Anda di halaman 1dari 46

Persalinan menurut Manuaba (1998)

adalah proses pengeluaran hasil konsepsi


(janin dan uri) yang telah cukup bulan atau
dapat hidup di luar kandungan melalui jalan
lahir atau melalui jalan lain, dengan
bantuan atau tanpa bantuan.

Persalinan normal menurut Farer (2001) adalah


persalinan yang memiliki karakteristik sebagai berikut :
1.Terjadi pada kehamilan aterm, bukan premature
ataupun postmatur
2.Mempunyai onset yang spontan, bukan karena induksi
3.Selesai setelah 4 jam dan sebelum 24 jam sejak saat
onset bukan partus presipitatus atau partus lama
4.Janin tunggal dengan presentasi puncak kepala dan
oksiput pada bagian anterior pelvis
5.Terlaksana tanpa bantuan artificial
6.Tidak terdapat komplikasi
7.Mencakup kelahiran plasenta yang normal

1.
2.
3.
4.
5.

TEORI
TEORI
TEORI
TEORI
TEORI

PENURUNAN PROGESTERON
OKSITOSIN
PEREGANGAN OTOT RAHIM
JANIN
PROSTAGLANDIN

1. Teori penurunan progesteron


Selama kehamilan, hormone Estrogen
dan progesteron kedua hormon akan
mengratur konsentrasi oksitosin dalam uterus
sehingga uterus tidak berkontraksi. Ketika
proses persalinan dimulai progesteron
menurun, sehingga yang dominan tinggal
estrogen. Hormon Estrogen akan
memfasilitasi terjadinya kontraksi uterus.

2. Teori oksitosin
Oksitosi menstimulasi kontraksi uterus
dengan aksi langsungnya pada miomertium
dan secara secara tidak langsung
meningkatkan prostaglandin pada desidua
basalis. Pada uterus akan terjadi peningkatan
sensitif oksitosin pada akhir kehamilan.

3. Teori peregangan otot rahim

Seiring dengan bertambahnya usia


kehamilan makabertambah meregang pula
otot-otot rahim,. Otot rahim ini mempunyai
batas optimal untuk meregang dengan
matangnya kehamilan, akhirnya setelah
optimal otot ini berusaha untuk
mengeluarkan hasil konsepsi dengna
berkontraksi pada proses persalinan.

4. Teori janin
Dalam glan adrenal fetal memproduksi sekret
kortikosteroid yang akan memacu mekanisme
pimpinan persalinan, dikeluarkan setelah
fetal itu matur. Fetal steroid ini akan
menstimulasi pelepasan prekursor
prostaglandin sehingga merangsang
kontraksi uterus.

5. Teori prostaglandin
Prostaglandin mempunyai kemampuan efektif
untuk merangsang kontraksi uterus pada
beberapa fase kehamilan. Diproduksi oleh
desidua uterus, tali pusat dan amnion.

a. Lightening atau settling atau dropping


Yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul.
Pada primigravida terjadi menjelang minggu ke36. Lightening disebabkan oleh :
1)
Kontraksi Braxton hicks
2)
Ketegangan dinding perut
3)
Ketegangan ligamentum rotundum
4)
Gaya berat janin
Saat kepala masuk pintu atas panggul, ibu akan
merasakan rasa sesak pada perut bagian atas
berkurang dan pada bagian bawah terasa sesak.

b. Perut kelihatan lebih melebar dan fundus


uteri tampak turun
c. Sering miksi atau sulit berkemih
d. Sakit di pinggang dan di perut
e. Serviks mulai lembek dan mendatar
Pada multipara gambaran ini kurang jelas,
karena kepala janin baru masuk pintu atas
panggul menjelang persalinan

f. Terjadinya his permulaan atau his palsu


Sifat dari his palsu antara lain :
1) Rasa nyeri ringan di bagian bawah
2) Datangnya tidak teratur
3) Durasi pendek
4) Tidak bertambah dengan beraktivitas
5) Tidak ada perubahan pada serviks

Terjadi his persalinan, dengan karakteristik :


1.Pinggang

terasa sakit yang menjalar ke depan, sifat


sakitnya teratur, interval makin pendek dan
kekuatannya semakin besar
2.Berpengaruh terhadap perubahan serviks
3.Dengan beraktivitas kekuatan makin bertambah
4.Pengeluaran lender bercampur darah
5.Kadang kadang ketuban pecah dengan sendirinya
6.Hasil pemeriksaan dalam menunjukkan terjadinya
perlunakan, pendataran dan pembukaan serviks

KALA I
Kala

satu persalinan dimulai saat munculnya


kontraksi uterus yang teratur dan meningkat
sampai pembukaan serviks lengkap (10cm).
Kala satu persalinan dibagi dalam dua fase
yaitu fase laten dan fase aktif.

