang
Sijama Polang
Pakkat
Parlilitan
Tara Bintang
Jumlah

Luas Panen
(Ha)
1.472,00
1.598,00
967,00
215,00
710,00
929,00
565,00
306,00
778,00
7.540,00

Produksi
(ton)
1.227,91
1.336,75
794,91
176,09
582,20
759,92
463,30
252,14
641,16
6.234,38

Produktivitas (ton/ha)
0,83
0,83
0,82
0,81
0,82
0,81
0,82
0,82
0,82
0,82

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Humbang Hasundutan, 2009

Dari sepuluh kecamatan yang ada, terdapat 5 kecamatan utama yang


memproduksi kopi yaitu Kecamatan Lintong Nihuta, Kecamatan Doloksanggul,
Kecamatan Paranginan, Kecamatan Onan Ganjang dan Kecamatan Parlilitan.
Dalam pembudidayaan kopi, pemerintah sudah membentuk kelompok tani pada
setiap kecamatan, dengan tujuan pengembangan kopi di Humbang Hasundutan
serta kesejahteraaan petani.

41

Kegiatan budidaya yang dilakukan petani kopi mulai dari pembibitan,


penanaman, perawatan, pemangkasan, pemupukan hingga panen. Petani sangat
jarang memberantas hama dan penyakit. Hal ini disebabkan karena tingginya
harganya obat pemberantas hama, khususnya hama buah.
Varietas lokal yang sudah ada di Humbang Hasundutan seperti Lasuna,
Arab, Jember sudah ada yang berumur 100 tahun. Sekitar 30 tahun yang lalu
ditemukan varietas baru yang unggul yaitu kopi Ateng (Ateng adalah pelawak
Indonesia yang orangnya pendek) jadi masyarakat menyebut kopi Ateng karena
kopinya pendek dan cepat berbuah. Ada juga yang menyebut kopi Sigarar Utang
(membayar utang), yang artinya kopi cepat berbuah sehingga hasil kopi dapat
membayar utang.
Kopi Ateng diperkirakan hasil perkawinan secara alami dari varietas lokal
seperti Lasuna, dan Jember.

Kopi Ateng bukan varietas yang didatangkan dari

daerah lain. Pada umur 1,5 tahun, kopi Ateng sudah mulai berbunga dan pada
umur 2,5 tahun kopi sudah dapat di panen. Kopi berbunga pada bulan Agustus
dan Maret, dan biasanya berbunga setelah ada musim kemarau selama 2 minggu
sampai satu bulan. Jangka waktu mulai dari kopi berbunga sampai bisa dipanen
sekitar 7-8 bulan.

Pada umumnya kopi Ateng berbuah tiap bulan, tetapi

volumenya sedikit. Panen kopi sekitar bulan September-Desember dan MaretMei. Panen kopi yang paling banyak dan baik adalah sekitar pertengahan bulan
November dan pertengahan bulan April.

5.3.3 Pemasaran Kopi


Kegiatan pemasaran kopi pada umumnya dilakukan saat pekan raya.
Petani menjual kopi kepada pedagang pengumpul yang ada di desa, kemudian
pengumpul yang di desa menjual kopi kepada pedagang pengumpul yang ada di
pasar. Tidak jarang juga ditemui bahwa petani menjual langsung kopi kepada
pedagang pengumpul di pasar. Pedagang pengumpul di pasar menjual kopi ke
pihak eksportir yang ada di Medan (Gambar 4).

42

Petani

Pengumpul
di Desa

Pengumpul
di Pasar

Eksportir

Importir

Gambar 4. Saluran Pemasaran Kopi Humbang Hasundutan


5.4 Asosiasi Kopi
Satu-satunya Asosiasi kopi yang ada di Humbang Hasundutan adalah
APKLO (Asosiasi Petani Kopi Lintong Organik). APKLO dimulai dari satu
kelompok tani dan sekarang menjadi 14 kelompok tani dengan jumlah anggota
350 anggota yang bergabung dari Kecamatan Lintong Nihuta dan Doloksanggul.
APKLO didirikan dengan tujuan untuk menguatkan petani kopi untuk dapat
berdiri sendiri dalam mengolah dan memasarkan kopinya sendiri untuk bisa
bersaing dengan pihak ketiga (pengumpul di pasar) yang selalu menentukan harga
kopi sehingga petani tidak pernah mendapatkan harga yang layak. Atas bantuan
dan bimbingan dari Wakachia project Japan, APKLO mendapatkan sertifikasi dari
FLO (Fair Trade Labeling Organization) Jerman tahun 2004 dimana,
mendapatkan harga yang seadil-adilnya dan pasar yang semakin luas. APKLO
sudah mendapatkan pasar di Jepang dan beberapa negara di Eropa.
Saat ini kopi hasil dari APKLO tidak sepenuhnya organik, tetapi dalam
tahap menuju organik. Sebelumnya sebagian besar petani kopi di Lintong Nihuta
dan sekitarnya, menanam kopi dengan sistem tumpang sari seperti sayuran dan
cabe.

Menanam sayuran dan cabe diantara tanaman kopi, membuat petani

menggunakan pestisida dan pupuk kimia yang secara tidak langsung akan
terkontaminasi dengan tanaman kopi. Petani melakukan tumpang sari, karena
ingin menambah penghasilan tambahan dan biasanya dilakukan saat tanaman kopi
masih kecil atau jika masih ada lahan yang kosong diantara tanaman kopi. Petani
APKLO berusaha keras untuk mempraktekkan sistem pertanian organik baik
dengan belajar sendiri dan training untuk pertanian organik. Tanaman kopi
ditanam bersamaan tanaman pelindung seperti lamtoro, sengon dan dapdap.
Program APKLO ke depan yaitu menghasilkan kopi murni organik dan
berusaha mendapatkan sertifikasi Organik, dimana jika sudah mendapat sertifikasi
harga kopi ekspor akan semakin tinggi harganya. APKLO mendapatkan harga
yang baik dari mengekspor kopi karena sistem Fair Trade serta mendapat premi

43

(bonus) yang digunakan untuk kesejahteraan anggota seperti membeli alat-alat


pertanian, pendidikan bagi petani serta beasiswa bagi anak-anak petani yang
berprestasi.
Proses pengolahan biji kopi pasca panen yang telah dilakukan APKLO
adalah :
1. Panen

Memetik buah yang sudah benar-benar matang, pada umumnya alat yang
digunakan adalah keranjang, seperti pada gambar berikut :

Gambar 5. Petani APKLO sedang Panen Kopi Ateng


2. Pengupasan Kulit Buah
Proses pemisahan kulit tanduk dari kulit buah. Alat yang digunakan adalah
mesin pulping, keranjang dan ember.
3. Fermentasi
Fermentasi bertujuan untuk melepaskan lendir yang menyelimuti biji kopi.
Biji kopi dimasukkan dalam ember dan diisi air bersih, kemudian didiamkan
selama 12-40 jam. Alat yang digunakan air bersih, dan ember.
4. Pencucian
Setelah fermentasi, kulit tanduk dicuci dengan air bersih, supaya kotoran
sistem fermentasi hilang. Alat yang digunakan air bersih, keranjang dan ember.
5. Pengeringan
Penjemuran basah dengan sinar matahari selama 20 jam (sampai kadar air
23%). Alat yang digunakan adalah tempat penjemuran dan garu.

44

6. Pengupasan Kulit
Proses penguasaan biji kopi beras (Osas) dari kulit basah. Alat yang
digunakan adalah mesin Osas.
7. Pengeringan Osas
Pengeringan osas dengan sinar matahari, selama 18-20 jam (sampai kadar
air biji osas 12-14 persen). Alat yang digunakan penjemuran garu, dan tester
untuk mengukur kadar air.
8. Sortasi
Mengklasifikasikan biji kopi menurut standar mutu, dengan menggunakan
alat tampi. Setelah biji disortir, kopi yang memenuhi standar dikirim melalui PT
Aek Godang di Tapanuli Utara (hanya sebagai perantara)

Rantai pemasaran kopi APKLO berbeda dengan petani yang non anggota
APKLO. (Gambar 4) dan (Gambar 6). APKLO telah memiliki kontrak dengan
Fair Trade untuk negara yang menjadi wilayah pemasaran APKLO. Jika harga
kopi dunia turun, harga kopi APKLO tidak menurun drastis karena adanya
perjanjian batasan harga paling rendah dengan pihak Fair Trade. Jika harga kopi
dunia meningkat, maka harga kopi APKLO juga meningkat.
APKLO

IMPORTIR

Gambar 6. Saluran Pemasaran Kopi APKLO

45

VI ANALISIS FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL


STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KOPI
KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN

6.1 Faktor Internal


Faktor-faktor internal terdiri dari faktor kekuatan dan kelemahan dari
strategi pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan.
Berdasarkan hasil wawancara dan kuisioner serta masukan dari Kepala Bidang
Perkebunan Dinas Pertanian, Kepala Bappeda (Badan Perencana Pembangunan
Daerah), Ketua Asosiasi Petani Kopi Lintong Organik, Ketua Kelompok Tani
Kopi ditiap kecamatan yang terpilih, serta Pedagang pengumpul dan Pengusaha
industri kopi yang ada di Kabupaten Humbang Hasundutan, diperoleh faktorfaktor strategis internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan dalam
pengembangan agribisnis kopi Humbang Hasundutan yaitu sebagai berikut:

6.1.1 Kekuatan
Faktor kekuatan merupakan bagian dari faktor strategis internal, faktor
tresebut dianggap sebagai kekuatan yang akan mempengaruhi pengembangan
agribisnis kopi di Humbang Hasundutan. Faktor-faktor yang menjadi kekuatan
harus digunakan semaksimal mungkin dalam upaya untuk mencapai tujuan
pengembangan agribisnis kopi, faktor-faktor itu terdiri dari :
a. Keadaan Sumberdaya Alam

Keadaan sumber daya alam yang menjadi faktor kekuatan antara lain iklim
(memiliki suhu berkisar 170C-290C), kesuburan tanah, topografi, ketinggian
bervariasi antara 330-2.075 m di atas permukaan laut. Faktor-faktor itulah yang
diharapkan dapat membantu memperlancar pengembangan agribisnis kopi secara
alamiah. Dengan kondisi sumberdaya alam yang subur dan ditunjang dengan
iklim dan ketinggian yang cocok untuk budidaya kopi dan tanaman dataran tinggi
lainnya.
b. Ketersediaan Lahan
Luas wilayah Humbang Hasundutan adalah 251.765,93 Km2, lahan yang
digunakan untuk tanamaman perkebunan mencapai 36.599,35 Ha dan tersebar
diseluruh Kecamatan. Lahan yang paling luas diperuntukkan untuk perkebunan

46

kopi, yakni seluas 22.707 Ha.

