Anda di halaman 1dari 3

Tugas Communication Theory

Hari, Tanggal : Rabu, 16 April 2008

Saya mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS) di salah satu SMA favorit di
Tangerang. Di hari pertama, saya melihat perempuan yang menyebalkan karena dia
terlihat glamour. Memang hampir semua siswa perempuan berdandan seperti itu, tapi
perempuan yang saya lihat ini, dandanannya terlihat mencolok. Waktu itu saya belum
mengenal siapa-siapa. Tiba-tiba di hari kedua, perempuan itu menghampiri saya. Tidak
tahunya dia mengajak saya kenalan. Nama perempuan itu Diana. Pada awalnya saya tidak
berpikir kalau dia akan mengajak saya berkenalan, karena saya malas berteman dengan
orang yang terlihat terlalu glamour. Pada hari terakhir MOS, diumumkan siswa-siswi
terbaik selama MOS. Ternyata dipanggilah nama saya dan dia. Setelah kejadian itu, kami
mulai berbincang-bincang dan mulai menanyakan dimana dia tinggal dan berasal dari
SMP mana dan sebagainya.
Pada saat pembagian kelas, tercantum nama saya dan dia, ternyata kami satu kelas
di kelas unggulan, yaitu kelas X-1. Lama-kelamaan kami menjadi sahabat karena setiap
ada tugas kelompok, kami pasti berdua. Setelah beberapa minggu kami bersama, kami
mempunyai julukan masing-masing. Saya memanggil dia dengan sebutan ”behel”, karena
dia memakai behel dan dia memanggil saya dengan sebutan ”botak”, karena pada saat itu
rambut saya botak. Hari demi hari pun terlewati, kami berduapun semakin akrab.
Seiringnya waktu, kami menganggap sebagai kakak adik. Karena dia selalu ada untuk
saya disaat saya membutuhkan dia, begitu juga sebaliknya.
Di tahun kedua kami sekolah, kami tidak sekelas karena dia memilih jurusan IPS
dan saya mengambil jurusan IPA. Persahabatan kami tetap berjalan meskipun sudah
berbeda kelas. Setelah beberapa bulan belajar di tahun kedua, saya menaksir seorang
perempuan yang satu kelas dengan saya yang bernama Risty. Saya belum cerita ke dia
kalau saya sedang jatuh cinta, karena saya takut pasti pertemanan kami akan terganggu.
Tidak lama setelah itu, sayapun berpacaran dengan Risty. Saya tidak memberitahu Diana
kalau saya sudah memiliki pacar. Semenjak berpacaran, saya sudah jarang main bersama
Diana. Ternyata dia sudah tahu dari teman-teman saya kalau saya sudah ”jadian” dan dia
sangat marah. Sehabis pulang sekolah, dia menelepon saya sambil menangis tersedu-sedu

1
karena saya tidak memberitahu dia. Saya pun meminta maaf atas kejadian ini, tapi dia
tidak mau menerima maaf dari saya bahkan disaat pertengahan pembicaraan kita, dia
langsung memutuskan telepon begitu saja.
Esok harinya, kami bertemu di kantin. Saya menegur dia tapi dia mengacuhkan
saya dan langsung pergi ke kelas. Setiap kali kami bertemu, dia selalu membuang muka.
Dengan yang tidak enak, saya pun menelepon dia setelah pulang sekolah, tapi telepon
saya di ”reject” olehnya. Semenjak itu saya sudah tidak berkomunikasi lagi dengannya.
Saya masih mau berteman dengan dia, tapi seakan-akan dia menghindar setiap kali saya
ada di hadapannya.
Pada saat ingin naik ke kelas tiga, kita tidak sengaja berpapasan di sebuah mall.
Kami berdua sama-sama bingung karena tidak tahu ingin berbuat apa. Pada awalnya dia
membuang muka dan berlari saat melihat saya. Lalu saya refleks mengejar dan menarik
tangan dia karena ingin menanyakan kenapa dia tidak mau memaafkan saya. Lalu dia
menjelaskan kepada saya dan dia mengatakan, ”Lo kenapa ngga jujur sama gue klo lo
udah jadian sama si Risty? Lo anggap apa persahabatan kita? Gw tuh udah anggep lo
kaya kakak gw sendiri! Tapi kenapa lo g jujur!”. Saya kaget dia sampai berkata seperti
itu. Lalu saya menjawab, “trus mau lo sekarang gimana?”. Dia jawab, “ya udah,
persahabatan kita putus aja sampai disini!! Gw ngga mau punya temen pembohong kaya
lo!!! Anggep aja lo ngga pernah kenal sama gw!!! Paham??!!!”. Setelah berkata itu, dia
langsung berlari keluar mall dan pergi meninggalkan saya. Sejak kejadian itu, kami tidak
pernah menegur satu sama lain meskipun kami berpapasan di sekolah.

2
Dalam kasus ini, saya menggunakan teori Relationship Development.

1. Initiating : Pada saat MOS saya berkenalan dengan seorang


perempuan yang bernama Diana.
2. Experimenting: Kami berbincang-bincang setelah berkenalan.
3. Integrating : Saya memanggil dia ”behel” dan dia memanggil saya
”botak”
4. Bonding : Kami semakin akrab setelah mengetahui bahwa
kami
sekelas dan menjalin persahabatan.
5. Differentiating: Dia marah karena saya tidak jujur kalau saya sedang jatuh
cinta dan akhirnya mempunyai pacar.
6. Circumscribing : Saat bertemu di kantin, dia mengacuhkan saya.
7. Stagnating : Di mall, kami berdua berpapasan dan sama-sama diam.
Karena kami tidak tahu ingin berbuat apa.
8. Avoiding : Dia berlari dan menghindar ketika melihat saya di mall.
9. Terminating : Pada akhirnya persahabatan kita putus, saat dia berkata,” ya
udah, persahabatan kita putus aja sampai disini!! Gw ngga
mau punya temen pembohong kaya lo!!! Anggep aja lo
ngga pernah kenal sama gw!!! Paham??!!!”.