Anda di halaman 1dari 40

BIG PAPER

GENERAL BUSINESS ENVIRONMENT


PT GARUDA INDONESIA (PERSERO) TBK
Pengajar:
Harsono, M.Sc., Dr.

Nameswandari Wuryanti
13/358285/PEK/18569
AKHIR PEKAN ANGKATAN 21
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

Contents
ABSTRAK..................................................................................................................3
BAB I : PENDAHULUAN.............................................................................................4
Profil Perusahaan..................................................................................................5
BAB II : ANALISA & PEMBAHASAN...........................................................................6
Lingkungan Demografis.......................................................................................6
Lingkungan Sosial................................................................................................8
Lingkungan Budaya............................................................................................10

Tata Nilai Perusahaan............................................................................... 11


Etika Bisnis & Etika Kerja.........................................................................12
Budaya Perusahaan................................................................................. 13
Kinerja Perusahaan.................................................................................. 13
Etika di Bidang Manajemen......................................................................13
Etika di Bidang Marketing........................................................................13
CHANGE: Layanan yang Cepat, Radikal dan Berkelanjutan.....................13
COMPANY: Membetuk New Garuda Indonesia.......................................13
CUSTOMER: Memperkuat Bargaining Posisition.......................................14
COMPETITOR: Meningkatkan Jumlah dan Lebih Agresif............................14
Lingkungan Politik Domestik & Internasional.....................................................15
Lingkungan Natural............................................................................................18
Lingkungan Teknologi Informasi & Prosesing Informasi.....................................19

Penerapan TI di Bidang Supply Chain......................................................21


Penerapan TI di Bidang Marketing...........................................................21
Penerapan TI di Bidang Operasi...............................................................21
Lingkungan Pemerintahan.................................................................................23
Lingkungan Perkembangan Ekonomi.................................................................26

Regional Economic................................................................................... 26
Fiscal/Monetary Policy.............................................................................. 29
Industry & Sectoral.................................................................................. 32
BAB III : KESIMPULAN............................................................................................35
REFERENCE...........................................................................................................36

ABSTRAK
Industri penerbangan merupakan salah satu industri di bidang transportasi yang banyak
dipengaruhi banyak factor. Harga bahan bakar yang berfluktuasi menyebabkan struktur biaya di
Industri penerbangan sangat bergantung pada fluktuasi yang dimaksud. Di Indonesia sendiri,
bahan bakar masih erat kaitannya dengan aturan pemerintah, politik di dalam dan luar negeri serta
factor lainnya. Dalam makalah ini dijabarkan secara umum factor-faktor yang mempengaruhi
keputusan strategis PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, salah satu maskapai penerbangan yang
cukup berpengaruh di kawasan asia pasifik. Selain itu, terdapat beberapa factor lain seperti
demografi, social dan lainnya yang dapat merubah keputusan strategis yang sudah ada
sebelumnya.

BAB I : PENDAHULUAN
Di era perkembangan dunia yang begitu pesatnya, jasa penerbangan merupakan gerbang suatu
Negara untuk melebarkan sayapnya ke Negara lainnya, yang bertujuan untuk meningkatkan
perekonomian Negara tersebut, dan pada akhirnya mensejahterakan masyarakatnya (Winantyo, R
et al. 2008, h. 153).
Hal ini tentunya memberikan dampak secara langsung pada Indonesia, khususnya industri
penerbangan. Semakin terbukanya kesempatan bagi para pemain di Industri penerbangan
mengharuskan para maskapai bebenah diri agar tidak tertinggal dengan persaingan yang ada.
Perkembangan ini tentunya membutuhkan strategi perusahaan yang tepat agar dapat menjadi
nomor satu di bidangnya. Namun, keputusan penerapan strategi di bidang penerbangan ini
dipengaruhi berbagai hal.
Dalam setiap industri yang berkembang, termasuk industri penerbangan, terdapat banyak faktor
yang mempengaruhi strategi yang akan diterapkan bisnis di industri tersebut, yaitu faktor internal
perusahaan itu sendiri serta faktor lingkungan eksternal. Faktor lingkungan eksternal yang
disebutkan sebelumnya mencakup banyak hal, namun dalam makalah ini, hanya akan dibahas
beberapa faktor lingkungan eksternal yang dapat mempengaruhi keberlangsungan bisnis
penerbangan, khususnya PT Garuda Indonesia (Persero), Tbk antara lain adalah :

Gambar 1.1 : Faktor Eksternal yang mempengaruhi Strategi perusahaan


4

Profil Perusahaan
PT Garuda Indonesia (Persero), Tbk (GIAA), sesuai penjelasan di website resmi perusahaan,
merupakan maskapai penerbangan yang beroperasi sejak tahun 1949 dengan nama Garuda
Indonesian Airways. Seiring perkembangannya, GIAA pernah jatuh dan kemudian bangkit
kembali. Saat ini GIAA merupakan salah satu maskapai penerbangan terpercaya yang meraih
banyak penghargaan, baik tingkat nasional maupun internasional. GIAA tercatat di Bursa Efek
Indonesia sebagai perusahaan publik pada Februari 2011 lampau. Harga saham GIAA pada posisi
01-09-2014 adalah Rp. 433,- per lembar saham, dimana harga pelepasan pada 26 Januari 2011
tercatat sebesar Rp. 750,- per lembar saham. Meski GIAA sendiri mengalami penurunan drastis
dan kurang peminat, kategori industri infrastruktur, utilitas dan transportasi ini sebenarnya cukup
menarik dan banyak diminati investor.
Di penghujung tahun 2014, Garuda Indonesia melakukan perubahan dengan mengganti struktur
manajemennya. Dimulai dengan mundurnya direktur utama yang sudah menjabat selama hampir
dua periode, Emirsyah Satar, kemudian diikuti pergantian susunan jajaran direksi Garuda
Indonesia. Direktur baru, Arif Wibowo yang dulunya menjabat sebagai CEO Citilink, dipercaya
dapat membawa angin segar bagi indutri yang cukup berkembang ini.

BAB II : ANALISA & PEMBAHASAN


Lingkungan Demografis
Meningkatnya kelas menengah di Indonesia memberikan kebutuhan baru yang memberikan
peluang bagi berbagai industri untuk tumbuh di dalamnya. Diambil dari antaranews.com,
disebutkan bahwa tumbuhnya kelas menengah di Indonesia dapat dilihat dari data statistik jumlah
kepemilikan kendaraan bermotor, jumlah penumpang pesawat terbang, jumlah rumah tangga yang
memiliki HP atau telepon genggam, dan rumah tangga yang memiliki komputer serta memiliki
akses internet. Dari data yang dirilis antaranews.com ini, jumlah penumpang pesawat terbang
meningkat dari 33,21 juta pada 2004 menjadi 82,43 juta pada 2012. Mengenai kepemilikan
ponsel, terjadi peningkatan dari 19,94 persen pada 2005 mencapai 83,52 persen pada 2012.
Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) dan lembaga riset Frontier Consulting Group, 58,4
persen orang di Indonesia pendapatannya Rp 3 juta sampai Rp 8 jutaan. Jumlah kelas menengah
ini juga diprediksi akan terus bertambah. Diperkirakan akan mencapai 150 juta orang pada 2014.
Ini merupakan ladang untung bagi industri yang dapat melihat peluang di dalamnya, salah
satunya industri penerbangan.
Di Indonesia sendiri, pertumbuhan kelas menengah memicu pertumbuhan industri travelling. Kita
bisa lihat tren beberapa industri traveling yang tumbuh seiring dengan kehadiran kelas menengah
Indonesia. Setidaknya, Iryan (2014) melihat ada empat tren di industri traveling yang saat ini
sedang tumbuh, yakni:
1.
2.
3.
4.

Tumbuhnya industri maskapai penerbangan


Kebangkitan online travel agent
Semarak pameran travel
Orientasi liburan kelas menengah yang ke luar negeri

Dengan melihat empat tren ini, maka Iryan (2014) yakin bahwa saat ini dan ke depan adalah era
kebangkitan industri travelling di tanah air.

Tabel 2.1 : Tabel pertumbuhan jumlah penumpang pesawat terbang di


Indonesia (Sumber : inventure.co.id)
Pada kategori negara berkembang, industri penerbangan Indonesia masuk dalam kategori tercepat
di Asia, bahkan dunia. Sejak tahun 2008 sampai 2014, pertumbuhan jumlah penumpang pesawat
terbang mencapai 16%. Seiring pertumbuhan ekonomi dan naiknya jumlah konsumen kelas
menengah, pertumbuhan jumlah penumpang pesawat terbang pada tahun 2015 bisa mencapai
20%. Pada tahun 2014 ini diperkirakan pertumbuhan jumlah penumpang mencapai lebih dari 100
juta jiwa. Melihat tingginya angka pertumbuhan jumlah penumpang ini membuat para pakar
berkeyakinan bahwa pada tahun 2021 jumlah penumpang pesawat terbang di Indonesia akan
mencapai angka 180 juta jiwa.
Garuda Indonesia, sebagai maskapai penerbangan milik pemerintah Indonesia, tidak mau
ketinggalan dalam mengambil peluang ini, salah satu caranya adalah menggelar acara rutin
bertajuk Garuda Travel Fair. Acara terakhirnya, di Jakarta Convention Center sukses
diselenggarakan. Para pengunjung sangat antusias berkunjung ke event tahunan ini. Mereka rela
antri untuk masuk lokasi acara melihat pameran 40 lebih pemain industri traveling, meskipun
bayar tiket Rp 20.000 per orang. Tidak tanggung-tanggung, pengunjung yang datang mencapai
80.000 orang dengan nilai transaksi lebih dari Rp 70 miliar.
Namun hal ini tidak membuat Garuda Indonesia menjadi market leader di bidangnya. Penguasaan
pasar dan pertumbuhan LCC Lion Air tumbuh secara mengagumkan. Sampai saat ini, Lion Air
adalah market leader maskapai penerbangan di Indonesia mengalahkan Garuda Indonesia, Air
Asia, dan lainnya. Apabila kita tinjau dari data grafik yang ada, Lion Air adalah maskapai
penerbangan yang pertumbuhannya sangat mengesankan sehingga menyalip posisi Garuda
Indonesia, seperti terlihat pada grafik di bawah ini.

Tabel 2.2 : Tabel jumlah penumpang maskapai penerbangangan di Indonesia


(Sumber : inventure.co.id)
Meskipun Garuda Indonesia merupakan maskapai penerbangan kelas menengah, Saya percaya
bahwa ke depannya, maskapai ini dapat tetap eksis dengan citranya sendiri, yang menawarkan
pelayanan yang lebih dibandingkan maskapai lainnya. Kelas mengengah ini dipercaya beberapa
pihak akan meningkat, sehingga daya beli pun akan naik, dan di segmen inilah tempat Garuda
Indonesia berada. Namun, untuk membendung permintaan pasar akan maskapai penerbangan
murah, Garuda memiliki anak perusahaan, Citilink yang melayani penerbangan dengan harga
yang lebih terjangkau. Dengan ini diprediksikan Garuda Indonesia akan berkembang lebih baik.