Menurut Kepala Dinas Pertanian, Kabupaten

Humbang Hasundutan memiliki 44.000 Ha lahan yang belum produktif yang


dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pertanian, perkebunan rakyat,
peternakan dan perikanan darat.
c. Keamanan Berusaha
Masyarakat Humbang Hasundutan merasa nyaman untuk menjalankan
usaha budidaya kopi. Hampir tidak pernah terjadi kehilangan akan hasil panen.
Petani memiliki lahan kopi sendiri, dan mengusahakan kopi sendiri untuk
kebutuhan keluarga, sehingga tidak pernah berpikir untuk mencuri hasil kopi dari
lahan kopi masyarakat lainnya.
d. Akses Transportasi
Secara umum, jalur transportasi dalam Kabupaten Humbang Hasundutan
dapat digunakan dengan baik. Hal ini dapat mempermudah kegiatan mobilitas
penduduk dan hasil produksi kopi. Demikian juga jalur transportasi antar
Kabupaten Humbang Hasundutan dengan Kabupaten lainnnya telah memadai dan
dapat digunakan dengan baik.
e. Keadaan Sumberdaya Manusia
Jumlah penduduk Kabupaten Humbang Hasundutan sampai dengan tahun
2007 mencapai 158.095 jiwa yang tersebar di sepuluh kecamatan. Dari jumlah
tersebut hampir 83,2 persen penduduk bekerja sebagai petani dari total angkatan
kerja di Kabupaten Humbang Hasundutan. Jumlah penduduk yang produktif
sekitar 89.392 jiwa. Penduduk lainnya bekerja sebagai pegawai sekitar 7,3 persen,
wiraswasta 8,35 persen dan jumlah penduduk pencari kerja sekitar 1.013 jiwa atau
1,13 persen.

6.1.2 Kelemahan
Faktor kelemahan adalah bagian dari faktor internal. Faktor-faktor yang
dianggap sebagai kelemahan akan menjadi kendala dalam upaya pengembangan
agribisnis kopi di Humbang Hasundutan.

Faktor-faktor tersebut antara lain

sebagai berikut :

47

a. Penggunaan Teknologi Tradisional


Penggunaan teknologi tepat guna dalam pengembangan agribisnis kopi di
Humbang Hasundutan mempunyai peranan yang cukup penting. Akan tetapi hal
ini masih menjadi kendala, karena masih rendahnya minat petani untuk
menggunakan teknologi dibidang pertanian dalam kegiatan budidaya kopi.
Sebagian besar petani masih mempertahankan cara-cara tradisional dalam
melakukan usahataninya. Sehingga hasil yang diperoleh belum maksimal dan
kualitas yang dihasilkan relatif masih rendah. Petani menganggap bahwa dalam
penggunaan teknologi tersebut membutuhkan dana yang lebih besar dari pada
cara-cara bertani yang dilakukan selama ini. Hal ini terlihat dari budidaya petani
yang tidak menggunakan mulsa saat penanaman kopi, bibit yang dipilih dari hasil
panen sendiri dan disemai di lahan tanpa menggunakan polibag. Disamping itu
sebagian besar petani tidak menggunakan pemberantas hama buah, petani berpikir
bahwa hama tersebut akan musnah dengan sendirinya.
Pengolahan kopi juga membutuhkan inovasi teknologi yang dapat
mempermudah proses pengolahan pasca panen. (Gambar 7 dan 8). Pasca panen,
kopi diolah dengan mesin pulping manual yang hanya berkapasitas 50 liter/jam
kopi dan mesin pulping tersebut dikayuh dengan tangan (manual). Inovasi mesin
berkapasitas 1 ton-3 ton/jam, penggerak motor HONDA 5,5 PK/ diesel China 16
PK, type 2 (double) silinder, transmisi pulley dan sabuk karet V, dilengkapi
dengan kopling dan pelindung, bahan pengupas kulit : plat tembaga, dilengkapi
pipa saluran air.

Gambar 7. Petani menggunakan mesin Pulping Manual

48

Gambar 8. Petani menggunakan Pulping Penggerak


b. Ketersediaan Dana
Keterbatasan modal dalam berusahatani merupakan masalah klasik hampir
di semua daerah pertanian, khususnya usahatani kopi. Kondisi inilah yang
menyebabkan para petani tidak mempunyai kemampuan untuk meningkatkan
skala produksinya. Dengan modal yang terbatas sangat sulit bagi petani untuk
mengelola usahataninya, apalagi untuk menambah lahan pertaniannya. Petani
sangat membutuhkan dana dalam menjalankan usahataninya. Petani sangat
enggan meminjam modal ke bank, karena dibutuhkan prosedur yang rumit dan
adanya agunan. Lembaga keuangan yang terdapat di Humbang Hasundutan yaitu
BRI, BPR dan Bank Sumatera Utara serta CU yang masih baru dikembangkan.
c. Lembaga Pembina, Penelitian, dan Pelatihan
Pemerintah daerah melalui dinasnya yaitu Dinas Pertanian yang
berhubungan langsung dalam pembinaan melakukan penyuluhan kepada
kelompok tani, namun hal ini tidak dilaksanakan secara berkelanjutan. Lembaga
Pembina, penelitian dan pelatihan belum ada di Humbang Hasundutan, padahal
petani sangat membutuhkannya. Petani juga sangat membutuhkan dukungan
pemerintah khususnya dalam pembinaan dan pendampingan pemerintah langsung
kepada petani agar dapat mengembangkan produktivitas kopi.
Menurut Surat Keputusan Mentan no: 205/Kpts/SR.120/4/2005, kopi
arabika Sigarar Utang dengan produktivitas rata-rata 1500 kg/ha, untuk populasi
1600 pohon/ha. Pembuahan terus-menerus mengikuti pola sebaran hujan dengan
biji berukuran besar, agak rentan terhadap serangan hama bubuk buah, agak

49

rentan serangan nematoda Radopholus similis, dan agak tahan tahan terhadap
penyakit karat daun. Untuk memperoleh citarasa baik disarankan ditanam > 1000
m dpl, tipe iklim A C dengan sebaran hujan merata sepanjang tahun. Informasi
seperti ini sangat dibutuhkan oleh petani, karena dari segi budidaya Humbang
Hasundutan hanya mampu memproduksi 880kg kopi per ha.
d. Pemasaran Kopi
Saluran pemasaran kopi yang terjadi dimulai dari petani kopi menjual kopi
kepada pengumpul di Desa atau menjual langsung kepada pengumpul di Pasar.
Pengumpul di Desa menjual kopi ke pedagang pengumpul di Pasar kemudian di
angkut ke Medan untuk dijual kepada Eksportir. Saluran pemasaran ini membuat
harga di petani tidak layak, karena harga sering kali dikuasai oleh pedagang
pengumpul di Pasar. Petani yang termasuk anggota APKLO selalu memperoleh
harga yang lebih tinggi dari petani yang tidak termasuk anggota APKLO. Harga
yang diperoleh petani dari pengumpul sekitar Rp 9.000,00 per liter sedangkan
harga yang diberlakukan APKLO adalah Rp 11.000,00 hingga 13.000,00 per liter.
e. Dukungan Kebijakan Pemerintah Daerah dan Pelaksanaanya
Pemerintah telah memberi dukungan bagi pengembangan agribisnis kopi
di Humbang Hasundutan, khususnya pembentukan kelompok tani. Pembentukan
kelompok tani ini bertujuan agar mempermudah pembagian pupuk subsidi dan
pembinaan. Hal ini tidak berkelanjutan, sehingga petani sulit mengembangkan
usahanya. Kelompok tani di Kecamatan Dolok Sanggul berjumlah 158 kelompok,
di Kecamatan Lintong Nihuta berjumlah 115 kelompok dan di Kecamatan
Paranginan sebanyak 35 kelompok.
Dukungan pemerintah dalam pengolahan kopi belum sepenuhnya
terlaksana. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak pemerintah, pemerintah
sudah pernah memberikan mesin untuk pengolahan, tetapi tidak digunakan oleh
masyarakat karena tidak mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Dalam hal
ini masyarakat membutuhkan pembinaan dari pemerintah.
f. Industri Pengolahan Kopi
Industri pengolahan kopi di Humbang Hasundutan sulit berkembang, hal
ini disebabkan rendahnya tingkat pengetahuan dan modal yang dimiliki oleh
masyarakat. Beberapa tahun yang lalu ada sebuah industri yang mengolah kopi

