Anda di halaman 1dari 50

BAB III

TANGGUNG JAWAB RUMAH SAKIT UMUM TERHADAP PASIEN


OPERASI BEDAH CAESAR
A.Hubungan Hukum Antara Rumah Sakit Dan Pasien
1.Pola Hubungan Hukum Antara Dokter Dengan Pasien
Hubungan hukum antara dokter dengan pasien telah terjadi sejak dahulu
(jaman Yunani kuno), dokter sebagai seorang yang memberikan pengobatan
terhadap orang yang membutuhkannya. Hubungan ini merupakan hubungan
yang sangat pribadi karena didasarkan atas kepercayaan dari pasien terhadap
dokter yang disebut dengan transaksi terapeutik33 . Hubungan yang sangat
pribadi itu oleh digambarkan seperti halnya hubungan antara pendeta dengan
jemaah yang sedang mengutarakan perasaannya. Pengakuan pribadi itu sangat
penting bagi eksplorasi diri, membutuhkan kondisi yang terlindung dalam ruang
konsultasi. Hubungan hukum antara dokter dengan pasien ini berawal dari pola
hubungan vertikal paternalistik seperti antara
Achadiat, Chrisdiono. M. Pernik-Pernik Hukum Kedokteran , Melindungi Pasien dan Dokter.
Widya Medika , Jakarta. 1996, Hal . 25
33

bapak dengan anak yang bertolak dari prinsip father knows best yang
melahirkan hubungan yang bersifat paternalistik34
Dalam hubungan ini kedudukan dokter dengan pasien tidak sederajat
yaitu kedudukan dokter lebih tinggi daripada pasien karena dokter dianggap
mengetahui tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan penyakit dan
penyembuhannya. Sedangkan pasien tidak tahu apa-apa tentang hal itu sehingga
pasien menyerahkan nasibnya sepenuhnya di tangan dokter. Hubungan hukum
timbul bila pasien menghubungi dokter karena ia merasa ada sesuatu yang

dirasakannya

membahayakan

kesehatannya.

Keadaan

psikobiologisnya

memberikan peringatan bahwa ia merasa sakit, dan dalam hal ini dokterlah yang
dianggapnya mampu menolongnya, dan memberikan bantuan pertolongan. Jadi,
kedudukan dokter dianggap lebih tinggi oleh pasien, dan peranannya lebih
penting daripada pasien.
Sebaliknya, dokter berdasarkan prinsip father knows best dalam
hubungan paternatistik ini akan mengupayakan untuk bertindak sebagai bapak
yang baik, yang secara cermat, hati-hati untuk menyembuhkan pasien. Dalam
mengupayakan kesembuhan pasien ini, dokter dibekali oleh Lafal Sumpah dan
Kode Etik Kedokteran Indonesia.Pola hubungan vertikal yang melahirkan sifat
paternalistik dokter terhadap pasien ini mengandung baik dampak positif
maupun dampak negatif. Dampak positif pola vertikal yang melahirkan konsep
hubungan paternalistik ini sangat membantu pasien, dalam hal pasien awam
terhadap penyakitnya. Sebaliknya dapat juga timbul
34

IbidHal 30-33

dampak negatif, apabila tindakan dokter yang berupa langkah-langkah dalam


mengupayakan penyembuhan pasien itu merupakan tindakan-tindakan dokter
yang membatasi otonomi pasien, yang dalam sejarah perkembangan budaya dan
hak-hak dasar manusia telah ada sejak lahirnya.Pola hubungan yang vertikal
paternalistik ini bergeser pada pola horizontal kontraktual.Hubungan ini
melahirkan

aspek

hukum

horisontal

kontraktual

yang

bersifat

inspanningsverbintenis35 yang merupakan hubungan hukum antara 2 (dua)


subyek hukum (pasien dan dokter) yang berkedudukan sederajat melahirkan
hak dan kewajiban bagi para pihak yang bersangkutan.Hubungan hukum ini

tidak menjanjikan sesuatu (kesembuhan atau kematian), karena obyek dari


hubungan hukum itu berupa upaya dokter berdasarkan ilmu pengetahuan dan
pengalamannya (menangani penyakit) untuk menyembuhkan pasien.
2. Saat Terjadinya Hubungan Hukum Antara Dokter Dengan Pasien
Hubungan hukum kontraktual yang terjadi antara pasien dan dokter
tidak dimulai dari saat pasien memasuki tempat praktek dokter sebagaimana
yang diduga banyak orang, tetapi justru sejak dokter menyatakan kesediaannya
yang dinyatakan secara lisan (oral statement) atau yang tersirat (implied
statement) dengan menunjukkan sikap atau tindakan yang menyimpulkan
kesediaan; seperti misalnya menerima pendaftaran, memberikan nomor urut,
menyediakan serta mencatat rekam
35

Bertens, K. Dokumen Etika dan Hukum Kedokteran. Universitas Atmajaya , Jakarta 2001, Hal.
10

medisnya dan sebagainya. Dengan kata lain hubungan terapeutik juga


memerlukan kesediaan dokter. Hal ini sesuai dengan asas konsensual dan
berkontrak.
3. Sahnya Transaksi Terapeutik
Mengenai syarat sahnya transaksi terapeutik didasarkan Pasal 1320
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, dinyatakan bahwa untuk syarat sahnya
perjanjian diperlukan 4 (empat) syarat yaitu, sepakat, cakap, suatu hal tertentu,
sebab yang halal.
a. Sepakat
Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya (toestemming van degene die
zich verbinden) Secara yuridis, yang dimaksud adanya kesepakatan adalah

tidak adanya kekhilafan, atau paksaan, atau penipuan (Pasal 1321

KUHPerdata). Saat terjadinya perjanjian bila dikaitkan dengan Pasal 1320


KUHPerdata merupakan saat terjadinya kesepakatan antara dokter dengan
pasien yaitu pada saat pasien menyatakan keluhannya dan ditanggapi oleh
dokter.Di sini antara pasien dengan dokter saling mengikatkan diri pada suatu
perjanjian terapeutik yang obyeknya adalah upaya penyembuhan. Bila
kesembuhan adalah tujuan utama maka akan mempersulit dokter karena tingkat
keparahan penyakit maupun daya tahan tubuh terhadap obat setiap pasien
adalah tidak sama. Obat yang sama tidak pasti dapat hasil yang sama pada
masing-masing penderita.
b. Kecakapan
Untuk membuat perikatan (bekwaamheid om eene verbintenis aan te
gaan) Secara yuridis, yang dimaksud dengan kecakapan untuk membuat

perikatan adalah kemampuan seseorang untuk mengikatkan diri, karena tidak


dilarang oleh undang-undang. Hal ini didasarkan Pasal 1329 dan 1330
KUHPerdata.
Menurut Pasal 1329 KUHPerdata bahwa setiap orang adalah cakap
untuk membuat perikatan, jika oleh undang-undang tidak dinyatakan tidak
cakap. Kemudian, di dalam Pasal 1330 KUHPerdata, disebutkan orang-orang
yang dinyatakan tidak cakap yaitu orang yang belum dewasa, mereka yang
ditaruh di bawah pengampuan, orang perempuan, dalam hal yang ditetapkan
oleh undangundang dan pada umumnya semua orang kepada siapa undangundang telah melarang dibuat perjanjian tertentu.Di dalam transaksi terapeutik,
pihak penerima pelayanan medis, terdiri dari orang dewasa yang cakap untuk

bertindak, orang dewasa yang tidak cakap untuk bertindak, yang memerlukan
persetujuan dari pengampunya, anak yang berada di bawah umur yang
memerlukan persetujuan dari orang tuanya atau walinya.Di Indonesia ada
berbagai peraturan yang menyebutkan batasan usia dewasa diantaranya :
1) Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 330 dikatakan
bahwa belum dewasa ialah mereka yang belum mencapai umur genap
21 tahun dan tidak / belum menikah. Berarti dewasa ialah telah berusia
21 tahun atau telah
menikah walaupun belum berusia 21 tahun, bila perkawinannya pecah
sebelum umur 21 tahun, tidak kembali dan keadaan belum dewasa.
2; Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, pasal 47 ayat (1),
menyatakan bahwa anak yang belum mencapai 18 tahun atau belum pernah
melangsungkan perkawinan ada di bawah kekuasaan orang tuanya selama
mereka tidak dicabut dari kekuasannya. Ayat (2), menyatakan bahwa orang
tua mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan
di luar pengadilan. Kemudian pasal 50 ayat (1), menyatakan bahwa anak
yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah melangsungkan
perkawinan, yang tidak berada di bawah kekuasaan orang tua, berada di
bawah kekuasaan wali. Ayat (2), menyatakan bahwa perwalian ini mengenai
pribadi anak maupun harta bendanya.
3; Dalam Kompilasi Hukum Islam Bab XIV yang disebarluaskan berdasarkan
instruksi presiden nomor 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991 tentang
Pemeliharaan Anak pasal 98 tercantum :

a; Batas usia anak yang mampu berdiri sendiri / dewasa adalah 21


tahun, sepanjang anak tersebut tidak bercacat fisik atau mental atau
belum pernah melangsungkan perkawinan (ayat (1)).
b; Orang tua yang mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan
hukum di dalam dan di luar pengadilan (ayat (2)).
c) Pengadilan agama dapat menunjuk salah seorang kerabat
dekat yang mampu menunaikan kewajiban tersebut apabila
kedua orang tuanya tidak mampu (ayat (3)).
Dari berbagai peraturan tersebut di atas ternyata ada beberapa peraturan
yang menyebutkan usia 21 tahun sebagai suatu batasan usia dewasa. Demikian
juga batasan dewasa yang ditentukan dalam Pasal 8 ayat (2) Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 585/Men.Kes/Per/IX/1989, yang ditindaklanjuti dengan SK
Dirjen Yan.Med 21 April 1999 yang menyatakan bahwa pasien dewasa
sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah telah berumur 21 tahun atau telah
menikah.
c. Suatu Hal Tertentu (een bepaald onderwerp)
Hal tertentu ini yang dapat dihubungkan dengan obyek perjanjian /
transaksi terapeutik ialah upaya penyembuhan.Oleh karenanya obyeknya adalah
upaya penyembuhan, maka hasil yang diperoleh dari pencapaian upaya tersebut
tidak dapat atau tidak boleh dijamin oleh dokter. Lagi pula pelaksanaan upaya
penyembuhan itu tidak hanya bergantung kepada kesungguhan dan keahlian
dokter dalam melaksanakan tugas profesionalnya, tetapi banyak faktor lain yang
ikut berperan, misalnya daya tahan pasien terhadap obat tertentu, tingkat
keparahan penyakit dan juga peran pasien dalam melaksanakan perintah dokter

demi kepentingan pasien itu sendiri.


