Anda di halaman 1dari 42

BAB II

LANDASAN TEORI
2.1.

Sampling Kerja1
Pada pengantar bagian ini telah dikemukakan baergbagai cara menetapkan

waktu baku dimana terdapat diantaranya sampling pekerjaan. Cara ini, bersamasama dengan pengukuran waktu jam henti, merupakan cara langsung karena
dilakukan dengan melakukan pengukuran secara langsung di tempat berjalan nya
pekerjaan. Bedanya dengan cara jam henti adalah bahwa pada cara sampling
pekerjaan, pengamat (di tempat kerjaan) hanya pada sesaat-sesaat pada waktuwaktu yang ditentukan secara acak.
Pada awalnya, cara ini dikembangkan di inggris oleh seorang yang
bernama L.H.C. Tippet di pabrik-pabrik tekstil di inggris, tetapi karena
kegunaannya, cara ini kemudian dipakai di negara-negara lain secara lebih luas.
Dari namanya dapat diduga bahwa cara ini menggunakan prinsip-prinsip ilmu dari
ilmu statistik. Cara jam henti sebenarnya juga menggunakan ilmu statistik (dan
juga sampling) tetapi pada sampling pekerjaan, hal ini tampak lebih nyata.
2.1.1. Sampling Pendahuluan2
Disini dilakukan sejumlah kunjungan yang banyaknya ditentukan oleh
pengukur, biasanya tidak kurang dari 30. Untuk mudahnya kita ikuti contoh
sampling sampling pekerjaan untuk menghitung waktu baku penyelesaian suatu
pekerjaan.

Katakanlah

menyelesaikan

semua

pekerjaan

kegiatan

disebut

yang

sebagai

dilakukan

kegiatan

pekerja

produktif,

untuk
lainnya

nonproduktif. Selanjutnya dilakukan pengamatan-pengamatan sesaat pada waktuwaktu yang acak sebanyak 144 kali, dan hasilnya sebagai berikut.

1 Iftikar Sutalaksana, dkk, Teknik Perancangan Sistem Kerja, Bandung, Penerbit ITB,
2006, h. 173
2 Ibid., h. 177

Kegiatan
Produktif
Nonprodukti
f
Jumlah
% Produktif

1
24

Frekuensi Teramati pada Hari ke2


3
29
30

4
26

Jumlah
109

12

10

35

36

36

36

36

144

67

81

83

72

2.1.2. Perhitungan Akurasi3


Perhitungan akurasi dilakukan untuk mengetahui berapa persen batas
variasi data yang diperbolehkan. Perhitungan ini dilakukan untuk setiap operator
serta jumlah hari yang sama. Rumus yang digunakan yaitu:
4 p (1 p )
L2
p (1 p )
L2
N
N

Dimana:
L = batas variasi yang diperbolehkan
N = jumlah pengamatan
p = proporsi aktivitas (work atau idle) sebagai persentase N
2.1.3. Pengujian Keseragaman dan Kecukupan Data4
Untuk ini kita tentukan batas-batas kontrolnya yaitu batas kontrol atas
(BKA) dan batas kontrol bawah (BKB) sebagai berikut.

3 Khusainuddin, Evaluasi Kecukupan Tenaga Kerja Berdasarkan Beban Kerja, diakses


di https://digilib.uin-suka.ac.id/2F8247/2F1/2FBAB/2520I/2C/2520V/2C.pdf, pada
tanggal 3 Juni 2015 pukul 19.20
4 Iftikar Sutalaksana, Op.cit., h. 177-178

BKA = p+3

BKB= p3

Dimana :

p=

p(1 p)
n
p(1 p)
n

pi
k

Dengan pi adalah persentase produktif di hari ke-1 dan k adalah jumlah hari
pengamatan.
n=

dengan ni adalah jumlah pengamatan yang dilakukan pada hari ke-1.


Selanjutnya untuk contoh di atas di dapat:
p=

67 +81+72
4
n=

: 100 = 0,76

36 +36+36
4

= 36

sehingga :
10,76

0,76

BKA = 0,76 + 3

= 0,976

10,76

0,76

BKB = 0,76 - 3

= 0,546

Ternyata semua harga-harga pi berada dalam batas-batas ini sehingga semuanya


dapat digunakan untuk menghitung banyaknya pengamatan yang diperlukan. Jika
terdapat harga pi yang diluar batas control, maka data pengamatan dari hari yang
bersangkutan dibuang karena berasal dari sistem sebab yang berbeda.

2.1.4. Perhitungan Jumlah Pengamatan yang Diperlukan5


Jumlah pengamatan yang diperlukan untuk tingkat ketelitian 5% dan
tingkat keyakinan 95% diketahui melalui rumus :
N=

1600 (1 p)
p

= 0,757

Sehingga :
N=

1600 (10,757)
0,757

= 514

Jadi masih diperlukan (514-144) = 370 kali kunjungan lagi. Maka


sampling kedua pun dilakukan. Demikian seterusnya pengamatan dilakukan tahap
demi tahap diuji keseragaman datanya dan dihitung kecukupannya sampai jumlah
kunjungan yang telah dilakukan lebih banyak atau sama dengan yang seharusnya
dilakukan.
2.1.5.

Rating Factor dan Allowance

2.1.5.1. Rating Factor6


Setelah pengukuran berlangsung, pengukur harus mengamati kewajaran
kerja yang di tunjukkan operator. Ketidakwajaran dapat saja terjadi misalnya
bekerja tanpa kesungguhan, sangat cepat seola-olah diburu waktu, atau karena
menjumpai kesulitan-kesulitan seperti kondisi ruangan yang buruk. Penyebab
seperti tarsebut di atas mempengaruhi kecepatan kerja yang berakibat terlalu
singkat atau terlalu panjangnya waktu penyelesaian. Hal ini jelas tidak diinginkan
karena waktu baku yang dicari adalah waktu yang diperoleh dari kondisi dan cara
kerja baku yang diselesaikan secara wajar.
Biasanya penyesuaian dilakukan dengan mengalikan waktu siklus ratarata atau waktu elemen rata-rata dengan suatu harga p yang disebut faktor
penyesuaian. Besarnya harga p tentunya sedemikian rupa sehingga hasil perkalian
5 Ibid., h. 178
6 Ibid., h. 157-159

yang diperoleh mencerminkan waktu yang sewajarnya atau waktu yang normal.
Bila pengukur berpendapat bahwa operator bekerja di atas normal maka harga p
nya akan lebih besar dari satu (p > 1) ; sebaliknya jika perator dipandang bekerja
di bawah normal maka harga p akan lebih kecil dari satu (p < 1). Seandainya
pengukur berpendapat bahwa operator bekerja dengan wajar maka harga p nya
sama dengan satu (p = 1).
Untuk memudahkan pemilihan konsep wajar, seorang pengukur dapat
mempelajari cara kerja seorang operator yang dianggap normal. Yaitu: jika
seorang operator yang dianggap berpengalaman, bekerja tanpa usaha-usaha yang
berlebihan sepanjang hari kerja, menguasai

cara kerja yang ditetapkan, dan

menunjukkan kesungguhan dlam menjalankan pekerjaannya.


Cara Shumard memberikan patokan-patokan penilaian melalui kelaskelas kinerja kerja dengan setiap kelas mempunyai nilai sendiri-sendiri.
Tabel 2.1. Penyesuaian Menurut Cara Shumard
Kelas
Superfast
Fast +
Fast
Fast
Excellent
Good +
Good
Good
Good Normal
Fair +
Fair
Fair Poor

Penyesuaian
100
95
90
85
80
75
70
65
65
60
55
50
45
40

Sumber : Iftikar Z. Sutalaksana, dkk, Teknik Perancangan Sistem Kerja, 2006, Bandung, Penerbit
ITB. hlm.159

Cara Westing house mengarahkan penilaian pada empat faktor yang


dianggap menentukan kewajaran atau ketidakwajaran dalam bekerja yaitu
keterampilan, usaha, kondisi kerja dan konsistensi. Setiap faktor terbagi kedalam
kelas-kelas dengan nilainya masing-masing.

