Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Indonesia begitu kaya akan kebudayaan yang beraneka ragam yang tersebar
mulai dari Sabang sampai Merauke. Kebudayaan yang berbeda tersebut didasari oleh
masyarakat dan adat istiadat yang telah turun-temurun sudah menjadi tradisi pada
daerah tersebut.

Kebudayaan yang beraneka ragam tersebut patut untuk kita pelihara dan
lestarikan keasliannya, agar generasi yang akan datang juga dapat merasakan
keindahan dari kebudayaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita.

Dalam hal ini, Penulis ingin memberikan gambaran tentang kebudayaan yang
ada di Indonesia. Khususnya kebudayaan yang ada di Aceh, yaitu 7 unsur
kebudayaan yang ada pada suku bangsa Aceh.

Suku bangsa aceh merupakan salah satu suku yang tergolong ke dalam etnik
melayu atau ras melayu, bahkan sering diakronimkan dengan Arab, Cina, Eropa dan
Hindustan. Kebudayaan suku aceh ini banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya
melayu, karena letak Aceh yang strategis karena merupakan jalur perdagangan maka
masuklah kebudayaan Timur Tengah. Suku aceh sendiri berada di sebuah Daerah
Istimewa setingkat provinsi yang terletak di Pulau Sumatra dan merupakan provinsi
paling barat di Indonesia. Dilihat dari sisi kebudayaannya, suku aceh memiliki
budaya yang unik dan beraneka ragam. Beberapa budaya yang ada sekarang adalah
hasil dari akulturasi antara budaya melayu, Timur Tengah dan Aceh sendiri.

1
1.2 RUMUSAN MASALAH/PERMASALAHAN
Permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan ini, yaitu :
1. Bagaimana sistem teknologi pada suku Aceh?
2. Bagaimana sistem religi pada suku Aceh?
3. Bagaimana sistem bahasa pada suku Aceh?
4. Bagaimana sistem mata pencaharian pada suku Aceh?
5. Bagaimana sistem pengetahuan pada suku Aceh?
6. Bagaimana sistem organisasi sosial pada suku Aceh?
7. Bagaimana sistem kesenian pada suku Aceh?

1.3 TUJUAN dan MANFAAT PENULISAN


1.3.1 TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan ini, yaitu :
• Untuk mengetahui sistem teknologi pada suku Aceh.
• Untuk mengetahui sistem religi pada suku Aceh.
• Untuk mengetahui sistem bahasa pada suku Aceh.
• Untuk mengetahui sistem mata pencaharian pada suku Aceh.
• Untuk mengetahui sistem pengetahuan pada suku Aceh.
• Untuk mengetahui sistem organisasi pada suku Aceh.
• Untuk mengetahui sistem kesenian pada suku Aceh.

1.3.2 MANFAAT PENULISAN


Sedangkan manfaat dari penulisan ini, yaitu :
• Dapat menambah wawasan tentang kebudayaan suku Aceh.
• Dapat dijadikan sebagai pedoman bagi yang ingin mempelajarinya.
• Dapat memberikan inspirasi bagi penulisan selanjutnya dalam topik yang
sama, agar kekurangan yang sekiranya ada pada penulisan ini dapat
dijadikan sumber penelitian yang baru.

2
1.4 BATASAN KONSEP/TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Untuk mempermudah pembaca membaca penulisan ini, maka penulis membuat
tinjauan kepustakaan, sebagai berikut :

Bak Iboh : batang iboh
• Batee : batu
• Dukun : orang pintar
• Gampong : kampung

Geucik atau kecik : kepala kampung

Karong : saudara dari pihak ibu

Kawom : saudara dari pihak ayah

Keumeurah paneuk : bedil berlaras pendek

Imam Meunasah : orang yang memimpin masalah - masalah yang
berhubungan dengan keagamaan pada satu unit pemerintah kampung.
• Imam Mukim : orang yang mengurusi masalah keagamaan pada tingkat
pemerintah pemukiman, yang bertindak sebagai imam sembahyang pada
setiap hari Jum’at di sebuah Masjid pada wilayah mukim yang bersangkutan.

Matrilokal : tinggal di rumah orangtua istri selama beberapa waktu
• Meunasah : desa

Mukim : kumpulan dari beberapa kampung

Nanggroe : kumpulan dari beberapa mukim

Ninik Mamak : nenek dari ibu

Orang Tua Adat : orang yang dituakan
• Pending : ikat pinggang

Peudang : pedang
• Qadli : orang yang meimpin pengadilan agama atau yang dipandang
mengerti

Ruduh : kelewang

Rumah Inong : serambi tengah

Rumoh Tanggo : rumah tangga
• Sukee : suku

3
• Seuranmoe Keu : serambi depan

Seuranmoe Likot : serambi belakang

Tameung : tameng

Teungku : pengelola lembaga – lembaga pendidikan keagamaan, seperti
dayah dan rangkang, juga termasuk murid – muridnya. Bagi mereka yang
sudah cukup tinggi tingkat keilmuannya, disebut dengan istilah Teungku
Chiek.

Tuha Peut : penasehat adat

Uleebalang : orang-orang keturunan bawahan para sultan yang menguasai
daerah-daerah kecil di bawah kerajaan.

Ureung Nyang Malem : seorang yang berilmu

Uxorilikal : tinggal dalam lingkungan keluarga pihak wanita.

