Anda di halaman 1dari 6

11

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


Berdasarkan percobaan pelapisan Cu yang telah dilakukan, diperoleh data
hasil percobaan sebagai berikut:
Tabel 4.1 Data Hasil Percobaan I Pelapisan Cu
Sampel
1
2
3

Konsentrasi

Voltase

Arus

Waktu

(M)
1
1
1,5

(Volt)
15
17
19

(Ampere)
1
1
1

(menit)
6
6
6

Tabel 4.2 Data Hasil Percobaan II Pelapisan Cu


Sampel
Massa awal
(gram)
Massa akhir
(gram)
Selisih Massa
(gram)
4.2

I
Cu

Fe

II
Cu

Fe

III
Cu

Fe

55,699

25,2

57,023

26,811

58,566

26,558

55,687

25,218

56,930

26,821

58,480

26,581

0,012

0,018

0,093

0,010

0,086

0,023

Pembahasan
Prinsip dasar dari pelapisan logam secara listrik ini adalah penempatan ion-

ion logam yang ditambah elektron pada logam yang dilapisi, yang mana ion-ion
logam tersebut didapat dari anoda dan elektrolit yang digunakan. Dengan adanya
arus searah listrik yang mengalir dari sumber maka elektron dialirkan melalui
elektroda positif (anoda) menuju elektroda negatif (katoda) dan dengan adanya
ion-ion logam yang melapisi permukaan logam yang lain yang dilapisi.Larutan
elektrolit dapat dibuat dari larutan asam, basa dan garam kuat yang dapat

12

membentuk muatan ion-ion negatif dan ion-ion positif. Pada percobaan ini, pelat
Fe bertindak sebagi katoda, pelat Cu sebagai anoda dan asam asetil sebagai
larutan elektrolit.
Mekanisme terjadinya pelapisan tembaga dimulai dari dikelilinginya ion-ion
Cu2+ oleh molekul-molekul pelarut yang mengalami polarisasi. Di dekat
permukaan katoda (pelat Fe), terbentuk daerah Electrical Double Layer (EDL)
yang bertindak seperti lapisan dielektrik. Lapisan EDL memberi beban tambahan
bagi ion-ion untuk menembusnya. Dengan gaya dorong beda potensial listrik dan
dibantu oleh reaksi-reaksi kimia, ion-ion Cu2+ akan menuju permukaan katoda
(pelat Fe) dan menangkap electron dari katoda, sambil mendeposisikan diri di
permukaan katoda.
Dari percobaan pelapisan tembaga yang telah dilakukan, terjadi fenomena
terbentuknya gelembung udara pada katoda saat proses electroplating
berlangsung, hal tersebut terjadi akibat adanya pertukaran ion atau menempelnya
ion dari anoda ke katoda untuk melapisi, dimana saat arus listrik (potensial) searah
dialirkan antara kedua elektroda anoda dan katoda dalam larutan elektrolit, maka
muatan ion negatif ditarik oleh elektoda katoda. Sementara ion bermuatan negatif
berpindah ke arah elektroda bermuatan negatif. Ion-ion tersebut dinetralisir oleh
kedua elektroda dan larutan elektrolit yang hasilnya diendapkan pada elektroda
katoda. Hasil yang terbentuk atau terjadi adalah lapisan logam dan gas hidrogen.
Melalui larutan elektrolit, ion-ion tembaga (Cu2+) akan terbawa kemudian
mengendap pada permukaan katoda (pelat Fe) dan berubah menjadi atom-atom
tembaga. Di sini terjadi reaksi reduksi ion tembaga menjadi logam tembaga
sebagai berikut :
Anoda (oksidasi) :

Cu Cu2+ + 2e.......................................(1)

Katoda (reduksi) :

Cu2+ + 2e Cu.......................................(2)

Faktor-faktor yang mempengaruhi saat proses pelapisan itu dilakukan antara lain
yaitu konsentrasi elektrolit, voltase, arus dan waktu. Pada percobaan kali ini
terdapat variasi variabel pada konsentrasi larutan H2SO4 (1 M dan 1,5 M) serta
voltase (15 V, 17 V, dan 19 V).