d. Suatu Sebab yang Sah (geoorloofde oorzaak)
Di dalam Pasal 1337 KUHPerdata disebutkan bahwa suatu sebab adalah
terlarang, apabila dilarang oleh undang-undang atau apabila berlawanan dengan
kesusilaan baik atau ketertiban umum.Dengan demikian, yang dimaksud dengan
sebab yang sah adalah sebab yang tidak dilarang oleh undang-undang,
kesusilaan atau ketertiban umum.
4.Informed Consent
Persetujuan tindakan medis (informed consent) mencakup tentang
informasi dan persetujuan, yaitu persetujuan yang diberikan setelah yang
bersangkutan mendapat informasi terlebih dahulu atau dapat disebut sebagai
persetujuan berdasarkan informasi. Berdasarkan Permenkes 585/1989 dikatakan
bahwa informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau
keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang akan
dilakukan terhadap pasien tersebut.Pada hakekatnya, hubungan antar manusia
tidak dapat terjadi tanpa melalui komunikasi, termasuk juga hubungan antara
dokter dan pasien dalam pelayanan medis.Oleh karena hubungan antara dokter
dan pasien merupakan hubungan interpersonal, maka adanya komunikasi atau
yang lebih dikenal dengan istilah wawancara pengobatan itu sangat penting.
Bahasa kedokteran banyak menggunakan istilah asing yang tidak dapat
dimengerti oleh orang yang awam dalam bidang kedokteran. Pemberian
informasi dengan menggunakan bahasa kedokteran, tidak akan membawa hasil
apa-apa, malah akan membingungkan pasien. Oleh karena itu seyogyanya

informasi yang diberikan oleh dokter terhadap pasiennya disampaikan dalam


bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh pasien. Setelah informasi
diberikan, maka diharapkan adanya persetujuan dari pasien, dalam arti ijin dari
pasien untuk dilaksanakan tindakan medis.Pasien mempunyai hak penuh untuk
menerima atau menolak pengobatan untuk dirinya, ini merupakan hak asasi
pasien yang meliputi hak untuk menentukan nasib sendiri dan hak atas
informasi.

36

Oleh karena itu sebelum pasien memberikan persetujuannya

diperlukan beberapa masukan sebagai berikut :


a; Penjelasan lengkap mengenai prosedur yang akan digunakan dalam
tindakan medis tertentu (yang masih berupa upaya, percobaan) yang
diusulkan oleh dokter serta tujuan yang ingin dicapai (hasil dari
upaya, percobaan),
b; Deskripsi mengenai efek-efek sampingan serta akibat-akibat yang
tak dinginkan yang mungkin timbul,
c; Diskripsi mengenai keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh
pasien,
d; Penjelasan mengenai perkiraan lamanya prosedur berlangsung,
36

Hasil wawancara dengan dr. Imelda Liana Ritonga, SKp, MPd, MN, beliau merupakan
wakil Direktur Administrasi dan Keuangan pada Rumah Sakit Imelda Pekerja Indonesia
Medan

e; Penjelasan mengenai hak pasien untuk menarik kembali persetujuan


tanpa adanya prasangka (jelek) mengenai hubungannya dengan
dokter dan lembaganya.
f; Prognosis mengenai kondisi medis pasien bila iamenolak tindakan
medis tertentu (percobaan) tersebut.

Mengenai bentuk informed consent dapat dilakukan secara tegas atau


diamdiam. Secara tegas dapat disampaikan dengan kata-kata langsung baik
secara lisan ataupun tertulis dan informed consent yang dilakukan secara diamdiam yaitu tersirat dari anggukan kepala ataupun perbuatan yang mensiratkan
tanda setuju.Informed consent dilakukan secara lisan apabila tindakan medis itu
tidak berisiko, misalnya pada pemberian terapi obat dan pemeriksaan penunjang
medis. Sedangkan untuk tindakan medis yang mengandung risiko misalnya
pembedahan,

maka

informed

consent

dilakukan

secara

tertulis

dan

ditandatangani oleh pasien.


Yang paling aman bagi dokter kalau persetujuan dinyatakan secara
tertulis, karena dokumen tersebut dapat dijadikan bukti jika suatu saat muncul
sengketa. Cara yang terakhir ini memang tidak praktis sehingga kebanyakan
dokter hanya menggunakan cara ini jika tindakan medis yang akan
dilakukannya mengandung risiko tinggi atau menimbulkan akibat besar yang
tidak menyenangkan.37
Koeswadji HH.Beberapa Permasalahan Hukum dan Medik, Citra Aditya Bakti,Bandung ,
1991, Hal. 99-171
37

Di negara-negara maju, berbagai bentuk formulir persetujuan tertulis


sengaja disediakan di setiap rumah sakit.Rupanya pengalaman menuntut dan
digugat menjadikan mereka lebih berhati-hati.Pada prinsipnya formulir yang
disediakan tersebut memuat pengakuan bahwa yang bersangkutan telah diberi
informasi serta telah memahami sepenuhnya dan selanjutnya menyetujui
tindakan medis yang disarankan dokter.
Jadi, pada hakekatnya informed consent adalah untuk melindungi pasien

dari segala kemungkinan tindakan medis yang tidak disetujui atau tidak
diijinkan oleh pasien tersebut, sekaligus melindungi dokter (secara hukum)
terhadap kemungkinan akibat yang tak terduga dan bersifat negatif.Yang tidak
boleh dilupakan adalah dalam memberikan informasi tidak boleh bersifat
memperdaya, menekan atau menciptakan ketakutan sebab ketiga hal itu akan
membuat persetujuan yang diberikan menjadi cacat hukum. Sudah seharusnya
informasi diberikan oleh dokter yang akan melakukan tindakan medis tertentu,
sebab hanya ia sendiri yang tahu persis mengenai kondisi pasien dan segala
seluk beluk dari tindakan medis yang akan dilakukan. Memang dapat
didelegasikan kepada dokter lain atau perawat, namun jika terjadi kesalahan
dalam memberikan informasi maka yang harus bertanggung jawab atas
kesalahan itu adalah dokter yang melakukan tindakan medis. Lagi pula dalam
proses mendapatkan persetujuan pasien, tidak menutup kemungkinan terjadi
diskusi sehingga memerlukan pemahaman yang memadai dari pihak yang
memberikan informasi.
Ada sebagian dokter menganggap bahwa informed consent merupakan
sarana yang dapat membebaskan mereka dari tanggung jawab hukum jika
terjadi malpraktek. Anggapan seperti ini keliru besar dan menyesatkan
mengingat malpraktek adalah masalah lain yang erat kaitannya dengan
pelaksanaan pelayanan medis yang tidak sesuai dengan standar. Meskipun
sudah mengantongi informed consent tetapi jika pelaksanaannya tidak sesuai
standar maka dokter tetap harus bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi.
Dari sudut hukum pidana informed consent harus dipenuhi hal ini

berkait dengan adanya Pasal 351 KUHP, tentang penganiayaan. Suatu


pembedahan yang dilakukan tanpa ijin pasien, dapat disebut sebagai
penganiayaan dan dengan demikian merupakan pelanggaran terhadap Pasal 351
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (1, 2, 9). Leenen memberikan contoh 38
( apabila A menusuk / menyayat pisau ke B sehingga timbul luka, maka
tindakan tersebut dapat disebut sebagai penganiayaan. Apabila A adalah seorang
dokter, tindakan tersebut tetap merupakan penganiayaan, kecuali :
1) Orang yang dilukai (pasien) telah menyetujui.
Leenen, H.J.J. dan Lamintang, PA F..Pelayanan Kesehatan dan Hukum. Bina Cipta, Bandung.
1991, Hal 24-27
38

2; Tindakan medis tersebut (pembedahan yang pada hakekatnya juga


menyayat, menusuk, memotong tubuh pasien) berdasarkan suatu
indikasi medis.
3; Tindakan medis tersebut dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah
ilmu kedokteran yang diakui dalam dunia kedokteran.
Dari sudut hukum perdata informed consent wajib dipenuhi. Hal ini
terkait bahwa hubungan antara dokter dengan pasien adalah suatu perikatan
(transaksi terapeutik) untuk syahnya perikatan tersebut diperlukan syarat syah
dari perjanjian yaitu Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, di
antaranya adalah adanya kesepakatan antara dokter dengan pasien. Pasien dapat
menyatakan sepakat apabila telah diberikan informasi dari dokter yang
merawatnya terhadap terhadap terapi yang akan diberikan serta efek samping
dan risikonya. Juga terkait dengan unsur ke-2 (dua) mengenai kecakapan dalam
membuat perikatan. Hal ini terkait dengan pemberian informasi dokter terhadap

pasien yang belum dewasa atau yang ditaruh di bawah pengampuan agar
diberikan kepada orang tua, curator atau walinya.
Pada prinsipnya, persyaratan untuk memperoleh informed consent dalam
tindakan medis tertentu tidak dibedakan dengan Informed consent yang
diperlukan dalam suatu eksperimen. Hanya saja, dalam eksperimen suatu
penelitian baik yang bersifat terapeutik maupun non-terapeutik yang
menggunakan pasien sebagai naracoba, maka informed consent harus lebih
dipertajam, sebab menyangkut perlindungan terhadap harkat dan martabat
manusia, pencegahan terjadinya paksaan dan kesesatan serta penyalahgunaan
keadaan.
B. Hak Dan Kewajiban Rumah Sakit Dan Pasien
Dalam kehidupan sehari-hari pelayanan kesehatan dapat terbagi 2 kategori yaitu:
1; Pelayanan perseorangan,yaitu pelayanan yang di lakukan oleh
instansi swastamisalnya klinik swasta,rmah sakit swasta dokter
praktek swasta.
2; Pelayanan masyarakat,yaitu upaya yang dilakukan oleh pihak
pemerintah melalui departemen kesehatan.39

a.Hak Pasien Dalam Profesi Medik


Adapun yang menjadi hak pasien adalah:
1; Pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan
yang berlaku di rumah sakit.
2; Pasien berhak atas pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur.
3; Pasien berhak memperoleh pelayanan medis yang bermutu sesuai dengan
standar profesi kedokteran / kedokteran gigi dan tanpa diskriminasi .
4; Pasien berhak memperoleh asuhan keperawatan dengan standar profesi

keperawatan
5; Pasien berhak memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan
keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit.
39