1.5 METODELOGI PENULISAN


1.5.1 METODE WAWANCARA
Penulis melakukan wawancara terhadap seseorang yang bersuku aceh
asli.

1.5.2 STUDI KEPUSTAKAAN


Dalam metode ini, penulis mengumpulkan data dengan mengadakan
penelitian pustaka yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas, yaitu
Kebudayaan Suku Aceh.

1.5.3 STUDI DUNIA MAYA


Dalam metode ini, penulis mengumpulkan data di dunia maya yang
berkaitan dengan masalah yang akan dibahas, yaitu Kebudayaan Suku Aceh.

1.6 SISTEMATIKA PENULISAN


Di dalam penulisan ini dibagi menjadi tiga bab yang akan dijabarkan secara
terperinci. Berikut ini gambaran secara singkat mengenai pembahasan untuk tiap-tiap
bab dalam penelitian.
BAB I : PENDAHULUAN

4
Berisikan uraian tentang latar belakang masalah, rumusan
masalah/permasalahan, tujuan dan manfaat penulisan,
batasan konsep/tinjauan kepustakaan, metodelogi penulisan,
sistematika penulisan serta demografi.
BAB II : PEMBAHASAN
Berisikan deskripsi objek penelitian, gambaran umum
tentang permasalahan yang akan dibahas.

BAB III : PENUTUP


Berisikan pernyataan singkat dari hasil penelitian dan
analisis disertai dengan saran-saran yang diambil dari hasil
penelitian yang dilakukan.

1.7 DEMOGRAFI
1.7.1 LETAK PUSAT DAERAH KEBUDAYAAN
Letak pusat daerah kebudayaan suku Aceh terletak di Propinsi
Nanggroe Aceh Darussalam.

1.7.2 BATAS-BATAS GEOGRAFIS

Nanggroe Aceh Darussalam terletak pada 2 oLU - 6 oLU dan 95 oBT - 98


o
BT. Daerah ini berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudra
Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatra Utara di
sebelah tenggara dan selatan

1.7.3 JUMLAH PENDUDUK


Orang Aceh yang biasa menyebut dirinya Ureueng Aceh, menurut
sensus penduduk bulan Juni tahun 2008 mencatat jumlah sebesar 4.163.250
jiwa, dimana orang Aceh tentunya merupakan kelompok mayoritas.

1.7.4 KEADAAN ALAM


Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam terletak di bagian utara Pulau
Sumatera yang terhampar di areal seluas 55.390 km². Temperatur udaranya
berkisar antara 12 – 23 oC. Tak mengherankan bila di daerah tersebut banyak

5
di temukan perkebunan tembakau, kopi, dan sayur-sayuran. Keadaan suhu
daerah pesisir relatif agak panas, suhu udara pada waktu panas terik mencapai
32 oC dan suhu udara pada bulan Agustus berkisar antara 19 - 23 oC.

1.7.5 SEJARAH KEBARADAAN MASYARAKAT


Orang Aceh sendiri menyebut dirinya dengan nama Ureung Aceh
(orang Aceh). Memang terdapat beberapa sumber yang menginformasikan
tentang asal muasal nama Aceh dan etnis Aceh, namun sumber-sumber
tersebut bersifat mistis atau dongeng, meskipun ada juga yang dikutip oleh
para penulis asing seperti penulis-penulis Belanda.
Sebuah riwayat menyebutkan bahwa berdasarkan asal-usulnya, suku
Aceh dibagi ke dalam empat kawom atau sukee. Pembagian ini mulai
dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Alaaidin Al-Kahar (1530-1552).
Keempat kawom atau sukee tersebut, yaitu :

Kawom atau sukee lhee reutoh (kaum atau suku tiga ratus).
Mereka berasal dari orang-orang Mante-Batak sebagai penduduk asli.

Kawom atau sukee imuem peut (kaum atau suku imam empat).
Mereka berasal dari orang-orang Hindu atau India sebagai pendatang.

Kawom atau sukee tol Batee (kaum atau suku yang mencukupi batu).
Mereka bersal dari berbagai etnis, pendatang dari berbagai tempat.

Kawom atau sukee Ja Sandang (kaum atau suku penyandang).
Mereka adalah para imigran Hindu yang telah memeluk agama Islam.
Pada awalnya, akibat asal - usul yang berbeda, keempat kawom ini
seingkali terlibat dalam konflik internal. Kawom - kawom ini sampai
sekarang masih merupakan dasar masyarakat Aceh dan solidaritas sesama
kawom cukup tinggi. Mereka loyal kepada pimpinannya. Semua keputusan
atau tindakan yang akan diambil selalu melibatkan pimpinan dan orang-orang
yang dituakan dalam kawom-kawom tersebut.
Sesungguhnya suku Aceh sebagai suatu entitas politik dan budaya
mulai terbentuk semenjak awal abad XVI. Hal ini ditandai dengan
terbentuknya Kerajaan Aceh Darussalam yang didirikan oleh Sultan Ali
Mughayatsyah (lebih kurang 1514). Pembentukan ini diawali dengan adanya
dinamika internal dalam masyarakat Aceh, yaitu terjadinya penggabungan

6
beberapa kerajaan kecil yang ada di Aceh Rayeuk yang dilanjutkan dengan
penyatuan Kerajaan Pidie, Pasai, Perlak, dan Daya ke dalam Kerajaan Aceh
Darussalam. Selanjutnya, pertumbuhan dan pengembangan kerajaan ini
ditentukan pula oleh faktor eksternal karena eksodusnya pada pedagang
muslim dari Malaka ke ibukota Kerajaan Aceh, setelah ditaklukkannya
Malaka oleh Portugis pada tahun 1511, dan juga berubahnya rute
perdagangan para pedagang muslim dari jalur Selat Malaka ke Jalur Pantai
Barat Sumatera. Keadaan ini menyebabkan ibukota Kerajaan Aceh (Banda
Aceh) menjadi berkembang dan penduduknya menjadi lebih kosmopolitan.