Lingkungan Sosial
Maskapai penerbangan Garuda Indonesia membuka hub-nya yang keempat di Medan di tahun
2014 lalu. Vice President Marketing Garuda Indonesia saat itu, Amelia Nasution mengatakan,
pembukaan hub tersebut mempertimbangkan padatnya jadwal penerbangan dari dan ke Medan.
(sumber : kompas.com)
Masih berasal dari sumber yang sama, dituliskan bahwa Medan menjadi hub keempat Garuda
Indonesia. Hub tersebut diresmikan awal bulan ini. Juru bicara Garuda Indonesia, Pujobroto,
mengatakan, penetapan Medan sebagai hub keempat setelah Jakarta, Denpasar, dan Makassar
merupakan bagian program pengembangan jaringan penerbangan.
Pertumbuhan ekonomi di Sumut yang mencapai 6,2 persen menjadikan Sumut amat potensial
dilirik sebagai hub, ditambah Sumut adalah pintu masuk Indonesia bagian Barat. Tentunya
dengan dibangunnya hub di Medan, Sumatra Utara, pemerintahan juga mengharapkan imbal balik
yang sama. Garuda Indonesia tidak hanya mempunyai kewajiban-kewajiban ekonomis dan legal
tetapi juga kewajiban-kewajiban terhadap pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders),
8

karena perusahaan tidak bisa hidup, beroperasi dan memperoleh keuntungan tanpa bantuan pihak
lain. Garuda Indonesia, sebagai perusahaan milik pemerintah, memiliki tanggung jawab sosial
untuk meningkatkan perekonomian di Sumatra Utara. Tanggung jawab sosial perusahaan meliputi
bidang sosial, ekonomi dan lingkungan. (Velasquez 2002, hal. 13)
Medan sejak lama menjadi pintu perdagangan di Sumatera Utara. Medan juga dikenal sebagai
kota perdagangan dan bisnis ketiga tersibuk di Indonesia. Tindakan Garuda Indonesia untuk
membuka hub di kota tersebut tepat. Sejalan dengan pengembangan hub Medan, para pengguna
jasa dari Batam, Padang, dan Palembang akan dapat meneruskan perjalanan dari Medan ke kotakota destinasi internasional di kawasan seperti Singapura, Kuala Lumpur, dan Penang. (sumber :
tempo.co)
Selain itu, untuk meningkatkan konektivitas antar-hub, Garuda Indonesia dalam waktu dekat juga
mengembangkan penerbangan antar-hub yang disebut Hub Bypass seperti Medan-Makassar,
Medan-Denpasar, Medan-Surabaya. Tentunya, rute-rute hub bypass tersebut akan semakin
meningkatkan kenyamaman para pengguna jasa khususnya efisiensi dalam waktu penerbangan
karena tidak perlu lagi melakukan pindah pesawat (transfer) di Jakarta. (sumber : kompas.com)
Bagi pemerintah Sumatra Utara sendiri, pembukaan hub ini memberikan peluang baru bagi
masyarakatnya. Sebagai bagian dari implementasi hub ini, Garuda Indonesia menugaskan 60
awak pesawat yang merupakan putra asli Sumut. Disadari atau tidak, bisnis penerbangan
memberikan pengaruh yang sangat besar. Sedikitnya 12 lapangan kerja bisa disediakan dari satu
maskapai.
Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan pilihan Garuda menjadikan Medan sebagai hub dinilai
tepat. Pulau Sumatera sangat kaya. Semua ada disini. Mulai dari gas, minyak, sawit, dan lainnya.
Keunggulan lain penduduknya juga sudah siap. Pulau Sumatera juga salah satu pulau terbesar di
Indonesia.
Dahlan berharap Garuda Indonesia tetap maju dengan mempertahankan khas ke-Indonesia-an
yang menjadi kebanggaan rakyat. Jadi permintaan Gubsu memberikan tanda mata kepada
penumpang saat melintasi Danau Toba dapat dikabulkan. Ini sekaligus memperkenalkan
pariwisata Sumut. Selain mengalunkan musik tradisional Sumut dalam pesawat, Gubsu Gatot
Pujo Nugroho mengusulkan Garuda Indonesia membunyikan tanda saat pesawat melintasi Danau
Toba.

Ini merupakan beberapa penyesuaian yang dilakukan oleh pihak Garuda Indonesia dalam
pelayanannya di Sumatra Utara. Adat istiadat yang masih kental merupakan kekayaan dari daerah
tersebut, dan Garuda Indonesia sebagai maskapai nusantara ingin menunjukkannya kepada setiap
penumpangnya. Pengalaman terbang di Sumatra Utara yang berbeda dibandingkan penerbangan
pada umumnya akan memberikan kesan tersendiri pada penumpang. Penyesuaian seperti inilah
yang diharapkan oleh Garuda Indonesia akan meningkatkan loyalitas pelanggan dan menarik para
pelanggan baru untuk mencoba terbang bersama Garuda Indonesia.
Untuk organisasi yang banyak mengembangkan sayapnya di beberapa wilayah, adaptasi adalah
salah satu cara agar tetap bertahan di lingkungan wilayah tersebut. Tanpa adanya adaptasi dan
inisiatif perusahaan, lingkungan bisa menjadi penghambat untuk perkembangan perusahaan.
Hal inilah yang dilakukan oleh maskapai penerbangan nusantara Garuda Indonesia. Dengan
mengadaptasikan pelayanannya dan budaya setempat, Garuda Indonesia memberikan nilai
tambah bagi penumpangnya. Walaupun mungkin investasi awal yang cukup tinggi guna
penyesuaian ini, namun ke depannya diharapkan Garuda Indonesia menjadi maskapai pilihan
nomor satu bagi warga Medan ataupun penumpang yang akan menuju ke Medan.

Lingkungan Budaya
Moeljono Djokosantoso (2003: 17 dan 18) menyatakan bahwa budaya korporat atau budaya
manajemen atau juga dikenal dengan istilah budaya kerja merupakan nilai-nilai dominan yang
disebar luaskan didalam organisasi dan diacu sebagai filosofi kerja karyawan. Kinerja organisasi
atau kinerja perusahaan merupakan indikator tingkatan prestasi yang dapat dicapai dan
mencerminkan keberhasilan manajer/pengusaha. Kinerja merupakan hasil yang dicapai dari
perilaku anggota organisasi (Gibson, 1998 : 179).
Adanya keterkaitan hubungan antara budaya korporat dengan kinerja organisasi yang dapat
dijelaskan dalam model diagnosis budaya organisasi Tiernay bahwa semakin baik kualitas faktorfaktor yang terdapat dalam budaya organisasi makin baik kinerja organisasi tersebut (Moelyono
Djokosantoso, 2003 : 42).
Karyawan yang sudah memahami keseluruhan nilai-nilai organisasi akan menjadikan nilai-nilai
tersebut sebagai suatu kepribadian organisasi. Nilai dan keyakinan tersebut akan diwujudkan
menjadi perilaku keseharian mereka dalam bekerja, sehingga akan menjadi kinerja individual.
Didukung dengan sumber daya manusai yang ada, system dan teknologi, strategi perusahaan dan

10

logistik, masing-masing kinerja individu yang baik akan menimbulkan kinerja organisasi yang
baik pula.
Di Indonesia berlaku hal yang sama, karena berakar dari tradisi, budaya mencerminkan apa yang
dilakukan dan bukan apa yang akan berlaku. Dengan pemahaman seperti ini jelas terlihat bahwa
keunggulan suatu organisasi tidak semata-mata ditentukan oleh hal-hal yang kasat mata (tangible)
seperti struktur organisasi, personil, seragam, gedung, armada, laporan keuangan, dan sebagainya
melainkan juga oleh hal-hal yang tidak kasat mata (intangible). Bahkan hal-hal yang tidak kasat
mata tersebut menjadi kekuatan tersembunyi yang jika dikelola dengan benar akan mendongkrak
kinerja organisasi secara menyeluruh.
Garuda Indonesia adalah perusahaan jasa yang bergerak dibidang penerbangan. Eksistensi dan
pengalaman yang telah terbukti. Garuda Indonesia adalah maskapai penerbangan resmi dan
pernah menerbangkan delegasi dari 29 negara pada konferensi Asia-Afrika. Pada Juni 2007
maskapai ini bersama dengan maskapai Indonesia yang lainnya dilarang menerbangi rute Eropa
karena alasan keselamatan, namun larangan ini dicabut dua tahun kemudian. Setahun sebelumnya
maskapai ini telah menerima sertifikasi IATA Operational Safety Audit (IOSA) yang berarti
bahwa Garuda telah seluruhnya memenuhi standar keselamatan penerbangan Internasional. Pada
tahun 2012 Garuda Indonesia mendapat

penghargaan Best International Airline diantara

maskapai-maskapai kelas dunia lainnya dengan 91% penumpang menyatakan sangat puas dengan
pelayanan maskapai ini. Hal ini dapat tercapai karena Garuda Indonesia sangat memperhatikan
etika dalam berbisnis.
Dalam penerapan etika bisnis di Indonesia, tentunya setiap perusahaan ingin menerapkan budaya
kerja yang baik yang dapat mendukung kinerja individu perusahaan, yang nantinya diharapkan
akan meningkatkan kinerja perusahaan itu sendiri. Garuda Indonesia, sebagai perusahaan milik
pemerintah pun sama. Terdapat beberapa petunjuk berperilaku di dalam perusahaan.

Tata Nilai Perusahaan


Garuda Indonesia telah mengumandangkan 5 nilai-nilai perusahaan yaitu Efficient & Effective,
Loyalty, Customer Centricity, Honesty & Openness, Integrity atau disingkat menjadi FLY HI.
Tata nilai FLY HI dan etika perusahaan merupakan soft structure dalam membangun budaya
perusahaan sebagai pendekatan yang digunakan Garuda untuk mewujudkan tata kelola
perusahaan yang baik.

11

Etika Bisnis & Etika Kerja


Pada tahun 2011 perusahaan menetapkan etika bisnis & etika kerja perusahaan melalui Surat
Keputusan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk No. JKTDZ/SKEP/50023/11 pada
tanggal 11 Maret 2011.
Etika bisnis dan etika kerja tersebut merupakan hasil penyempurnaan dari pedoman perilaku
(code of conduct) yang diterbitkan melalui Surat Keputusan Direktur Utama PT Garuda Indonesia
(Persero) Tbk No.JKTDZ/SKEP/50002/08 tanggal 14 Januari 2008 tentang Nilai-nilai Perusahan
dan Pedoman Perilaku (code of conduct) Insan Garuda Indonesia. Penyempurnaan dilakukan
berdasarkan umpan balik dari hasil proses implementasi internalisasi serta rekomendasi hasil
GCG assessment tahun 2009. Etika Bisnis dan Etika Kerja Perusahaan merupakan himpunan
perilaku-perilaku yang harus ditampilkan dan perilaku-perilaku yang harus dihindari oleh setiap
Insan Garuda Indonesia.
Etika bisnis dan etika kerja perusahaan merupakan himpunan perilaku-perilaku yang harus
ditampilkan dan perilaku-perilaku yang harus dihindari oleh setiap insan Garuda Indonesia. Etika
dan perilaku tersebut dalam hubungannya dengan :
1. Hubungan sesama insan Garuda.
2. Hubungan dengan pelanggan, pemegang saham dan mitra usaha serta pesaing.
3. Kepatuhan dalam bekerja, menyangkut transparansi komunikasi dan laporan keuangan,
penanganan benturan kepentingan, pengendalian gratifikasi, perlindungan terhadap aset
perusahaan dan perlindungan terhadap rahasia perusahaan.
4. Tanggung jawab terhadap masyarakat, pemerintah, dan lingkungan.
Penegakan etika bisnis dan etika kerja yang mencakup pelaporan pelanggaran, sanksi atas
pelanggaran, sosialisasi dan pakta integritas. Internalisasi nilai-nilai dan etika perusahaan
dilakukan secara intensif melalui berbagai saluran komunikasi, pelatihan dan terintegrasi dengan
sistem penilaian pegawai. Perusahaan mengimplementasikan whistleblowing sistem sebagai alat
manajemen untuk membantu penegakan etika perusahaan. Melalui sistem ini diharapkan semua
pemangku kepentingan mau melaporkan dugaan pelanggaran etika yang dilakukan oleh oknum
pegawai Garuda. Etika bisnis dan etika kerja serta whistleblowing sistem disosialisasikan pula
kepada mitra usaha sehingga mitra usaha dapat membantu proses penegakkan etika di perusahaan
serta bersama-sama menciptakan lingkungan bisnis yang bersih dan bermartabat.