Crisdiono M.Ahadiat Op.Cit., Hal . 2

6; Pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat
klinis dan pendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar.
7; Pasien berhak meminta konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di
rumah sakit tersebut (second opinion) terhadap penyakit yang dideritanya,
sepengetahuan dokter yang merawat.
8; Pasien berhak atas "privacy" dan kerahasiaan penyakit yang diderita
termasuk data-data medisnya.
9; Pasien berhak mendapat informasi yang meliputi :penyakit yang diderita
tindakan medik apa yang hendak dilakukan kemungkinan penyakit sebagai
akibat tindakan tsb sebut dan tindakan untuk mengatasinyaalternatif terapi
lainnya prognosanva, perkiraan biaya pengobatan.
10; Pasien berhak menyetujui/memberikan izin atas tindakan yang akan
dilakukan oleh dokter sehubungan dengan penyakit yang dideritanya.
11; Pasien berhak menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya
dan mengakhiri pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sendiri
sesudah memperoleh informasi yang jelas tentang penyakitnya.
12; Pasien berhak didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.
13; Pasien berhak menjalankan ibadah sesuai agama/kepercayaan yang
dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya.
14; Pasien berhak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam

perawatan di rumah sakit.

15; Pasien berhak mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan


perlakuan rumah sakit terhadap dirinya.
16; Pasien berhak menerima atau menolak bimbingan moril maupun
spiritual.40
b.Kewajiban Pasien
Sebagai imbalan atas hak-hak yang dimiliki seseorang maka kepadanya
juga di bebankan kewajiban-kewajiban yang harus di penuhi,karena pada
hakekatnya kesseimbangan hak dan kewajiban adalah tolak ukur rasa keadilan
terhadap diri seseorang, berikut adalah kewajiban pasien:
1; Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk mentaati segala peraturan
dan tata tertib rumah sakit
2; Pasien berkewajiban untuk mematuhi segala instruksi dokter dan perawat
3; Pasien berkewajiban memberikan informasi dengan jujur dan
selengkapnya tentang penyakit yang diderita kepada dokter yang
merawat.
4; Pasien dan atau penanggungnya berkewajiban untuk melunasi semua
imbalan atas jasa pelayanan rumah sakit/dokterPasien dan atau
penanggungnya
40

Hasil wawancara dengan dr. Imelda Liana Ritonga, SKp, MPd, MN, beliau merupakan
wakil Direktur Administrasi dan Keuangan pada Rumah Sakit Imelda Pekerja Indonesia
Medan

berkewajiban memenuhi hal-hal yang telah disepakati/perjanjian yang


telah dibuatnya.41
Setelah hal di atas di sanggupi oleh pasien dengan di tandai dengan
penandatanganan surat persetujuan umum yang ada pada rumah sakit Imelda
barulah tindakan medis dapat dilakukan,khusus untuk operasi Caesar sebelum

pelaksanaan harus juga menandatangani informed consent yang di berikan oleh


dokter ataupun pihak rumah sakit setelah terlebih dahulu pasien mendapatkan
penjelasan tentang tindakan yang akan di lakukan dengan jelas.
c. Kewajiban Dokter
Menurut Amelyn42 ,kewajiban dokter dalam pro fesi medik dapat
dikelompokkan menjadi 3 kategori,yakni
1;

Kewajiban yang berkaitan dengan fungsi sosial pemeliharaan


kesehatan,kategori ini menekankan kepentingan masyarakat
luas,bukan hanya kepentingan pasien saja.

2;

Kewajiban yang berkaitan dengan hak pasien

3;

Kewajiban yangberkaitan dengan standar profesi medik

41

Hasil wawancara dengan dr. Imelda Liana Ritonga, SKp, MPd, MN, beliau merupakan
wakil Direktur Administrasi dan Keuangan pada Rumah Sakit Imelda Pekerja Indonesia
Medan 4 2 Amelyn F. Kapita Selekta Hukum Kedokteran. Grafikatama jaya,Jakarta ,1991,
Hal. 43

Berdasarkan hasil wawancara dengan dokter pada rumah sakit


Imelda,dalam menjalankan profesinya dokter mempunyai kewajiban, antara lain
:
a; Dokter wajib mematuhi peraturan rumah sakit sesuai dengan
hubungan hukum antara dokter tersebut dengan rumah sakit.
b; Dokter wajib merujuk pasien ke dokter lain/rumah sakit lain
yang mempunyai keahlian/kemampuan yang lebih baik, apabila
ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan.
c; Dokter wajib memberikan kesempatan kepada pasien agar
senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga dan dapat
menjalankan ibadah sesuai keyakinannya.

d; Dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya


tentang seorang penderita, bahkan juga setelah penderita itu
meninggal dunia.
e; Dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas
perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia
dan mampu memberikannya.
f; Dokter wajib memberikan informasi yang adekuat tentang
perlunya tindakan medik yang bersangkutan serta resiko yang
dapat ditimbulkannya.
g; Dokter wajib membuat rekam medis yang baik secara
berkesinambungan berkaitan dengan keadaan pasien.
h; Dokter wajib terus-menerus menambah ilmu pengetahuan dan
mengikuti perkembangan ilmu kedokteran/kedokteran gigi dan
Dokter

wajib

senantiasa

memberikan

wajib

belajar,

pelayanan

yang

meningkatkan

berkualitas,

pengetahuannya,

ketrampilan dan menjaga mutu kompetensinya


i; Dokter wajib memenuhi hal-hal yang telah disepakati/perjanjian
yang telah dibuatnya, dan wajib bekerja sama dengan profesi dan
pihak lain yang terkait secara timbal-balik dalam memberikan
pelayanan kepada pasien
j; Dalam diagnosis dan pengobatan dokter mempunyai tanggung
jawab paling besar. Seorang dokter dan tenaga kesehatan lainnya
wajib melakukan upaya yang terbaik untuk senantiasa memberi

pelayanan yang terbaik, mendahulukan kepentingan pasiennya,


profesional dan akuntabel.
k; Dokter mempunyai kewajiban untuk menjaga kesehatan fisik,
rohani dan spiritual dengan istirahat cukup untuk memulihkan
kondisi fisik, rohani dan spiritual. .4 3
Hasil wawancara dengan dr. Imelda Liana Ritonga, SKp, MPd, MN, beliau merupakan
wakil Direktur Administrasi dan Keuangan pada Rumah Sakit Imelda Pekerja Indonesia
Medan
43

d. Hak-Hak Dokter Dalam Profesi Medik


Padadasarnya hak-hak dokter dalam profesi medic bersumber dari hak
dasar manusia,dalam konteks dan etika kedokteran memang seharusnya tidak di
tonjolkan karena yang harus di tonjolkan adalah kewajiban yang melekat pada
diri dokter tersebut . berikut hak hak dokter hasil wawancara dengan staf
dokter pada rumah sakit Imelda medan
1; Dokter berhak mendapat perlindungan hukum dalam
melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
2; Dokter berhak untuk bekerja menurut standar profesi serta
berdasarkan hak otonomi. (Seorang dokter, walaupun ia berstatus
hukum sebagai karyawan RS, namun pemilik atau direksi rumah
sakit tidak dapat memerintahkan untuk melakukan sesuatu
tindakan

yang

menyimpang

dari

standar

profesi

atau

keyakinannya).
3; Dokter berhak untuk menolak keinginan pasien yang
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, profesi dan
etika.
4; Dokter berhak menghentikan jasa profesionalnya kepada pasien

apabila misalnya hubungan dengan pasien sudah berkembang


begitu buruk sehingga kerjasama yang baik tidak mungkin
diteruskan lagi, kecuali untuk pasien gawat darurat dan wajib
menyerahkan pasien kepada dokter lain.
5; Dokter berhak atas privasi (berhak menuntut apabila nama baiknya
dicemarkan oleh pasien dengan ucapan atau tindakan yang melecehkan
atau memalukan).
6; Dokter berhak untuk mendapat imbalan atas jasa profesi yang diberikannya
berdasarkan perjanjian dan atau ketentuan/peraturan yang berlaku di RS.
7; Dokter berhak mendapat informasi lengkap dari pasien yang dirawatnya
atau dari keluarganya.
8; Dokter berhak atas informasi atau pemberitahuan pertama dalam
menghadapi pasien yang tidak puas terhadap pelayanannya.
9; Dokter berhak untuk diperlakukan adil dan jujur, baik oleh rumah
sakit maupun oleh pasien.
10; Hak rehabilitasi nama baik jika terbukti secara hukum bahwa kerugian
konsumen

tidak

diakibatkan

oleh

barang

dan/atau

jasa

yang

diperdagangkan.
11; Hak untuk memilih barang dan/atau jasa (pasal 4 ayat b) : dalam keadaan
darurat untuk keselamatan pasien, dokter dapat memberikan jasa pelayanan
kesehatan, meskipun tidak dipilih oleh pasien.
12; Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur (pasal 4 ayat c) : dalam
keadaan tertentu untuk kepentingan pasien, dokter dapat menahan sebagian
atau keseluruhan informasi tersebut.

