Anda di halaman 1dari 6

12

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, diperoleh data percobaan yang
ditunjukkan dalam Tabel 4.1, Tabel 4.2 dan Tabel 4.3.
Tabel 4.1 Data Hasil Percobaan I
Pelat GHo

GH1

GH

GP0

GP1

GP

(g)

(g)

(g)

(g/A det) (g)

(g)

(g)

(g/A det)

873,5

885

11,5

0,0041

12,5

5,5

0,0019

II

868,4

873,5

5,1

0,0021

18,1

12,5

5,6

0,0023

III

852

868,4

16,4

0,0038

18,2

7,6

10,6

0,0024

Tabel 4.2 Data Hasil Percobaan II


Pela
t

I
(Ampere
)

(Volt)

(cm)

(detik)

(cm/det)

(cm)

Laju
lelehan
(g/det )

85

220

9,76

33,04

0,2954

0,61

0,1665

II

75

220

8,76

31,85

0,2750

0,55

0,1758

III

80

220

9,5

54,01

0,1759

0,76

0,1963

Tabel 4.3 Data Hasil Percobaan III


I

Heat input

Tcooling

tcooling

(Ampere)

(Volt)

(cm/det)

Q(J/cm)

(oC)

(oC)

85

220

0,2954

63.303,9

145

131

II

75

220

0,2750

60.000

125

1118

Pelat

13

III

80

220

0,1759

100.056,85

112

103

4.2 Pembahasan
Hubungan antara kuat arus terhadap koefisien deposit metal las ditunjukkan
pada Gambar 4.1. Berdasarkan teori, hubungan antara kuat arus terhadap koefisien
deposit metal las adalah berbanding terbalik. Semakin tinggi kuat arus yang
digunakan, maka semakin rendah koefisien metal las.

Fenomena ini sesuai

dengan persamaan (1):


H =

GH
.................................................................(1)
I(t)

Semakin tinggi nilai koefisien deposit metal las, maka semakin kecil kuat arus.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui persamaan (2):
I=

Hv
.................................................................(2)
fi E

Berdasarkan Persaman (2), kuat arus yang digunakan ketika pengelasan


berbanding lurus dengan kecepatan pengelasan. Semakin tinggi kuat arus, maka
kecepatan pengelasan akan semakin tinggi pula. Hal ini karena kuat arus
berbanding lurus terhadap kecepatan pengelasan. Jika kuat arus tinggi, maka
kecepatan pengelasan akan tinggi. Jika kecepatan pengelasan semakin tinggi,
maka deposit metal

las akan semakin sedikit. Namun, berdasarkan hasil

percobaan, hubungan antara kuat arus terhadap koefisien deposit metal las adalah
berbanding lurus. Sehingga semakin tinggi kuat arus, maka semakin besar nilai
koefisien deposit metal las. Koefisien deposit metal las diperoleh ketika kuat arus
tertinggi, yaitu 85 A. Jika berdasarkan teori, koefisien deposit metal las tertinggi
seharusnya dicapai ketika kuat arus adalah 75 A. Hal ini terjadi karena pengelasan
dilakukan tidak secara konstan. Sehingga kecepatan pengelasan tiap kuat arus
tidak relevan dan massa deposit metal las yang terdeposit pada pelat juga tidak
relevan untuk tiap kuat arus.

14

0
0
0
0
0
H (g/A.det) 0
0
0
0
0
70

80

90

Kuat Arus (A)

Gambar 4.1 Grafik Hubungan Kuat Arus terhadap Koefisien Deposit Metal Las
Hubungan antara kuat arus terhadap heat input ditunjukkan pada Gambar
4.2. Berdasarkan teori, hubungan antara kuat arus terhadap heat input adalah
berbanding lurus. Hal ini dapat dijelaskan oleh Persamaan (3):
H=