50

untuk siap seduh yang menjadi oleh-oleh khas Humbang Hasundutan dari
Kecamatan Lintong Nihuta. Industri tersebut tutup karena kekurangan modal dan
promosi. Industri pengolahan kopi yang ada di Humbang Hasundutan adalah
pengolahan kopi sampai pengeringan Osas, dan usaha ini dikembangkan oleh
investor karena membutuhkan modal yang cukup besar.
g. Kemitraan Usaha
Pada umumnya budidaya kopi dilakukan sendiri oleh petani dengan lahan
yang telah diwariskan oleh orangtua turun temurun, diolah sendiri dan hanya
mengandalkan kesuburan tanah. Kemitraan usaha hanya dilakukan oleh
pengumpul di Pasar dengan pihak Eksportir Medan. Akibatnya petani hanya bisa
menerima harga yang telah ditentukan oleh pengumpul.
h. Bibit Kopi Bermutu
Lembaga penelitian bibit bermutu belum ada di Humbang Hasundutan,
padahal petani sangat membutuhkan lembaga ini untuk dapat mengembangkan
produksi kopi. Petani menggunakan bibit dari hasil produksi kopi mereka.
Menurut petani syarat bibit kopi baik adalah induk harus berumur paling sedikit 7
tahun, induk harus sehat, bebas penyakit. Induk harus dari varietas hybrid
(berbuah banyak, cepat berbuah), bibit harus dari buah cerry yang sudah benarbenar masak/matang/biji merah. Bantuan penyediaan bibit bermutu ini sangat
dibutuhkan oleh petani.
i. Pengendalian Hama Penyakit dan Pemeliharaan
Penyakit kopi yang sering dihadapi adalah pembusukkan buah kopi,
setengah dari buah kopi membusuk, sehingga hasil produksi kopi menurun.
Banyak petani yang tidak peduli untuk memberantas hama penyakit ini, petani
hanya menunggu alam saja yang akan menghentikannya. Petani APKLO
memberantas dengan hypotan, tetapi karena harganya mahal dan petani yang lain
tidak peduli, maka kopi yang dimiliki juga masih terserang hama. Hypotan juga
sulit dibeli, pihak APKLO membeli dari Jember dengan harga Rp 10.000,00 per
bungkus sudah termasuk dengan uang kirim. Petani sulit untuk membeli pupuk
dan pemberantas hama penyakit karena tingginya harga beli. Harga pupuk yang
paling mahal adalah TSP sebesar Rp 15.000 per kg. Pemupukan dilakukan 2 kali

51

selama setahun. Hal inilah yang mengakibatkan sulitnya perkembangan agribisnis


kopi di Humbang Hasundutan.

6.2 Faktor Eksternal


Berdasarkan hasil wawancara dan pengisian kuisioner dan analisis
terhadap sistem agribisnis kopi yang sudah berkembang di Humbang Hasundutan,
didapatkan faktor-faktor eksternal yang menjadi peluang dan ancaman dalam
pengembangan agribisnis kopi di Humbang Hasundutan, yaitu sebagai berikut :

6.2.1 Peluang
Faktor peluang adalah bagian dari faktor eksternal. Faktor-faktor tersebut
dianggap sebagai suatu potensi yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan
agribisnis kopi di Humbang Hasundutan. Potensi tersebut harus dimanfaatkan
untuk mencapai tujuan yang diharapkan, peluang tersebut terdiri dari :
a. Otonomi Daerah
Pemberlakuan UU No.22 tahun 1999 mulai tahun 2000, menimbulkan
dampak

yang

sangat

besar

bagi

pemerintah

daerah,

karena

dengan

diberlakukannya undang-undang tersebut maka pemerintah daerah mempunyai


wewenang penuh dalam mengadakan pembangunan di daerahnya amsing-masing.
Pembangunan yang dilaksanakan disesuaikan dengan kondisi dan peluang yang
dimiliki oleh daerah tersebut. Oleh sebab itu, karena 22.707 Ha dari total luas
tanaman perkebunan 33.599 Ha Humbang Hasundutan ditanami kopi, maka sudah
selayaknya pembangunan agribisnis kopi lebih diperhatikan oleh pemerintah.
b. Tumbuhnya Asosiasi
APKLO (Asosiasi Petani Kopi Lintong Organik) berdiri pada tanggal 21
Oktober 2003. Asosiasi ini dimulai dari satu kelompok tani dan setelah 2 tahun
banyak kelompok tani yang bergabung menjadi 14 kelompok dengan jumlah
anggota 350 anggota. APKLO didirikan dengan tujuan untuk menguatkan petani
kopi untuk dapat berdiri sendiri dalam mengolah dan memasarkan kopinya sendiri
(untuk bisa bersaing dengan pihak ketiga) yang selalu menentukan harga kopi
sehingga petani tidak pernah mendapatkan harga yang layak. Adanya Asosiasi ini
dapat membantu petani untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Apabila

52

harga kopi di pedagang pengumpul sekitar Rp 9.000 per liter, maka APKLO
membeli kopi dari petani dengan harga Rp 11.000,00 hingga Rp 13.000,00 per
liter. Terkadang hal ini yang membuat pertentangan antara APKLO dengan pihak
pengumpul. Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan Indonesia harga rata-rata
kopi Arabika Indonesia sebesar Rp 17.936,00 per kg dan harga dunia sebesar Rp
191.000,00 per kg.
c. Pasar yang Masih Terbuka baik Domestik maupun Luar Negeri
Ekspor kopi Sumatera Utara hingga April 2008 telah mencapai 71,68 juta
dolar AS dari volume ekspor biji dan bubuk kopi sebanyak 21.969 ton. Menurut
data APKLO kopi Humbang Hasundutan telah diekspor keluar negeri sebesar 200
ton pada tahun 2008. Hal ini menunjukkan bahwa kopi Humbang Hasundutan
memberi kontribusi terhadap kopi ekspor Sumatera Utara.

Kopi Humbang

Hasundutan juga dijual untuk wilayah antar Kabupaten, khususnya daerah


Siborong-Siborong Tapanuli Utara. Volume Ekspor dan Impor Kopi Indonesia
pada Tahun 2003- 2007 dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2, terlihat
pada tahun 2007 negara Indonesia mengimpor kopi delapan kali lebih besar dari
pada tahun 2006. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan kopi dalam negeri
semakin meningkat. Disamping itu jumlah kopi ekspor juga berfluktuatif, hal ini
juga memberi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produktivitas kopi
Indonesia.
d. Tumbuhnya Credit Union (CU)
Kabupaten Humbang Hasundutan memiliki beberapa lembaga keuangan
permodalan, seperti BRI, BPR dan BPDSU, CU dan lembaga keuangan lainnya.
Lembaga permodalan tersebut menyediakan fasilitas kredit bagi usaha kecil dan
menengah yang dapat dimanfaatkan para petani untuk mengatasi masalah modal
usahanya. Petani lebih banyak meminjam modal kepada CU, karena prosedur
dalam koperasi lebih mudah dibandingkan dengan bank. Disamping itu petani
juga menjadi anggota dari CU dan setiap akhir tahun petani memperoleh Sisa
Hasil Usaha dari CU. Hal ini memberi peluang bagi masyarakat dalam
pengembangan agribisnis kopi di Humbang Hasundutan.

53

e. Perdagangan Bebas
Perdagangan bebas merupakan peluang dalam memasarkan kopi, hal ini
juga menuntut petani untuk memperbaiki kualitas kopi yang dihasilkan.
Disamping itu, Humbang Hasundutan telah mempunyai jaringan ekspor,
khususnya APKLO dengan Jepang. Hal ini memberi peluang besar jika petani
terus memperbaiki kualitas kopinya.
f. Perkembangan Teknologi Komunikasi dan Informasi
Berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi memungkinkan
aksesibilitas terhadap informasi pasar bagi masyarakat Humbang Hasundutan.
Untuk mengatasi permasalahan budidaya, pengolahan serta pemasaran kopi,
teknologi dan informasi sangat dibutuhkan, seperti internet. Adanya internet
memberi manfaat yang cukup besar bagi petani karena informasi mengenai harga
kopi, racun pemberantas hama penyakit dan informasi pemasaran kopi dapat
diakses dengan mudah. Telekomunikasi juga mempermudah petani untuk
berkomunikasi dengan petani lainnya serta dengan pihak investor.
g. Permintaan Kopi Organik
Tujuan APKLO berdiri tidak hanya sebatas untuk meningkatkan harga
kopi di petani, namun juga karena didukung oleh Fair Trade. Jepang sebagai
negara tujuan kopi APKLO meninjau lokasi budidaya kopi APKLO di Lintong
Nihuta dan meminta APKLO untuk mengembangkan kopi organik. Hal ini
disebabkan kebutuhan konsumen akan kopi organik semakin meningkat,
khususnya negara Jepang. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pihak
APKLO, citarasa, kualitas dan produksi kopi organik dengan kopi non organik
berbeda. Kebutuhan konsumen akan kopi organik memberi peluang bagi petani
untuk mengembangkan usahanya menuju kopi organik karena harga kopi organik
dua kali lebih mahal dari kopi non organik atau bahkan lebih.

6.2.2 Ancaman
Faktor ini merupakan bagian dari faktor eksternal, faktor tersebut dianggap
sebagai ancaman yang bisa menjadi hambatan dalam Pengembangan Agribisnis
Kopi Humbang Husundutan. Faktor-faktor tersebut harus dihindari dan

54

diusahakan upaya penanggulangannya secara baik agar dapat mencapai tujuan


yang diharapkan. Ancaman tersebut terdiri dari :
a. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi menunjukkan tingkat perbaikan yang mendasar
dalam perekonomian Indonesia, juga berlaku di Kabupaten Humbang Hasundutan
sebagaimana dengan daerah lainnya. Namun pertumbuhan ekonomi yang tidak
pasti, tingginya tingkat inflasi dan rendahnya nilai tukar rupiah merupakan
ancaman yang dapat menghambat pelaksanaan Pengembangan Agribisnis Kopi
Humbang Husundutan. Hal tersebut juga menyebabkan rendahnya daya beli
masyarakat sehingga rendahnya produksi petani. Walaupun demikian laju
pertumbuhan PDRB Kabupaten Humbang Hasundutan untuk tahun 2006 dan
2007 meningkat (Tabel 14).

Tabel 14. PDRB dan Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Humbang Hasundutan
Tahun

PDRB (Juta Rp)

Laju Pertumbuhan PDRB (%)

2006

1.535.581,53

5,77

2007

1.711.728,32

6,05

Sumber : Humbang Hasundutan dalam Angka, (2008)

Berdasarkan diatas, kondisi perekonomian Humbang Hasundutan, laju


pertumbuhan PDRB mengalami peningkatan dari tahun 2006-2007 dan PDRB
juga mengalami peningkatan pendapatan.

b. Ketidakpastian Iklim Global


Faktor alam memegang peranan penting dalam kegiatan usahatani
dibidang pertanian. Oleh karena itu, ketidakpastian iklim global yang disebabkan
oleh pemanasan bumi dan terjadinya penebangan hutan, bencana alam seperti
banjir dan kekeringan menjadi ancaman dalam kegiatan agribisnis kopi.
Perubahan iklim di Humbang Hasundutan ditandai dengan ketidakpastian antara
musim kemarau dan musim hujan. Perubahan iklim ini dapat mempengaruhi kopi
yang sedang berbunga, bunga kopi berguguran akibat hujan deras dan angin
kencang. Hal ini dapat mempengaruhi tingkat produksi kopi.