13; Dokter dapat menolak pasien yang tidak dalam keadaan gawat darurat yang
datang diluar jam bicara.
C.Tanggung Jawab Hukum Dokter / Rumah SakitTerhadap Pasien
1.Tanggung Jawab Dokter
a. Tanggung Jawab Etis
Peraturan yang mengatur tanggung jawab etis dari seorang dokter adalah
Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Lafal Sumpah Dokter.Kode etik adalah
pedoman perilaku.Kode Etik Kedokteran Indonesia dikeluarkan dengan Surat
Keputusan Menteri Kesehatan no. 434 / Men.Kes/SK/X/1983.Kode Etik
Kedokteran Indonesia disusun dengan mempertimbangkan International Code
of Medical Ethics dengan landasan idiil Pancasila dan landasan strukturil

Undang-undang Dasar 1945.Kode Etik Kedokteran Indonesia ini mengatur


hubungan antar manusia yang mencakup kewajiban umum seorang dokter,
hubungan dokter dengan pasiennya, kewajiban dokter terhadap sejawatnya dan
kewajiban dokter terhadap diri sendiri.44
Pelanggaran terhadap butir-butir Kode Etik Kedokteran Indonesia ada yang
merupakan pelanggaran etik semata-mata dan ada pula yang merupakan
pelanggaran etik dan sekaligus pelanggaran hukum. Pelanggaran etik tidak
selalu berarti
44

Samil, Ratna Suprapti. Etika Kedokteran Indonesia. FK UI, Jakarta 1994, Hal. 35

pelanggaran hukum, sebaliknya pelanggaran hukum tidak selalu merupakan


pelanggaran etik kedokteran
b. Tanggung Jawab Profesi
Tanggung jawab pro fesi dokter berkaitan erat dengan profesionalisme

seorang dokter. Hal ini terkait dengan45 :


1; Pendidikan, pengalaman dan kualifikasi lain
Dalam menjalankan tugas profesinya seorang dokter harus mempunyai
derajat

pendidikan

yang

sesuai

dengan

bidang

keahlian

yang

ditekuninya.Dengan dasar ilmu yang diperoleh semasa pendidikan di fakultas


kedokteran maupun spesialisasi dan pengalamannya untuk meno long penderita.
2; Derajat risiko perawatan
Derajat risiko perawatan diusahakan untuk sekecil-kecilnya, sehingga
efek samping dari pengobatan diusahakan minimal mungkin. Di samping itu
mengenai derajat risiko perawatan harus diberitahukan terhadap penderita
maupun keluarganya, sehingga pasien dapat memilih alternatif dari perawatan
yang diberitahukan oleh dokter.Berdasarkan data responden dokter, dikatakan
bahwa informasi mengenai derajat perawatan timbul kendala terhadap pasien
atau keluarganya dengan tingkat
45

Crisdiono M.Ahadiat Op. Cit., Hal 22

pendidikan rendah, karena telah diberi informasi tetapi dia tidak bisa
menangkap dengan baik.
3) Peralatan perawatan
Perlunya dipergunakan pemeriksaan dengan menggunakan peralatan
perawatan, apabila dari hasil pemeriksaan luar kurang didapatkan hasil yang
akurat sehingga diperlukan pemeriksaan menggunakan bantuan alat. Namun
dari jawaban responden bahwa tidak semua pasien bersedia untuk diperiksa
dengan menggunakan alat bantu (alat kedokteran canggih), hal ini terkait erat
dengan biaya yang harus dikeluarkan bagi pasien golongan ekonomi lemah.

c. Tanggung Jawab Hukum


Tanggung jawab hukum dokter adalah suatu keterikatan dokter
terhadap ketentuan-ketentuan hukum dalam menjalankan profesinya. Tanggung
jawab seorang dokter dalam bidang hukum terbagi dalam 3 (tiga) bagian, yaitu :
1). Tanggung Jawab Hukum Dokter Dalam Bidang Hukum Perdata
a) Tanggung Jawab Hukum Perdata Karena Wanprestasi
Pengertian wanprestasi ialah suatu keadaan dimana seseorang tidak memenuhi
kewajibannya yang didasarkan pada suatu perjanjian atau kontrak.Pada
dasarnya pertanggungjawaban perdata itu bertujuan untuk memperoleh ganti
rugi atas kerugian
yang diderita oleh pasien akibat adanya wanprestasi atau perbuatan melawan
hukum dari tindakan dokter. Menurut ilmu hukum perdata, seseorang dapat
dianggap melakukan wanprestasi apabila : Tidak melakukan apa yang
disanggupi akan dilakukan, melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat dan
melaksanakan apa yang dijanjikan, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan serta
melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.46
Sehubungan dengan masalah ini, maka wanprestasi yang dimaksudkan dalam
tanggung jawab perdata seorang dokter adalah tidak memenuhi syarat-syarat
yang tertera dalam suatu perjanjian yang telah dia adakan dengan pasiennya.
Gugatan untuk membayar ganti rugi atas dasar persetujuan atau
perjanjian yang terjadi hanya dapat dilakukan bila memang ada perjanjian
dokter dengan pasien.Perjanjian tersebut dapat digolongkan sebagai persetujuan
untuk melakukan atau berbuat sesuatu.Perjanjian itu terjadi bila pasien
memanggil dokter atau pergi ke dokter, dan dokter memenuhi permintaan

pasien untuk mengobatinya. Dalam hal ini pasien akan membayar sejumlah
honorarium.

Sedangkan

dokter

sebenarnya

harus

melakukan

prestasi

menyembuhkan pasien dari penyakitnya.Tetapi penyembuhan itu tidak pasti


selalu dapat dilakukan sehingga seorang dokter hanya mengikatkan dirinya
untuk memberikan bantuan sedapat-dapatnya, sesuai dengan ilmu dan
ketrampilan yang dikuasainya. Artinya, dia berjanji akan berdaya upaya sekuatkuatnya untuk menyembuhkan pasien.
46

J. Satrio, Op. Cit., Hal. 31

Dalam gugatan atas dasar wanprestasi ini, harus dibuktikan bahwa


dokter itu benar-benar telah mengadakan perjanjian, kemudian dia telah
melakukan wanprestasi terhadap perjanjian tersebut (yang tentu saja dalam hal
ini senantiasa harus didasarkan pada kesalahan profesi).Jadi di sini pasien harus
mempunyai bukti-bukti kerugian akibat tidak dipenuhinya kewajiban dokter
sesuai dengan standar profesi medis yang berlaku dalam suatu kontrak
terapeutik. Tetapi dalam prakteknya tidak mudah untuk melaksanakannya,
karena pasien juga tidak mempunyai cukup informasi dari dokter mengenai
tindakan-tindakan apa saja yang merupakan kewajiban dokter dalam suatu
kontrak terapeutik. Hal ini yang sangat sulit dalam pembuktiannya karena
mengingat

perikatan

antara

dokter

dan

pasien

adalah

bersifat

inspaningsverbintenis.
b). Tanggung Jawab Perdata Dokter Karena Perbuatan Melanggar
Hukum (onrechtmatige daad)
Tanggung

jawab

karena

kesalahan

merupakan

bentuk

klasik

pertanggungjawaban perdata. Berdasar tiga prinsip yang diatur dalam Pasal

1365, 1366, 1367 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu sebagai berikut
(1). Berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata
Pasien dapat menggugat seorang dokter oleh karena dokter tersebut telah
melakukan perbuatan yang melanggar hukum, seperti yang diatur di dalam Pasal
1365 Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata yang menyebutkan bahwa : Tiap perbuatan
melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan
orang yang karena salahnya menerbitkan kesalahan itu, mengganti kerugian
tersebut.Undang-undang sama sekali tidak memberikan batasan tentang
perbuatan melawan hukum, yang harus ditafsirkan oleh peradilan. Semula
dimaksudkan segala sesuatu yang bertentangan dengan undang-undang, jadi
suatu perbuatan melawan undang-undang. Akan tetapi sejak tahun 1919
yurisprudensi tetap telah memberikan pengertian yaitu setiap tindakan atau
kelalaian baik yang : (1) Melanggar hak orang lain (2) Bertentangan dengan
kewajiban hukum diri sendiri (3) Menyalahi pandangan etis yang umumnya
dianut (adat istiadat yang baik) (4) Tidak sesuai dengan kepatuhan dan
kecermatan sebagai persyaratan tentang diri dan benda orang seorang dalam
pergaulan hidup. Seorang dokter dapat dinyatakan melakukan kesalahan.Untuk
menentukan seorang pelaku perbuatan melanggar hukum harus membayar ganti
rugi, harus lah terdapat hubungan erat antara kesalahan dan kerugian yang
ditimbulkan.
(2). Berdasarkan Pasal 1366 KUHPerdata
Seorang dokter selain dapat dituntut atas dasar wanprestasi dan melanggar
hukum seperti tersebut di atas, dapat pula dituntut atas dasar lalai, sehingga

menimbulkan kerugian. Gugatan atas dasar kelalaian ini diatur dalam Pasal
1366 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang bunyinya sebagai berikut :
Setiap orang bertanggung
jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya, tetapi
juga untuk kerugian yang disebabkan karena kelalaian atau kurang hatihatinya.
(3). Berdasarkan Pasal 1367 KUHPerdata
Seseorang harus memberikan pertanggungjawaban tidak hanya atas kerugian
yang ditimbulkan dari tindakannya sendiri, tetapi juga atas kerugian yang
ditimbulkan dari tindakan orang lain yang berada di bawah pengawasannya.
(Pasal 1367 KUHPerdata).
Dengan demikian maka pada pokoknya ketentuan Pasal 1367 BW
mengatur mengenai pembayaran ganti rugi oleh pihak yang menyuruh atau
yang memerintahkan sesuatu pekerjaan yang mengakibatkan kerugian pada
pihak lain tersebut. Nuboer Arrest ini merupakan contoh yang tepat dalam hal
melakukan tindakan medis dalam suatu ikatan tim. Namun dari Arrest tersebut
hendaknya dapat dipetik beberapa pengertian untuk dapat mengikuti
permasalahannya lebih jauh.Apabila dihubungkan dengan ketentuan Pasal 1367
BW, maka terlebih dahulu perlu diadakan identifikasi mengenai sampai
seberapa jauh tanggung jawab perdata dari para dokter pembantu Prof. Nuboer
tersebut.Pertama-tama diketahui siapakah yang dimaksudkan dengan bawahan.
Adapun yang dimaksudkan dengan bawahan dalam arti yang dimaksud oleh Pasal
1367 BW adalah pihak-pihak yang tidak dapat bertindak secara mandiri dalam

