Anda di halaman 1dari 49

EFEK PENGGUNAAN TEPUNG DAUN KELOR

(Moringa oleifera) DALAM PAKAN TERHADAP


BERAT ORGAN DALAM, GLUKOSA DARAH DAN
KOLESTEROL DARAH AYAM PEDAGING

SKRIPSI

Oleh:

Lies Analysa
0310520041

JURUSAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2007

EFEK PENGGUNAAN TEPUNG DAUN KELOR (Moringa


oleifera) DALAM PAKAN TERHADAP BERAT ORGAN
DALAM, GLUKOSA DARAH DAN KOLESTEROL DARAH
AYAM PEDAGING

Oleh:

Lies Analysa
0310520041

Skripsi ini merupakan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pada


Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

JURUSAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2007

EFEK PENGGUNAAN TEPUNG DAUN KELOR (Moringa


oleifera) DALAM PAKAN TERHADAP BERAT ORGAN
DALAM, GLUKOSA DARAH DAN KOLESTEROL DARAH
AYAM PEDAGING

Oleh:
Lies Analysa
0310520041

Telah Lulus Dalam Ujian Sarjana


Pada Hari/Tanggal : Selasa, 4 Desember 2007
Susunan Tim Penguji:
Mengetahui,
Pembimbing Utama,

Anggota Tim Penguji,

Dr. Ir. Osfar Sjofjan, M.Sc.


Tanggal: ............................

M. Halim Natsir, Spt. MP.


Tanggal: .....................

Pembimbing Pendamping,

Dr. Ir. Eko Widodo, M.Agr.Sc., M.Sc.


Tanggal: ...........................................

Dekan,
Fakultas Peternakan
Universitas Brawijaya

Prof. Dr. Ir. Hartutik, MP.


Tanggal : ..........................

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Lies Analysa, dilahirkan di Bojonegoro pada


tanggal 10 November 1985 sebagai putri keempat dari pasangan Bapak Mudhofar
dan Ibu Sulistijowati.
Jenjang pendidikan formal penulis diawali dari lulus Taman Kanak-kanak
pada tahun 1990, SD Negeri Sumberoto, Bojonegoro lulus pada tahun 1996,
SLTP Negeri I Sumberejo, Bojonegoro lulus tahun 2000, dan SMU Negeri 2
Bojonegoro yang lulus tahun 2003. Tahun 2003 penulis diterima sebagai
mahasiswa S1 Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan
Universitas Brawijaya Malang melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru
(SPMB).
Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam Himpunan Mahasiswa
Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak (HMJ-NMT) sebagai staff Bidang
Pengembangan Organisasi pada periode 2004/2005. Disamping itu penulis juga
aktif dalam Lembaga Otonom Teater Cowboy Fakultas Peternakan Universitas
Brawijaya, Malang sebagai Anggota Bidang Kajian Sastra periode 2004/2005 dan
menjabat sebagai Sheriff (Ketua) Lembaga Otonom Teater Cowboy pada periode
2005/2006. Penulis juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Kongres Mahasiswa
Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang pada Periode 2006/2007.

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Efek
Penggunaan Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) dalam Pakan terhadap Berat
Organ Dalam, Glukosa Darah dan Kolesterol Darah Ayam Pedaging ini dengan
baik.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada yang terhormat:
1.

Bapak Dr. Ir. Osfar Sjofjan, M.Sc selaku dosen Pembimbing Utama dan
Bapak Dr. Ir. Eko Widodo, M.Agr.Sc.,M.Sc selaku dosen Pembimbing
Pendamping atas kesabaran selama membimbing serta masukan dan ilmu
yang bermanfaat selama proses penyelesaian skripsi ini.

2.

Bapak M. Halim Natsir, Spt.MP. selaku penguji atas masukan yang sangat
berharga.

3.

Bapak Dr. Ir. Osfar Sjofjan, M.Sc selaku Ketua Jurusan Nutrisi dan
Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya yang telah
melancarkan penulis dalam menyelesaikan studi.

4.

Bapak dan Ibu serta kakak-kakak tercinta atas restu dan semangat yang
selalu mengiring langkah penulis.

5.

Bapak Ngatuwin atas kesabaran dan bantuan administrasi dalam


melancarkan studi di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.

6.

Kelor Mania (Indira, Hestera, Erifa) atas kerjasama, kebersamaan dan suka
duka selama penelitian.

ii

7.

Sahabat-sahabat tercinta serta saudara-saudara di Teater Cowboy atas


kebersamaan dan cinta yang murni.

8.

Teman-teman Nutrisi 2003 atas kebersamaan dan persabatannya.


Semoga semua kebaikan akan mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.


Wassalamualaikum Wr. Wb.

Malang, Nopember 2007

Penulis

iii

ABSTRACT

THE EFECT OF Moringa oleifera LEAF POWDER ON INTERNAL


ORGAN WEIGHT, BLOOD GLUCOSE, AND BLOOD CHOLESTEROL
OF BROILER

The aim of this research was to find out the effects of Moringa oleifera
leaf powder in feed on internal organ weight, blood glucose, and blood cholesterol
of broiler.
The materials used in this research were 100 day old Lohmann broilers.
The method of this research was field experiment arranged under completely
randomized design with 5 treatments (P0 = 0 %; P1 = 2,5 %; P2 = 5 %; P3 = 7,5 %;
P4 = 10 % Moringa oleifera leaf powder in feed). Every treatment was repeated 4
times, if there was significant influence, it is followed by Duncans Multiple
Range Test.
The result showed that Moringa oleifera leaf powder was not significantly
influence (P>0,05) internal organ weight and blood glucose. But it significantly
decreased (P<0,05) blood cholesterol. It can be concluded that until 10 % of
Moringa oleifera leaf powder can be used in broiler feed to decrease blood
cholesterol and did not influence negative effect for its internal organ weight and
blood glucose.
Key word : Moringa oleifera leaf powder, internal organ weight, blood glucose,
blood cholesterol, broiler

iv

RINGKASAN

EFEK PENGGUNAAN TEPUNG DAUN KELOR (Moringa oleifera)


DALAM PAKAN TERHADAP BERAT ORGAN DALAM, GLUKOSA
DARAH DAN KOLESTEROL DARAH AYAM PEDAGING
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 26 Juni sampai dengan
31 Juli
2007 di Laboratorium Lapang Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Desa
Sumber Sekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Analisis bahan pakan dan
pakan dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas
Peternakan Universitas Brawijaya, Malang. Sedangkan analisis glukosa darah dan
kolesterol darah dilaksanakan di Laboratorium Faal Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya, Malang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penggunaan tepung daun
kelor (Moringa oleifera) dalam pakan terhadap berat organ dalam, glukosa darah
dan kolesterol darah ayam pedaging. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
menjadi sumber informasi bagi insan akademis dan khalayak mengenai efek
penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera) dalam pakan terhadap berat
organ dalam, glukosa darah dan kolesterol darah ayam pedaging.
Materi penelitian yang digunakan adalah 100 ekor DOC ayam pedaging
strain Lohmann produksi PT. Multibreeder Adirama Indonesia yang tidak
dibedakan jenis kelaminnya (Straight run atau Unsex) dan dipelihara selama 35
hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah percobaan di lapang dan
laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5
perlakuan dan 4 ulangan. Data analisis dengan sidik ragam dan dilanjutkan
dengan Uji Jarak Berganda Duncans. Semua pakan perlakuan disusun
berdasarkan iso-energi dan iso-protein sesuai dengan perlakuan sebagai berikut:
pakan perlakuan tanpa tepung daun kelor (P0), pakan dengan 2,5 % tepung daun
kelor (P1), pakan dengan 5 % tepung daun kelor (P2), pakan dengan 7,5 % tepung
daun kelor (P3) dan pakan dengan 10 % tepung daun kelor (P4). Variabel
penelitian ini adalah berat organ dalam, glukosa darah dan kolesterol darah ayam
pedaging.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung daun kelor
(Moringa oleifera) dalam pakan tidak memberikan efek yang berbeda nyata
(P>0,05) terhadap berat organ dalam dan glukosa darah, tetapi memberikan efek
yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap kolesterol darah.
Disimpulkan bahwa penggunaan tepung daun kelor hingga level 10 %
pada pakan dapat menurunkan kolesterol darah dan tidak memberikan efek negatif
terhadap berat organ dalam dan glukosa darah ayam pedaging. Disarankan
melakukan penelitian lebih lanjut tentang penggunaan tepung daun kelor dengan
level yang lebih dari 10 % dalam pakan ayam pedaging.

DAFTAR ISI

Halaman
RIWAYAT HIDUP .

KATA PENGANTAR .........................................................................

ii

ABSTRACT .

iv

RINGKASAN ..

DAFTAR ISI

vi

DAFTAR TABEL

viii

DAFTAR LAMPIRAN

ix

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ...
1.2. Rumusan Masalah ..
1.3. Tujuan Penelitian ...
1.4. Kegunaan Penelitian ..
1.5. Kerangka Pikir ...
1.6. Hipotesis .

1
2
2
3
3
5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Kebutuhan Nutrisi Ayam Pedaging ..
2.2. Kelor (Moringa oleifera) ..
2.2.1. Nutrisi dan Pharmakoterapi (Moringa oleifera) ..
2.2.2. Kandungan Nutrisi Daun Kelor (Moringa oleifera)
2.2.3. Aplikasi Penggunaan Kelor sebagai Suplemen
Pakan Ternak
2.3. Organ Dalam Ayam Pedaging...
2.4. Glukosa Darah ..
2.5. Kolesterol Darah ...