2.1.5.2. Allowance7
Di dalam praktek banyak terjadi penentuan waktu baku yang dilakukan
hanya dengan menjalankan beberapa kali pengukuran dan menghitung rataratanya. Pada bab lalu telah ditunjukkan bagaimana langkah-langkah sebelum dan
pada saat-saat pengukuran seharusnya dilakukan. Selain data yang seragam,
jumlah pengukuran yang cukup dan penyesuaian. Satu hal lain yang kerap kali
terlupakan adalah menambah kelonggaran atas waktu normal yang kerap
didapatkan.
Kelonggaran diberikan untuk tiga hal yaitu untuk kebutuhan pribadi,
menghilangkan rasa fatigue, dan hambatan-hambatan yang tidak dapat
dihindarkan. Ketiganya ini merupakan hal-hal yang secara nyata dibutuhkan oleh
pekerja, dan yang selama pengukuran tidak diamati, diukur, dicatat, ataupun
dihitung. Oleh karena itu, sesuai pengukuran dan setelah mendapatkan waktu
normal, kelonggaran perlu ditambahkan.
1. Kelonggaran untuk Kebutuhan Pribadi
Yang termasuk ke dalam kebutuhan pribadi disini adalah hal-hal seperti minum
sekedarnya untuk menghilangkan rasa haus, ke kamar kecil, bercakap-cakap
dengan teman pekerja sekedar untuk menghilangkan ketegangan ataupun
kejenuhan dalam kerja.
2. Kelonggaran untuk Menghilangkan Rasa Fatigue
Rasa Fatigue tercermin antara lain dari menurunnya hasil produksi baik jumlah
maupun kualitas. Karenanya salah satu untuk menentukan besarnya
kelonggaran ini adalah dengan melakukan pnengamatan sepanjang hari kerja
dan mencatat saat-saat dimana hasil produksi menurun. Tetap masalahnya
adalah kesulitan dalam menentukan saat-saat dimana menurunnya hasil
produksi disebabkan oleh timbulnya rasa fatigue, karena masih banyak
kemungkinan lain yang dapat menyebabkannya.
3. Kelonggaran untuk Hambatan-Hambatan Tak Terhindarkan
Dalam melaksanakan pekerjaannya, pekerja tidak akan lepas dari berbagai
hambatan. Ada hambatan yang dapat dihindarkan seperti mengobrol yang
berlebihan dan menganggur dengan sengaja. Ada pula hambatan yang tidak
7 Ibid., h. 167-169

dapat

dihindarkan

karena

berada

diluar

kemampuan

pekerja

untuk

mengendalikannya.
Beberapa contoh yang termasuk ke dalam hambatan yang tak dapat
terhindarkan adalah :
a. Menerima atau meminta petunjuk kepada pengawa
b. Melakukan penyesuaian-penyesuaian mesin
c. Memperbaiki kemacetan-kemacetan singkat seperti mengganti alat potong
d.
e.
f.
g.

yang patah, memasang kembali ban yang lepas dan sebagainya


Mengasah alat potong
Mengambil alat-alat khusus atau bahan-bahan khusus dari gudang
Hambatan-hambatan karena kesalahan pemakaian alat ataupun bahan
Mesin berhenti karena matinya listrik
Besarnya hambatan untuk kejadian-kejadian seperti itu sangat bervariasi

dari suatu pekerjaan ke pekerjaan lain bahkan satu sistem kerja ke sistem kerja
lain karena banyaknya penyebab seperti mesin, kondisi mesin, prosedur kerja,
ketelitian suplai alat dan bahan, dan sebagainya.
2.1.6. Penetapan Waktu Baku8
Penelitian dengan data waktu baku mempunyai beberapa keuntungan
dibandingkan dengan penelitian langsung, terutama dalam segi ongkos dan
kecepatan. Pada prinsipnya data waktu baku berisi kompilasi waktu yang
diperlukan untuk menyelesaikan berbagai elemen oekerjaan dari pengukuranpengukuran atas elemen-elemen itu pada waktu yang lalu. Dengan demikian pula
pekerjaan tersebut di ulang, waktu yang pantas untuk menyelesaikannya sudah
diketahui. Memang karena diperlukan biaya yang tinggi dalam pembentukan data
waktu baku, cara ini mendatangkan keuntungan bila pekerjaan-pekerjaan di suatu
pabrik atautempat kerja lain mengandung banyak elemen-elemen yang sama.
Pemakaian data waktu baku dalam penelitian waktu akan mendatangkan beberapa
keuntungan di antaranya :
1. Dengan adanya data waktu baku, waktu yang terhemat oleh seorang pengukur
akan cukup besar. Untuk hal ini Maynard mengemukakan bahwa bagi
pekerjaan dengan waktu siklus cukup kecil pengukur memerlukan 1 sampai 4
jam sedangkan untuk yang berwaktu siklus cukup besar, lama untuk
8 Ibid., h. 183-184

pengukuran mungkin diperlukan sampai 100 jam. Hal ini terjadi bila
pengukurannya dilakukan dengan cara langsung.
2. Dengan adanya penghematan di atas, untuk keperluan pekerjaan yang cukup
banyak, pengukur yang diperlukan tidak sebanyak jumlah pengukur dengan
cara langsung. Hal ini akan menguntungkan bagi tempat kerja yang hanya
mempunyai sedikit tenaga ahli.
3. Dengan adanya data waktu baku, pengukur dengan mudah dapat menaksir
berapa waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Hal ini
akan dapat dipakai sebagai landasan untuk perhitungan ongkos, penjadwalan,
dan keputusan-keputusan lain yang akan diambil sehubungan dengan pekerjaan
tersebut.
4. Penentuan berpa lamanya waktu penyelesaian untuk pekerjaan yang
bersangkutan dapat dilakukan tanpa harus berada di tempat pekerjaan sedang
berlangsung.
Cara penelitian data waktu baku sering disebut sebagai cara sintesa, karena
pada umumnya pekerjaan yang diteliti bila diuraikan terdiri dari beberapa elemen
pekerjaan yang lebih kecil atau terdiri dari beberapa kegiatan.
2.2.

Produktivitas9
Pada negara-negara berkembang pengertian mengenai produktivitas akan

selalu dikaitkan dan diarahkan pada segala usaha yang dilakukan dengan
menggunakan sumber daya manusia yang ada. Dengan demikian semua gagasan
dan kebijakan yang diambil untuk usaha meningkatkan produktivitas tanpa
dikaitkan dengan penanaman modal atau kapital seperti halnya penerapan proses
mekanisasi/ otomatisasi semua fasilitas produksi dengan tingkat teknologi yang
lebih canggih. Produktivitas pada dasarnya akan berkaitan erat pengertiannya
dengan sistem produksi, yaitu sistem dimana faktor-faktor seperti:
1. Tenaga kerja
2. Modal berupa mesin, peralatan kerja, bahan baku, bangunan pabrik, dan lainlain.
9 Sritomo Wignjosoebroto, Ergonomi Studi Gerak Dan Waktu, Surabaya, PT.Guna
Widya, 1995, h. 1-2

Secara sederhana produktivitas dapat didefinisikan sebagai perbandingan


(rasio) antara output per inputnya. Dengan diketahuinya nilai (indeks)
produktivitas, maka akan diketahui pula seberapa efisien pula sumber-sumber
input telah berhasil dihemat. Upaya peningkatan produktivitas secara terus
menerus dan menyeluruh merupakan satu hal yang penting tidak saja berlaku bagi
setiap individu pekerja, melainkan juga bagi perusahaan/ industri. Dengan
peningkatan produktivitas maka tanggung jawab manajemen akan terpusat pada
segala upaya dan daya untuk melaksanakan fungsi dan peran dalam kegiatan
produksi, khususnya yang bersangkut paut dengan efisiensi penggunaan sumbersumber input. Agar supaya produktivitas bisa meningkat, perlu diupayakan proses
produksi bisa memberikan kontribusi sepenuhnya terhadap kegiatan-kegiatan
produktif yang berkaitan dengan nilai tambah dan justru yang terpenting adalah
berusaha menghindari atau meminimalkan langkah-langkah kegiatan yang tidak
produktif seperti :
1. Banyaknya idle/ delay
2. Set up yang terlalu lama
3. Banyaknya loading-unloading
4. Material handling yang tidak tepat. Dan lain-lain.
Seperti yang diketahui produktivitas adalah rasio output per input.
Bilamana output dalam hal ini adalah berupa unit keluaran yang dihasilkan oleh
proses produksi dan semua masukan (input) yang diperlukan dikonversikan dalam
unit satuan moneter (rupiah), maka:
Total output yang dihasilkan selama periode t (unit)
Total input yang dikeluarka n selama periode t (Rp)

Pi =
Dengan formulasi ini, peningkatan produktivitas akan terjadi bilamana
output berhasill naik (bertambah besar) atau tetap dan disisi lain input dalam hal
ini bisa lebih ditekan seminimal mungkin.
Naiknya produktivitas ternyata akan membawa konsekuensi terhadap
penurunan biaya produksi per unitnya, sehingga penurunan biaya produksi dapat
dirumuskan sebagai berikut:

Total biaya input yang dikeluarka n selama periode t ( rupiah )


Total output yang dikeluarka n selama periode t (unit )
Ci =
Faktor-faktor yang mempengaruhi usaha peningkatan produktivitas ada
dua yaitu:
1. Faktor teknis yaitu faktor yang berhubungan dengan pemakaian dan
penerapan fasilitas produksi secara lebih baik, metode penerapan kerja yang
lebih baik, penerapan kerja yang lebih efisien dan efektif, dan atau
penggunaan bahan baku yang lebih ekonomis.
2. Faktor manusia yaitu faktor yang mempunyai pengaruh terhadap usaha-usaha
yang dilakukan manusia di dalam menyelesaikan pekerjaan yang menjadi
tugas dan tanggung jawabnya. Disini ada dua hal pokok yang menentukan,
yaitu kemampuan kerja dari pekerja tesebut dan yang lain adalah motivasi
kerja yang merupakan pendorong ke arah kemajuan dan peningkatan prestai
kerja seseorang.
Penekanan pada faktor manusia sebagai sumber penentu untuk kenaikan
produktivitas dalam kondisi tertentu haruslah mendapatkan perioritas yang lebih
tinggi dibandingkan faktor-faktor teknis. Disini haruslah diusahakan untuk
mengeliminir pemakaian dan penerapan teknologi yang lebih berorientasi pada
proses mekanisasi dan otomatisasi.
2.3.

