Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS SKRIPSI METODE PENGEMBANGAN

untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Bahan Ajar


Biologi
yang dibimbing oleh Dra. Sunarmi, M.Pd

Kelompok 2 / B

Auliyah Shofiyah

130341614790

Evi Wulandari

130341614815

Firdausi Nuzuliyah

130341614785

Luluk Faricha

130341614805

Retza Firmanda

130341603388

Sri Wahyuni Umar L.

130341603398

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI

November 2015
Nama Penulis
Tahun

: Eka Widya Wulansari

: 2012

Judul Skripsi : Pengembangan Lembar Kegiatan Siswa (LKS)


Biologi Materi Sistem Pencernaan Kelas XI SMA
Laboratorium Universitas Negeri Malang
Sumber

: Bioreferensi Universitas Negeri Malang

Penelitian pengembangan adalah metode penelitian yang


digunakan untuk menghasilkan dan menguji keefektifitasan
suatu produk tertentu (Sugiyono dalam Hidayati, 2011). Andrews
& Goodson (1980:3) menyatakan bahwa model pengembangan
pembelajaran ada 4 fungsi yaitu 1) meningkatkan belajar dan
pembelajaran dan umpan balik, 2) meningkatkan managemen
pengembangan pembelajaran, 3) meningkatkan proses evaluasi,
termasuk umpan balik dan revisi, 4) menguji atau membangun
pembelajaran dengan cara merancangnya berdasarkan teori.
Penelitian

pengembangan

LKS

ini

mengacu

model

pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan yaitu


4D-Model (Define, Design, Develop, dan Disseminate).
1. Tahap Pendefinisian (Define)
Tahap pendefinisian bertujuan untuk menetapkan dan
mendefinisikan

kebutuhan-kebutuhan

pembelajaran

dengan

menganalisis tujuan dan batasan materi. Analisis bisa dilakukan


melalui studi literature atau penelitian pendahuluan. Thiagarajan
(1974) menganalisis 5 kegiatan yang dilakukan pada tahap
define yaitu analisis ujung depan (frontend analysis), analisis
peserta

didik

(learner

analysis),

analisis

konsep

(concept

analysis), analisis tugas (task analysis) dan perumusan tujuan


pembelajaran (specifying instructional objectives).
a. Front and analysis

Pada

tahap

ini,

guru

melakukan

diagnosis

awal

untuk

meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran.


b. Learner analysis
Pada tahap ini dipelajari karakteristik peserta didik, misalnya:
kemampuan, motivasi belajar, latar belakang pengalaman, dsb.
c. Task analysis
Guru menganalisis tugas-tugas pokok yang harus dikuasai
peserta didik agar peserta didik dapat mencapai kompetensi
minimal.
d. Concept analysis
Menganalisis konsep yang akan diajarkan, menyusun langkahlangkah yang akan dilakukan secara rasional.
e. Specifying instructional objectives
Menulis

tujuan

pembelajaran,

perubahan

perilaku

yang

diharapkan setelah belajar dengan kata kerja operasional


Kegiatan dalam tahap pendefinisian ini meliputi analisis
kurikulum, analisis siswa, analisis materi, analisis perumusan
tujuan. Dalam konteks pengembangan bahan ajar (modul, buku,
LKS), tahap pendefinisian dilakukan dengan cara:
a. Analisis kurikulum
Pada tahap awal, peneliti perlu mengkaji kurikulum yang
berlaku pada saat itu. Dalam kurikulum terdapat kompetensi
yang

ingin

dicapai.

