Anda di halaman 1dari 4

POLA-INTERAKTIF

PEMBANGUNAN YANG BERKELANJUTAN


Pola interaktif pembangunan yang berkelanjutan merupakan siklus yang
terbentuk dari adanya keseimbangan antara sistem ekologik dengan sistem
demografik melalui menejemen sumberdaya yang ada agar dapat digunakan hingga
generasi selanjutnya. Sistem demografik yang bersifat tumbuh dapat menciptakan
ketidakseimbangan terhadap sistem ekologik yang memiliki sifat tetap atau sifat yang
tidak dapat diperbaharui. Tanpa menejemen dari sistem demografik, sistem ekologik
akan tereksploitasi secara terus menerus. Hasil dari eksploitasi secara terus menerus
tersebut akan berdampak pada keberlangsungan hidup generasi selanjutnya.
Untadanya itu perlu adanya pemahaman mengenani sistem demografik dan sistem
ekologik.
Sistem demografik merupakan kegiatan kegiatan yang menunjang aspek
kehidupan. Kegiatan tersebut dimulai dari kegiatan ekonomik. Kegiatan ekonomik
dimulai dari adanya kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup
yang terus meningkat menciptakan pembangunan. Semakin tinggi pembangunan
dapat dikatakan suatu daerah sangat produktif. Kegiatan produktif secara terus
menerus akan menuntut meningkatnya kegiatan pemanfaatan akan sumberdaya alam
yang ada. Pemanfaatan sumberdaya alam merupakan kegiatan konsumtif. Kegiatan
pemanfaatan dan Kegiatan konsumtif merupakan kegiatan dari sistem sosiologik dan
budaya. Kegiatan ini harus dikendalikan agar tidak terekspolitasi secara besar
besaran. Pengendalian dari kegiatan pemanfaatan dan konsumtif ini dilakukan dengan
sistem preservatif dan konservatif.
Sistem preservatif dan konserfatif merupakan sistem yang dilakukan agar
sumberdaya alam yang ada tetap terjaga dan secara terus menerus dapat memberikan
manfaat hingga generasi selanjutnya. Sistem ini sangat erat kaitannya dengan sistem
ekonomi yang terus tumbuh dengan dampak berupa pembangunan dan kegiatan
kegiatan produktif sebagai penunjang kehidupan. Agar kegiatan pembangungan dan
kegiatan produktif dapat terus berjalan. Perlu adanya sistem buatan yang diatur untuk

menjaga ketersediaan sumberdaya alam yang ada. Salah satu contoh kegiatan
reboisasi. Yaitu kegiatan penanam kembali hutan hutan yang gundul. Jika ini
dilakukan dengan baik, generasi selanjutnya tidak akan kekurangan. Salah satunya air
tanah.
Pola-interaktif pembangunan yang berkelanjutan agar dapat dilaksanakan
dengan baik, haruslah dimasukkan ke dalam proses perencanaan pembangunan.
Proses proses itu adalah kebijakan, hukum/ politik, dan kelembagaan.
Proses kebijakan merupakan proses penyusunan arahan sebagai acuan
pemanfaatan sumberdaya alam. Proses kebijakan ini disusun berdasarkan gambaran
kondisi eksisting sumberdaya alam yang sudah dimanfaatkan dan sumberdaya alam
yang masih ada. Setelah gambaran kondisi eksisting dari sumberdaya alam sudah
dipetakan. Barulah disusun araha ruang ruang mana saja yang dapat digunakan
untuk dibudidayakan dan ruang ruang mana saja yang tidak dapat dibudidayakan.
Arahan ini selanjutnya akan disusun sebagai dasar untuk menentukan kebijakan.
Proses hukum/ politik merupakan proses lanjutan dari proses kebijakan.
Proses ini bertujuan untuk mengokohkan posisi dari kebijakan yang dirumuskan
berdasarkan pemetaan sumberdaya alam eksisting memiliki badan hukum. Sehingga,
pelaksanaan dan pelanggaran terhdap arahan kebijakan yang telah ditetapkan akan
memberikan insentif dan disinsentif terhadap pelaku kegiatan.
Proses terakhir adalah proses kelembagaan. Proses kelembagaan ini
merupakan proses yang bertujuan untuk merencanakan, mengelola, dan mengevaluasi
hasil dari implementasi arahan kebijakan yang telah ditetapkan. Merencanakan
implementasi kebijakan dapat berupa perencanaan pembangunan sarana dan
prasarana terhadap sistem ekologik. Pengelolaan kebijakan dapat berupa menejemen
sarana dan prsarana yang sudah direncanakan terhadap sistem ekologik. Evaluasi
kebijakan dapat berupa meninjau sejauh mana keefektifan dari sarana dan prasarana
tersebut terhdap pemeliharaan sistem ekologik.
Ketiga proses yaitu proses kebijakan, proses hukum, proses kelembagaan
harus selalu disertaka dengan tujuan untuk mengatur kegiatan dari sistem demografik
terhadap sistem ekologik. Pengaturan ini diharapakan mampu menciptakan

keseimbangan antara kedua sistem tersebut. Keseimbangan kedua sistem tersebut


akan menciptakan pola interaktif pembangunan yang sehat dan pembangunan
berkelanjutan. Pembangunan yang dapat dimanfaatkan secara terus menerus hingga
generasi selanjutnya.

TUGAS MATRIKULASI
PENGANTAR PERENCANAAN

Oleh:
SATRIA UTAMA
NIM. 21040115410020

MAGISTER PEMBANGUNAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015