Teknik Sampling

2.3.1. Non Probability Sampling10


Adapun teknik non probability sampling terbagi atas 5 yaitu sebagai
berikut.
a. Convinience Sampling
Pengambilan sampel dengan cara ini yaitu denga cara mengambil anggota
populasi yang dianggap sudah mewakili populasi, misalkan akan dilakukan
penelitian terhadap mahasiswa tingkat persiapan yang memiliki bubuk A.

10 Rosnani Ginting. Perancangan Produk. Yogyakarta: Graha Ilmu. 2010. h. 74-80

Disini akan diambil sampel dengan cara menutup mata dan kita panggil
mahasiswa yang akan ditanyai.
b. Judgement Sampling
Untuk mengambil sampel dengan cara ini diperlukan tenaga ahli yang akan
menentukan anggota populasi yang akan menjadi anggota sampel. Misalnya
akan diadakan penelitian tentang penerimaan masyarakat terhadap suatu jenis
kosmetika. Para ahli biasanya mengambil segolongan orang yang selalu
memakai kosmetika, jadi tidak seluruh penduduk kota akan diambil sebagai
pilihan.
c. Quota Sampling
Pada quotasampling, sampel yang diambil adalah sekelompok anggota
populasi yang mempunyai karakteristik yang sama, misalnya akan melakukan
penelitian tentang masalah Keluarga Berencana (KB), maka dilakukan
pengelompokan golongan penduduk, misalnya penduduk suku Batak, Aceh,
Minang, dan sebagainya. Dari tiap golongan diambil dengan cara sebanding
dari jumlah keseluruhan.
d. Snowball Sampling
Snowballsampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya
kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lamalama menjadi membesar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu
atau dua orang, kemudian dua orang ini disuruh memilih teman-temannya yang
dijadikan sampel. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak.
e. Systemic Sampling
Systemic Sampling adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari
anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi
yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100
orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan
nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja,
genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, Misalnya kelipatan dari
bilangan lima. Untuk ini maka yang diambil sampel adalah nomor 1, 5, 10, 15,
20, dan seterusnya sampai 100.

2.3.2. Probability Sampling


Adapun teknik probability sampling terbagi atas 3 yaitu sebagai berikut.
1. Simple Random Sampling
Sampel yang diambil secara random, yaitu setiap anggota populasi mempunyai
kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Cara yang
umum dipakai adalah dengan menggunakan tabel random, atau dapat juga
dipergunakan secara undian.
2. Stratified Random Sampling
Teknik pengambilan sampel ini adalah teknik sampling dimana dapat diadakan
kelompok-kelompok atau tingkatan dari populasi yang akan kita ambil
sampelnya. Tiap-tiap tingkatan (strata) merupakan sub populasi. Pemisahan
dalam tiap tingkatan berdasarkan sifat yang sama dimasukkan ke dalam satu
tingkat. Kemudian dari setiap tingkatan itu diambil sampelnya dengan cara
random sampling.
Jika populasi tidak homogen, dapat ditingkatkan (strata) yang masing- masing
homogen, amak dari tiap lapisan dapat diambil sampel secara acak. Syarat
pemakaian teknik pengambilan sampel secara stratified ini adalah:
a. Terdapat kriteria yang jelas untuk mebuat stratifiikasi populasi
b. Perlu ada data pendahuluan tentang populasi, tentang variabel yang
digunakan sebagai kriteria spesifikasi.
c. Perlu diketahui jumalh individu secara tepat pada tiap strata.
3. Cluster Sampliing
Pengambilan sampel dengan cara ini hampir sama dengan stratified random
sampling, bedanya pada cluster sampling penentuan pengelompokan
berdasarkan geograpycal, misalnya atas dasar daerah. Kemudian dari tiap
sampel secara random dan dapat pula secara proporsional dilakukan
pengambilan sampel yang dibutuhkan.
Misalnya di Indonesia terdapat 34 propinsi dan sampelnya akan akan
menggunakan 10 propinsinya, maka pengambilan 10 propinsi itu bersih
dilakukan secara random. Tetapi perlu dingat, karena propinsi-propinsi di

Indonesia itu berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan


stratified random sampling.
Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui 2 tahap yaitu tahap
pertama menentukan sampel daerah, dan tahap kedua menentukan orang-orang
yang ada pada daerah itu secara sampling itu juga.
2.4.

Tingkat Ketelitian dan Tingkat Keyakinan11


Yang dicari dengan melakukan pengukuran-pengukuran ini adalah waktu

yang sebenarnya dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Yang ideal


tentunya dilakukan pengukuran-pengukuran yang sangat banyak, karena dengan
demikian diperolehjawaban yang pasti. Tetapi hal ini jelas tidak mungkin karena
keterbatasan waktu, tenaga, dan tentunya biaya. Namun, sebaliknya jika
dilakukanhanya beberapa kali pengukuran saja, dapat diduga hasilnya sangat
kasar. Dengan demikian yang diperlukan adalah jumlah pengukuran yang tidak
membebankan waktu, tenaga, dan biaya yang besar tetapi hasilnya tidak dapay
dipercaya. Jadi walaupun jumlah pengukuran tidak berjuta kali, tetapi jelas tidak
hanya beberapa kali saja.
Tingkat

ketelitian

menunjukkan

penyimpangan

maksimum

hasil

pengukuran dari waktu penyelesaian sebenarnya. Hal ini biasanya dinyatakan


dalam persen. Sementara tingkat keyakinan menunjukkan besarnya keyakinan
pengukur bahwa hasil yang diperoleh memenuhi syarat ketelitian tadi. Ini pun
dinyatakan dalam persen. Jadi, tingkat ketelitian 10% dan tingkat keyakinan 95%
memberi arti bahwa pengukur membolehkan rata-rata hasil pengukurannya
menyimpang sejauh 10% dari rata-rata sebenarnya ; dan kemungkinan berhasil
mendapatkan hal ini adalah 95%. Dengan kata lain pengukur sampai memperoleh
rata-rata pengukuran yang menyimpang lebih dari 10% dari yang seharusnya, hal
ini dibolehkan terjadi hanya dengan kemungkinan 5% (100%-95%).
2.5.

Ergonomi12

11 Iftikar Sutalaksana., Op.cit, h. 153-154

Ergonomi berasala dari bahasa yunani, yaitu ergo yang berarti kerja dan
nomos yang berarti hukum. Ergonomi dimaksudkan sebagai disiplin ilmu yang
mengajarkan manusia dalam kaitan dengan pekerjaannya. Ergonomi lahir dan
berkembang sekitar abad ke-20.
Ergonomi adalah cabang ilmu yang sistematik untuk mendapatkan
informasi-informasi mengenai sifat,kemampuan, dan keterbatasan manusia untuk
merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem
itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu
dengan efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien.
2.5.1. Tipe-tipe Masalah Ergonomi
Masalah-masalah ergonomi dikategorikan dalam berbagai kelompok,
tergantung kepada wilayah spesifik dari efek tubuh seperti :
1. Antropometri
Antropometri berhubungan dengan konflik dimensional antara ruang geometri
fungsional pada tubuh manusia. Antropometri ini merupakan pengukuran dari
dimensi tubuh secara linear, termasuk berat dan volume, jarak jangkauan,
tinggi mata saat duduk dan lainnya. Masalah-masalah antropometri merupakan
manifestasi dari kekurang cocokannya antara dimensi ini dan desain ruang
kerja. Pemecahnya adalah memodifikasi desain untuk menyesuaikan
kenyamanan.
2. Cognitive
Masalah cognitive muncul ketika informasi beban kerja yang berlebihan dan
informasi beban kerja di bawah proses. Keduanya dalam jangka waktu yang
panjang maupun pendek dapat menyebabkan ketegangan. Pada sisi lain fungsi
ini tidak sepenuhnya berguna untuk pemeliharaan tingkat optimum.
Pemecahannya adalah untuk melengkapi fungsi manusia dan fungsi mesin
untuk meningkatkan performasi dalam pengembangan pekerjaan.
3. Musculokskeletal
12 Edi Kurniyawan, Usulan Rancangan Fasilitas Kerja Berdasarkan Antropometri pada
Bagian Pallet Produk 1500ml di PT. Tirta Sibayakindo, diakses dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/11920/1/09E01061.pdf, pada tanggal 1
Mei 2015 pukul 15.53