Analisis

kurikulum

berguna

untuk

menetapkan pada kompetensi yang mana bahan ajar tersebut


akan dikembangkan. Hal ini dilakukan karena ada kemungkinan
tidak semua kompetensi yang ada dalam kurikulum dapat
disediakan bahan ajarnya.
Peneliti melakukan penentuan Standar Kompetensi (SK)
yang dijadikan sebagai acuan untuk mengembangkan LKS
karena SK merupakan kemampuan yang diharapkan bisa dicapai
oleh siswa. Analisis SK dan KD yang digunakan sesuai dengan
standar isi, SK yang digunakan adalah menjelaskan struktur dan

fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan dan/atau


penyakit

yang

mungkin

terjadi

sera

implikasinya

pada

salingtemas sedangkan KD yang digunakan adalah menjelaskan


keterkaitan

antara

struktur,

fungsi,

dan

proses

serta

kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pencernaan


makanan pada manusia dan hewan (ruminansia).
b. Analisis karakteristik peserta didik
Guru harus mengenali karakteristik peserta didik yang
akan menggunakan bahan ajar. Hal ini penting karena semua
proses pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik
peserta didik. Untuk mengetahui kebutuhan siswa, peneliti
melakukan wawancara dengan siswa. Siswa menyatakan bahwa
LKS

yang

digunakan

tidak

memunculkan

fenomena

yang

berhubungan denga materi yang telah dibahas. Soal dikerjakan


dengan individu namun ada pula yang pengerjaannya menyalin
dari

buku

mengganti

dan

menyalin

pembelajaran

milik

teman.

menggunakan

Sehingga
LKS

peneliti

yang

biasa

digunakan di sekolah sehingga dapat meningkatkan penguasaan


konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa. LKS yang biasa
digunakan diganti dengan LKS yang sesuai dengan SK dan KD
dan memuat isu berkaitan dengan materi yang dipelajari.
c. Analisis materi
Analisis materi dilakukan dengan cara mengidentifikasi
materi utama yang perlu diajarkan, mengumpulkan dan memilih
materi

yang

sistematis

relevan,

dan

menyusunnya

kembali

secara

Penulis melakukan analisis kajian konsep-konsep

utama yang dikembangkan serta menganalisis kajian materi


pokok yang dikembangkan. Konsep utama yang dikembangka
adalah sistem pencernaan pada manusia dan hewan khususnya
ruminansia.

Materi

pokok

yang

dikembangkan

terdiri

atas

kandungan zat-zat makanan beserta fungsinya, bagian alat


pencernaan, proses pencernaan mekanik dan kimiawi, fungsi

enzim, dan perbedaan sistem pencernaan pada manusia dan


ruminansia

serta

penyakit/kelainan

yang

ditemui

dalam

kehidupan sehari-hari beserta cara pengobatannya.


d. Merumuskan tujuan
Sebelum menulis bahan ajar, tujuan pembelajaran dan
kompetensi yang hendak diajarkkan perlu dirumuskan terlebih
dahulu. Hal ini berguna untuk membatasi peneliti supaya tidak
menyimpang dari tujuan semula pada saat mereka sedang
menulis bahan ajar. Peneliti melakukan perumusan tujuan pada
analisis

kurikulum

karena

pada

analisis

kurikulum

sudah

dilakukan analisis SK dan KD dan tujuan yang ingin dicapai dari


pembelajaran materi tersebut.
2. Tahap Perancangan (Design)
Tahap perancangan bertujuan untuk merancang perangkat pembelajaran.
Empat langkah yang harus dilakukan pada tahap ini, yaitu (1) penyusunan standar
tes (criterion-test construction), (2) pemilihan media (media selection) yang
sesuai dengan karakteristik materi dan tujuan pembelajaran, (3) pemilihan format
(format selection), yakni mengkaji format bahan ajar yang ada dan menetapkan
format bahan ajar yang akan dikembangkan, dan (4) membuat rancangan awal
(initial design) sesuai format yang dipilih.
a. Penyusunan standar tes.
Penyusunan tes acuan patokan merupakan langkah yang menghubungkan
antara tahap pendefinisian (define) dengan tahap perancangan (design).
b. Pemilihan media
Pemilihan media dilakukan untuk mengidentifikasi media pembelajaran
yang relevan dengan karakteristik materi. Lebih dari itu, media dipilih untuk
menyesuaikan dengan analisis konsep dan analisis tugas, karakteristik target
pengguna, serta rencana penyebaran dengan atribut yang bervariasi dari media
yang berbeda-beda.
c. Pemilihan format