7
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sistem Teknologi


 Barang – Benda (Material Culture)
a. Alat-alat musik
 Serune Kalee / seruling aceh (gambar terlampir)

Serune Kalee merupakan instrumen tradisional Aceh yang telah


lama berkembang dan dihayati oleh masyarakat Aceh. Biasanya alat
musik ini dimainkan bersamaan dengan Rapai dan Gendrang pada
acara-acara hiburan, tarian, penyambutan tamu kehormatan. Bahan
dasar Serune Kalee ini berupa kayu, kuningan dan tembaga. Bentuk
menyerupai seruling bambu. Warna dasarnya hitam yang fungsi sebagai
pemanis atau penghias musik tradisional Aceh.

Serune Kalee bersama-sama dengan geundrang dan Rapai


merupakan suatu perangkatan musik yang dari semenjak jayanya
kerajaan Aceh Darussalam sampai sekarang tetap menghiasi/mewarnai
kebudayaan tradisional Aceh disektor musik.

 Rapai / rebana (gambar terlampir)

Rapai terbuat dari bahan dasar berupa kayu dan kulit binatang.
Bentuknya seperti rebana dengan warna dasar hitam dan kuning muda.
Sejenis instrumen musik pukul (percussi) yang berfungsi pengiring
kesenian tradisional.

8
 Geundrang / gendang (gambar terlampir)

Geundrang merupakan unit instrumen dari perangkatan musik


Serune Kalee. Geundrang termasuk jenis alat musik pukul dan
memainkannya dengan memukul dengan tangan atau memakai kayu
pemukul. Fungsi Geundrang nerupakan alat pelengkap tempo dari
musik tradisional etnik Aceh.

 Tambo / tambur (gambar terlampir)

Sejenis gendang yang termasuk alat pukul. Tambo ini dibuat dari
bahan Bak Iboh, kulit sapi dan rotan sebagai alat peregang kulit. Tambo
ini dimasa lalu berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menentukan
waktu shalat/sembahyang dan untuk mengumpulkan masyarakat ke
Meunasah guna membicarakan masalah-masalah kampung. Sekarang
jarang digunakan (hampir punah) karena fungsinya telah terdesak olah
alat teknologi microphone.

 Taktok Trieng (gambar tidak terlampir)

Taktok Trieng juga sejenis alat pukul yang terbuat dari bambu. Alat
ini berfungsi untuk mengusir burung ataupun serangga lain yang
mengancam tanaman padi. Jenis ini biasanya diletakkan ditengah sawah
dan dihubungkan dengan tali sampai ke dangau (gubuk tempat
menunggu padi di sawah).

 Bereguh (gambar terlampir)

Bereguh nama sejenis alat tiup terbuat dari tanduk kerbau. Bereguh
mempunyai nada yang terbatas, banyaknya nada yang dapat dihasilkan
Bereguh tergantung dari teknik meniupnya. Fungsi dari Bereguh hanya
sebagai alat komunikasi terutama apabila berada dihutan/berjauhan

9
tempat antara seorang dengan orang lainnya. Sekarang ini Bereguh telah
jarang dipergunakan orang, diperkirakan telah mulai punah
penggunaannya.

b.
Rumah Adat : Rumoh Aceh (gambar terlampir)
Rumah adat Aceh terbuat dari kayu meranti dan berbentuk panggung.
Mempunyai 3 serambi yaitu Seuranmoe Keu, Rumah Inong dan
Seuramoe Likot.
c.
Seni / Ragam Hias : Pilin Berganda (gambar terlampir)
Seni hias Aceh umumnya mamakai bentuk-bentuk ilmu ukur, tumbuh-
tumbuhan atau ruang angkasa (kosmos). Ragam Pilin berganda terdiri
dari susunan huruf S berdasarkan ilmu ukur. Seni ukir dan seni tenun
Aceh menggunakan bentuk tumbuhan.
d.
Pakaian Adat (gambar terlampir)
Pakaian adat yang dikenakan pria Aceh adalah baju jas dengan leher
tertutup, celana panjang yang disebut cekak musang dan kain sarung yang
disebut pendua. Kopiah yang dipakainya disebut makutup dan sebilah
rencong terselip di depan perut.
Wanitanya memakai baju sampai ke pinggul, celana panjang cekak
musang serta kain sarung sampai ke lutut. Perhiasan yang dipakai berupa
kalung yang disebut kula, pending, gelang tangan dan gelang kaki.
Pakaian ini dipergunakan untuk keperluan upacara pernikahan.
e.
Senjata (gambar terlampir)
Rencong adalah senjata tradisional yang dipakai oleh hampir setiap
penduduk Aceh. Wilahan rencong terbuat dari besi dan biasanya
bertuliskan ayat-ayat Al-Qur'an. Selain rencong, suku Aceh juga
menggunakan, reuduh, keumeurah paneuk, peudang, dan tameung.
Senjata-senjata tersebut umumnya dibuat sendiri.