Ketegangan otot dan sistem kerangka termasuk dalam kategori ini. Hal tersebut
dapat tmenyebabkan insiden kecil atau trauma efek kumulatif. Pemecahan
masalah ini terletak pada penyediaan bantuan performasi kerja atau mendesain
kembali pekerjaan untuk menjaga agar kebutuhannya sesuai dengan batas
kemampuan manusia.
4. Cardiovaskular
Masalah ini terletak pada ketegangan pada sistem sirkulasi, termasuk jantung.
Akibatnya adalah jantung memompakan lebih banyak darah ke otot untuk
memenuhi tingginya permintaan oksigen. Pemecahannya yaitu mendesain
kembali pekerjaan untuk melindungi pekerja dan melakukan rotasi pekerjaan.
5. Psychomotor
Masalahnya bahwa ketegangan pada sistem psychomotor dengan menegaskan
kebutuhan pekerjaan untuk disesuaikan dengan kemampuan manusia dan
menyediakan bantuan performasi pekerjaan.
2.5.2. Tujuan Ergonomi
Tujuan dari ergonomi adalah mendapatkan suatu pengetahuan yang utuh
tentang permasalahan-permasalahan interaksi antara manusia dengan teknologi
produk, sehingga dimungkinkan suatu kondisi yang berfungsi lebih efektif dan
efisien.
Tujuan ergonomi secara lebih spesifik adalah sebagai berikut :
1. Tercapainya desain sistem manusia mesian yang terpadu sehingga efisiensi
kerja bisa tercapai
2. Memperbaiki performasi kerja manusia
3. Mengurangi energi kerja yang berlebihan
4. Mengurangi datangnya kelelahan yang terlalu cepat
2.5.3. Aplikasi Ergonomi
Ergonomi dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang kehidupan seharihari, contohnya adalah :
1. Perancangan tempat/stasiun kerja yang sesuai dengan karateristik dari manusia
2. Desain peralatan, perkakas dan mesin-mesin yang dpergunakan oleh manusia
sebagai sarana untuk memudahkan segala aktivitasnya

3. Desain produk-produk yang lebih memudahkan kegiatan, contohnya mobil


yang dilengkapi dengan kursi yang mudah diatur dan disesuaikan dengan
kondisi tubuh manusia.
Penyelidikan terhadap manusia-mesian didasarkan atas suatu kenyataan
bahwa antara manusia dan mesin masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangan, artinya ada beberapa pekerjaan yang akan lebih baik jika dikerjakan
oleh manusia dan sebaliknya ada beberapa pekerjaan yang lebih baik jika
dikerjakan oleh mesin, masing-masing perbedaan tersebut bisa saling melengkapi,
dan tugas perancanganlah untuk menyeimbangkannya.
2.6.

Antropometri

2.6.1. Definisi Antropometri13


Istilah antropometri berasal dari Anthro yang berarti manusia dan
metri yang berarti ukuran. Secara definitif antropomentri dapat dinyatakan
sebagai satu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia.
Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar, dsb) berat
dan lain-lain yang berbeda satu dengan yang lainnya.
2.6.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengukuran Antropometri
Manusia pada umumya akan berbeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi
ukuran tubuhnya. Disini ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran
tubuh manusia, sehingga sudah semestinya seorang perancang produk harus
memperhatikan faktor-faktor tersebut yang antara lain adalah :
1. Umur
Secara umum dimensi tubuh manusia akan tumbuh dan bertambah besar,
seiring dengan bertambahnya umur, yaitu sejak awal kelahirannya sampai
dengan umur 20 tahunan.
2. Jenis Kelamin
Dimensi ukuran tubuh laki-laki umumnya akan lebih besar dibandingkan
dengan wanita, terkecuali untuk beberapa bagian tubuh tertentu seperti pinggul,
dsb.
13 Sritomo Wignjosoebroto, Op.cit., h. 60-65

3. Suku/bangsa (ethnic)
Setiap suku, bangsa ataupu kelompok etnik akan memiliki karateristik fisik
yang akan berbeda satu dengan yang lainnya.
4. Posisi Tubuh (Posture)
Sikap (posture) ataupun posisi tubuh akan berpengaruh terhadap ukuran tubuh
oleh sebab itu, posisi tubuh standard harus diterapkan untuk survei pengukuran.
Selain faktor-faktor tersebut di atas masih ada pula beberapa faktor yang
mempengaruhi variabilitas ukuran tubuh manusia seperti :
1. Cacat Tubuh
Dimana data antropometri disini akan diperlukan untuk perancangan produk
bagi orang-orang cacat.
2. Tebal/Tipisnya Pakaian yang Harus Dikenakan
Dimana faktor iklim yang berbeda akan memberikan variasi yang berbedabeda pula dalam bentuk rancangan dan spesifikasi pakaian.
3. Kehamilan (Pregnancy)
Dimana kondisi semacam ini jelas akan mempengaruhi bentuk dan ukuran
tubuh. Hal tersebut jeles memrlukan perhatian khusus terhadap produk-produk
yang dirancang bagi segmentasi seperti ini.
2.6.3. Antropometri Statis (Struktural)14
Antropometri statis disebut juga dengan pengukuran dimensi struktur
tubuh. Antropometri statis berhubungan dengan pengukuran keadaaan dan cirriciri fisik manusia dalam keadaan diam atau dalam posisi standar dimensi tubuh
yang diukur dengan posisi tetap antara lain berat badan, tinggi tubuh ukuran
kepala, panjang lengan dan sebagainya.
2.6.4. Antropometri Dinamis (Fungsional)
Antropometri dinamis disebut juga dengan dimansi fungsional tubuh.
Disini Pengukuran dilakukan terhadap dimensi tubuh pada saat berfungsi
melakukan gerakan-gerakan tertentu yang berkaitan yang harus disesuaikan.
2.6.5. Prinsip-Prinsip Penggunaan Data Antropometri
Data-data hasil pengukuran tubuh manusia tatau yang disebut data
antropometri digunakan untuk perancangan peralatan. Oleh karena itu keadaan
dan cirri fisik manusia dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga berbeda satu
14 Edi Kurniyawan, Op.cit., diakses tanggal 1 Mei 2015 pada pukul 16.13

sama kainnya, maka terdapat tiga prinsip dalam pemakaian data untuk
perancangan, perbaikan dan pengukuran sistem kerja yaitu sebagai berikut:
1. Perancangan Fasilitas Berdasarkan Individu Ekstrim
Prinsip ini digunakan apabila mengharapkan agar fasilitas yang dirancang
dapat dipakai dengan enak dan nyaman oleh sebagian besar pemakai (biasanya
minimal 95% pemakai) misalnya ketinggian suatu alat sesuai dengan
jangkauan ke atas orang pendek, lebar tempat duduk sesuai dengan lebar
pinggul orang gemuk, dan lain-lain.
2. Perancangan Fasilitras yang Bisa Disesuaikan
Prinsip ini digunakan untuk merancang suatu fasilitas agar bisa digunakan
dengan enak dan nyaman bagi orang yang memerlukannya. Jadi bisa
disesuaikan dengan ukuan tubuh si pemakai. Misalnya kursi pengemudi mobil
yang bisa diatur maju atau mundur dan kemiringan sandarannya.
3. Perancangan Fasilitas Berdasarkan Harga Rata-rata Para Pemakai
Prinsip ini hanya bisa dugunakan apabila perancangan berdasarkan harga
ekstrim tidak mungkin digunakan serta tidak layak jika menggunakan prinsip
perancangan fasilitas yang bisa disesuaikan. Prinsip ini tidak mungkin
dilaksanakan jika lebih banyak ruginya, artinya hanya sebagian kecil pemakai
yang mersa sesuai menggunakannya. Sedangkan jika fasilitas tersebut
dirancang berdasarkan fasilitas yang bisa disesuaikan tidak juga layak karena
biayanya mahal.
Seorang desainer seharusnya mengetahui aspek dimensi tubuh dari
populasi yang akan menggunakan peralatan hasil rancangan tersebut. Dalam hal
ini, harus ada semacam sasaran, misalnya 90% sampai 95% dari populasi harus
dapat menggunakan hasil desainnya tersebut.
2.6.6. Dimensi Tubuh Pengukuran Data Antropometri
Adapun pengukuran dimensi tubuh manusia terdiri dari:
1. Posisi duduk
a. Tinggi Duduk Tegak (TDT)
Yaitu dengan mengukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk samping
ujung atas kepala. Subjek duduk tegak dengan mata memandang lurus ke
depan dan lutut membentuk sudut siku-siku.
b. Tinggi Bahu Duduk (TBD)
Yaitu dengan mengukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk samping
ujung tulang bahu yang menonjol pada saat subjek duduk tegak.

