Anda di halaman 1dari 5

TUGAS KELOMPOK

MANAJEMEN PERUBAHAN DAN INOVASI


CASE STUDY : Gore-Tex and W.L. Gore & Associates:
An innovative company and a contemporary culture.
Dosen Pengampu : Dra. Siti Nursyamsiah, MM.

Disusun Oleh Kelompok 1:

Lita Triayuni Wulandari, SE. (149 11016)


Puspita Mayasari, SE.

(149 11018)

Kartika Mustika sari, SE.

(149 11019)

Aldis Septyan Hardiyanto S, S.Sos.

(149 11013)

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA

2015

CASE STUDY : Gore-Tex and W.L. Gore & Associates: An


innovative company and a contemporary culture
PERTANYAAN :

1. Jelaskan apa yang terjadi kepada Merek Gore-Tex setelah hak patennya
kadaluarsa. Aktivitas perusahaan apa yang coba digunakan oleh
perusahaan ini untuk mempertahankan setiap keuntungan yang didapat
selama mengembangkan fase perlindungan ?
2. Sebutkan Daftar beberapa berbagai macam produk di mana kain GoreTex telah diterapkan?
3. Gore Association menekankan pada penggunaan teknologi, Bahaya apa
saja yang menjadi fokus ketika perusahaan terlalu menekankan
penggunaan teknologi ?
4. Kerjasama dan skema berbagi kepemilikan memberikan berbagai
atraksi dan manfaat, tetapi 2 hal ini memiliki keterbatasan, jelaskan !
JAWABAN :
1. W.L. Gore & Associates didirikan di Newark, Delawre oleh Bill dan Vieve
Gore pada tahun 1958, ketika itu Bill dan Vieve Gore melakukan riset
tentang

apakah

polytetrafluoroethylene

fluorocarbon
(PTFE)

memiliki

polymers
kesempatan

terutama
pasar.

PTFE

pertama kali dikembangkan oleh Bill ketika dia menjadi ilmuwan di


Perusahaan

Dupont.

Namun

di

perusahaan

ini

ide

untuk

mengembangkan PTFE tidak dapat diterima, sehingga ia memutuskan


untuk membangun bisnisnya sendiri dan mematenkan hasil risetnya
mengenai PTFE. Bill Gore sadar bahwa mematenkan hasil risetnya
tidaklah cukup, ia berusaha untuk terus berusaha untuk melakukan
riset mengenai PTFE ini, dan sejauh mana PTFE dapat dikembangkan
untuk

hal-hal

lainnya.

Upayanya

terus

berinovasi

dalam

mengembangkan riset PTFE berhasil pada tahun 1969, ketika itu Bill
Gore menemukan bahwa peregangan yang diciptakan oleh PTFE
menghasilkan bahan mikro yang sangat kuat. Hasil risetnya kemudian
dinamakan ePTFE. jenis ePTFE ini diklaim mampu menahan air lebih
baik dari PTFE sehingga ketika ePTFE dijadikan bahan dasar pembuatan

baju, maka baju tersebut dapat tahan air. Pada tahun 1976 Gore-Tex
pertama kali mengeluarkan jas hujan berbahan dasar ePTFE.
2. Kain hasil produksi Gore-Tex mengalami peningkatan penjualan ketika
Bill Gore berhasil mengimplementasikan hasil pengembangan dari PTFE
menjadi ePTFE, banyak produk-produk outdor seperti mantel, sepatu,
back-pack dan sebagainya mengimplementasikan ePTFE sebagai bahan
dasar pembuatan produk mereka. Tercatat brand-brand terkenal seperti
Noth Face, Berghaus, Karrimorr mengadaptasi ePTFE sebagai bahan
dasar beberapa produk mereka.
3. W.L. Gore & Associate, sebuah perusahaan milik pribadi yang terkenal
dengan Gore-Tex film anti air, adalah sebuah contoh praktisi yang
sangat

sukses

dari

pembuatan

strategi

dengan

pendekatan

intrapreneur perusahaan. Gore berharap seluruh pegawai memiliki


inisiatif perbaikan dan menunjukkan pembaharuan. Dalam lingkungan
kerja yang kreatif, di mana pikiran yang sebelumnya otonom dan
kreatif bebas untuk mengeksplorasi, dengan adanya penekanan
penggunaan

teknologi

mengakibatkan

karyawan

dibatasi

dan

mengharuskan proses organisasi dibuat agar sesuai tuntutan system


yang kaku , jika karyawan merasa bahwa mereka kehilangan otonomi
mereka dan bahwa mereka mengalami budaya pertanggungjawaban
instan, maka hal ini dapat memiliki efek dramatis pada produktivitas
dan kreativitas sehingga dapat menghambat inovasi.
4.