55

c. Penguasaan Lahan Kopi oleh Pihak Luar


Kabupaten Humbang Hasundutan memiliki kesuburan tanah yang sesuai
untuk pengembangan kopi. Daerah ini sering dikunjungi oleh investor, khususnya
Jepang. Pada bulan Juni lalu investor dari Swiss meninjau daerah Lintong Nihuta
dan Paranginan. Berdasarkan informasi dari petani, investor tersebut membeli
lahan 5 Ha untuk budidaya kopi. Ini menjadi sebuah ancaman, diperkirakan
investor akan mempergunakan teknologi yang tepat guna, sedangkan petani hanya
menggunakan teknologi tradisonal. Hal ini membuat produktivitas dan kualitas
kopi petani tidak dapat bersaing dengan kopi investor, sehingga harga kopi
dikuasai oleh investor.
d. Penegakan Hukum dan Peraturan Perundang-undangan
Situasi keamanan dan politik yang tidak menentu bisa menjadi ancaman
bagi pengembangan agribisnis kopi. Pemerintah harus menjaga situasi penegakan
hukum dan peraturan perundang-undangan, khususnya dalam membangun suatu
wilayah otonomi daerah.
e. Kopi Sejenis dari Wilayah Lain
Semakin

banyaknya

kopi

yang

dihasilkan

oleh

kabupaten

lain

menyebabkan konsumen mempunyai banyak pilihan dan terjadinya kelebihan


penawaran di pasar (Medan) yang menyebabkan harga kopi tersebut rendah.
f. Fluktuasi Harga Kopi
Petani sangat merasa terancam dengan harga kopi yang tidak menentu.
Pada saat panen raya harga kopi turun, tetapi saat musim paceklik harga kopi
menurun, sehingga pendapatan petani menjadi menurun.

56

VII FORMULASI STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KOPI


HUMBANG HUSUNDUTAN

7.1 Analisis Metode IFE dan EFE


Analisis ini bertujuan untuk menilai dan mengevaluasi faktor-faktor
strategis yang berpengaruh terhadap keberhasilan strategi yang akan dilaksanakan
dalam Pengembangan Agribisnis Kopi di Humbang Husundutan. Setelah
dilakukan pembobotan terhadap faktor-faktor strategis baik internal maupun
eksternal melalui pendapat/wawancara dengan Kepala Bidang Perkebunan Dinas
Pertanian, Kepala Bappeda (Badan Perencana Pembangunan Daerah), Ketua
Asosiasi Petani Kopi Lintong Organik, Ketua Kelompok Tani Kopi di tiap
kecamatan yang terpilih, serta Pedagang pengumpul dan Pengusaha industri kopi
yang ada di Kabupaten Humbang Hasundutan, hasil akhir dari analisis IFE dan
EFE dapat dijelaskan sebagai berikut :

7.1.1 Analisis Matriks IFE


Hasil dari matriks IFE diperoleh nilai indeks akumulatif untuk elemen
kekuatan sebesar 1,338, sedangkan untuk elemen kelemahan diperoleh 0,992.
Hal ini menunjukkan bahwa responden memberikan respon yang tinggi terhadap
faktor kekuatan dan respon yang kecil kepada faktor kelemahan, sedangkan total
nilai bobot skor untuk faktor internal sebesar 2,330. Melihat hasil analisis
tersebut, menunjukkan bahwa Pengembangan Agribisnis Kopi di Humbang
Husundutan dibawah rata-rata dalam kekuatan internal secara keseluruhannya,
nilai bobot skor untuk elemen kekuatan lebih besar dari nilai bobot skor elemen
kelemahan, maka kita dapat menyatakan bahwa dalam Pengembangan Agribisnis
Kopi di Humbang Husundutan kekuatan yang dimiliki daerah mampu mengatasi
kelemahan yang ada. Namun hasil skor total pembobotan 2,330 (di bawah ratarata) berarti kondisi Pemerintah Daerah/Dinas Pertanian Subdinas Perkebunan dan
masyarakat/petani secara internal (kekuatan dan kelemahan) belum baik (kuat),
dalam upaya pengembangan kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan. Hasil
akhir dari analisis IFE (Tabel 15).

56

Tabel 15. Matriks IFE Pengembangan Agribisnis Kopi di Kabupaten Humbang


Hasundutan
No
A
1
2
3
4
5
B
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Faktor Strategis Internal


Bobot
Rating
Bobot Skor
Kekuatan
Keadaan Sumberdaya Alam
0,077
4
0,308
Ketersediaan Lahan
0,063
3
0,190
Keamanan Berusaha
0,060
3
0,181
Akses Transportasi
0,080
4
0,319
Keadaan Sumberdaya Manusia
0,085
4
0,341
Total
1,338
Kelemahan
Penggunaan Teknologi Tradisional
0,041
1
0,041
Ketersediaan Dana
0,080
2
0,159
Lembaga Pembina, Penelitian, dan
Pelatihan
0,085
1
0,085
Pemasaran Kopi
0,085
1
0,085
Dukungan Kebijakan Pemerintah Daerah
dan Pelaksanaanya
0,082
2
0,165
Industri Pengolahan Kopi
0,066
2
0,132
Kemitraan Usaha
0,049
2
0,099
Bibit Kopi Bermutu
0,080
2
0,159
Pengendalian Hama Penyakit dan
Pemeliharaan
0,066
1
0,066
0,992
Total
1,000
2,330

Berdasarkan matriks IFE di atas dapat dijelaskan lebih rinci tentang faktorfaktor yang mempengaruhi pengembangan agribisnis kopi, baik yang termasuk
elemen kekuatan dan kelemahan, yaitu sebagai berikut :
A. Elemen Kekuatan
Keadaaan sumberdaya manusia memiliki bobot 0,085, nilai ini merupakan
skor tertinggi dalam faktor kekuatan dan menunjukkan bahwa faktor ini memiliki
dampak yang sangat penting terhadap Pengembangan Agribisnis Kopi di
Humbang Husundutan, jika dibandingkan dengan faktor kekuatan lainnya.
Sedangkan nilai rating empat berarti bahwa faktor keadaan sumberdaya manusia
yang dihasilkan memberi pengaruh yang sangat besar terhadap Pengembangan
Agribisnis Kopi di Humbang Husundutan.
Akses transportasi memiliki bobot 0,080, skor ini menunjukkan bahwa
faktor ini memiliki dampak yang sangat penting untuk Pengembangan Agribisnis
Kopi di Humbang Husundutan. Nilai rating empat berarti bahwa faktor akses

57

transportasi yang dihasilkan memberi pengaruh yang sangat besar terhadap


Pengembangan Agribisnis Kopi di Humbang Husundutan.
Keadaan sumberdaya alam memiliki bobot 0,077, skor ini menunjukkan
bahwa faktor ini memiliki dampak yang penting untuk Pengembangan Agribisnis
Kopi di Humbang Husundutan. Nilai rating empat berarti bahwa faktor keadaan
sumberdaya alam yang dihasilkan memberi pengaruh yang sangat besar terhadap
Pengembangan Agribisnis Kopi di Humbang Husundutan.
Ketersediaan lahan memiliki bobot 0,063, skor ini menunjukkan bahwa
faktor ini memiliki dampak yang penting untuk Pengembangan Agribisnis Kopi di
Humbang Husundutan. Nilai rating tiga berarti bahwa faktor ketersediaan lahan
yang dihasilkan memberi pengaruh yang besar terhadap Pengembangan
Agribisnis Kopi di Humbang Husundutan.
Keamanan berusaha memiliki bobot 0,060, skor ini menunjukkan bahwa
besar dampak dari faktor ini dibandingkan dengan faktor-faktor kekuatan dalam
Pengembangan Agribisnis Kopi di Humbang Husundutan agak penting, namun
dari segi rating bernilai tiga berarti sangat berpengaruh terhadap Pengembangan
Agribisnis Kopi di Humbang Husundutan.
B. Elemen Kelemahan
Lembaga pembina, penelitian, dan pelatihan dan pemasaran kopi memiliki
bobot 0,085, skor ini menunjukkan bahwa kedua faktor ini memiliki dampak yang
sangat penting untuk Pengembangan Agribisnis Kopi di Humbang Husundutan,
jika dibandingkan dengan faktor-faktor kelemahan lainnya.