2.2 Sistem Religi


Suku Aceh adalah pemeluk agama islam dan mereka tidak mengenal dewa-
dewa. Kepercayaan agama lainnya hanya berkembang di kalangan para pedagang.
Aceh termasuk salah satu daerah yang paling awal menerima agama Islam. Oleh

10
sebab itu propinsi ini dikenal dengan sebutan "Serambi Mekah", maksudnya "pintu
gerbang" yang paling dekat antara Indonesia dengan tempat dari mana agama
tersebut berasal. Meskipun demikian kebudayaan asli suku Aceh tidak hilang begitu
saja, sebaliknya beberapa unsur kebudayaan setempat mendapat pengaruh dan
berbaur dengan kebudayaan Islam. Dengan demikian kebudayaan hasil akulturasi
tersebut melahirkan corak kebudayaan Islam-Aceh yang khas.
Simbol yang digunakan pada suku aceh adalah rencong, karena gagangnya
yang melelekuk kemudian menebal pada bagian sikunya merupakan huruf hijaiyah
”BA”, gagang tempat genggaman berbentuk huruf hijaiyah ”SIN”, bentuk lancip
yang menurun kebawah pada pangkal besi dekat gagangnya merupakan huruf
hijaiyah ”MIM”, lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan
huruf hijaiyah ”LAM”, dan ujung yang runcing sebelah atas mendatar dan bagian
bawah yang sedikit melekuk ke atas merupakan huruf hijaiyah ”HA”. Dengan
demikian rangkaian dari huruf tersebut mewujudkan kalimat ”BISMILLAH”. Ini
berkaitan dengan jiwa kepahlawanan dalam bentuk senjata perang untuk
mempertahankan agama Islam dari penjajahan orang yang anti Islam.
Mitos yang terdapat di dalam suku aceh adalah memelihara burung hantu.
Karena orang-orang suku aceh meyakini bahwa jika salah satu diantara mereka
memelihara burung hantu, berarti orang tersebut sedang menyekutukan Allah SWT.
Sebab, suara kukukan burung hantu adalah pertanda untuk memanggil makhluk-
makhluk gaib.
Di dalam suku aceh terdapat beberapa ritual agama, yaitu intat bu pada saat
ibu sedang hamil, peutron aneuk pada saat bayi sudah lahir, dan peusijuek. Intat bu
adalah ritual yang dilakukan untuk wanita hamil dengan memasak makanan yang
disukai oleh wanita tersebut. Peutron Aneuk adalah ritual untuk bayi yang baru lahir
dengan memberikan cermin kepada bayinya agar anaknya menjadi ganteng atau
cantik, memberikan madu dibibir agar anaknya terlihat manis oleh semua orang.
Peusijuk adalah ritual untuk anak yang baru disunat dengan memercikan air dari
danau laut tawar dengan campuran bunga 7 rupa menggunakan 7 helai daun pandan,
kemudian disebarkan beras yang sudah ditumbuk menjadi tepung ke anak yang baru
disunat. Ritual ini bertujuan agar Allah SWT memberikan keberkatan dan rezeki
kepada anak tersebut.

11
Masyarakat suku aceh sangat mempercayai dan meyakini akan ajaran agama
Islam. Mereka memegang teguh keyakinan tersebut. Di samping itu, mereka sangat
menghormati dan menghargai para Ulama sebagai pewaris para Nabi. Sehingga
ketundukan ulama melebihi ketundukan pada para raja.

2.3 Sistem Bahasa


2.3.1 Tingkatan Bahasa
Di dalam bahasa suku aceh, terdapat dua tingkatan bahasa yang
digunakan jika berbicara dengan orang yang lebih tua dan jika berbicara
dengan orang yang sebaya atau orang yang lebih muda dari kita kita.
Contoh, jika orang tua memanggil anaknya :
Orang Tua : Cut, kemari!
Anak : Lon Tuan!
Contoh, jika teman kita memanggil :
A : Teuku, kemari!
B : Lon!
Lon berarti saya. Jika orang yang lebih tua memanggil kita, maka kita
tinggal menambahkan kata tuan. Tetapi jika teman memanggil kita, maka kita
tidak usah memakai kata tuan.

2.3.2 Penyebaran Bahasa

Bahasa yang digunakan suku Aceh termasuk dalam rumpun bahasa


Austronesia yang terdiri dari beberapa dialek, antara lain dialek Pidie, Aceh
Besar, Meulaboh, serta Matang. Meskipun banyak yang menggunakan bahasa
Aceh dalam pergaulan sehari-hari, namun tidak berarti bahwa corak dan
ragam bahasa Aceh yang digunakan sama. Tidak saja dari segi dialek yang
mungkin berlaku bagi bahasa di daerah lain; bahasa Aceh bisa berbeda dalam
pemakaiannya, bahkan untuk kata-kata yang bermakna sama. Kemungkinan
besar hal ini disebabkan banyaknya percampuran bahasa, terutama di daerah
pesisir, dengan bahasa daerah lainnya atau juga karena kelestarian bahasa
aslinya. Masyarakat suku Aceh yang berdiam di kota umumnya menggunakan
bahasa Indonesia sebagai pengantar, baik dalam keluarga maupun dalam

12
kehidupan sosial. Namun demikian, mereka yang berada di kota tersebut
mengerti dengan pengucapan bahasa Aceh. Selain itu, ada pula masyarakat
yang memadukan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Aceh dalam
berkomunikasi. Pada masyarakat suku Aceh di pedesaan, bahasa Aceh lebih
dominan dipergunakan dalam kehidupan sosial mereka.

