Anda di halaman 1dari 4

Nama: Ruth

NPM: 1406533642
Jurusan: Teknologi Bioproses
LTM Kimia analitik
Tugas: 1. Karakteristik analit yang akan dianalisis menggunakanpotensiometri
2. Metode adisi standar pada potensiometri
Pertanyaan:
Mengapa dalam beberapa literatur disebutkan bila kita menggunakan teknik potensiometri ,
kondisi pH larutan yang akan dianalisis tidak boleh terlalu asam?Mengapa diperlukan larutan
yang mengandung elektrolit tinggi?Bagaimana kalau ada ion-ion lain seperti ion besi dalam
larutan yang akan dianalisis?
Potensiometri adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari pengukuran perubahan potensial
dari elektroda untuk mengetahui konsentrasi dari suatu larutan. Salah satu metode yang
digunakan dalam potensiometri adalah metode adisi standar.
Persamaan dalam menggunakan potensiometri:
Ecell = Eind Eref + Ej
Persamaan Nernst: E = 0,0591/n log K
Keterangan:
Ecell : Potensial sel
Eind : Potensial elektroda indikator
Eref : Potensial elektroda acuan
Ej : Potensial sambungan cair (liquid junction potential)
Metode analisis dalam potensiometri:
1. Potensiometri langsung
Teknik ini hanya memerlukan pengukuran potensial sebuah indikator elektron ketika
dicelupkan dalam larutan yang mengandung konsentrasi yang tidak diketahui &
diketahui dari sebuah analit. Elektroda indikator selalu dianggap sebagai katoda dan
elektroda referensi sebagai anoda.Untuk pengukuran potensiometri langsung,
potensial sel dapat diekspresikan sebagai perkembangan potensial oleh elektroda
indikator, elektroda referensi, dan potensial jungsi.
2. Adisi standar
Teknik ini biasanya digunakan pada instrumentasi analisis seperti dalam atomic
absorption spectroscopy and gas chromatography untuk mencari nilai konsentrasi
substansi (analit) dalam sampel yang tidak diketahui dengan perbandingan untuk
susunan sampel yang diketahui konsentrasinya.
3. Adisi sampel
Hampir sama dengan metoda adisi standar kecuali pada sejumlah kecil volume
sampel.Pengukuran dibuat pada kekuatan ion standar dan slop elektroda yang
dihasilkan lebih sesuai dibanding adisi standar. Baik digunakan pada saat jumlah
sampel hanya sedikit, atau untuk sampel dengan konsentrasi yang besar, atau juga
yang memiliki matriks kompleks.
4. Titrasi potensiometri

Pada metoda ini dilakukan proses titrasi terhadap larutan asam oleh larutan bersifat
basa atau sebaliknya. Bermacam reaksi titrasi dapat diikuti dengan pengukuran
potensiometri. Reaksinya harus meliputi penambahan atau pengurangan beberapa ion
yang sesuai dengan jenis elektrodenya. Potensial diukur setelah penambahan sejumlah
kecil volume titran secara kontinu dengan perangkat automatik. Presisi dapat
dipertinggi dengan el konsentrasi
Kelebihan metode adisi standar dan sample dibandingkan potensiometri langsung:
1. Kalibrasi dan pengukuran sampel dilakukan secara bersamaan sehingga perbedaan
kekuatan ion dan temperatur standar dan sampel tidak terlalu signifikan.
2. Selama proses, elektroda tetap tercelup dalam larutan sehingga hanya terdapat sedikit
perubahan pada junction potential larutan
3. Pengukuran slop sangat mendekati konsentrasi sampel menunjukkan metode ini dapat
menghasilkan hasil yang lebih akurat pada range non-linear dan dapat digunakan
dengan elektroda tua atau lama yang range-nya tidak linear selama kemiringan stabil.
Kekurangan metode adisi standar dan sampel:
1. Diperlukan pencampuran yang akurat dari volume standar maupun sampel yang akan
diukur.
2. Diperlukan perhitungan yang lebih rumit dibandingkan dengan potensiometri
langsung.
3. Konsentrasi sampel juga harus diketahui sebelum memulai analisis untuk menentukan
konsentrasi standar dan volume yang sesuai untuk kedua larutan
Mengapa dalam menggunakan potensiometri perlu digunakan larutan elektrolit? Harus
elektrolit karena dalam larutan elektrolit dapat mengalirkan muatan listrik, sedangkan kalau
larutan non-elekrolit tentunya tidak dapat mengalirkan muatan.
Mengapa dalam menganalisis menggunakan potensiometri besar pH tidak boleh terlalu
tinggi?

Bagaimana jika ada ion-ion pengganggu dalam analit?