Pemilihan format dalam pengembangan perangkat pembelajaran ini


dimaksudkan untuk mendesain atau merancang isi pembelajaran, pemilihan
strategi, pendekatan, metode pembelajaran, dan sumber belajar.
d. Rancangan awal
Langkah terakhir pada Tahap Design adalah membuat rancangan awal
perangkat pembelajaran (draft-1) yang akan melibatkan aktivitas siswa dan guru
yaitu RPP, LKS, dan instrumen penelitian meliputi tes hasil belajar, lembar
observasi aktivitas siswa, lembar observasi keterlaksanaan sintaks pembelajaran,
angket respon siswa dan lembar validasi perangkat pembelajaran.
Pada skripsi ini, peneliti langsung menuju langkah ketiga
yaitu

rancangan

awal.

Peneliti

menggunakan

model

pembelajaran inkuiri bebas dan inkuiri terbimbing dengan


metode pembelajaran diksusid an praktikum. Metode diskusi
digunakan di semua kegiatan belajar mengajar, baik diskusi
kelompok maupun diskusi kelas. Siswa mengerjakan LKS secara
individu kemudian didiskusikan kembali secara berkelompok atau
klasikal ketika ada permasalahan yang belum bisa dipecahkan.
Sumber yang dignakan dalam LKS ini adalah buku penunjang
yaitu buku karangan Pratiwi yang diterbitkan oleh Erlangga.
Sedangkan untuk LKS merupakan hasil adopsi dari buku Biology:
The Dinamics of Life yang diterbitkan oleh Glence McGraw-Hill
yang sesuai dengan kondisi di Indonesia.
Kemudiaan

langkah

keempat

yang

dilakukan

peneliti

adalah membuat rancangan awal. Hal yang disiapkan adalah RPP,


LKS, dan instrumen penelitian meliputi tes hasil belajar, lembar observasi
aktivitas siswa, lembar observasi keterlaksanaan sintaks pembelajaran, angket
respon siswa dan lembar validasi perangkat pembelajaran. RPP dibuat untuk enam
kali pertemuan dengan alokasi waktu 12 x 45 menit. LKS yang dikembangkan
adalah LKS dengan model pembelajaran inkuiri. LKS yang dikembangkan
memiliki kriteria antara lain penguasaan konsep, kemampuan berpikir kritis serta
kegiatan

prakikum.

Penguasaan

konsep

dilakukan

dengan

memberikan

ppertanyaan tentang konsep dasar dari materi yang dikembangkan. Kemampuan

berpikir kritis disajikan dengan memberi pertanyaan/kegiatan yang berhubungan


dengan kegiatan sehari-hari sehingga siswa mampu mengaitkan materi
pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Penilaian meliputi tiga ranah yaitu
ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Ranah kognitif meliputi nilai jawaban
LKS, ulangan hairan, proses merancang praktikum, laporan hasil praktikum, serta
analisis kritis artikel. Ranah afektif berupa jawaban angket siswa. Ranah
psikomotor terdiri dari penilaian keterampilan menggunakan alat dan bahan,
kebersihan alat, dan keruntutan cara kerja praktikum.
3. Tahap Pengembangan (Develop)
Thiagarajan membagi tahap pengembangan dalam dua
kegiatan yaitu: expert appraisal dan developmental testing.
a. Expert appraisal
Expert appraisal

merupakan teknik untuk memvalidasi

atau menilai kelayakan rancangan produk. Dalam kegiatan ini


dilakukan evaluasi oleh ahli dalam bidangnya. Saran-saran yang
diberikan digunakan untuk memperbaiki materi dan rancangan
pembelajaran yang telah disusun.

Peneliti memilih validator 1

ahli pendidikan, 1 ahli materi, dan 2 guru kelayakan di kelas.


