Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I
DASAR TEORI
Alat indra adalah alat-alat tubuh yang berfungsi mengetahui keadaan luar. Alat indra
manusia sering disebut panca indra, karena terdiri dari lima indra yaitu indra penglihat (mata),
indra pendengar (telinga), indra pembau/pencium (hidung), indra pengecap (lidah) dan indra
peraba (kulit).
Kulit merupakan indra peraba yang mempunyai reseptor khusus untuk sentuhan,
panas, dingin, sakit, dan tekanan. Kulit terdiri dari lapisan luar yang disebut epidermis dan
lapisan dalam atau lapisan dermis. Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah dan sel
saraf. Epidermis tersusun atas empat lapis sel. Dari bagian dalam ke bagian luar, pertama
adalah stratum germinativum berfungsi membentuk lapisan di sebelah atasnya. Kedua, yaitu
di sebelah luar lapisan germinativum terdapat stratum granulosum yang berisi sedikit keratin
yang menyebabkan kulit menjadi keras dan kering. Selain itu sel-sel dari lapisan granulosum
umumnya menghasilkan pigmen hitam (melanin). Kandungan melanin menentukan derajat
warna kulit, kehitaman, atau kecoklatan. Lapisan ketiga merupakan lapisan yang transparan
disebut stratum lusidium dan lapisan keempat adalah lapisan tanduk disebut stratum korneum.
Kulit berfungsi sebagai alat pelindung bagian dalam, misalnya otot dan tulang; sebagai
alat peraba dengan dilengkapi bermacam reseptor yang peka terhadap berbagai macam
rangsangan; sebagai alat ekskresi; serta pengatur suhu tubuh.
Klasifikasi reseptor berdasarkan tingkat kepekaan terhadap modalitas tertentu antara lain:
1.
2.
3.
4.

Termoreseptor ( peka terhadap perubahan suhu )


Mekanoreseptor ( peka terhadap sentuhan dan tekanan )
Kemoreseptor ( Peka terhadap perubahan kimiawi )
Osmoreseptor ( peka terhadap perubahan tekanan osmotik )

Terdapat berbagai bentuk impuls yang dapat diterima oleh indra, yaitu:
1.
Rangsang Kimia diterima oleh Kemoreseptor
Pada proses penerimaan rangsang kimia (kemoresepsi), terjadi interaksi antara bahan kimia
dengan kemoreseptor membentuk kompleks bahan kimia-kemoreseptor. Kompleks tersebut
mengawali proses pembentukan potensial generator pada reseptor, yang akan segera
menghasilkan potensial aksi pada sel saraf sensoris dan sel berikutnya sehingga akhirnya
timbul tanggapan.
2.
Rangsang Mekanik diterima oleh Mekanoreseptor

Proses peneriman rangsang mekanik dinamakan mekanoresepsi. Mekanisme mekanoresepsi