12

Budaya Perusahaan
Tata nilai FLY HI dan etika perusahaan merupakan soft structure untuk membangun budaya
perusahaan sebagai pendekatan yang digunakan Garuda untuk mewujudkan tata kelola yang baik
(Good Corporate Governance).

Kinerja Perusahaan
Kinerja Garuda Indonesia semakin diakui di tingkat internasional. Setelah berhasil menjadi airline
bintang empat dan pada tahun 2010 ditetapkan sebagai "the world's most improved airline" perusahaan penerbangan yang mengalami pertumbuhan yang paling signifikan.

Etika di Bidang Manajemen


Pada bagian manajemen Garuda Indonesia memberikan bentuk apresiasi dan perhatian kepada
para karyawan yang bertugas pada Hari Lebaran, direksi Garuda Indonesia pada Hari Lebaran
melakukan kunjungan ke sentra-sentra kerja dan memberikan bingkisan kepada para karyawan
yang bertugas pada Hari Idul Fitri 1433H tersebut. Hal ini diharapkan dapat membuat karyawan
merasa bahwa terdapat banyak bentuk perhatian yang diberikan oleh manajemen.

Etika di Bidang Marketing


Garuda Indonesia dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat di dunia penerbangan
khususnya Indonesia mencoba melakukan pendekatan dengan enggunakan konsep 4C yang
meliputi Change, Company, Customer dan Competitor.

CHANGE: Layanan yang Cepat, Radikal dan


Berkelanjutan
Dalam bagian CHANGE, Garuda Indonesia melakukan pendekatan change dari sisi teknologi,
regulasi, sosial budaya, ekonomi dan pasar.

COMPANY: Membetuk New Garuda Indonesia


Garuda Indonesia menyadari perubahan yang telah terjadi dipasar dan terus melakukan dari
banyak aspek. Dari aspek perusahaan, Garuda Indonesia pada tahun 2009 meluncurkan program
The Garuda Indonesia Experiencedimana melalui program ini, Garuda Indonesia tidak hanya
sekedar meningkatkan pelayanan yang bersifat hanya pelayanan saja, tetapi lebih mengarah
kepada pelayanan yang peduli akan konsumennya. Salah satu contoh yang konkrit akan
program ini adalah dengan memberikan visa on-board, kolaborasi dengan kantor imigrasi
13

setempat. Hal ini membuat pelanggan Garuda tidak perlu lagi menunggu lama di antrian loket
imigrasi dan bea cukai.
Di tahun 2014, Garuda Indonesia kembali mengeluarkan program New Service dimana di
beberapa tipe pesawat diberikan layanan First Class dengan Chef on Board (layanan koki di
pesawat). Garuda Indonesia akan terus berinovasi dan mengeluarkan program terbaru sehingga
pelanggan akan semakin loyal dan menikmati layanan dari Garuda Indonesia.

CUSTOMER: Memperkuat Bargaining Posisition


Garuda Indonesia menyadari betapa ketatnya persaingan yang harus dihadapinya untuk
mendapatkan tempat di hati pelanggannya. Setiap orang kini lebih pintar dalam memilih produk
karena semakin banyaknya pilihan jasa penerbangan yang beredar. Hal inilah yang membuat
Garuda Indoensia mawas diri untuk segera melakukan perbaikan dari segala aspek. Garuda
Indonesia menyadari bahwa Garuda Indonesia harus lebih mengarahkan pelayanan yang
berorientasi pada customer (customer-oriented), bukan lagi berorientasi pada nama perusahaan
saja.

COMPETITOR: Meningkatkan Jumlah dan Lebih Agresif


Di dunia internasional, Garuda Indonesia harus bersaing melawan maskapai penerbangan yang
bertaraf internasional. Hal ini menyebabkan Garuda Indonesia harus menerapkan strategi baru
dalam kegiatannya untuk merebut hati pelanggannya untuk tidak beralih ke maskapai
penerbangan lain.
Setiap langkah penetapan program baru akan berlandaskan pada budaya kerja Garuda Indonesia
yang telah disebutkan di atas, yaitu FLY HI. Demi berinovasi secara terus menerus, Garuda
Indonesia membuat program karyawan, seperti foto dengan tema tertentu bersama dengan teman
kantor lalu pemenang dengan foto terbaik akan diberikan hadiah atau program tahunan Garuda
Innovation Award, yaitu memberikan kesempatan kepada karyawan putra putri bangsa terbaik
untuk berinovasi dalam tiap unit kerjanya untuk membuat program yang dapat memberikan
kontribusi bagi perusahaan, misalnya mengefisienkan biaya, membuat akurasi ketepatan jadwal
dan banyak lagi.
Garuda Indonesia terus meningkatkan program berkaitan dengan penguatan kekuatan internal
dalam perusahaan, bagaimana cara meningkatkan loyalitas karyawan melalui berbagai program.
Karena Garuda percaya bahwa karyawan adalah marketer utama dari perusahaan. Bila karyawan
happy, maka mereka dapat men-deliver-kan service yang happy pula.
14

Selama hampir satu dekade terakhir, di bawah kepemimpinan Emirsyah (Direktur Utama Garuda
Indonesia), budaya merupakan aspek yang penting dalam bisnis airlines. Karena ketelitian dalam
setiap penerbangan yang dilaksanakan amatlah penting, maka karyawan harus senantiasa
menerapkan budaya kerja yang berhubungan dengan ketelitian ini setiap harinya. Maka terus
dilakukan inovasi dan improvisasi dalam men-deliver-kan budaya kerja kepada seluruh insan
Garuda.

Lingkungan Politik Domestik & Internasional


Strategi pemerintah Indonesia dalam rangka mencapai pembangunan nasional, salah satunya
adalah dengan melaksanakan otonomi daerah (kemedagri.co.id). Pemerintah daerah memiliki
wewenang untuk mengatur wilayah otonominya sendiri. Ini pun berlaku di wilayah Riau.
Gubernur terpilih 2013-2018, Anas Maamun memberlakukan aturan terbaru untuk pejabat di
bawahnya, yakni larangan dinas luar kota, terkecuali dengan skala prioritas tertentu
(riauterkini.com). Hal ini tentu berpengaruh terhadap pendapatan industri angkutan udara, sebagai
alat transportasi utama para pejabat untuk bepergian.
Jika kebijakan daerah Riau memperpuruk kondisi Garuda Indonesia sebagai maskapai
penerbangan Negara terbesar di Indonesia, lain hal-nya dengan perjanjian kerjasama yang
dilakukan oleh Indonesia dan Australia mengenai Persetujuan Pelayanan Angkutan Udara (Air
Service Agreement). Perjanjian ini tentunya memberikan peluang besar bagi pemain di indutri
angkutan udara sepeti Garuda Indonesia.
Sesuai kutipan berita yang dirilis riauterkini.com, APBD Riau 2014 tersedia anggaran Rp 388
Miliar. Terdiri dari Rp 230 Miliar untuk perjalanan dinas ke luar Provinsi Riau dan Rp 158 Miliar
untuk perjalanan dinas dalam Provinsi Riau. Jumlah ini meningkat dibandingkan anggaran tahun
lalu yang besarnya Rp 366 Miliar. Rinciannya untuk perjalanan dinas luar daerah Rp 238 Miliar
dan dalam daerah Rp 128 Miliar.
Sungguh jumlah yang sangat besar. Timpang dengan anggaran untuk masyarakat. Misalnya untuk
pembelian obat bagi masyarakat miskin pada APBD 2014 hanya dianggarkan sekitar Rp 6 Miliar.
Alasan ini memperkuat keputusan Gubernur Provinsi Riau untuk menegaskan aturan ini. Namun,
keputusan ini memiliki resiko mikro yang berimbas pada industri penerbangan di Riau,
khususnya PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Garuda Indonesia merugi dan terpaksa menutup

15

tiga rute penerbangan, yakni Pekanbaru-Medan, Pekanbaru-Batam, dan Pekanbaru-Padang


(nefosnews.com).
Hal ini tentunya menimbulkan ancaman (threat) bagi Garuda Indonesia, yang selama semester
pertama mengalami kerugian, terlebih tiga rute harus ditutup. Namun pihak Garuda memahami
bahwa Gubernur pastinya memiliki alasan yang rasional untuk memutuskan hal tersebut. Di balik
itu, Garuda Indonesia bisa menganalisa lebih jauh, kesempatan (opportunity) yang bisa diraihnya
dari kebijakan Gubernur Riau ini. Misalnya saja, karena para pejabat tidak bisa keluar daerah,
maka acara akan dilakukan di dalam daerah, sehingga tamu-tamu dari luar Riau akan
berdatangan. Di sinilah kesempatan emas bagi Garuda untuk bekerja sama dengan pemerintah
daerah. Walaupun demikian, Garuda Indonesia sendiri menyadari bahwa pihaknya tidak bisa
bergantung hanya dari penerbangan domestik saja, namun juga harus memperkuat jaringan
internasional.
Lain hal nya dengan kebijakan internasional yang mendukung operasional Garuda Indonesia.
Sesuai berita yang dirilis Direktorat Jendral Perhubungan Udara (2013), Menteri Perhubungan
E.E. Mangindaan dan Menteri Infrastruktur dan Transportasi Australia, Antony Albanese
menandatangani Persetujuan Pelayanan Angkutan Udara (Air Service Agreement) Indonesia Australia, Kamis 7 Januari 2013 bertempat di Gedung Parlemen Australia, Canberra, Australia.
Selain Persetujuan Pelayanan Angkutan Udara, kedua menteri transportasi juga menandatangi
Annex II dari Memorandum of Understanding yaitu Arrangement Between The Minisry of
Transportation of the Republic of Indonesia and the Department of Infrastrcture and Transport of
Australia on Transport Security Cooperation. Persetujuan Hubungan Udara Indonesia - Australia
merupakan landasan hukum dalam pelaksanaan perjanjian hubungan antara kedua negara yang
dituangkan dalam perjanjian teknis yang mengatur secara rinci kapasitas hak angkut, frekuensi
dan tipe pesawat maskapai penerbangan masing-masing negara.
Lingkup Persetujuan Pelayanan Angkutan Udara (Air Services Agreement) antara lain mencakup
penunjukan, pemberian izin dan pembatalan perusahaan penerbangan, hak angkut, pengakuan
sertifikat, penerapan standar keselamatan, keamanan penerbangan, penerapan tarif, kapasitas,
peluang melakukan usahakan penerapan hukum persaingan usaha. Salah satu bentuk realisasi
kerjasama ini adalah direct flight (penerbangan langsung) dari beberapa kota di Indonesia oleh
maskapai penerbangan Indonesia. Sesuai tulisan Prawiraningrat (2013) dijelaskan bahwa
penerbangan langsung (direct flight) adalah suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan
proses mobilisasi individu dengan menggunakan transportasi udara atau pesawat dari suatu
tempat ke tempat lain dalam lingkup nasional (dalam negeri) maupun internasional (luar negeri).
16