Data yang diperoleh dari hasil validasi oleh validator berupa
angket

yang

dianalisis

menggunakan

teknik

analisis

data

kuantitatif, sedangkan saran dan komentar validator merupakan


data kualitatif.
b. Developmental testing
Developmental

testing

merupakan

kegiatan

uji

coba

rancangan produk pada sasaran subjek yang sesungguhnya.


Pada saat uji coba ini dicari data respon, reaksi atau komentar
dari

sasaran

memperbaiki

pengguna
produk.

model.

Setelah

Hasil

produk

uji

coba

digunakan

diperbaiki

kemudian

diujikan kembali sampai memperoleh hasil yang efektif. Pada


skripsi ini uji coba dilakukan kepada 32 siswa kelas XI IPA 1 SMA
Laboratoroim Malang.

Dalam konteks pengembangan bahan ajar (buku atau


modul), tahap pengembangan dilakukan dengan langkah sebagai
berikut.
a. Validasi model oleh ahli/pakar.
Validasi merupakan proses perminataan pengakuan dan
persetujuan terhadap kesesuain LKS dengan kebutuhan. Hal-hal
yang

divalidasi

meliputi

panduan

penggunaan

model

dan

perangkat model pembelajaran. Tim ahli yang dilibatkan dalam


proses validasi terdiri dari: pakar tampilan media pembelajaran
dan pakar materi bidang studi pada mata kuliah yang sama.
Peneliti memilih validator 1 ahli pendidikan, 1 ahli materi, dan 2
guru kelayakan di kelas. Data yang diperoleh dari hasil validasi
oleh validator berupa angket yang dianalisis menggunakan
teknik analisis data kuantitatif, sedangkan saran dan komentar
validator merupakan data kualitatif.
b. Revisi model berdasarkan masukan dari para pakar pada saat
validasi.
Penulis
divalidasi
pertanyaa,

merevisi

oleh

banyak

validator.

sebaran

hal

Validasi

pertanyaan

mengenai
tersebut
sesuai

LKS

setelah

meliputi

dengan

jenis

materi,

mengganti pertanyaan-pertanyaan yang tidak relevan dengan


materi dan memberi keterangan nama Indonesia pada gambar.
c. Uji coba
Uji coba dilakukan kepada 32 siswa kelas XI IPA 1 SMA
Laboratoroim Malang. Data pada uji coba diperoleh dari hasil
pengerjaan LKS oleh siswa, jawaban siswa terhadap angket
kemanfaatan LKS, lembar pengamatan keterpakaian LKS dalam
pembelajaran, tes hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotor.
d. Revisi model setelah uji coba.
Peneliti melakukan revisi tahap kedua setelah uji coba.
Revisi yang dilakukan termasuk memperbaiki sistematika yang
benar

mengenai

peletakan

komponen

dalam

daftar

isi,

memperjelas isi petunjuk penggunaan LKS dan membuat gambar


organ pencrnaan menjadi berwarna.
e. Implementasi model pada wilayah yang lebih luas.
Selama proses impelementasi tersebut, diuji efektivitas
model dan perangkat model yang dikembangkan. Cara pengujian
efektivitas pembelajaran melalui PTK dapat dilakukan dengan
cara mengukur kompetensi sebelum dan sesudah pembelajara.
Dalam skripsi ini, peneliti tidak melakukan langkah ini karena
tidak dilakukan uji efektivitas. Data yang diperlukan diambil pada
langkah uji coba.
4. Tahap Penyebarluasan (Disseminate)
Thiagarajan membagi tahap dissemination dalam tiga
kegiatan yaitu: validation testing, packaging, diffusion and
adoption. Pada tahap validation testing, produk yang sudah
direvisi pada tahap pengembangan kemudian diimplementasikan
pada sasaran yang sesungguhnya. Pada saat implementasi
dilakukan
dilakukan

pengukuran
untuk

ketercapaian

mengetahui

tujuan.