adalah sebagai berikut; Rangsang mekanik yang menekan reseptor menyebabkan membrane
mekanoreseptor meregang. Peregangan membrane mekanopreseptor tersebut menimbulkan
perubahan konformasi protein penyusun pintu ion Na+. Pintu ion Na+ terbuka diikuti
terjadinya perubahan elektrokimia yang mendepolarisasikan mekanoreseptor.
Mekanoresepsi memiliki reseptor untuk menerima rangsang tekanan, suara, dan gerakan.
Bahkan insekta juga mempunyai mekanoreseptor pada permukaan tubuhnya, yang dapat
memberikan informasi mengenai arah angin, orientasi tubuh saat berada dalam ruangan, serta
kecepatan gerakan dan suara. Variasi reseptor akan akan tampak semakin jelas apabila kita
mengalami mekanoreseptor pada vertebrata.
3.
Rangsangan Suhu diterima oleh Termoreseptor
Termoresepsi adalah proses mengenali suhu tinggi dan rendah serta perubahan suhu
lingkungan. Peningkatan suhu secara ekstrem akan mempengaruhi struktur protein dan enzim
sehingga tidak dapat berfungsi secara maksimal. Hal ini dapat mengganggu penyelenggaraan
berbagai reaksi metabolik yang penting dalam tubuh spesies.
4.
Rangsang Cahaya diterima oleh Fotoreseptor
Tanpa adanya cahaya kehidupan akan gelap gulita. Ini sama pentingnya dengan keberadaan
inra untuk menangkap cahaya. Mulai mikroorganisme dan makroorganisme ternyata juga
dapat mendeteksi cahaya. Struktur fotoreseptor berfariasi, dari yang paling sederhana berupa
eye-spot hingga struktur yang rumit dan terorganisasi dengan baik seperti yang dimiliki
vertebrata.
Reseptor-reseptor yang terletak di alat indera peraba antara lain :
a. Ujung Saraf Bebas (Free Neve Ending):
Saraf sensorik aferen berakhir sebagai ujung akhir saraf bebas pada banyak jaringan
tubuh dan merupakan reseptor sensorik utama dalam kulit. Serat saraf akhir bebas
merupakan searat saraf yang tak bermielin, atau serat saraf bermielin berdiameter kecl,
yang semua telah kehilangan pembungkusnya sebelum berakhir, dilanjutkan serat
saraf terbuka yang berjalan diantara sel epidermis. Sebuah serat saraf sering kali
bercabang-cabang banyak dan mungkin berjalan ke permukaan, sehingga hampir
mencapai stratum koneum. Serat yang berbeda mungkin menerima perasaan raba,
nyeri, dan suhu. Sehubungan dengan folikel rambut, banyak cabang serat saraf yang
berjalan longitudinal dan melingkari folikel rambut dalam dermis.
b. Korpuskulus Peraba (Meissner):
Korpuskulus peraba terletak pada papila dermis, khususnya pada ujung jari, bibir,
puting dan genetalia. Bentuknya sislindris, sumbu panjangnyua tegak lurus permukaan
kulit dan berukuran 80 mikron dan lebarnya 40 mikron. Korpuskulus ini peka terhadap

sentuhan dan memungkinkan deskriminasi / pembedaan dua titik (mampu


membedakan rangsang dua titik yang letaknya berdekatan)
c. Korpuskulus Berlamel (Vater Pacini):
Korpuskulus berlamel ditemukan di jaringan subkutan pada telapak tangan, telapak
kaki, jari, puting, periosteum, mesenterium tendo, ligamen dan genetalia eksterna.
Setiap korpuskulus di suplai oleh sebuah serat bermielin yang besar dan juga telah
kehilangan sarung sel schwanya pada tepi korpuskulus. Akson saraf banyak
mengandung mitokondria. Akson dikelilingi oleh 60 lamela yang tersusun rapat
(terdiri dari sel gepeng ). Sel gepeng ini tersusun bilateral dengan dua alur longitudinal
pada sisinya. Korpuskulus berfungsi untuk menerima rangsangan tekanan yang dalam.
d. Korpuskulus Gelembung (Krause) :
Korpuskulus gelembung (krause) ditemukan di daerah mukokutis (bibir dan genetalia
eksterna), pada dermis dan berhubungan dengan rambut. Di dalam korpuskulus , serat
bermielin kehilangan mielin dan cabangngnya tetapi tetap diselubungi sel schwan.
Korpuskulus ini jumlahnya semakin berkurang dengan bertambahnya usia. Korpuskel
ini berguna sebagai mekanoreseptor yang peka terhadap dingin.
e. Korpuskulus Ruffini:
Korpuskulus ini ditemukan pada jaringan ikat termasuk dermis dan kapsula sendi.
Mempunyai sebuah kapsula jaringan ikat tipis yang mengandung ujung akhir saraf
yang menggelembung. Korpuskulus ini merupakan mekanoreseptor, karena mirip
dengan tendo golgi.Korpuskulus ini terangsang oleh oleh regangan atau konstraksi
otot yang bersangkutan juga untukn menerima rangsangan panas.
f. Spindel Neuromuskular.