2.3.3 Tata Cara Penggunaan Bahasa

Dalam tata bahasanya, Bahasa Aceh tidak mengenal akhiran untuk


membentuk kata yang baru, sedangkan dalam sistem fonetiknya, tanda 'eu'
kebanyakan dipakai tanda pepet (bunyi e).

Dalam bahasa Aceh, banyak kata yang bersuku satu. Hal ini terjadi karena
hilangnya satu vokal pada kata-kata yang bersuku dua, seperti "turun"
menjadi "trôn", karena hilangnya suku pertama, seperti "daun" menjadi "ôn".

PENAMBAHAN BUNYI

1. Huruf /rK/ disisipi bunyi /eu/

Contoh:

Bahasa Indonesia Bahasa Aceh


Harga Hareuga
Harta Hareuta
Kursi Kureusi
Perlu Peureulèë
Serta Seureuta

BUNYI MATI

1. Bunyi /d/ menghilang.

Contoh:

Bahasa Indonesia Bahasa Aceh


Diam Iëm

2. Bunyi /f/ menjadi /ph/ (bila terletak di awal dan di tengah)

13
Contoh:

Bahasa Indonesia Bahasa Aceh


Faham Pham
Fana Phana
Sifat Sipheuët

3. Bunyi /f/ menjadi /h/ (bila terletak di akhir)

Contoh:

Bahasa Indonesia Bahasa Aceh


Alif Aléh
Dhaif La‘èh
Insaf Inseuëh
Maaf Meu’ah

DIFTONG

1. Huruf /ia/ menjadi /ië/

Contoh:

Bahasa Indonesia Bahasa Aceh


Diam Iëm
Durian Driën
Ketiak Geutiëk
Kiat Kiët
Niat Niët
Tiap Tiëp

2.3.4 Contoh Bahasa

14
• Kata Kerja
No. Aceh Indonesia
1. Eh Tidur
2. Pajoh Makan
3. Jeb Minum
4. Jak Pergi
5. Woe Pulang
6. Meunari Menari
7. Tules Menulis
8. Mageun Masak
9. Bileung Menghitung
10. Deungo Dengar

• Kata Benda
No. Aceh Indonesia
1. Driën Durian
2. Kureusi Kursi
3. Hareuta Harta
4. Tameung Tameng
5. Peudang Pedang
6. Serune Kalee Serunai
7. Geundrang Gendang
8. Batee Batu
9. Pending Ikat Pinggang
10. Rumoh Rumah

• Kata Sifat
No. Aceh Indonesia
1. Iëm Diam
2. Meu’ah Maaf
3. Got Baik
4. Carong Pintar
5. Beuo Malas
6. Cabak Nakal
7. Tari Cantik
8. Ceudah Ganteng
9. Jeuheut Jahat
10. Takot Takut

15
• Kata Bilangan
No. Aceh Indonesia
1. Sa Satu
2. Duwa Dua
3. Lhèë Tiga
4. Peuët Empat
5. Limong Lima
6. Nam Enam
7. Tujoh Tujuh
8. Lapan Delapan
9. Sekureng Sembilan
10. Siploh Sepuluh
11. Limongloh Lima Puluh
12. Sareutoh Seratus
13. Siribe Seribu

2.4 Sistem Mata Pencaharian


Setiap orang untuk yang hidup memerlukan makanan untuk menyambung
hidupnya. Dalam suku aceh, untuk mendapatkan makanan sebagian besar dari
mereka bekerja sebagai petani dan beternak. Namun, masyarakat yang bermukim di
sepanjang pantai pada umumnya menjadi nelayan, dan tidak sedikit juga yang
berdagang.
Mata pencaharian pokok suku aceh adalah bertani di sawah dan ladang
dengan tanaman pokok berupa padi, cengkeh, lada, pala, kelapa dan lain-lain.
Disamping bertani, masyarakat suku aceh juga ada yang beternak kuda, kerbau, sapi
dan kambing yang kemudian untuk dipekerjakan di sawah atau di jual.
Untuk masyarakat yang hidup di sepanjang pantai, umumnya mereka menjadi
nelayan dengan mencari ikan yang kemudian untuk menu utama makanan sehari-hari
atau dijual ke pasar. Bagi masyarakat yang berdagang, mereka melakukan kegiatan
berdagang secara tetap (baniago), salah satunya dengan menjajakan barang
dagangannya dari kampung ke kampung.