12
13
14
15

BAB III. MATERI DAN METODE PENELITIAN


3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2. Materi Penelitian ..
3.2.2. Ayam Pedaging ..
3.2.3. Kandang ..
3.2.4. Tepung Daun Kelor .
3.2.5. Pakan Ternak ..........................
3.1. Metode Penelitian .
3.2. Variable Penelitian ...
3.3. Analisis Statistik ..

17
17
17
17
18
19
20
21
21

vi

6
7
8
9

Halaman
3.4. Batasan Istilah ..

22

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Efek Perlakuan terhadap Berat Gizzard
4.2. Efek Perlakuan terhadap Berat Hati .
4.3. Efek Perlakuan terhadap Berat Pankreas .
4.4. Efek Perlakuan terhadap Berat Jantung
4.5. Efek Perlakuan terhadap Berat Limpa .
4.6. Efek Perlakuan terhadap Glukosa Darah .
4.7. Efek Perlakuan terhadap Kolesterol Darah ..

24
25
26
27
28
28
30

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan ..
5.2. Saran

32
32

DAFTAR PUSTAKA .

33

LAMPIRAN

37

vii

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Kebutuhan nutrien berdasarkan periode ayam pedaging .................

2. Komposisi kimia pada ekstrak dan non ekstrak moringa .....................

10

3. Komposisi kimia buah, daun dan tepung daun kelor (100 g) ...............

11

4. Antinutrisi yang terkandung dalam kelor (% BK)

11

5. Kandungan nutrisi Tepung Daun Kelor berdasarkan % BK .................

18

6. Formula pakan perlakuan untuk periode starter berdasarkan


perhitungan ............................................................................................ 19
7. Formula pakan perlakuan untuk periode finisher berdasarkan
perhitungan ............................................................................................ 20
8. Rataan berat organ dalam (g/100 g BB), glukosa darah (mg/dl)
dan kolesterol darah (mg/dl) ayam pedaging.........................................

viii

24

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1. Sistematika Rencana Penelitian ...

37

2. Data suhu
pelaksanaan

dan
kelembaban di dalam kandang selama
penelitian

38

3. Koefisien keragaman bobot badan (g/ekor) ayam pedaging umur


1 hari yang digunakan selama penelitian .

39

4. Rata-rata konsumsi pakan (g/ekor) ayam pedaging selama penelitian.

42

5. Rata-rata bobot badan (g/ekor) ayam pedaging awal yang digunakan


selama penelitian .

43

6. Rata-rata bobot badan (g/ekor) ayam pedaging akhir yang digunakan


selama penelitian .

44

7. Bobot hidup (g/ekor) ayam yang digunakan sebagai sampel penelitian

45

8. Berat gizzard (g/100 g BB) ayam yang digunakan sebagai sampel


penelitian .

46

9. Berat hati (g/100 g BB) ayam yang digunakan sebagai sampel


penelitian .

47

10. Berat pankreas (g/100 g BB) ayam yang digunakan sebagai sampel
penelitian .

48

11. Berat jantung (g/100 g BB) ayam yang digunakan sebagai sampel
penelitian .

49

12. Berat limpa (g/100 g BB) ayam yang digunakan sebagai sampel
penelitian .

50

13. Glukosa darah (mg/dl) ayam yang digunakan sebagai sampel


penelitian .

51

14. Kolesterol darah (mg/dl) ayam yang digunakan sebagai sampel


penelitian .

52

15. Analisis statistik berat


gizzard (g/100 g BB) ayam yang
digunakan sebagai sampel penelitian ..

53

ix

Lampiran

Halaman

16. Analisis statistik berat hati (g/100 g BB) ayam yang digunakan
sebagai sampel penelitian ...

54

17. Analisis statistik


berat pankreas (g/100 g BB)
ayam yang
digunakan sebagai sampel penelitian ...

55

18. Analisis Berat jantung (g/100 g BB) ayam yang digunakan


sebagai sampel penelitian .

56

19. Analisis statistik berat limpa (g/100 g BB) ayam yang


digunakan sebagai sampel penelitian

57

20. Analisis statistik glukosa darah (mg/dl) ayam yang digunakan


sebagai sampel penelitian ..

58

21. Analisis statistik kolesterol darah (mg/dl) ayam yang digunakan


sebagai sampel penelitian ..

59

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penyediaan dan pemberian pakan dalam usaha peternakan merupakan
masalah pokok yang perlu mendapat perhatian. Kuantitas serta kualitas pakan
merupakan faktor penting dalam menentukan produktivitas ternak. Oleh karena
itu, perlu dilaksanakan banyak pengkajian mengenai pemanfaatan bahan-bahan
pakan untuk ternak unggas.
Pakan ayam pedaging mengandung protein yang cukup tinggi yaitu sekitar
18 23 % tergantung umurnya (Astuti dkk., 2005). Sumber protein pakan
biasanya berasal dari produk hewani seperti tepung ikan, tepung daging dan
limbah pengolahan hewan lainnya. Harga protein hewani cukup mahal dan bahkan
untuk yang kualitasnya baik masih harus impor dari luar negeri. Protein nabati
seperti bungkil kedelai, bungkil kacang tanah dan biji-bijian lainnya telah banyak
dipakai untuk pakan unggas. Tepung daun dari tanaman leguminosa juga mulai
banyak dicoba, dan hal ini merupakan alternatif yang baik sebagai pakan ternak
karena ketersediannya banyak dan harganya murah.
Daun leguminosa yang telah dimanfaatkan sebagai bahan pakan unggas
adalah daun lamtoro (Leucaena leucocephala). Tanaman leguminosa lain yang
berpotensi sebagai pakan ternak adalah tanaman Kelor (Moringa oleifera). Muro
et al. (2003) dan Soetanto dkk. (2005) melaporkan bahwa daun kelor dapat
digunakan sebagai suplementasi untuk meningkatkan produktivitas ternak domba
dan sapi perah. Makkar and Becker (1997) melaporkan bahwa daun kelor

mengandung 27 % protein dan kaya kandungan asam amino yang mengandung


unsur sulphur, serta rendah kandungan tanninnya.
Astuti dkk. (2005) telah melakukan penelitian mengenai manfaat daun
kelor sebagai pakan ayam pedaging. Penelitian tersebut dilakukan untuk
mengetahui pengaruh pemberian tepung daun kelor atau hasil ekstraknya dengan
ethanol terhadap penampilan produksi ayam pedaging. Hasil dari penelitian
tersebut adalah pemberian lebih dari 5 % tepung daun kelor memberikan efek
menurunkan bobot badan ayam pedaging.
Konsumen kini mulai peduli akan kandungan kolesterol daging, karena
terdapat kecenderungan semakin meningkatnya kasus hiperkolesterolemia.
Penelitian ini untuk menguji efek penggunaan tepung daun kelor (Moringa
oleifera) dalam pakan terhadap kadar kolesterol darah, disamping berat organ
dalam dan glukosa darah ayam pedaging.

1.2. Rumusan Masalah


Bagaimana efek penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera) dalam
pakan terhadap berat organ dalam, glukosa darah dan kolesterol darah ayam
pedaging.

1.3. Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penggunaan tepung daun
kelor (Moringa oleifera) dalam pakan terhadap berat organ dalam, glukosa darah
dan kolesterol darah ayam pedaging.

1.4. Kegunaan Penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi insan
akademis dan khalayak mengenai efek penggunaan tepung daun kelor (Moringa
oleifera) dalam pakan terhadap berat organ dalam, glukosa darah dan kolesterol
darah ayam pedaging. Hasil penelitian ini diharapkan juga bermanfaat dalam ilmu
kedokteran serta sebagai acuan penelitian tentang hiperkolesterolemia.

1.5. Kerangka Pikir


Daun kelor selain

sebagai bahan pakan sumber protein juga dapat

dimanfaatkan sebagai obat yang berkhasiat. Fahey (2005) menyebutkan bahwa


berbagai bagian tanaman termasuk daun
sebagai

obat,

antara

lain

sebagai

Moringa oleifera memiliki khasiat


antianemia,

antihipertensi

dan

hypocholesterolemic. Moringa oleifera memiliki kandungan zat aktif yang


berfungsi sebagai antikanker dan memiliki aktifitas antibakteri antara lain
4-(4'-O-acetyl-a-L-rhamnopyranosyloxy) benzyl isothiocyanate, 4-(a-L-rhamno
pyranosyloxy) benzyl isothiocyanate, niazimicin, pterygospermin, benzyl
isothiocyanate, and 4-(a-L-rhamnopyranosyloxy) benzyl glucosinolate.
Dalam penelitian Dahot (1998) dilaporkan bahwa ekstrak daun kelor
mengandung protein dengan berat molekul rendah yang mempunyai aktivitas
antibakteri dan antijamur. Soetanto dkk. (2004) melaporkan bahwa ekstrak daun
kelor telah dibuktikan memiliki khasiat sebagai antioksidan yang dapat
digunakan sebagai upaya pencegahan terhadap hepatoksisitas, serta mencegah
peningkatan kadar enzim faal hepar AST (aspartate transminase) atau ALT
(alanine transaminase) dan kerusakan struktur hepar (steatosis, hidropik dan