Nilai rating satu

untuk lembaga pembina, penelitian, dan pelatihan dan pemasaran kopi


menunjukkan bahwa kelemahan tersebut sulit diatasi dalam Pengembangan
Agribisnis Kopi di Humbang Husundutan.
Dukungan kebijakan Pemerintah Daerah dan pelaksanaanya memiliki
bobot 0,082, skor ini menunjukkan bahwa faktor ini memiliki dampak yang
sangat penting untuk Pengembangan Agribisnis Kopi di Humbang Husundutan,
jika dibandingkan dengan faktor-faktor kelemahan lainnya. Nilai rating dua
menunjukkan bahwa kelemahan tersebut agak sulit diatasi dalam Pengembangan
Agribisnis Kopi di Humbang Husundutan

58

Ketersediaan dana dan bibit kopi bermutu memiliki bobot 0,080, skor ini
menunjukkan bahwa kedua faktor ini memiliki dampak yang sangat penting untuk
Pengembangan Agribisnis Kopi di Humbang Husundutan, jika dibandingkan
dengan faktor-faktor kelemahan lainnya. Nilai rating dua menunjukkan bahwa
kelemahan tersebut agak sulit diatasi dalam Pengembangan Agribisnis Kopi di
Humbang Husundutan.
Industri pengolahan kopi dan pengendalian hama penyakit dan
pemeliharaan memiliki bobot 0,066, skor ini menunjukkan bahwa kedua faktor ini
memiliki dampak yang penting untuk Pengembangan Agribisnis Kopi di
Humbang Husundutan, jika dibandingkan dengan faktor-faktor kelemahan
lainnya. Nilai rating dua untuk industri pengolahan kopi menunjukkan bahwa
kelemahan tersebut agak sulit diatasi dalam Pengembangan Agribisnis Kopi di
Humbang Husundutan. Nilai rating satu untuk pengendalian hama penyakit
menunjukkan bahwa kelemahan tersebut sulit diatasi dalam Pengembangan
Agribisnis Kopi di Humbang Husundutan.
Kemitraan usaha memiliki bobot 0,049, skor ini menunjukkan bahwa
faktor ini memiliki dampak yang penting untuk Pengembangan Agribisnis Kopi di
Humbang Husundutan, jika dibandingkan dengan faktor-faktor kelemahan
lainnya. Nilai rating dua untuk kemitraan usaha menunjukkan bahwa kelemahan
tersebut agak sulit diatasi dalam Pengembangan Agribisnis Kopi di Humbang
Husundutan.
Penggunaan teknologi tradisional memiliki bobot 0,041, skor ini
menunjukkan bahwa faktor ini memiliki dampak agak penting untuk
Pengembangan Agribisnis Kopi di Humbang Husundutan, jika dibandingkan
dengan faktor-faktor kelemahan lainnya. Nilai rating satu menunjukkan bahwa
kelemahan tersebut sulit diatasi dalam Pengembangan Agribisnis Kopi di
Humbang Husundutan.

7.1.2 Analisis Matriks EFE


Hasil analisa matriks EFE untuk elemen peluang diperoleh nilai indeks
kumulatif skor sebesar 2,038, sedangkan nilai bobot skor untuk elemen ancaman
sebesar 0,756. Hal ini menunjukkan bahwa responden memberikan respon yang

59

cukup tinggi terhadap faktor peluang dan respon yang lebih kecil terhadap faktor
ancaman. Untuk total nilai bobot skor untuk faktor eksternal sebesar 2,795.
Melihat hasil analisis tersebut, dengan nilai bobot skor untuk elemen peluang
lebih besar dari bobot skor elemen ancaman, maka kita dapat mengatakan bahwa
dalam

Pengembangan

Agribisnis

Kopi

Humbang

Husundutan

dapat

memanfaatkan peluang sebaik mungkin. Untuk mengetahui lebih jelas hasil akhir
dari analisis EFE (Tabel 16).

Tabel 16. Matriks EFE Pengembangan Agribisnis Kopi di Kabupaten Humbang


Hasundutan
No
A
1
2
3
4
5
6
7
B
1
2
3
4
5
6

Faktor Eksternal
Bobot
Rating Bobot Skor
Peluang
Otonomi Daerah
0,083
4
0,333
Tumbuhnya Asosiasi
0,090
4
0,359
Pasar yang Masih Terbuka baik Domestik
maupun Luar Negeri
0,087
3
0,260
Tumbuhnya CU
0,087
3
0,260
Perdagangan Bebas
0,090
3
0,269
Perkembangan Teknologi Komunikasi dan
Informasi
0,093
3
0,279
Permintaan Kopi Organik
0,093
3
0,279
Total
2,038
Ancaman
Pertumbuhan Ekonomi Nasional
0,054
2
0,109
Ketidakpastian iklim global
0,058
2
0,115
Fluktuasi harga kopi
0,080
2
0,160
Penegakan Hukum dan Peraturan Perundangundangan
0,058
2
0,115
Kopi sejenis dari wilayah lain
0,071
2
0,141
Penguasaan Lahan Kopi Oleh Pihak Luar
0,058
2
0,115
Total

1,000

0,756
2,795

Dari matriks EFE dapat dijelaskan lebih rinci tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi Pengembangan Agribisnis Kopi di Humbang Hasundutan, baik
yang termasuk elemen peluang maupun elemen ancaman, yaitu sebagai berikut ;
A. Elemen Peluang
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi dan permintaan kopi
organic memiliki bobot 0,093, skor ini menunjukkan bahwa kedua faktor ini

60

memiliki dampak yang sangat penting terhadap Pengembangan Agribisnis Kopi di


Humbang Hasundutan jika dibandingkan dengan faktor peluang lain yang dimiliki
Kabupaten Humbang Hasundutan. Sedangkan nilai rating tiga berarti kemampuan
merespon peluang tersebut dalam pengembangan agribisnis kopi adalah baik.
Tumbuhnya asosiasi, dan perdagangan bebas memiliki bobot 0,090, skor
ini menunjukkan bahwa kedua faktor ini memiliki dampak yang sangat penting
terhadap Pengembangan Agribisnis Kopi di Humbang Hasundutan jika
dibandingkan dengan faktor peluang lain yang dimiliki Kabupaten Humbang
Hasundutan. Nilai rating empat untuk tumbuhnya asosiasi berarti kemampuan
merespon peluang tersebut dalam pengembangan agribisnis kopi sangat baik.
Sedangkan nilai rating tiga untuk perdagangan bebas berarti kemampuan
merespon peluang tersebut dalam pengembangan agribisnis kopi baik.
Pasar yang masih terbuka baik domestik maupun luar negeri dan
tumbuhnya CU memiliki bobot 0,087, skor ini menunjukkan bahwa kedua faktor
ini memiliki dampak yang penting terhadap Pengembangan Agribisnis Kopi di
Humbang Hasundutan jika dibandingkan dengan faktor peluang lain yang dimiliki
Kabupaten Humbang Hasundutan. Nilai rating tiga menunjukkan bahwa kedua
faktor tersebut

mampu

merespon

peluang

dengan

baik

dalam

upaya

pengembangan agribisnis kopi.


Otonomi Daerah memiliki bobot 0,083, skor ini menunjukkan bahwa
faktor ini memiliki dampak yang agak penting terhadap Pengembangan Agribisnis
Kopi di Humbang Hasundutan jika dibandingkan dengan faktor peluang lain yang
dimiliki Kabupaten Humbang Hasundutan. Nilai rating tiga menunjukkan bahwa
faktor tersebut

mampu

merespon

peluang

dengan

baik

dalam

upaya

pengembangan agribisnis kopi.


B. Elemen Ancaman
Fluktuasi harga kopi memiliki bobot 0,080, skor ini menunjukkan bahwa
faktor ini memiliki dampak yang sangat penting terhadap Pengembangan
Agribisnis Kopi di Humbang Hasundutan jika dibandingkan dengan faktor
ancaman lain yang dihadapi di Humbang Hasundutan. Nilai rating dua berarti
faktor ancaman tersebut agak kuat pengaruhnya terhadap Pengembangan
Agribisnis Kopi di Humbang Hasundutan.

61

Kopi sejenis dari wilayah lain memiliki bobot 0,071, skor ini menunjukkan
bahwa faktor ini memiliki dampak yang sangat penting terhadap Pengembangan
Agribisnis Kopi di Humbang Hasundutan jika dibandingkan dengan faktor
ancaman lain yang dihadapi di Humbang Hasundutan. Nilai rating dua berarti
faktor ancaman tersebut agak kuat pengaruhnya terhadap Pengembangan
Agribisnis Kopi di Humbang Hasundutan.
Ketidakpastian iklim global, penegakan hukum dan peraturan perundangundangan, dan penguasaan lahan kopi oleh pihak luar sama-sama memiliki bobot
0,058, skor ini menunjukkan bahwa faktor ini memiliki dampak yang penting
terhadap Pengembangan Agribisnis Kopi di Humbang Hasundutan jika
dibandingkan dengan faktor ancaman lain yang dihadapi di Humbang
Hasundutan. Nilai rating dua berarti faktor ancaman tersebut agak kuat
pengaruhnya terhadap Pengembangan Agribisnis Kopi di Humbang Hasundutan.
Pertumbuhan Ekonomi memiliki bobot 0,054, skor ini menunjukkan
bahwa faktor ini memiliki dampak yang agak penting terhadap Pengembangan
Agribisnis Kopi di Humbang Hasundutan jika dibandingkan dengan faktor
ancaman lain yang dihadapi di Humbang Hasundutan. Nilai rating dua berarti
faktor ancaman tersebut agak kuat pengaruhnya terhadap Pengembangan
Agribisnis Kopi di Humbang Hasundutan.

7.2 Analisis Matriks SWOT


Setelah dilakukan analisis lingkungan internal dan eksternal maka
dilakukan proses pemaduan antara elemen kekuatan, kelemahan, peluang dan
ancaman dengan matriks SWOT. Tujuan dari pemanduan ini adalah untuk
menentukan alternatif strategi yang dipilih. Dari hasil matriks SWOT dapat
diperoleh

beberapa strategi alternatif dalam Pengembangan Agribisnis Kopi

(Tabel 17).