Komponen-komponen tersebut disusun membentuk suatu sel potensiometri seperti
gambar berikut , Dari gambar dapat dilihat bahwa sel potensiometri disusun dari dua setengah
sel yang dihubungkan dengan jembatan garam yang berfungsi penyeimbangkan muatan
larutan pada masing-masing setengah sel, selain itu juga berfungsi sebagai penghubung
antara dua setengah sel tersebut. Masing-masing setengah sel terdapat elektroda yang

tercelup dalam larutan elektrolit untuk ditentukan konsentrasinya oleh potensial


elektrodanya. Pemisahan elektrode ini diperlukan untuk mencegah terjadinya reaksi redoks
spontan dari laruan-larutan elektrolit yang digunakan dalam sel potensiometri
Meskipun elektroda selektif ion seharusnya merespon ion-ion tertentu secara
Nernstian, namun sering kali dapat juga merespon ion lain lebih besar atau lebih kecil yang
ada dalam larutan. Hal ini merupakan fakta yang benar apabila ion-ion lain secara fisik
maupun kimia mempunyai sifat yang mirip dengan ion yang diukur. Sebagai contoh elektroda
selektif ion klorida (Cl- ) akan terinterferensi dengan adanya ion yang sejenis seperti bromida
(Br- ), tetapi kurang terinterferensi ion lain yang tidak sejenis seperti ion hidroksida (OH- ).
Bagaimana kita dapat mengkuantitatifkan pengaruh interferensi ion lain pada elektroda
selektif ion? Kita dapat menunjukkan derajat interferensi secara sederhana. Sebagai contoh,
suatu elektroda selektif ion klorida ternyata dapat merespon ion bromida sebesar 300 kali ion
kloridanya, dengan demikian maka aktivitas ion bromida memberikan efek sama sebesar 300
kali dari aktivitas ion klorida. Kita dapat menulis ulang persamaan Nernst untuk ion klorida
tersebut menjadi:
(Ingat bahwa tanda menunjukkan bahwa elektroda merespon ion negatif) Disamping itu
elektroda diatas juga merespon ion hidroksida 100 kali lebih kecil dari ion klorida. Dalam hal
ini persamaan Nernst menjadi:

Keseluruhan langkah yang kita lakukan dengan pengalian aktivitas ion pengganggu
merupakan faktor yang kita sebut koefisien selektivitas atau perbandingan selektivitas. Pada
contoh diatas untuk ion berbagai pengganggu akan didapatkan persamaan yang berbeda-beda.
Oleh sebab itu perlu dirumuskan penurunan persamaan Nernst umum lain yang
memperhatikan nilai tetapan selektivitas. Kita dapat menghitung perbandingan konsentrasi
analit dan ion pengganggu untuk mendapatkan derajat kesalahan.
Jika aktivitas ion pengganggu melebihi nilai perbandingan yang diperbolehkan, maka
kita akan mempunyai empat pilihan antara lain:
1. Jika aktivitas ion penganggu diketahui secara akurat, kemudian kita membuat
hubungan dalam perhitungannya.
2. Jika kita menggunakan kurva kalibrasi, kita dapat memakai dengan aktivitas ion yang
sama untuk ion pengganggu dan sampel. Ini akan memberikan tingkat interferensi
yang konstan dan tidak akan mengganggu kecermatan dalam pengukuran.
3. Kita dapat mengubah ion pengganggu dengan proses pengendapan atau reaksi
kompleksasi. Akan tetapi kita harus sangat hati-hati yang mana kita tidak boleh ion
utama ikut terpindahkan dari proses tersebut.
4. Kita dapat mengatur perbandingan ion analit dengan ion pengganggu pada nilai
perbandingan tertentu dengan menambahkan sejumlah zat yang diketahui secara tepat
jumlahnya. Cara ini dapat dengan baik menghindari adanya ion pengganggu. Prinsip
ini yang sering disebut metode adisi standar.
Pilihan pertama merupakan cara yang kurang akurat yang mana koefisien selektivitas
dapat bervariasi dengan kekuatan ion total larutan. Maka perlu pengatur nilai kekuatan ion
dengan zat pengatur kekuatan ion, yang akan mengatur nilai K. Kegunaan nilai koefisien

selektivitas, adalah sangat penting untuk mengetahui nilai maksimum ion pengganggu dalam
perhitungan secara kuantitatif pada analisis potensiometri.
Metode MPM (Matched Potential Method) Metode MPM pertama kali diusulkan oleh
Gadzekpo dan Christian pada tahun 1984. Metode ini diusulkan dengan alas an untuk ion
dengan muatan lebih dari satu, pemakaian persamaan Nicolski Eisenman relative kurang
cocok. Secara praktis metode ini dilakukan dengan menambahkan ion utama (i) dalam larutan
baku dan diukur potensialnya. Hal yang sama dilakukan dengan penambahan ion pengganggu
(j). Dari sejumlah konsentras ion utama dan ion pengganggu akan didapatkan pola grafik
seperti pada gambar 1.

Gambar 1: Perbandingan aktivitas ion utama dan ion pengganggu


Besarnya tetapan selektivitas ditentukan berdasarkan rasio dari selisih antara aktivitas
ion utama dan ion pengganggu dari dua buah pengukuran. Secara matematis dirumuskan
dengan persamaan:

Sumber:
1. http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._KIMIA/195912291991012ZACKIYAH/potensiometri.pdf
2. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Suyanta,%20M.Si.,%20Dr.
%20/Makalah.3.Sem_.Kim_.UNY_.pdf