Anda di halaman 1dari 31

BUDIDAYA BAWANG MERAH

DAN PENANGANAN PERMASALAHANNYA


Oleh : Baswarsiati
BPTP Jawa Timur
.
PENDAHULUAN
Bawang merah merupakan salah satu komoditas
sayuran unggulan Jawa Timur yang sangat fluktuatif
harga maupun produksinya. Hal ini terjadi karena
pasokan produksi yang tidak seimbang antara panenan
pada musimnya serta panenan di luar musim, salah satu
diantaranya disebabkan tingginya intensitas serangan
hama dan penyakit terutama bila penanaman dilakukan
di luar musim. Selain itu bawang merah merupakan
komoditas yang tidak dapat disimpan lama, hanya
bertahan 3-4 bulan padahal konsumen
membutuhkannya setiap saat.
Masalah utama usahatani bawang merah di luar musim
adalah tingginya resiko kegagalan panen karena
lingkungan yang kurang menguntungkan , terutama
serangan hama dan penyakit. Hama dan penyakit
penting pada bawang merah antara lain : ulat bawang
(Spodoptera exigua) dan Thrips , sedangkan
penyakitnya meliputi antraknose, fusarium dan trotol.
Keberadaan hama dan penyakit tersebut menyebabkan
petani menggunakan pestisida secara berlebihan karena
petani beranggapan bahwa keberhasilan usahatani
ditentukan oleh keberhasilan pengendalian hama dan

penyakit, yaitu dengan meningkatkan takaran, frekuensi


dan komposisi jenis campuran pestisida yang
digunakan. Akibatnya biaya usatani bawang merah
semakin tinggi dan keuntungan yang diperoleh tidak
seimbang serta tidak memperhatikan konsep pertanian
ramah lingkungan. Dampak lain penggunaan pestisida
yang berlebihan yaitu ledakan dari hama sekunder.
Untuk mengantisipasi masalah di atas salah satu usaha
yaitu mencari dan menggali varietas-varietas bawang
merah yang mempunyai sifat-sifat unggul terutama
dalam hal produksi serta ketahanan terhadap hama dan
penyakit utama sehingga varietas bawang merah
tersebut mampu berproduksi walaupun serangan hama
dan penyakit cukup berat. Bilamana varietas unggul
yang tahan terhadap hama dan penyakit diperoleh maka
varietas tersebut dapat ditanam pada luar musim
sehingga kesinambungan produksi bawang merah dapat
terjamin.
Dari 141 varietas bawang merah yang ada termasuk
varietas introduksi belum didapatkan varietas yang
tahan terhadap penyakit di atas kecuali varietas
Sumenep yang relatif tahan terhadap penyakit
Otomatis tetapi tidak tahan terhadap penyakit
Alternaria. Sayangnya varietas ini tidak mampu
berbunga dan belum diketahui cara merangsang
bunganya, serta berumur panjang walaupun mempunyai
kualitas terbaik untuk bawang goreng (Permadi, 1992).
Beberapa galur somaklonal dari varietas Sumenep
sudah dihasilkan oleh Balitsa Lembang dan sudah
dilakukan uji daya hasilnya di beberapa lokasi. Hasil

somaklonal dari varietas Sumenep mempunyai umbi


yang lebih besar dengan warna yang lebih mengarah
kemerah muda dibandingkan varietas Sumenep yang
asli. Diharapkan galur somaklonal Sumenep tetap
mempunyai sifat tahan terhadap hama dan penyakit
utama serta mempunyai umbi besar , warna menarik
dan rasa bawang goreng yang lebih enak.
PERMASALAHAN
1. Adanya perbedaan produksi pada musim
kemarau dan musim hujan
Fluktuasi produksi selalu terjadi pada usahatani
bawang merah yang disebabkan adanya perbedaan
produksi di musim kemarau dan musim hujan. Pada
musim hujan intensitas serangan hama terutama
Spodoptera exigua dan penyakit seperti Fusarium,
Alternaria dan Antraknose semakin tinggi. Sehingga
kegagalan panen sering terjadi pada musim hujan. Hal
ini disebabkan pada musim hujan, kelembaban udara
lebih tinggi dibandingkan musim kemarau sehingga
intensitas serangan penyakit lebih tinggi. Sedangkan
pada musim kemarau suhu udara lebih tinggi
dibandingkan musim hujan sehingga intensitas serangan
hama lebih tinggi dibandingkan intensitas serangan
penyakit (Rosmahani et al, 1998) Oleh karenanya
produktivitas di musim hujan semakin menurun dan
pasokan produksi juga menurun sehingga terjadi
fluktuasi harga. Sehingga diperlukan adanya varietas

bawang merah yang sesuai untuk musim kemarau dan


musim hujan
2 Belum cukup tersedia varietas unggul bawang
merah yang resisten terhadap
hama
dan penyakit penting serta sesuai pada musim hujan
Sampai saat ini belum tersedia varietas unggul
bawang merah yang resisten terhadap hama dan
penyakit penting kecuali varietas Sumenep. Sayangnya
varietas Sumenep belum disukai konsumen bawang
merah karena penampilan umbinya kurang menarik
dengan warna umbi kekuningan dan bentuk umbinya
lonjong dan kecil. Namun somaklonal dari varietas
Sumenep dapat menghasilkan umbi dengan ukuran
yang lebih besar dari varietas aslinya dan warna umbi
merah muda. Selain itu varietas Sumenep sangat renyah
dan enak untuk bawang goreng. Dan nampaknya hasil
somaklonal varietas Sumenep mempunyai daya
adaptasi yang luas pada beberapa agroekologi di
dataran rendah hingga dataran tinggi (Baswasiati et al,
2000)
Varietas bawang merah yang selama ini ditanam
oleh petani umumnya varietas yang sesuai ditanam di
musim kemarau saja namun rentan terhadap serangan
hama ulat grayak serta penyakit penting pada bawang
merah. Seperti halnya 8 varietas unggul yang telah
dilepas Pemerintah antara lain varietas Bima Brebes,
Maja, Keling, Medan , Super Philip, Kramat-1, Kramat2 dan Kuning hanya sesuai untuk musim kemarau.

