Anda di halaman 1dari 6

Tanggal Praktikum : 18 November 2015

Mata Kuliah
: Toksikologi Veteriner
Kelompok
: 4 (Empat)
Waktu
: 14.30 17.00 WIB
Dosen Pembimbing : Drh. Andriyanto, M.Si

Pestisida

Oleh:
1. Relisa Istiatma

B04120060

.....................

2. Fitra Yovita Delviona

B04120069

.....................

3. Dinda Septianan Tampubolon

B04120113

.....................

4. Intan Anindita Suseno

B04120114

.....................

5. Kanti Rahmi Fauziyah

B04120125

.....................

6. Fajar Alhamda Saputra Harli

B04120204

.....................

BAGIAN FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI


DEPARTEMEN ANATOMI, FISIOLOGI, DAN FARMAKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pestisida merupakan gabungan dari dua kata, pest (hama) dan cide
(basmi), jadi pestisida adalah bahan kimia untuk membunuh hama (insekta, jamur
dan gulma).Pestisida dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu insektisida
(pembunuh insekta), herbisida (pembunuh tanaman pengganggu), dan rodentisida
(pembunuh hama pengerat).
Pestisida telah secara luas digunakan untuk tujuan memberantas hama dan
penyakit tanaman dalam bidang pertanian. Pestisida juga digunakan dirumah
tangga untuk memberantas nyamuk, kepinding, kecoa dan berbagai serangga
penganggu lainnya. Selain itu, pestisida ini secara nyata banyak menimbulkan
keracunan pada orang. Kematian yang disebabkan oleh keracunan pestisida
banyak dilaporkan baik karena kecelakaan waktu menggunakannya, maupun
karena penyalahgunaan (untuk bunuh diri).
Penggunaan pestisida yang telah mengalami pergeseran inilah yang
menyebabkan berbagai masalah baik dalam bidang pertanian itu sendiri maupun
dibidang kesehatan serta pengerusakan ekosistem. Pada petani pestisida hampir
menjadi santapan keseharian, terutama saat melakukan budidaya tanaman yang
membutuhkan perawatan intensif. Pestisida sangat berbahaya bagi manusia,
terutama masalah kesehatan. Pestisida bisa masuk melalui kulit, saluran
pernapasan bahkan tertelan melalui mulut. Para pelaku budidaya agribisnis, baik
budidaya pertanian, perikanan, peternakan, maupun perkebunan hendaknya
mewaspadai bahaya pestisida.
Dewasa ini bermacam-macam jenis pestisida telah diproduksi dengan
usaha mengurangi efek samping yang dapat menyebabkan berkurangnya daya
toksisitas pada manusia, tetapi sangat toksik pada serangga. Pestisida yang banyak
menimbulkan keracunan, yaitu insektisida. Insektisida yang paling banyak
menimbulkan keracunan, yaitu senyawa organoklorin, senyawa organofosfat,
senyawa karbamat, dan insektisida alami seperti piretrin, rotenone, dan nikotine.

Senyawa organofosfat dan senyawa karbamat menggangu fungsi sistem


syaraf. Efek toksik yang timbul karena pengikatan dan penghambatan enzim
asetilkolin esterase (AChE) yang terdapat pada sinaps dalam sistem syaraf pusat
maupun otonom serta pada ujung syaraf otot lurik.
Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk memberikan pengarahan dan pemahaman
mengenai gejalagejala, penanggulangan dan pengenalan racun pada keracunan
pestisida.
BAB II
METODELOGI
Percobaan 1 Keracunan Insektisida Organofosfat/Karbamat
Alat dan Bahan
Mencit,

insektisida

organofosfat

(basudin/diazinon,

dimecron)

dan

Karbamat (baygon/propoxur), atropin sulfat sebagai antidota.


Prosedur
Mencit disuntik secara subkutan dengan organofosfat dengan dosis
bertingkat dimulai dari 0,05 cc, 0,1 cc, 0,15 cc, 0,2 cc dan seterusnya. Pemberian
organofosfat degan selang 3-5 menit. Atropin sulfat diberikan setelah muncul
gejala sesak nafas, hiperlakrimasi dan hipersalivasi.
Percobaan 2 Identifikasi Adanya Unsur P dalam Senyawa Organofosfat
Alat dan Bahan
Tabung reaksi, senyawa insektisida organofosfat (Basudin/Demecron),
larutan ammonium molybdat, larutan asam nitratpekat.
Prosedur
Beberapa tetes senyawa organofosfat diteteskan ke dalam tabung reaksi,
kemudian ditambahkan HNO3 pekat untuk merubah P organik menjadi P
anorganik. Setelah itu dipanaskan beberapa menit, lalu dinginkan dan kemudian
disaring. Setelah itu ditambahkan Ammonium molybdat ke dalam filtratnya. Bila
ada unsur P maka akan terbentuk warna hijau kekuningan.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Percobaan 1 Keracunan Insektisida Organofosfat/Karbamat
Dosis
0,05
0,1
0,2
0,4
Keterangan:

