Anda di halaman 1dari 9

PENGUKURAN KADAR HEMOGLOBIN DENGAN METODE SAHLI

I. TUJUAN
1.1 Tujuan Instruksional Umum
a. Mahasiswa dapat mengetahui prosedur pengukuran kadar hemoglobin dengan
metode Sahli.
b. Mahasiswa dapat menjelaskan prosedur pengukuran kadar hemoglobin dengan
metode Sahli.
1.2 Tujuan Instruksional Khusus
a. Mahasiswa dapat melakukan pengukuran kadar hemoglobin dalam darah
dengan menggunakan metode Sahli.
b. Mahasiswa dapat mengetahui kadar hemoglobin dalam sampel darah pasien.
c. Mahasiswa dapat menginterpretasikan hasil pengukuran kadar hemoglobin
dalam sampel darah pasien.
II. METODE
Metode yang digunakan dalam praktikum pengukuran kadar hemoglobin ini adalah metode
Sahli.
III. PRINSIP
Hemoglobin (Hb) dalam darah jika direaksikan dengan HCl 0,1 N akan berubah
menjadi asam hematin. Kemudian kadar asam hematin ini diukur dengan membandingkan
warnanya secara visual dengan warna standar yang ada pada hemoglobinometer.
IV. DASAR TEORI
4.1 Tinjauan Umum Tentang Darah
Hematologi adalah ilmu tentang darah dan jaringan pembentuk darah yang
merupakan salah satu sistem organ terbesar di dalam tubuh. Darah membentuk 6 sampai 8%
dari berat tubuh total dan terdiri dari sel-sel darah yang tersuspensi di dalam suatu cairan
yang disebut plasma (Sacher, Ronald A., 2004).
Darah adalah kendaraan atau medium untuk transportasi jarak jauh berbagai bahan
antara sel dan lingkungan eksternal atau antara sel itu sendiri. Warna merah darah
keadaannya tidak tetap bergantung pada banyaknya oksigen dan karbondiosida di dalamnya.
Darah yang banyak mengandung CO2 warnanya merah tua. Adanya O2 dalam darah diambil
melalui pernapasan, dan zat ini sangat berguna pada peristiwa pembakaran atau metabolisme

dalam tubuh. Visikositas atau kekentalan darah lebih kental dari pada air yang mempunyai
BJ 1,041 1,067, temperatur 38C dan pH 7,37 7,45.
Volume darah sel keseluruhan adalah seperduabelas atau kira-kira lima liter sekitar
55% adalah plasma darah, sedangkan 45% sisanya terdiri dari eritrosit.(Evelyn.CP, 1985)
Darah berwarna merah terang apabila ada oksigen dan merah tua apabila tidak ada
oksigen. Warnanya disebabkan oleh hemoglobin, protein pernafasan yang mempunyai besi
dalam bentuk heme, tempat oksigen bergabung.
Fungsi utama sel darah merah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan untuk
hidup di seluruh tubuh, yaitu mengangkut oksigen ke jaringan dan mengembalikan
karbondioksida dari jaringan paru-paru. Untuk mencapai pertukaran gas ini, sel darah merah
mengandung protein khusus yaitu, hemoglobin.(A.V.Hofbrand, 1987)
4.2 Tinjauan Umum Tentang Hemoglobin
Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai
media transport oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa
karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru. Kandungan zat besi yang terdapat dalam
hemoglobin membuat darah berwarna merah.
Saat ini pengukuran kadar hemoglobin dalam darah sudah menggunakan mesin
otomatis selain mengukur hemoglobin mesin pengukur akan memecah hemoglobin menjadi
sebuah larutan. Hemoglobin dalam larutan ini kemudian dipisahkan zat lain dengan
menggunakan zat kimia bernama nilai sinar yang berhasil diserap oleh hemoglobin.
Hemoglobin adalah metaloprotein pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam
sel darah merah mamalia dan hewan lainnya. Molekul hemoglobin terdiri dari : globin,
apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi.
Fungsi hemoglobin dalam darah adalah :
1 Mengatur pertukaran oksigen dengan karbondioksida di dalam jaringan tubuh.
2 Mengambil oksigen dari paru-paru kemudian dibawa keseluruh jaringan tubuh untuk
dipakai sebagai bahan baku.
3 Membawa karbondioksida dari jaringan tubuh sebagai hasil metabolisme ke paru-paru
untuk dibuang.
4 Untuk mengetahui apakah seseorang kekurangan darah atau tidak dapat diketahui dengan
pengukuran kadar Hb. Penurunan kadar Hb dari normal berarti kekurangan darah.