Sedangkan varietas unggul bawang merah yang sesuai


pada musim hujan dan telah dilepas Pemerintah hanya
varietas Bauji . Usahatani bawang merah pada musim
kemarau menghasilkan pasokan produksi yang tinggi
karena cukup banyak ragam varietas yang dapat
ditanam di musim kemarau. Seperti halnya di sentra
produksi Brebes, petani menanam beragam varietas
bawang merah yang ada , termasuk varietas Sumenep.
Sedangkan di Jawa Timur, petani hanya menanam
varietas Super Philip karena produktivitasnya lebih
tinggi dibandingkan varietas lainnya.
Pada musim hujan, petani tetap menggunakan
varietas yang sesuai untuk musim kemarau seperti
Super Philip, Bima, Kuning, Maja karena keterbatasan
varietas yang sesuai untuk musim hujan . Varietas
Bauji untuk sementara ini ditanam oleh petani di
wilayah Nganjuk dan Kediri pada musim hujan,
walaupun sebenarnya sudah dikenal petani Probolinggo
dengan nama bawang Biru dan ditanam oleh petani
Probolinggo pada musim kemarau dan musim hujan.
3. Ketergantungan petani bawang merah terhadap
benih impor
Dalam usahatani bawang merah, benih
merupakan salah satu faktor produksi yang memerlukan
biaya tinggi, dengan kebutuhan benih sekitar 800-1.200
kg/ha. Tingginya kebutuhan benih bawang merah baik
dalam bentuk benih komersial maupun benih sumber ,
ternyata belum diikuti produksi benihnya. Selain itu

petani bawang merah di Indonesia nampaknya sangat


tergantung terhadap benih impor seperti varietas Super
Philip dan varietas dari Thailand, India dan Vietnam
(berkembang di daerah Brebes). Padahal benih impor
varietas bawang merah yang tersebar di Indonesia
merupakan bawang merah untuk konsumsi yang
disimpan 2-3 bulan. Hal ini karena belum banyak
produsen yang mau bergerak di bidang perbenihan
bawang merah. (Indrawati dan Padmono, 2001) .
Kendala tersebut disebabkan antara lain : a) usaha
perbenihan bawang merah membutuhkan modal yang
cukup tinggi dan areal serta gudang yang luas, b)
pengetahuan dan ketrampilan SDM terutama dalam
produksi benih masih rendah , c) daya simpan benih
bawang merah rendah (2-5 bulan ) dengan susut bobot
yang tinggi , d) permasalahan penyimpanan benih dapat
diatasi dengan pembentukan benih berupa biji,
sayangnya ketrampilan ini cukup sulit disosialisasikan
pada petani
4. Kendala dalam hal sosialisasi dan substitusi
varietas unggul bawang merah
Nampaknya selera produsen dan konsumen
bawang merah di beberapa wilayah sentra produksi di
Indonesia cukup beragam dalam memilih dan
mengembangkan suatu varietas. Konsumen dan
produsen bawang merah di Jawa Timur sangat
menyukai varietas Super Philip karena produktivitasnya
tinggi, umbi besar dan bulat, warna umbi menarik

merah keunguan mengkilat walaupun rasanya tidak


terlalu pedas. Oleh karenanya varietas Super Philip
menyebar merata pada semua areal pertanaman bawang
merah di Jawa Timur dengan luasan 25.000 hektar dan
selalu dijumpai di pasar wilayah Jawa Timur.
Sedangkan di wilayah Kabupaten Brebes
sebagai sentra produksi bawang merah terbesar di
Indonesia (dengan luas areal tanam 16.993 hektar) dan
di Jawa Tengah pada umumnya (dengan luas areal
tanam 55.578 hektar) terdapat varietas bawang merah
yang beragam (Diperta Propinsi Jateng, 2001).
Varietas-varietas yang dikembangkan di Jawa Tengah
terdiri dari varietas lokal dan varietas introduksi , antara
lain : Bima Brebes, Kuning, Sumenep, Ampenan, Maja
Cipanas, Medan, Tawangmangu Baru, Super Philip,
India, Thailan dan Vietnam (Indrawati dan Padmono,
2001). Hal ini menunjukkan perbedaan selera
konsumen dan produsen di beberapa wilayah yang
mempengaruhi terhadap perkembangan suatu varietas
unggul/varietas baru.
Seperti halnya varietas Bauji yang telah dilepas
menjadi varietas unggul untuk musim hujan
nampaknya baru berkembang di daerah asalnya yaitu di
kabupaten Nganjuk dan sekitarnya. Usaha untuk
sosialisasi varietas Bauji sudah dilakukan pada setiap
kesempatan , baik secara formal dan non formal seperti
Temu Lapang, Pelatihan dan pertemuan dan wawancara
langsung dengan petani bawang merah . Namun
sampai saat ini varietas Bauji baru berkembang dengan
luas areal tanam sekitar 5.000 hektar. Hal ini karena

produktivitas varietas Bauji lebih rendah dibandingkan


varietas Super Philip bila ditanam di musim kemarau .
Sedangkan pada musim hujan, varietas Bauji lebih
unggul dibandingkan varietas Super Philip. Selain itu
oleh para tengkulak , hasil panen varietas Bauji dihargai
lebih rendah dibandingkan varietas Super Philip
sehingga petani memilih menanam varietas Super Philip
walaupun musim hujan. Dan keterbatasan produsen
benih varietas Bauji dengan usaha dalam skala kecil
yang hanya berada di Nganjuk dan beberapa di Kediri
mempengaruhi ketersediaan benih varietas tersebut.
PEMILIHAN VARIETAS
Banyak varietas bawang merah yang dibudidayakan di
Indonesia. Sampai saat ini perbanyakan dari varietasvarietas tersebut dilakukan secara vegetatif dengan umbi,
padahal varietas tersebut mampu berbunga dan berbiji
secara alami kecuali varietas Sumenep. Karena selalu
dibiak secara vegetatif maka praktis tidak ada perubahan
susunan genetiknya dan karena itu sampai sekarang tidak
didapatkan varietas yang tahan terhadap penyakit daun
yang sering menggagalkan pertanaman bawang merah
(Permadi, 1992).
Terdapat dua varietas unggul bawang merah yang baru
dilepas oleh Menteri Pertanian pada bulan Maret 2000
dan usulan pelepasannya dilakukan oleh BPTP Jawa
Timur. Kedua varietas tersebut adalah Super Philip (atau
lebih dikenal oleh petani sebagai varietas Philipine) dan
varietas Bauji yang berasal dari Kediri/ Nganjuk . Serta

