Anda di halaman 1dari 2

TANGGAPAN ATAS BUKU AULIA RAHMAN SISTEM PEMERINTAHAN PRESIDENTIAL

SEBELUM DAN SESUDAH PERUBAHAN UUD 1945.

1. Kata Pengantar
Tugas ini dibuat untuk memahami sejumlah permasalahan di dalam
sosialisasi dalam sistem presidential sebelum dan sesudah perubahan UUD
1945.

2. Analisa Permasalahan
Pada dasarnya, tipe rezim sistem pemerintahan presidential memenuhi 3
dasar utama (basic common core), yaitu :
1. Presiden menjadi kepala negara sekaligus kepala pemerintahan.
2. Presiden dipilih untuk masa jabatan tertentu dan tetap (kecuali dijaman Orde
Lama, Presiden pernah ditetapkan seumur hidup).
3. Presiden tidak bisa dijatuhkan oleh Parlemen.
Namun dalam perkembangannya di Indonesia, tipe rejim pemerintahan
presidential itu berubah-ubah, sebelum maupun sesudah Amandemen.
Sebelum amandemen, UUD 1945 menganut sistem pemerintahan presidential
yang tidak konvensional. Sesudah amandemen UUD 1945, sistem
pemerintahan presidential telah berubah dengan memenuhi kriteria
konvensional karena presiden dan wakil presiden dipilih langsung oleh rakyat.
Sejak awal berlakunya UUD 1945 (tanggal 18 Agustus 1945), negara kita
tidaklah semata-mata menjalankan sistem pemerintahan presidential, karena
tidak sampai 3 bulan, tepatnya dengan Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal
16 Oktober 1945 sistem pemerintahan presidential tersebut berubah menjadi
sistem pemerintahan parlementer, dimana presiden tetap memegang
kekuasaan sebagai kepala negara, sedangkan kepala pemerintahan dipegang
oleh Perdana Menteri yang bertanggung jawab kepada parlemen dalam hal ini
Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

3. Kesimpulan dan Saran


Sistem Presidential yang dianut setelah perubahan UUD 1945 lebih baik
karena mengarah kepada negara demokrasi konstitusional, dibandingkan
sebelum perubahan.
Perlunya sistem alternatif berupa sistem pemerintahan semi presidential
seperti halnya di Perancis, dimana ada Presiden sebagai Kepala Negara
disamping Perdana Menteri sebagai Kepala Pemerintahan.
Perubahan kelima UUD 1945 ini sebaiknya dilakukan oleh MPR periode
2009-2014 agar persoalan ketatanegaraan ini dapat segera dituntaskan. Untuk
keperluan itu perlu dibentuk suatu komisi negara untuk melakukan kajian yang
mendalam dan komprehensif serta merumuskan suatu naskah akademis bagi
MPR dalam melakukan perubahan yang dimaksud.