inflamasi). Hal ini kemudian akan diuji pada ayam pedaging dengan
menggunakan indikator berat hati.
Zat aktif dalam daun kelor yang mempunyai aktifitas antibakteri dan
antioksidan diharapkan mampu meningkatkan kinerja organ dalam dan mencegah
kerusakan organ dalam. Peningkatan kinerja organ, khususnya pankreas
diharapkan dapat berpengaruh baik pada peningkatan metabolisme dan
penyerapan nutrisi (karbohidrat, lemak dan protein) dalam tubuh ternak.
Kadar glukosa darah diatur oleh kinerja organ hati dan pankreas
(Anonimous, 2007). Tingginya kadar glukosa darah menunjukkan bahwa absorbsi
karbohidrat dalam saluran pencernaan juga tinggi (Whittow, 2000). Jika organ
pencernaan khususnya hati dan pankreas bekerja dengan baik, maka absorbsi
karbohidrat akan meningkat sehingga berpengaruh pada peningkatan glukosa
darah.
Harvey (2005) melaporkan bahwa ekstrak daun kelor dapat menurunkan
konsentrasi glukosa darah dengan efektif dibandingkan dengan penggunaan obat
penurun glukosa darah. Hal ini juga didukung oleh Fahey (2005) yang
melaporkan bahwa daun kelor telah banyak dimanfaatkan sebagai obat diabetes
dan hiperkolesterolemia. Sedangkan Meidianty (2005) melaporkan hasil
penelitiannya bahwa pemberian daun kelor sebanyak 25 % dalam suplemen Urea
Molasses Block (UMB) sapi perah mampu meningkatkan kadar glukosa darah
ternak serta konsumsi Bahan Kering, Bahan Organik dan Protein Kasar.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa konsentrasi glukosa
darah cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya kualitas pakan yaitu
akibat suplementasi UMB yang mengandung daun kelor.

Afuang et al. (2003) menyatakan bahwa substitusi tepung ikan dengan


dengan tepung daun kelor dalam pakan ikan pada level 27 % dan 40 % dilaporkan
mampu menurunkan kadar kolesterol darah pada ikan Nile tilapia (Oreochromis
niloticus L.). Razak (2006) menyebutkan bahwa kolesterol sebaiknya hanya pada
jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh, jika berlebih maka akan beresiko pada
kesehatan jantung. Kadar kolesterol Low-density lipoprotein (LDL) dan Highdensity lipoprotein (HDL) sangat berpengaruh terhadap kesehatan jantung,
sehingga perlu dilakukan usaha untuk menjaga kestabilan kadar kolesterol. Jadi
dapat dimungkinkan bahwa kinerja jantung dapat meningkat apabila kadar
kolesterol dapat ditekan pada level normal.
Jantung sendiri juga mempunyai peran penting dalam metabolisme tubuh,
Ressang (1983) menyatakan bahwa semakin berat jantung maka aliran darah
yang masuk maupun keluar jantung akan semakin besar dan efek tersebut akan
berdampak pula pada berbagai metabolisme yang ada di dalam tubuh ternak.
Informasi mengenai penggunaan tepung daun kelor dalam pakan ayam
pedaging dan pengaruhnya terhadap berat organ dalam, glukosa darah dan
kolesterol darah masih belum ada. Oleh karena itu, diperlukan penelitian tentang
penggunaan tepung daun kelor dalam pakan mengenai pengaruhnya terhadap
berat organ dalam, glukosa darah dan kolesterol darah ayam pedaging.

1.6. Hipotesis
Penggunaan tepung daun kelor dalam pakan dapat meningkatkan kinerja
organ dalam, meningkatkan glukosa darah dan menurunkan kolesterol darah ayam
pedaging.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kebutuhan Nutrisi Ayam Pedaging


Ayam pedaging adalah jenis ayam yang telah lama mengalami pemuliaan,
sehingga merupakan ayam pedaging yang unggul, mempunyai bentuk, ukuran dan
warna yang seragam. Ayam pedaging biasanya dipanen pada umur 6 minggu
dengan berat sekitar 1,7 2,0 kg/ekor. Pemanenan ayam pedaging pada saat
beratnya masih rendah disebabkan oleh permintaan konsumen yang cenderung
membeli karkas ayam utuh yang tidak terlalu besar, juga karena dagingnya cukup
lunak, lemak belum cukup banyak serta tulang tidak terlalu keras (Muchtadi dan
Sugiyono,1992)
Salah satu faktor lingkungan yang penting untuk diperhatikan adalah
faktor pakan. Pada periode pertumbuhan yang cepat, ayam pedaging

sangat

sensitif terhadap tingkat nutrien, terutama kandungan protein (Schaible, 1979).


Yuwanta (2004) menyatakan bahwa kebutuhan nutrien tergantung pada tipe ayam,
umur, produksi, iklim dan kandang. Kebutuhan nutrien ayam pedaging dari DOC
sampai umur potong dibagi menjadi dua bagian, yaitu starter (umur 0 3 minggu)
dan finisher (umur 3 6 minggu). Astuti dkk. (2005) menyatakan bahwa pakan
ayam pedaging mengandung protein yang cukup tinggi yaitu sekitar 18 23 %
tergantung umurnya. Kebutuhan nutrien ayam pedaging berdasarkan periodenya
dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kebutuhan nutrien berdasarkan periode ayam pedaging


Kebutuhan Nutrien
Energi metabolis (Kkal/kg)
Protein (%)
Lemak Kasar (%)
Serat Kasar (%)
Ca (%)
P (%)
Mn (ppm)
Zn (ppm)
Arginin (%)
Cystein (%)
Glysine (%)
Histidin (%)
Isoleusin (%)
Leusin (%)
Lisin (%)
Metionin (%)
Fenilalanin (%)
Treonin (%)
Triptophan (%)
Valin (%)
(Sumber : NRC, 1994).

Starter
(0 3 minggu)
3000
22
58
35
0,9 1,1
0,7 0,9
60
40
1,25
0,4
1
0,35
0,8
1,2
1,1
0,5
0,72
0,8
0,2
0,9

Finisher
(3 6 minggu)
3100
20
58
35
0,9 1,1
0,7 0,9
60
40
1,1
0,34
0,9
0,32
0,73
1,09
1
0,38
0,65
0,74
0,18
0,82

2.2. Kelor (Moringa oleifera)


Klasifikasi tanaman kelor (Moringa oleifera) adalah sebagai berikut
(Anonimous, 2006):
Kingdom

Plantae

Divisi

Magnoliophyta

Kelas

Magnoliopsida

Order

Brassicales

Famili

Moringaceae

Genus

Moringa

Species

M. oleifera

Nama binominal:

Moringa oleifera

Kelor merupakan tanaman perdu yang tingginya mencapai 10 meter,


berbatang lunak dan rapuh, dengan daun sebesar ujung jari berbentuk bulat telur
dan tersusun majemuk. Tanaman ini berbunga sepanjang tahun, berwarna putih,
buah bersisi segitiga dengan panjang sekitar 30 cm, tumbuh subur mulai dari
dataran rendah sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut (Suriawiria,
2005).

Moringa oleifera dapat hidup dalam segala kondisi tanah dan curah hujan,
merupakan tanaman tahan kering dan membutuhkan air dalam jumlah sangat
sedikit, ditemukan tumbuh di daerah dengan curah hujan 250 - 300 mm,
pertumbuhan membutuhkan sinar matahari langsung dan dapat bertahan dalam
kondisi kering untuk waktu yang lama. Tanaman ini toleran pada suhu antara
8,7 28,5 0C, pH antara 4,5 8, tahan pada iklim tropis dan sub tropis, tumbuh
baik pada tanah berpasir, pada daerah basah dan semi basah (Anonimous, 2004).

2.2.1. Nutrisi dan Pharmakoterapi Kelor (Moringa oleifera)

Soetanto (2005) menyebutkan bahwa tanaman kelor (Moringa oelifera,


Lam) telah lama diketahui memiliki berbagai khasiat di seluruh dunia. Namun
baru akhir-akhir ini memperoleh perhatian seksama sebagai tanaman serba guna
yang dapat digunakan sebagai tanaman sela, sumber pakan ternak, obat-obatan,
biogas, bahan pembersih rumah tangga, penjernih air, zat pewarna, tanaman
pagar, pupuk hijau dan lain sebagainya. Berdasarkan kajian pustaka daun kelor
tergolong superior dalam hal kandungan gizinya, karena mengandung protein

tinggi serta asam amino esensial, vitamin dan mineral yang mampu mengatasi
masalah malnutrisi di Afrika.

Tanaman kelor dimanfatkan mulai dari akar, batang, daun, dan bijinya,
dan sudah dikenal sejak lama sebagai tanaman berkhasiat obat. Akar kelor yang
dicampur dengan kulit akar pepaya kemudian digiling dapat digunakan untuk obat
luar (balur) penyakit beri-beri dan sebangsanya. Daunnya ditambah dengan kapur
sirih, juga merupakan obat kulit seperti kurap dengan cara digosokkan
(Suriawiria, 2005).

Air rebusan akar ampuh sebagai obat dalam, seperti obat rematik, epilepsi,
antiskorbut, diuretikum, sampai ke obat gonorrhoea. Bahkan, biji tua ditambah
kulit jeruk dan buah pala dapat menjadi spiritus moringae compositus yang
digunakan sebagai stimulans, stomachikum, carminativum sampai diuretikum
(Suriawiria, 2005).

2.2.2. Kandungan Nutrisi Daun Kelor (Moringa oleifera)


Sebagai sumber protein, daun kelor memiliki kandungan asam amino
essensial seimbang (Becker and Makkar, 1996). Hasil penelitian di Afrika
menunjukkan bahwa daun kelor mengandung vitamin C tujuh kali lebih banyak
dari buah jeruk, mengandung empat kali kalsium lebih banyak dari susu
disamping kandungan protein daunnya yang dapat mencapai 43 % jika diekstrak
dengan ethanol (Soetanto, 2005).