1
+
1, 2

2
+

3
+
++

4
+
++

5
+
++

= Karbamat

3, 4, 5 = Organofosfat
+

= Tidak ada gejala


= Ada gejala

Efek farmakologis senyawa anti-ChE yang khas terutama karena


pencegahan hidrolisis ACh oleh AChE pada tempat transmisi kolinergik.
Transmitter selanjutnya berakumulasi dan meningkatkan respon terhadap ACh
yang dibebaskan oleh impuls kolinergik atau yang secara spontan dilepaskan dari
ujung saraf. Hampir seluruh efek akut organofosfat dosis sedang dikaitkan dengan
kerja ini.
Pada praktikum diperoleh hasil bahwa senyawa organofosfat lebih cepat
onsetnya terjadi gejala klinis dibandingkan pada senyawa karbamat. Gejala klinis
yang tampak terlihat akibat senyawa organofosfat adalah sesak nafas, sedangkan
gejala klinis akibat senyawa karbamat adalah kifosis dan diare. Obat-obat yang
mempunyai suatu sambungan ester karbamoil seperti fisostigmin dan neostigmin
dihidrolisis oleh AChE tetapi lebih lambat dibandingkan ACh. Suatu peningkatan
potensi dan durasi kerja anti-ChE dapat dihubungkan dengan ammonium
kuartener. Inhibitor karbamoilasi yang mempunyai kelarutan dalam lipid yang
tinggi mudah melintasi sawar darah-otak dan mempunyai durasi kerja yang lebih
lama. Karbamat mempunyai toksisitas yang lebih rendah dikarenakan absorbsi
melalui kulit.
Secara umum, senyawa yang banyak mengandung ammonium kuartener
tidak mudah berpenetrasi kedalam membran sel, sehingga senyawa anti-ChE
dalam kategori ini sedikit diabsorbsi dari gastrointestinal atau melintasi kulit dan
tidak dapat masuk ke SSP melalui sawar darah-otak setelah pemberian dosis

sedang. Dilain pihak, senyawa tersebut lebih suka bekerja pada taut
neuromuscular otot rangka, bekerja baik sebagai senyawa anti-ChE maupun
sebagai agonis langsung. Senyawa-senyawa ini kurang mempunyai efek pada
tempat efektor dan ganglia. Sebaliknya, senyawa yang lebih larut lipid diabsorbsi
dengan baik setelah pemberian oral mempunyai efek yang tersebar luas pada
tempat kolinergik pusat dan perifer yang tersembunyi dalam lipid pada waktu
yang lama. Senyawa organofosfat larut lipid juga diabsorbsi dengan baik melalui
kulit dan senyawa yang menguap mudah dipindahkan melalui membran alveolar.
Kerja senyawa anti-ChE pada sel efektor autonom dan pada tempat
kortikal dan subkortikal di SSP, tempat reseptor tersebut yang sebagian besar
merupakan tipe muskarinik diblok oleh atropin. Atropin juga memblok beberapa
kerja eksitatori senyawa anti-ChE pada ganglia otonom karena baik reseptor
muskarinik maupun nikotinik terlibat dalam neurotransmisi ganglionik.
Percobaan 2 Identifikasi Adanya Unsur P dalam Senyawa Organofosfat
No
.
1.

2.

Nama senyawa

Gambar hasil reaksi

Interpretasi

Basudin
(organofosfat)

Positif (warna
kuning kehijauan)

Propoxur
(karbamat)

Negatif (warna
kuning)

Unsur fosfor (P) dalam pestisida yang termasuk dalam senyawa


organofosfat dapat dideteksi melalui reaksi dengan zat amonium molibdat. Unsur
P yang terdapat dalam senyawa organofosfat bersifat organik. Dalam reaksi ini,
sifat organik unsur P diubah menjadi anorganik dengan zat asam nitrat pekat.

Amonium molibdat merupakan pereaksi yang digunakan untuk menguji kadar


fosfor. Zat ini akan berikatan dengan ion fosfat yang terkandung dalam senyawa
organofosfat membentuk kompleks amonium fosfomolibdat. Kompleks ini
berwarna hijau kekuningan (Lancashire 2011). Warna hijau kekuningan dijadikan
indikator adanya kandungan unsur P dalam suatu zat.
Insektisida Basudin merupakan senyawa yang termasuk golongan
organofosfat. Hal ini dibuktikan dengan hasil reaksi filtrat dengan amonium
molibdat yang menunjukkan warna hijau kekuningan. Insektisida propoxur
merupakan senyawa yang termasuk golongan karbamat. Karbamat merupakan
senyawa organik yang tidak memiliki unsur P di dalamnya. Oleh karena itu, hasil
reaksi menunjukkan hasil negatif.
Kesimpulan
Pada praktikum ini gejala klinis yang tampak terlihat akibat senyawa
organofosfat adalah sesak nafas, sedangkan gejala klinis akibat senyawa karbamat
adalah kifosis dan diare. Penanggulangan untuk keracunan akibat pestisida
dilakukan dengan memberikan parasimpatolitik (atropin). Pada senyawa basudin
hasil reaksi filtrat dengan amonium molibdat yang menunjukkan warna hijau
kekuningan, menunjukkan bahwa basudin termasuk golongan organofosfat.
Insektisida propoxur menunjukkan hasil negatif karena propoxur termasuk dalam
golongan karbamat.
DAFTAR PUSTAKA
Lancashire RJ. 2011. Colourimetric determination of phosphate. [terhubung
berkala].
http://chem.uwimona.edu.jm/lab_manuals/c10expt36.html.
Diunduh tanggal 23 November 2015.