62

Tabel 17. Matriks SWOT Pengembangan Agribisnis Kopi di Kabupaten


Humbang Hasundutan
Kekuatan
Faktor-faktor (S-Strenghts)
1. Keadaan Sumberdaya
Internal
Manusia
2. Ketersediaan lahan
3. Keamanan berusaha
4. Akses transportasi
5. Keadaan Sumberdaya
Alam

Kelemahan (W-Weakness)
1. Penggunaan teknologi
tradisional
2. Ketersediaan dana
3. Lembaga pembina,
penelitian, dan pelatihan
4. Pemasaran kopi
5. Dukungan kebijakan
Pemerintah daerah dan
pelaksanaanya
6. Industri pengolahan kopi
7. Kemitraan usaha
8. Bibit kopi bermutu
9. Pengendalian hama
Faktor-faktor
penyakit
Eksternal
Strategi S-O
Strategi W-O
Peluang
1. Meningkatkan kualitas
1. Membentuk dan
(O-Oppurtunities)
1. Otonomi Daerah
SDM melalui pelatihan
membina lembaga
dan memperluas usahatani
penelitian untuk R&D
2. Tumbuhnya Asosiasi
3. Pasar yang Masih
kopi yang berkualitas dan
serta mendukung
jaringan pemasaran. (S1,
asosiasi kopi.( W1, W3,
Terbuka baik Domestik
maupun luar negeri
S2, S3, S5, O1, O2, O3,
W5, W6, W8, W9, O1,
O2, O3, O5, O6)
4. Tumbuhnya CU
O4, O5, O6, O7)
2. Menguatkan modal untuk
5. Perdagangan Bebas
usaha agribisnis dan
6. Perkembangan
Teknologi Komunikasi
memperluas jaringan
dan Informasi
pemasaran. ( W2, W4,
W6, W7, O2, O4)
7. Permintaan Kopi
Organik
Strategi S-T
Strategi W-T
Ancaman (T-Threats)
1. Memperbaiki rantai
1. Pertumbuhan Ekonomi 1. Mengembangkan kopi
2. Ketidakpastian iklim
organik, meningkatkan
pemasaran kopi melalui
global
mutu kopi melalui pasca
lembaga yang terkait.
3. Fluktuasi harga kopi
panen yang baik, dan
(W1, W2, W3, W4, W5,
4. Penegakan Hukum dan
membuat peraturan bagi
W6, W7, W8, T1, T3,
T4, T5, T6)
Peraturan Perundangmitra usaha.( S1, S2, S3,
S4, S5, T1, T2, T3, T4,
2. Menciptakan kerjasama
undangan
yang baik dengan pihak
5. Kopi sejenis dari
T5, T6)
investor (W1, W2, W4,
wilayah lain
2. Melakukan pembinaan,
W6, W7, W8, W9, T1,
6. Penguasaan Lahan
pengembangan
T2, T3, T5, T6)
Kopi Oleh Pihak Luar
pemberdayaan
kelembagaaan dan
manajemen usahatani.
(S1, S2, S3, S4, S5, T1,
T2, T3, T4, T5, T6)

63

1. Strategi Strenghts-Oppurtunities (S-O)


Strategi ini disusun dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki dan
memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang diusulkan adalah meningkatkan
kualitas SDM melalui pelatihan dan memperluas usahatani kopi yang berkualitas
dan jaringan pemasaran.
Strategi ini untuk meningkatkan sumberdaya manusia melalui pelatihan
baik dalam budidaya, pengolahan dan pemasaran. Hal ini didukung oleh
ketersediaan lahan yang dimiliki Humbang Hasundutan yang sesuai untuk usaha
kopi. Disamping itu didukung dengan lancarnya akses tranportasi dan keamanan
dalam berusaha. Hal ini juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan peluang
pasar yang ada, tumbuhnya CU untuk menambah modal usaha, dan tumbuhnya
asosiasi serta teknologi komunikasi dan informasi yang dapat menambah
pengetahuan

dan

kualitas

sumberdaya

manusia

Humbang

Hasundutan.

Keberadaan Humbang Hasundutan juga sebagai otonomi daerah memberi peluang


dalam strategi ini, kebijakan pemerintah diharapkan ada suatu aturan/kebijakan
dalam sistem manajemen pemasaran kopi.
2. Strategi Weakness-Oppurtunities (W-O)
Strategi ini disusun untuk mengurangi kelemahan dengan memanfaatkan
peluang yang ada. Strategi ini terdiri dari dua strategi yang diusulkan, yaitu :
a. Membentuk dan membina lembaga penelitian untuk Research & Development
serta mendukung asosiasi kopi.
Humbang Hasundutan tidak memiliki lembaga penelitian untuk kopi.
Sebagai daerah otonomi daerah yang berpotensi untuk pengembangan kopi
semestinya daerah ini memiliki lembaga R&D. Petani bertani berdasarkan
pengetahuan dan pengalaman yang turun temurun dalam keluarganya,
menggunakan teknologi tradisional. Petani menggunakan bibit kopi dari hasil
panen, dengan cara memilih biji kopi yang paling baik. Banyak petani yang tidak
peduli untuk memberantas hama penyakit kopi. Hal ini mengakibatkan rendahnya
produktivitas kopi Humbang Hasundutan.
Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kopi, dapat
memberi bibit unggul bagi petani dan pemberantasan hama. Pemerintah juga
sebaiknya mendukung asoasi kopi yang ada, karena asosiasi ini memberi

64

kesejahteraan bagi petani. Disamping itu strategi ini juga didukung oleh
perkembangan dan teknologi komunikasi dan informasi yang dapat memberi
manfaat bagi petani.
b. Menguatkan modal untuk usaha agribisnis dan memperluas jaringan
pemasaran kopi.
Kegiatan pertanian yang masih sederhana disebabkan petani sulit untuk
memperoleh modal dalam mengembangkan usahanya. Tingginya harga sarana
produksi juga menjadi penghambat dalam pengembangan usahanya, khususnya
pemberantas hama. Demikian juga industri pengolahan kopi kekurangan modal
untuk pengembangan usahanya. Peminjaman modal melalui lembaga keuangan
yang ada harus dilalui dengan prosedur yang rumit bagi petani. Di lain pihak,
lembaga keuangan seperti bank memberikan pinjaman yang berisiko tinggi.
Kesulitan ini diharapkan dapat diatasi dengan kebijakan pemerintah, serta
memanfaatkan peluang yang ada, yaitu tumbuhnya CU yang administrasinya lebih
sederhana dari pada bank. Disamping itu terbukanya pasar domestik maupun luar,
serta adanya perdagangan bebas dapat memperluas jaringan pemasaran kopi
Humbang Hasundutan, khususnya Negara Jepang yang menjadi mitra usaha kopi
Lintong Nihuta.

Dengan adanya perkembangan teknologi, komunikasi dan

informasi, diharapkan dapat memperluas jaringan pemasaran seperti promosi kopi


lewat jaringan internet.
3. Strategi Strenghts-Threats (S-T)
Strategi ini merupakan strategi yang diajukan dengan menggunakan
kekuatan untuk menghindari ancaman bagi Pengembangan Agribisnis Kopi
Humbang Hasundutan. Strategi S-T diusulkan adalah :
a. Mengembangkan kopi organik, meningkatkan mutu kopi melalui pasca panen
yang baik, dan membuat peraturan bagi mitra usaha.
Kopi organik, mulai diusahakan oleh petani, khususnya petani yang
menjadi anggota APKLO. Kopi organik yang diusakan tidak murni organik,
tetapi APKLO akan berusaha membudidayakan kopi secara organik. Harga kopi
organik dua kali lebih mahal dari pada kopi peptisida atau bahkan lebih.
Diharapkan juga dengan pengembangan kopi organik ini, kopi Humbang
Hasundutan dapat bersaing dengan kopi sejenis dari daerah lainnya. Hal ini juga

65

didukung oleh ketersediaan lahan Humbang Hasundutan yang masih luas dan
subur serta sumberdaya manusia yang memadai untuk memperluas lokasi usaha.
Untuk menjaga kualitas kopi, penanganan pasca panen perlu diperhatikan,
pengolahan dan pengeringan yang tidak tepat dapat menurunkan kualitas kopi.
Menghindari penguasaan lahan kopi oleh pihak luar sebaiknya pemerintah
membuat kebijakan, bahwa investor dapat berusaha di Humbang Hasundutan,
dengan menanamkan modal bukan untuk membeli lahan.

Hal ini untuk

menghindari penggunaan lahan untuk usaha lainnya di masa yang akan datang.
Disamping itu pengusaha juga tidak dapat menetapkan harga kopi, tetapi
berdasarkan harga yang berlaku di pasar dan sesuai dengan mutu kopi.
b. Melakukan pembinaan, pengembangan pemberdayaan kelembagaaan dan
manajemen usahatani.
Peran kelembagaan sangat diperlukan dalam Pengembangan Agribisnis
Kopi di Humbang Hasundutan, hal ini bertujuan agar terjadi suatu alokasi
kesejahteraan ditingkat petani dengan baik. Kabupaten Humbang Hasundutan
telah membentuk kelompok tani pada setiap desa, namun kapasitas gerak dan
inovatif masih belum memadai dalam mengakses produksi, informasi dan sistem
pemasaran. Dengan latar kondisi usahatani seperti skala kepemilikan lahan yang
rendah, sistem petanian yang masih tradisional dan mutu produk yang beragam,
maka pembangunan agribisnis kopi membutuhkan suatu lembaga seperti Asosiasi
Petani Kopi Lintong Organik. Hal ini juga didukung oleh sumberdaya manusia
yang memadai.
4. Strategi Weakness-Threats (W-T)
Strategi ini disusun atas dasar meminimalkan kelemahan untuk
menghindari ancaman yang ada. Strategi W-T diusulkan adalah:
a. Memperbaiki rantai pemasaran kopi melalui lembaga yang terkait
Panjangnya jalur distribusi dan rantai pemasaran kopi di Humbang
Hasundutan menyebabkan rendahnya harga jual kopi yang dimiliki oleh petani,
akses petani untuk menjual langsung kepada pembeli sangat minim sekali.
Disamping petani yang tidak mau direpotkan oleh kegiatan memasarkan kopi,
harga kopi selalu ditetapkan oleh pedagang pengumpul. Dukungan dari
pemerintah sangat diperlukan untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan

66

membentuk sarana dan prasarana jual beli kopi pada ibukota Kabupaten atau pada
kecamatan yang sangat potensial untuk usaha kopi.
b. Menciptakan kerjasama yang baik dengan pihak investor
Kerjasama yang baik dengan pihak investor dapat memberikan
keuntungan bagi petani, khususnya dari segi teknologi. Untuk itu petani harus
tetap menjaga komunikasi yang baik dengan pihak investor. Peran pemerintah
juga sangat dibutuhkan dalam kemitraan usaha, yaitu sebagai katalisator
komunikasi antara petani dengan pihak swasta.