Diskriminasi Titik
Diskriminasi titik adalah kemampuan membedakan rangsanagan kulit oleh satu ujung
benda dari dua ujung disebut diskriminasi dua titik. Diskriminasi pada setiap tubuh bervariasi
dalam kemampuan membedakan dua titik pada tingkat derajat pemisahan bervariasi dalam
kemampuan membedakan dua titik pada tingkat derajat pemishan bervariasi. Normalnya dua
titik terpisah 2 sampai 4 mm dapat dibedakan pada ujung jari tangan, 30 sampai 40 mm dapat
dibedakan pada dorsum pedis .

Sensasi taktil dibawa ke korda spinalis oleh satu dari tiga jenis neuron sensorik, yaitu :
serat tipe A yang besar, serat tipe A yang kecil dan serat tipe C yang paling kecil. Hampir
semua informasi mengenai sentuhan, tekanan, dan getaran masuk ke korda spinalis melalui
akar dorsal saraf spinal yang sesuai.Setelah bersinap di spinal, informasi dengan lokalisasi
dibawa oleh serat-serat A yang melepaskan potensial aksi dengan cepat lalu dikirim ke otam
melalui sistem lemniskus kolumna dorsalis. Serat-serat saraf dalam sistem ini menyebrang
dari kiri ke kanan di batang otak sebelum bersinap di talamus. Informasi mengenai suhu dan
sentuhan yang lokalisasi kurang baik di bawa ke korda spinalis melalui serat-serat C yang
melepaskan potensil aksi secara lambat. Info tersebut dikirim ke daerah retikularis di batang
otak dan kemudian ke pusat-pusat yang lebih tinggi melalui serat di sistem anterolateral.
Mekanoreseptor stimulus taktil
Tempat-tempat di tubuh yang tidak terdapat rambut , tetepai dengan kepekaan besar
terhadap stimulus taktil, ternyata terdapat banyak corpusculum taktil, ternyata terdapat banyak
receptor taktil Perasaan taktil dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Perasaan taktil yang halus
Kepekaan taktil yang halus diketahui dengan menentukan jarak terdekat antara dua
titik di kulit yang sekaligus distimulasi dan masih dapatdibedakan sebagai dua titik.
Impuls taktil ini dihantarkan melalui fasiculus gracillis cuneatus.
2. Perasaan taktil kasar
Impulus taktil ini dihantarkan melalui tractus spinothalamicus anterior. Sensasi taktil
yang terdiri dari raba , tekanan dan getaran sering digolongkan sebagai sensaasi
terpisah, mereka semua di deteksi oleh jenis reseptor yang sama.
Mekanisme sensoris yang dapat dirasakan dapat dibagi dalam dua golongan menurut
pilogenesisnya, jalur saraf spinalnya dan daerah korteks serebri tempat mekanisme ini
diintegrasikan.
Golongan pertama, paleo-sensibilitas, yang meliputi rasa rasa primitif atau rasa
rasa vital seperti rasa raba, tekan sakit, dingin dan panas. Saraf aferen dari rasa-rasa ini
bersinaps dengan interneuron interneuron yang bersinaps lagi dengan motor neuron motor
neuron dari medula spinalis dan sentrum atasan ( thalamus dan korteks serebri) melalui traktur
spino-talamikus.
Golongan kedua, gnostik atau neo-sensibilitas, yang meliputi rasa-rasa yang sangat di
deferensiasikan, seperti pengenalan letak rasa tekan, diskriminasi rasa tekan, diskriminasi

kekuatan rangsang, diskriminasi kekerasan, diskriminasi ukuran dan bentuk. Saraf aferen dari
rasa-rasa ini menghantarkan impuls-impuls yang terutama dialirkan melalui traktus dorsospinalis ke arah sensoris di dalam korteks serebri, setelah di integrasikan seperlunya pada
pusat-pusat dibawahnya.