2.5 Sistem Pengetahuan

16
Suku Aceh memiliki sistem pengetahuan yang mencangkup tentang fauna,
flora, bagian tubuh manusia, gejala alam, dan waktu. Mereka mengetahui dan
memiliki pengetahuan itu dari dukun dan orang tua adat.
Pengetahuan yang terdapat dalam suku aceh, yaitu tentang tradisi bahasa
tulisan yang ditulis dalam huruf Arab-Melayu yang disebut bahasa Jawi atau Jawoe,
Bahasa Jawi ditulis dengan huruf Arab ejaan Melayu (gambar terlampir). Pada masa
Kerajaan Aceh banyak kitab ilmu pengetahuan agama, pendidikan, dan kesusasteraan
ditulis dalam bahasa Jawi. Pada makam-makam raja Aceh terdapat juga huruf Jawi.
Huruf ini dikenal setelah datangnya Islam di Aceh. Banyak orang-orang tua Aceh
yang masih bisa membaca huruf Jawi.

Berikut adalah tabel huruf-huruf dalam tulisan Jawi

Bentuk huruf
Nama Cara Baca
Tunggal Awal kata Tengah kata Akhir kata
Alif ‫ﺍ‬ ‫ﺎ‬ a
Ba ‫ﺏ‬ ‫ﺑ‬ ‫ـﺒ‬ ‫ـﺐ‬ b
Ta ‫ﺕ‬ ‫ﺗ‬ ‫ـﺘ‬ ‫ـﺖ‬ t
Sa ‫ﺙ‬ ‫ﺛ‬ ‫ـﺜ‬ ‫ـﺚ‬ s, (th)
Jim ‫ﺝ‬ ‫ﺟ‬ ‫ـﺠ‬ ‫ـﺞ‬ j
Ha ‫ﺡ‬ ‫ﺣ‬ ‫ـﺤ‬ ‫ـﺢ‬ h, (ḥ)
Ca ‫ﭺ‬ ‫ﭼ‬ ‫ـﭽ‬ ‫ـﭻ‬ c
Kha ‫ﺥ‬ ‫ﺧ‬ ‫ـﺨ‬ ‫ـﺦ‬ kh
Dal ‫د‬ ‫ـد‬ d
Zal ‫ﺫ‬ ‫ـذ‬ z, (dh)
Ra ‫ﺭ‬ ‫ـر‬ r
Zai ‫ﺯ‬ ‫ـز‬ z
Sin ‫ﺱ‬ ‫ﺳ‬ ‫ـﺴ‬ ‫ـﺲ‬ s
Syin ‫ﺵ‬ ‫ﺷ‬ ‫ـﺸ‬ ‫ـﺶ‬ sy
Sad ‫ﺹ‬ ‫ﺻ‬ ‫ـﺼ‬ ‫ـﺺ‬ s, (ṣ)
Dad ‫ﺽ‬ ‫ﺿ‬ ‫ـﻀ‬ ‫ـﺾ‬ d, (ḍ)
Ta ‫ﻁ‬ ‫ﻃ‬ ‫ـﻄ‬ ‫ـﻂ‬ t, (ṭ)
Za ‫ﻅ‬ ‫ﻇ‬ ‫ـﻈ‬ ‫ـﻆ‬ z, (ẓ)
awal: a, i, u; akhir: k,
Ain ‫ﻉ‬ ‫ﻋ‬ ‫ـﻌـ‬ ‫ـﻊ‬
(‘)

17
Ghain ‫ﻍ‬ ‫ﻏ‬ ‫ـﻐـ‬ ‫ـﻎ‬ gh
Nga ‫ڠ‬ ‫ڠـ‬ ‫ـڠـ‬ ‫ـڠ‬ ng
Fa ‫ﻑ‬ ‫ﻓ‬ ‫ـﻔ‬ ‫ـﻒ‬ f
Pa ‫ﭪ‬ ‫ﭬ‬ ‫ـﭭ‬ ‫ـﭫ‬ p
Qaf ‫ﻕ‬ ‫ﻗ‬ ‫ـﻘ‬ ‫ـﻖ‬ k, q, (q)
Kaf ‫ک‬ ‫ﻛ‬ ‫ـﻜ‬ ‫ـک‬ k
Ga ‫ݢ‬ ‫ڬـ‬ ‫ـڬـ‬ ‫ـݢ‬ g
Lam ‫ﻝ‬ ‫ﻟ‬ ‫ـﻠ‬ ‫ـﻞ‬ l
Mim ‫ﻡ‬ ‫ﻣ‬ ‫ـﻤ‬ ‫ـﻢ‬ m
Nun ‫ﻥ‬ ‫ﻧ‬ ‫ـﻨ‬ ‫ﻦ‬ n
Wau ‫ﻭ‬ ‫ـو‬ w, u, o
Va ‫ۏ‬ ‫ـۏ‬ v
Ha ‫ﻩ‬ ‫ﻫ‬ ‫ـﻬ‬ ‫ﻪ‬ h
Ya ‫ﻱ‬ ‫ﻳ‬ ‫ـﻴـ‬ ‫ﻲ‬ y, i, e taling
Ye ‫ى‬ ‫ـى‬ e pepet hujung
Nya ‫ڽ‬ ‫پـ‬ ‫ـپـ‬ ‫ـڽ‬ ny
awal: gugur; akhir: k,
Hamzah ‫ء‬ ‫ء‬
(’)
ta marbutah ‫ة‬ ‫ـة‬ t, h, (ṯ)

2.6 Sistem Organisasi Sosial

18
2.6.1 Status

Pada masa lalu masyarakat suku Aceh mengenal beberapa lapisan


sosial. Di antaranya ada empat golongan masyarakat, yaitu :


golongan keluarga sultan : keturunan bekas sultan-sultan yang pernah
berkuasa. Panggilan yang lazim untuk keturunan sultan ini adalah
ampon, dan cut.

golongan uleebalang : keturunan dari golongan keluarga sultan.
Biasanya mereka bergelar Teuku.

golongan ulama : keturunan pemuka agama. Biasanya mereka bergelar
Teungku atau Tengku.

golongan rakyat biasa : keturunan suku aceh biasa.