7.3 Analisis Matriks QSP


Berdasarkan analisis matriks SWOT, strategi yang diusulkan dalam
Pengembangan Agribisnis Kopi Humbang Husundutan antara lain:
1. Meningkatkan kualitas SDM melalui pelatihan dan memperluas usahatani
kopi yang berkualitas dan jaringan pemasaran.
2. Membentuk dan membina lembaga penelitian untuk R&D serta mendukung
asosiasi kopi.
3. Menguatkan modal untuk usaha agribisnis dan memperluas jaringan
pemasaran kopi.
4. Mengembangkan kopi organik, meningkatkan mutu kopi melalui pasca panen
yang baik, dan membuat peraturan bagi mitra usaha
5. Melakukan pembinaan, pengembangan pemberdayaan kelembagaaan dan
manajemen usahatani
6. Memperbaiki rantai pemasaran kopi melalui lembaga yang terkait.
7. Menciptakan kerjasama yang baik dengan pihak investor
Tahap

selanjutnya

adalah

tahap

pengambilan

keputusan

dengan

menggunakan matriks QSP. Analisis ini dilakukan untuk menentukan strategi


yang harus disusun oleh pemerintah daerah dalam Pengembangan Agribisnis Kopi
Humbang Husundutan. Tahap ini dilakukan melalui penilaian terhadap strategi
yang diusulkan oleh responden.
Hasil QSPM menunjukkan bahwa strategi yang menjadi prioritas utama
dengan nilai Total Attractiveness Score (TAS) sebesar 5,868 adalah strategi
Membentuk dan membina lembaga penelitian untuk R&D serta mendukung

67

asosiasi kopi. Kemudian strategi yang memiliki nilai TAS terkecil adalah strategi
Menciptakan kerjasama yang baik dengan pihak investor dengan nilai sebesar
4,749. Besarnya nilai keterkaitan alternatif strategi yang diusulkan dapat dilihat
pada Tabel 18.

Tabel 18. Alternatif dan Prioritas Strategi Pengembangan Agribisnis di


Kabupaten Humbang Hasundutan
Faktor faktor
Strategis
Kekuatan

Strategi 1

Bo-bot

AS

TAS

Strategi 2
AS

TAS

Strategi 3
AS

TAS

Strategi 4
AS

TAS

Strategi 5
AS

TAS

Strategi 6
AS

TAS

Strategi 7
AS

TAS

0,077

0,308

0,308

0,231

0,154

0,231

0,231

0,154

0,063

0,190

0,190

0,190

0,190

0,190

0,190

0,190

0,060

0,121

0,121

0,121

0,121

0,121

0,121

0,121

0,080

0,239

0,239

0,159

0,159

0,159

0,239

0,159

E
Kelemahan

0,085

0,170

0,255

0,255

0,255

0,255

0,255

0,170

0,041

0,124

0,124

0,124

0,124

0,082

0,082

0,124

0,080

0,159

0,319

0,239

0,159

0,159

0,159

0,239

0,085

0,255

0,255

0,170

0,255

0,255

0,170

0,170

0,085

0,255

0,255

0,255

0,255

0,170

0,255

0,255

0,082

0,165

0,247

0,165

0,247

0,247

0,247

0,165

0,066

0,198

0,132

0,198

0,132

0,198

0,198

0,198

0,049

0,099

0,148

0,099

0,099

0,148

0,148

0,148

0,080

0,159

0,239

0,239

0,239

0,159

0,159

0,159

0,066

0,198

0,132

0,198

0,198

0,132

0,132

0,198

0,083

0,250

0,250

0,167

0,250

0,167

0,167

0,167

Peluang

0,090

0,359

0,359

0,179

0,359

0,269

0,269

0,269

0,087

0,260

0,260

0,260

0,260

0,260

0,260

0,173

0,087

0,260

0,173

0,260

0,173

0,173

0,173

0,173

0,090

0,179

0,269

0,179

0,269

0,179

0,269

0,179

0,093

0,279

0,279

0,186

0,279

0,279

0,279

0,186

G
Ancaman

0,093

0,279

0,372

0,279

0,279

0,186

0,186

0,186

0,054

0,163

0,109

0,109

0,163

0,109

0,109

0,109

0,058

0,115

0,115

0,115

0,173

0,115

0,115

0,115

0,080

0,160

0,160

0,160

0,240

0,160

0,240

0,240

0,058

0,115

0,173

0,115

0,115

0,115

0,173

0,115

0,071

0,212

0,212

0,212

0,212

0,212

0,141

0,212

0,058

0,115

0,173

0,115

0,115

0,115

0,173

0,173

Total

2,000

Prioritas
Strategi

Keterangan;

5,387

5,868

4,979

5,476

4,848

5,142

4,749

Prioritas 3

Prioritas 1

Prioritas 5

Prioritas 2

Prioritas 6

Prioritas 4

Prioritas 7

AS
TAS

= Attractiveness Score
= Total Attractiveness Score

68

Prioritas utama sesuai dengan harapan Ketua APKLO yang diungkapkan


saat penulis melakukan wawancara. Beliau mengatakan Mengapa di Humbang
Hasundutan penelitian kopi tidak ada? Tanpa ada penelitian kopi, Humbang
Hasundutan saja sudah mengekspor kopi ke Jepang, apalagi didukung dengan
pusat penelitian kopi, produktivitas dan kualitas kopi Humbang Hasundutan akan
meningkat, dan dapat menembus pasar luar negeri yang lebih luas.
Prioritas strategi disusun berdasarkan urutan nilai TAS tertinggi sampai
terendah. Adapun prioritas strategi yang dihasilkan matriks QSP sebagai berikut :
1. Membentuk dan membina lembaga penelitian untuk R&D serta mendukung
asosiasi kopi.( 5,868)
2. Mengembangkan kopi organik, meningkatkan mutu kopi melalui pasca panen
yang baik, dan membuat peraturan bagi mitra usaha.( 5,476)
3. Meningkatkan kualitas SDM melalui pelatihan dan memperluas usahatani
kopi yang berkualitas dan jaringan pemasaran. (5,387)
4. Memperbaiki rantai pemasaran kopi melalui lembaga yang terkait ( 5,142)
5. Menguatkan modal untuk usaha agribisnis dan memperluas jaringan
pemasaran kopi.( 4,979)
6. Melakukan pembinaan, pengembangan pemberdayaan kelembagaaan dan
manajemen usahatani.( 4,848)
7. Menciptakan kerjasama yang baik dengan pihak investor. (4,749)
7.3.1 Strategi Komprehensif
Setelah hasil wawancara dan hasil analisis matriks SWOT dan QSPM
yang merekomendasikan enam alternatif dan prioritas strategi yang dapat
dijalankan dalam Pengembangan Agribisnis Kopi Humbang Husundutan, disusun
strategi komprehensif. Strategi komprehensif merupakan strategi umum yang
diperoleh melalui analisis matriks SWOT, yang akan disusun dan bertujuan untuk
mendeskripsikan strategi yang ada serta berusaha untuk mengarahkan pelaksanaan
strategi tersebut berdasarkan konsep agribisnis secara umum. Adapun strategi
komprehensif Pengembangan Agribisnis Kopi Humbang Husundutan antara lain
:1) Strategi Pengembangan Penelitian R&D, 2) Strategi Pengembangan Kualitas
SDM dan Kopi, 3) Strategi Pengembangan Sarana dan Prasarana Kopi, 4) Strategi
Pengembangan Kelembagaan Agribisnis Kopi.

69

1) Strategi Pengembangan Penelitian R&D


Tujuan utama yang ingin dicapai untuk meningkatkan produktivitas dan
mutu kopi Humbang Hasundutan adalah mendirikan penelitian R&D kopi.
Strategi ini diharapkan dengan alasan bahwa ketersediaan lahan Humbang
Hasundutan masih luas dan sesuai untuk budidaya kopi, jadi sangat diharapkan
adanya penelitian R&D.

Penelitian R&D dapat menciptakan bibit unggul,

memberi pelatihan/penyuluhan, penggunaan teknologi tepat guna bagi para petani,


pihak industri dan pedagang.
2) Strategi Pengembangan Kualitas SDM dan Kopi
Program pembinaan kelompok tani ditujukan untuk membentuk kelompok
tani yang maju dan mandiri. Program pembinaan kelompok tani di Humbang
Hasundutan tidak dilaksakan secara intensif. Peningkatan kualitas SDM, tidak
hanya kepada petani tetapi juga kepada pengusaha dan pedagang seperti
pertemuan agribisnis kopi guna meningkatkan pemahaman dalam pengembangan
agribisnis kopi.
3) Strategi Pengembangan Sarana dan Prasarana Agribisnis Kopi
Dukungan

sarana

dan

prasarana

diarahkan

untuk

mendukung

pengembangan sistem dan usaha agribisnis dalam suatu sistem yang utuh dan
menyeluruh, antara lain untuk mendukung :
a. Peningkatan produktivitas hasil pertanian
Dukungan sarana untuk menunjang subsistem agribisnis hulu untuk
menunjang kelancaran aliran barang masuk ke daerah seperti bibit, mesin,
peralatan pertanian, pupuk, pestisida dan lain-lain. Jenis dukungan sarana dan
prasarana dapat berupa jalan penghubung desa-kota dan gudang penyimpanan
sarana produksi.
Dukungan sarana untuk menunjang subsistem usahatani (onfarm) dalam
rangka meningkatkan produksi usaha budidaya pertanian. Jenis dukungan sarana
dan prasarana dapat berupa jalan usahatani dan sarana transportasi.
b. Pengolahan, pengangkutan, dan pemasaran hasil pertanian.
Dukungan sarana dan prasarana untuk mendukung subsistem agribisnis
hilir berupa industri pengolahan hasil pertanian sebelum dipasarkan sehingga
menciptakan nilai tambah. Jenis dukungan prasarana dan sarana dapat berupa:

70

gudang penyimpanan hasil pertanian, sarana pengolahan seperti tempat


pengemasan, pencucian dan sortir, sarana pemasaran seperti pasar tradisional dan
sub terminal agribisnis kopi, sarana promosi pusat informasi pengembangan
agribisnis, sarana kelembagaan perekonomian seperti CU, balai pelatihan serta
sarana listrik, telepon dan air bersih.