c. Tinggi Mata Duduk (TMD)


Yaitu dengan mengukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk samping
ujung mata bagian dalam. Subjek duduk tegak dan memandang lurus ke
depan.
d. Tinggi Siku Duduk (TSD)
Yaitu dengan mengukur jarak vertikal dari permukaan alas duduk samping
ujung bawah siku kanan. Subjek duduk tegak dengan atas vertical di sisi
badan dengan lengan bawah membentuk sudut siku-siku dengan lengan
bawah.
e. Tebal Paha (TP)
Yaitu dengan mengukur subjek duduk tegak, ukur jarak dari permukaan alas
duduk samping sampai ke permukaan atas paha.
f. Pantat Polipteal (PP)
Yaitu dengan mengukur subjek duduk tegak, ukur jarak horizontal dari
bagian terluar pantat sampai lekukan lutut sebelah dalam (polipteal). Paha
dan kaki bagian bawah membentuk sudut siku-siku.
Pengukuran dimensi tubuh manusia pada posisi duduk dapat terlihat pada
Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Pengukuran Dimensi Tubuh Manusia Posisi Duduk


2. Posisi Berdiri
a. Tinggi Siku Berdiri (TSB)

Yaitu dengan mengukur jarak vertikal dari lantai ke titik permukaan antara
lengan atas dan lengan bawah. Subjek berdiri tegak dengan kedua tangan
tergantung secara wajar.
b. Panjang Lengan Bawah (PLB)
Yaitu dengan mengukur subjek berdiri tegak dan tangan di samping, ukur
jarak dari siku sampai pergelangan tangan.
c. Tinggi Mata Berdiri (TMB)
Yaitu dengan mengukur jarak vertikal dari lantai sampai ujung mata bagian
dalam (dekat pangkal hidung). Subjek berdiri tegak dengan memandang
lurus ke depan.
d. Tinggi Badan Tegak (TBT)
Yaitu dengan mengukur jarak vertikal telapak kaki sampai ujung kepala
yang paling atas, sementara subjek berdiri tegak dengan mata memandang
lurus ke depan.
e. Tinggi Bahu Berdiri (TBB)
Yaitu dengan mengukur jarak vertikal dari lantai sampai bahu yang
menonjol pada saat subjek berdiri tegak.
f. Tebal Badan (TB)
Yaitu dengan mengukur berdiri tega dan ukur jarak dari dada (bagian ulu
hati) sampai punggung secara horizontal.
Pengukuran dimensi tubuh manusia pada posisi berdiri dapat terlihat pada
Gambar 2.2.

Gambar 2.2. Pengukuran Dimensi Tubuh Manusia Posisi Berdiri

3. Posisi Berdiri dengan Tangan ke Depan


a. Jangkauan Tangan (JT)
Yaitu dengan mengukur jarak horizontal dari punggung samping ujung jari
tengah dan subjek berdirri tegak dengan betis, pantat, dan punggung
merapat ke dinding, tangan direntangkan secara horizontal ke depan.
Pengukuran dimensi tubuh manusia pada posisi berdiri dengan tangan ke
depan dapat terlihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3. Pengukuran Dimensi Tubuh Manusia Posisi Berdiri dengan


Tangan ke Depan
4. Posisi Duduk Menghadap ke depan
a. Lebar Pinggul (LP)
Yaitu dengan mengukur subjek duduk tegak dan ukur jarak horizontal dari
bagian terluar pinggul sisi kiri sampai bagian terluar pinggul sisi kanan.
b. Lebar Bahu (LB)
Yaitu dengan mengukur jarak horizontal antara kedua lengan atas dan
subjek duduk tegak dengan lengan atas merapat ke badan dan lengan bawah
direntangkan ke depan.
Pengukuran dimensi tubuh manusia pada posisi duduk menghadap ke
depan dapat terlihat pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4. Pengukuran Dimensi Tubuh Manusia Posisi Duduk Menghadap


ke Depan
5. Posisi Berdiri dengan Kedua Lengan Direntangkan
a. Rentangan Tangan (RT)
Yaitu dengan mengukur jarak horizontal dengan ujung jari terpanjang
tangan kiri sampai ujung jari tepanjang tangan kanan direntangkan
horizontal sampai sejauh mungkin.
Pengukuran dimensi tubuh manusia pada posisi berdiri dengan kedua
lengan direntangkan dapat terlihat pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5. Pengukuran Dimensi Tubuh Manusia Posisi Berdiri dengan


Kedua Lengan Direntangkan

6. Pengukuran Jari Tangan


a. Panjang Jari 1,2,3,4,5 (PJ 1,2,3,4,5)
Yaitu dengan mengukur masing-masing pangkal ruas jari sampai ujung jari,
Jari-jari subjek merentang lurus dan sejajar.
b. Pangkal ke Lengan (PKL)
Yaitu dengan mengukur pangkal pergelangan tangan sampai pangkal ruas
c.

jari. Lengan bawah sampai telapak tangan sunjek lurus.


Lebar Jari 2,3,4,5 (LJ 2,3,4,5)
Yaitu dengan mengukur dari sisi luar jari telunjuk sampai sisi jari kelingking

dan jari-jari subjek lurus merapat satu sama lain.


d. Lebar tangan (LT)
Yaitu degngan mengukur sisi luar ibu jari samoai sisi luar jari kelingking.
Pengukuran jari tangan dapat terlihat pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6. Pengukuran Jari Tangan


7. Berat Badan (BB)
Yaitu bobot berat yang dimiliki oleh tubuh seseorang.

2.6.7. Flowchart dan Langkah-langkah Penilaian Data Antropometri15


15 Mayang Palupi, Antropometri, diakses dari
https://id.scribd.com/doc/205433626/POSTUR-KERJA#download, pada tanggal 2 Mei
2015 pukul 21.22

Adapun

langkah-langkah

yang

digunakan

dalam

penilaian

data

antropometri adalah sebagai berikut:


1. Disiapkan peralatan dan bahan serta sampel yang akan diteliti datanya.
2. Kemudian, dipilih lokasi dan sumber data tempat akan melakukan penelitian
ataupun pengujian.
3. Dilanjutkan dengan pengukuran masing-masing dimensi tubuh manusia untuk
mendapatkan data yang akurat.
4. Dicatat hasil-hasil pengukuran dalam kertas.
5. Dihitung nilai BKA (Batas Kelas Atas), BKB (Batas Kelas Bawah), nilai
mean (rata-rata), standar deviasi (standard deviation), tingkat kepercayaan dan
tingkat ketelitian serta nilai data.
6. Dilanjutkan dengan pengujian keseragaman data, pengujian kecukupan data
dan pengujian kolmogrorov-Smirnov test.
7. Dianalisis data-data antropometri yang telah didapatkan.
Digunakan data-data antropometri tersebut sesuai kebutuhan yang diperlukan.

Gambar 2.7. Flowchart dan Langkah-Langkah Penilaian Data Antropometri

2.6.8. Aplikasi Distribusi Normal dalam Penetapan Data Antropometri16


Antropometri menurut Stevenson dan Nurmianto adalah satu kumpulan
data numerik yang berhubungan dengan karateristik fisik tubuh manusia ukuran,
bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah
desain. Penerapan data antropometri ini akan dapat dilakukan jika tersedia nilai
mean (rata-rata) dan SD (standar deviasi) nya dari suatu distribusi normal.
Adapun distribusi normal ditandai dengan adanya nilai mean (rata-rata)
dan SD (standar deviasi). Sedangkan persentil adalah suatu nilai yang menyatakan
bahwa persentase tertentu dari sekelompok orang yang dimensinya sama dengan
atau lebih rendah dari nilai tersebut. Misalnya : 95% populasi adalah sama dengan
atau lebih rendah dari 95 persentil ; 5% dari populasi bedara sama dengan atau
lebih rendah dari 5 persentil. Besarnya nilai persentil dapat ditentukan dati tabel
probabilitas distribusi normal.