hubungan dengan atasannya, karena memerlukan pengawasan atau petunjukpetunjuk lebih lanjut secara tertentu.Sehubungan dengan hal itu seorang dokter
harus bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan oleh bawahannya yaitu
para perawat, bidan dan sebagainya. Kesalahan seorang perawat karena
menjalankan perintah dokter adalah tanggung jawab dokter.
2). Tanggung Jawab Hukum Dokter Dalam Bidang Hukum Pidana
Tanggung jawab pidana di sini timbul bila pertama-tama dapat
dibuktikan adanya kesalahan profesional, misalnya kesalahan dalam diagnosa
atau kesalahan dalam cara-cara pengobatan atau perawatan.Dari segi hukum,
kesalahan / kelalaian akan selalu berkait dengan sifat melawan hukumnya suatu
perbuatan yang dilakukan oleh orang yang mampu bertanggung jawab.
Seseorang dikatakan mampu bertanggung jawab apabila dapat menginsafi
makna yang senyatanya dari perbuatannya, dapat menginsafi perbuatannya itu
tidak dipandang patut dalam pergaulan masyarakat dan mampu untuk
menentukan niat / kehendaknya dalam melakukan perbuatan tersebut.
Suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai criminal malpractice
apabila memenuhi rumusan delik pidana yaitu : Perbuatan tersebut harus
merupakan perbuatan tercela dan dilakukan sikap batin yang salah yaitu berupa
kesengajaan, kecerobohan atau kelapaan. Kesalahan atau kelalaian tenaga
kesehatan dapat terjadi di bidang hukum pidana, diatur antara lain dalam : Pasal
263, 267, 294 ayat (2), 299,
304, 322, 344, 347, 348, 349, 351, 359, 360, 361, 531 Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana.47 Ada perbedaan penting antara tindak pidana biasa dengan

tindak pidana medis.Pada tindak pidana biasa yang terutama diperhatikan


adalah

akibatnya,

sedangkan

pada

tindak

pidana

medis

adalah

penyebabnya.Walaupun berakibat fatal, tetapi jika tidak ada unsur kelalaian


atau kesalahan maka dokternya tidak dapat dipersalahkan.
Duty atau kewajiban bisa berdasarkan perjanjian (ius contractu) atau
menurut undang-undang (ius delicto). Juga adalah kewajiban dokter untuk
bekerja berdasarkan standar profesi. Kini adalah kewajiban dokter pula untuk
memperoleh informed consent, dalam arti wajib memberikan informasi yang
cukup dan mengerti sebelum mengambil tindakannya. Informasi itu mencakup
antara lain : risiko yang melekat pada tindakan, kemungkinan timbul efek
sampingan, alternatif lain jika ada, apa akibat jika tidak dilakukan dan
sebagainya. Peraturan tentang persetujuan tindakan medis (informed consent)
sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 585 Tahun 1989.
Penentuan bahwa adanya penyimpangan dari standar profesi medis
(Dereliction of The Duty) adalah sesuatu yang didasarkan atas fakta-fakta secara
kasuistis yang harus dipertimbangkan oleh para ahli dan saksi ahli.Namun
sering kali pasien mencampuradukkan antara akibat dan kelalaian.Bahwa
timbul akibat negatif atau keadaan pasien yang tidak bertambah baik belum
membuktikan adanya
47

Crisdiono M.Ahadiat Op. Cit., Hal . 24-25

kelalaian.Kelalaian itu harus dibuktikan dengan jelas.Harus dibuktikan dahulu


bahwa dokter itu telah melakukan breach of duty.
Damage berarti kerugian yang diderita pasien itu harus berwujud dalam
bentuk fisik, finansial, emosional atau berbagai kategori kerugian lainnya, di

dalam kepustakaan dibedakan : Kerugian umum (general damages) termasuk


kehilangan pendapatan yang akan diterima, kesakitan dan penderitaan dan
kerugian khusus (special damages) kerugian finansial nyata yang harus
dikeluarkan, seperti biaya pengobatan, gaji yang tidak diterima.
Sebaliknya jika tidak ada kerugian, maka juga tidak ada penggantian
kerugian. Direct causal relationship berarti bahwa harus ada kaitan kausal
antara tindakan yang dilakukan dengan kerugian yang diderita.
3) Tanggung Jawab Hukum Dokter Dalam Bidang Hukum Administrasi
Dikatakan

pelanggaran

administrative

malpractice

jika

dokter

melanggar hukum tata usaaha negara. Contoh tindakan dokter yang


dikategorikan sebagai administrative malpractice adalah menjalankan praktek
tanpa ijin, melakukan tindakan medis yang tidak sesuai dengan ijin yang
dimiliki, melakukan praktek dengan menggunakan ijin yang sudah daluwarsa
dan tidak membuat rekam medis.Menurut peraturan yang berlaku, seseorang
yang telah lulus dan diwisuda sebagai dokter tidak secara otomatis boleh
melakukan pekerjaan dokter. Ia harus
lebih dahulu mengurus lisensi agar memperoleh kewenangan, dimana tiap-tiap
jenis lisensi memerlukanbasic science dan mempunyai kewenangan sendirisendiri.
Tidak dibenarkan melakukan tindakan medis yang melampaui batas
kewenangan yang telah ditentukan.Meskipun seorang dokter ahli kandungan
mampu melakukan operasi amandel namun lisensinya tidak membenarkan
dilakukan tindakan medis tersebut.Jika ketentuan tersebut dilanggar maka

dokter dapat dianggap telah melakukan administrative malpractice dan dapat


dikenai sanksi administratif, misalnya berupa pembekuan lisensi untuk
sementara waktu.
2. Tanggung Jawab Rumah Sakit Berdasarkan UU NO 44 Tahun 2009
Tentang Rumah Sakit
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia atas tingkah laku atau
perbuatannya yang disengaja maupun tidak disengaja. Tanggung jawab juga
berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
Adapun kewajiban rumah sakit dalam Pasal 29 Undang-Undang No. 44
Tahun 2009 tentang Rumah Sakit yaitu:
a; Memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit
kepada masyarakat;
b; Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi,
dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan
standar pelayanan Rumah Sakit;
c; ibadah, parkir, ruang tunggu, sarana untuk orang cacat, wanita
menyusui, anak-anak, lanjut usia;
d; Melaksanakan sistem rujukan;
e; Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar profesi dan
etika serta peraturan perundang-undangan;
f; Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai hak dan
kewajiban pasien;
g; Menghormati dan melindungi hak-hak pasien;

h; Melaksanakan etika Rumah Sakit;


i; Memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana
j; Melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara
regional maupun nasional
k; Membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau
kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya
l; Menyusun dan melaksanakan peraturan internal Rumah Sakit (hospital
by law)

m; Melindungi dan memberikan bantuan hokum bagi semua petugas


Rumah Sakit dalam melaksanakan tugas
Berdasarkan keterangan di atas, rumah sakit harus bertanggung jawab
dalam melaksanakan kewajibannya yang bertujuan untuk memberi kesehatan
yang baik dan perlindungan pelayanan yang baik kepada pasien.Pertanggung
jawaban Rumah Sakit dalam hukum perdata pada dasarnya untuk memperoleh
ganti rugi atas kerugian yang diderita pasien, disamping bersiat preventif yaitu
mencegah / menghindari hal- hal yang tidak di inginkan 48.Dalam pelayanan,
rumah sakit harus memiliki standar pelayanan rumah sakit yaitu semua standar
pelayanan yang berlaku di rumah sakit antara lain standar operasional pro sedur,
standar pelayanan medis dan standar asuhan keperawatan.49
48

Sunarto Ady Wibowo, Pertanggung Jawaban Rumah Sakit Dalam Kontrak Terapeutik,
(Tesis, Fakultas Hukum, USU, Medan, 2005) Hal. 63
4 9 Ns. Taadi, Hukum Kesehatan Pengantar Menuju Perawat Profesional, EGC Jakarta, 2009,
Hal. 11 -31

D.

Pengakhiran Hubungan Dokter-Pasien


Kewajiban yang menyertai dokter akibat terbentuknya hubungan antara

dokter dengan pasien berlanjut hingga berakhirnya hubungan tersebut.Seperti


halnya kontrak-kontrak lain, pihak yang terlibat didalamnya dapat mengakhiri
perjanjian dengan kesepakatan bersama. Berakhirnya hubungan tersebut dapat

terjadi akibat :
1;

Selesainya pengobatan dengan membaiknya keadaan pasien

2;

Penolakan dokter oleh pasien

3;

Kesepakatan bersama

4;
Penarikan dokter secara resmi.
Pasien dapat secara sepihak mengakhiri hubungan dengan alasan apapun
dan kapan pun. Pengakhiran ini dapat dinyatakan secara langsung atau tidak
langsung oleh sikap pasien. Meskipun ditolak, dokter memiliki kewajiban untuk
mengingatkan pasien akan resiko bila menghentikan pengobatan. Seorang
dokter yang berhati-hati akan secara cermat mendokumentasikan dasar-dasar
dan hal-hal yang berhubungan dengan penolakan pasien untuk melindungi
dirinya bila ada klaim dari pasien. Hubungan dokter-pasien dapat berakhir bila
perawatan pasien telah secara tepat dan lengkap diserahkan kepada dokter
lainnya sehingga jasa dari dokter yang menyerahkan pasien tidak lagi
diperlukan dan kewajibannya untuk merawat pasien berakhir.
Sekali pelayanan diakhiri, umumnya dokter tidak memiliki kewajiban
untuk menyediakan pelayanan lanjutan atau membuat hubungan dokter-pasien
lagi. Meskipun demikian beberapa keputusan pengadilan telah memerintahkan
tanggung jawab tersebut dengan alasan bahwa dokter berada pada posisi yang
lebih baik dari pasien dalam hal mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
Jika selama perawatan dokter menyimpulkan bahwa ia tidak memiliki
pengetahuan atau ketrampilan yang kompeten untuk mengobati pasien atau
untuk alasan lain dan beranggapan bahwa pasien akan lebih baik bila ditangani
oleh dokter lain atau pada fasilitas lain, maka pasien harus diinformasikan.
Untuk praktisnya, pasien dengan mudahnya menyetujui keputusan dokternya

dan terjadi pengakhiran hubungan dengan peralihan yang menguntungkan. Jika


pengalihan tertunda maka dokter yang merawat diminta memberitahukan pasien
terhadap konsekuensi bila menolak, mendokumentasikan penolakan, konseling,
dan kemudian meneruskan perawatan hingga terjadi penghentian hubungan
secara sepihak. Pengakhiran hubungan secara sepihak diizinkan. Pasien harus
diberikan cukup waktu untuk merencanakan perawatan dari dokter lain.Catatan
tertulis harus disertakan dan lebih diutamakan bila ditulis pada kertas
bermeterai. Catatan tersebut harus memberikan penjelasan mengenai keadaan
pasien, pelayanan lanjutan yang diperlukan sebagaimana halnya dengan
penjelasan mengenai konsekuensi dari kegagalan untuk memperoleh pelayanan
lanjutan dan waktu perawatan ini harus dituliskan pada catatan tersebut.
Penarikan diri secara tidak tepat oleh dokter merupakan pelanggaran kontrak,
kelalaian profesional, dan abandonment. 50
50