Kekurangan darah berarti anemia. Selain kekurangan Hb juga disertai dengan eritrosit
yang berkurang serta nilai hematokrit dibawah normal. (Kresno, 1988)
Pada manusia telah dikenal kurang dari 14 macam Hb yang dipelajari secara
mendalam dengan bantuan elektroforesis. Hb diberi nama dengan simbol alfabeta misalnya ;
Hb A, Hb C, Hb D, Hb E, Hb F, Hb G, Hb I, Hb M, Hb S, dan sebagainya. (Joice, 2008)
Kadang-kadang Hb diberi nama menurut kota tempat ditemukan jenis Hb atau orang
yang menemukannya, misalnya ; Hb New York, Hb Sydney, Hb Bart, Hb Gower, dan lainlain. Hb A (Adult=Dewasa) mulai diproduksi pada usia 5 - 6 bulan kehidupan intrauterine
janin, pada usia 6 bulan postnatal kosentrasi Hb A 99%. Hb A terdiri dari 2 rantai dan 2
rantai . Hb F (Foetus=janin) mulai ditemukan dalam darah pada minggu ke dua puluh usia
kehamilan. Pada bayi Hb F dan sebelum usia 2 tahun jumlahnya tinggal sedikit, diganti oleh
Hb A. Karena sifatnya yang resisten terhadap alkali, Hb F ini mudah dipisahkan dari Hb A.
Hb F terdiri dari 2 rantai dan 2 rantai T.
Pada pusat molekul terdapat cincin heterosiklik yang dikenal dengan porifin yang
menahan satu atom besi. Atom besi ini merupakan situs/lokal ikatan oksigen. Porifin yang
mengandung besi disebut heme. Nama hemoglobin merupakan gabungan dari heme dan
globin. Globin sebagai istilah generik untuk protein globural. Ada beberapa protein
mengandung heme, dan hemoglobin adalah yang paling dikenal dan paling banyak
dipelajari.
Gambar struktur molekul hemoglobin

Pada manusia dewasa, hemoglobin berupa tetramer (mengandung 4 subunit protein),


yang terdiri dari masing-masing dua sub unit mirip secara struktural dan berukuran hampir
sama. Tiap sub unit memiliki berat molekul 16,000 Dalton, sehingga berat molekul total
tetramernya menjadi sekitar 64,000 Dalton. Tiap sub unit hemoglobin mengandung satu

heme, sehingga secara keseluruhan hemoglobin memilki kapasitas empat molekul oksigen.
(Hariono, 2006 )
4.3 Metode Penetapan Kadar Hemoglobin
Adapun metode pemeriksaan hemoglobin antara lain :
1. Metode Berat Jenis (metode Cupri-Sulfat)
2. Metode Gasometrik (O2 atau CO)
3. Metode Kimia (kadar Fe dalam Hb)
4. Metode Kolorimetrik
Metode Kolorimetri sendiri dapat dibagi menjadi lima metode antara lain :
1. Direct Matching methods (Tallquist)
2. Metode Hematin-Asam (Sahli)
3. Metode Hematin-alkali
4. Metode Oksihemoglobin
5. Metode Sianmethemoglobin
Sebelum melakukan pemeriksaan hemoglobin baik dengan menggunakan metode Sahli
maupun metode-metode lainnya tentunya menggunakan alat dan bahan yang diperlukan
untuk pemeriksaan. Adapun alat-alat dan bahan yang diperlukan dalam pemeriksaan
hemoglobin metode sahli ini antara lain :
1. Lancet darah, digunakan untuk mengambildarak kapilet dan biasanya dilengkapi
dengan holder untuk memudahkan dalam pengamblan darah tepi atau darah kapiler.
Lanset merupakan alat yang memiliki ujung yag tajam serupa jarum. Lanset darah
yang sebaiknya dipakai adalah yang diperuntukkan untuk sekali pakai atau
disposable.
2. Jarum dan semprit
3. yang akan menjadi bahan pemeriksaan. Seperti halnya metode Sahli ini juga,
memerlukan sampel darah untuk pemeriksaan yang dapat diperoleh dari darah
kapiler, EDTA, atau oksalat.
1. Darah kapiler
Darah kapiler adalah Pembuluh darah kapiler merupakan ujung yang letaknya
berada di bagian akhir dari pembuluh arteri. Darah kapiler biasanya didapatkan
langsung melalui pengambilan ke pasien. Pada orang dewasa biasanya diambil