Gambar 2.8. Kurva Distribusi Normal dengan Persentil 95-th


Tabel 2.2. Tabel Persentil dan Cara Perhitungan dalam Distribusi Normal
Percentile
Calculation
1 st
X 2.325 x
2.5 th
X 1.960 x
5 th
X 1.645 x
10 th
X 1280 x
Tabel 2.2. Tabel Persentil dan Cara Perhitungan dalam Distribusi
Normal (Lanjutan)
16 Eko nurmianto, Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya, Surabaya, Penerbit Guna
Widya, 2004, h. 154-162

Percentile
50 th
90 th
95 th
97.5 th
99 th

Calculation
X
X+ 1.280 x
X + 1.645 x
X + 1.960 x
X + 2.325 x

Sumber Data : Steveson, 1989; Nurmianto, 1991

Dalam pokok bahasan antropometri, 95 persentil menunjukkan tubuh


berukuran besar, sedangkan 5 persentil menunjukkan tubuh berukuran kecil. Jika
diinginkan dimensi untuk mengakomodasi 95% populasi maka 2,5 dan 97,5
persentil adalah batas rentang yang dapat dipakai.
Sebelum membahas lebih jauh mengenai penggunaan data ini maka ada
baiknya kita bahas istilah The Fallacy of the Average Man or Average Woman.
Istilah ini mengatakan bahwa merupakan suatu kesalahan dalam perancangan
suatu tempat kerja ataupun produk jika berdasar pada dimensi yang hipotesis yaitu
menganggap bahwa semua dimensi adalah merupakan rata-rata. Walaupun hanya
dalam penggunaan satu dimensi saja, seperti misalnya jangkauan kedepan
(forward reach), maka penggunaan rata-rata (50 persentil) dalam penyesuaian
pemasangan suatu alat control akan menghasilkan bahwa 50% populasi akan tidak
mampu menjangkau. Selain dari itu, jika seseorang mempunyai dimensi pada ratarata populasi, katakanlah tinggi badan, maka belum tentu, bahwa dia berada pada
rata-rata populasi untuk dimensi lainnya.
2.6.9. Aplikasi Antropometri dalam Perancangan Produk17
Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbanganpertimbangan ergonomis dalam proses perancangan desain produk maupun sistem
kerja yang akan memerlukan interaksi manusia. Adapun data-data antropometri
tersebut dapat diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal perancangan areal
kerja, perancangan peralatan kerja, perancangan produk konsumtif seperti
(pakaian, kursi, mesin), dan lingkungan kerja fisik. Dengan demikian dapat
17 Delta Pralian, Desain Bentuk Fisik Kereta Dorong Sesuai Antropometri Anak-anak
Untuk Penjuak Cobek, diakses dari
http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/industrialtechnology/2010/Artikel_30402264.pdf, pada tanggal 2 Mei 2015 pukul 19.44

disimpulkan data anthropometri dapat menentukan bentuk, ukuran dan dimensi


yang tepat yang berkaitan dengan produk tersebut. Sehingga dalam hal tersebut
dapat diperoleh hasil rancangan yang dapat memberikan kenyamanan maupun
kesehatan yang ditinjau dari sudut pandang ilmu anatomi, fisikologi, kesehatan
dan keselamatan kerja, perancangan dan manajemen. Data anthropometri yang
menyajikan data ukuran dari berbagai macam anggota tubuh manusia dalam
persentil tertentu akan sangat terasa manfaatnya pada saat rancangan produk atau
fasilitas kerja dibuat. Agar rancangan tersebut nantinya dapat sesuai dengan
dimensi tubuh manusia yang akan menggunakannya, maka prinsip-prinsip yang
harus diambil dalam aplikasi data antropometri tersebut ditetapkan dahulu seperti
berikut Sanders prinsip perancangan produk bagi individu dengan ukuran tubuh
ekstrim. Rancangan produk dibuat agar dapat memenuhi dua sasaran produk,
yaitu dapat sesuai untuk ukuran tubuh manusia yang mengikuti klasifikasi ekstrim
dalam arti terlalu besar atau kecil bila dibandingkan dengan ukuran rata- ratanya.
Tetap dapat digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain, yaitu mayoritas
dari populasi yang ada. Secara umum aplikasi data antropometri untuk merancang
produk atau fasilitas kerja akan menetapkan nilai presentile 95 untuk dimensi
minimum dan presentil 5 untuk dimensi maksimum. Prinsip perancangan produk
yang dapat dioperasikan diantara rentang ukuran tertentu. Rancangan pada prinsip
ini dapat diubah-ubah ukurannya sehingga cukup fleksibel, maka data
antropometri yang umum diaplikasikan adalah dalam rentang nilai presentil 5
sampai dengan 95. Prinsip perancangan produk didasarkan terhadap rata-rata
ukuran tubuh manusia.

2.7. Statistik
2.7.1. Statistik Deskriptif18
Statistik dalam arti sempit adalah data ringkasan berbentuk angka
(kuantitatif). Statistik dalam arti luas adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari
18 Edi Kurniyawan, Op.cit,. diakses pada tanggal 1 Mei pukul 21.33

cara pengumpulan dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan


informasi yang berguna. Metode statistik adalah prosedur-prosedur yang
digunakan dalam pengumpulan, pengujian, analisis dan penafsiran data. Metode
statistik ini terbagi atas 2 bagian yakni:
1. Statistik Deskriptif
2. Statistik Inferensia
Perlu kiranya diketahui bahwa statistic deskriptif memberikan informasi
hanya mengenai data yang dimiliki dan sama sekali tidak menarik inferensia atau
kesimpulan apapun tentang gugus data induknya yang lebih besar. Penyusunan
tabel, diagram, grafik dan besaran-besaran lain didalam majalah dan Koran-koran
termasuk dalam kategori statistika deskriptif.
2.7.2. Statistik Nonparametrik19
Uji nonparametrik telah mendapat perhatian di tahun-tahun terakhir ini
karena beberapa alasan.
1. Perhitungan yang diperlukan sederhana dan dapat dikerjakan dengan cepat.
2. Datanya tidak harus merupakan pengukuran kuantitatif, tetapi dapat berupa
respon yang kualitatif, seperti produk cacat lawan tidak cacat, ya atau
tidak dan lain sebagainya, atau nilai-nilai suatu skala ordinal. Pada skala
ordinal, subyeknya diberi peringkat menurut suatu urutan tertentu, dan suatu uji
nonparametrik menganalisis peringkat-peringkat tersebut.
3. Yang ketiga dan mungkin keuntungan yang paling penting dalam
menggunakan uji nonparametric adalah bahwa uji-ujinya disertai dengan
asumsi-asumsi yang jauh tidak mengikat dibandingkan uji parametric
padanannya.
Kita harus pula menunjukkan sejumlah kelemahan yang melekat pada ujiuji nonparametrik. Terutama, uji-uji itu tidak memanfaatkan semua informasi
yang dikandung dalam contoh. Akibat pemborosan ini, uji nonparametrik selalu
sedikit kurang efisien dibandingkan prosedur parametriknya bila kedua metode
dapat diterapkan. Dengan demikian, uji nonparametrik padanannya untuk
mencapai peluang galat jenis II yang sama.
19 Ronald E. Walpole, Pengantar Statistika, Edisi ke-3, Jakarta, Penerbit PT Gramedia
Pustaka Utama, 1992, h. 428

Ringkasnya, bila uji parametrik dan nonparametrik dapat digunakan untuk


data yang sama, kita seharusnya menghindari uji nonparametrik yang cepat dan
mudah ini dan mengerjakannya dengan teknik parametrik yang lebih efisien. Akan
tetapi, karena asumsi kenormalan seringkali tidak dapat dijamin berlakunya, dan
juga karena kita tidak selalu mempunyai hasil pengukuran yang kuantitatif
sifatnya, maka beruntunglah bahwa statistikawan telah menyediakan sejumlah
prosedur nonparametrik yang bermanfaat.
2.7.3. Uji Keseragaman Data20
Uji keseragaman data digunakan untuk pengendalian proses bagian data
yang ditolak atau tidak seragam karena tidak memenuhi spesifikasi. Apabila
dalam pengukuran terdapat satu jenis atau lebih data tidak seragam maka data
tersebut akan langsung ditolak dan dilakukan revisi dengan car5a membuang data
yang berada diluar batas control tersebut dan melakukan perhitungan kembali.
Untuk menguji keseragaman data digunakan peta control dengan
persamaan berikut:
BKA = X + k
BKA = X k
Jika Xmin > BKB dan Xmax < BKA maka data seragam
Jika Xmin < BKB dan Xmax > BKA maka data tidak seragam
2.7.4. Uji Kecukupan Data
Untuk derajat kepercayaan 95% dan tingkat ketelitian 5% maka kecukupan
data dapat ditentukan dengan persamaan :
XI
2

2
2
N = N Xi
40

Dimana :
20 Edi Kurniyawan, Op.cit,. diakses pada tanggal 1 Mei 2015 pukul 21.40

Jika N > N : Jumlah pengamatan belum mencukupi


JIka N < N : Jumlah pengamatan sudah mencukupi
2.7.5. Perhitungan Rata-rata (Mean)
Perhitungan nilai rata-rata biasanya disingkat dengan rata-rata adalah
jumlah semua dari semua data dibagi dengan banyaknya data. Rata-rata untuk
sampel biasanya dinyatakan dengan symbol X dan untuk populasi dinyatakn
dengan simbol .
Perhitungan nilai rata-rata untuk data yang tidak dikelompokkan yaitu
dengan menjumlahkan semua data yang dibagi dengan banyaknya data dan dapat
dinyatakan dengan rumus :
n

X=

Xi
i =1

Dimana :
= Tanda jumlah
n = Banyaknya tiap-tiap data
Xi = Besarnya tiap-tiap data
Untuk mencari nilai rata-rata pada dat yang dikelompokkan biasanya
disusun dalam distribusi frekuensi. Nilai rata-ratanya dapat dirumuskan
dengan persamaan berikut :
n

Xi f u
X=

i=1

fi
i=1

Dimana :
K = Banyaknya kelas

2.7.6. Standar Deviasi


Standar deviasi adalah standar penyimpangan data dari nilai rata-ratanya.
Pada standar deviasi ini di dalam menghilangkan pengaruh positif dan negatif
selisih data dengan rata-rata tidak dengan harga mutlak, tetapi dengan di
kuadratkan kemudian jumlah dari kuadratnya di akarkan. Standar deviasi untuk

populasi biasanya diberi simbol , sedangkan untuk sampel diberi simbol s.