satu varietas yaitu Batu Ijo yang masih dalam proses


pelepasannya.
Varietas Bauji merupakan varietas lokal yang belum
banyak dikenal oleh petani bawang merah. Namun di
sentra produksi bawang merah Nganjuk dan Kediri
sudah umum di tanam di musim hujan. Keragaan
tanaman varietas Bauji agak berbeda dengan varietas
Super Philip terutama pada penampilan daun dan
umbinya. Daun bawang merah varietas Bauji lebih
ramping (kecil) dengan warna lebih hijau dan sudut
antara daun lebih kecil dibanding Super Philip. Varietas
Bauji bila ditanam di musim hujan nampak lebih kekar
dibanding varietas Super Philip dan beberapa varietas
lain seperti Bima, Ampenan, Kuning dan sebagainya.
Namun bila Bauji ditanam di musim kemarau kurang
vigour pertumbuhannya dibandingkan varietas Super
Philip. Varietas Bauji akan tumbuh dan berproduksi
lebih baik di musim hujan karena varietas ini lebih
menyukai pada kelembaban udara yang tinggi dan tahan
terhadap curah hujan yang tinggi mulai awal
pertumbuhan sampai tanaman dipanen. Sedangkan
varietas bawang merah lainnya kecuali varietas
Sumenep sudah tidak mampu tumbuh dan berproduksi
dengan baik karena daunnya sudah hancur terkena air
hujan (Baswarsiati dkk, 1995 dan 1996; Rosmahani
dkk, 1997; Korlina dkk, 1998).
Dari hasil pengujian tersebut tampak bahwa
produktivitas varietas Bauji lebih tinggi dibanding
varietas pembanding lainnya kecuali dengan Bali Ijo
bila ditanam di musim hujan. Hasil umbi kering bisa

mencapai 13,65 ton per hektar dengan jumlah anakan


per rumpun lebih dari 10 serta tinggi tanaman di atas 35
cm. Ciri penting dari varietas Bauji yaitu daunnya
nampak lebih langsing (sempit) dengan warna daun
hijau tua, daun tebal, sudut daun kecil (lebih tegak),
warna umbi merah keunguan mengkilat, bentuk umbi
bulat lonjong dan daun nampak kekar bila ditanam di
musim hujan.
Varietas bawang merah Bauji yang merupakan varietas
lokal asal Nganjuk telah dilepas dengan Keputusan
Menteri Pertanian No 65/Kpts/TP.240/2/2000 sebagai
varietas unggul untuk musim hujan karena memiliki
daya hasil tinggi dan stabil, toleran terhadap
kelembaban udara tinggi dan curah hujan tinggi.
Sedangkan bawangmerah varietas Philipine yang
merupakan introduksi dari Philipine, sudah lebih dari 15
tahun dikenal dan ditanam petani dan telah menyebar ke
berbagai sentra produksi bawangmerah . Saat ini di
Jawa Timur, hampir seluruh petani bawangmerah
menanam varietas Philipine dan tidak lagi menanam
varietas bawangmerah lokal seperti Ampenan, Bima
yang dulu sebelum munculnya varietas Philipine
mendominasi varietas bawangmerah yang ditanam
petani. Luas tanam bawang merah varietas Philipine
hampir di seluruh areal pertanaman bawang merah di
Jawa Timur yaitu sekitar 24.610 hektar (Diperta Prop.
Jatim, 1998)
Keistimewaan varietas Super Philip adalah bentuk umbi
bulat dengan warna merah keunguan mengkilat, umbi
besar dengan rata-rata 8-10 g/umbi dan hal ini sangat

disukai konsumen. Selain itu varietas Philipine mampu


bertahan dipenyimpanan lebih dari 4 bulan. Tinggi
tanaman bisa lebih 40 cm dan bila ditanam di dataran
tinggi dengan kondisi tanah subur bisa mencapai tinggi
lebih 50 cm. Jumlah anakan berkisar 10-12, umur
panen 55-60 hari bila ditanam di dataran rendah dan 70
hari bila ditanam di dataran medium sampai tinggi.
Sedangkan produktivitas varietas Philipine yaitu 17
18 t/ha umbi kering Oleh karenanya varietas Philipine
telah dilepas oleh Menteri Pertanian menjadi varietas
unggul dengan nama Super Philip berdasarkan
Keputusan No 66/Kpts/TP.240/2/2000.
Varietas Batu Ijo merupakan varietas lokal asal Batu
yang telah ditanam petani kawasan Batu puluhan tahun
dengan nama asal Bali Ijo. Varietas ini telah diusulkan
pelepasannya karena mempunyai beberapa kelebihan
antara lain umbi sangat besar (> 20 gram/umbi) mirip
dengan bawang Bombay. Jumlah anakan sedikit 2-5
anakan per rumpun. Daun tanaman lebih lebar seperti
bawang daun. Batu Ijo sesuai ditanam di musim
kemarau , di dataran rendah hingga dataran tinggi (101300 m dpl).
KESESUAIAN AGROEKOLOGI
Persyaratan kesesuaian agroekologi untuk
usahatani bawang merah terutama ditentukan oleh
kelembaban, tekstur, struktur dan kesuburan tanah.
Secara umum tanaman bawang merah memerlukan
bulan kering 4-5 bulan , curah hujan 1000-1500 mm/th,
drainase dan kesuburan baik, tekstur lempung berpasir