Penerbangan langsung (direct flight) adalah suatu upaya yang dilakukan untuk mempermudah
mobilisasi masyarakat ke suatu tempat yang dituju, termasuk tempat wisata.
Letak geografis antara Australia dan Indonesia menjadi juga menjadi pertimbangan kerjasama
direct flight antara Australia dan Indonesia. Dalam hal direct flight ke Lombok misalnya dapat
dipahami sebagai implementasi geostrategi Australia yang memanfaatkan kondisi geografi negara
untuk menentukan tujuan serta kebijakan politiknya, yaitu memperoleh keuntungan ekonomi.
Perjanjian ini memberikan angin segar bagi industri angkutan udara di Indonesia. Seperti dirilis
indonesiainfrastructurenews.com, maskapai Garuda Indonesia memulai penerbangan perdana
langsung dari Jakarta ke Perth, Australia. Penerbangan itu tidak lagi transit melalui Bali, seperti
biasanya. Garuda juga bekerjasama dengan Etihad Airways dalam bentuk code share dalam
penerbangan langsung ini. Dengan demikian, penumpang dari Australia bisa meneruskan
perjalanan melalui Jakarta dan Abu Dhabi ke Timur Tengah, Eropa dan Afrika.
Ini potensi (opportunity) besar bagi Garuda Indonesia, karena Indonesia merupakan Negara
penghubung terdekat antara Australia dan negara lainnya di Asia.
Kebijakan politik domestik yang diambil oleh suatu daerah dapat memberikan dampak terhadap
berbagai sektor, baik seluruhnya, sebagian atau satu sektor tertentu saja, seperti sektor industri
tertentu. Sektor industri yang cukup terpengaruh dari adanya kebijakan domestik adalah sektor
industri transportasi, khususnya transportasi udara. Seperti pemaparan di atas, kebijakan domestik
yang diambil setelah Anas Maamun menjabat sebagai posisi Gubernur Provinsi Riau, beberapa
kebijakan baru diterapkan. Salah satunya adalah larangan perjalanan dinas keluar kota, terkecuali
dengan skala prioritas tertentu. Hal ini tentunya memberikan resiko politik mikro, yaitu resiko
yang terfokus pada sektor, perusahaan, atau resiko spesifik tertentu (Wikipedia). Sektor
perusahaan yang terpengaruh akibat kebijakan tersebut antara lain adalah sektor industri
transportasi, karena berkurangnya volume para pejabat yang sebelumnya sering bepergian keluar
daerah untuk urusan dinas kantor. Sehingga, dari total anggaran tahun 2014 sebesar Rp230 miliar
untuk perjalanan dinas luar daerah akan sangat berkurang. Sehingga, apabila dihitung dengan
kasar, sektor yang berhubungan dengan urusan perjalanan dinas luar daerah akan kehilangan
pendapatannya sebesar Rp230 miiar, termasuk salah satunya perusahaan penerbangan. Garuda
Indonesia sendiri sampai menutup tiga rute akibat dari munculnya kebijakan baru ini.
Sama hal-nya seperti kebijakan politik domestik, kebijakan politik internasional juga dapat
mempengaruhi berbagai sektor, bahkan lebih luas. Seperti contoh yang telah dijelaskan
sebelumnya, resiko yang timbul akibat adanya perjanjian kerjasama antara Indonesia dan
17

Australia adalah resiko mikro. Resiko terfokus hanya pada sektor industri penerbangan saja,
karena kerjasama yang dilakukan hanya membahas mengenai hubungan udara antara Indonesia
dan Australia.
Industri penerbangan sangat rentan terhadap perubahan dalam lingkungan politik. Salah satu
masalah yang dihadapi oleh maskapai penerbangan milik pemerintah, seperti PT Garuda
Indonesia (Persero) Tbk, adalah intervensi politik. Karena pemerintah telah memberikan bantuan
kepada maskapai penerbangan tersebut, maka pemerintah juga dapat mempengaruhi manajemen
dan kebijakan-kebijakannya.
Pemerintah juga sering melakukan kontrol berlebihan terhadap tarif penerbangan domestik yang
menyebabkan jarangnya kenaikan atau malah tidak sama sekali. Namun, tarif domestik yang
dijaga terlalu rendah dapat menyebabkan efek kerugian.

Lingkungan Natural
Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menggagas program pencampuran Bahan
Bakar Minyak (BBM) avtur dengan minyak sawit mulai 2016. Namun kalangan perusahaan
penerbangan di dalam negeri belum siap karena harganya mahal akibat terbatasnya infrastruktur.
Ditambah lagi dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh industri penerbangan di Indonesia
sangatlah tinggi. Selain bea masuk spare part yang mahal dibanding negara pesaing, bahan bakar
yang saat ini digunakan sudah menghabiskan porsi 40% dari biaya operasional pesawat terbang.
Pada tahun 2016 ada usul dengan mencampurkan 2% biofuel dengan avtur. Secara penggunan hal
ini sangat bagus, namun jika infrastruktur yang tidak mendukung akan membuat penggunaan
biofuel bisa lebih mahal dibandingkan avtur. Potensi sumber daya biofuel (minyak nabati) sangat
menjanjikan, namun hal itu perlu didukung dengan pengadaan infrastruktur.
Sebagai negara penghasil biofuel kita bisa bersaing dalam ASEAN Open Sky Aviation namun kita
harus mempersiapkan infrastruktur tersebut, hal ini dengan swadaya melakukan pembangunan.
Selain itu kilang minyak Avtur di dalam negeri yang terbatas membuat harga beli menjadi tinggi.
Indonesia harus mengimpor 40% kebutuhan avtur dari Singapura dan Korea.
Mahalnya harga Avtur di Indonesia yang bisa mencapai 13% dibanding negara ASEAN lantaran
kondisi geografis Indonesia yang tersebar menjadi 62 lokasi dengan kilang minyak terbatas yakni
3.

18

Avtur menjadi komponen penting dalam industri penerbangan, namun dengan adanya fee BPH
Migas hal itu menjadi beban terhadap Avtur. Banyak pihak berharap bahwa biaya fee BPH migas
untuk Avtur dapat dihilangkan, sehingga hal ini sangat membantu persaingan industri
penerbangan Indonesia dengan negara competitor.
Walaupun harga saat ini sangat tinggi, namun dalam jangka panjang kebijakan ini dapat
menghemat banyak energi. Dan hal ini berdampak secara luas kepada berbagai aspek.

Lingkungan Teknologi Informasi & Prosesing


Informasi
Perkembangan kondisi di Indonesia yang begitu pesat menyebabkan semakin tingginya
persaingan antar perusahaan bahkan industri dewasa ini. Saat ini penggunaan Teknologi Informasi
(TI) selain menjadi kunci bagi perusahaan dalam membangun daya saing, TI juga berfungsi
sebagai salah satu cara agar perusahaan tetap dapat membangun eksistensinya.
Perusahaan membutuhkan suatu model manajemen TI yang sesuai agar dapat mengoptimalkan
manfaat TI bagi perusahaan itu sendiri. Dengan demikian, perusahaan tersebut tidak akan
kehilangan sumber daya dan perusahaan tidak mengeluarkan biaya yang mahal. Selain itu,
diharapkan dengan perkembangan teknologi yang tidak dapat dikendalikan, tidak lantas
menjadikan sebuah perusahaan terlalu diperbudak oleh teknologi tanpa memperhatikan esensi
dari TI tersebut, mana yang memang diperlukan untuk menunjang perkembangan bisnis, mana
yang sebenarnya kurang sustainable.
Penerapan teknologi informasi (TI) dalam dunia bisnis merupakan pertimbangan yang cukup
penting, bahkan sangat strategis. Berbagai aplikasi TI kini semakin luas diterapkan oleh berbagai
jenis industri di seluruh dunia. Perusahaan-perusahaan modern yang menghadapi persaingan yang
semakin ketat, hampir tak bisa mengelak dari keharusan memanfaatkan TI dalam meningkatkan
daya saingnya.
Kehadiran TI, ditambah Internet, tampaknya akan terus mendorong perubahan-perubahan yang
mendasar, baik dalam cara berkomunikasi, mengelola usaha maupun memunculkan cara-carabaru
dalam berbisnis. Namun, teknologi lebih merupakan perangkat dan sarana, namun yang lebih
menentukan adalah bagaimana orang-orang menggunakan sarana itu dengan tepat dan
cermatdalam menjawab kebutuhannya. Salah satunya adalah bagaimana melayani pelanggan
secaralebih baik, sesuai dengan tantangan masa kini. Penggunaan teknologi informasi, dalam hal

19

ini internet, kini memang telah dikembangkan untuk menyampaikan berbagai macam solusi guna
meningkatkan pengetahuan dan kinerja perusahaan.
Garuda Indonesia merupakan salah satu contoh perusahaan penerbangan dimana TI dan Internet
diterapkan untuk meningkatkan daya saingnya, yang berarti pula meningkatkan pelayanannya
kepada pelanggan yang akhirnya dapat menciptakan loyalitas pelanggan terhadap maskapai
penerbangan ini. Tak dapat dipungkiri, berbagai aplikasi yang diterapkannya, seperti E-business
& E-commerce, terbukti mampu meningkatkan kinerja dan daya saingnya.
Bagi Garuda Indonesia, transformasi melalui pemanfaatan teknologi menjadi sangat berarti,
selain karakteristik industri penerbangan yang padat teknologi juga industri ini penuh dengan
tuntutan akan inovasi dalam meraih keunggulan bersaing (competitive advantage).
Pasar dari teknologi informasi itu sendiri di Indonesia diperkirakan akan mengalami pertumbuhan
tahunan gabungan (CAGR) sebesar 17 % pada periode 2011-2015. (Indonesian Information
Technology Report Q2 2011). Sedangkan pemanfaatan media internet pada era globalisasi
semakin meningkat di dalam industri penerbangan. Pada industri penerbangan ini sarat dengan
pemanfaatan teknologi berbasis internet karena sistem ini tepat bagi para perusahaan khususnya
pada Garuda Indonesia untuk melakukan kegiatan operasional perusahaan termasuk di dalamnya
kegiatan pemasaran perusahaan melalui jaringan internet.
Penggunaan e-business ini menimbulkan berbagai keuntungan karena perusahaan dapat
melakukan berbagai kegiatan bisnis secara elektronik tanpa batas dan kendala waktu. Kegiatan
yang dilakukan perusahaan dengan pemanfaatan website disebut sebagai electronic business dan
commerce (e-business dan e-commerce) (Tamimi, Sebastianelli & Rajan 2005; Wang, Head &
Archer 2002). Kegiatan bisnis itu meliputi transaksi bisnis, operasi fungsi-fungsi perusahaan,
sharing informasi khususnya dengan pelanggan dan suplier sehingga hubungan antara pihakpihak tersebut dengan perusahaan dapat terjalin baik sebelum, selama dan setelah proses
pembelian (Zwass 1998; Bandyo-padhyay 2002; Haag, Cummings & Dawkins 1998). Berapa unit
di Garuda Indonesia menggunakan sistem informasi ini untuk melakukan pekerjaan rutin seharihari, seperti supply chain, marketing dan operasi.

Penerapan TI di Bidang Supply Chain


Saat ini, Garuda Indonesia bahkan telah menerapkan aplikasi proses pengadaan secara online (eProcurement), dan IT Service Management. Selain itu Garuda juga melakukan lelang real-time

20

online (e-Auction) yang di akhir tahun 2006 mendapatkan penghargaan E-Procurement & EAuction Award kategori application of B2B dari Kementrian Negara BUMN.

Penerapan TI di Bidang Marketing


Garuda Indonesia harus mampu melihat titik kunci pertemuan antara apa yang diharapkan oleh
pelanggan dengan produk yang disediakan perusahaan melalui website perusahaan. Isi atau
content website atau media lainnya seperti flyer yang ditampilkan harus dapat menjadi
komunikator perusahaan agar hubungan antara perusahaan dan pelanggan semakin erat karena
sebenarnya menjaga loyalitas pelanggan yang telah memakai produk dan jasa perusahaan akan
lebih membutuhkan biaya dibandingkan dengan menemukan pelanggan baru. CRM berkaitan
dengan kegiatan penjualan terpadu, marketing dan strategi pelayanan kepada pelanggan.. Melalui
CRM Garuda Indonesia menggunakan jaringan pelanggan yang ada saat ini untuk meningkatan
pendapatan perusahaan, memperoleh informasi yang lengkap untuk memberikan layanan prima,
dan sekaligus memperkenalkan channel procedures yang konsisten.
CRM PT Garuda Indonesia, Tbk dilakukan untuk membina dan menjaga hubungan antara
pelanggan dengan pihak manajemen. Secara lebih jauh, pemahaman yang mendalam terhadap
pelanggan akan mampu menghasilkan respon yang cepat terhadap perubahan preferensi
konsumen sehingga akan mampu meningkatkan pendapatan perusahaan. Selain itu CRM di
Garuda Indonesia bermanfaat untuk memperoleh informasi yang dapat dibagikan kepada partner
bisnis perusahaan.
Untuk mendukung CRM, Garuda Indonesia senantiasa memberikan frequent-flyer dalam dua
bahasa yang berisi tentang informasi-informasi terkini perusahaan kepada pelanggan yang loyal
melalui email. Hal ini selain bersifat apresiasi juga bersifat marketing dan pengelolaan loyalitas
pelanggan. Kegiatan yang berhubungan dengan CRM pada perusahaan ini adalah dengan
penggunaan sistem informasi (website) yang bisa diakses oleh semua kalangan tanpa batas, mulai
dari penyediaan informasi perusahaan, produk, forum diskusi antara pelanggan dengan pihak
manajemen sampai pada proses pemesanan.