Perumusan nya adalah sebagai berikut :
Untuk populasi

Xi
n

( XiU )2
i=1

atau =

Untuk sampel

i=1
k

1
n
Xi 2
n
i1

Xi
n

2
S=

i=1

(XiX )2
i=1

n1

atau s =

2
Xi
k

i=1

2.7.7. Nilai Maksimum, Nilai Minimum, dan Range


Nilai maksimum adalah nilai terbesar dari sekumpulan data yang
diperoleh. Sebaliknya nilai minimum adalah nilai terkecil dari sekumpulan data
yang diperoleh.
2.7.7.1 Range21
Merupakan ukuran yang paling sederhana dari ukuran penyebaran. Jarak
merupakan perbedaan antara nilai terbesar dan terkecil dalam suatu kelompok
data baik data populasi atau sampel. (Purwanto S.K., 2012)
Rumus:
R = xt xr
Di mana:
21 Agus Sukoco, Buku ajar ; Statistik Deskriptif, diakses dari https://www.google.co.id/webhp?
sourceid=chrome-instant&ion=1&espv=2&ie=UTF-8#q=,pdf, pada tanggal 2 Mei 2015 pukul
20.26

R = Rentang
xt = Data terbesar dari kelompok
xr = Data terkecil dari kelompok
Interpretasi nilai R adalah:
1. R = 0, menunjukkan bahwa data terbesar sama dengan data terkecil,
akibatnya semua data memiliki harga yang sama.
2. R kecil, memberikan informasi bahwa data akan mengumpul di sekitar pusat
data.
3. R besar, menyatakan bahwa paling sedikit ada satu data yang harganya
berbeda jauh dengan data lainnya.
2.7.8. Median dan Modus
2.7.8.1.
Median
Median merupakan salah satu ukuran pemusatan. Median merupakan
suatu nilai yang berada di tengah-tengah data, setelah data tersebut diurutkan.
Menghitung median:
1. Jika jumlah data ganjil, maka median adalah nilai tengah dari urutan data
2. Jika jumlah data genap maka untuk menentukan mediannya diambil 2 data
tengah dijumlah, kemudian dibagi 2
Berdasarkan data di atas, maka nilai tengah dari kelompok data tersebut
adalah urutan ke 5 dan 6 dibagi 2 yaitu 20. Jadi mediannya = 20. Median sebesar
20 menit artinya terdapat 5 hari dengan waktu layanan kurang atau sama dengan
20 menit, dan terdapat 5 hari dengan waktu layanan lebih besar atau sama dengan
20 menit.
2.7.8.2.

Modus
Modus merupakan salah satu ukuran pemusatan di sampling rata-rata

hitung dan median. Modus adalah suatu nilai pengamatan yang paling sering
muncul.
Bedasarkan data tersebut, maka modus atau nilai yang paling sering
muncul adalah 20 menit. Karena munculnya sebanyak 3 kali atau frekuensinya 3.

Jadi dapat dikatakan bahwa waktu layanan ke pelanggan di Perusahaan X


terbanyak adalah 20 menit.
2.8.

Uji Normal dengan Kolmogorov-Smirnov Test22


Uji ini digunakan untuk menguji apakah dua sampel berasal dari populasi-

populasi yang berdistribusi sama. Uji ini sangat sensitif terhadap berbagai
perbedaan dalam kedua distribusi, seperti median, kemiringan, dispersi dan lainlain.
Dasar pengujian ini adalah membandingkan dua distribusi kumulatif
observasi dan memfokuskan pada selisih terbesar antara kedua distribusi tersebut.
Adapun penentuan hipotesis pada uji Kolmogorov-Smirnov yaitu:
1. Ho : dua sampel independen berasal dari populasi yang berdistribusi sama.
2. H1 : dua sampel independen berasal dari populasi yang berdistribusi tidak
Sama.

2.8.1. Perhitungan dengan Cara Manual23


Prinsip dari uji Kolmogorov-Smirnov ialah menghitung selisih absolut
antara frekuensi kumulatif sampel [Fa(x)] dan fungsi distribusi frekuensi
kumulatif teoritis [Fe(x)] pada masing-masing interval kelas. Hipotesa yang diuji
dinyatakan sebagai berikut (dua sisi).
22 Statistika Non Parametrik : Uji Beda,diakses dari (http://elearning.gunadarma.ac.id/
docmodul/ diklat_kursus_spss/h.Bab_VI_Statistika_Non_parametrik_Uji_Beda.pdf,
pada tanggal 2 Mei 2015 pukul 20.04
23 Edi Kurniyawan, Op. Cit,. Diakses pada tanggal 2 Mei 2015 pukul 20.15

Ho : F(x)=Fe(x) untuk semua x dari - sampai +


Hi : F(x) Fe(x) untuk paling sedikit sebuah x
Dengan F(x) ialah fungsi distribusi frekuensi kumulatif populasi
pengamatan. Statistic uji Kolmogorov-Smirnov merupakan selisih absolute
terbesar antara Fa(x) dari Fe(x), yang disebut deviasi maksimum (D). dengan
rumus sebagai berikut:
D

= | Fa(x)- Fe(x)| maks

Nilai D kemudian dibandingkan dengan nilai kritis pada tabel distibusi


pencuplikan, pada ukuran sampel (n) dan tingkat kemaknaan (). H o ditolak bila
nilai teramati maksimum (D) lebih besaratau sama dengan nilai kritis (D)
maksimum. Dengan penolakan Ho berarti nilai distribusi teramati dan distribusi
teoritis berbeda secara bermakna. Perbedaan-perbedaan yang tampak hanya
disebabkan variasi pencuplikan (sampling variation).
Contoh perhitungan uji Kolmogorov-Smirnov secara manual yaitu sebagai
berikut:
1.

Wilayah penerimaan untuk pengambilan keputusan


Ho : Data tersebut berdistribusi normal
Hi : Data tersebut tidak berdistribusi normal

2.

Contoh data yang diberikan dapat dilihat pada Tabel 2.3.


Tabel 2.3. Data Pengamatan yang Diurutkan
No.
1
2
3
4
5
Dari

3.

Data
No.
Data
No.
Data
73,9
6
76
11
76,9
74,2
7
76
12
77,3
74,6
8
76
13
77,4
74,7
9
76,5
14
77,7
75,4
10
76,6
nomor yang diberikan untuk masing-masing data, dihitung

nilai Fa(X) dari masing-masing data tersebut.


Contohnya perhitungan untuk data pertama, dengan diketahui jumlah data
seluruhnya 14, maka perhitungan Fa(X)-nya seperti berikut.
Fa(X)

nomor data
total data

Fa( X )

1
14

= 0,0714

4.

Hitung nilai Z.
Sebelum menghitung nilai Z maka dicari nilai rata-rata dan standar deviasi.
Adapun perhitungannya sebagai berikut.
X

X
i 1

(X
i 1

X)

N 1

Diketahui:

73,9 74,2 .... 77,7


75,943
14

(73,9 75,943) 2 (74,2 75,943) 2 .... (77,7 75,943) 2


1,227
13

= 75,943, X = 73,9, dan = 1,227 maka:

X X 73,9 75,943

1,227
-1,66

5.

Dari nilai Z yang didapat, cari nilai Fe(X) dengan menggunakan


rumus Microsoft Excel seperti berikut.
=NORMSDIST(-1,66)
Dari nilai Z = -1,66, maka hasil nilai yang kita mendapati
Z-1,66= 0,048. Nilai tersebut dinotasikan sebagai Fe(X).

6.

Dihitung selisih nilai Fa(X) dengan Fe(X) dengan tanda mutlak.