dan struktur remah (Widjajanto et al, 1998). Sedangkan


setiap varietas bawang merah mempunyai daya adaptasi
yang lebih khusus pada agroekologi tertentu , seperti
halnya varietas Super Philip dan Bauji.
Bawangmerah varietas Super Philip dapat
diusahakan mulai di dataran rendah hingga di dataran
tinggi, yaitu 20 m 1000 m dpl. Sangat sesuai ditanam
di musim kemarau dengan sinar matahari dibutuhkan
sebanyak-banyaknya dan lahan tidak ternaungi. Tanah
yang diinginkan yaitu berdrainase baik dan kesuburan
tinggi, tekstur lempung berpasir dan struktur remah
dengan pH 6-6,5. Dapat dibudidayakan di lahan
sawah, lahan kering atau lahan tegalan, dengan jenis
tanah bervariasi dari Aluvial, Latosol dan Andosol
(Baswarsiati et al, 1998).
Bawangmerah varietas Bauji dapat diusahakan di
dataran rendah yaitu 20 m 400 m dpl ,sangat sesuai
ditanam di musim hujan.. Tanah yang diinginkan
berdrainase baik dan kesuburan tinggi, tekstur lempung
berpasir dan struktur remah dengan pH 6-6,5. Dapat
dibudidayakan di lahan sawah, dengan jenis tanah
bervariasi dari Aluvial, Latosol dan Andosol
(Baswarsiati et al , 1998).
PEMILIHAN BIBIT
Bibit merupakan salah satu kunci utama dalam
keberhasilan suatu usahatani . Adapun persyaratan bibit
bawang merah yang baik antara lain :

Umur simpan bibit telah memenuhi ,


yaitu sekitar 3-4 bulan, walaupun untuk umur simpan
yang lebih muda bibit tetap tumbuh namun pada
pertumbuhan berikutnya akan lebih rendah hasilnya
dibandingkan bibit yang telah siap tanam (telah
cukup umur simpannya).
Umur panen saat calon umbi bibit
ditanam di lapang , untuk varietas Bauji maupun
Super Philip sebaiknya 65 70 hari
Ukuran bibit sedang , sekitar 5-6 gram
. Penggunaan bibit yang berukuran terlalu besar akan
meningkatkan biaya karena kebutuhan bibit semakin
banyak
Kebutuhan bibit setiap hektar berkisar
800 1000 kg , tergantung dari besarnya bibit. Dan
biaya untuk pembelian bibit sekitar separo dari
seluruh biaya produksi.
Umbi bibit berwarna merah cerah,
dengan kulit mengkilat
Umbi bibit bernas , sehat, padat , tidak
keropos dan tidak lunak. Bila ada umbi bibit yang
tidak mempunyai sifat demikian sebaiknya tidak
digunakan sebagai bibit.
Umbi bibit tidak terserang hama dan
penyakit
Sebelum
ditanam,
umbi
bibit
dibersihkan dulu dari kulit-kulit yang kering dan bila
pertunasan belum kelihatan diujung umbi, maka

sebaiknya ujung umbi dipotong


mempercepat munculnya tunas

1/3

agar

PENGOLAHAN TANAH
Bawang merah membutuhkan kondisi tanah yang lebih
gembur dibanding tanaman sayuran lainnya . Oleh
karenanya pengolahan tanah pada bawang merah
dilakukan sampai beberapa kali hingga tanah benarbenar menjadi gembur. Bila tanah yang digunakan
merupakan tanah bekas ditanami jagung maupun tebu,
maka sisa tanaman tersebut harus dibersihkan hingga
akar-akarnya supaya tidak mengganggu pertumbuhan
bawang merah. Dapat juga menggunakan herbisida
sebelum tanah di olah untuk mematikan rumput dan
gulma lainnya ,seperti Goal maupun Roundup yang
diberikan dua minggu sebelum tanah diolah. Tanah
diolah dengan cara dibajak lebih dari 4 kali hingga
tanah menjadi gembur dan tanah dikeringkan lebih dari
seminggu .Kemudian tanah dihaluskan lagi, setelah
halus dapat dibuat bedengan dengan ukuran
Untuk musim kemarau : tinggi bedengan 25 cm
kedalaman parit 30-40 cm
lebar parit 50 cm.
Untuk musim hujan
: tinggi bedengan 40 cm
kedalaman parit 50 cm
lebar parit 50 cm.
Pada budidaya bawang merah sangat diperlukan
pembentukan bedengan, dimana adanya bedengan
berfungsi agar tanaman bawang merah tidak selalu

tergenang air , dan air yang disiramkan segera habis


terserap. Setelah bedengan terbentuk, maka ditaburi
pupuk kotoran ternak (pupuk kandang ) yang sudah
benar-benar matang, ditandai dengan kotoran ternak
sudah seperti tanah yang gembur. Dosis untuk kotoran
ayam sebanyak 5 ton/ha, sedangkan untuk kotoran sapi
maupun kambing sekitar 10-15 ton/ha. Namun dosis ini
bisa menjadi lebih banyak maupun lebih sedikit
tergantung dari kesuburan tanah.
Pupuk kandang yang diberikan bersamaan dengan
pembuatan bedengan merupakan perlakuan pemberian
pupuk dasar . Selain itu diberikan juga pupuk SP 36
dengan dosis 200 kg/ha swebagai pupuk dasar , yang
ditaburkan merata pada seluruh permukaan bedengan.
Pupuk kandang maupun SP 36 diberikan seminggu
sebelum tanam. Setelah tanah dipupuk maka tanah
diairi agar pupuk dapat meresap ke dalam tanah.
PENANAMAN
Musim tanam optimal untuk bawang merah yaitu pada
akhir musim hujan bulan Maret April dan musim
kemarau Mei Juni, tetapi di daerah pusat produksi
dapat dijumpai penanaman bawang merah tanpa
mengenal musim, Untuk penanaman di luar musim (off
season) perlu memperhatikan pengendalian hama dan
penyakit lebih cermat.
Penanaman dilakukan setelah tanah dan bibit sudah
dipersiapkan, dimana sebelum dilakukan penanaman
tanah harus diari agar saat penanaman kondisi tanah
gembur Seperti yang telah disampaikan sebelumnya,