fi E I
.................................................................(3)
v

15

Semakin tinggi kuat arus, maka semakin besar heat input yang diterima benda
kerja. Kuat arus sangat berpengaruh terhadap laju pendinginan, laju deposisi
metal las, kedalaman penetrasi dan jumlah base metal yang meleleh. Semakin
tinggi kuat arus, maka semakin dalam daya penetrasi. Jika daya penetrasi semakin
dalam, maka daerah HAZ akan semakin luas, dengan meluasnya daerah HAZ
maka heat input yang diterima oleh benda kerja akan semakin besar. Hal ini dapat
menjelaskan bagaimana kuat arus dapat mempengaruhi besarnya heat input yang
diterima benda kerja. Namun, berdasarkan hasil percobaan, heat input tertinggi
diperoleh ketika kuat arus 80 A. Jika berdasarkan teori, heat input tertinggi
seharusnya dicapai ketika kuat arus adalah 85 A. Data yang diperoleh relatif
fluktuatif. Hal ini disebabkan karena pengelasan yang dilakukan tidak konstan,
sehingga kecepatan pengelasan tidak relevan untuk tiap kuat arus. Dalam
percobaan ini, faktor utama yang mempengaruhi besarnya heat input adalah
kecapatan pengelasan, karena voltase dan fi (efisiensi transfer panas ) konstan.
Jika kecepatan pengelasan dilakukan tidak secara konstan, maka heat input yang
diterima benda kerja pun tidah relevan untuk tiap kuat arus. Efek yang terjadi
pada logam jika heat input yang diterima benda kerja, besar, maka kemungkinan
terjadinya distorsi akan semakin besar pula. Mekanismenya dalah ketika kuat arus
semakin tinggi, maka semakin dalam daya penetrasi. Jika daya penetrasi semakin
dalam, maka daerah HAZ akan semakin luas, dengan meluasnya daerah HAZ
maka heat input yang diterima oleh benda kerja akan semakin besar. Jika heat
input yang diterima benda kerja, besar, maka laju pendinginan akan menurun,
sehingga kemungkinan terjadinya distrosi akan semakin besar.

16

120000
100000
80000
Heat Input (J/cm)

60000
40000
20000
0
74

76

78

80

82

84

86

Kuat Arus (A)


Gamb
ar 4.2 Grafik Hubungan antara Kuat Arus terhadap Heat Input
Hubungan antara kuat arus terhadap kecepatan pengelasan ditunjukkan
pada Gambar 4.3. Berdasarkan teori, kuat arus berbanding lurus dengan kecepatan
pengelasan. Semakin tinggi kuat arus,

maka semakin tinggi

kecepatan

pengelasan. Hal ini dapat dijelaskan oleh Persamaan (4):


I=

Hv
.................................................................(4)
fi E

Berdasarkan hasi l percobaan, kecepatan pengelasan yang tertinggi diperoleh


ketika kuat arus adalah 85 A. Data ini sesuai dengan teori, namun pada data kuat
arus 80 A diperoleh kecepatan pengelasan yang lebih rendah dibandingkan
kecepatan pengelasan pada kuat arus 75 A. Data yang fluktuatif ini disebabkan
karena ketika pengelasan, kecepatan pengelasan yang dilakukan untuk masingmasing sampel berbeda (tidak konstan), sehingga diperoleh data kecepatan
pengelasan yang fluktuatif.

17

0.35
0.3
0.25
0.2
Kecepatan pengelasan (cm/det) 0.15
0.1
0.05
0
70

80

90

Kuat Arus (A)

Gambar 4.3 Grafik Hubungan antara Kuat Arus terhadap Kecepatan Pengelasan
Pada data hasil percobaan, terjadi ketidaksinambungan antara massa
elektroda yang hilang dengan massa pelat yang bertambah setelah pengelasan.
Massa pelat yang bertambah pada pelat I dan II lebih besar 6 gram dan 5,8 gram
dibandingkan massa elektroda yang hilang setelah pengelasan. Hal ini secara teori
tidak mungkin terjadi, massa elektroda yang hilang setelah pengelasan seharusnya
lebih besar daripada massa pelat yang bertambah setelah pengelasan. Hal ini
karena pada elektroda terdapat flux yang melapisi filler metal pada elektroda,
sedangkan ketika menimbang pelat setelah pengelasan, flux dihilangkan dari
permukaan lasan.