Hasil wawancara dengan dr. Imelda Liana Ritonga, SKp, MPd, MN, beliau merupakan
wakil Direktur Administrasi dan Keuangan pada Rumah Sakit Imelda Pekerja Indonesia
Medan

BAB IV
PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN ANTARA RUMAH SAKIT
UMUM IMELDA MEDAN DENGAN PASIEN OPERASI BEDAH CAESAR
A. Pengertian Sengketa Konsumen
Undang-undang nomor tahun 1999 tentang pelindungan konsumen tidak
memberikan

batasan

apakah

yang

dimaksud

dengan

sengketa

konsumen.defenisi sengketa konsumen di jumpai pada peraturan mentri


perindustrian dan perdagangan yaitu kepmen No:350MPPKep12/2001 tanggal
10 desember 2001,dimana yang dmaksud dengan sengketa konsumen
adalah:sengketa antara pelaku usaha dengan konsumen yang menuntut ganti
rugi atas kerusakan,pencemaran dan atau yang menderita kerugian akibat
mengkonsumsi barang atau memanfaatkan jasa.51
Diberikannya ruang penyelesaian sengketa dibidang konsumen
merupakan

kebijakan

yang

baik

dalam

upaya

memberdayakan

empowerment system ) konsumen. Upaya pemberdayaan konsumen merupakan

bentuk kesadaran mengenai karakteristik khusus dunia konsumen, yakni


adanya perbedaan kepentingan yang tajam antara pihak yang berbeda posisi
tawarnya ( bargaining position ).Jumlah konsumen bersifat masif dan
biasanya berekonomi lemah.
51

Kepmen No:350MPPKep12/2001 Pasal 1 Ayat 8,

B. Penyelesaian Sengketa Konsumen Di Dalam Dan Di Luar Pengadilan


Penyelesaian Sengketa di Luar Peradilan (non litigasi)
Adanya hubungan hukum tentunya membuat terjadinya sengketa antara
pelaku usaha dengan konsumen, sengketa itu dapat terjadi disebabkan beberapa
hal, misalnya produk yang dibeli cacat atau jasa yang diberikan tidak sesuai

dengan yang disepakati. UU No.8 Tahun 1999 memberikan hak kepada


konsumen untuk mengajukan gugatan terhadap pelaku usaha sebagaimana yang
ditentukan dalam pasal 54 ayat (1) yang mengatur bahwa setiap konsumen yang
dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas
menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui
peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum.
Berdasarkan ketentuan ini, konsumen dijamin oleh undang-undang
untuk dapat mempertahankan haknya terhadap pelaku usaha. Selain itu,
konsumen juga diberikan pilihan utnuk menentukan bentuk penyelesaian
sengketa yang akan dipilih sebagaimana ditentukan dalam pasal 45 ayat (2) UU
No.8 Tahun 1999 yakni penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh
melalui pengadilan atau diluar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para
pihak yang bersengketa. Penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan
terbagi dua lagi yaitu yang pertama Penyelesaian sengketa secara damai, oleh
para pihak itu sendiri, dan kedua penyelesaian sengketa melalui Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen dengan
mengubakan mekanisme alternatif dispute resolution, yaitu konsiliasi, mediasi,
dan arbitrasi.
Dalam UU No.8 tahun 1999, apabila konsumen telah memilih untuk
menyelesaikan sengketa diluar pengadilan dan para pihak tidak berhasil
mencapai kesepakatan, hal ini tidak meniadakan hak dari masing-masing pihak
untuk dapat mengajukan sengketa tersebut pengadilan.Ini berarti penyelesaian
sengketa konsumen melalui pengadilan tetap dibuka setelah para pihak gagal

menyelesaikan sengketa mereka di luar pengadilan.52


a. Penyelesaian Sengketa melalui Mediasi
Apabila terjadi sengketa konsumen dan sengketa lain disarankan dapat
diselesaikan melalui mediasi. Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa
dengan perantaraan pihak ketiga, yakni pihak yang memberikan masukanmasukan kepada para pihak untuk menyelesaikan sengketa mereka.Berdasarkan
SE Direktorat jenderal Perdagangan Dalam Negeri No. 40 /PDN/02/2010 Tahun
2010, dijelaskan tentang tiga tahapan untuk mediasi yaitu tahap pra mediasi,
Mediasi, penanganan tindak lanjut. Pada tahap Pra mediasi ada tahapan-tahapan
yang harus dilalui yaitu sebagai berikut:
1 )Pendaftaran dan pencatatan pengaduan
2) Konsumen menyampaikan pengaduan langsung ke dinas perdagangan
52

Jimmy.J.S, Cara Menyelesaikan Sengketa Di Luar Pengadilan, Visi


Media Jakarta 2011. Hal .15

3)Pendaftaran pengaduan dilakukan dengan mengisi lembar pengaduan


konsumen sebagaimana tercantum dalam lampiran 1 surat edaran ini 4)
Petugas mencatat pengaduan dalamm buku agenda setelah dilengkapi
dengan :5 3
a; Identitas konsumen berupa nama, alamat dan keterangan lainnya
b; Identitas pelaku usaha berupa nama, alamat, kegiatan usaha, dan
keterangan lainnya
c; Bukti

pendukung

pengaduna

berupa

kwitansi,

faktur

barang/jasa yang diadukan atau bukti lain berupa sisa barang


yang belum habis dikomsumsi
d; Kronologis kejadian
e; Tuntutan yang diminta konsumen, kecuali ganti rugi Imaterial.

Petugas

membuat

matrix

penyelesaian

pengaduan

konsumen

sebagaimana tercantum dalam lampiran II surat edaran ini. Untuk memudahkan


mediator dalam penanganan sengketa konsumen.Dalam hal pendaftaran dan
pencatatan pengaduan sudah benar dan lengkap, mediasi siap dilaksanakan dan
dinas menetukan hari pelaksanaan mediasi. Apabila dalam kesempatan
undangan pertama konsumen tidak hadir tanpa alasan/pemberitahuan kepada
dinas, maka dinas tidak mengundang kembali dan pengaduan konsumen
dinyatakan gugur. Apabila dalamm kesempatan undangan pertama pelaku usaha
tidak hadir dengan atau tanpa alasan/pemberitahuan kepada dinas, maka dinas
tidak mengundang kembali pelaku usaha.Pra mediasi
53

Surat Edaran Dirjen Perdagangan,No. 40 /PDN/02/2010 Tahun 2010

dilakukan paling lama tujuh hari kerja terhitung sejak konsumen menandatangi
lembar pengaduan konsumen.
Setelah tahapan ini dipenuhi oleh para pihak yang bersengkata, tahap
berikutnya adalah tahap mediasi. Pada tahap mediasi terdapat beberapa
ketentuanketentuan yang diatur sebagai berikut:Mediasi dipimpin oleh aparat
dinas yang berperan sebagai mediator dan dibantu oleh notulis Mediator
menyampaikan tata tertib mediasi yang perlu menjadi perhatian dan dipatuhi
para pihak selama berlangsungnya mediasi Mediator menyampaikan prinsipprinsip penanganan dalam rangka penyelesaikan sengketa konsumen kepada
para pihak. Mediator menyampaikan hak dan kewajiban para pihak
sebagaimana diatur dalam UU No.8 tahun 1999 tentang perlindungan
konsumen.Mediator memberikan kesempatan yang seimbang kepada konsumen
dan pelaku usaha secara bergantian untuk menyampaikan masalahnya dan

harapan-harapan yang diinginkan.Notulis melakukan pencatatan selama


berlangsungnya mediasi yang dituangkan dalam bentuk berita acara
mediasi.Mediator sedapat mungkin harus mengarahkan para pihak untuk
menyelesaikan sengketa konsumen secara musyawarah dan kekeluargaan.
Dalam hal diperoleh kesepakatan penyelesaian oleh para pihak, hasil
kesepakatan dibuat dalam berita acara penyelesaian sengketa konsumen
sebagaimana tercantum dalam lampiran III surat edaran ini dan ditandatangani
oleh para pihak, mediator dan para saksi.Dalam hal pelaku usaha belum dapat
menerima tuntutan konsumen, mediator memberikan:Kesempatan paling lama
lima hari kerja untuk melengkapi bukti sanggahan terhadap tuntutan konsumen,
dan Mediator menetapkan
waktu pelaksanaan acara mediasi lanjut Dalam hal tidak tercapai kesepakatan
penyelesaian sengketa diantara para pihak, maka pihak mediator memberikan
alternatif penyelesaian sengketa melalui pengadilan negeri setempat.Dalam hal
telah ditandatangani berita acara penyelesaian sengketa konsumen oleh para
pihak, maka pengaduan dinyatakan selesai.
Proses penanganan dalam rangka penyelesaian sengketa konsumen
melalui mediasi dilakukan paling lama 12 hari kerja terhitung sejak pendaftaran
dan pencatatan pengaduan dinyatakan sudah benar dan lengkap.
Setelah penyelesaian sengketa melalui mediasi dijalani oleh para pihak,
langkah berikutnya adalah tindak lanjut atas kesempatan yang telah tercapai di
antara para pihak.Hal tersebut merupakan hal penting, karena merupakan tujuan
dari dilaksanakannya mediasi untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi.Pada

tahap ini, hal terjadi adalah para pihak sepakat hasil mediasi, para pihak tidak
sepakat hasil mediasi.
b. Penyelesaikan Sengketa Konsumen Konsiliasi
Konsiliasi adalah suatu bentuk proses penyelesaian sengketa di luar
pengadilan. Dimana pada prosesnya dilibatkan para pihak lain di luar pihak
yang sedang bersengketa, diana pihak lain tersebut bertindak sebagai fasiliator
yang bersikap pasif. Dalam hal ini yang bertindak sebagai fasiliator adalah
majelis yang telah disetujui oleh BPSK.54 Tujuannya adalah agar dapat dengan
mudah tercapai kata sepakat atas permasalahan yang sedang terjadi.
Sama halnya dengan penyelesaian sengketa konsumen melalui mediasi,
konsiliasi juga memiliki beberapa tahapan yang harus dilalui oleh para pihak
yaitu sebagai berikut:
1;

Konsumen yang merasa dirugikan atau ahli waris atau kuasanya


atau wali, terlebih dahulu harus mengajukan pengaduan untuk
menyelesaikan sengketa kepada BPSK, baik secara lisan ataupun
secara tertulis

2;

Setelah segala persyaratan untuk membuat pengaduan di penuhsi


oleh konsumen, sekretariat BPSK melaporkan pengaduan tersebut
kepada kketua BPSK.