Penerapan TI di Bidang Operasi


Di bidang operasi, Garuda Indonesia baru membeli sistem baru kepada Lufthansa Consulting
untuk membantu Garuda Indonesia dalam melakukan analisis yang berkaitan dengan kebutuhankebutuhan teknologi informasinya secara lebih hati-hati. Solusi mySAP Aerospace & Defense ini
secara sistematis akan dievaluasi untuk menguji fungsionalitasnya, keterbukaannya, dan
kemudahan dalam penggunaannya.
21

Sebagai hasil, tim pengevaluasi mengidentifikasikan mySAP Aerospace & Defense sebagai
sebuah solusi yang paling komprehensif, baik dalam hal kemampuan maupun kemudahan dalam
penggunaan. Tim evaluasi melihat potensi besar untuk menghasilkan manajemen kontrol yang
lebih baik dengan menggunakan fitur workflow, yang dapat meningkatkan tingkat akses dan
penyebaran informasi, serta kemampuan integrasi dari aplikasi-aplikasi yang lebih baik seperti
manajemen keuangan, manajemen material, dan manajemen human capital. Pihak Garuda
Indonesia sangat terkesan dengan SAP Industry Solution Map, yang mendemonstrasikan
pemahaman SAP berkaitan dengan industri pertahanan dan lapisan udara. Garuda Indonesia juga
merasa yakin bahwa SAP tidak hanya menjadi solusi, melainkan juga menjadi visi dan komitmen
untuk pertumbuhan perusahaan mendatang. mySAP Aerospace & Defense merupakan solusi
terbaik untuk menemukan kriteria dan jalur strategi teknologi informasi Garuda Indonesia.
Reputasi SAP telah meyakinkan pihak Garuda Indonesia akan profesionalisme perusahaan dan
kemampuan untuk memberikan support jangka panjang bagi Garuda Indonesia.
Proyek ini tidak hanya membutuhkan implementasi dari solusi mySAP.com, tetapi juga mereengineering proses bisnis Garuda Indonesia. Pihak Garuda Indonesia ingin me-restruktur ulang
sistem operasinya dengan menggunakan pendekatan bottom-up dan pengaruh dari platform ebusiness mySAP.com untuk membawanya kepada pengimplementasikan bisnis yang lebih baik
dalam bidang industri pertahanan dan lapisan udara.
Penerapan e-business pada PT Garuda Indonesia, Tbk telah terintegrasi dengan cukup baik. Hal
ini dilihat melalui arsitektur aplikasi perusahaan yang memberikan kerangka kerja konseptual
yang menghubungkan antar proses dan interface dari aplikasi e-business.
Bila kita identifikasi sesuai dengan arsitektur aplikasi e-business perusahaan, maka disana kita
akan melihat Garuda Indonesia memberikan kerangka kerja konseptual yang menghubungkan
antar proses dan interface dari aplikasi e-business yaitu mulai dari bagaimana customer
relationship management perusahaan, hubungan dengan pemasok atau supply chain management
perusahaan dengan e-procurement, e-commerce pada partner relationship management, human
resources development system di Garuda Indonesia dan enterprise resource planning sebagai
kolaborator dari keempat elektronik-isasi sistem bisnis yang ada di Garuda.

Lingkungan Pemerintahan
Terpilihnya Joko Widodo, atau akrab disapa Jokowi, sebagai presiden Republik Indonesia tahun
jabatan 2014-2019 tentunya memiliki harapan tersendiri bagi setiap insan bangsa, termasuk para
22

pelaku bisnis. Banyak harapan pembangunan oleh pemerintahan Jokowi dapat mendukung
perkembangan usaha para pebisnis ini. Terpilihnya kabinet yang dibawahi oleh Jokowi
memunculkan pro-kontra. Tak terkecuali bisnis penerbangan.
Penunjukan Ignasius Jonan sebagai Menteri Perhubungan (Menhub) mendapat respon positif di
kalangan Asosiasi Penerbangan Nasional / Indonesia National Air Carriers Association (INACA)
karena rekam jejaknya dalam memajukan PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Ignasius Jonan sempat merintis karir di bidang lain sebelum berkiprah di PT KAI. Ia menjabat
sebagai Direktur Citibank/Citigroup dari tahun 1999 hingga 2001, kemudian mengampu jabatan
selaku Direktur Utama PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) dari tahun 2001 hingga
2006 dan berlanjut sebagai Managing Director hingga 2009.
Ignasius Jonan adalah Dirut PT Kereta Api Indonesia kemudian profesional yang berpengalaman
dalam pengelolaan sektor transportasi publik. Dengan pengalamannya di berbagai bidang dan
perkembangan PT KAI yang sedemikian baik, Ignatius dipercaya dapat memimpin transportasi
Indonesia dengan perubahan ke arah lebih baik.
Salah satu kebijakannya dalam industri penerbangan adalah menganggarkan dana sekitar Rp 9
triliun untuk pengembangan industri penerbangan tahun depan. Anggaran tersebut untuk
pengembangan bandar udara, peningkatan aspek keamanan dan penerbangan.
Ada beberapa hal yang perlu segera dibenahi terkait dengan perkembangan industri penerbangan
di Indonesia, yang pada tahun 2015 akan mengikuti kebijakan ASEAN Open Sky Policy. Hal
pertama dan mendasar adalah dalam hal keselamatan penerbangan. Menhub harus segera
melakukan percepatan untuk meningkatkan level sertifikasi FAA dari kategori 2 menjadi kategori
1. Dengan demikian akan menurunkan country safety risk yang pada akhirnya juga menurunkan
biaya asuransi pesawat. Hal ini juga semakin diperlukan mengingat persaingan di level regional
dan global yang membutuhkan.
Kedua adalah terkait penataan bandara yang terdiri dari bandara utama, bandara pendukung serta
bandara perintis sehingga terbentuk interkonektivitas yang mendukung pertumbuhan ekonomi
yang efektif. Saat ini mayoritas bandara di Indonesia tidak mendukung beberapa penerbangan
dikarenakan fasilitas bandara yang sangan terbatas, sehingga hanya pesawat tertentu saja yang
bisa landing di bandara tersebut. Tentunya ini akan memakan banyak biaya dan kurang menarik
untuk para investor. Selain itu perlu dilakukan penataan pungutan-pungutan tambahan yang tidak
relevan di dalam bandara sehingga tetap sesuai dengan dokumen standar ICAO 9082 yang
sebetulnya sudah tercakup.
23

Ketiga yaitu penurunan terhadap struktur biaya avtur di Indonesia yang masih tergolong tinggi
bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga, hal itu untuk meningkatkan daya saing
maskapai penerbangan nasional jelang ASEAN Open Sky Policy 2015. Bahan bakar sendiri
memakan porsi 40% dari biaya operasional peswat terbang. Dan saat ini harga avtur di Singapura
masih lebih rendah dibandingkan di Indonesia. Hal ini menjadi penghambat perkembangan
industri penerbangan dalam bersaing dengan maskapai penerbangan asing.
Keempat yakni kebijakan pembebasan bea masuk hingga nol persen bagi komponen pesawat. Ini
merupakan wacana lama yang sampai ini tak kunjung terselesaikan. Beberapa kali usulan
dilakukan untuk penghapusan bea masuk ini namun tidak terselesaikan juga.
Kelima, perlu adanya kebijakan tarif yang pro pasar tanpa adanya pembatasan harga namun
mengikuti mekanisme pasar. Ini memang menjadi kendala di penerbangan perintis, namun, hal ini
akan membuat para maskapai lebih kreatif dalam mengembangkan produknya.
Keenam, perlunya dibentuk suatu regulasi yang mengatur tentang kebutuhan sumber daya
manusia di bidang penerbangan, seperti pilot, instruktur, inspektur dan mekanik. Hal itu sangat
mendesak mengingat perkembangan teknologi dan jenis pesawat yang pesat.
Terakhir pemerintah harus memberi perhatian pada penerbangan tidak berjadwal (charter) dan
juga regulasi khusus bagi operasional helikopter. Hal itu bisa dilakukan dengan ditetapkannya
FBO (fixed based operation) untuk penerbangan charter di setiap bandara serta perlu adanya
regulasi terbang malam untuk helikopter.
Dari sekian banyak daftar yang harus diselesaikan oleh Menhub, Jonan mengambil langkah
segera. Kementerian Perhubungan menganggarkan dana sekitar Rp 9 triliun untuk pengembangan
industri penerbangan tahun depan. Anggaran tersebut untuk pengembangan bandar udara,
peningkatan aspek keamanan dan penerbangan. Menurut Plt Dirjen Perhubungan Udara, Santoso
Edi Wibowo, mayoritas anggaran tersebut akan digunakan untuk pengembangan bandara, yakni
sekitar Rp 6,25 triliun. Sisanya akan dipergunakan untuk pengadaan alat keamanan penerbangan.
Sebagai contoh pembangunan dan pengembangan Bandara Werur, Segun di Sorong. Bandara
Segun telah disediakan anggaran Rp 20 miliar.
Selain itu, Jonan meminta kepada seluruh maskapai penerbangan nasional untuk menyatukan
pajak bandara (airport tax) atau "passanger service charge" (PSC) ke dalam harga tiket untuk
mempermudah pelayanan penumpang. Hal ini telah dilakukan oleh Garuda Indonesia jauh
24

sebelum Kementrian menyadari bahwa fase pembayaran pajak ini membuang waktu di bandara,
dimana On Time Performance sangatlah kritis bagi maskapai penerbangan. Beberapa penumpang
pun sempat mengajukan protes saat kontrak dengan Angkasa Pura terkait pembebanan PSC ini
dilepas dari harga tiket Garuda beberapa waktu lalu.
Jonan juga melakukan kunjungan ke Bandara Soekarno-Hatta untuk mengetahui kondisi di
lapangan. Jonan merasa bahwa bandara saat ini kalah dengan kereta api. Angkasa Pura memiliki
serangkaian tugas guna memperbaiki hal ini. Dari sisi kebersihan dan penerangan sangatlah
kurang. Penumpang juga mengeluhkan beberapa hal terkait kondisi bandara yang kian lama kian
padat namun tak kunjung ada perubahan yang berarti.
Setelah mengetahui beberapa langkah langsung yang dilakukan Jonan setelah menjabat sebagai
Menteri, maskapai penerbangan lokal banyak berharap pada pemerintahan saat ini. Kebijakankebijakan yang pro terhadap pelaku bisnis penerbangan akan membantu dalam menghadapi
persaingan hebat di 2015 nanti.
Selain itu beberapa pihak merasa gembira dengan program Jonan terjun langsung ke lapangan
melihat kondisi yang ada karena dengan demikian kebijakan yang nantinya akan ditetapkan dapat
mendukung pengembangan bisnis transportasi, termasuk industri penerbangan.
Struktur politik di Indonesia secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap bisnis yang ada.
Salah satunya bisnis penerbangan. Dalam menghadapi MEA 2015 nanti, maskapai penerbangan
akan menghadapi persaingan bisnis yang ketat. Peran pemerintah sangatlah penting, terkait
regulasi yang akan ditetapkan dan bagaimana regulasi tersebut dapat membantu operasional
bisnis atau malah sebaliknya, mempersulit posisi maskapai penerbangan lokal.
Dengan adanya perubahan posisi penting dalam pembuat kebijakan dan keputusan, pebisnis
berharap akan mempermudah kegiatan berbisnis, terutama bisnis penerbangan.