BAB II
HASIL PENGAMATAN

2.1 DATA PENGAMATAN


2.1.1 Rasa Panas dan Dingin
A. Jari Tangan
Jari
Kanan

Stimulus
Es

Respon
Dingin, nyeri dan kaku

Kiri

Air hangat

Hangat. panas di kulit

Kanan-Kiri

Air Biasa

Telunjuk kanan : sedikit kaku


Telunjuk kiri : biasa aja (normal)

B. Punggung Tangan
Lokasi
Punggung Tangan
Punggung tangan

2.1.2

Stimulus
Alkohol

Respon
Terasa dingin
Terasa bertambah dingin

Reaksi-Reaksi di Kulit

Telapak Tangan

Lengan Bawah

Keterangan:
Panas :
Dingin :
Nyeri :
Tekan :

Kuduk

Pipi
Jumlah Reseptor

No
1.
2.
3.
4.

Perlakuan
Nyeri
Tekan
Suhu dingin
Suhu panas

Telapak
Tangan
4
3
2
3

Rasa-Rasa Kulit
Lengan
Kuduk
Bawah
3
3
8
9
4
3
1

Pipi
4
8
2

2.1.3 Lokalisasi Rasa Tekan


Taruh Titik Tekan dan Tunjuk (mm)
Lokasi
Ujung Jari
Telapak Tangan
Lengan Bawah
Lengan Atas
Pipi
Kuduk

2.1.4

II

III

Rerata

1
1
0
10
5
12

2
4
9
10
3
10

0
1
6
3
1
15

1
2
5
7,7
3
12,1

Diskriminasi Rasa Tekan


Rangsangan Simultan
Dari kecil ke besar
Jarak dua titik

No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Perlakuan
Telapak Tangan
Lengan Bawah
Lengan Atas
Pipi
Kuduk
Bibir
Lidah
Depan Telinga

II
0
0
0
0
0
0
0
0

Jarak dua titik

Rerat

(mm)
I
0
0
0
0
0
0
0
0

Dari besar ke kecil

a
III
0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0

Rerat

(mm)
I
0
0
0
0
0
0
0
0

II
0
0
0
0
0
0
0
0

a
III
0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0

Rangsangan Berurutan
Dari kecil ke besar
Jarak dua titik
No.

Perlakuan

(mm)

Dari besar ke kecil


Jarak dua titik

Rerat
a

(mm)

Rerat
a

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

I
2
3
2
3
2
2
3
2

Telapak Tangan
Lengan Bawa
Lengan Atas
Pipi
Kuduk
Bibir
Lidah
Depan Telinga

II
1
2
3
5
4
4
4
4

III
5
6
4
8
5
4
7
5

I
7
6
7
5
6
5
6
6

2,7
3,6
3
5,3
3,6
3,3
4,6
3,6

II
7
3
5
6
3
4
3
4

III
3
4
1
2
2
2
2
1

5,6
4,1
4,1
4,1
3,6
4
3,6
3,6

2.1.5 Diskriminasi Kekuatan Rangsangan-Hukum Weber-fechner


N
o.
1
2
3
4
5

2.1.6

Beban Awal (g)


beban awal 5 g
beban awal 10 g
beban awal 50 g
beban awal 100 g
beban awal 200 g

Ulangan (gr)
II
III

5
35
30
70
150

10
20
40
30
200

Rerata

7
25
30
50
190

7,3
26,67
23,3
50
180

Kemampuan Diskriminasi Kekasaran


Kekasara

No

Kertas

1
2
3
4

Gosok
0
1
2
3

Jari Tangan
Ulangan

Telapak Tangan
Ulangan

Lengan Bawah
Ulangan

Kuduk
Ulangan

II III

II

V
V
-

V
V
-

V
V
-

V
V
-

V
V
-

V
V
-

II III

V V
V V
- - -

V
V
-

V
V
-

II III

V V
V V
- - -

V
V
-

V
V
-

II
I
V
V
-

V
V
-

2.1.7 Kemampuan Diskriminasi Bentuk


No.