4) Strategi Pengembangan Kelembagaan Agribisnis Kopi


Kelembagaan yang berperan dalam pengembangan agribisnis terdiri dari
lembaga pertanian (kelompok tani dan koperasi pertanian), lembaga keuangan,
lembaga penyuluh dan kelembagaan koordinasi produksi. Kelembagaan
merupakan faktor pendukung keberhasilan Pengembangan Agribisnis Kopi.
Kelembagaan yang berfungsi dengan baik dapat mempercepat roda pertumbuhan
ekonomi di Humbang Hasundutan. Kelembagaan yang sangat penting berjalan
dengan baik adalah kelompok tani, perbankan, koperasi, balai penelitian, asosiasi
dan LSM yang berkaitan dengan pengembangan agribisnis kopi.

71

VIII KESIMPULAN DAN SARAN

8.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan terhadap Kabupaten Humbang
Hasundutan, yang meliputi analisis internal dan eksternal (IFE dan EFE Matriks),
analisis SWOT dan Analis QSPM, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Hasil analisis terhadap faktor internal dalam Pengembangan Agribisnis Kopi
di Humbang Hasundutan, menunjukkan faktor kekuatan (keadaan sumberdaya
manusia, ketersediaan lahan, keamanan berusaha, akses transportasi, keadaan
sumberdaya alam) mampu mengatasi faktor kelemahan (penggunaan teknologi
tradisional, ketersediaan dana, lembaga pembina, penelitian, dan pelatihan,
pemasaran kopi, dukungan kebijakan pemerintah daerah dan pelaksanaanya,
industri pengolahan kopi, kemitraan usaha, bibit kopi bermutu pengendalian
hama penyakit dan pemeliharaan) yang dimiliki kawasan tersebut. Hal itu
ditunjukkan oleh nilai bobot skor faktor kekuatan yang lebih besar dari bobot
skor kelemahan yakni sebesar 1,338 untuk faktor kekuatan dan 0,992 untuk
faktor kelemahan. Secara umum menunjukkan bahwa Pengembangan
Agribisnis Kopi dibawah rata-rata dalam kekuatan internalnya secara
keseluruhan, hal ini ditunjukkan dengan total nilai bobot skor 2,330. Ini berarti
berarti Pemerintah Daerah/Dinas Pertanian Subdinas Perkebunan dan
masyarakat/petani secara internal (kekuatan dan kelemahan) belum baik
(kuat), dalam upaya pengembangan kopi di Humbang Hasundutan.
Hasil analisis eksternal yang menjadi peluang yaitu otonomi daerah
tumbuhnya asosiasi, pasar yang masih terbuka baik domestik maupun diluar
kawasan, tumbuhnya CU, perdagangan bebas, perkembangan teknologi
komunikasi dan informasi dan permintaan kopi organik. Faktor peluang
tersebut memiliki bobot skor sebesar 1,928. Pertumbuhan ekonomi,
ketidakpastian iklim global, fluktuasi harga kopi, penegakan hukum dan
peraturan perundang-undangan, kopi sejenis dari wilayah lain, penguasaan
lahan kopi oleh pihak luar merupakan faktor ancaman bagi Pengembangan
Agribisnis Kopi dengan bobot skor 0,841 serta nilai total bobot skor 2,769,
berarti secara eksternal Pemerintah Daerah/Dinas Pertanian Subdinas

73

Perkebunan dan masyarakat/petani telah merespon dengan baik terhadap


peluang dan ancaman yang dimiliki, yang berarti bahwa faktor peluang
eksternal dalam upaya Pengembangan Agribisnis Kopi di Humbang
Hasundutan dapat mengatasi ancaman yang dihadapinya dan dapat mengambil
peluang sebaik mungkin.
2. Hasil penggabungan matriks IFE dan EFE dalam matriks SWOT dalam
Pengembangan Agribisnis Kopi Humbang Husundutan, menghasilkan
beberapa alternatif strategi yaitu sebagai berikut : 1) Meningkatkan kualitas
SDM melalui pelatihan dan memperluas usahatani kopi yang berkualitas dan
jaringan pemasaran., 2) Membentuk dan membina lembaga penelitian untuk
R&D serta mendukung asosiasi kopi, 3) Menguatkan modal untuk usaha
agribisnis dan memperluas jaringan pemasaran kopi, 4) Mengembangkan kopi
organik, meningkatkan mutu kopi melalui pasca panen yang baik, dan
membuat

peraturan

bagi

mitra

usaha,

5)

Melakukan

pembinaan,

pengembangan pemberdayaan kelembagaaan dan manajemen usahatani, 6)


Memperbaiki rantai pemasaran kopi melalui lembaga yang terkait, 7)
Menciptakan kerjasama yang baik dengan pihak investor.
3. Hasil QSPM menunjukkan bahwa strategi yang menjadi prioritas utama
dengan nilai Total Attractiveness Score (TAS) sebesar 5,868 adalah strategi
Membentuk dan membina lembaga penelitian untuk R&D serta mendukung
asosiasi kopi. Kemudian strategi yang memiliki nilai TAS terkecil adalah
strategi Menciptakan kerjasama yang baik dengan pihak investor dengan
nilai sebesar 4,749.
8.2 Saran
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan faktor-faktor internal dan
eksternal

yang

mendukung

Pengembangan

Agribisnis

Kopi

Humbang

Husundutan, maka dengan ini diajukan beberapa saran sebagai berikut :


1. Pemerintah daerah melalui institusi terkait, hendaknya membentuk balai
penelitian untuk R&D, khususnya bibit kopi yang bermutu, sehingga petani
mudah memperoleh bibit. Pemerintah juga hendaknya mendukung dan
menjadi fasilitator bagi pengembangan asosiasi kopi yang telah ada, karena
hal itu dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Disamping itu pemerintah

74

juga hendaknya membuat regulator dalam pemasaran kopi agar pedagang


pengumpul dapat terkontrol dalam menetapkan harga.
2. Pembangunan agribisnis kopi merupakan satu kesatuan sub sistem yang tidak
terpisahkan

satu

sama

lainnya.

Pemerintah

hendaknya

menunjang

pembangunan setiap subsistem yang ada, serta kegiatan agribisnis perlu


didukung oleh penciptaan iklim usaha yang kondusif, penguatan lembaga
agribisnis, pengembangan permodalan dan pengembangan informasi.
3. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan Pengembangan
Agribisnis Kopi di Humbang Hasundutan khususnya mengenai pemasaran
kopi, kelembagaannya dan pengolahan kopi, mengingat masih terbatasnya
penelitian yang dihasilkan.

75

DAFTAR PUSTAKA

[Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Humbang


Hasundutan. 2007. Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kabupaten
Humbang Hasundutan. Tidak Dipublikasikan.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Humbang Hasundutan. 2008. Humbang
Hasundutan dalam Angka. Dolok Sanggul : BPS Kabupaten Humbang
Hasundutan.
Dinas Perkebunan Sumatera Utara. 2007. Rekapitulasi Luas Areal dan Produksi
Tanaman Perkebunan. Tidak Dipublikasikan.
Dinas Pertanian Kabupaten Humbang Hasundutan. 2008. Produksi dan
Produktivitas Tanaman Perkebunan. Tidak Dipublikasikan.
David, R.F. 2006. Manajemen Strategi : Konsep. Edisi kesepuluh. Jakarta:
Salemba Empat.
Karo-Karo, F. W. 2006. Strategi Pengembangan Kabupaten Karo sebagai
Kawasan Agropolitan [skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
Krisnamurthi, B. 2002. Strategi Pembangunan Ekonomi Rakyat Dalam Kerangka
Pembangunan Ekonomi Daerah. Pusat Studi Pembangunan IPB. Bogor.
Pambudy, R. 2005. Sistem Dan Usaha Agribisnis Yang Berkerakyatan, Berdaya
Saing, Berkelanjutan Dan Terdesentralisasi. Menumbuhkan Ide dan
Pemikiran Pembangunan Sistem Dan Usaha Agribisnis (60 Tahun
Bungaran Saragih). Bogor: Pustaka LPPM IPB.
Parluhutan, E. 2006. Formulasi Strategi Pengembangan Usaha Anggrek Spesies
Di Unit Koleksi Anggrek Kebun Raya Bogor [skripsi]. Bogor : Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Purwoko, J. Y. 2006. Analis Nilai Tambah Dan Strategi Pemasaran Kopi Bubuk
Arabika Kelompok Tani Manunggal IV Kecamatan Jambu, Semarang
[skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Rangkuti, F. 2000. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta.
Pustaka Utama.
Saragih, B. 2001. Suara dari Bogor : Membangun Sistem Agribisnis. Bogor:
Yayasan USESE dan Sucofindo.
Sartika, S. I. 2007. Analisis Pendapatan Usahatani Dan Pemasaran Kopi Arabika
Dan Kopi Robusta (Studi Kasus di Desa Tambun Raya Kabupaten

75

Simalungun Sumatera Utara) [skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian,


Institut Pertanian Bogor
Syahrudin, R. 2008. Analis Strategi Pengembangan Agroindustri Minuman Jeruk
Nipis Peras Di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat [skripsi]. Bogor :
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
Syahyuti. 2006. 30 Konsep Penting dalam Pembangunan Pedesaan dan
Petanian. Jakarta: Bina Rena Pariwara.
Tambunan, A. 2005. Strategi Pengembangan Usaha Tanaman Hias Pada PT Bina
Usaha Flora (BUF) Di Cipanas-Cianjur [skripsi]. Bogor : Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Tjokrowinoto, M. 2002. Kopi Kajian Ekonomi Sosial. Yogyakarta: Kanisius.
Siswoputranto, P. 1993. Kopi Internasional dan Indonesia. Yogyakarta: Kanisius
Wijaya, O.D. 2004. Analisis Formulasi Strategi Bersaing Minuman Sari Buah
Sirsak Pada PT Minuman SAP Dalam Menghadapi Persaingan Industri
Minuman Ringan [skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor.
Umar, Husein. 2008. Strategic Management in Action. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama. Hlm 245.
http://www.ico.org/trade_statistics.asp. diakses pada 11 Agustus 2009

76