Lingkungan Perkembangan Ekonomi


Perekonomian Indonesia pada kuartal IV-2013 sedikit membaik dengan mencatat laju
pertumbuhan year-on-year menjadi 5,72% meski lebih rendah jika dibandingkan dengan periode
yang sama pada tahun sebelumnya yaitu 6,18%. Hal ini terutama disebabkan oleh tekanan pada
transaksi berjalan dan pelemahan nilai tukar rupiah yang dibarengi dengan kenaikan laju inflasi.
Tekanan pada transaksi berjalan yang mengalami defisit selama tiga kuartal terakhir mendorong
peningkatan suku bunga acuan sehingga menekan investasi. Meski defisit transaksi berjalan
25

menurun signifikan dari USD 8,5 miliar pada kuartal sebelumnya menjadi USD 4 miliar pada
kuartal IV-2013, laju pertumbuhan ekonomi tahun 2013 hanya mencapai 5,78% lebih rendah dari
laju pertumbuhan ekonomi tahun 2012 yang mencapai 6,23%. (macroeconomicdashboard.com)
Lingkungan ekonomi Indonesia yang seperti ini juga akan mempengaruhi strategi perusahaan
dalam mengambil keputusan. Lingkungan ekonomi terdiri dari beberapa aspek lain, seperti
kebijakan ekonomi regional, kebijakan fiskal dan moneter, serta kebijakan sektor industri.

Regional Economic
Dampak ekonomi dari perkembangan jasa penerbangan secara langsung akan dirasakan oleh
maskapai dan penumpang. Dengan adanya MEA, maka harga tiket akan semakin bersaing serta
pelayanan pun akan semakin ditingkatkan. Bagi maskapai sendiri, walau persaingan semakin
tinggi, namun MEA membuka akses terhadap pasar baru.
Namun industri penerbangan Indonesia akan tertindas dalam persaingan sengit, apabila tidak ada
persiapan yang matang dari berbagai sektor yang mendukung.
Sesuai ulasan Agus Pambagio (2013), dari sektor bandara, kelima bandara yang diserahkan untuk
ASEAN Open Skies (Kualanamu, Soekarno-Hatta, Juanda, Ngurah Rai, dan Hasanuddin) sudah
sangat padat dan nyaris terjadi kemacetan total (traffic gridlock). Sedangkan bandara lain belum
mempunyai fasilitas navigasi untuk pendaratan malam. Masih dalam tulisan yang sama, Agus
Pambagio menjabarkan kesiapan industri penerbangan dari beberapa sektor.
Dari segi SDM bandara, mereka yang di bawah kendali BUMN relatif siap karena secara jumlah
dan renumerasi cukup untuk lembur. Namun Bandara UPT belum mempunyai SDM yang cukup.
Jam kerja mereka hanya dari pukul 07.00-15.00. Mereka menolak lembur karena upah lembur
minimalis.
Dari sisi maskapai penerbangan, Indonesia tidak perlu khawatir karena baik dari segi jumlah
maupun usia pesawat kita mampu bersaing. Hanya, iklim usaha penerbangan terkait dengan fiskal
belum kondusif bagi maskapai penerbangan. Dikhawatirkan hanya maskapai milik BUMN dan
maskapai yang mendapat dukungan finansial global yang mampu bersaing dan beroperasi di
beberapa negara ASEAN lainnya. Sisanya, kalau tidak merger, dikhawatirkan bangkrut.
Dari sisi regulator, jelas bahwa kelemahan mereka memahami secara utuh semua aturan
keselamatan penerbangan yang dibuat oleh International Civil Aviation Organization (ICAO)
26

membuat industri penerbangan nasional kesulitan menghadapi ASEAN Open Skies 2015. Belum
lagi lemahnya kemampuan bernegosiasi dalam bahasa Inggris menambah karut marut posisi
Indonesia di mata dunia penerbangan sipil internasional.
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar dalam acara penandatanganan
Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara manajemen PT Garuda Indonesia dengan beberapa
serikat pekerjanya di Jakarta, Selasa (2/9) yang dirilis oleh Antaranews, meminta industri
penerbangan di Indonesia agar menyiapkan para tenaga kerjanya sehingga siap berkompetisi
dalam era ASEAN Economic Community/Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC/MEA) yang
segera berlaku awal tahun 2015. Persaingan antar perusahaan penerbangan di tingkat ASEAN
akan semakin ketat pada tahun depan. Untuk menghadapi persaingan di sektor penerbangan,
manajemen dan seluruh karyawan Garuda Indonesia harus terus meningkatkan kompetensi dan
profesionalisme dibidang masing-masing. Ini berlaku juga bagi maskapai penerbangan Indonesia
lainnya.
Persiapan konkrit yang diambil PT Garuda Indonesia Tbk (GARUDA INDONESIA) misalnya,
memilih untuk mengoptimalkan rute-rute di kawasan Asia Tenggara. Menurut Ikhsan Rosan,
Manajer Humas Garuda Indonesia, pihaknya sudah menguasai rute di kawasan Asia Tenggara.
Seperti ke Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok. Sedangkan bagi anak usaha Garuda Indonesia,
Citilink Indonesia, lebih mengedepankan rute domestik terlebih dahulu. Citilink Indonesia telah
menyiapkan untuk mengambil rute gemuk yang ditinggalkan Tiger Air Mandala. (sumber :
kontan.co.id)
Selain fokus pada rute domestik, maskapai penerbangan berbiaya murah Citilink Indonesia,
melakukan sinergi dengan operator akomodasi pariwisata Best Western International menjelang
implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN pada akhir 2015. Sebagai salah satu bentuk sinergi
tersebut Citilink dan Best Western International menggelar program promo Best Western-Citilink
Boarding Pass Offer 2014 yang diharapkan untuk meningkatkan layanan tambahan bagi
penumpang. Para penumpang Citilink mendapatkan hak istimewa untuk menginap 3 hari 2 malam
hanya dengan harga Rp499.000 nett per kamar dengan hanya menunjukkan boarding pass
Citilink. Adapun 1 boarding pass berlaku untuk 1 kamar. (sumber : bisnis.com)
Lain hal-nya dengan Sriwijaya Air, menurut Agus Soedjono, Senior Manager Corporate
Communication Sriwijaya Air, pihaknya masih fokus berkutat di layanan penerbangan medium
service. "Seperti memberikan fasilitas makanan," ucap dia. Dengan cara ini, ia berharap rute
regional ke kawasan Asia Tenggara seperti ke Dili dan Penang tingkat keterisiannya bisa optimal.
(sumber : kontan.co.id)
27

Kendati secara umum kondisi penerbangan Indonesia siap menghadapi persaingan ke depan,
terutama pada saat diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), ada beberapa hal yang
harus menjadi perhatian para pelaku bisnis. Salah satunya depresiasi nilai tukar yang berdampak
pada terkereknya harga bahan bakar. Tahun depan bisa jadi merupakan pertaruhan bagi maskapaimaskapai nasional karena juga dihadapkan pada liberalisasi penerbangan ASEAN Open Sky
2015. Selain itu, Indonesia masih dihadapkan pada permasalahan infrastruktur bandara yang
masih jauh tertinggal dibanding Negara ASEAN lainnya. (sumber : sindo.com)
Kelebihan jumlah penumpang yang terjadi di Bandara Soekarno-Hatta menjadi pekerjaan rumah
bagi Angkasa Pura II (Persero) selaku pengelola. Mau tidak mau, perusahaan pelat merah ini
harus melakukan sejumlah perbaikan signifikan menyambut pesatnya pertumbuhan pengguna
jasa penerbangan. (sumber : sindo.com)
Untuk itu, Angkasa Pura terus mempercantik sejumlah bandara yang dikelolanya termasuk
Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten. Maklum Soekarno- Hatta adalah
salah satu pintu masuk yang memiliki tingkat kesibukan tertinggi di Indonesia. Untuk
mengembangkan bandara tersebut, Angkasa Pura II membutuhkan dana sekitar Rp26 triliun
hingga 2020. Direktur Utama Angkasa Pura II Tri S Sunoko kini tengah melakukan berbagai
pengembangan dan pembangunan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, di antaranya
Terminal 3 Ultimate yang diproyeksikan sebagai terminal penumpang pesawat tercanggih di
Indonesia. (sumber: sindo.com)
Nantinya seusai pengembangan dan pembangunan terminal-terminal tersebut, kapasitas daya
tampung di Bandara Internasional Soekarno- Hatta menjadi 61 juta penumpang atau naik 177%
dibandingkan dengan kapasitas sekarang 22 juta penumpang. BUMN lain, PT Angkasa Pura I
(Persero) yang mengelola Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Jawa Timur, juga telah
menginvestasikan dana sebesar Rp1 triliun untuk membangun Terminal 2 (T2) Juanda. General
Manager Bandara Internasional Juanda Trikora Harjo mengatakan, terminal yang resmi
beroperasi pada 14 Februari lalu itu mampu menampung 6 juta penumpang per tahun. (sumber:
sindo.com)
Indonesia mempersiapkan diri dalam menghadapi MEA di tahun 2015. Walaupun masih banyak
sektor industri yang belum seratus persen siap, namun dari sisi industri penerbangan, Indonesia
cukup percaya diri dalam menghadapi tantangan baru ini. Masih banyak yang perlu dibenahi dari
berbagai sisi, namun seiring berjalannya waktu banyak pihak optimis bahwa industri penerbangan
di Indonesia akan memancarkan kemilaunya di tahun mendatang.
28

Dengan adanya kebijakan yang lebih berpihak bagi pelaku usaha bisnis airlines terutama industri
pesawat terbang nasional, maka akan meningkatkan daya saing penerbangan nasional dalam
menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015, sehingga mendorong tumbuhnya
industri strategis di sektor penerbangan (Arif Wibowo, Ketua INACA). (sumber: suara.com)

Fiscal/Monetary Policy
Dunia penerbangan sudah semakin sulit dipisahkan dari kehidupan manusia modern. Salah satu
tolok ukur adalah kuatnya perekonomian suatu negara dapat dilihat dari kuatnya maskapai
penerbangan negara tersebut masuk ke pasar dunia. Semakin luas penetrasi rute dan kualitas
pelayanan maskapai tersebut, maka bisa dikatakan bahwa negara tersebut semakin signifikan
perannya di kancah perekonomian dunia.
Dalam lima (5) tahun terakhir, Indonesia dengan 250 juta penduduk, seharusnya berpeluang besar
untuk menjadi raksasa penerbangan sipil. Paling tidak di wilayah regional ASEAN. Penambahan
pesawat baru yang signifikan jumlah dan jenisnya dalam 3 tahun belakangan ini, seharusnya bisa
menjadi modal awal untuk menjadi salah satu penguasa dirgantara regional 5 tahun mendatang.
Sayang dukungan Pemerintah tidak kondusif, membuat peluang itu belum terwujud.
Secercah sinar itu tampaknya mulai pudar ketika tahun 2013 Batavia Air dinyatakan bangkrut dan
menutup operasinya. Disusul tutupnya Star Aviation, Merpati Nusantara dan terakhir Mandala
Tiger yang resmi tutup operasi 1 Juli 2014. Selain penutupan tersebut, beberapa maskapai yang
tersisa, termasuk Garuda Indonesia, merugi di kuartal 1 hingga bulan Juni 2014 ini.
Kebijakan fiskal pemerintah selama ini yang dirasakan memberatkan para pemain di industri
penerbangan adalah biaya masuk untuk pembelian komponen atau onderdil pesawat terbang. Ini
merupakan beban biaya kedua terbesar setelah bahan bakar. Selama ini biaya membeli komponen
bisa mencapai 25% dari biaya operasional dan biaya avtur mencapai 45-50% biaya operasional.
Hal ini masih ditambah lagi dengan impor komponen yang menanggung bea masuk di kisaran 78% dari harga komponen. (sumber: liputan6.com)
Saat ini maskapai nasional sangat terbebani dengan bea masuk pembelian suku cadang sebesar 512,5%. Sementara hampir semua Negara di ASEAN, bea masuk nol persen. Dari sisi ini saja
maskapai nasional akan sulit bersaing saat ASEAN Open Sky diberlakukan. (sumber: detiknews)
INACA (Indonesia National Air Carrier Association)

sendiri tidak hanya diam mengeluh.