bahwa bibit sebelum ditanam lebih baik dibersihkan


dan diseleksi terlebih dulu agar pertumbuhan tanaman
menjadi baik. Bila tidak diseleksi ditakutkan
tercampurnya bibit yang jelek karena terserang penyakit
seperti Fusarium , maka akan mengakibatkan
pertanaman hancur karena Fusarium tersebut.
Pembersihan bibit dilakukan sehari sebelum ditanam
serta ujung bibit sudah dipotong , dan esoknya dapat
dilakukan penanaman.
Untuk mempercepat proses penanaman, maka
sebaiknya bedengan yang akan ditanami sudah digariti
sesuai dengan jarak tanam yang digunakan , sehingga
penanaman lebih mudah dilaksanakan. Jarak tanam
yang dianjurkan yaitu 20 cm x 15 cm, namun bila umbi
bibit besar maka dapat menggunakan jarak tanam 20 x
20 cm. Penanaman dilakukan dengan cara menanam
2/3 bagian umbi ke dalam tanah, sedangkan 1/3
bagiannya muncul di atas tanah.
PENGAIRAN
Bawang merah membutuhkan air dalam kondisi yang
cukup sejak pertumbuhan awal hingga menjelang
panen. Air yang diberikan pada tanaman walaupun
dengan cara penggenangan/leb, namun harus segera
meresap ke dalam tanah. Bila tidak demikian maka
tanaman akan menjadi busuk dan sebagai sumber
penyakit. Oleh karena itu pembuatan bedengan sangat
diperlukan pada budidaya bawang merah . Hal ini
berhubunga sifat tanaman bawang merah yang
membentuk umbi di dalam tanah sehingga air yang
terlalu banyak akan membuat umbi menjadi busuk .

Pada musim kemarau , pengairan dapat diberikan setiap


hari sejak tanaman ditanam hingga tanaman membentuk
umbi dan dikurangi setelah umbi terbentuk. Namun
walaupun musim kemarau , bila kondisi tanah setelah
diairi dan selang dua hari tanah masih basah, maka
tanaman tidak perlu diairi. Oleh karena itu dituntut
kepekaan petani dalam mengamati kebutuhan air bagi
tanamannya.
Untuk musim hujan pengairan yang dibutuhkan lebih
sedikit yaitu selang dua hari sekali. Seperti di atas
maka yang penting melihat kondisi kelembaban tanah,
bila tanah masih lembab sebaiknya tidak perlu diairi.
Yang penting diamati yaitu setelah turun hujan,
sebaiknya tanaman bawang merah disirami dengan air
bersih yang tujuannya untuk menghilangkan inokulum
dari penyakit yang kemungkinan menempel di daun.
Cara pengairan dapat dilakukan dengan
penggenangan/leb maupun denan cara disiram/disirat.
Kedua cara tersebut sebenarnya mempunyai kelebihan
dan kekurangan. Untuk cara leb sebaiknya dilakukan
pada kondisi tanah yang porous, sehingga air yang
tergenang cepat habis (tuntas), walaupun cara ini
membutuhkan waktu yang lebih pendek dibandingkan
cara disiram. Sedangkan cara siram membutuhkan
tenaga lebih banyak dan waktu lebih lama. Namun di
daerah tertentu kedua cara tersebut juga dilakukan
bersamaan .
PEMUPUKAN

Pemupukan pada bawang merah sangat dibutuhkan


untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan produksi
umbi yang lebih baik. Namun pemupukan tidak perlu
diberikan secara berlebihan karena pupuk malahan akan
terbuang dengan percuma. Seperti misalnya setelah
tanaman membentuk umbi, maka sebaiknya pemupukan
dihentikan. Terkadang ada petani yang tetap
memberikan pupuk walaupun tanaman telah berumur
diatas 4- hari, dan ini hanya membuang pupuk dengan
sia-sia.
Dosis pupuk
Dosis pupuk sebenarnya bukan merupakan patokan
yang harus ditepati, karena memupuk suatu tanaman
akan berbeda pada setiap kondisi kesuburan tanah yang
berbeda. Namun dosis pupuk yang dapat dianjurkan
pada jenis tanah aluvial, seperti daerah Banyuanyar,
Probolinggo maupun Sidokare-Rejoso, Nganjuk seperti
berikut. Pupuk dasar menggunakan 10 t/ha pupuk
kandang dan SP 36 200 kg/ha yang diberikan 7 hari
sebelum tanam. Sedangkan pemupukan berikutnya
menggunakan pupuk urea 200 kg/ha, ZA 450 kg/ha dan
KCl 200 kg/ha yang diberikan separo-separo pada saat
tanaman berumur 15 hari dan 30 hari setelah tanam.
Cara pemupukan dengan meletakkan pada larikan di
sekitar tanaman, kemudian ditutup dengan tanah.
Pemberian pupuk pelengkap yang banyak beredar di
pasar sebenarnya kurang bermanfaat bagi peningkatan
pertumbuhan dan produksi bawang merah. Namun
pupuk pelengkap tersebut hanya sebagai tambahan