13

Hubungan antara voltase dengan massa yang hilang pada pelat Cu


ditunjukkan pada Gambar 4.1. Berdasarkan teori, hubungan antara voltase
dengan massa yang hilang pada pelat Cu (anoda) adalah berbanding lurus.
Semakin besar voltase yang digunakan, maka semakin banyak massa anoda yang
hilang (selisih massa). Berdasarkan hasil percobaan yang diilustrasikan pada
Gambar 4.1, selisih massa anoda (massa anoda yang hilang) semakin bertambah
dengan meningkatnya voltase. Massa anoda hilang terbanyak, yaitu 0,039 gram
terjadi pada sampel III ketika voltase yang digunakan adalah 19 V. Massa anoda
yang hilang paling sedikit, yaitu 0,02 gram terjadi pada sampel I ketika voltase
yang digunakan adalah 15 V. Hal ini terjadi karena, semakin besar tegangan yang
digunakan maka reaksi yang berlangsung akan semakin cepat, sehingga akan
menyebabkan semakin banyaknya ion Cu2+ yang terbentuk dan melarut ke dalam
larutan elektrolit asam asetil yang digunakan, sehingga pengendapan logam
tembaga pada katoda akan semakin banyak yang melapisi katoda (pelat Fe),
sehingga selisih massa anoda (pelat tembaga) setelah elektrolisis akan semakin
bertambah dengan mengingkatnya voltase. Sehingga, hasil percobaan sesuai
dengan teori dimana hubungan antara voltase dengan selisih massa anoda adalah
berbanding lurus.
0.05
0.04
0.03
m (gram) 0.02
0.01
0
14

15

16

17

Voltase (V)

18

19

20

14

Gambar 4.1 Grafik Hubungan Antara Voltase dengan Selisih Massa pada Pelat
Tembaga
Hubungan antara voltase dengan selisih massa (massa yang bertambah)
pada pelat Fe ditunjukkan pada Gambar 4.2. Berdasarkan teori, hubungan antara
voltase dengan massa yang bertambah pada pelat Fe (katoda) adalah berbanding
lurus. Semakin besar voltase yang digunakan, maka semakin banyak massa katoda
yang bertambah (selisih massa). Berdasarkan hasil percobaan yang diilustrasikan
pada Gambar 4.1, selisih massa katoda (massa katoda yang bertambah) semakin
bertambah dengan meningkatnya voltase. Massa katoda yang bertambah
terbanyak, yaitu 0,012 gram terjadi pada sampel III ketika voltase yang digunakan
adalah 19 V. Massa katoda yang bertambah paling sedikit, yaitu 0,002 gram
terjadi pada sampel I ketika voltase yang digunakan adalah 15 V. Fenomena yang
terjadi sama dengan fenomena bertambahnya massa anoda yang hilang (selisih
massa anoda). Semakin besar tegangan yang digunakan maka reaksi yang
berlangsung akan semakin cepat, sehingga akan menyebabkan semakin
banyaknya ion Cu2+ yang terbentuk dan melarut ke dalam larutan elektrolit asam
asetil yang digunakan, sehingga pengendapan logam tembaga pada katoda akan
semakin banyak yang melapisi katoda (pelat Fe), sehingga selisih massa katoda
(pelat Fe) setelah elektrolisis akan semakin bertambah dengan mengingkatnya
voltase. Sehingga, hasil percobaan sesuai dengan teori dimana hubungan antara
voltase dengan selisih massa katoda adalah berbanding lurus.

15

0.01
0.01
0.01
0.01
m (gram) 0.01
0
0
0
14.5 15 15.5 16 16.5 17 17.5 18 18.5 19 19.5
Voltase (V)

Gambar 4.2 Grafik Hubungan Antara Voltase dengan Selisih Massa pada Pelat
Besi
Larutan asam asetil sebelum digunakan sebagai larutan elektrolit pada
proses pelapisan tembaga adalah tidak berwarna (Gambar 4.3). Namun, setelah
proses pelapisan tembaga, warna larutan berubah menjadi biru. Hal ini disebabkan
karena warna ion Cu2+ dalam larutan adalah biru. Ketika Cu teroksidasi pada
anoda dan membentuk ion Cu2+, ion tersebut akan menyebar pada larutan
elektrolit dan sebagian akan menuju permukaan katoda (pelat Fe) dan akan
menegalami reduksi karena menangkap electron dari katoda, sehingga ion-ion
Cu2+ akan mendeposisikan diri di permukaan katoda sebagai atom Cu. Hal ini
dapat menjelaskan mengenai massa anoda yang hilang lebih banyak daripada

16

massa katoda yang bertambah, karena sebagian ion Cu2+ menyebar pada larutan
elektrolit dan tidak terdeposisi pada permukaan katoda sebagai atom Cu.

Gambar 4.3 Larutan Asam Asetil setelah Proses Pelapisan Tembaga


Pelat Fe sebelum proses pelapisan tembaga, mengkilap (Gambar 4.4). Setelah
proses pelapisan tembaga, terdapat lapisan berwarna hitam pada permukaan pelat
(Gambar 4.4). Lapisan hitam tersebut adalah deposit ion Cu2+ yang tereduksi
menjadi atom Cu pada permukaan pelat Fe.

(a)

(b)

Gambar 4.3 (a) Sebelum Proses Pelapisan Tembaga (b) Setelah Proses Pelapisan
Tembaga