Fase laten
Kala I fase laten terjadi saat uterus mulai berkontraksi
sampai pembukaan serviks kurang dari 4 cm dan
kontraksi terjadi teratur minimal 2 kali dalam 10 menit
selama 40 detik.

Penanganan:
Memberi dukungan dan meyakinkan dirinya dan
mendengarkan keluhan
Jika ibu tampak kesakitan maka lakukan perubahan
posisi, menyarankan untuk berjalan, mengajarkan teknik
bernafas, ibu diminta untuk menarik nafas panjang,
menahan nafasnya sebentar kemudian dilepaskan
dengan cara meniup udara ke luar sewaktu terasa
kontraksi.

Penolong tetap menjaga hak privasi ibu dalam persalinan,


misalnya dengan tirai
Untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah
dehidrasi, berikan cukup minum.
Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin

Pemeriksaan dalam
Pemeriksaan

dalam sebaiknya dilakukan setiap 4 jam


selama kala I pada persalinan dan setelah selaput
ketuban pecah.
Pada setiap pemeriksaan dalam, catatlah hal-hal
sebagai berikut: warna cairan amnion, dilatasi serviks,
dan penurunan kepala.

Fase aktif
Dimulai jika pembukaan serviks lebih dari 4 cm
sampai pembukaan lengkap. Pada fase aktif
kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap
(3 kali atau lebih dalam 10 menit

Partograf: dipakai untuk memantau kemajuan


persalinan dan membantu petugas kesehatan
dalam mengambil keputusan dalam pelaksanaan.
Partograf dimulai pada pembukaan 4 cm (fase
aktif).

Denyut Jantung Janin (DJJ), catat setiap 1 jam


Air ketuban, catat warna air ketuban setiap
melakukan pemeriksaan vagina: U: selaput utuh, J:
selaput pecah, air ketuban jernih, M: air ketuban
bercampur mekoneum, D: air ketuban bernoda
darah, K: tidak ada cairan ketuban atau kering.
Perubahan bentuk kepala janin (molding): 0: sutura
terpisah, 1: sutura bersesuaian, 2: sutura tumpang
tindih tetapi dapat diperbaiki, 3: sutura tumpang
tindih dan tidak dapat diperbaiki.
Pembukaan mulut serviks, dinilai setiap setiap 4 jam
dan diberi tanda silang.
Penurunan: mengacu pada bagian kepala yang
teraba di atas simfisis.

Waktu, menyatakan berapa jam waktu yang telah


dijalani sesudah pasien diterima.
Kontraksi, catat setiap setengah jam. Lakukan palpasi
untuk menghitung banyaknya kontraksi dalam 10
menit dan lamanya tiap-tiap kontraksi dalam
hitungan detik: <20 detik, 20-40 detik, > 40 detik.
Oksitosin, jika memakai oksitosin, catatlah
banyaknya oksitosin per volume cairan infus dan
dalam tetesan per menit.
Obat yang diberikan
Nadi, catat setiap 30-60 menit
Tekanan darah, catat setiap 4 jam dan tandai dengan
anak panah
Proein, aseton, dan volume urin, catat setiap kali ibu
berkemih

KALA II
Persalinan kala II ditegakkan dengan
melakukan pemeriksaan dalam untuk
memastikan pembukaan sudah lengkap atau
kepala janin sudah tampak di vulva dengan
diameter 5-6 cm.

Penanganan:
1.Memberikan

dukungan terus menerus kepada ibu.


2.Menjaga kebersihan diri: tetap menjaga kebersihan
dan jika ada lendir atau darah dibersihkan.
3.Mengipasi dan masase untuk menambah kenyamanan
bagi ibu.
4.membrikan dukungan mental untuk mengurangi
kecemasan atau ketakutan ibu.
5.Mengatur posisi ibu, seperti Jongkok, menungging,
tidur miring, setengah duduk.
6.Memberikan cukup minum: membri tenaga,
mencegah dehidrasi

Kemajuan persalinan dalam kala II:


1.Penurunan

yang teratur dari janin di jalan

lahir.
2.Dimulainya fase pengeluaran

Kelahiran kepala bayi:


Mintalah

ibu mengejan atau memberikan sedikit dorongan


saat kepala bayi lahir
Letakkan satu tangan ke kepala bayi agar defleksi tidak
terlalu cepat.
Menahan perineum dengan satu tangan lainnya, jika
diperlukan.
Mengusap muka bayi untuk membersihkan dari kotoran
lendir atau darah.
Periksa tali pusat: jika tali pusat melilit leher bayi dan terlihat
longgar, selipkan tali pusat melalui kepala bayi. Jika lilitan
terlalu ketat, tali pusat diklem pada dua tempat kemudian
digulung di antara kedua klem tersebut, sambil melindungi
leher bayi.