Pihaknya telah melakukan permohonan bebas bea masuk untuk 300 jenis komponen pesawat.
29

Namun realisasinya hanya 27 komponen. Setelah diteruskan ke Kementerian Perindustrian,


ternyata dari 27 jenis itu yang disetujui hanya empat, (sumber: liputan6.com)
Menanggapi hal ini, Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT)
Kementerian Perindustrian Budi Darmadi mengatakan, masih sedikitnya komponen pesawat yang
dibebaskan bea masuk karena sistem harmonisasi atau HS code pada sebuah komponen pesawat
sama dengan HS code pada bidang lain seperti otomotif, sesuai nomor baku dari ASEAN.
Misalnya karet, komponen karet pesawat dan komponen tarif otomotif memiliki kesamaan. Jika
produk tersebut mendapatkan pembebasan bea masuk, maka komponen sejenis namun
diperuntukkan bagi sektor otomotif juga ikut mendapat fasilitas tersebut. Hal ini dinilai tentu akan
mengundang protes dari industri lain yang sudah bisa membuat komponen tersebut di dalam
negeri. (sumber: liputan6.com)
Meski demikian, ada cara lain untuk agar komponen pesawat ini bisa bebas bea masuk tanpa
mengikutsertakan komponen yang sama untuk sektor lain, yaitu dengan mengunakan skema Bea
Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP). (sumber: liputan6.com)
Kebijakan fiskal berupa pembebanan bea masuk suku cadang untuk komponen pesawat terbang
yang cukup membebani para pemain di industri penerbangan merupakan pekerjaan bagi
pemerintah Indonesia. MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dalam beberapa bulan lagi akan
dimulai. Kementerian Perdagangan mengatakan mayoritas pelaku industri dan UKM belum siap
menghadapi MEA 2015, dari 12 industri barang dan jasa, baru industri penerbangan yang dinilai
siap bersaing dalam pasar tunggal tersebut (sumber : republika.co.id). Industri ini akan lebih siap
lagi apabila kebijakan yang ada mendukung penuh dalam menghadapi MEA 2015 mendatang.
Beberapa kebijakan yang mendukung perkembangan industri-industri ini perlu ditinjau ulang dan
diperhitungkan secara matang, agar siap menghadapi MEA 2015.
Sesuai tulisan Agus Pamagio, seorang pengamat kebijakan public, di detiknews, dijabarkan
beberapa langkah yang menurutnya dapat dilakukan guna mendukung industri penerbangan
dalam memenangkan persaingan di wilayah ASEAN.
Pertama, Pemerintah harus menghilangkan berbagai pungutan resmi tetapi tidak lazim terjadi di
industri penerbangan, khususnya di ASEAN, sehingga secara apple to apple maskapai kita dapat
bersaing di wilayah regional bahkan dunia.
Kedua, pungutan resmi lain yang harus dihadapi maskapai penerbangan sipil saat ini adalah
menanggung semua biaya yang dikenakan negara kepada PT Pertamina sebagai penjual avtur ke
30

maskapai penerbangan, seperti biaya iuran Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas sebesar 0,3% dari
harga avtur/liter sesuai perintah Peraturan Pemerintah (PP) No. 1 Tahun 2006 tentang Besaran
dan Penggunaan Iuran Badan Usaha Dalam Kegiatan Usaha Penyediaan dan Pendistribusian
Bahan Bakar Minyak dan Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa.
Avtur sebagai salah satu komponen biaya terbesar di sistem operasi maskapai penerbangan (20%40% dari total biaya) seharusnya tidak dibebani lagi dengan berbagai macam biaya tambahan
karena tanpa itupun, maskapai penerbangan sudah sesak napas dengan semakin dalamnya
depresiasi Rupiah terhadap USD.
Mahalnya harga avtur di Indonesia dibandingkan, misalnya di Singapura US$ 78 sen tetapi di
Jakarta US$ 91 sen, juga menjadi beban tambahan maskapai penerbangan. Tingginya harga avtur
Indonesia disebabkan oleh banyaknya beban biaya avtur di hulu dan hilir tersebut. Harga avtur di
hulu lebih tinggi karena patut diduga Pertamina membeli avtur melalui pedagang, tidak langsung
ke NOC (National Oil Company).
Ketiga, biaya tambahan seperti biaya konsesi (throughput fee) sebesar 0,3%/liter harga avtur
(sekitar Rp 30-Rp 45/liter) yang dikenakan oleh pengelola bandara kepada PT Pertamina atas
penggunaan fasilitas bandara untuk mengangkut avtur, sebenarnya kurang tepat karena banyak
pipa avtur milik bandara yang sudah berkarat dan tidak digunakan lagi. Jadi avtur disalurkan ke
pesawat menggunakan truk tanki milik PT Pertamina sendiri, bukan pipa milik pengelola
bandara. Namun demikian pengelola bandara masih mengenakan biaya ke PT Pertamina.
Keempat, selain pungutan-pungutan di atas, maskapai penerbangan sipil nasional juga dirugikan
dengan tidak optimalnya kerja para regulator di Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DJU)
Kementerian Perhubungan. Untuk ekspansi jalur internasional, maskapai kita terkendala dengan
posisi DJU yang belum keluar dari Community List (larangan terbang) Uni Eropa dan masuk di
Category 2 Federal Aviation Administration Amerika Serikat (larangan terbang).
Intinya berbagai pungutan resmi yang menghambat upaya untuk bersaing dengan maskapai
penerbangan sipil negara lain harus dihilangkan supaya maskapai kita siap di ASEAN Open Sky
2015. Kurangi semua pungutan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi di industri penerbangan
nasional.

31

Industry & Sectoral


Indonesia sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia yang masih terus berkembang,
membutuhkan dukungan penuh di bidang transportasi, khususnya transportasi udara. Transportasi
udara dibutuhkan untuk pemerataan pembanguan di seluruh daerah di Indonesia. Selain itu, dalam
tulisan Handika Pratama (2013), pertumbuhan penumpang transportasi udara di Indonesia
dicatatkan sangat pesat. Tahun 2010 mencapai 22,39% dibandingkan dengan pertumbuhan dunia
yang hanya sebesar 8,20%;
Dalam tulisan tentang Peranan Otonomi Daerah terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah (2013),
pada tahun 1999 diberlakukanlah otonomi daerah di Indonesia. Dengan adanya otonomi daerah,
masing-masing daerah memiliki wewenang untuk mengatur rumah tangganya sesuai perundangundangan yang berlaku. Hal ini memicu daerah untuk berlomba-lomba meningkatkan potensinya
di daerahnya masing-masing, salah satunya dengan membangun dan atau memperbaharui
bandara. Dengan adanya pembangunan bandara ini diharapkan dapat memberikan percepatan
ekonomi pada daerah yang dimaksud.
Banyak bermunculannya bandara baru serta perluasan bandara yang sudah ada sebelumnya,
membuat perusahaan penerbangan, baik lokal dan internasional tertarik untuk memperbanyak
jalur penerbangannya.

Strength
Garuda Indonesia memilik beberapa kekuatan, diantaranya Garuda Indonesia merupakan
maskapai penerbangan terbesar di Indonesia, Garuda Indonesia mengoperasikan 89 pesawat,
Garuda Indonesia mempunyai 36 rute penerbangan domestik dan 26 rute internasional hingga
tahun 2010, konsep layanan yang selalu menempatkan pelanggan sebagai fokus utama, adanya
inovasi Garuda dan merupakan satu-satunya di dunia, yaitu layanan pemberian visa di atas
pesawat, memiliki tim yang handal, pangsa pasar Garuda Indoensia di pasar Internasional lebih
dari 20%, Garuda Indonesia memiliki teknologi informasi yang mutakhir, memiliki program
CSR, Garuda Indonesia termasuk dalam kategori baik untuk hal tata kelola perusahaan dan
Garuda Indonesia memiliki brand yang kuat dan telah diakui di pasar domestik.

Weakness
Di samping kekuatan yang dimiliki Garuda Indonesia, ditemui beberapa kelemahan seperti
adanya keterbatasan jumlah cockpit dan cabin crew sehingga menyebabkan keterlambatan
penerbangan, tingginya tingkat hutang lancar yang diakibatkan adanya peningkatan dalam jumlah
kewajiban pada akun-akun lancar seperti hutang usaha dan biaya yang masih harus dibayar,
Garuda Indonesia sangat bergantung kepada sistem otomatisasi dalam menjalankan bisnis
sehingga apabila terjadi kesalahan sistem, proses bisnis perusahaan akan terganggu, Garuda
32

Indonesia memiliki atau tetap memiliki defisit pada modal kerja pada masa yang akan dating,
biaya operasional yang tinggi menyebabkan harga tiket pesawat lebih tinggi dibandingkan dengan
maskapai penerbangan lainnya.

Tabel 9.1 : Jumlah Keberangkatan Penumpang dan Barang di Bandara


Indonesia
(Sumber : Badan Pusat Statistik)
Dari data statistik di atas, menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan jumlah
keberangkatan penumpang dan barang di bandara Indonesia. Hal ini menjadi peluang yang sangat
baik bagi industri pesawat udara (baik pesawat penumpang maupun pesawat kargo).
Gunadi & Martono (2014) menjabarkan bahwa pertumbuhan penumpang dunia pada triwulan
pertama 2014 meningkat 7,5 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2013,
sedangkan pertumbuhan penumpang Indonesia diperkirakan naik 10-15 persen pada tahun 2014.
Penumpang domestik dan internasional tahun 2013 sebanyak 90 juta dan diperkirakan tahun 2014
mencapai 100 juta penumpang.
Menurut tulisan internet Handika Pratama (2013) mengenai Analisis SWOT Garuda Indonsia,
terdapat beberapa Opportunity dan Threat dari Garuda Indoensia yang dijabarkan di bawah ini.

Opportunity
Beberapa peluang untuk Garuda Indonesia yang ada antara lain adalah :
33

1. Dikeluarkannya Garuda Indonesia dari daftar perusahaan penerbangan yang dilarang terbang
di kawasan Eropa, yang menyebabkan semakin terbukanya kesempatan untuk mewujudkan
pengembangan jaringan penerbangan internasional jarak jauh.
2. Indonesia merupakan salah satu pasar penerbangan udara yang memiliki pertumbuhan yang
pesat.
3. Bergabungnya Garuda Indonesia sebagai anggota aliansi global maskapai penerbangan yang
bernama SkyTeam Global Airline Alliance yang semakin memperluas jalur penerbangan yang
disediakan oleh Garuda Indoensia.
4. Di Tahun 2015, Indonesia akan memiliki lima bandara baru dan mengembangkan serta
merehabilitasi 51 bandara lainnya, yang membuka peluang baru bagi industri pesawat terbang.