Komposisi kimia pada ekstrak dan non ekstrak moringa dapat dilihat pada
Tabel 2.
Tabel 2. Komposisi kimia pada ekstrak dan non ekstrak moringa
Komposisi kimia
Satuan
Protein Kasar
(%)
Lemak Kasar
(%)
NDF
(%)
ADF
(%)
GE
(KJ/kg)
Sumber: Gupta et al. (1989)

Ekstrak Moringa
43,50
1,40
47,40
16,30
1770

Non Ekstrak Moringa


25
5,40
21,90
14,10
1870

Pada penelitian yang dilakukan Dahot (1989) ditemukan bahwa dalam


ekstrak daun kelor terkandung protein dengan berat molekul rendah yang
mempunyai aktivitas antibakteri dan antijamur. Protein tersebut terdiri dari 3
macam yaitu protein fraksi 1, protein fraksi 2, dan protein fraksi 3. protein fraksi
1, 2 dan 3 mampu menghambat pertumbuhan Escherichia coli, Bacillus subtilis
dan Staphylococcus aureus. Protein fraksi 1 mampu menghambat pertumbuhan
Klebsiella pneumoniae dan protein fraksi 2 mampu menghambat pertumbuhan
Aspergillus niger.
Komposisi kimia buah, daun dan tepung daun kelor dapat dilihat pada
Tabel 3. Sedangkan untuk kandungan antinutrisi daun kelor dapat dilihat pada
Tabel 4.

10

Tabel 3. Komposisi kimia buah, daun dan tepung daun kelor (100 g)
Komposisi kimia

Satuan

Kadar air
(%)
Kalori
(MJ/kg BK)
Protein
(g)
Lemak
(g)
Karbohidrat
(g)
Serat
(g)
Mineral
Ca
(mg)
Mg
(mg)
Fe
(mg)
(mg)
Vit a-caroten
Vit B-choline
(mg)
Vit B1-thiamin
(mg)
Vit B2-riboflavin
(mg)
Vit B3-nicotinic acid
(mg)
Vit C-absorbic acid
(mg)
Vit E-tocopherol acetate
(mg)
Arginin
(g/16 g N)
Histidin
(g/16 g N)
Lisin
(g/16 g N)
Triptophan
(g/16 g N)
Fenilalanin
(g/16 g N)
Metionin
(g/16 g N)
Treonin
(g/16 g N)
Leusin
(g/16 g N)
Isoleusin
(g/16 g N)
Valin
(g/16 g N)
Sumber Moringa oleifera: Fuglie (2001)

Buah

Daun

86,9
26
2,5
0,1
3,7
4,8
2
30
24
5,3
0,11
423
0,005
0,07
0,2
120
3,6
1,1
1,5
0,8
4,3
1,4
3,9
6,5
4,4
5,4

75
92
6,7
1,7
13,4
0,9
2,3
440
24
7
6,8
423
0,21
0,05
0,8
220
6
2,1
4,3
1,9
6,4
2,2
4,9
9,3
6,3
7,1

Tepung daun
kelor
7,5
7,5
27,1
2,3
38,2
19,2
2,003
368,0
28,2
16,3
2,64
20,5
8,2
17,3
113
1,33%
0,61%
1,32%
0,43%
1,39%
0,35%
1,19%
1,95%
0,83%
1,06%

Tabel 4. Antinutrisi yang terkandung dalam kelor (% BK)


Komposisi (%)
Tannin
Saponin
Asam phitat
Total phenol
Sumber: Astuti (2005)

Daun kelor Segar


0,53
6,4
2,3
2,7

11

Ekstrak daun kelor


Rendah
Rendah
Rendah
Rendah

2.2.3. Aplikasi Penggunaan Kelor sebagai Suplemen Pakan Ternak


Daun kelor telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan pakan bagi ternak
ruminansia. Sarwatt et al. (2004) melaporkan hasil penelitiannya pada sapi perah
di Tanzania bahwa subtitusi bungkil biji kapas dengan daun kelor sebanyak 10 %
dari konsumsi total bahan kering konsentrat ternyata mampu meningkatkan
produksi susu dari 7,8 menjadi 9,2 kg/ekor/hari serta lemak susu meningkat dari
3,4 % menjadi 4,7 %.
Sarwatt et al. (2004b) mengemukakan bahwa penggunaan tepung daun
Moringa oleifera pada kambing meningkatkan konsumsi bahan kering dan
konsumsi Metabolizable Energy (ME) dimana angka tertinggi dicapai pada level
50 + 100 % suplemen. Kambing yang mengkonsumsi 25 % tepung daun kelor
mempunyai retensi N lebih tinggi. Mekanisme peningkatan konsumsi pakan
disebabkan karena suplementasi kelor mampu menigkatkan kecernaan pakan,
sehingga diduga waktu retensi pakan di dalam saluran pencernaan menjadi lebih
singkat dan merangsang konsumsi pakan. Selain itu penambahan daun kelor juga
memungkinkan terjadinya proteksi protein pakan sehingga retensi N lebih tinggi
dan sebagai konsekuensinya akan lebih banyak asam amino yang terserap untuk
dipergunakan sebagai bakalan sintesis produk ternak seperti PBB dan produksi
susu.
Murro et al. (2003) melaporkan bahwa substitusi bungkil biji kapas
dengan daun kelor pada ternak domba memberikan pengaruh yang berbeda nyata
terhadap PBB dengan hasil tertinggi pada level 100 %.
Meidianty (2005) melaporkan hasil penelitiannya bahwa pemberian daun
kelor sebanyak 25 % dalam suplemen urea molasses block (UMB) sapi perah

12

mampu meningkatkan kadar glukosa darah ternak serta konsumsi Bahan Kering,
Bahan Organik dan Protein Kasar. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui
bahwa konsentrasi glukosa darah cenderung meningkat seiring dengan
meningkatnya kualitas pakan yaitu akibat suplementasi UMB yang mengandung
daun kelor.
Afuang et al. (2003) menyatakan bahwa substitusi tepung ikan dengan
dengan tepung daun kelor dalam pakan ikan pada level 27 % dan 40 % dilaporkan
mampu menurunkan kadar kolesterol darah pada ikan Nile tilapia (Oreochromis
niloticus L.).

2.3. Organ Dalam Ayam Pedaging


Ressang (1983) berat jantung dipengaruhi oleh beberapa faktor

yaitu

jenis, umur, besar serta aktivitas ternak tersebut. Dengan semakin beratnya
jantung maka aliran darah yang masuk maupun keluar jantung akan semakin besar
dan efek tersebut akan berdampak pula pada berbagai metabolisme yang ada di
dalam tubuh ternak.
Hati dan pankreas berperan dalam proses detoks. Sel-sel dan organ dalam
melakukan proses detoks dengan baik apabila berada dalam keadaan sehat.
Dalam

keadaan

lemah

sel

justru

semakin

dirusak

oleh

toksin

Kekurangan zat gizi, stress, depresi dan kelelahan mengakibatkan sel dan organ
melemah (Eric, 2007).
Pankreas mempunyai dua fungsi dan kedua fungsi tersebut berhubungan
dengan pengaturan energi. Eksokrin berfungsi untuk menyediakan enzim untuk

13

usus halus untuk pencernaan karbohidrat, protein dan lemak. Endokrin berfungsi
untuk mengatur energi dalam absorbsi nutrien (Moran, 1982).
Gizzard merupakan organ yang memiliki otot unik yang penting sekali
dalam proses penggilingan pakan. Tugas gizzard adalah memperkecil partikel
pakan, jadi gizzard harus mempunyai otot dan lapisan yang tebal (Moran, 1982).

2.4. Glukosa Darah


Sirkulasi glukosa dalam darah berguna untuk menyediakan sumber energi
bagi seluruh sel-sel tubuh dan sebagai sumber untuk sintesis komponenkomponen lain dalam tubuh. Faktor-faktor yang menentukan kadar glukosa darah
adalah keseimbangan glukosa yang masuk dan keluar dari darah. Sedangkan
faktor-faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah adalah: 1) pasokan pakan
2) ketepatannya masuk ke dalam sel-sel otot, juga lemak dan aktivitas glukostatik
dari hati (Pilliang dan Al Hajj, 1991).

Tingkat glukosa darah diatur melalui umpan balik negatif untuk


mempertahankan keseimbangan di dalam tubuh. Level glukosa di dalam darah
dimonitor oleh pankreas. Bila konsentrasi glukosa menurun, karena dikonsumsi
untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh, pankreas melepaskan glukagon, hormon
yang menargetkan sel-sel di lever (hati). Kemudian sel-sel ini mengubah glikogen
menjadi glukosa (proses ini disebut glikogenolisis). Glukosa dilepaskan ke dalam
aliran darah, hingga meningkatkan level glukosa darah. Apabila level glukosa
darah meningkat, entah karena perubahan glikogen, atau karena pencernaan
makanan, hormon yang lain dilepaskan dari butir-butir sel yang terdapat di dalam
pankreas. Hormon ini, yang disebut insulin, menyebabkan hati mengubah lebih

14

banyak glukosa menjadi glikogen. Proses ini disebut glikogenosis, yang


mengurangi level glukosa darah (Anonimous, 2007).

Kadar glukosa darah pada ayam adalah sekitar 130 - 290 mg/dl (Pond
et al., 1995). Tingginya kadar glukosa darah menunjukkan bahwa absorbsi
karbohidrat dalam saluran pencernaan juga tinggi. Kadar glukosa normal untuk
ayam yang dipuasakan sekitar 170 - 240 mg/dl (Whittow, 2000).