Fa(X) = 0,0714, Fe(X) = 0,0450 maka:
D = |Fa(X) Fe(X)|
= |0,0714 0,048|
= 0,0234

7.

Diambil nilai D yang terbesar.


Hasil perhitungan nilai Fa (X), Z, Fe(x), dan D dapat dilihat pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4.Uji Kolmogorov-Smirnov
No.
1

Data (x)
73,9

Fa (x)
0,0714

Z
-1,66

Fe (x)
0,048

D
0,0234

2
3
4
5
6
7
8
9
10
No.
11
12
13
14

74,2
0,1429
-1,42
0,0778
0,0657
74,6
0,2143
-1,09
0,1369
0,0774
74,7
0,2857
-1,01
0,1555
0,1302
75,4
0,3571
-0,44
0,3291
0,028
76
0,5714
0,045
0,5786
0,0528
76
0,5714
0,045
0,5786
0,0528
76
0,5714
0,045
0,5786
0,0528
76,5
0,6429
0,45
0,675
0,0321
76,6
0,7143
0,54
0,7038
0,0105
Tabel 2.4.Uji Kolmogorov-Smirnov (Lanjutan)
Data (x)
Fa (x)
Z
Fe (x)
D
76,9
0,7857
0,78
0,7823
0,0034
77,3
0,8571
1,11
0,8656
0,0085
77,4
0,9286
1,19
0,8825
0,0461
77,7
1
1,43
0,9239
0,0761
D max = 0,1302

8.

Bandingkan antara nilai D hitung dengan D (0,05) yang


diambil dari tabel Kolmogorov-Smirnov.

D (0,05)untuk n = 14 adalah 0,314

DHit> D (0,05) (0,1302<0,314)


9.

Kesimpulannya, Ho diterima, artinya data berdistribusi normal.

2.8.2. Perhitungan dengan Menggunakan Software SPSS


Kenormalan data dapat juga diuji dengan menggunakan software SPSS.
Adapun langkah- langkah pengujian kenormalan dengan software SPSS adalah
sebagai berikut:
1. Buka software SPSS.
2. Beri nama variabel A dan B pada jendela variabelview.

Gambar 2.8. Variabel ViewSoftware SPSS


3. Masukkan data A dan B

Gambar 2.9. Data ViewSoftware SPSS


4. Klik pada menubar menu Analyze, kemudian Nonparametric Tests, kemudian
pilih 1-Sample K-S.

Gambar 2.10. Analisis untuk Nonparametric Tests


5. Masukkan variabel dependen yang akan dimasukkan yaitu Y.

Gambar 2.11. Pemilihan Variabel Dependen


6. Lihat hasil pada jendela Output.

2.9.
2.9.2.

Jurnal Internet
PENGEMBANGAN REGULATOR TABUNG GAS LPG3 KG
BERDASARKAN PRINSIP ERGONOMI

2.9.2.1. Pendahuluan
Program konversi energy, menurut Yayasan Lembaga Konsumen
Indonesia, pemerintah telah membagikan lebih kurang 44 juta tabung gas ukuran
3 kilogram. Survei di lapangan menemukan banyak selang dan sistem regulator
yang cacat. Adapun dari sisi tabung gas tidak ditemukan masalah," ungkap Tulus
Abadi, Pengurus Harian YLKI. Oleh karena itu, menurut Tulus, pemerintah harus
mengevaluasi dan memeriksa kondisi sistem kompor dan tabung gas itu. Bila ada
bagian cacat yang ditemui, maka produk tersebut harus segera ditarik dan diganti
dengan yang sesuai standar. Karena banyaknya selang dan sistem regulator yang
cacat mengakibatkan kebocoran gas elpiji dan menimbulkan korban, baik korban
nyawa maupun materiil (KOMPAS: Kamis, 27 Mei 2010). Konversi minyak tanah
ke LPG dimulai pada tahun 2007. Sebanyak 3.975.789 paket tabung dan regulator
bervolume 163.182 metrikton(MT) dibagikan gratis dalam wilayah konversi
Jabodetabek, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, D.I.Jogjakarta,
dan Bali. Pada tahun 2008, bertambah lagi 15.037.539 paket tabung dan regulator
dalam volume 592.242 MT LPG. Booming-nya paket tabung dan regulator terjadi
di tahun 2009 sebanyak 23.044.211 paket. Berapa jumlah kecelakaan yang
terjadi? 25 kasus untuk tabung LPG 12 kilogram dan 15 kasus untuk tabung LPG
3 kg (http://www.dapunta.com/bom-tabung-dari-dapur-miskin.html).Pada sistem
kompor yang salah satunya adalah regulator, terdapat beberapa komponen
penunjang untuk keamanan. Yang diantaranya adalah pengait penahan regulator
dan penekan pembuka katup.Pada kenyataannya, pengait regulator hanya
menahan satu sisi dan pada sisi lain akan terdapat rongga yang menimbulkan
kebocoran (tidak presisi). Untuk mengetahuipermasalahan yang ada pada sistem
kompor dalampenggunaan tabung gas LPG 3 kg, maka peneliti melakukan
penyebaran kuesioner. Hasil kuesioner menyatakan bahwa 61,36% pengguna
tabung gas menjumpai kecelakaan ledakan, 70,46% responden merasa jika
regulator adalah sebagai penyebab terjadinya kecelakaan, 72,72% responden

mengalami permasalahan pada pemasangan regulator, 68,18% responden merasa


sulit dalam melakukan pemasangan regulator, 72,72% responden merasa bahaya
pada regulator gas yang ada saat ini (Sumber: Pengolahan data).Dari data
kuesioner terlihat banyak pengguna LPG 3 kg merasabelum nyaman dalam
penggunaan perlengkapan sistem kompor. Oleh sebab itu, diperlukan suatu
produk pengembangan baru dengan komponen yang dapat menunjang
kenyamanan, yaitu produk yang bisa digunakan di Gresik dengan menggunakan
prinsip ergonomi.
2.9.2.2. Metode
Langkah-langkah yang digunakansebagai pedoman untuk membahas
perancangan ini yaitu sebagai berikut:
1. Survei Objek Penelitian
Survei dilakukan untuk melihat kondisi lapangan apakah perlu dilakukan
perancangan regulator tabung gas LPG dan apakah regulator tabung gas LPG
akan dibutuhkan di pasaran khususnya di Gresik.
2. Identifikasi Perancangan
Identifikasi perancangan dilakukan dengan tujuan mencari penyebab timbulnya
suatu rancangan dan solusi pemecahan rancangan tersebut dengan tepat.
3. Studi Literatur
Studi literatur digunakan untuk mempelajari teori dan ilmu pengetahuan yang
berhubungan dengan rancangan yang ada, sehingga dapat mencari solusi
pemecahannya.
4. Pengumpulan Data
Mengumpulkan data-data yang dibutuhkan dalam perancangan. Data
antrhopometri dan penyebaran kuesioner didapatkan di daerah Gresik.
5. Pengolahan dan Analisa
Data Pengolahan dan analisa data meliputi:
-Pengukuran anthropometri Penduduk Gresik.
-Pembuatan dan penyebaran kuesioner.
Analisa kuesioner menggunakan metode AHP, skala likert.
-Desain yangditerapkan berdasarkan hasil kuesioner.
-Penerapan hasil rancangan desain regulator menggunakan program
3DSSolidWorks.
6. Pembahasan
Bagian ini diuraikan temuan-temuan dari hasil perhitungan dan analisis data
7. Kesimpulan

Kesimpulan merupakan penjelasan singkat tentang semua penyelesaian atas


perancangan tersebut. Analisa ergonomi digunakan untuk mengetahui apakah
produk yang akan didesain sudah memenuhi prinsip-prinsip ergonomi, mulai
dari kemudahan, kenyamanan dan keamanan.
1. Kemudahan
Dengan adanya pengembangan regulator ini, penggunatidak akan kesulitan
dalam pemasangan karena pengait yang digunakan menggunakan sambungan
ulir, hanya dengan memutar pengait pada katup tabung.
2. Kenyamanan
Pada pengembangan regulator ini, pegangan pengait menggunakan bahan yang
nyaman yaitu karet dan ukuran pada pengait menggunakan anthropometri
(sesuai prisip ergonomi).
8. Keamanan
Untuk menjaga keamanan pada tabung, regulator dilengkapi dengan silinder
kerja tunggal dengan menggunakan sistem one way
.
2.9.2.3 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan maka disimpulkan bahwa rancangan
regulator yang ergonomis sesuai dengan antropometri adalah regulator dengan
ukuran pegangan pengait 3,93 cm untuk diameter genggam dan ukuran 3,57 cm
untuk tinggi pegangan pengait, sedangkan ulir dibuat untuk memudahkan
pemsangan serta keamanan di mana regulator tidak mudah lepas