efektivitas

Pengukuran
produk

ini

yang

dikembangkan. Setelah produk diimplementasikan, pengembang


perlu melihat hasil pencapaian tujuan. Tujuan yang belum dapat
tercapai perlu dijelaskan solusinya sehingga tidak terulang
kesalahan yang sama setelah produk disebarluaskan. Kegiatan
terakhir dari tahap pengembangan adalah melakukan packaging
(pengemasan), diffusion and adoption. Tahap ini dilakukan
supaya produk dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Pengemasan
model pembelajaran dapat dilakukan dengan mencetak buku
panduan penerapan model pembelajaran. Setelah buku dicetak,
buku tersebut disebarluaskan supaya dapat diserap (diffusi) atau
dipahami orang lain dan digunakan (diadopsi) pada kelas
mereka.
Pada skripsi ini, penulis tidak melakukan tahap disseminate
karena pengembang belum melakukan uji keefektifan LKS untuk

digunakan

dalam

skala

luas.

Peneliti

memilih

model

pengembangan 4D karena pertimbangan waktu dalam uji coba


lapangan.

Uji

pembelajaran

coba

lapangan

sebenarnya

di

dilakukan

kelas

peneliti

dalam

materi

sistem

dengan

pencernaan manusia dan hewan ruminansia.


Hasil Skripsi
Data diperoleh dari hasil validasi terhadap LKS yang
dilakukan oleh 4 orang validator. Data yang diperoleh dari hasil
validasi

oleh

validator

berupa

angket

yang

dianalisis

menggunakan teknik analisis data kuantitaif, sedangkan saran


dan komentar validator merupakan data kualitas. Beradasarkan
perhitungan krteris penilaian yang telah dilakukan rerata hasil
analisis validator adalah 79,56%. Hasil ini menunjukkan bahwa
LKS yang dinilai melalui angket termasuk valid, tetapi beberapa
aspek perlu direvisi.
Pada
keterpakaian

tahap

uji

LKS

coba

dalam

juga

dilakukan

pembelajaran.

pengamatan

Berdasarkan

hasil

perhitngan tersebut maka rata-rata penggunaan LKS dalam


pembelajaran yang dilakukan selama 6 kali pertemuan sebesar
89,6% dengan kategori sangat baik. Hal ini mengindikasikan
bahwa penggunaan LKS dalam pembelajaran belum sepenuhnya
terlihat. Data lain yang didapatkan dari hasil uji coba adalah hasil
belajar kognitif siswa, hasil rancangan praktikum siswa, laporan
praktikum, dan hasil belajar psikomotorik.
Berdasarkan analisis data, hasil belajar kognitif siswa yang
berada di atas KKM sebesar 53,12%. Hal ini mengindikasikan
bahwa

setelah

pembelajaran

menggunakan

LKS

yang

dikembangkan peneliti belum mencapai 85% dari standar


ketuntasan klasikal.

Berdasarkan nilai akhir penilaian afektif

menunjukkan bahwa siswa memiliki 93,75% dengan rata-rata

nilai afektif siswa 84,96. Hal ini menunjukkan dengan adanya


penggunaan LKS maka nilai afektif siswa pun baik.
Data selanjutnya adalah data nilai psikomotorik siswa.
Berdasarkan hasil analisis data, nilai akhir nilai psikomotorik
siswa dengan presentase 93,75% dan rata-rata nilai psikomotorik
siswa adalah 83,20. Hal ini menunjukkan dengan adanya
penggunaan LKS maka nilai psikomotorik siswa akan baik. Nilai
psikomotorik siswa didapatkan dari kegiatan praktikum yang
dilakukan siswa.
Data selanjutnya adalah angket respon siswa terhadap
penggunaan LKS yang dianalisis dengan menggunakan teknik
analisis
penilaian

data
yang

kuantitatif.
telah

Berdasarkan

dilakukan

perhitungan

rerata

kemanfaatan LKS bagi siswa adalah 79,09%.

analisis

kriteria

dari

hasil