2.5. Kolesterol Darah


Kolesterol adalah steroid penting, bukan saja karena merupakan komponen
membran tetapi juga karena merupakan pelopor atau precusor biosintetik umum
untuk garam empedu dan hormon steroid, termasuk aldosteron, estrogen dn
testoteron. Peranan kolesterol sebagai precusor dari asam empedu di dalam hati
adalah untuk menyerap triliserida dan vitamin yang larut dalam lemak yang
berasal dari makanan. Steroid adalah molekul kompleks yang larut dalam lemak
dengan empat cincin yang saling bergabung. Steroid yang paling banyak adalah
sterol, yang merupakan steroid alkohol (Muchtadi dkk., 1993).
Kolesterol disintesa dalam tubuh, terutama oleh sel-sel hati, usus dan
kelenjar adrenal, meskipun seluruh sel-sel mempunyai kemampuan untuk
menghasilkan sterol. Kadar kolesterol plasma naik jika mengkonsumsi ransum
yang tinggi kadar kolesterolnya, akibatnya dapat terjadi penyumbatan saluran
empedu (Piliang dan Djojosoebagio, 1990).
Pada manusia, secara normal penyerapan kolesterol hanya sebagian kecil
saja dari jumlah kolesterol yang dimakan, yaitu setiap 100 mg kolesterol dari

15

makanan yang dimakan, hanya 2 - 3 mg saja yang diserap dan dicampurkan


dengan jumlah kolesterol darah (Razak, 2006).
Darah yang dipompa oleh jantung dan dialirkan ke seluruh badan
membawa berbagai nutrien yang penting dan diperlukan untuk tubuh. Tubuh
memerlukan aliran nutrien yang cukup untuk berfungsi dengan sempurna.
Kolesterol adalah salah satu komponen yang dialirkan oleh darah dan diperlukan
untuk fungsi sel dan reproduksi. Kolesterol ini haruslah pada jumlah tertentu yang
diperlukan oleh badan dan dibawa melalui partikel lipid-protein yang disebut
sebagai lipoprotein. Peningkatan jumlah kolesterol dan ketidakseimbangan di
dalam lipoprotein akan menyebabkan beberapa masalah dan dapat menyebabkan
risiko penyakit jantung. Untuk individu yang sehat, jumlah kolesterol dalam
darah tidak lebih dari 200 mg per deciliter (mg/dL). Jumlah kolesterol darah lebih
dari 240 mg/dL termasuk dalam hiperkolesterolemia mempunyai kolesterol darah
yang tinggi) (Razak, 2006).

16

BAB III
MATERI DAN METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 26 Juni sampai dengan

31 Juli

2007 di Laboratorium Lapang Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Desa


Sumber Sekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Analisis bahan pakan dan
pakan dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas
Peternakan Universitas Brawijaya, Malang. Sedangkan analisis glukosa darah dan
kolesterol darah dilaksanakan di Laboratorium Faal Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya, Malang.

3.2. Materi Penelitian

3.2.1. Ayam Pedaging


Pada

penelitian ini digunakan 100 ekor DOC ayam pedaging strain

Lohmann (MB-202) jenis platinum produksi PT. Multibreeder Adirama Indonesia


yang tidak dibedakan jenis kelaminnya (Straight run atau Unsex) dan dipelihara
selama 35 hari. Rataan bobot badan awal sebesar 41,67 + 3,38 gram dan koefisien
keragaman 8,13 %. Data rata-rata bobot badan ayam awal dan koefisien
keragaman secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 3.

3.2.2. Kandang
Kandang yang digunakan adalah kandang sistem litter berjumlah 20 petak
dengan ukuran tiap petak 70 x 80 x 70 cm yang dilengkapi dengan tempat pakan,

17

minum, pemanas lampu listrik berdaya 25 watt dengan alas diberi sekam. Pada
sisi sekeliling kandang ditutup dengan koran pada saat periode starter,
dimaksudkan agar panas di dalam kandang tetap terjaga. Pengukuran suhu dan
kelembaban di dalam kandang menggunakan termometer ruang yang dilengkapi
dengan higrometer. Data suhu dan kelembaban di dalam kandang selama
penelitian dapat dilihat pada Lampiran 2.

3.2.3. Tepung Daun Kelor


Tepung daun kelor yang digunakan dalam penelitian yaitu berupa hasil
giling dari daun kelor yang dikeringkan sinar matahari. Adapun proses pembuatan
tepung daun kelor dapat dilihat pada Lampiran 1. Daun kelor yang digunakan
selama penelitian berasal dari Kota Bojonegoro, Jawa Timur. Kandungan nutrisi
Tepung Daun Kelor berdasarkan hasil analisis di Laboratorium Nutrisi dan
Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya dapat dilihat pada
Tabel 5.
Tabel 5. Kandungan nutrisi Tepung Daun Kelor berdasarkan % BK
Kandungan Nutrisi
Protein Kasar
Lemak Kasar
Serat Kasar
Abu
Energi Metabolis *

Satuan
%
%
%
%
Kkal/kg

Sumber :

Kandungan
29,61
7,48
8,98
10,13
1318,20

Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas


Brawijaya
*Energi Metabolis estimasi dari 70 % GE menurut Schaible (1979)

18

3.2.4. Pakan
Pakan perlakuan disusun secara iso-energi dan iso-protein menggunakan
beberapa bahan pakan yang disesuaikan dengan kebutuhan ayam pedaging
periode starter dan finisher. Pemberian pakan dan air minum diberikan secara ad
libitum, kecuali pada minggu kelima diberikan secara restriced dikarenakan pakan
habis.
Pakan periode starter diberikan mulai DOC sampai minggu ketiga,
sedangkan pakan periode finisher diberikan mulai minggu ketiga sampai akhir
pemotongan. Formula pakan perlakuan untuk periode starter dan analisis
proksimat laboratorium berdasarkan % BK dapat dilihat pada Tabel 6. Sedangkan
formula pakan perlakuan untuk periode finisher dan analisis proksimat
laboratorium berdasarkan % BK dapat lihat pada Tabel 7.
Tabel 6. Formula pakan perlakuan untuk periode starter dan analisis proksimat
laboratorium

Bahan Pakan
Jagung
Bungkil Kedelai
Bekatul
MBM
Tepung ikan
Bungkil Kelapa
Tepung Daun Kelor
Minyak kelapa
Garam
DL methionin
TOTAL
Komposisi Kimia
Protein Kasar (%)
Lemak Kasar (%)
Serat Kasar (%)
Abu (%)
Energi Metabolis
(Kkal/kg)*

Pakan Perlakuan (%)


P2
P3

P0

P1

47,53
25,10
8,00
5,00
8,50
3,00
0,00
2,40
0,25
0,22
100

46,16
23,63
8,00
5,00
8,50
3,00
2,50
2,74
0,25
0,22
100

44,76
22,18
8,00
5,00
8,50
3,00
5,00
3,09
0,25
0,22
100

44,36
20,73
8,00
5,00
8,50
3,00
7,50
2,44
0,25
0,22
100

41,52
21,09
8,00
4,00
8,00
3,00
10,00
3,92
0,25
0,22
100

20,09
7,58
5,44
6,66
3028,40

20,26
7,90
5,51
6,98
3008,96

20,52
8,81
5,94
8,65
3006,65

20,52
7,95
5,67
7,65
3008,52

20,73
7,89
5,12
7,85
3003,31

*Energi Metabolis estimasi dari 70 % GE menurut Schaible (1979)

19

P4

Tabel 7. Formula pakan perlakuan untuk periode finisher dan analisis proksimat
laboratorium
Pakan Perlakuan (%)
P1
P2
P3

P0
Bahan Pakan
Jagung
Bungkil Kedelai
Bekatul
MBM
Tepung ikan
Bungkil Kelapa
Tepung Daun Kelor
Minyak kelapa
Garam
DL methionin
TOTAL
Komposisi Kimia
Protein Kasar (%)
Lemak Kasar (%)
Serat Kasar (%)
Abu (%)
Energi Metabolis
(Kkal/kg)*

P4

54,19
19,41
8,00
5,00
8,50
2,00
0.00
2,69
0,15
0,06
100

52,81
17,95
8,00
5,00
8,50
2,00
2.50
3,03
0,16
0,06
100

51,39
16,51
8,00
5,00
8,50
2,00
5.00
3,39
0,16
0,06
100

51,38
15,56
8,00
5,00
8,50
0,00
7.50
3,40
0,16
0,06
100

52,58
14,15
6,00
5,00
8,50
0,00
10.00
3,56
0,16
0,06
100

20,08
6,92
4,59
7,18
3103,41

20,42
7,48
4,43
6,60
3127,38

20,66
7,98
5,99
6,64
3135,66

20,09
6,92
5,91
6,72
3109,20

20,85
7,69
5,41
6,12
3130,24

*Energi Metabolis estimasi dari 70 % GE menurut Schaible (1979)

Bahan penyusun pakan terdiri atas MBM, tepung ikan, minyak kelapa,
bungkil kedelai, garam dan DL Methionin yang didapatkan dari peternakan ayam
petelur milik Bapak Tasmuji di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang,
sedangkan bekatul dan bungkil kelapa berasal dari KUD DAU dan jagung
didapatkan dari Pasar Dinoyo Lantai 2.