pada ujung jari atau anak daun telinga, pada bayi dan anak-anak bisa juga pada
tumit atau ibu jari kaki. Tempat yang dipilih tidak boleh memperlihatkan
gangguan peredaran darah seperti cyanosis atau pucat. Untuk pengambilan darah
ini terlebih dahulu perlu disediakan semua alat yang diperlukan seperti jarum,
botol penampung,pipet, dll. Tempat yang akan ditusuk harus bersih, jika perlu
dicuci terlebih dahulu dengan air dan sabun. (Gandosoebrata, 1969)
2. Darah Vena
Darah vena adalah darah yang biasanya pada orang dewasa dipakai salah satu
vena dalam fossa cubiti, sedangkan pada bayi vena jagularis superficialis atau
dapat juga dipakai darah dari sinus sagittalis superior
3. Darah EDTA
Untuk menjaga agar darah yang akan diperiksa tidak sampai membeku maka
digunakanlah antikoagulan. Tidak semua macam antikoagulan dapat dipakai
karena ada yang terlalu banyak berpengaruh terhadap bentuk eritrosit atau leukosit
yang akan diperiksa morfologinya. EDTA atau Ethylene Diamine Tetra Acetate
adalah salah satu antikoagulan yang paling sering digunakan dalam pemeriksaan
hematologi karena tidak berpengaruh terhadapbesar dan bentuk eritrosit dan
leukosit. Serta mencegah menggumpalnya trombosit. EDTA yang sering dipakai
adalah dalam bentuk larutan EDTA 10%. Darah EDTA dapat dibuat dengan
mencampurkan 2 mg EDTA dengan 2 ml darah vena yang dicampur di dalam
botol atau tabung khusus selama 1 menit atau lebih. Pemeriksaan denga memakai
darah EDTA sebaiknya dilakukan segera, namun bisa juga disimpan dalam lemari
es dengan suhu 40 C haya saja kalau disimpan terlalu lama nilai hematokrit darah
akan lebih tinggi. Yang penting untuk diketahui adalah sebelum mengambil darah
yang bercampur dengan antikoagulan dari botol, haruslah dipastikan darah dan
antikoagulannya sudah bercampur dengan baik. (Gandosoebrata, 1969)
4. Darah Oksalat
Darah oksalat adalah darah yang ditambahkan antikoagulan dari campuran
ammonium oksalat dan kalium oksalat yang juga dikenal sebagai campuran
oksalat seimbang. Cara pembuatannya adalah dengan mencampurkan campuran
oksalat seimbag dengan 2 5 ml darah vena di dalam botol khusus dengan
membolak-balikkan botol secara perlahan selama kurang lebih 30 detik.