nutrisi pelengkap karena pada umumnya mengandung


unsur mikro. Untuk tanaman bawang merah, unsur
mikro kurang diperlukan karena tanaman bawang
merah berumur pendek yaitu sekitar 60-70 hari.
Sedangkan unsur mikro proses pelarutannya dan
penyerapannya ke dalam tanaman lama sehingga lebih
sesuai bagi tanaman sayuran yang berumur panjang
seperti cabai atau tomat.
PENGENDALIAN GULMA
Gulma merupakan tumbuhan pengganggu yang
menyebabkan tanaman utama terganggu
pertumbuhannya. Untuk tanaman bawang merah yang
umbinya terbentuk di dalam tanah maka kehadiran
guilma sangat mengganggu karena pembersihan gulma
harus hati-hati dan ditakutkan mengenai dan
mengganggu umbinya. Pembersihan gulma dilakukan
dengan cara menyiang dengan intensif sesuai dengan
kondisi gulma yang ada dengan cara mencabut gulma
sampai terangkat akar-akarnya serta menggunakan
herbisida pra tumbuh dengan dosis sesuai anjuran.
Cara membersihkan dan mencabut gulma harus hatihati supaya tidak mengganggu tanaman bawang merah
apalagi bila sudah berumbi. Pembersihan biasanya
menggunakan alat seperti sosrok bambu kecil sehingga
gulma dapat terangkat sampai ke akarnya. Bila
tanaman sudah membentuk umbi yang agak besar maka
sebaiknya pengendalian gulma dihentikan.
PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

Hama Ulat Bawang


Biologi dan Potensi Serangan
Ulat Spodoptera exigua dijumpai hampir pada setiap
umur tanaman bawang merah. Ulat berukuran panjang
sampai + 25 mm, berwarna hijau atau coklat dengan
garis tengah berwarna kuning. Serangga dewasa
meletakkan telur pada daun bawang merah dan gulma
yang tumbuh disekitarnya. Siklus hidup hama ini
sempurna yaitu telur, larva, pupa dan imago yang
berupa ngengat (Duriat, dkk., 1994). Pada saat awal
pertumbuhan bawang merah, biasanya dijumpai
kelompok telur dan larva stadia awal (instar 1 atau 2).
Populasi ini akan terus meningkat mulai tanaman
berumur 2 minggu sampai tanaman di panen. Fye dan
Mc Ada (1972) dalam Smits (1987), lamanya daur
hidup ulat sangat tergantung pada temperatur.
Temperatur yang makin tinggi akan memperpendek
lamanya stadia telur, larva, pupa dan ngengat. Periode
ngengat berkisar antara 10 20 hari. Setiap individu
betina dapat bertelur antara 500 600 butir. Setelah 2
6 hari telur menetas, larva membuat lubang pada
permukaan daun kemudian masuk ke bagian dalam
daun. Larva mempunyai 5 6 stadia dengan kisaran
umur 8,20 18,70 hari. Fase pupa berkisar 5,10 7,70
hari. Pada bulan Agustus Oktober, kemampuan
ngengat untuk bertelur lebih tinggi (Sutarya , 1996).
Ulat menyerang tanaman dengan cara memakan daun
bagian dalam, daun bawang merah tinggal
epidermisnya saja, sehingga pada daun terlihat bercak-

bercak putih transparan. Serangan hama ini kerusakan


dapat menyebabkan kehilangan hasil 56,94 57 %
(Dibyantoro, 1993; Sastrosiswoyo, 1994), bahkan pada
daerah Kab. Probolinggo pada saat tanam bulan
Agustus dapat menyebabkan kerusakan 100 % sehingga
menyebabkan puso ( Rosmahani dkk., 2001)
Hama ini termasuk hama yang menyerang banyak
spesies tanaman inang. Menurut Smits (1987), hama ini
mempunyai lebih dari 200 spesies tanaman inang yang
termasuk dalam lebih dari 40 famili yang berbeda,
namun tanaman inang yang utama adalah keluarga
bawang-bawangan, cabai merah dan jagung (Duriat
dkk., 1994).
Kondisi Pengendalian Saat Ini
Pola tanam yang umum dikerjakan oleh petani bawang
terutama dilahan irigasi, adalah padi bawang merah
bawang merah bawang merah atau padi bawang
merah cabai merah bawang merah. Padi ditanam
pada musim penghujan. Waktu yang dipilih untuk
merotasi tanah dengan tanaman padi tidak serentak.
Sejak akhir musim penghujan sampai dengan
pertengahan musim penghujan berikutnya petani
menanam bawang merah pada lahannya atau kadangkadang di sela dengan tanaman jagung. Pola tanam
demikian merupakan pola tanam yang tidak memutus
siklus hidup hama S. exigua. Keadaan ini menyebabkan
tersedianya semua stadia pertumbuhan bawang merah
serta tersedianya inokulum hama ulat S. exigua. dalam
areal yang luas di lapangan.

Penggunaan insektisida untuk mengendalikan hama


ulat S. exigua masih menjadi andalan utama para petani,
sehingga insektisida menjadi jaminan utama untuk
keberhasilan usahatani. Menurut Stallen dkk.(1990) di
sentra produksi bawang merah, petani umumya
mengendalikan ulat dengan menggunakan insektisida
yang beredar di pasaran dengan frekuensi dan dosis
yang cukup tinggi. Volume larutan insektisida yang
digunakan pada setiap aplikasi berkisar 560 1.588
liter per ha. Petani melakukan penyemprotan secara
berkala 3 4 hari sekali, sehingga dalam satu musim
tanam melakukan penyemprotan 15 20 kali
(Dibyantoro, 1995), bahkan pada musim tanam bulan
Agustus interval penyemprotan meningkat menjadi 1
2 hari sekali, sehingga dalam satu musim tanam dapat
mencapai 50 kali aplikasi insektisisda (Rosmahani dkk.,
1998). Jika udara panas terus menerus, maka
pengendalian ulat dengan cara mekanis ( mengambil
dan membuang kelompok telur maupun ulat) dan
dengan cara aplikasi insektisida (interval 1 2 hari
sekali) tetap tidak dapat mengendalikan populasi ulat
S. exigua yang meningkat cepat dalam waktu satu
minggu dapat menyebabkan tanaman bawang merah
puso (Rosmahani dkk., 2001)
Alternatif Pengendalian Secara Fisik
Sampai saat ini telah banyak hasil penelitian yang
menyajikan komponen komponen pengendalian yang
dapat dirakit dalam satu pengendalian secara PHT.
diantaranya adalah penerapan budidaya tanaman sehat,
pergiliran tanaman, penanaman serentak, pengendalian