Bentuk

1
2

Persegi
Segitiga

Jari Tangan
Ulangan
I II III
V V V
V
V V V
V

Telapak Tangan
Ulangan
I II III
V V V
V
- - -

Lengan Bawah
Ulangan
I II III
V - V
V
- V V

Kuduk
Ulangan
I II III
V V V
V
- V V

3
4

Silindris
Persegi
Panjang

V V

V V

V V

V V

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Paleosensibilitas
3.1.1 Rasa Panas dan Dingin
Percobaan ini dilakukan pada jari tangan dan punggung tangan. Jari telunjuk tangan
kanan dimasukkan ke dalam air es pada suhu 5oC. Orang coba merasakan dingin. Kemudian
pada jari telunjuk tangan kiri dimasukkan ke dalam air hangat yang bersuhu 40 oC, orang coba
merasakan panas. Kemudian, telunjuk tangan kanan dan kiri secara bersamaan dimasukkan
pada air yang bersuhu kamar. Jari telunjuk tangan kanan mula-mula merasakan hangat lalu
lama kelamaan terasa dingin, sedangkan pada jari telunjuk tangan kiri terasa hangat.
Hal ini dikarenakan tangan memiliki suhu yang berbeda pada awalnya karena
merupakan terusan dari percobaan pertama. Tangan masih mengingat sensasi sebelumnya.
Tangan yang sebelumnya berada di air yang lebih dingin akan merasakan sensasi hangat
karena ada kenaikan suhu.
Pada percobaan punggung tangan, punggung tangan ditempatkan 10 cm di depan
mulut kemudian kulit punggung tangan ditiup secara perlahan-lahan dalam kondisi kering,
orang coba merasakan hembusan nafas seperti biasa tidak panas dan tidak dingin. Kemudian
percobaan dengan punggung tangan yang dibasahi dengan alcohol dan ditiup secara perlahanlahan, terasa dingin seperti terkena air es. Lalu percobaan dengan mengoleskan alcohol pada
punggung tangan dan meniupnya secara perlahan-lahan, orang coba merasakan dingin pada
punggung tangannya.
3.1.2 Reaksi-Reaksi di Kulit
Percobaan ini dilakukan pada daerah telapak tangan, lengan bawah, kuduk dan pipi,
pada masing-masing daerah tersebut ditandai sebuah persegi dengan ukuran 3 x 3 cm. Untuk
menentukan titik-titik panas pada daerah coba digunakan kerucut kuningan yang telah
direndam dengan air panas yang bersuhu 50 o C. Lalu untuk menentukan titik-titik dingin