Sistem organisasi sosial suku Aceh tidak begitu terlihat lagi bila di
bandingkan dengan zaman kemerdekaan. Pelapisan sosial yang terdapat di
Aceh pada zaman sebelum merdeka lebih di dasarkan oleh faktor keturunan.
Setelah kemerdekaan dasar - dasar pelapisan sosial mulai bergeser dan
berubah polanya. Secara umum pelapisan sosial suku Aceh sekarang sebagai
berikut :


Golongan penguasa : terdiri penguasa pemerintah dan penguasa
pegawai negri.

Golongan hartawan : terdiri dari pedagang besar, pemilik perkebunan,
dan pemilik ternak.

Golongan rakyat : terdiri dari petani miskin, nelayan, buruh, dan
pegawai rendahan.
2.6.2 Sistem Keluarga
Dalam sistem keluarga, bentuk kekerabatan yang terpenting adalah
keluarga inti dengan prinsip keturunan bilateral. Adat menetap sesudah
menikah bersifat matrilokal. Sedangkan anak merupakan tanggung jawab
ayah sepenuhnya.
2.6.3 Pernikahan

19
Dalam sistem pernikahan tampaknya terdapat kombinasi antara
budaya Minangkabau dan Aceh. Garis keturunan diperhitungkan berdasarkan
prinsip bilateral, sedangkan adat menetap sesudah nikah adalah uxorilikal.
Kerabat pihak ayah mempunyai kedudukan yang kuat dalam hal pewarisan
dan perwalian, sedangkan ninik mamak berasal dari kerabat pihak ibu.
Kelompok kekerabatan yang terkecil adalah keluarga inti yang disebut rumoh
tanggo. Ayah berperan sebagai kepala keluarga yang mempunyai kewajiban
memenuhi kebutuhan keluarganya. Tanggung jawab seorang ibu yang utama
adalah mengasuh anak dan mengatur rumah tangga.

2.6.4 Sistem politik dan pemerintahan


Bentuk kesatuan hidup setempat yang terkecil disebut gampong yang
dikepalai oleh seorang geucik atau kecik. Dalam setiap gampong ada sebuah
meunasah yang dipimpin seorang imeum meunasah. Kumpulan dari beberapa
gampong disebut mukim yang dipimpin oleh seorang imam mukim.
Kehidupan sosial dan keagamaan di setiap gampong dipimpin oleh pemuka-
pemuka adat dan agama, mengurusi masalah - masalah keagamaan, seperti
hukum atau syariat Islam dikenal sebagai pemimpin keagamaan atau masuk
kelompok elite religius. Oleh karena itu, para ulama ini mengurusi hal-hal
yang menyangkut keagamaan, maka mereka haruslah Ureung Nyang Malem.
Dengan demikian tentunya sesuai dengan predikat / sebutan ulama itu sendiri,
yang berarti para ahli ilmu atau para ahli pengetahuan. Adapun golongan atau
kelompok ulama ini dapat disebutkan, yaitu Imam Mukim, Qadli, Teungku /
teuku.

2.7 Sistem Kesenian

20
Salah satu tradisi turun temurun yang dilakukan oleh Rakyat Aceh adalah
melakukan aktifitas lewat kesenian. Seni yang dimaksud disini adalah kemampuan
seorang atau sekelompok orang untuk memnampilkan suatu hasil karya dihadapan
orang lain. Dalam konteks masyarakat Aceh dahulu, seseorang yang mempunyai nilai
seni, maka ia akan menjadi sosok yang akan menjadi perhatian. Dalam literature
keacehan, dikenal beberapa jenis kesenian Aceh diantaranya Zikee, seudati, rukoen,
rapai geleng, rapai daboeh, biola (mop-mop), saman, laweut dan sebagainya. Sepintas
lalu, kegiatan seni yang dilakukan tersebut bertujuan untuk menghibur diri atau
kelompok tertentu. Hal ini dilakukan seperti dalam kegiatan resmi di istana raja, atau
dalam dalam perayaan acara tertentu.
Mengutip pendapat "Ismuha dalam buku Bunga Rampai Budaya Nusantara",
maka Kesenian Aceh secara umum terbagi dalam seni tari, seni sastra dan cerita
rakyat. Adapun ciri-ciri tari tradisional Aceh antara lain; bernafaskan islam, ditarikan
oleh banyak orang, pengulangan gerak serupa yang relatif banyak, memakan waktu
penyajian yang relatif panjang, kombinasi dari tari musik dan sastra, pola lantai yang
terbatas, pada masa awal pertumbuhannya disajikan dalam kegiatan khusus berupa
upacara-upacara dan gerak tubuh terbatas (dapat diberi variasi).
Kesenian Aceh dibalut dengan nilai-nilai agama, sosial dan politik. Kenyataan
ini dapat dilihat dalam seni tari, seni sastra, seni teater dan seni suara. Selain itu seni
tari atau seni tradisional Aceh dipengarungi oleh Sosial budaya Aceh itu sendiri. Seni
Aceh dipengaruhi oleh latar belakng adat agama, dan latar belakang cerita rakyat
(mitos legenda). Seni tari yang berlatarbelakang adat dan agama seperti tari saman,
meuseukat, rapai uroh maupun rapai geleng, Rampou Aceh dan seudati. Sementara
seni yang berlatar belakang cerita rakyat (mitos legenda) seperti tari phom bines dan
ale tunjang.