3;

Dalamm jangka waktu paling lambat tiga hari, ketua BPSK akan
memanggil pelaku usaha secara tertulis dengan melampirkan
salinan pengaduan.

4; Surat panggilan yang ditujukan kepada pelaku usaha berisikan


tentang hari, jam , tanggal dan tempat persidangan sengketa

konsumen dan terhadap panggilan tersebut, pelaku usaha wajib


untuk memberikan surat jawaban atas surat aduan tersebut dan
menyampaikan surat jawaban tersebut pada hari sidang yang
pertama.
54

http://id.wikipedia. org/wiki/Badan_Penyelesaian_Sengketa_Konsumen Diakses tanggal 20

desember 2013

5; Acara pemeriksaan dilakukan oleh majelis yang terdiri atas tiga


orang yang merupakan unsur dari pemerintah, pelaku usaha dan
konsuen dengan dibantu oleh seorang panitera.
6; Pada pemeriksaan tersebut, majelis bersifat pasif dan hanya
memberikan pendapat atas pertanyaan dari para pihak yang
bersengketa

mengenai

perundang-undangan

peraturan-peraturan

yang

berkaitan

dan

dengan

ketentuan

perlindungan

konsumen.
7; Pelaku usaha harus dapat mengajukan alat-alat bukti untuk
memperkuat argumen masing-masing. Alat-alat bukti tersebut dapat
berupa barang, keterangan dari para pihak, keterangan saksi atau
saksi ahli, surat maupun dokumen lain yang berhubungan dengan
sengketa.
8; Proses persidangan diserahkan sepenuhnya kepada para pihak yang
bersengketa sehingga para pihaklah yang menentukan bentuk
maupun jumlah dari ganti rugi. Apabila tercapai kesepakatan
diantara para pihak, maka majelis akan membuat keputusab
selambat-lambatnya dua puluh satu hari sejak permohonan diterima.

9; Para pihak harus membuat perjanjian penyelesaian sengketa secara


tertulis apabila tercapai kesepakatan diantara para pihak. Perjanjian
tersebut ditandatangani oleh seluruh majelis dan ketua majelis.
Dalam jangka waktu selambat-lambatnya tujuh hari kerja sejak
keputusan dibacakan, ketua BPSK menyampaikan keputusan tersebut kepada
para pihak, dan apabila dalam jangka waktu 14 hari tidak ada keberatan dari
para pihak sejak dterimanya keputusan tersebut, maka dalam jangka waktu
tujuh hari para pihak wajib melaksanakan putusan tersebut. Keputusan dari
BPSK ini bersifat final dan mengikat para pihak, dan putusan tersebut dapat
dimintakan penetapan eksekusi kepada pengadilan negeri setempat.
c. Penyelesaian sengketa melalui arbitrase
Arbitrase merupakan upaya penyelesaian sengketa yang disepakati oleh
para pihak untuk diselesaikan oleh orang yang dipilih oleh para pihak dan para
pihak bersedia tunduk dan menyepakati hal yang diputuskan.Dalam hal ini para
pihak, yakni pelaku usaha dan konsumen, dapat menyelesaikan sengketa yang
terjadi diantara mereka melalui upaya arbitrase.
Saat ini, penyelesaian sengketa secara arbitrase dianggap oleh para
pihak lebih sederhana, karena proses arbitrase tidak begitu rumit serta jangka
waktunya terhadap penyelesaian sengketa tersebut sudah ditetapkan. Dalam
kepmenperindag RI No.350/Mpp/KEP/12/2001 tahun 2001, mendefenisikan
arbitrase adalah proses penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan
yang dalam hal ini para pihak yang bersengketa menyerahkan sepenuhnya
penyelesaian kepada BPSK.Dalam hal proses dimulainya arbitrase hampir sama
dengan proses yang ada di konsiliasi, hanya saja yang membedakannya adalah

peran dari majelis yang menangani sengketa tersebut. Pada konsiliasi, majelis
yang menangani perkara bersifat pasif, dalam arti tidak dapat memberikan
keputusan kepada para pihak, sedangkan pada arbitrase, putusan terhadap
sengketa dilakukan oleh majelis yang menangani sengketa tersebut.
2. Penyelesaian Sengketa Melalui Peradilan Umum
Setiap perkara perdata yang masuk kedalam pengadilan,maka sebelum
proses pembacaan gugagatan dilakukan maa hakim terlebih dahulu memerintah
kan kepada pihak yang bersengketa untuk melakukan mediasi dengan jangka
waktu 40 hari. Apabila proses mediasi gagal maka dilanjutkan dengan
pembacaan gugatan.
Pasal 45 aya 2 UUPK menyatakan bahwa setiap konsumen yang
dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas
menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui
peradilan yang berada dilingkungan peradilan umum, mengacu kepada
ketentuan tentang peradilan umum yang berlaku dengan memperhatikan
ketentuan Pasal 45 diatas.
Adapun yang berhaj melakukan ugatan terhadap pelanggaran yang
dilakukan pelaku usaha di atur dalam Pasal 46 ayat 1 UUPK, yaitu:
a;

Seorang konsumen yang dirugikan atau ahli waris yang

bersangkutan
b;

Sekelompok konsumen yang mempunyai kepentingan yang sama

c;

Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang


memenuhi syarat, yaitu yang berbentuk badan hukum atau
yayasan.

d;

Pemerintah dan atau instansi terkait apabila barang dan / atau


jasa yang dikonsumsi mengakibatkan kerugian materi besar atau
korban yang tidak sedikit.

Pengaturan yang diberikan oleh pasal 46 ayat 1 UUPK maksudnya adalah:


1) Bahwa secara personal sebgai mana yang dimaksud dalam huruf a pasal 46 ayat
1 UUPK , penyelesaian sengketa konsumen dapat dilakukan melalui lembaga
yang bertugas menyelesaikan sengketa konsumen yaitu BPSK. Sebagaimana
yang ditentukan dalam UUPK atau melalui peradilan umum.
2) Sedangkan gugatan yang diajukan leh sekelompok konsumen, lembaga
perlindungan konsumen swadaya masyarakat atau pemerintah sebgaimana
dimaksud huruf b, c, dan d pasal 46 ayat 1 UUPK, penyelesaian sengketa
konsumen diajukan melalui peradilan umum. Penyelesaian melalui
pengadilan mengacu pada ketentuan tentang peradilan umum yang berlaku
saat ini.
Mengenai gugatan sekelompok konsumen yang mempunyai epentngan
yang sama sebagai mana yang di atur huruf b pasal 46 ayat 1 UUPK, dalam
penjelasan pasal 46 ayat 1 huruf b UUPK , ditegaskan bahwa: Undang
undang in mengakui gugatan kelompok atau Class Action . Gugatan kelompok
harus diajukan oleh konsumen yang benar- benar dirugikan dan dapat
dibuktikan secara hukum. Penuntutan penyelesaian sengketa konsumen dengan
mengajukan gugatan class action melalui peradilan umum telah diperbolehkan
sejak keluarna UUPK yang mengatur tentang class action di indonesia. Tentu
saja in merupakan angin segar yang diharapkan akan membawa perubahan.
Penyelesaian sengketa konsumen melalui peradilan hanya

memungknkan apabila:
a) Para pihak belum memilih upya penyelesaian sengketa konsumen
diluar pengadilan, atau
b) Upaya penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan, dinyatkan tidak
berhasil oleh slah satu pihak tau oleh para pihak yang bersengketa55
Penyelesaian sengketa konsumen dengan menggunakan hukum acara
baik secara perdata, pidana maupun hukum administrasi Negara, membawa
keuntungan dan kerugian bagi konsumen dalam proses perkaranya. Antara lain
tentang beban pembutian dan biaya pada pihak yang menggugat. Keadaan ini
sebenarnya lebih banyak membawa kesulitan bagi konsumen jika berperkara di
peradilan umum.
Usaha usaha penyelsaian sengketa onsumen secra cepat terhadap
gugatan atau tuntuta ganti kerugian oleh konsumen terhadap pelaku usaha telah
diatur dalam UUPK yang memberikan kemngkinan setiap konsumen untuk
mengajukan penyelesaian sengketanya diluar pengadilan, yaitu melalui BPSK,
yang dlam Undang undang putusannya dinyatakan final dan mengikat,
sehingga tidak dikenal lagi upaya hukum banding dan kasasi dalam BPSK
tersebut (pasal 54 ayat 3 UUPK)
Namun ketentuan yang menyatakan bahwa putusan BPSK adalah
bersifat final dan mengikat ternyata bertentangan dengan yang diatur dalam
pasal 56 ayat 2 UUPK yang memberikan kesempatan pada para pihak yang
bersengketa di BPSK untuk mengajukan keberatan atas putusan BPSK yang
telah di terima kepada Pengadilan Negri paling lambat 14 hari kerja setelah

menerima pemberitahuan putusan tersebut.