Pemeriksan dengan memakai darah oksalat sebaiknya janga ditunda-tunda karena


adakalanya eritrosit-eritrosit cenderung menggumpal. Untuk pemeriksaan kadar
hemoglobin waktu penundaan pemeriksaan maksimal yang disarankan adalah 24
jam.
Untuk mendapatkan darah untuk pemeriksaan hematologi, terlebih dahulu
harus dsediakan semua alat yang diperlukan seperti pipet, haemometer, semprit,
jarum, otol penampung (wadah darah, kamar hitung, dsb. Tempat yang ditusuk
harus bersih, dan bila perlu dicuci terlebih dahulu dengan air dan sabun.
(Gandosoebrata, 1967)
Metode Sahli
Berikut ini akan dibahas mengenai metode hematin asam atau metode Sahli. Metode
Hematin-Asam (Sahli) pada prinsipnya akan mengubah hemoglobin menjadi hematin asam,
kemudian warna yang terjadi dibandingkan secara visual dengan standar dalam alat. Cara sahli
ini banyak dipakai di Indonesia, walaupun cara ini tidak tepat 100%, akan tetapi masih dianggap
cukup baik untuk mengetahui apakah seseorang kurang darah, terlebih lagi di laboratoriumlaboratorium kecil yang tidak mempunyai fotokolorimeter .
Kesalahan dalam melakukan pemeriksaan ini kira-kira 10 %. Kelemahan cara sahli ini
adalah hematin asam itu bukan merupakan larutan sejati dan juga alat haemometer sukar
distandardisasi. Selain itu, tidak semua macam hemoglobin dapat diubah menjadi hematin,
misalnya karboxy hemoglobin, methemoglobin dan sullfhemoglobin (Depkes RI, 1989).
Cara Kerja Metode Sahli :
-

Tabung Hb meter (Sachli) diisi dengan Cloin sampai garis 2.


Diisap darah dengan pipet sahli sampai garis 20 mm.
Lalu dimasukkan dalam tabung sahli kemudian dikocok sampai terjadi warna coklat

tua.
Diencerkan dengan air sampai warna cairan dalam tabung sama dengan warna batang

tabung gelas disamping satuannya gram %.


Metode ini juga memiliki kekurangan, ketidaktepatan metode ini disebabkan oleh batang
gelas dapat berubah warnanya bila sudah lama (Adam, Syamsunir, 1992).
Cara Sahli ini bukanlah cara yang teliti. Kelemahan metodik berdasarkan kenyataan
bahwa kolorimetri visual yang tidak teliti, bahwa hematin asam itu bukan merupakan larutan
sejati dan bahwa alat itu tidak distandarkan. Cara ini juga kurang baik karena tidak semua

macam hemoglobin diubah menjadi hematin asam, umpamanya karboxyhemoglobin,


methemoglobin dan sulfehemoglobin.
Ketelitian yang biasanya dicapai oleh 10% kadar hemoglobin yang ditentukan dengan
cara sahli dan cara-cara kolorimetri visual lain hanya patut dilaporkan dengan meloncat-loncat
g/dl, sehingga laporan menjadi ump, 11, 11 , 12, 12 , 13 g/dl. Janganlah melaporkan
hasil yang memakai angka decimal seperti 8,8 , 14,0 , 15,5 g/dl dsb, ketelitian dan ketepatan
cara sahli yang kurang memadai tidak membolehkan laporan seperti itu.
Kesalahan-kesalahan pada penetapan kadar hemoglobin cara Sahli :
1. Tidak tepat mengambil 20 l darah.
2. Darah dalam pipet tidak sempurna dikeluarkan ke dalam HCl karena tidak dibilas.
3. Tidak baik mengaduk campuran darah dan asam pada waktu mengecerkan.
4. Tidak memperhatikan waktu yang seharusnya berlalu untuk mengadakan
pembandingan warna.
5. Kehilangan cairan dari tabung karena untuk mencampur isinya, tabung itu dibolakbalikkan dengan menutupnya memakai ujung jari.
6. Ada gelembung udara di permukaan pada waktu membaca.
7. Membandingkan warna pada cahaya yang kurang terang.
8. Menggunakan tabung pengencer yang tidak diperuntukan alat yang dipakai.
4.4 Faktor yang Mempengaruhi Hasil Pemeriksaan Kadar Hemoglobin
Hal-hal yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan hemoglobin, antara lain sebagai
berikut :
1. Reagen
Reagen adalah bahan pereaksi yang harus selalu baik kualitasnya mulai dari saat
penerimaan, semua reagen yang dibeli harus harus diperhatikan nomor lisensi
kadaluarsanya, keutuhan wadah atau botol atau cara transportasinya.
2. Peralatan
Alat-alat yang digunakan dalam pemeriksaan hematologi harus bersih dan steril
terutama yang kontak langsung dengan tubuh pasien seperti jarum dan lancet.
3. Metode
Laboratorium yang baik adalah laboratorium yang mengikuti perkembangan metode
pemeriksaan