Kelahiran bahu dan anggota seluruhnya:


Biarkan

kepala bayi berputar dengan sendirinya.


Tempatkan kedua tangan pada sisi kepala dan leher bayi
Lakukan tarikan lembut ke bawah untuk melahirkan bahu depan.
Lakukan tarikan lembut ke atas untuk melahirkan bahu belakang.
Selipkan satu tangan ke bahu dan lengan bagian belakang bayi
sambil menyangga kepala dan selipkan satu tangan lainnya ke
punggung bayi untuk mengeluarkan tubuh bayi seluruhnya.
Letakkan bayi tersebut di atas perut ibunya, secara menyeluruh
keringkan bayi, bersihkan mata dan nilai pernafasan bayi.
klem dan potong tali pusat.
Pastikan bahwa bayi tetap hangat dan memiliki kontak kulit
dengan dada ibu.
Bungkus bayi dengan kain yang halus dan kering dengan selimut
dan pastikan kepala bayi terlindung dengan baik untuk
menghindari hilangnya panas tubuh.

KALA III
Kala III terjadi setelah lahirnya bayi sampai
dengan lahirnya plasenta. Penatalaksanaan
aktif kala III (pengeluaran aktif plasenta)
membantu menghindarkan terjadinya
perdarahan pascapersalinan.

Penatalaksanaan :
Pemberian oksitosi dengan segera
Pengendalian tarikan pada tali pusat
Pemijatan uterus segera setelah plasenta
lahir.

KALA IV
Dua jam pertama setelah persalinan.

Penanganan:
Periksa

fundus setiap 15 menit pada jam


pertama dan setiap 20-30 menit selama jam
kedua.
Periksa tekanan, nadi, kantung kemih,
perdarahan setiap 15 menit pada jam pertama
dan setiap 30 menit pada jam kedua.
Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah
dehidrasi.
Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian
ibu yang bersih dan kering.

Biarkan ibu beristirahat, bantu ibu pada posisi


nyaman.
Biarkan bayi pada ibu untuk meningkatkan
hubungan ibu dan bayi.
Bayi sangat siap segera setelah kelahiran, hal
ini sangat tepat untuk memberikan ASI.
Jika ibu perlu ke kamar mandi, ibu boleh
bangun, pastikan ibu dibantu karena masih
dalam keadaan lemah atau pusing setelah
persalinan. Pastikan ibu sudah buang air kecil
dalam 3 jam persalinan.
Ajari ibu atau anggota keluarga tentang:
bagaimana memeriksa fundus dan
menimbulkan kontraksi tanda-tanda bahaya
bagi ibu dan bayi.

1.
2.
3.
4.
5.

PASSAGE (JALAN LAHIR)


POWER
PASSENGER
PSYCHE
FAKTOR PENOLONG

Passage (Jalan Lahir)


Bidang pelvis terbagi atas:
Pintu atas panggul (PAP) disebut inlet. Bidang
ini terletak miring, membentuk sudut 55 derajat
dengan bidang horisontal.
Pintu tengah panggul (PTP), mid pelvis
merupakan bagian panggul yang terletak paling
sempit karena terdapat spina ischiadika.
Pintu bawah panggul (PBP), disebut juga autlet

Power

Dua kekuatan yang berpengaruh selama proses


persalinan yaitu kontraksi uterus dan
kemampuan ibu untuk mengejan.
Kontraksi Uterus (His)
Kontraksi uterus merupakan kekuatan utama
yang berperan selama proses persalinan.
Kontraksi uterus ini muncul mulai kala 1
persalinan sampai pembukaan serviks lengkap.
Beberapa faktor yang mempengaruhi intensitas
dan keefektifan kontraksi uterus, antara lain
frekuensi olahraga jalan kaki, obat obatan,
kecemasan, latihan vagina selama hamil.