55

http:/id.wikipedia.org/wiki/Badan Penyelesian Sengketa Konsumen diakses tanggal 20

desember 2013

C.

Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen

1.Pengertian Badan Penyelesaian Sengketa


Konsumen
Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen disingkat sebagai BPSK
adalah salah satu lembaga peradilankonsumen berkedudukan pada tiap Daerah
Tingkat II kabupaten dan kota di seluruh Indonesia sebagaimana diatur menurut
Undang-undang No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen bertugas
utama menyelesaikan persengketaan konsumen di luar lembaga pengadilan
umum, BPSK beranggotakan unsur perwakilan aparatur pemerintah, konsumen
dan pelaku usaha atau produsen yang diangkat atau diberhentikan oleh Menteri,
dalam menangani dan mengatur permasalahan konsumen, BPSK memiliki
kewenangan untuk melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan dan
keterangan dari para pihak yang bersengketa, melihat atau meminta tanda bayar,
tagihan atau kuitansi, hasil test lab atau bukti-bukti lain, keputusan Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) bersifat mengikat dan penyelesaian
akhir bagi para pihak.56
2.Tugas dan Wewenang
Tugas BPSK melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa
konsumen, dengan cara melalui mediasi atau arbitrase atau konsiliasi;
memberikan konsultasi perlindungan konsumen; melakukan pengawasan
terhadap pencantuman

56

http://id.wikipedia. org/wiki/Badan_Penyelesaian_Sengketa_KonsumenDiakses tanggal 20

desember 2013

klausula baku; melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran


ketentuan dalam Undang-undang No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen; menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis, dari
konsumen tentang terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen;
memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap
perlindungan konsumen; memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli
dan/atau setiap orang yang dianggap mengetahui pelanggaran terhadap Undangundang No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen; meminta bantuan
penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang
atau pihak yang tidak bersedia memenuhi panggilan badan penyelesaian
sengketa konsumen; mendapatkan, meneliti dan/atau menilai surat, dokumen,
atau alat bukti lain guna penyelidikan dan / atau pemeriksaan; memutuskan dan
menetapkan

ada

atau

tidak

adanya

kerugian

di

pihak

konsumen;

memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran


terhadap perlindungan konsumen; menjatuhkan sanksi administratif kepada
pelaku usaha yang melanggar ketentuan Undang-undang ini.
Kewenangan untuk menangani dan menyelesaikan sengketa konsumen,
Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen membentuk majelis harus ganjil dan
sedikitdikitnya berjumlah anggota majelis tiga orang terdiri dari seorang ketua
merangkap anggota, seorang wakil ketua merangkap anggota, dan seorang
anggota, majelis ini terdiri mewakili semua unsur yaitu unsur pemerintah, unsur

konsumen, dan unsur


pelaku usaha serta dibantu oleh seorang panitera dan putusan majelis bersifat
final dan mengikat.
3. Jangka waktu
BPSK wajib mengeluarkan putusan paling lambat dalam waktu
duapuluh satu hari kerja setelah gugatan diterima; serta dalam waktu paling
lambat tujuh hari kerja sejak menerima putusan, para pihak dapat mengajukan
keberatan kepada Pengadilan Negeri paling lambat empatbelas hari kerja sejak
menerima pemberitahuan putusan kepada pelaku usaha yang tidak mengajukan
keberatan dalam jangka waktu paling lambat empatbelas hari kerja sejak
menerima pemberitahuan putusan dianggap menerima putusan BPSK dan
apabila setelah batas waktu ternyata putusan BPSK tidak dijalankan oleh pelaku
usaha, BPSK dapat menyerahkan putusan tersebut kepada pihak penyidik
dengan penggunaan Putusan Majelis BPSK sebagai bukti permulaan yang
cukup bagi penyidik untuk melakukan penyidikan dengan penggunaan Putusan
majelis BPSK dapat dimintakan penetapan eksekusinya kepada Pengadilan
Negeri di tempat konsumen yang dirugikan.
Bantahan atas putusan Pengadilan Negeri wajib mengeluarkan putusan
atas keberatan pelaku usaha dalam waktu paling lambat duapuluh satu hari
sejak diterimanya keberatan dari pelaku usaha; dan terhadap putusan
Pengadilan Negeri, para pihak dalam waktu paling lambat empatbelas hari
dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung Republik Indonesia; kemudian
Mahkamah Agung Republik

Indonesia wajib mengeluarkan putusan dalam waktu paling lambat tigapuluh


hari sejak menerima permohonan kasasi.
D. Penyelesaian Sengketa Dibidang Operasi Bedah Caesar Antara Rumah
Sakit
Umum Imelda Medan Dan Pasien
Dokter yang berada pada rumah sakit Imelda Pekerja Indonesia Medan
ada yang bersifat tetap berada di tempat sesuai jadwal,ada juga yang merupkan
doker panggilan,dokter ini dapat di panggil apabila ada panggilan untuk
melaksanakan operasi caesar.

57

selama rumah sakit ini memiliki unit operasi

Caesar belum pernah terjadi sengketa dengan konsumen yang sampai ke

pengadilan. Jika kemungkinan terjadi suatu gugatanmaka hal pertama yang


akan diambil adalah dengan dilakukannyapenyelidikan terhadap kasus tersebut.
Penyelidikan tersebut untukmengetahui bagaimana pro sedur yang telah
ditempuh oleh dokterkhusunya dan tim medik pada umumnya dalam proses
pengobatanpasien.

Hal

tersebut

dikarenakan

proses

pengobatan

tidak

hanyadilakukan oleh seorang dokter saja tapi juga oleh para medik selaindokter
seperti perawat atau petugas kesehatan. Jika telah diketahuimengenai
bagaimana hasil penyelidikan akan diambil keputusan. sesuai dengan standart
profesi medisyang tertuang dalam kode etikkedokteran yaitu Surat keputusan
Menteri Kesehatan RI No. 80/DPK/I/K/1 969 disempurnakan
57

Data yang tertera pada profil Rumah Sakit Imelda Pekerja Indonesia Medan

dengan SKep. Men.Kes.No.434/Menkes/SK/X/1 983. Jika ada permasalahan


akandiselesaikan

sesuai

peraturanperundangan.

58

prosedur

baku

yang

telah

diatur

dalam

Untuk penuntutan dari pihak pasienDari uraian

wawancara di atas penulis menilai bahwa langkahtersebut di atas merupakan


suatu upaya untuk meletakkan kesalahanatau kelalaian pelaksanaan profesi di
mana berhadapan dengankewajiban pro fesi, bertujuan untuk melihat apakah
hak dan kewajibandalam pelaksanaan profesi dilaksanakan sesuai dengan
standarprofesi atau tidak.
Di mana tindakan medik yang dilakukan terhadappasien memenuhi
pengetahuan yang dimiliki oleh dokter yangmemiliki kemampuan rata-rata
dalam bidang yang sama, dalamsituasi dan kondisi yang sama dan untuk
mencapai tujuan yangsama.kaitan dengan suatu kewajiban karena adanya
tanggung jawabdalam setiap kewajiban di mana konsukensi dari sebuah
tanggungjawab adalah kemungkinan kesalahan yang dilakukan dokterkhusunya
dan para medis umumnya bisa ditinjau dari sudut hukumperdata, hukum pidana
maupun hukum administrasi. Sehingga dalamprosedur penyelidikan yang
dipergunakan oleh Rumah Sakitbertujuan untuk menentukan pihak yang
bertanggungjawab atassuatu kasus / gugatan.Belum adanya gugatan yang
ditujukan kepada Rumah Sakit danbelum adanya ganti rugi secara perdata
maupun sanksi pidana yangdiberikan menunjukkan bahwa selama ini kinerja
dari para medisRumah Sakit tergolong sesuai pro sedur standar medis
sehinggatidak ada penyimpangan atau kerugian pada pihak pasien.
58

Hasil wawancara dengan dr. Imelda Liana Ritonga, SKp, MPd, MN, beliau merupakan
wakil Direktur Administrasi dan Keuangan pada Rumah Sakit Imelda Pekerja Indonesia
Medan

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan,

makadapat diambil kesimpulan sebagai berikut :


1; Informed consent yang di berikan pada pasien operasi bedah Caesar
telah sesuai dengan apa yang di amanahkan oleh undang-undang nomor
8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen,dimana klusula yang
terdapat di dalamnya telah melindungi dokter dan juga pasien dari halhal yang tidak di inginkan atau dapat merugikan salah satu pihak
2; Rumah sakit Imelda telah bertanggung jawab sesuai dengan Pasal 29
Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit diaman
rumah sakit telah memberikan pelayanan yang maksimal sesuai dengan
criteria pasien yang berobat di rumah sakit tersebut
3; Dalam hal terjadinya sengketa dalam bidang operasi bedah Caesar di
rumah saki Imelda medan sampai at ini belum ada sampai keranah
hukum,akan tetapi jika terjadi sengketa di kemudian hari maka pihak
rumah sakit Imelda medan
memberikan kesempata kepada Pasien dapat mengajukan tuntutan
pembayaran kompensasi, ganti kerugiandan/atau pergantian barang
dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai denganperjanjian dan atau
tidak sebagaimana mestinya, sepanjang bidan bertindak diluar standar
profesi dan kewenangannya, sebagaimana diatur dalam Pasal
58Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan.
B. SARAN
1; Agar dokter dan perawat dalam menjalankan profesinya tetap
bersandarkan nilai-nilai dan etika kedokteran sesuai dengan standard
profesi dengan tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan serta

senantiasa meningkatkan keterampilan dan keahliannya guna mencapai


pelayanan kesehatan yang maksimal terhadap setiap pasien.
2; Agar

Rumah

Sakit

sebagai

lembaga

kesehatan

juga

lebih

mengedepankan fungsi sosialnya dalam pelayanan kesehatan tanpa


membeda-bedakan suku, agama, ras dan antar golongan serta
melengkapi peralatan yang memadai untuk menunjang pelayanan
kesehatan.
3; Agar dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan tetap mengacu kepada
ketentuan undang yang berlaku.

Anda mungkin juga menyukai