Threat
Adapun ancaman yang harus diwaspadai, antara lain adalah:
1. Adanya faktor fasilitas bandara merupakan faktor yang tidak dapat dikontrol yang
menghambat ketepatan waktu penerbangan (On Time Performance/OTP), seperti landasan
pacu/runway yang terbatas.
2. Sumber utama pasokan bahan bakar pesawat Garuda Indonesia berasal dari Pertamina,
sehingga harga dan supply bahan bakar sangat tergantung dengan Pertamina
3. Bentuk geografis Indonesia yang berpotensi terjadinya bencana alam (gunung meletus, gempa,
tsunami, dll) yang dapat mengakibatkan penurunan permintaan
4. Semakin banyak rute penerbangan baru yang dibuka oleh maskapai penerbangan lain,
sehingga terjadi peningkatan kapasitas dan penurunan harga tiket
5. Maskapai asing yang melakukan penetrasi pasar ke Indonesia untuk mengimbangi penurunan
penumpang internasional akibat adanya krisis global.
6. Diberlakukannya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) di tahun 2015 yang semakin
memperlebar persaingan di Indonesia.

34

BAB III : KESIMPULAN


Dari uraian beberapa faktor eksternal dia atas, Garuda Indonesia dapat menerapkan beberapa
strategi untuk menghadapi tantangan industri penerbangan ke depannya, antara lain :
1. Melakukan penambahan modal kerja
2. Mendominasi pasar domestik
3. Mendukung Program MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia)
4. Melakukan investasi dalam bentuk pengembangan armada
5. Mengoptimalkan utilisasi asset
6. Mengoptimalkan produktivitas pegawai
7. Meningkatkan sales marketing secara agresif
8. Melakukan evaluasi terhadap rute penerbangan yang kurang menguntungkan
9. Melakukan pergantian pimpinan
10.Memperbaiki kinerja keuangan perusahaan

35

REFERENCE
Indra Arief Pribadi 2013, Populasi Kelas Menengah Indonesia Meningkat Tajam, dilihat 9
Oktober 2014
http://www.antaranews.com/berita/429636/populasi-kelas-menengah-indonesia-meningkat-tajam
motor.otomotifnet.com 2014, Pertumbuhan Konsumen Kelas Menengah Dongkrak Penjualan
Motor Sport, dilihat 9 Oktober 2014
http://motor.otomotifnet.com/read/2014/04/17/348856/30/9/Pertumbuhan-Konsumen-KelasMenengah-Dongkrak-Penjualan-Motor-Sport
Bambang Priyo Jatmiko 2014, Airbus: Permintaan Pesawat Baru Diprediksi Capai 4,6 Triliun
Dollar AS, dilihat 9 Oktober 2014
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/09/29/140945926/Airbus.Permintaan.Pesawat.Baru.
Diprediksi.Capai.4.6.Triliun.Dollar.AS
Iryan Ali Herdiansyah 2014, Era Kebangkitan Industri Traveling, dilihat 9 Oktober 2014
http://inventure.co.id/c3000/era-kebangkitan-industri-traveling/
Maria Yuniar 2013, Garuda Indonesia Pilih Hub Keempat di Medan, dilihat 10 Oktober 2014
http://www.tempo.co/read/news/2013/05/11/090479620/Garuda-Indonesia-Pilih-Hub-Keempatdi-Medan
sumutpos.co 2013, Medan Hub Keempat Garuda, dilihat 10 Oktober 2014
http://sumutpos.co/2013/05/57489/medan-hub-keempat-garuda
Manuel G. Velasquez, Business Ethics: Concepts and Cares (Fifth Edition), (New Jersey:
Pearson Education, Inc., 2002), hal. 13.
Haryo Damardono 2013, Garuda Tambah Tiga Penerbangan dari Medan, dilihat 10 Oktober 2014
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/04/14/22175575/Garuda.Tambah.Tiga.Penerbangan
.dari.Medan.
Gibson et all, 1994. Organisasi, Jilid 1 dan 2, alih bahasa Agus Dharma, Erlangga,
Jakarta.

36

Djokosantoso Moeljono, 2003. Budaya Korporat dan Keunggulan Korporasi, Elex


Media Komputindo, Jakarta

Pradipta, Fariz 2009. Budaya Kerja Indonesia, dilihat 21 Oktober 2014.


http://diskusimhsfh.blogspot.com/2009/09/budaya-kerja-indonesia.html
Soedjono, 2002. Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Organisasi dan Kepuasan Kerja
Karyawan pada Terminal Penumpang Umum di Surabaya. Jurusan Ekonomi Manajemen,
Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra, Jakarta.
https://www.garuda-indonesia.com/id/id/investor-relations/good-corporate-governance/corporategovernance-manual/etika-bisnis-dan-etika-kerja.page
kemendagri.co.id 2013, Prinsip dan Strategi, dilihat 17 September 2014.
http://www.kemendagri.go.id/profil/strategi
riauterkini.com 2014, Larangan Gubri Pejabat Sering Dinas Luar Harus Ditaati, dilihat 17
September 2014.
http://www.riauterkini.com/sosial.php?arr=70971
nefonews.com 2014, Pejabat Riau Dilarang Dinas Luar Kota, Garuda Merugi, dilihat 17
September 2014.
http://www.nefosnews.com/post/ekbis/pejabat-riau-dilarang-dinas-luar-kota-garuda-merugi
dephud.go.id 2013, Menhub E.E. Mangindaan Tanda Tangani Persetujuan Pelayanan Angkutan
Udara Indonesia Australia, dilihat 17 September 2014.
http://hubud.dephub.go.id/?id/news/detail/1952
Prawiraningrat, Apriadi 2013, Analisa Kebijakan Penerbangan Langsung (Direct Flight) antara
Australia dan Indonesia tahun 2011-2013, dilihat 17 September 2014.
http://alpiadiprawiraningrat.blogspot.com/2013/12/analisa-kebijakan-penerbangan-langsung.html
merdeka.com 2014, Industri penerbangan diminta pakai avtur campuran BBN, dilihat 17 Oktober
2014
http://www.merdeka.com/uang/industri-penerbangan-diminta-pakai-avtur-campuran-bbn.html
37

Kusuma, Edward F 2014 Perusahaan Penerbangan Belum Siap Pakai Avtur Campuran Minyak
Sawit, dilihat 17 Oktober 2014
http://finance.detik.com/read/2014/09/05/193249/2682969/1034/perusahaan-penerbangan-belumsiap-pakai-avtur-campuran-minyak-sawit
blogspot.com 2008, Strategi Garuda Indonesia Meningkatkan Daya Saing dengan ITSM, dilihat
15 Oktober 2014
http://freemindfreesoul.blogspot.com/2008/05/meningkatkan-daya-saing-dengan-itsm-it.html
Tamimi, N., Sebastianelli, R. & Rajan, M., 2005, What do online customers value? , Quality
Progress, vol. 38(7), pp. 35-39
Haag, S., Cummings, M., & Dawkins, J. 1998, Management Information Systems for the
Information Age, McGraw-Hill, USA.
Kuncoro, Harry 2011, Penerapan E-Business Di Indonesia (Studi Kasus: PT Garuda Indonesia,
Tbk), dilihat 15 Oktober 2014
Arifani, Ryan 2008, Penerapan E-Business dan E-Commerce Pada Garuda Indonesia, dilihat 15
Oktober 2014
http://ryanarifani.wordpress.com/2008/11/22/penerapan-e-business-dan-e-commerce-padagaruda-indonesia/
Julaikah, Nurul, 2014. Kembangkan industri penerbangan, Kemenhub siapkan Rp 9 T, dilihat 08
November 2014.
http://www.merdeka.com/uang/kembangkan-industri-penerbangan-kemenhub-siapkan-rp-9-t.html
Raditya, Iswara N, 2014. Profil & Biodata Ignasius Jonan: Menteri Perhubungan (Menhub)
Republik Indonesia Kabinet Jokowi JK 2014-2019, dilihat 08 November 2014.
http://sidomi.com/334525/ignasius-jonan/
Tjokrowasito Mardiharto, 2013. Kebijakan Persaingan Pada Industri Jasa Penerbangan Dilihat
Dari Perspektif Perlindungan Konsumen, dilihat 08 November 2014.
www.bapennas.go.id
Hendra, Gunawan 2014. GMF: Ignasius Jonan Ulet Bekerja, dilihat 08 November 2014
http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/10/27/gmf-ignasius-jonan-ulet-bekerja
38

Arifin, Sjamsul, Djaafara, Rizal A & Budiman, Aida S (2008). Masyarakat Ekonomi Asean
(MEA) 2015, Memperkuat Sinergi ASEAN di Tengah Kompetisi Global. Jakarta : PT Elex Media
Komputindo.
Agus Pambagio 2013, Pasar Bebas Penerbangan ASEAN 2015, dilihat 15 September 2014
http://www.tempo.co/read/kolom/2013/11/16/902/Pasar-Bebas-Penerbangan-ASEAN-2015
beritasatu.com 2014, Muhaimin Ingatkan Perusahaan Penerbangan Siap Hadapi MEA 2015,
dilihat 15 September 2014
http://www.beritasatu.com/ekonomi/206972-muhaimin-ingatkan-perusahaan-penerbangan-siaphadapi-mea-2015.html
Izzatul Mazidah 2014, Hadapi MEA, maskapai domestik optimalkan layanan, dilihat 15
September 2014
http://industri.kontan.co.id/news/hadapi-mea-maskapai-domestik-optimalkan-layanan
Fathkul Maskur 2014, HADAPI MEA, Citilink Indonesia Gandeng Best Western International,
dilihat 15 September 2014
http://m.bisnis.com/industri/read/20140831/98/253887/hadapi-mea-citilink-indonesia-gandengbest-western-international
Heri Febrianto & Ichsan Amin 2014, Maskapai Nasional Dituntut Efisien, dilihat 15 September
2014
http://koran-sindo.com/node/413066
suara.com 2014, Ini Permintaan Industri Penerbangan Nasional kepada Jokowi-JK, dilihat 15
September 2014
http://suara.com/bisnis/2014/09/08/133000/ini-permintaan-industri-penerbangan-nasionalkepada-jokowi-jk/
liputan6.com 2014, Industri Penerbangan Minta Bea Masuk Impor Komponen Dibebaskan,
dilihat 15 September 2014.
http://bisnis.liputan6.com/read/2101430/industri-penerbangan-minta-bea-masuk-imporkomponen-dibebaskan
Agus Pambagio 2014, Beban Berat Maskapai Penerbangan, dilihat 15 September 2014.
39

http://news.detik.com/read/2014/07/02/135743/2625591/103/1/beban-berat-maskapaipenerbangan
Septian Deny 2014, Ini Sebab Banyak Komponen Pesawat Tak Dapat Pembebasan Bea Masuk,
dilihat 15 September 2014.
http://bisnis.liputan6.com/read/2063924/ini-sebab-banyak-komponen-pesawat-tak-dapatpembebasan-bea-masuk
slideshare.com 2013, Peranan Otonomi Daerah terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah, dilihat
15 September 2014
http://www.slideshare.net/septianraha/peranan-otonomi-daerah-terhadap-pertumbuhan-ekonomidaerah
garudaindonesia.com 2014, Sejarah Garuda Indonesia dan industri penerbangan komersial
Indonesia, dilihat 15 September 2014
https://www.garuda-indonesia.com/id/id/investor-relations/about-garuda-indonesia/corporateprofile/history/index.page?
Handika Pratama 2013, Analisi SWOT Garuda Indonesia, dilihat 15 September 2014
http://handikadwipratama.blogspot.com/2013/06/analisis-swot-garuda-indonesia.html
bps.go.id 2012, Jumlah Keberangkatan Penumpang dan Barang di Bandara Indonesia Tahun 1999
2012, dilihat 15 September 2014
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=17&notab=3
Dr.Ariawan Gunadi & Prof (Emeritus) Dr.Martono 2014, Dampak Transportasi Udara NeoLiberal, dilihat 15 September 2014
http://www.angkasa.co.id/index.php/airways/901-dampak-transportasi-udara-neo-liberal
macroeconomicdashboard.com, Perkembangan Ekonomi Terkini 2014, dilihat 06 Januari 2015
http://macroeconomicdashboard.com/index.php/id/ekonomi-makro/166-perkembangan-ekonomiterkini

40