secara mekanis, penggunaan seks feromon, penggunaan


alat semprot yang tepat, pengendalian secara hayati.
Namun jika lingkungan sudah kurang sesuai bagi
pertanaman bawang merah, terutama pada saat tanam
bulan Agustus, yang pada saat tersebut temperatur udara
sangat panas ( diatas 29 C), tidak ada curah hujan,
sumber infeksi hama sudah tersedia di sekitar
pertanaman karena sudah ada pertanaman sejak awal
musim kemarau, populasi hama dapat meningkat
dengan sangat cepat dalam waktu 1-2 hari diperlukan
alternatif komponen pengendalian yang lain.
Komponen pengendalian yang harus disertakan adalah
pengendalian fisik dengan jalan memberikan kerodong
kasa (Gambar 1.) pada seluruh tanaman dengan tinggi
kerodong 175 cm, yang dipasang sejak sebelum bibit
bawang merah ditanam sampai saat panen. Pada
keadaan ini petani masih dapat masuk kedalam
lerodong kasa untuk melakukan aktivitas pemeliharaan
tanamannya a.l.: tanam, aplikasi herbisida, penyiangan,
penyiraman, monitoring serangan hama, pengendalian
hama ulat secara mekanis dan panen.
Kasa dibuat dari bahan plastik dengan ukuran lubang
17 mesh. Pengendalian dengan cara ini sudah mulai
dilakukan oleh petani di Kab. Probolinggo sejak 6 8
tahun terakhir, dikombinasikan monitoring serangan
ulat , dua kali seminggu, pengendalian mekanis yaitu
mengambil dan membuang kelompok telur dan ulat
yang ada pada daun dan permukaan atas kerodong kasa,
aplikasi insektisida 1 2 kali per musim tanam jika
serangan hama thrips meningkat. Penggunaan kerodong

kasa ini dapat mengurangi bahkan meniadakan


penggunaan insektisida kimia, sehingga efek negatif
penggunaan insektisida juga dapat ditiadakan.
Kerodong kasa dapat diterapkan pada luasan
pertanaman yang sempit maupun yang luas namun pada
umumnya ukuran kerodong kasa yang diterapkan oleh
petani per unit antara 500 m2 sampai 2000 m 2.
Keberhasilan pengendalian hama ulat dengan
menggunakan kerodong kasa ini dapat mencapai 100 %
dan bawang merah dapat dipanen dengan hasil optimal.
Biaya penggunaan kerodong kasa untuk pertanaman
bawang merah dengan luas lahan 1300 m 2 adalah
sebesar Rp. 1.652.500,- (Analisa biaya tertera pada
Lampiran 1.). Biaya penggunaan kerodong kasa ini
setara dengan biaya aplikasi penggunaan insektisida.
Namun kerodong kasa ini dapat digunakan untuk 6 8
kali musim tanam bila perawatan kasa dilakukan
dengan baik (Rosmahani, dkk., 2001).
Keberhasilan kerodong kasa pada usahatani bawang
merah ini adalah sebagai barier fisik bagi masuknya
hama ulat S. exigua pada pertanaman bawang merah.
Ukuran lubang bahan kerodong kasa adalah sebesar 17
mesh, sehingga ngengat yang datang tidak dapat masuk
kedalam pertanaman bawang merah. Jika ngengat
hinggap pada permukaan bagian atas kerodong kasa dan
bertelur maka masih ada kemungkinan telur untuk jatuh
pada daun bawang merah di dalam kerodong kasa. Hal
ini dapat ditanggulangi dengan pengendalian mekanis
yaitu dengan mengambil dan membuang kelompok
telur yang ada pada tanaman bawang merah. Secara

tidak langsung secara ekologis kerodong kasa dapat


membantu memperbaiki lingkungan tumbuh bawang
merah pada saat musim kemarau (saat tanam bulan
Agustus). Pada saat tanam tersebut udara panas dan
kering , dengan temperatur udara > 30 C. Pada kondisi
udara yang panas dan kering daun bawang merah dapat
mengalami respirasi yang tinggi (Sumami dan Rosliani,
1995), keadaan ini menyebabkan tanaman menjadi
lemas, dan lemah. Penggunaan kerodong kasa secara
fisik juga dapat mengurangi intensitas sinar matahari
dan respirasi tanaman sehingga pertumbuhan tanaman
bawang merah dapat berlangsung dengan normal
sehingga dapat menghasilkan umbi dengan baik. Selain
itu penggunaan kerodong kasa menyebabkan
pengurangan penggunaan insektisida dalam jumlah
besar sehingga juga dapat menekan efek negatif
insektisida baik di lapangan maupun di tingkat
kosumen.
Potensi Pengembangan Teknologi
Potensi pengembangan teknologi nampaknya cukup
bagus. Luas pertanaman bawang merah yang
menggunakan kerodongkasa pada tahun 2001 di Kab.
Probolinggo mencapai 210 ha (Rosmahani, dkk.,
2001). Pengembangan teknologi dapat dicapai yaitu
dengan cara sosialisasi penerapan kerodong kasa secara
bertahap yang dimulai dari petani disekitar petani yang
telah menggunakan, meluas kepada petani disekitarnya.
Kegiatan ini membutuhkan waktu yang tidak singkat
mengingat petani sudah sangat terbiasa selama
bertahun-tahun mengendalikan hama dan penyakit