10

dengan menggunakan kerucut kuningan yang telah direndam dalam air es. Untuk menentukan
titik nyeri menggunakan jarum. Dan untuk menentukan titik-titik tekan menggunakan pensil.
Pada semua daerah coba dirasakan panas, dingin, nyeri dan tekan tetapi tingkat sensibilitas
yang dirasakan berbeda. Tingkat sensibilitas paling tinggi yang dirasakan orang coba adalah
pada daerah pipi.
3.2 Neosensibilitas
3.2.1 Lokalisasi Rasa Tekan
Percobaan ini dilakukan dengan cara menekan ujung pensil dengan kuat pada ujung
jari, telapak tangan, lengan bawah, lengan atas, pipi dan kuduk. Orang coba menunjukan
dengan tepat letak bagian tubuh yang dirangsang tersebut dan dilakukan 3 kali. Berdasarkan
percobaan yang telah dilakukan, bagian yang paling peka terhadap rasa tekan adalah pada
bagian ujung jari. Hal ini ditunjukan dengan hasil rata-rata pada daerah ujung jari yang paling
kecil yakni sebesar 1.0 mm.
3.2.2 Diskriminasi Rasa Tekan
3.2.2.1 Diskriminasi Rasa Tekan Dua Titik Stimultan
Pada percobaan ini dilakukan dengan cara menekan pada ujung jari dengan sebuah
jangka. Jangka diperbesar setiap kali 2 mm sampai dirasakan dua titik yang dapat dibedakan
dua titik oleh orang coba. Dari hasil percobaan ini dapat diketahui bahwa daerah yang paling
peka dalam membedakan dua titik ujung jangka yaitu bibir dan lidah. Hal ini terbukti dengan
rerata yang kecil yaitu 2 mm.
3.2.2.2 Diskriminasi Rasa Tekan dua Titik Berurutan
Perlakuan sama seperti diskriminasi tekan dua titik, namun secara berurutan. Pada
percobaan ini dapat diketahui bahwa daerah yang paling peka dalam membedakan dua titik
ujung jangka yaitu pada lidah dan bibir. Hal ini terbukti dengan rerata yang kecil yaitu 2 mm.
3.2.3 Diskriminasi Kekuatan Rangsangan- Hukum Weber-Fechner
Pada percobaan kekuatan rangsangan Hukum Weber-Fechner, orang coba ditutup
matanya kemudian pada telapak tangannya diletakan beban awal. Kemudian sedikit demi
sedikit ditambah bebannya sampai terasa pertambahan beban tersebut. Pertambahan beban
yang terasa berkisar 11-30 gram. Hasil percobaan tersebut sesuai dengan hukum Weber
Fencher karena didapatkan sebuah pembuktian bahwa respon indera rangsang yang

11

didapatkan akan lebih rendah daripada stimulus yang diberikan. Sehingga, beban akan terasa
lebih ringan dari berat asalnya.

3.2.4 Kemampuan Diskriminasi Kekasaran


Percobaan ini dilakukan untuk mengukur kemampuan menebak kekasaran kertas
gosok 1, 2, dan 3 (halus, sedang, kasar). Percobaan ini melibatkan jari tangan, telapak tangan,
lengan bawah dan kuduk. Dan didapat hasil dalam percobaan ini tidak ada yang salah
menebak kekasaran kertas gosok.
3.2.5 Kemampuan Diskriminasi Bentuk
Percobaan ini dilakukan untuk mengamati kemampuan menebak bentuk orang coba
yaitu bentuk kerucut, bola besar, bola kecil dan kubus pada bagian tubuh jari tangan, telapak
tangan, lengan bawah dan kuduk. Orang coba dapat menebak semua bentuk dengan benar
pada jari tangan dan telapak tangan. Akan tetapi, pada lengan bawah dan telapak tangan
terjadi kesalahan dalam penebakan terutama dalam menebak bentuk bola besar dan bola kecil.

12

BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:


-

Jari tangan dan punggung tangan peka terhadap rasa panas dan dingin.
Daerah pipi memiliki rasa sensibilitas yang tinggi di antara daerah kulit lainnya.
Bagian yang paling peka terhadap rasa tekan yakni bagian ujung jari.
Daerah yang paling peka dalam membedakan dua titik ujung jangka yakni bibir dan

lidah.
Daerah yang paling peka dalam membedakan dua titik ujung jangka yakni pada lidah

dan bibir.
Bagian yang paling peka dan tepat menebak kekasaran pada suatu benda adalah pada

jari tangan.
Bagian yang peka dan tepat dalam menebak bentuk suatu benda adalah pada jari
tangan dan kuduk.

13

DAFTAR PUSTAKA

Campbell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid III. Jakarta: Erlangga.


Ganong, W.F. 1995. Buku Teks Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.