Contoh kesenian :

 Seni Lukis : Kaligrafi Arab (gambar terlampir)

Seni kaligrafi Arab merupikan salah satu kesenian yang ada dalam
suku aceh. Melukis kaligrafi ini biasanya dilukis di atas kanvas yang
bertujuan sebagai hiasan dinding di dalam rumah atau mesjid dengan
melukiskan Asmaul Husna dan sebagainya. Kesenian ini banyak terlihat

21
pada berbagai ukiran mesjid, rumah adat, alat upacara, perhiasan, dan
sebagainya.

 Seni Pahat : Memahat Rumah Adat dan Nisan (gambar tidak


terlampir)

Seni pahat yang ada pada suku aceh adalah memahat hiasan pada
rumah adat atau nisan. Seni pahat yang diaplikasikan pada rumah adat
menunjukkan kepemilikan dan status sosial pemiliknya. Sedangkan seni
pahat yang diaplikasikan pada nisan menunjukkan status sosial yang
dikuburkan, dan juga memberikan informasi nama dan tahun serta tanggal
wafat dari tokoh yang dikuburkan.

 Seni Musik : Rapai Geleng (gambar terlampir)

Rapai geleng merupakan seni musik yang dilakukan oleh tiga belas
laki-laki/perempuan yang duduk berbanjar, seperti duduk diantara dua
sujud ketika melaksanakan shalat. Masing-masing memegang alat tabuh
sambil bernyanyi bersama. Antara musik dan gerak yang dimainkan
bersenyawa. Awalnya lambat, sedang, setelah beberapa detik berubah
cepat diiringi dengan gerakan kepala yang digelengkan ke kiri dan
kekanan. Mereka menepuk-nepuk tangan dan dada, juga menepuk tangan
dan paha. Ada yang bertindak sebagai pemain biasa, syech dan aneuk
dhiek.

 Seni Tari : Tari Saman (gambar terlampir)

Tarian ini merupakan salah satu media untuk pencapaian dakwah.


Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun,
kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan. dilakukan dalam posisi
duduk berbanjar dengan irama dan gerak yang dinamis. Suatu tari dengan
syair penuh ajaran kebajikan, terutama ajaran agama Islam.

22
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari hasil penulisan pada bab-bab sebelumnya, maka kesimpulan yang diperoleh

adalah :
.1
Dalam system teknologi suku aceh terdapat barang – benda (material

culture), yaitu 6 alat musik, rumah adat, seni ragam hias, pakaian adat, dan

senjata.
.2
Pada masyarakat suku aceh sebagian besar memeluk agama islam dan tidak

mengenal dewa-dewa. Maka dari itu terkenal dengan sebutan “Serambi Mekah”

karena menjadi daerah pertama yang menerima ajaran agama islam.


.3
Dalam system bahasa suku aceh terdapat dua tingkatan bahasa jika

berbicara dengan orangtua dan jika berbicara dengan teman sebaya. Bahasa aceh

mempunyai 3 tata cara penggunaan bahasa.


.4
Sebagian besar masyarakat suku aceh berprofesi sebagai petani dan

peternak. Namun ada juga yang berprofesi sebagai nelayan dan pedagang.
.5
Masyarakat suku aceh mengetahui dan memiliki pengetahuan dari dukun

dan orang tua adapt. Pengetahuan yang terdapat dalam suku aceh, yaitu tentang

tulisan dalam huruf arab-melayu yang disebut bahasa jawi/jawoe.


.6
Status pada suku aceh masa lalu terdapat 4 golongan, tetapi sekarang hanya

ada 3 golongan masyarakat. Dalam system keluarga, bentuk kekerabatan yang

23
terpenting adalah keluarga inti dengan keturunan bilateral. Pada system

pernikahan terdapat kombinasi antara budaya minangkabau dengan aceh. Dalam

sistem pemerintahan dipimpin oleh imam mukim, qadli dan teungku / teuku.
.7
Dalam kesenian pada suku aceh semuanya bernafaskan islam, ditarikan oleh

banyak orang, pengulangan gerak serupa yang relatif banyak, memakan waktu

penyajian yang relatif panjang, kombinasi dari tari musik dan sastra, pola lantai

yang terbatas, pada masa awal pertumbuhannya disajikan dalam kegiatan khusus

berupa upacara-upacara dan gerak tubuh terbatas (dapat diberi variasi).

3.1 SARAN

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh, maka diberikan saran-saran yang

sekiranya dapat membantu para pembaca untuk masa mendatang, yaitu agar

kebudayaan yang terdapat dalam suku aceh dapat dijaga dan dilestarikan dengan baik

sehingga tidak hilang warisan dari nenek moyang suku aceh tersebut. Dan seharusnya

kokolot suku aceh mengajarkan kebudayaannya kepada anak-anak mereka sejak dini

agar anak-anak mereka mengetahui betapa banyaknya warisan yang ditinggalkan

oleh nenek moyang mereka.

24