3.3. Metode Penelitian


Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah percobaan di lapang
dan laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL).
Perlakuan yang dilakukan sebanyak 5 perlakuan dan masing-masing perlakuan

20

diulang 4 kali (5 x 4), sehingga terdapat 20 unit percobaan. Setiap unit percobaan
terdiri dari 5 ekor ayam sehingga jumlah ayam yang digunakan adalah 100 ekor.
Semua pakan perlakuan disusun berdasarkan iso-energi dan iso-protein
sesuai dengan perlakuan sebagai berikut:
P0 : Pakan perlakuan tanpa tepung daun kelor
P1 : Pakan dengan 2,5 % tepung daun kelor
P2 : Pakan dengan 5 % tepung daun kelor
P3 : Pakan dengan 7,5 % tepung daun kelor
P4 : Pakan dengan 10 % tepung daun kelor

3.4. Variabel yang diamati


Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah:
1. Berat Organ Dalam
Berat organ dalam diperoleh dengan menimbang organ dalam yang telah
dikeluarkan pada saat perhitungan karkas yaitu gizzard, jantung, hati, limpa dan
pankreas (gr/100 gr BB) (Frandson, 1992).
2. Glukosa Darah dan Kolesterol Darah
Terlebih dahulu ayam dipuasakan selama 1 jam, lalu diambil sampel
darahnya pada bagian sayap sebanyak + 3 cc dengan menggunakan spet, darah
yang telah diambil kemudian dimasukkan ke dalam tabung dan disimpan di dalam
termos es. Sampel darah selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk dianalisis
kadar glukosa darah dan kolesterol darahnya (mg/dl).

3.5. Analisa Statistik


Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan ditabulasi dengan program
excel dan dianalisis dengan menggunakan Sidik Ragam dari Rancangan Acak

21

Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Apabila terjadi perbedaan


pengaruh perlakuan maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncans.
Adapun model matematik untuk Rancangan Acak Lengkap sebagai
berikut:

Yij = + i + ij
Dimana:
Yij
= Nilai pengantar pada perlakuan ke-i ulangan ke-j

= Nilai tengah umum


= Pengaruh perlakuan ke-i
i
ij
= Kesalahan (galat) percobaan pada perlakuan
= 1,2, ..... 5
i
= 1, 2, .....4
j

3.6. Batasan Istilah


1. Daun kelor (Moringa oleifera): sejenis tanaman yang tahan tumbuh di daerah
kering tropis dan mempunyai manfaat medis serta industri yang besar (Makkar
and Becker, 1997).
2. Tepung daun kelor: adalah tepung yang diperoleh dengan cara mengeringkan
daun kelor dan kemudian digiling sampai menjadi bentuk tepung.

22

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Secara lengkap data yang diperoleh selama penelitian untuk masingmasing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Rataan berat organ dalam (g/100 g BB), glukosa darah (mg/dl) dan
kolesterol darah (mg/dl) ayam pedaging
Variabel
P0
Organ Dalam
Gizzard
Hati
Pankreas
Jantung
Limpa
Glukosa Darah
Kolesterol
Darah

P1

1,61 + 0,33
1,38 + 0,31
2,51 + 0,55
2,27 + 0,27
0,27 + 0,07
0,28 + 0,07
0,57 + 0,07
0,58 + 0,09
0,1 + 0,06
0,09 + 0,05
207,25+9,18
194,25+15,78
146,25+25,51c 109,25+20,32a

Perlakuan
P2

P3

P4

1,34 + 0,29
2,59 + 0,18
0,24 + 0,04
0,52 + 0,15
0,09 + 0,03
198,5+11,48
113,5+7,63ab

1,72 + 0,38
2,23 + 0,13
0,28 + 0,07
0,63 + 0,18
0,09 + 0,04
201,25+3,30
133,5+5,75abc

1,49 + 0,12
2,39 + 0,32
0,29 + 0,09
0,53 + 0,05
0,09 + 0,03
203,75+ 2,29
136,5+11,59bc

Keterangan : Huruf superskrip yang berbeda kearah baris menunjukkan pengaruh


yang berbeda nyata (P<0,05).
4.1. Efek Perlakuan terhadap Berat Gizzard
Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa berat gizzard tertinggi pada perlakuan
P3 (1,72 + 0,38) dan kemudian berturut-turut diikuti oleh perlakuan P0 (1,61 +
0,33), P4 (1,49 + 0,12), P2 (1,38 + 0,31) dan P4 (1,34 + 0,29) g/100 g BB. Untuk
mengetahui signifikasi pengaruh perlakuan terhadap berat gizzard dilakukan
analisis statistik. Hasil analisis statistik pada Lampiran 14 menunjukkan bahwa
penggunaan tepung

daun kelor dalam pakan tidak memberikan pengaruh yang

berbeda nyata (P>0,05) terhadap berat gizzard ayam pedaging.


Gizzard merupakan organ yang memiliki otot unik yang penting sekali
dalam proses penggilingan pakan. Gizzard berfungsi memperkecil partikel pakan
secara mekanik, jadi gizzard

harus mempunyai otot dan lapisan yang tebal.

Faktor yang mempengaruhi ukuran gizzard adalah ukuran ternak dan jenis pakan

23

yang dikonsumsi. Pemberian grit dalam pakan dan menambah kandungan serat
pakan dapat meningkatkan berat gizzard (Moran, 1982). Berdasarkan hasil
analisis laboratorium diketahui bahwa kandungan serat pakan perlakuan starter
berkisar antara 5,12 5,94 %, sedangkan pakan finisher berkisar antara 4,43
5,99 %. Kandungan serat kasar pakan perlakuan semakin meningkat seiring
peningkatan level penggunaan tepung daun kelor, namun peningkatan tersebut
tidak berpengaruh pada berat gizzard. Hal ini menunjukkan kemungkinan bahwa
total serat kasar memang meningkat, tetapi komponen serat kasar yang meningkat
tersebut tidak menstimulir fungsi organ.

4.2. Efek Perlakuan terhadap Berat Hati


Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa berat hati tertinggi pada perlakuan P2
(2,59 + 0,18) dan kemudian berturut-turut diikuti oleh perlakuan P0 (2,51 + 0,55),
P4 (2,39 + 0,32), P1 (2,27 + 0,27) dan P3 (1,34 + 0,29) g/100 g BB. Untuk
mengetahui signifikasi pengaruh perlakuan terhadap berat hati dilakukan analisis
statistik. Hasil analisis statistik Lampiran 15 menunjukkan bahwa penggunaan
tepung daun kelor dalam pakan tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata
(P>0,05) terhadap berat hati ayam pedaging.
Hati dan pankreas berperan dalam proses detoksifikasi. Proses
detoksifikasi perlu dilakukan untuk membuang racun serta limbah hasil
metabolisme tubuh. Sel-sel dan organ dapat melakukan proses detoksifikasi
dengan baik apabila berada dalam keadaan sehat. Dalam keadaan lemah sel justru
semakin

dirusak

oleh

toksin

(Eric, 2007). Oleh karena itu, kesehatan organ hati perlu dijaga. Soetanto dkk.

24

(2004) melaporkan bahwa ekstrak daun kelor telah dibuktikan memiliki khasiat
sebagai antioksidan yang dapat digunakan sebagai upaya pencegahan terhadap
hepatoksisitas, serta mencegah peningkatan kadar enzim faal hepar (AST/ALT)
dan kerusakan struktur hepar (steatosis, hidropik dan inflamasi). Penggunaan
tepung kelor dalam pakan diharapkan mampu mejaga kenormalan fungsi hati
untuk dapat melakukan proses detoksifikasi dengan baik serta melakukan
fungsinya sebagai organ pencernaan aksesoris.
Hati merupakan organ dalam terbesar dalam tubuh, berat hati juga
dimungkinkan berhubungan dengan umur dan kondisi tubuh ternak. Rata-rata
berat hati ayam adalah 3 % dari bobot badan (Moran, 1982). Sedangkan pada
penelitian ini diperoleh

data

rataan berat

hati

untuk semua

perlakuan

berada pada kisaran 2,2 2,6 % dari bobot badan, hal ini menunjukkan bahwa
berat hati hasil penelitian tidak melebihi rata-rata berat normal hati. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung daun kelor dalam pakan
sampai pada level 10 % tidak menstimulir fungsi organ dan dapat menjaga
kenormalan berat hati.

4.3. Efek Perlakuan terhadap Berat Pankreas


Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa berat pankreas tertinggi pada perlakuan
P4 (0,29 + 0,09) dan kemudian berturut-turut diikuti oleh perlakuan P3 (0,28 +
0,07),

P1 (0,28 + 0,07), P0 (0,27 + 0,07) dan P2 (0,24 + 0,04) g/100 g BB. Untuk

mengetahui signifikasi pengaruh perlakuan terhadap berat pankreas dilakukan


analisis statistik. Hasil analisis statistik pada Lampiran 16 menunjukkan bahwa

25

penggunaan tepung

daun kelor dalam pakan tidak memberikan pengaruh yang

berbeda nyata (P>0,05) terhadap berat pankreas ayam pedaging.


Pankreas adalah suatu glandula tubulo-alveolar yang memiliki bagian
endokrin dan eksokrin. Bagian eksokrin yang merupakan bagian utama dari
pankreas menghasilkan NaHCO3 dan enzim-enzim pencernaan yang kemudian
dialirkan ke duodenum dekat ke muara empedu. Bagian endokrin merupakan selsel yang terisolasi, yang tersebar distroma jaringan ikat dari glandula. Daerah itu
disebut pulau-pulau langerhans yang menghasilkan hormon insulin (sel beta) dan
golongan (sel alfa) yang masuk langsung ke peredaran darah (Frandson, 1992).
Pankreas mempunyai peran menghasilkan enzim dan hormon-hormon yang
berpengaruh pada metabolisme nutrisi serta pengaturan glukosa darah
(Anonimous, 2007).
Penggunaan tepung daun kelor dalam pakan tidak berpengaruh pada berat
pankreas ayam pedaging. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan tepung daun
kelor dalam pakan sampai pada level 10 % tidak menstimulir fungsi organ.