Perusahaan Gore-Tex and W.L Gore Associates menerapkan system


struktur kepemilikan saham karyawan, dimana tujuan dari Gore dalam
menerapkan struktur ini agar perusahaan dapat bergerak secara
fleksibel

dan

kompetitif

dalam

memaksimalkan

kebebasan

dan

keadilan dalam setiap asosiasinya. Beberapa manfaat yang ditawarkan


Gore adalah manfaat rencana dasar dan pelayanan yang mencakup
rencana kepemilikian saham asosiasi, liburan, bagi hasil, asuransi jiwa,
asuransi kesehata, dan asurasni kecelakaan.
The

Associate

Stock

Ownership

Plan

(ASOP),

rencana

kepemilikan saham asosiasi merupakan keuntungan finasial yang

paling

berharga

memberikan

bagi

perusahaan.

kepemilikan

dan

Tujuannya

melalui

adalah

kepemilikan

ini

untuk
akan

memberikan keamanan finansial bagi para pensiunan. Setiap rekan


memiliki

kesempatan

untuk

berpartisipasi

dalam

pertumbuhan

perusahaan dengan mengakuisisi kepemilikan saham di dalamnya.


Setiap tahun perusahaan memberikan kontribusi 15% kepada para
pemilik saham, serta perusahaan memberikan kontribusi yang sama
dengan persentasi gaji kepada setiap asosiasi yang aktif dalam ASOP.
Program ASOP termasuk salah satu dari karakteristik kunci
yang

membantu

W.L.

Gore

sukses,

dengan

program

ASOP

meningkatkan rasa kepemilikan dan peningkatan komitmen diantara


karyawan. Tetapi ada beberapa keterbatasan dalam penerapan
program ASOP ini, system kepemilikan saham ini menarik, setiap
terjadi penurunan kinerja perusahan dan jatuhnya nilai saham maka
dapat menimbulkan kebencian yang sangat besar oleh karyawan
terhadap perusahaan. Karena nilai saham turun menyebabkan nilai
saham merek ikut juga mengalami penurunan. Karena perusahaan ini
menggunakan system kepemilikan saham, perusahaan ini berbeda
dengan

perusahaan

publik

pada

umunya

mereka

tidak

dapat

melakukan penghapusan/pemecatan terhadap manajer.


Skema kerjasama dan berbagi kepemilikan yang di terapkan
oleh Gore-Tex merupakan Associates yang berkomitmen untuk empat
prinsip pedoman dasar diartikulasikan oleh Bill Gore: keadilan satu
sama lain dan semua orang dengan siapa kita datang dalam kontak;
kebebasan untuk mendorong, membantu, dan memungkinkan rekan
lain untuk tumbuh dalam pengetahuan, keterampilan, dan ruang
lingkup

tanggungjawab;

kemampuan

untuk

membuat

komitmen

sendiri dan menjaga mereka; dan konsultasi dengan rekan lain


sebelum melakukan tindakan yang dapat mempengaruhi reputasi
perusahaan.
a. Skema kerjasama dan berbagi kepemilikan memberikan beberapa
atraksi dan manfaat antara lain :

Budaya Gore berusaha untuk menghindari pajak kreativitas dengan


hirarki

konvensional

sehingga

mendorong

tangan-inovasi,

yang

melibatkan orang-orang yang paling dekat dengan proyek dalam


pengambilan keputusan; maka pengambilan keputusan didasarkan
-

pada pengetahuan daripada senioritas.


Menghindari piramida tradisional bos dan manajer, Bill menciptakan
struktur organisasi kisidatar di mana tidak ada rantai komando dan
tidak ada saluran komunikasi yang telah ditentukan. Sebaliknya,
karyawan berkomunikasi langsung dengan satu sama lain dan

bertanggung jawab kepada sesama anggota tim multi-disiplin.


Perusahaan bergairah tentang inovasi dan telah membangun
lingkungan kerja yang unik untuk mendukungnya berdasarkan budaya
perusahaan yang mendorong kreativitas, inisiatif dan penemuan
karena tidak ada hierarki yang kaku, tidak ada bos, dan tidak ada
tangga karir diprediksi serta karyawan diberikan lintang lebar untuk
mengejar peluang kewirausahaan.

b. Keterbatasan dalam skema kerjasama dan berbagi kepemilikan antara


-

lain :
Permasalahan yang muncul karena tidak ada rantai komando dan tidak
ada saluran komunikasi yang ditentukan akan berpotensi menjadi
konflik

missed

komunikasi

dan

kerenggangan

hubungan

antar

karyawan. Keinginan masing-masing orang yang berbeda diperlukan


keputusan yang jelas akan tujuan jangka panjang bagi eksistensi dan
-

reputasi perusahaan yang menguntungkan.


Diperlukan penangan finansial yang kuat untuk membiayai inovasi
sehingga dalam pembagian kompensasi ditentukan oleh komite dan
bergantung
kompensasi.

pada

evaluasi

oleh

rekan

lainnya

serta

sponsor