bawang merah secara konvensional dengan pestisida


kimia sintetik. Perubahan praktek pengendalian
organisme pengganggu tumbuhan secara konvensional
ke sistem PHT perlu dilakukan secara bertahap melalui
program pelatihan dan penyuluhan yang intensif
(Untung, 1993).
Selain itu beberapa hal perlu dicermati agar
pengembangan penerapan kerodong kasa sebagai
pelengkap komponen PHT dapat berlangsung yaitu:
Hal-hal yang dapat memacu keberhasilan
penerapan kerodong kasa pada bawang merah a.l:
Semakin banyak petani yang
mengikuti program SLPHT
Semakin mahalnya harga pestisida
kimia sintetik
Semakin seringnya petani mengalami
kegagalan dalam penggunaan pestisida kimia saja
Kesadaran masyarakat konsumen
maupun perodusen bawang merah akan bahaya residu
pestisida kimia sintetik
Hal-hal yang masih menjadi penghambat
keberhasilan penerapan kerodong kasa sebagai
komponen pelengkap PHT pada bawang merah a.l:
Semakin sempitnya kesempatan
memiliki lahan garapan sendiri. Semakin banyak
petani yang menggadaikan lahan garapannya untuk
selama lebih dari dua tahun, karena keterbatasan
penghasilan, keterbatasan modal usaha. Petani

berubah menjadi penggadu untuk lahannya sendiri


sebab sarana produksi disediakan oleh pemilik modal,
padahal pemilik modal tidak berada ditempat dan
tidak mau tahu dengan keadaan ekosistem dilahan
garapan, sehingga untuk keperluan usahatani bawang
merah disediakan pestisida kimia dalam jumlah
banyak. Petani sulit menentukan pilihan pengendalian
lain selain penggunaan pestisida kimia.
Pemilik toko pertanian sering
meminjamkan modal berupa pupuk dan pestisida
yang dapat dibayar jika saat panen tiba.
Kurangnya kelompok tani yang dapat
menghimpun petani untuk memecahkan persoalan
usahatani, termasuk pengusahaan pinjaman modal
untuk penerapan kerodong kasa pada tanaman
bawang merah dalam areal luas.
Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum)
Gejala serangan, tanaman kurus
kekuningan dan busuk bagian pangkal
Tanaman mudah tercabut karena
pertumbuhan akar terganggu dan membusuk
Tanaman yang terserang segera dicabut
dan dimusnahkan
Pencegahan di daerah endemis
Fusarium, perlu perlindungan bibit dengan
menaburkan fungisisda dosis 100 gram/100 kg bibit
yang diberikan dua tau tiga hari sebelum tanam

Di daerah endemis sebelum tanam,


tanah yang sudah diolah diberi fungisida seperti
Fapam sebanyak 2 cc/l, untuk mematikan patogen
dan Fusarium

Penyakit Becak Ungu /Trotol (Alternaria porri)


Gejala awal serangan pada daun
menimbulkan bercak berukuran kecil, berwarna putih
dengan pusat berwarna ungu
Ujung daun mengering bahkan daun
dapat patah
Bila tanaman terkena hujan atau
embun, segera disiram air bersih untuk mengurangi
penularan spora penyakit yang menempel pada daun
Pengendalian dengan menggunakan
fungisida selektif dengan dosis sesuai anjuran, bila
intensitas serangan mencapai 5 % tanaman terserang
perlu
Yang perlu diperhatikan dalam pengendalian hama dan
penyakit menggunakan pestisida yaitu :
Memilih pestisida yang tepat , sesuai
target hama atau target penyakit
Jangan menggunakan pestisida lebih
dari 1 macam pada satu waktu penyemprotan
Gunakan beberapa macam pestisida
secara bergantian , agar hama dan penyakit tidak
kebal terhadap satu macam pestisida

Jangan menggunakan dosis yang


berlebihan karena tidak efektif dan akan menambah
biaya produksi
Waktu penyemprotan agar
diperhatikan , sebaiknya sebelum matahari terbit atau
sore hari
Cara penyemprotan tepat mengenai
sasaran serta searah dengan angin
PENINGKATAN MUTU DAN HASIL PANEN
Umur panen tergantung varietas,
namun dapat menggunakan dasar :
untuk konsumsi : 50-60 hari setelah tanam (di
dataran rendah)
70-75 hari setelah tanam (di dataran tinggi
_
kerebahan daun 70-80 %
untuk umbi bibit : 65-70 hari setelah tanam (di
dataran rendah)
80-90 hari setelah tanam (di dataran tinggi
_
kerebahan daun 90 %
Waktu panen udara cerah dan tidaj
basah
Keseluruhan daun tampak menguning
Sebagian umbi nampak tersembul
keluar

Cara panen dengan mencabut


keseluruhan tanaman secara hati-hati
Hasil panen diikat 1-1,5 kg setiap
ikatan
Pelayuan atau curing sebelumbawang
merah dikeringkan dengan menjemur 2-3 hari di
bawah terik sinar matahari
Pengeringan dilakukan 7-14 hari,
hingga mencapai susut bobot 25-40 % atau sampai
kering askip
Untuk mengetahui kesiapan umbi
kering askip yaitu menyimpan sedikit contoh dalam
kantong plastik putih selama 24 jam, bila sudah tidak
ada titik air dalam kantong, berarti sudah mencapai
kering askip
Penyimpanan bawang merah dapat
dilakukan di atas perapian , menggunakan para-para
bambu dan di bawahnya diberi pengasapan
Penyimpanan di ruang berventilasi
sangat baik karena mempunyai sirkulasi udara yang
baik dan dapat mencegah serangan hama dan
penyakit seperti rumah sere dan gudang
berpembangkit vorteks (mengubah aliran udara jenuh
dalam gudang, dengan menghembus ke atas keluar
gudang dan digantikan udara luar yang lebih bersih
oleh adanya vorteks).
Sortasi dilakukan untuk memisahkan
umbi yang sehat , utuh dan menarik dengan umbi

yang telah rusak. Sortasi dapat meningkatkan nilai


jual dan mencegah penularan penyakit
Grading dilakukan untuk menentukan
tingkat mutu produk, sehingga harga dapat ditentukan
sesuai mutunya. Grading dilakukan dalam beberapa
kelas yaitu kelas I diameter > 2,5 cm, kelas II =1,52,5 cm , kelas III < 1,5 cm.