4.4. Efek Perlakuan terhadap Berat Jantung


Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa berat jantung tertinggi pada perlakuan
P3 (0,63 + 0,18) dan kemudian berturut-turut diikuti oleh perlakuan P1 (0,58 +
0,09), P0 (0,57 + 0,07), P4 (0,53 + 0,05) dan P2 (0,52 + 0,15) g/100 g BB. Untuk
mengetahui signifikasi pengaruh perlakuan terhadap berat jantung dilakukan
analisis statistik. Hasil analisis statistik pada Lampiran 16 menunjukkan bahwa
penggunaan tepung

daun kelor dalam pakan tidak memberikan pengaruh yang

berbeda nyata (P>0,05) terhadap berat jantung ayam pedaging.

26

Berat jantung dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis, umur, besar
serta aktivitas ternak tersebut. Dengan semakin beratnya jantung maka aliran
darah yang masuk maupun keluar jantung akan semakin besar dan efek tersebut
akan berdampak pula pada berbagai metabolisme yang ada di dalam tubuh ternak
(Ressang, 1983). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung daun
kelor dalam pakan tidak berpengaruh terhadap berat jantung ayam pedaging. Hal
ini menunjukkan bahwa penggunaan tepung daun kelor dalam pakan sampai pada
level 10 % tidak menstimulir fungsi organ.

4.5. Efek Perlakuan terhadap Berat Limpa


Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa berat jantung tertinggi pada perlakuan
P0 (0,1 + 0,06) dan kemudian berturut-turut diikuti oleh perlakuan P1 (0,09 +
0,05), P2 (0,09 + 0,03), P3 (0,09 + 0,04) dan P4 (0,09 + 0,03) g/100 g BB. Untuk
mengetahui signifikasi pengaruh perlakuan terhadap berat limpa dilakukan
analisis statistik. Hasil analisis statistik pada Lampiran 17 menunjukkan bahwa
penggunaan tepung

daun kelor dalam pakan tidak memberikan pengaruh yang

berbeda nyata (P>0,05) terhadap berat limpa ayam pedaging.


Limpa mempunyai fungsi untuk menyaring darah, membuang partikel
antigen yang suah tua. Bagian limpa yang berfungsi sebagai kekebalan tubuh
terdiri dari jaringan limfoid dan sel dendritik. Berat limpa yang besar umumnya
terdapat sel denditrik yang banyak, sehingga diharapkan antigen dan antibodi
yang dihasilkan juga banyak (Tizzard, 1987). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa penggunaan tepung daun kelor dalam pakan tidak berpengaruh terhadap

27

berat limpa ayam pedaging. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan tepung daun
kelor dalam pakan sampai pada level 10 % tidak menstimulir fungsi organ.

4.6. Efek Perlakuan terhadap Glukosa Darah


Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa glukosa darah tertinggi pada perlakuan
P0 (207,25 + 9,18) dan kemudian berturut-turut diikuti oleh perlakuan P4 (203,75
+ 12,29), P3 (201,25 + 3,30), P2 (198,5 + 11,48) dan P1 (194,25 + 15,78) mg/dl.
Untuk mengetahui signifikasi pengaruh perlakuan terhadap glukosa

darah

dilakukan analisis statistik. Hasil analisis statistik pada Lampiran 18 menunjukkan


bahwa penggunaan tepung daun kelor dalam pakan tidak memberikan pengaruh
yang berbeda nyata (P>0,05) terhadap glukosa darah ayam pedaging.
Harvey (2005) melaporkan bahwa ekstrak daun kelor dapat menurunkan
konsentrasi glukosa darah dengan efektif dibandingkan dengan penggunaan obat
penurun glukosa darah. Penelitian mengenai efek penggunaan tepung daun kelor
dalam pakan terhadap glukosa darah ayam pedaging masih belum ada. Sedangkan
efek penggunaannya terhadap glukosa darah sapi perah sudah pernah diteliti.
Meidianty (2005) melaporkan hasil penelitiannya bahwa pemberian daun kelor
sebanyak 25 % dalam suplemen Urea Molasses Block (UMB) sapi perah mampu
meningkatkan kadar glukosa darah ternak. Berdasarkan hasil penelitian tersebut
dapat diketahui bahwa konsentrasi glukosa darah cenderung meningkat seiring
dengan meningkatnya kualitas pakan yaitu akibat suplementasi UMB yang
mengandung daun kelor. Sedangkan pada penggunaan tepung daun kelor dalam
pakan cenderung memberi pengaruh menurunkan glukosa darah ayam pedaging.
Hasil yang berbeda dari kedua penelitian tersebut diduga disebabkan oleh adanya

28

perbedaan spesies antara sapi perah dan ayam pedaging, sehingga terdapat
perbedaan pada metabolisme karbohidrat antara keduanya.
Faktor-faktor yang menentukan kadar glukosa darah adalah keseimbangan
glukosa yang masuk dan keluar dari darah. Sedangkan faktor-faktor yang
mempengaruhi kadar glukosa darah adalah pasokan pakan, ketepatannya
memasuki sel-sel otot serta lemak dan aktivitas glukostatik dari hati (Pilliang dan
Al Hajj, 1991). Penggunaan tepung daun kelor yang tidak memberikan hasil yang
berbeda nyata juga diduga karena pakan perlakuan disusun secara iso-energi dan
iso-protein, sehingga masing-masing pakan perlakuan mempunyai kandungan
nutrisi yang hampir sama dan mampu memberikan pasokan nutrisi yang sama
pula.
Kadar glukosa darah normal untuk ayam yang dipuasakan sekitar 170
240 mg/dl. Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa perlakuan P0 (207,25 + 9,18)
mempunyai glukosa darah yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan P3 (203,75 +
12,29), P1 (201,25 + 3,30), P4 (198,5 + 11,48) dan P2 (194,25 + 15,78) mg/dl.
Namun kadar glukosa darah pada semua perlakuan berada pada kondisi yang
normal. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa penggunaan tepung daun
kelor dalam pakan dapat mengakibatkan penurunan glukosa darah, namun masih
mampu mempertahankan kadar glukosa darah pada kondisi normal.

4.7. Efek Perlakuan terhadap Kolesterol Darah


Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa kolesterol darah
perlakuan

P0

tertinggi pada

(146,25 + 25,51) dan kemudian berturut-turut diikuti oleh

perlakuan P4 (136,5 + 11,59), P3 (133,5 + 5,75), P2 (113,5 + 7,63) dan P1 (109,25

29

+ 20,32) mg/dl. Untuk mengetahui signifikasi pengaruh perlakuan terhadap


kolesterol darah dilakukan analisis statistik.
Hasil analisis statistik pada Lampiran 19 menunjukkan bahwa penggunaan
tepung

daun kelor dalam pakan memberikan pengaruh yang berbeda nyata

(P<0,05) terhadap kolesterol darah ayam pedaging. Untuk mengetahui perbedaan


antar perlakuan dilakukan Uji Jarak Berganda Duncans. Berdasarkan hasil Uji
Jarak Berganda Duncans dapat diketahui bahwa perlakuan P1 (109,25 + 20,32)
mg/dl berbeda nyata dan mempunyai kadar kolesterol terendah dibandingkan
dengan perlakuan P0 (146,25 + 25,51), P4 (136,5 + 11,59), P3 (133,5 + 5,75), P2
(113,5 + 7,63) mg/dl. Hal ini menunjukkan bahwa semakin meningkatnya
penggunaan daun kelor, maka kadar kolesterol darah juga ikut meningkat. Namun
belum diketahui secara pasti penyebab peningkatan kadar kolesterol darah
tersebut. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa penggunaan
tepung daun kelor pada level 2,5 % dalam pakan merupakan level yang optimal
untuk menurunkan kolesterol darah ayam pedaging.
Hasil penelitian tersebut di atas sesuai dengan pendapat Afuang et al.
(2003) yang menyatakan bahwa substitusi tepung ikan dengan dengan tepung
daun kelor dalam pakan ikan pada level

27 % dan 40 % dilaporkan mampu

menurunkan kadar kolesterol darah pada ikan Nile tilapia (Oreochromis niloticus
L.). Hal yang sama juga dilaporkan oleh Ghasi et al. (2000) bahwa ekstrak daun
kelor mempunyai efek menurunkan kolesterol darah pada tikus.
Darah yang dipompa oleh jantung dan dialirkan ke seluruh badan
membawa berbagai nutrien yang penting dan diperlukan untuk tubuh.
Kolesterol adalah salah satu komponen yang dialirkan oleh darah dan diperlukan

30

untuk fungsi sel dan reproduksi. Kolesterol ini diperlukan pada jumlah tertentu
saja oleh badan dan dibawa melalui partikel lipid-protein yang disebut sebagai
lipoprotein. Peningkatan jumlah kolesterol dan ketidakseimbangan di dalam
lipoprotein akan menyebabkan beberapa masalah dan dapat menyebabkan risiko
penyakit jantung. Pada manusia, konsentrasi kolesterol darah normal berkisar
antara 120 - 200 mg per deciliter (mg/dL). Konsentrasi kolesterol darah lebih dari
240 mg/dL termasuk dalam hiperkolesterolemia (mempunyai kolesterol darah
yang tinggi) (Razak, 2006). Menurut penelitian Rao et al. (2003) mengenai
kolesterol darah ayam pedaging, konsentrasi kolesterol darah ayam pedaging
pada umur 21 hari berkisar antara 124 164 mg/dL, sedangkan pada umur 42 hari
rata-rata adalah 124 mg/dL.
Penggunaan tepung daun kelor pada level 2,5 %

dalam pakan dapat

menurunkan kolesterol darah ayam pedaging hingga 25 %. Efek menurunkan


kolesterol pada daun kelor tersebut dapat dianjurkan sebagai acuan informasi
dalam ilmu kedokteran untuk aplikasi pengobatan hiperkolesterolemia serta dapat
diteliti lebih lanjut mengenai mekanisme penurunan kolesterol darah dalam tubuh.