Sifat Sifat His


His pendahuluan sifatnya tidak kuat, tidak
teratur dan menyebabkan keluarnya lendir
darah.
His pembukaan (kala I) biasanya semakin
kuat, lebih teratur, terasa sakit dan
menyebabkan pembukaan serviks.
His pengeluaran (Kala II) sifatnya sangat kuat,
teratur, simetris dan terkoordinasi karena
untuk mengeluarkan janin.
His pelepasan uri (Kala III) sifatnya sedang.
His pengiring (Kala IV) sifatnya lemah, sedikit
nyeri, digunakan dalam proses involusi uteri
yang akan berlangsung beberapa jam/hari.

Observasi His
Frekuensi

his tiap rentang waktu tertentu

(menit)
Intensitas/kekuatan his
Durasi/lama his (dalam detik).
Interval his (jarak antar his)
Datangnya his (sering, teratur atau tidak)

Perubahan His
Uterus akan teraba keras dan padat.
Serviks akan mengalami pendataran dan
pembukaan
Rasa nyeri karena iskemia dan kontraksi
rahim.
Pada janin akan terjadi hipoksia janin karena
pertukaran oksigen pada sirkulasi
uteroplasenter berkurang. Denyut jantung
janin melambat dan kurang jelas terdengar
karena iskemia fisiologis.

Kemampuan mengejan ibu


Pada

saat serviks sudah membuka, kemampuan


ibu untuk mengejan sangat menentukan
penurunan presentasi janin.
Tenaga mengejan ini serupa dengan tenaga
mengejan sewaktu buang air besar tapi jauh
lebih kuat.
Tenaga mengejan ini akan berhasil bila
pembukaan sudah lengkap dan paling efektif
sewaktu ada his.
Kelelahan dan pemberian analgesik epidural
dapat menurunkan kemampuan ibu untuk
mengejan

Passenger (faktor janin)


Sikap
Menunjukkan hubungan bagian bagian janin dengan sumbu janin
(tulang punggungnya). Umumnya janin berada pada sikap fleksi
dimana kepala, tulang punggung dan kaki dalam keadaan fleksi,
lengan bersilang pada dada.

Letak
Merupakan bagaimana sumbu janin berada terhadap sumbu ibu.
Misal posisi melintang atau membujur.

Presentasi janin
Posisi janin
Sebagai indikator untuk menetapkan bagian bagian janin yang ada
diposisi bawah, atas, kiri dan kanan.

Psyche
Keadaan psikis mempengaruhi proses
persalinan, jika tidak diatasi atau
dikendalikan maka akan mempengaruhi
proses persalinan.

Faktor penolong
Kompetensi tenaga kesehatan yang
menolong persalinan sangat bermanfaat bagi
kelancaran proses persalinan dan mencegah
kematian maternal neonatal.

Posisi untuk persalinan :


Duduk

atau setengah duduk

Pada posisi ini, tenaga penolong akan lebih mudah membimbing


kelahiran kepala bayi dan mengamati/mendukung perineum.
Posisi

merangkak

Posisi ini baik untuk persalinan dengan punggung yang sakit,


membantu bayi melakukan rotasi dan peregangan perineum
menjadi minimal.

Berjongkok atau berdiri


Posisi ini akan membantu penurunan kepala janin, memperbesar
ukuran panggul serta memperbesar dorongan meneran.

Berbaring miring ke kiri


Posisi ini akan memberikan rasa lebih santai pada
ibu yang kelelahan, memberikan oksigen yang baik
bagi janin dan membantu mencegah terjadinya
laserasi perineum.

Posisi terlentang dan litotomi


Posisi ini bukan posisi utama yang dianjurkan. Beberapa
hal yang bisa disebabkan oleh posisi ini, antara lain :
o
o
o
o
o

Dapat menyebabkan syndrome supine hypotensi karena tekanan vena


kava superior oleh kavum uteri.
Dapat menambah rasa sakit
Lebih sulit untuk mengatur pernafasan
Membatasi pergerakan ibu
Proses meneran lebih sulit

1.Gangguan

Rasa Nyaman berhubungan dengan kurang


control situasional
2.Kesiapan Meningkatkan Rasa Nyaman
3.Kurang Pengetahuan
4.Nyeri Akut
5.Kecemasan
6.Keletihan
7.Ketidakefektifan Proses Kehamilan - Melahirkan
berhubungan dengan ketidakberdayaan ibu
8.Distress Spritual
9.Resiko infeksi
10.Resiko Injuri
11.Resiko Perdarahan

TERIMA KASIH