dengan pertimbangan

kemampuan laboratorium tersebut dan biaya

pemeriksaannya. Petugas laboratorium harus senantiasa bekerja dan mengacu pada metode
yang digunakan, jika metode yang digunakan salah atau tidak sesuai maka akan berpengaruh
pada hasil pemeriksaan kadar hemoglobin.

4. Bahan pemeriksaan
Bahan pemeriksaan meliputi; cara pengambilan spesimen, pengiriman spesimen,
penyimpanan spesimen, dan persiapan sampel.
5. Lingkungan
Dalam hal ini dapat berupa ; keadaan ruang kerja, cahaya, suhu kamar, kebisingan, luas
dan tata ruang
6. Tenaga labratorium.
Dalam hal ini yang diharapkan adalah petugas laboratorium harus mengusai alat dan
teknik di bidang laboratorium.
7. Sampel
Kekeruhan dalam suatu sampel darah dapat mengganggu dalam fotokolorimeter dan
menghasilkan absorbensi dan kadar Hb yang lebih tinggi dari yang sebenarnya. Kekeruhan
semacam ini dapat disbabkan antara lain oleh leukositosis, lipemia, dan adanya globulin
abnormal seperti pada macro iobulinemia. (Gandosoebrata, 2006)
Kesalahan-kesalahan yang dapat menyebabkan susunan darah yang digunakan dalam
pemeriksaan dapat berubah antara lain :
1. Mengambil darah dari tempat yang menyatakan adanya gangguan peredaran seperti
2.
3.
4.
5.

pucat
Tusukan kurang dalam sehingga darah harus diperas-peras keluar
Kulit yang diusuk masih basah alkohol
Tetesan darah pertama dipakai untuk pemeriksaan
Terjadi bekuan dalam tetesan darah karena terlalu lambat bekerja

Sumber keselahan dalam memperoleh darah


1.
2.
3.
4.

Menggunakan semprit dan jarum yang basah


Mengenakan ikatan pembendung terlalu lama atau terlalu keras
Terjadi bekuan dalam semprit karena lambatnya bekerja
Terjadi bekuan dalam botol oxalate karena tidak dicampur semestinya dengan oxalate
kering atau antikoagulan.

4.5 Kadar Hemoglobin Normal


Fungsi sel darah merah dalam darah arteri sistemik mengangkut oksigen dari paruparu ke jaringan dan kembali dalam darah vena dengan karbon dioksida (CO 2) ke paru-paru
ketika molekul hemoglobin memuat dan melepas oksigen (O2) masing-masing rantai globin
dalam molekul hemoglobin mendorong satu sama lain (A.V.Hofbrand. 1987)
Pada bayi baru lahir, kadar hemoglobin lebih tinggi dari pada orang dewasa yaitu
berkisar antara 13,6 - 19,6 g/dl. Kemudian kadar hemoglobin menurun dan pada umur 3
tahun dicapai kadar paling rendah yaitu 9,5 - 12,5 g/dl. Setelah itu secara bertahap kadar
hemoglobin naik dan pada pubertas kadarnya mendekati kadar pada dewasa yaitu berkisar
antara 11,5 - 14,8 g/dl. Pada pria dewasa kadar hemoglobin berkisar antara 13 - 16 g/dl
sedangkan pada wanita dewasa antara 12 - 14 g/dl.
Tabel 1.
Batasan normal kadar hemoglobin