31

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan tepung
daun kelor pada level 2,5 % dalam pakan merupakan level yang optimal untuk
menurunkan kolesterol darah dan penggunaan tepung daun kelor hingga level 10
% dalam pakan tidak memberikan efek negatif terhadap berat organ dalam dan
glukosa darah ayam pedaging.

5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan agar dilakukan penelitian
lebih lanjut mekanisme penurunan kolesterol darah ayam pedaging. Level optimal
tepung daun kelor yang disarankan untuk menurunkan kolesterol darah ayam
pedaging adalah 2,5 % dalam pakan.

32

DAFTAR PUSTAKA

Afuang, W., P. Siddhuraju. and K. Becker. 2003. Comparative nutritional


evaluation of raw, methanol extracted residues and methanol extracts of
moringa (Moringa oleifera Lam.) leaves on growth performance and feed
utilization in Nile tilapia (Oreochromis niloticus L.). Aquaculture
Research 34 (13), 1147-1159.
Anonimous. 2004. Moringa Oleifera Lam. http://mobot.org/plantscience/grand
students/olson/oleifera.htm. Diakses tanggal 21 Maret 2007.
, 2005. Moringa Leaf Powder The Worlds Greatest Unknown
Supplement.
http://www.articledashboard.com/Article/Moringa-LeafPowder---The-World-s-Greatest-Unknown-Supplement/43842.
Diakses
tanggal 21 Maret 2007.
, 2006. Kelor. http://ms.wikipedia.org/wiki/Pokok_Kelor. Diakses
tanggal 21 Maret 2007.
, 2007. Gula Darah. http://id.wikipedia.org/wiki/Gula_darah Diakses
tanggal 21 Maret 2007.
Astuti, D.A., D.R. Ekastuti, dan Firdus. 2005. Manfaat Daun Kelor (Moringa
oleifera) sebagai Pakan Ayam Pedaging. Prosiding Seminar Nasional.
Pengembangan Usaha Peternakan Berdaya Saing di Lahan Kering.
Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Dahot, M.U. 1989. Antimicrobial Activity of Small Protein of Moringa oleifera
Leaves. Journal of Islamic Academy of Sciences. Volume 11, No.1.
University of Sindh. Pakistan. www.hort.purdue.edu/newcrop/duke
energy/Moringa oleifera.html.
Eric, L. 2007. Konsep Detoks. http://www.detokshop.blogspot.com/organdalam
Diakses tanggal 17 Mei 2007.
Fahey, J.W. 2005. Moringa oleifera: A Review of the Medical Evidence for Its
Nutritional, Therapeutic, and Prophylactic Properties. Part 1.
http://www.tfljournal.org/article.php/20051201124931586
Diakses
Tanggal 21 September 2007
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi. Edisi ke empat. Gadjah Mada
Press. Yogyakarta.
Fuglie, L. 1985. The Miracle Tree (The Multiple Attributes of Moringa). CWS.
Dakar, Senegal.

33

Ghasi, S., E. Nwobodo, J.O. Ofili. 2000. Hypocholesterolemic Effects of Crude


Extract of Leaf of Moringa oleifera Lam in High-Ft Diet Fed Wistar Rats.
Abstract. http://www.medscape.com/medline/abstract/9619112 Diakses
tanggal 21 September 2007
Gupta, K., G.K. Barat, D.S. Wagle, H.K.L. Chawla. 1989. Nutrient contents and
antinutritional factors in conventional and non conventional leafly
vegetables. Food Chemistry. 31, 105-116
Harvey, M. 2005. Moringa Leaf Powder The Worlds Greatest Unknown
Supplement.
http://www.articledashboard.com/Article/Moringa-LeafPowder---The-World-s-reatest Unknown-Supplement/43842 Diakses
tanggal 21 September 2007
Makkar, H.P.S. and K. Becker. 1997. Nutrients and Anti-quality Factors in
Defferent Morphological Parts of the Moringa oleifera Tree. J. of
Agric.Sci.Cambridge, 128: 311-322.
Meidianty, S.D. 2005. Pengaruh Pemberian Daun Kelor (Moringa oleifera) atau
Glirisidia (Glirisidia septum) dalam Suplemen Urea Molases Block
(UMB) Sapi Perah terhadap Konsumsi dan Profil Metabolit Darah.
Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.
Moran, E.T. 1982. The Gastrointestinal System. Office for Educational Practice.
University of Guelph. Guelph, Canada.
Muchtadi, D., N. Palupi, dan M. Astawan. 1993. Metabolisme Zat Gizi Sumber
dan Kebutuhan Bagi Tubuh Manusia. Jilid II. Pustaka Sinar Harapan,
Jakarta. Hal 43-48.
Muchtadi, T.R. dan Sugiyono. 1992. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. IPB.
Muro, J. K., V.R.M. Muhikambele, S.V. Sarwatt. 2003. Moringa oleifera Leaf
Meal Can Replace Cottonseed Cake in the Concentrate Mix Fed with
Rhodes Grass (Chloris gayana) Hay for Growing Sheep. Livestock
Research fo Rural Development 15 (11): 1-5
Murtidjo, B.A. 1987. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Kanisius. Yogyakarta.
NRC. 1994. Nutrient Requirement of Poultry. National Academy of Science.
Washington D.C.
Nurachman, Z. 2002. Diabetus Mellitus. http://www.kompas.com/kesehatan/
news/0302/02/220453. Diakses tanggal 30 Maret 2007.

34

Pilliang, W.G. and S.D. Al Hajj. 1991. Fisiologi Nutrisi. Vol I. Institut Pertanian
Bogor P.T Penerbit IPB (IPB Press). Bogor.
Pilliang, W.G. dan Djojosoebagio. 1990. Fisiologi Nutrisi. Volume I Depdikbud.
Dikti PAU Ilmu Hayat. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Pond, W.G., D.C. Church, and K.R. Pond. 1995. Basic Animal Nutrition and
Feeding. 4th Edition. John Wiley and Sons. New York.
Rao, S.V.R., M.V.L.N. Raju, M.R. reddy and A.K. Panda. 2003. Utilization of
Graded Levels of Finger Millet (Eleusine coracana) in Place of Yellow
Maize in Commercial Broiler Chicken Diets. Project Directorate on
Poultry, Rajendranagar, Hyberabad 500 030. A.P., India.
Razak,

R.A. 2006. Kolestrol Berlebihan Risiko Sakit Jantung.


http://www.bharian.com.my/m/BHarian/Saturday/BeritaSawit/200609021
20309/Article/ Diakses tanggal 21 Maret 2007.

Ressang, A.A. 1983. Patologi Khusus Veteriner. Gadjah Mada Press. Yogyakarta.
Sarwatt, S., S.S. Kapange, and A.M.V. Kakengi. 2004a. The Effect on Intake,
Digestibility and Growth of Goats When Sunflowers Seed Cake is
Replaced with Moringa oleifera Leaves in Sulpements Fed with Chloris
gayana Hay. www.husdyr.kul.dh
Sarwatt, S.; Milangha, M.S.; Lekule, F.P.; and Madalla, N. 2004b. Moringa
oleifera and cottonseed cake as supplements for smallhoder dairy cows fed
Naiper grass. Livestock Research for Rural Development 16 (6) : 1-6
Soetanto, H., Sulistyani, Rachmawati, E., Karyono, S. dan Roeskitaningsih. 2004.
Potensi Tanaman Kelor sebagai Antibiotika dan Antioksidan. Laporan
Penelitian Kerjasama antara Universitas Brawijaya dan Badan Tenaga
Nuklir Nasional (BATAN)-Pasar Jumat, Jakarta.
. 2005. Potensi Tanaman Kelor (Moringa oleifera lam.) sebagai Sumber
Pakan dan Pangan di Indonesia. Proceeding Seminar Nasional AINI V.
Universitas Brawijaya. Malang.
, Nuringdiati, Ika Wahyu dan Siska D.M. 2005. Pengaruh Penambahan
Daun Kelor (Moringa oleifera, Lam) atau Gliricidia (Gliricidia sepium)
dalam Urea Molasses Block terhadap Produktivitas Sapi Perah yang diberi
Pakan Basal Tebon Jagung dan Konsentrat. Penelitian Kerjasama Antara
Universitas Brawijaya dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)Pasar Jumat, Jakarta.
Suriawiria,
U.
2005.
Manfaat
Daun
Kelor.
http://keris.blogs.ie/2005/03/15/manfaat-daun-kelor/ Diakses tanggal 21
Maret 2007.

35

Whittow, G.C. 2000. Sturkies Avian Physiology. Five Edition. Academic Press.
United State of America.
Yuwanta, T. 2004. Dasar Ternak Unggas. Fakultas Peternakan Universitas Gajah
Mada. Yogyakarta.

36